Malam itu Puspa Dewi mendengar banyak hal dari guru atau ibu angkatnya. Nyi Dewi Durgakumala memperkenalkan nama tokoh-tokoh besar yang menjadi kawan atau yang menjadi lawan, juga keadaan kerajaan Kahuripan dan para kadipaten yang memusuhi kerajaan itu pada umumnya. Antara lain ia menekankan dua buah hal yang harus diperhatikan dara itu.
"Ingatlah selalu akan dua hal
penting ini, anakku. Pertama, aku mempunyai seorang musuh besar yang amat
kubenci, dia adalah Ki Patih Narotama, patih Kerajaaan Kahuripan. Balaslah
dendam sakit hatiku kepadanya, Puspa Dewi. Usahakanlah agar engkau dapat
membunuh musuh besarku itu!"
"Ibu Dewi, mengapa ibu
mendendam dan memusuhinya? Kalau aku harus membunuhnya, aku ingin tahu mengapa
ibu mendendam kepadanya." tanya Puspa Dewi.
Pertanyaan ini saja sudah
menunjukkan bahwa pada dasarnya gadis itu tidak memiliki watak jahat dan kejam.
Setiap perbuatannya ia perhitungkan lebih dulu sebab dan alasannya.
"Dia telah menghinaku,
mempermalukan aku, dan lebih dari itu, dia telah membunuh anakku yang baru
berusia empat tahun!" kata Nyi Dewi Durgakumala dengan geram dan tiba-tiba
kedua matanya menjadi basah. Ia menangis! Puspa Dewi terkejut. Belum pernah ia
melihat gurunya atau ibu angkatnya itu menangis.
"Ah, apakah yang telah dia
lakukan, ibu?"
"Terus terang saja, aku pernah
tergila-gila kepada Narotama akan tetapi ketika kunyatakan cintaku kepadanya,
dia malah mengejek dan menghinaku. Bukan itu saja, dia menyerangku dan
serangannya itu mengenai anak yang berada di gendonganku sehingga anak itu
tewas..."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya dan
mengepal tangan kanannya.
"Si keparat Narotama. Jangan
khawatir, ibu. Aku pasti akan membalaskan sakit hati itu!"
"Bagus, nini. Sekarang urusan
ke dua yang juga tidak kalah pentingnya. Kurang lebih lima tahun yang lalu,
terjadi perebutan keris pusaka Megatantra antara aku, Resi Bajrasakti dari
Wengker, dan Empu Dewamurti. Akhirnya yang menang adalah Empu Dewamurti dan
keris itu ada padanya. Akan tetapi, belum lama ini aku mendengar bahwa Empu
Dewamurti telah tewas dan keris pusaka itu entah berada di mana, tidak ada yang
mengetahuinya. Akan tetapi aku dapat menduga di mana adanya keris pusaka Megatantra
itu. Ketika itu, ada seorang pemuda yang datang membawa keris pusaka Megatantra
itu dan dia dilindungi oleh Empu Dewamurti. Keris pusaka itu sekarang tentu
berada di tangan pemuda itu." Puspa Dewi mengenang peristiwa lima tahun
lalu itu.
"Aku ingat, ibu ....., yang ibu
maksudkan itu tentulah Nurseta."
Nyi Dewi Durgakumala tertarik.
"Nurseta?"
"Ya, Nurseta. Dia adalah pemuda
remaja dari Karang Tirta dan dia yang menyuruh aku dan Linggajaya melarikan
diri ketika terjadi perkelahian antara ibu, Resi Bajrasakti, dan Empu Dewamurti
itu."
"Ah, sungguh beruntung engkau
mengenalnya, Puspa Dewi. Nah, engkau carilah Nurseta itu. Engkau harus dapat
merampas keris pusaka Megatantra itu dari tangannya atau dari tangan siapapun
juga."
"Hemm, untuk apa memperebutkan
keris pusaka, ibu?"
"Wah, engkau tidak tahu nini.
Seluruh tokoh sakti di dunia memperebutkannya. Kau tahu, keris pusaka Sang
Megatantra itu merupakan keris pusaka yang amat ampuh. Bukan itu saja, malah
keris pusaka itu merupakan wahyu mahkota, siapa yang memilikinya, berhak
menjadi raja besar yang menguasai seluruh nusantara. Engkau harus dapat
merampas keris pusaka itu, nini. Kita berdua akan hidup mulia kalau dapat
menguasai keris pusaka itu!"
Puspa Dewi menyambut dengan dingin
saja. Ia sendiri tidak begitu tertarik, akan tetapi ia harus melakukan dua
tugas itu untuk gurunya, sebagai balas budi.
"Baiklah, ibu. Akan
kulaksanakan apa yang ibu pesan itu."
Pada keesokan harinya, pagi-pagi
Puspa Dewi berpamit kepada Nyi Dewi Durgakumala dan Adipati Bhismaprabhawa.
Sang adipati memberinya seekor kuda putih dan bekal sekantung emas. Nyi Dewi
Durgakumala memberikan senjatanya yang ampuh, yaitu Candrasa Langking (Pedang
Hitam) kepada anak angkatnya. Puspa Dewi menggantung pedang di pinggang,
menggendong buntalan pakaian, lalu menunggang kuda putih dan melarikan kuda itu
keluar dari kota kadipaten Wura-wuri menuju ke barat, ke wilayah Kahuripan.
Akan tetapi ia tidak langsung pergi ke kota raja itu, melainkan hendak menuju
ke dusun Karang Tirta di sebelah selatan wilayah Kahuripan untuk pulang ke
rumah ibu kandungnya. Ketika Puspa Dewi keluar dari kota kadipaten Wura-wuri,
di atas jalan yang diapit hutan, tiba-tiba tampak tiga orang muncul dan
menghadang di tengah jalan. Mereka adalah tiga orang laki-laki yang berusia
antara lima puluh sampai enam puluh tahun, berpakaian bangsawan dan sikap
mereka gagah. Melihat tiga orang itu, Puspa Dewi segera mengenal mereka dan
iapun menahan kendali kudanya sehingga kuda putih itu berhenti, meringkik dan
mengangkat kedua kaki depannya ke atas. Namun dengan cekatan Puspa Dewi mampu
menenangkan kudanya, lalu ia melompat turun dari atas punggung kuda dan
memegang kendali kuda, menghadapi tiga orang itu. Mereka itu bukan lain adalah
tiga orang yang selama ini menjadi jagoan dan orang orang kepercayaan sang
adipati dan terkenal dengan sebutan Tri Kala (Tiga Kala). Yang pertama bernama
Kalamuka, berusia enam puluh tahun, tinggi kurus mukanya meruncing seperti muka
tikus. Orang ke dua bernama Kalamanik, bertubuh pendek gendut dan mukanya selalu
menyeringai tersenyum lebar, berbeda dengan muka Kalamuka yang selalu cemberut.
Orang ke dua ini berusia lima puluh lima tahun. Adapun orang ke tiga bernama
Kalateja, berusia lima puluh tahun kepalanya gundul plontos, mukanya juga licin
tanpa kumis dan jenggot.
"Hei, paman Tri Kala. Kalian
bertiga mau apa menghadang perjalananku?" tanya Puspa Dewi sambil
mengerutkan alisnya karena merasa terganggu perjalanannya.
Kalamuka memberi hormat dan
membungkuk.
"Maafkan kami, Gusti Puteri
Puspa Dewi. Kami hanya melaksanakan perintah Gusti Adipati untuk menghadang
paduka di sini."
"Hemm, lalu apa
maksudnya?"
"Gusti Adipati memerintahkan
agar kami menguji kedigdayaan paduka, kalau paduka menang, paduka boleh
melanjutkan perjalanan paduka, akan tetapi kalau paduka kalah, paduka diminta
untuk kembali ke kadipaten."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya.
"Akan tetapi kenapa begitu?
Kenapa kalau hendak mengujiku, tidak tadi-tadi ketika aku masih berada di
kadipaten? Kenapa di tempat sunyi ini?"
Kalamuka berkata dengan sikap hormat.
"Paduka mengemban tugas yang
teramat penting, karena itu Gusti Adipati hendak meyakini bahwa paduka telah
memiliki aji kesaktian yang mumpuni. Adapun ujian itu dilakukan di tempat sunyi
ini agar tidak ada yang mengetahuinya karena apabila paduka kalah, hal itu akan
merugikan nama paduka."
Puspa Dewi kini tersenyum. Ia maklum
apa yang dimaksudkan dengan ujian ini dan iapun tahu bahwa gurunya atau ibu
angkatnya tentu telah mengetahui dan menyetujui ujian ini. Dan iapun seorang
yang cerdik. Gurunya, ketika memperkenalkan para tokoh yang sakti, juga
menerangkan tentang Tri Kala ini dan sampai di mana tingkat kepandaian mereka.
"Baiklah, lalu bagaimana kalian
akan menguji aku?"
"Dengan bertanding melawan kami
satu demi satu." Kata Kalamuka.
"Tidak, terlalu lama kalau satu
lawan satu. Majulah kalian bertiga mengeroyokku dan kita lihat siapa yang akan
keluar sebagai pemenang!"
"Tapi ..... kami tidak berani,
Gusti Puteri. Itu tidak adil namanya dan tentu paduka akan kalah."
Puspa Dewi tersenyum manis.
"Hemm, kita lihat saja. Kalau
kalian bertiga tidak mau maju bersama, akupun tidak mau melayani kalian dan
kalian tentu akan mendapat marah dari kanjeng rama adipati."
Tiga orang itu saling pandang dengan
ragu. Akhirnya Kalamuka mengangguk kepada dua orang adiknya dan dia berkata
kepada Puspa Dewi.
"Baiklah, gusti puteri. Kami
akan maju bersama melawan paduka, akan tetapi maafkan kami kalau kami mendesak
paduka dan kalau nanti gusti adipati menyalahkan kami karena mengeroyok, harap
paduka membela kami yang hanya memenuhi permintaan paduka."
"Baik, dan jangan khawatir.
Kalian tidak akan mampu mengalahkan aku" kata Puspa Dewi yang segera
membuat gerakan jurus pembukaan dari ilmu silat Guntur Geni. Kedua kakinya
ditekuk sedikit, yang kanan di depan yang kiri di belakang, kedua tangan
dikembangkan, yang kanan menuding ke atas, yang kiri ditekuk di pinggang, lalu
dikembangkan seperti burung hendak terbang.
Melihat gadis itu telah bersiap,
Kalamuka memberi isarat kepada dua orang adiknya lalu berseru,
"Gusti Puteri, harap siap
menyambut serangan kami!"
"Aku sudah siap! Majulah!"
Tiga orang itu serentak menyerang,
Kalamuka menampar ke arah pundak kiri, Kalamanik mencengkeram ke arah pundak
kanan dan Kalateja bergerak hendak menangkap lengan gadis itu. Jelas bahwa mere
ka menyerang dengan gerakan sungkan, juga t idak mengerahkan tenaga sakti
karena takut kalau kalau akan melukai gadis itu. Melihat ini, Puspa Dewi
mendongkol sekali. Ia merasa dipandang rendah. Maka, ia mengeluarkan seruan
nyaring, tubuhnya bergerak cepat dan secara beruntun mengirim serangan kilat!
Kalamuka kena ditampar dadanya, Kalamanik ditampar pundaknya dan Kalateja
ditendang perutnya. Puspa Dewi tidak mempergunakan tenaga sepenuhnya, akan
tetapi tiga orang itu sudah terpental dan roboh! Tentu saja mereka terkejut
bukan main dan cepat merangkak bangkit lagi.
"Salah kalian sendiri! Kalian
terlalu memandang rendah kepadaku. Hayo sekarang serang dengan betul-betul,
pergunakan semua tenaga kalian. Kalian diperintah untuk menguji kedigdayaanku,
bukan? Kenapa kalian menyerang seperti main-main saja? Kalian memandang rendah
kepadaku, ya?"
"Oh, tidak ..... tidak, gusti
puteri. Hayo, kita serang dengan sungguh sungguh, jangan sungkan!" kata
Kalamuka kepada dua orang adiknya.
"Haiiittt .....!" Kalamuka
menampar dengan tangan kanannya, mengarah muka kiri Puspa Dewi.
"Hyeeehhh!" Kalamanik juga
menonjok ke arah lambung gadis itu.
"Hyaatt .....!" Kalateja
tidak mau kalah, cepat dia menggerakkan kakinya membabat ke arah kaki gadis itu
untuk merobohkannya.
"Wuutt .....!"
Tiga orang itu terkejut bukan main
karena tiba-tiba saja gadis itu berkelebat lenyap. Hanya tampak bayangan
berkelebat di atas kepala mereka dan gadis itu lenyap. Mereka bertiga adalah
orang-orang digdaya yang sudah banyak pengalaman, maka cepat mereka dapat
menduga bahwa gadis itu mempergunakan ilmu meringankan tubuh dan melompat
melalui atas kepala mereka. Cepat mereka membalik dan benar saja. Puspa Dewi
telah berada di belakang mereka. Tiga orang itu sudah menerjang lagi dengan
cepat dan kuat. Akan tetapi Puspa Dewi telah siap siaga. Ia menghindarkan diri
dengan elakan atau tangkisan. Karena ia lebih unggul dalam kecepatan, maka tiga
orang itu merasa bingung ketika tubuh gadis itu seolah berubah menjadi
bayang-bayang yang berkelebatan. Serangan mereka hanya mengenai tempat kosong
atau tertangkis oleh lengan yang berkulit lembut namun mengandung tenaga sakti
yang amat kuat. Setelah lewat belasan jurus, terdengar Puspa Dewi berseru
nyaring. Seruan ini merupakan pekik melengking yang seolah menggetarkan bumi. Itulah
Aji Guruh Bairawa dan lengkingan suara itu membuat tiga orang itu tergetar
jantungnya, membuat mereka tercengang dan terhuyung. Kesempatan ini
dipergunakan Puspa Dewi untuk menyerang dengan tamparan-tamparan sambil berseru
nyaring....
"Robohlah .....!" Tiga
orang itu tidak mampu mengelak dan mereka terpelanting roboh. Mereka merangkak
bangkit dengan kepala terasa pening dan ketika mereka sudah berdiri, mereka
melihat gadis itu berdiri di depan mereka sambil bertolak pinggang dan
tersenyum manis
"Kalau kalian bertiga belum
puas, boleh cabut senjata kalian dan mengeroyokku!" katanya sambil
tersenyum.
Kalamuka memberi hormat dengan
membungkuk dan menyeringai karena dada kanannya yang terkena tamparan tangan
mungil halus itu terasa nyeri dan panas bukan main.
"Kami mengaku kalah, gusti
puteri. Kalau kami berani menyerang dengan senjata, tentu kami bertiga akan
roboh terluka oleh senjata pula. Ujian ini sudah cukup, paduka menang dan tentu
saja dapat melanjutkan pelaksanaan tugas paduka. Kami akan memberi laporan
kepada gusti adipati bahwa kami kalah dan kesaktian paduka sungguh dapat
diandalkan."
"Sukurlah kalau begitu, aku
tidak perlu merobohkan kalian dengan luka parah. Nah, aku pergi!" Puspa
Dewi melompat ke atas, berjungkir balik tiga kali dan turun di atas punggung
kuda putih, menarik kendali, menendang perut kuda dan berseru,
"Bajradenta (kilat putih), hayo
lari!"
Kuda putih yang oleh gadis itu
diberi nana Bajradenta itu meringkik nyaring, mengangkat kedua kaki depan ke
atas, lalu melompat ke depan dan lari secepat terbang! Tiga orang Tri Kala itu
memandang dengan penuh kagum. Kalamanik yang pendek gendut dan selalu tersenyum
itu menggeleng-geleng kepalanya yang besar dan berkata,
"Bukan main! Sang puteri Puspa
Dewi itu agaknya tidak kalah saktinya dibandingkan gurunya, bahkan mungkin
lebih tangkas!"
Dua orang kakaknya juga mengikuti
bayangan Puspa Dewi dan kudanya yang telah jauh sekali dan merekapun
menggeleng-gelengkan kepala dan merasa kagum.
"Sungguh memalukan sekali kita
bertiga sudah roboh hanya dalam waktu belasan jurus saja. Belum pernah kita
menghadapi lawan yang sedemikian tangguhnya." Kata Kalateja yang berkepala
gundul.
"Sudahlah, hal itu tidaklah
aneh. Kita semua sudah tahu bahwa gurunya adalah seorang datuk yang sakti
mandraguna, untung watak Gusti puteri Puspa Dewi tidak sekeras ibunya yang juga
menjadi gurunya sehingga kita tidak terluka parah. Kalau ibunya yang turun
tangan mungkin sekarang kita sudah mampus. Mari kita laporan kepada Gusti
Adipati.” Mereka lalu kembali ke kota kadipaten Wura-wuri untuk melaporkan
hasil ujian yang mereka lakukan atas diri Puspa Dewi.
Nurseta berjalan menuruni lereng
bukit itu sambil melamun. Dia merasa, kecewa sekali kepada dirinya sendiri.
Baru saja turun gunung, dia telah kehilangan keris pusaka Sang Megatantra! Dan
hal itu terjadi karena kebodohan dan kelengahannya. Dia terlalu percaya kepada
pria yang bernama Raden Hendratama dan tiga orang wanita cantik yang tadinya
mengaku sebagai puteri bangsawan itu. Tidak tahunya, Raden Hendratama adalah seorang
pangeran dan tiga orang wanita muda yang cantik itu adalah selir-selirnya. Dia
telah terjebak, keris pusakanya dilarikan orang. Dengan demikian, dia telah
menggagalkan pesan mendiang Empu Dewamurti yang minta kepadanya agar keris
pusaka itu diserahkan kepada Sang Prabu Erlangga. Kini malah hilang. Dan dia
tidak tahu kemana harus mencari pangeran yang mencuri keris itu. Ke mana dia
harus mencari Pangeran Hendratama?
No comments:
Post a Comment