Dan harus diakui bahwa Puspa Dewi sesungguhnya juga amat sayang kepada ibu angkatnya itu, yang telah mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Setelah menerima pendidikan iblis betina itu, otomatis Puspa Dewi juga mewarisi keganasannya. Ia menjadi seorang gadis yang keras hati dan tidak mau kalah, lincah dan terbuka. Akan tetapi karena pada dasarnya ia bukan keturunan orang jahat, biarpun wataknya keras dan sikapnya ugal-ugalan, pada dasarnya Puspa Dewi tidak suka akan perbuatan jahat seperti yang diperlihatkan ketika ia menentang ibu angkatnya yang menculik pemuda remaja untuk melampiaskan nafsu berahinya. Di dasar hatinya Puspa Dewi memiliki rasa keadilan yang kokoh. Beberapa hari kemudian Nyi Dewi Durgakumala mengajak Puspa Dewi pergi menghadap Raja atau Adipati Bhismaprabhawa, yaitu raja Wura-wuri yang berusia lima puluh tahun. Raja yang bertubuh tinggi kurus ini telah melamar Nyi Dewi Durgakumala untuk dijadikan isterinya. Sang adipati ingin mengangkat datuk wanita itu menjadi isterinya bukan hanya karena wanita itu masih tampak cantik dan muda, melainkan terutama sekali karena wanita itu sakti mandraguna. Kalau sudah menjadi isterinya, maka hal ini akan memperkuat kedudukannya sebagai raja Wura-wuri! Kini sebulan telah berlalu dan hari itu adalah hari yang dijanjikan Nyi Dewi Durgakumala untuk memberi jawaban keputusan tentang lamaran itu.
Setelah diterima oleh Adipati
Shismaprabhawa di ruangan tertutup, Nyi Dewi Durgakumala dipersilakan duduk di
atas sebuah kursi dan Puspa Dewi duduk di atas lantai bertilamkan permadani.
Kedua orang wanita itu menghadap Adipati Bhismaprabhawa yang menyambut mereka
dengan senyum kagum dan penuh harapan. Alangkah cantik jelita guru dan murid
ini, pikirnya. Dan dia tahu pula bahwa mereka berdua juga memiliki kesaktian
yang boleh diandalkan. Betapa akan bahagia dan aman hidupnya kalau dia dapat
memiliki mereka itu sebagai isteri dan anaknya.
"Aha, Nyi Dewi Durgakumala,
ternyata andika dapat memegang janji karena hari ini tepat sudah waktu sebulan
yang andika minta untuk memberi jawaban atas pinanganku. Nah, bagaimana
jawabanmu itu, Kuharap tidak akan mengecewakan." kata Adipati
Bhismaprabhawa sambil mengelus jenggotnya yang jarang. Dia memang selalu
menghormati wanita ini karena sejak Nyi Dewi Durgakumala membantu Wura-wuri,
wanita ini sudah membuat banyak jasa. Pada hal wanita ini bukan kawula
Wura-wuri, melainkan berasal dari daerah Blambangan. Nyi Dewi Durgakumala
tersenyum lalu menjawab.
"Sesungguhnya hamba telah siap
dengan jawaban hamba....."
"Ah, andika dapat menerima
pinanganku, bukan? Andika bersedia menjadi isteriku?" Adipati itu mendesak
dengan penuh harapan.
Kembali Nyi Dewi Durgakumala
tersenyum manis.
"Hamba dapat menerimanya dengan
senang hati akan tetapi hanya dengan dua syarat."
"Dua syarat saja? Biar ada dua
puluh tentu akan kupenuhi! Nah, katakan, apa syaratmu itu, Nyi Dewi?"
"Pertama, hamba minta agar
paduka menganggap Puspa Dewi, murid dan anak angkat hamba ini, sebagai puteri
paduka sendiri."
"Bagus!" Adipati
Bhistaprabhawa itu bersorak karena hal itu memang merupakan keinginannya.
"Kuterima dengan senang hati
syarat itu. Heh, Nini Puspa Dewi, mulai saat ini, andika adalah puteriku,
kuangkat menjadi Puteri Keraton Wura-wuri!" Puspa Dewi menyembah dan
berkata,
"Terima kasih, gusti."
Adipati itu membelalakkan matanya
yang kecil.
"Apa gusti? Mulai saat ini aku
adalah ayahmu, maka andika harus menyebut kanjeng rama!"
"Baik, kanjeng rama."
Puspa Dewi menyembah lagi.
"Ha-ha-ha-ha! Senang hatiku,
mempunyai seorang puteri yang sudah dewasa dan dalam hal kecantikan dan
kesaktian, tidak ada puteri lain yang dapat menandingimu, Nini Puspa Dewi. Nah,
Nyi Dewi, syarat apa lagi yang andika inginkan?"
Adipati itu menantang, siap untuk
memenuhi permintaan selanjutnya dari wanita yang masih tampak cantik, menarik
dan genit itu.
"Hanya sebuah syarat lagi saja,
gusti."
"Heiiit! Engkaupun tidak boleh
menyebut gusti padaku. Mulai sekarang harus menyebut Kakangmas Adipati dan aku
menyebutmu diajeng. Lebih mesra begitu. Nah, katakan apa syaratmu yang sebuah
lagi itu, diajeng Dewi?"
Nyi Dewi Durgakumala tersenyum dan
mengerling dengan genit dan menarik sehingga sang adipati memandang dengan
gemas dan menjilat bibirnya sendiri seperti seekor srigala melihat seekor
kelinci yang muda dan gemuk!
"Begini kakangmas, syarat hamba
yang kedua ini adalah agar paduka menjatuhkan hukuman mati kepada
Gendari."
Wajah yang kurus itu berubah agak
pucat dan mata yang kecil itu terbelalak.
"Apa.....? Menghukum.....
mati..... diajeng Gendari? Tapi kenapa .....?" Sang adipati bertanya
gagap. Gendari merupakan selirnya yang paling dikasihi karena selir yang
usianya tiga puluh tahun itu memang paling cantik di antara isteri-isterinya
dan pandai memikat hatinya.
Nyi Dewi Durgakumala
tersenyum-mengejek.
"Paduka tidak setuju dan tidak
dapat memenuhi syarat hamba yang kedua ini, bukan? Nah, kalau begitu, terpaksa
hamba tidak dapat menerima pinangan paduka dan hamba bersama puteri hamba akan
pergi meninggalkan Wura-wuri. Masih banyak kerajaan yang akan mau menerima
pengabdian kami. Bahkan Sang Prabu Erlangga tentu akan menerima kami dengan
tangan terbuka."
"Eh, jangan! Jangan marah dulu,
diajeng. Bukan aku menolak syaratmu itu. Akan tetapi aku ingin tahu, kenapa
andika minta agar Gendari dihukum mati?"
"Hemm, wanita itu sejak hamba
mengabdikan diri di Wura-wuri telah bersikap memusuhi hamba, hal itu dapat
hamba rasakan dari cara matanya memandang hamba dan bibirnya selalu mengejek
kalau bertemu hamba. Tak mungkin hamba dapat hidup bersama wanita itu sebagai
madu hamba. Pendeknya, ia harus mati atau hamba menolak pinangan paduka!"
Adipati Bhismaprabhawa mengerutkan
alisnya dan menghela napas. Dia harus mengalah. Gendari hanya seorang wanita
lemah, hanya memiliki kecantikan dan dapat menghibur hatinya. Selain itu, tidak
ada gunanya. Sebaliknya, Nyi Dewi Durgakumala ini selain dapat menjadi seorang
isteri yang cantik jelita dan memikat, juga dapat menjadi seorang yang akan
memperkuat kedudukannya karena ia seorang wanita yang sakti mandraguna.
"Hemm, kalau begitu ....."
Melihat sang adipati itu jelas
hendak menuruti kehendak ibunya, Puspa Dewi yang sejak tadi mendengarkan dengan
alis berkerut karena tidak setuju dengan syarat yang diajukan ibunya mengenai
wanita bernama Gendari itu, segera berkata.
"Ampunkan hamba, gusti..... eh
maaf, kanjeng rama Kanjeng, ibu tidak suka tinggal serumah dengan wanita
bernama Gendari itu. Hal itu mudah saja diatasi, Kalau paduka menyingkirkannya,
mengirimnya pulang ke tempat asalnya, tentu ia tidak akan tinggal di sini lagi
dan tidak akan mengganggu kanjeng ibu, bukankah jalan ini baik sekali,
ibu?" Puspa Dewi menatap wajah ibunya.
Mereka saling pandang dan Nyi Dewi
Durgakumala menghela napas panjang. Dalam sinar mata anak angkatnya itu kembali
ia melihat ancaman gadis itu untuk meninggalkannya kalau ia tidak setuju! la
mengangguk dan berkata lirih.
"Begitu juga baik ....."
Adipati Bhismaprabhawa menghela
napas lega. Dia tidak berkeberatan kehilangan Gendari karena sebagai penggantinya
dia mendapatkan Nyi Dewi Durgakumala. Akan tetapi untuk membunuh Gendari, dia
tidak tega. Sudah sepuluh tahun Gendari menjadi selirnya yang terkasih dan dia
masih sayang kepada wanita itu. Kini ada jalan keluar yang amat baik. Dia dapat
mengirim Gendari kembali ke orang tuanya dan membekali banyak harta kepada
selir terkasih ini. Masih baik bahwa Gendari tidak mempunyai anak sehingga
ikatan di antara mereka tidak terlalu kuat.
"Baiklah, hari ini juga aku
akan menyuruh Gendari pergi dan pulang ke kampung halamannya, dan mulai hari
ini juga, andika diajeng Dewi dan andika, Nini Puspa Dewi, kalian tinggal di
istana kadipaten. Kita akan mengadakan sebuah pesta perayaan besar untuk
pernikahan kita, diajeng Dewi."
Demikianlah, dengan derai air mata,
akan tetapi dengan membawa banyak harta benda, Nyi Gendari diantar pengawal
dengan sebuah kereta, pulang ke kampung halamannya. Sementara itu, di kadipaten
diadakan pesta perayaan untuk menyambut Nyi Dewi Durgakumala sebagai isteri
sang adipati. Dengan sendirinya Puspa Dewi mulai hari itu menjadi puteri
adipati dan gadis itu merasa bangga juga mendengar orang-orang menyebutnya
gusti puteri sekar kedaton! Kurang lebih sebulan setelah peristiwa itu terjadi,
pada suatu pagi Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala memanggil Puspa
Dewi untuk menghadap. Setelah tiga orang ini duduk di ruangan dalam, Nyi Dewi
Durgakumala berkata kepada gadis itu.
"Anakku bocah ayu Puspa Dewi,
sekarang semua aji kesaktian telah kuajarkan kepadamu. Tibalah saatnya bagimu
untuk memanfaatkan semua yang telah kaupelajari itu untuk berbakti kepada
kanjeng ramamu dan Kadipaten Wura wuri."
Puspa Dewi mengangkat muka menatap
wajah ibu angkatnya dengan penuh selidik.
"Kanjeng ibu, apakah yang ibu
maksudkan? Apa yang harus kulakukan?"
"Begini, Puspa Dewi. Engkau
tentu sudah sering mendengar dari ibumu bahwa Wura-wuri mempunyai musuh besar,
yaitu Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Sang Prabu Erlangga dan patihnya
yang bernama Ki Patih Narotama. Kerajaan Kahuripan dengan rajanya yang angkara
murka itu selalu ingin menguasai kadipaten-kadipaten seperti Wura-wuri,
Wengker, Parang Siluman dan lain-lain. Sejak dahulu, Mataram memang menjadi
musuh kita sampai keturunannya yang sekarang. Nah, sekarang terbuka kesempatan
bagi kita untuk bersama kadipaten lain menghancurkan keturunan Mataram itu dan
kami mengandalkan bantuanmu dalam usaha ini, Nini Puspa Dewi."
Gadis itu menatap wajah sang adipati
dengan pandang mata penuh selidik.
"Lalu apa yang dapat saya
lakukan, kanjeng rama?"
"Begini, Puspa Dewi. Pada saat
ini, kerajaan kecil Parang Siluman sedang berusaha untuk menghancurkan Mataram,
bukan dengan jalan perang karena hal itu tidak akan menguntungkan, mengingat
bahwa Kahuripan, kelanjutan Mataram itu, memiliki bala tentara yang kuat. Kini
Parang Siluman mempergunakan cara halus dan tampaknya akan berhasil baik.
Kerajaan Wengker sudah membantu Parang Siluman, bahkan kerajaan kecil Siluman
Laut Kidul juga siap membantu. Kita tidak mau ketinggalan dan kalau kita semua
bersatu dalam usaha ini, tentu akan membawa hasil lebih baik."
"Cara apakah yang dipergunakan
itu, kanjeng rama?"
"Kahuripan mempunyai raja yang
sakti mandraguna, yaitu Sang Prabu Erlangga, dibantu patihnya yang menjadi
tulang punggung kerajaan bernama Ki Patih Narotama. Nah, untuk menghancurkan
Kahuripan, kini diusahakan untuk membinasakan kedua orang pemimpin itu, dengan
cara mengadu domba di antara keduanya, atau membunuh keduanya.”
"Akan tetapi, paduka tadi
mengatakan bahwa kedua orang itu sakti mandraguna dan sebagai raja dan patihnya
tentu mereka itu mempunyai pasukan pengawal yang amat kuat. Bagaimana mungkin
membunuh mereka?" tanya Puspa Dewi.
"Ratu Durgamala dari Kerajaan
Parang Siluman telah menggunakan siasat yang baik sekali. Ia mempunyai dua
orang puteri yang cantik bernama Lasmini dan Mandari dan sekarang dua orang
puteri cantik itu telah berhasil menyusup ke Kahuripan. Puteri Mandari kini
menjadi selir terkasih Sang Prabu Erlangga, sedangkan Puteri Lasmini menjadi
selir Ki Patih Narotama."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya.
"Memusuhi mereka, mengapa malah
menjadi selir mereka?"
"Jangan salah mengerti,
anakku." kata Nyi Dewi Durgakumala,
"mereka menjadi selir hanya
untuk mencari kesempatan melaksanakan siasat mereka, yaitu mengadu domba antara
raja dan patihnya itu, atau kalau mungkin membunuh mereka."
"Hemm, begitukah?" kata
Puspa Dewi, diam-diam merasa heran sekali bagaimana dua orang gadis cantik itu
mau melakukan hal seperti itu. Kalau ia yang disuruh mengorbankan diri seperti
itu, tentu saja ia tidak sudi.
"Lalu, apa yang dapat saya
lakukan, kanjeng rama?"
"Nini, seperti kukatakan tadi,
kita harus membantu gerakan mereka yang berusaha menghancurkan Kahuripan.
Engkau wakililah Wura-wuri untuk bersekutu dengan kedua orang puteri Parang
Siluman itu, dan bekerja sama dengan kadipaten Wengker, kerajaan Siluman Laut
Kidul dan kerajaan Parang Siluman. Kalau sampai usaha membinasakan Sang Prabu
Erlangga dan Patih Narotama berhasil, Kahuripan tentu akan mudah kita
taklukkan!"
"Kenapa harus saya yang
mewakili Wura-wuri, kanjeng rama?"
"Anakku, kenapa masih
kautanyakan hal itu? Ada tiga alasan kuat mengapa engkau yang dipilih kanjeng
ramamu mewakili Wura-wuri. Pertama, engkau adalah puteri sekar kedaton
Wura-wuri, sudah sepatutnya engkau berdarma bakti kepada Wura-wuri. Ke dua,
kalau menyuruh para tokoh Wurawuri, tentu akan dikenal oleh orang-orang
Kahuripan sedangkan engkau tidak akan dikenal dan tidak dicurigai karena engkau
berasal dari dusun Karang Tirta yang termasuk daerah Kahuripan sendiri. Dan ke
tiga, sekarang terbuka kesempatan bagimu untuk mempergunakan semua aji
kesaktian yang selama ini kaupelajari."
Puspa Dewi tiba-tiba teringat akan
ibunya yang tinggal di Karang Tirta dan timbul rasa rindunya. Selama kurang
lebih setengah tahun akhir-akhir ini ia memang ingin sekali pergi ke Karang
Tirta, akan tetapi ibu angkatnya selalu melarangnya dan bagaimanapun juga, ia
memang memiliki rasa sayang kepada Nyi Dewi Durgakumala yang amat menyayangnya
dan yang telah mendidiknya dengan tekun selama lima tahun lebih. Kini ia mendapat
kesempatan untuk meninggalkan Wura-wuri dan kembali ke tempat tinggal ibu
kandungnya.
"Kanjeng rama, kalau saya
menerima tugas itu, lalu apa saja yang harus saya kerjakan? Saya sama sekali
tidak mempunyai pengalaman tentang pekerjaan ini." Tanyanya kepada sang
adipati.
"Ha-ha-ha!" Adipati
Bhismaprabhawa tertawa.
"Andika memang belum
berpengalaman, nini. Akan tetapi andika memiliki aji kesaktian yang
memungkinkan andika melakukan apa saja. Kalau andika sudah memasuki Kahuripan
dan bertemu dengan kedua orang puteri Parang Siluman itu, atau bertemu dengan
wakil-wakil dari kerajaan Wengker, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul,
andika tentu akan tahu apa yang harus dilakukan. Singkatnya, andika harus
bekerja sama dengan mereka dan andika harus memusuhi Sang Prabu Erlangga dan Ki
Patih Narotama, juga siapa saja yang setia dan mendukung kedua orang pimpinan
Kahuripan itu."
Puspa Dewi mengangguk.
"Baiklah, kanjeng rama, saya
akan melaksanakan tugas itu. Kapan saya diharuskan berangkat?"
Sebelum sang adipati menjawab, Nyi
Dewi Durgakumala mendahului.
"Besok pagi saja, anakku. Malam
ini engkau harus tidur sekamar denganku. Aku ingin bicara banyak denganmu,
untuk bekal perjalananmu."
No comments:
Post a Comment