Bagian 32


Malam itu Puspa Dewi mendengar banyak hal dari guru atau ibu angkatnya. Nyi Dewi Durgakumala memperkenalkan nama tokoh-tokoh besar yang menjadi kawan atau yang menjadi lawan, juga keadaan kerajaan Kahuripan dan para kadipaten yang memusuhi kerajaan itu pada umumnya. Antara lain ia menekankan dua buah hal yang harus diperhatikan dara itu.
"Ingatlah selalu akan dua hal penting ini, anakku. Pertama, aku mempunyai seorang musuh besar yang amat kubenci, dia adalah Ki Patih Narotama, patih Kerajaaan Kahuripan. Balaslah dendam sakit hatiku kepadanya, Puspa Dewi. Usahakanlah agar engkau dapat membunuh musuh besarku itu!"
"Ibu Dewi, mengapa ibu mendendam dan memusuhinya? Kalau aku harus membunuhnya, aku ingin tahu mengapa ibu mendendam kepadanya." tanya Puspa Dewi.
Pertanyaan ini saja sudah menunjukkan bahwa pada dasarnya gadis itu tidak memiliki watak jahat dan kejam. Setiap perbuatannya ia perhitungkan lebih dulu sebab dan alasannya.
"Dia telah menghinaku, mempermalukan aku, dan lebih dari itu, dia telah membunuh anakku yang baru berusia empat tahun!" kata Nyi Dewi Durgakumala dengan geram dan tiba-tiba kedua matanya menjadi basah. Ia menangis! Puspa Dewi terkejut. Belum pernah ia melihat gurunya atau ibu angkatnya itu menangis.
"Ah, apakah yang telah dia lakukan, ibu?"
"Terus terang saja, aku pernah tergila-gila kepada Narotama akan tetapi ketika kunyatakan cintaku kepadanya, dia malah mengejek dan menghinaku. Bukan itu saja, dia menyerangku dan serangannya itu mengenai anak yang berada di gendonganku sehingga anak itu tewas..."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya dan mengepal tangan kanannya.
"Si keparat Narotama. Jangan khawatir, ibu. Aku pasti akan membalaskan sakit hati itu!"
"Bagus, nini. Sekarang urusan ke dua yang juga tidak kalah pentingnya. Kurang lebih lima tahun yang lalu, terjadi perebutan keris pusaka Megatantra antara aku, Resi Bajrasakti dari Wengker, dan Empu Dewamurti. Akhirnya yang menang adalah Empu Dewamurti dan keris itu ada padanya. Akan tetapi, belum lama ini aku mendengar bahwa Empu Dewamurti telah tewas dan keris pusaka itu entah berada di mana, tidak ada yang mengetahuinya. Akan tetapi aku dapat menduga di mana adanya keris pusaka Megatantra itu. Ketika itu, ada seorang pemuda yang datang membawa keris pusaka Megatantra itu dan dia dilindungi oleh Empu Dewamurti. Keris pusaka itu sekarang tentu berada di tangan pemuda itu." Puspa Dewi mengenang peristiwa lima tahun lalu itu.
"Aku ingat, ibu ....., yang ibu maksudkan itu tentulah Nurseta."
Nyi Dewi Durgakumala tertarik.
"Nurseta?"
"Ya, Nurseta. Dia adalah pemuda remaja dari Karang Tirta dan dia yang menyuruh aku dan Linggajaya melarikan diri ketika terjadi perkelahian antara ibu, Resi Bajrasakti, dan Empu Dewamurti itu."
"Ah, sungguh beruntung engkau mengenalnya, Puspa Dewi. Nah, engkau carilah Nurseta itu. Engkau harus dapat merampas keris pusaka Megatantra itu dari tangannya atau dari tangan siapapun juga."
"Hemm, untuk apa memperebutkan keris pusaka, ibu?"
"Wah, engkau tidak tahu nini. Seluruh tokoh sakti di dunia memperebutkannya. Kau tahu, keris pusaka Sang Megatantra itu merupakan keris pusaka yang amat ampuh. Bukan itu saja, malah keris pusaka itu merupakan wahyu mahkota, siapa yang memilikinya, berhak menjadi raja besar yang menguasai seluruh nusantara. Engkau harus dapat merampas keris pusaka itu, nini. Kita berdua akan hidup mulia kalau dapat menguasai keris pusaka itu!"
Puspa Dewi menyambut dengan dingin saja. Ia sendiri tidak begitu tertarik, akan tetapi ia harus melakukan dua tugas itu untuk gurunya, sebagai balas budi.
"Baiklah, ibu. Akan kulaksanakan apa yang ibu pesan itu."

Pada keesokan harinya, pagi-pagi Puspa Dewi berpamit kepada Nyi Dewi Durgakumala dan Adipati Bhismaprabhawa. Sang adipati memberinya seekor kuda putih dan bekal sekantung emas. Nyi Dewi Durgakumala memberikan senjatanya yang ampuh, yaitu Candrasa Langking (Pedang Hitam) kepada anak angkatnya. Puspa Dewi menggantung pedang di pinggang, menggendong buntalan pakaian, lalu menunggang kuda putih dan melarikan kuda itu keluar dari kota kadipaten Wura-wuri menuju ke barat, ke wilayah Kahuripan. Akan tetapi ia tidak langsung pergi ke kota raja itu, melainkan hendak menuju ke dusun Karang Tirta di sebelah selatan wilayah Kahuripan untuk pulang ke rumah ibu kandungnya. Ketika Puspa Dewi keluar dari kota kadipaten Wura-wuri, di atas jalan yang diapit hutan, tiba-tiba tampak tiga orang muncul dan menghadang di tengah jalan. Mereka adalah tiga orang laki-laki yang berusia antara lima puluh sampai enam puluh tahun, berpakaian bangsawan dan sikap mereka gagah. Melihat tiga orang itu, Puspa Dewi segera mengenal mereka dan iapun menahan kendali kudanya sehingga kuda putih itu berhenti, meringkik dan mengangkat kedua kaki depannya ke atas. Namun dengan cekatan Puspa Dewi mampu menenangkan kudanya, lalu ia melompat turun dari atas punggung kuda dan memegang kendali kuda, menghadapi tiga orang itu. Mereka itu bukan lain adalah tiga orang yang selama ini menjadi jagoan dan orang orang kepercayaan sang adipati dan terkenal dengan sebutan Tri Kala (Tiga Kala). Yang pertama bernama Kalamuka, berusia enam puluh tahun, tinggi kurus mukanya meruncing seperti muka tikus. Orang ke dua bernama Kalamanik, bertubuh pendek gendut dan mukanya selalu menyeringai tersenyum lebar, berbeda dengan muka Kalamuka yang selalu cemberut. Orang ke dua ini berusia lima puluh lima tahun. Adapun orang ke tiga bernama Kalateja, berusia lima puluh tahun kepalanya gundul plontos, mukanya juga licin tanpa kumis dan jenggot.
"Hei, paman Tri Kala. Kalian bertiga mau apa menghadang perjalananku?" tanya Puspa Dewi sambil mengerutkan alisnya karena merasa terganggu perjalanannya.
Kalamuka memberi hormat dan membungkuk.
"Maafkan kami, Gusti Puteri Puspa Dewi. Kami hanya melaksanakan perintah Gusti Adipati untuk menghadang paduka di sini."
"Hemm, lalu apa maksudnya?"
"Gusti Adipati memerintahkan agar kami menguji kedigdayaan paduka, kalau paduka menang, paduka boleh melanjutkan perjalanan paduka, akan tetapi kalau paduka kalah, paduka diminta untuk kembali ke kadipaten."

Puspa Dewi mengerutkan alisnya.
"Akan tetapi kenapa begitu? Kenapa kalau hendak mengujiku, tidak tadi-tadi ketika aku masih berada di kadipaten? Kenapa di tempat sunyi ini?"
Kalamuka berkata dengan sikap hormat.
"Paduka mengemban tugas yang teramat penting, karena itu Gusti Adipati hendak meyakini bahwa paduka telah memiliki aji kesaktian yang mumpuni. Adapun ujian itu dilakukan di tempat sunyi ini agar tidak ada yang mengetahuinya karena apabila paduka kalah, hal itu akan merugikan nama paduka."
Puspa Dewi kini tersenyum. Ia maklum apa yang dimaksudkan dengan ujian ini dan iapun tahu bahwa gurunya atau ibu angkatnya tentu telah mengetahui dan menyetujui ujian ini. Dan iapun seorang yang cerdik. Gurunya, ketika memperkenalkan para tokoh yang sakti, juga menerangkan tentang Tri Kala ini dan sampai di mana tingkat kepandaian mereka.
"Baiklah, lalu bagaimana kalian akan menguji aku?"
"Dengan bertanding melawan kami satu demi satu." Kata Kalamuka.
"Tidak, terlalu lama kalau satu lawan satu. Majulah kalian bertiga mengeroyokku dan kita lihat siapa yang akan keluar sebagai pemenang!"
"Tapi ..... kami tidak berani, Gusti Puteri. Itu tidak adil namanya dan tentu paduka akan kalah."
Puspa Dewi tersenyum manis.
"Hemm, kita lihat saja. Kalau kalian bertiga tidak mau maju bersama, akupun tidak mau melayani kalian dan kalian tentu akan mendapat marah dari kanjeng rama adipati."
Tiga orang itu saling pandang dengan ragu. Akhirnya Kalamuka mengangguk kepada dua orang adiknya dan dia berkata kepada Puspa Dewi.
"Baiklah, gusti puteri. Kami akan maju bersama melawan paduka, akan tetapi maafkan kami kalau kami mendesak paduka dan kalau nanti gusti adipati menyalahkan kami karena mengeroyok, harap paduka membela kami yang hanya memenuhi permintaan paduka."
"Baik, dan jangan khawatir. Kalian tidak akan mampu mengalahkan aku" kata Puspa Dewi yang segera membuat gerakan jurus pembukaan dari ilmu silat Guntur Geni. Kedua kakinya ditekuk sedikit, yang kanan di depan yang kiri di belakang, kedua tangan dikembangkan, yang kanan menuding ke atas, yang kiri ditekuk di pinggang, lalu dikembangkan seperti burung hendak terbang.
Melihat gadis itu telah bersiap, Kalamuka memberi isarat kepada dua orang adiknya lalu berseru,
"Gusti Puteri, harap siap menyambut serangan kami!"
"Aku sudah siap! Majulah!"

Tiga orang itu serentak menyerang, Kalamuka menampar ke arah pundak kiri, Kalamanik mencengkeram ke arah pundak kanan dan Kalateja bergerak hendak menangkap lengan gadis itu. Jelas bahwa mere ka menyerang dengan gerakan sungkan, juga t idak mengerahkan tenaga sakti karena takut kalau kalau akan melukai gadis itu. Melihat ini, Puspa Dewi mendongkol sekali. Ia merasa dipandang rendah. Maka, ia mengeluarkan seruan nyaring, tubuhnya bergerak cepat dan secara beruntun mengirim serangan kilat! Kalamuka kena ditampar dadanya, Kalamanik ditampar pundaknya dan Kalateja ditendang perutnya. Puspa Dewi tidak mempergunakan tenaga sepenuhnya, akan tetapi tiga orang itu sudah terpental dan roboh! Tentu saja mereka terkejut bukan main dan cepat merangkak bangkit lagi.
"Salah kalian sendiri! Kalian terlalu memandang rendah kepadaku. Hayo sekarang serang dengan betul-betul, pergunakan semua tenaga kalian. Kalian diperintah untuk menguji kedigdayaanku, bukan? Kenapa kalian menyerang seperti main-main saja? Kalian memandang rendah kepadaku, ya?"
"Oh, tidak ..... tidak, gusti puteri. Hayo, kita serang dengan sungguh sungguh, jangan sungkan!" kata Kalamuka kepada dua orang adiknya.
"Haiiittt .....!" Kalamuka menampar dengan tangan kanannya, mengarah muka kiri Puspa Dewi.
"Hyeeehhh!" Kalamanik juga menonjok ke arah lambung gadis itu.
"Hyaatt .....!" Kalateja tidak mau kalah, cepat dia menggerakkan kakinya membabat ke arah kaki gadis itu untuk merobohkannya.
"Wuutt .....!"
Tiga orang itu terkejut bukan main karena tiba-tiba saja gadis itu berkelebat lenyap. Hanya tampak bayangan berkelebat di atas kepala mereka dan gadis itu lenyap. Mereka bertiga adalah orang-orang digdaya yang sudah banyak pengalaman, maka cepat mereka dapat menduga bahwa gadis itu mempergunakan ilmu meringankan tubuh dan melompat melalui atas kepala mereka. Cepat mereka membalik dan benar saja. Puspa Dewi telah berada di belakang mereka. Tiga orang itu sudah menerjang lagi dengan cepat dan kuat. Akan tetapi Puspa Dewi telah siap siaga. Ia menghindarkan diri dengan elakan atau tangkisan. Karena ia lebih unggul dalam kecepatan, maka tiga orang itu merasa bingung ketika tubuh gadis itu seolah berubah menjadi bayang-bayang yang berkelebatan. Serangan mereka hanya mengenai tempat kosong atau tertangkis oleh lengan yang berkulit lembut namun mengandung tenaga sakti yang amat kuat. Setelah lewat belasan jurus, terdengar Puspa Dewi berseru nyaring. Seruan ini merupakan pekik melengking yang seolah menggetarkan bumi. Itulah Aji Guruh Bairawa dan lengkingan suara itu membuat tiga orang itu tergetar jantungnya, membuat mereka tercengang dan terhuyung. Kesempatan ini dipergunakan Puspa Dewi untuk menyerang dengan tamparan-tamparan sambil berseru nyaring....
"Robohlah .....!" Tiga orang itu tidak mampu mengelak dan mereka terpelanting roboh. Mereka merangkak bangkit dengan kepala terasa pening dan ketika mereka sudah berdiri, mereka melihat gadis itu berdiri di depan mereka sambil bertolak pinggang dan tersenyum manis
"Kalau kalian bertiga belum puas, boleh cabut senjata kalian dan mengeroyokku!" katanya sambil tersenyum.

Kalamuka memberi hormat dengan membungkuk dan menyeringai karena dada kanannya yang terkena tamparan tangan mungil halus itu terasa nyeri dan panas bukan main.
"Kami mengaku kalah, gusti puteri. Kalau kami berani menyerang dengan senjata, tentu kami bertiga akan roboh terluka oleh senjata pula. Ujian ini sudah cukup, paduka menang dan tentu saja dapat melanjutkan pelaksanaan tugas paduka. Kami akan memberi laporan kepada gusti adipati bahwa kami kalah dan kesaktian paduka sungguh dapat diandalkan."
"Sukurlah kalau begitu, aku tidak perlu merobohkan kalian dengan luka parah. Nah, aku pergi!" Puspa Dewi melompat ke atas, berjungkir balik tiga kali dan turun di atas punggung kuda putih, menarik kendali, menendang perut kuda dan berseru,
"Bajradenta (kilat putih), hayo lari!"
Kuda putih yang oleh gadis itu diberi nana Bajradenta itu meringkik nyaring, mengangkat kedua kaki depan ke atas, lalu melompat ke depan dan lari secepat terbang! Tiga orang Tri Kala itu memandang dengan penuh kagum. Kalamanik yang pendek gendut dan selalu tersenyum itu menggeleng-geleng kepalanya yang besar dan berkata,
"Bukan main! Sang puteri Puspa Dewi itu agaknya tidak kalah saktinya dibandingkan gurunya, bahkan mungkin lebih tangkas!"
Dua orang kakaknya juga mengikuti bayangan Puspa Dewi dan kudanya yang telah jauh sekali dan merekapun menggeleng-gelengkan kepala dan merasa kagum.
"Sungguh memalukan sekali kita bertiga sudah roboh hanya dalam waktu belasan jurus saja. Belum pernah kita menghadapi lawan yang sedemikian tangguhnya." Kata Kalateja yang berkepala gundul.
"Sudahlah, hal itu tidaklah aneh. Kita semua sudah tahu bahwa gurunya adalah seorang datuk yang sakti mandraguna, untung watak Gusti puteri Puspa Dewi tidak sekeras ibunya yang juga menjadi gurunya sehingga kita tidak terluka parah. Kalau ibunya yang turun tangan mungkin sekarang kita sudah mampus. Mari kita laporan kepada Gusti Adipati.” Mereka lalu kembali ke kota kadipaten Wura-wuri untuk melaporkan hasil ujian yang mereka lakukan atas diri Puspa Dewi.

Nurseta berjalan menuruni lereng bukit itu sambil melamun. Dia merasa, kecewa sekali kepada dirinya sendiri. Baru saja turun gunung, dia telah kehilangan keris pusaka Sang Megatantra! Dan hal itu terjadi karena kebodohan dan kelengahannya. Dia terlalu percaya kepada pria yang bernama Raden Hendratama dan tiga orang wanita cantik yang tadinya mengaku sebagai puteri bangsawan itu. Tidak tahunya, Raden Hendratama adalah seorang pangeran dan tiga orang wanita muda yang cantik itu adalah selir-selirnya. Dia telah terjebak, keris pusakanya dilarikan orang. Dengan demikian, dia telah menggagalkan pesan mendiang Empu Dewamurti yang minta kepadanya agar keris pusaka itu diserahkan kepada Sang Prabu Erlangga. Kini malah hilang. Dan dia tidak tahu kemana harus mencari pangeran yang mencuri keris itu. Ke mana dia harus mencari Pangeran Hendratama?

<<<Bagian 31                                                                                          Bagian 33 >>>

No comments:

Post a Comment