Bagian 31


Dan harus diakui bahwa Puspa Dewi sesungguhnya juga amat sayang kepada ibu angkatnya itu, yang telah mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Setelah menerima pendidikan iblis betina itu, otomatis Puspa Dewi juga mewarisi keganasannya. Ia menjadi seorang gadis yang keras hati dan tidak mau kalah, lincah dan terbuka. Akan tetapi karena pada dasarnya ia bukan keturunan orang jahat, biarpun wataknya keras dan sikapnya ugal-ugalan, pada dasarnya Puspa Dewi tidak suka akan perbuatan jahat seperti yang diperlihatkan ketika ia menentang ibu angkatnya yang menculik pemuda remaja untuk melampiaskan nafsu berahinya. Di dasar hatinya Puspa Dewi memiliki rasa keadilan yang kokoh. Beberapa hari kemudian Nyi Dewi Durgakumala mengajak Puspa Dewi pergi menghadap Raja atau Adipati Bhismaprabhawa, yaitu raja Wura-wuri yang berusia lima puluh tahun. Raja yang bertubuh tinggi kurus ini telah melamar Nyi Dewi Durgakumala untuk dijadikan isterinya. Sang adipati ingin mengangkat datuk wanita itu menjadi isterinya bukan hanya karena wanita itu masih tampak cantik dan muda, melainkan terutama sekali karena wanita itu sakti mandraguna. Kalau sudah menjadi isterinya, maka hal ini akan memperkuat kedudukannya sebagai raja Wura-wuri! Kini sebulan telah berlalu dan hari itu adalah hari yang dijanjikan Nyi Dewi Durgakumala untuk memberi jawaban keputusan tentang lamaran itu.

Setelah diterima oleh Adipati Shismaprabhawa di ruangan tertutup, Nyi Dewi Durgakumala dipersilakan duduk di atas sebuah kursi dan Puspa Dewi duduk di atas lantai bertilamkan permadani. Kedua orang wanita itu menghadap Adipati Bhismaprabhawa yang menyambut mereka dengan senyum kagum dan penuh harapan. Alangkah cantik jelita guru dan murid ini, pikirnya. Dan dia tahu pula bahwa mereka berdua juga memiliki kesaktian yang boleh diandalkan. Betapa akan bahagia dan aman hidupnya kalau dia dapat memiliki mereka itu sebagai isteri dan anaknya.
"Aha, Nyi Dewi Durgakumala, ternyata andika dapat memegang janji karena hari ini tepat sudah waktu sebulan yang andika minta untuk memberi jawaban atas pinanganku. Nah, bagaimana jawabanmu itu, Kuharap tidak akan mengecewakan." kata Adipati Bhismaprabhawa sambil mengelus jenggotnya yang jarang. Dia memang selalu menghormati wanita ini karena sejak Nyi Dewi Durgakumala membantu Wura-wuri, wanita ini sudah membuat banyak jasa. Pada hal wanita ini bukan kawula Wura-wuri, melainkan berasal dari daerah Blambangan. Nyi Dewi Durgakumala tersenyum lalu menjawab.
"Sesungguhnya hamba telah siap dengan jawaban hamba....."
"Ah, andika dapat menerima pinanganku, bukan? Andika bersedia menjadi isteriku?" Adipati itu mendesak dengan penuh harapan.
Kembali Nyi Dewi Durgakumala tersenyum manis.
"Hamba dapat menerimanya dengan senang hati akan tetapi hanya dengan dua syarat."
"Dua syarat saja? Biar ada dua puluh tentu akan kupenuhi! Nah, katakan, apa syaratmu itu, Nyi Dewi?"
"Pertama, hamba minta agar paduka menganggap Puspa Dewi, murid dan anak angkat hamba ini, sebagai puteri paduka sendiri."
"Bagus!" Adipati Bhistaprabhawa itu bersorak karena hal itu memang merupakan keinginannya.
"Kuterima dengan senang hati syarat itu. Heh, Nini Puspa Dewi, mulai saat ini, andika adalah puteriku, kuangkat menjadi Puteri Keraton Wura-wuri!" Puspa Dewi menyembah dan berkata,
"Terima kasih, gusti."
Adipati itu membelalakkan matanya yang kecil.
"Apa gusti? Mulai saat ini aku adalah ayahmu, maka andika harus menyebut kanjeng rama!"
"Baik, kanjeng rama." Puspa Dewi menyembah lagi.
"Ha-ha-ha-ha! Senang hatiku, mempunyai seorang puteri yang sudah dewasa dan dalam hal kecantikan dan kesaktian, tidak ada puteri lain yang dapat menandingimu, Nini Puspa Dewi. Nah, Nyi Dewi, syarat apa lagi yang andika inginkan?"
Adipati itu menantang, siap untuk memenuhi permintaan selanjutnya dari wanita yang masih tampak cantik, menarik dan genit itu.
"Hanya sebuah syarat lagi saja, gusti."
"Heiiit! Engkaupun tidak boleh menyebut gusti padaku. Mulai sekarang harus menyebut Kakangmas Adipati dan aku menyebutmu diajeng. Lebih mesra begitu. Nah, katakan apa syaratmu yang sebuah lagi itu, diajeng Dewi?"

Nyi Dewi Durgakumala tersenyum dan mengerling dengan genit dan menarik sehingga sang adipati memandang dengan gemas dan menjilat bibirnya sendiri seperti seekor srigala melihat seekor kelinci yang muda dan gemuk!
"Begini kakangmas, syarat hamba yang kedua ini adalah agar paduka menjatuhkan hukuman mati kepada Gendari."
Wajah yang kurus itu berubah agak pucat dan mata yang kecil itu terbelalak.
"Apa.....? Menghukum..... mati..... diajeng Gendari? Tapi kenapa .....?" Sang adipati bertanya gagap. Gendari merupakan selirnya yang paling dikasihi karena selir yang usianya tiga puluh tahun itu memang paling cantik di antara isteri-isterinya dan pandai memikat hatinya.
Nyi Dewi Durgakumala tersenyum-mengejek.
"Paduka tidak setuju dan tidak dapat memenuhi syarat hamba yang kedua ini, bukan? Nah, kalau begitu, terpaksa hamba tidak dapat menerima pinangan paduka dan hamba bersama puteri hamba akan pergi meninggalkan Wura-wuri. Masih banyak kerajaan yang akan mau menerima pengabdian kami. Bahkan Sang Prabu Erlangga tentu akan menerima kami dengan tangan terbuka."
"Eh, jangan! Jangan marah dulu, diajeng. Bukan aku menolak syaratmu itu. Akan tetapi aku ingin tahu, kenapa andika minta agar Gendari dihukum mati?"
"Hemm, wanita itu sejak hamba mengabdikan diri di Wura-wuri telah bersikap memusuhi hamba, hal itu dapat hamba rasakan dari cara matanya memandang hamba dan bibirnya selalu mengejek kalau bertemu hamba. Tak mungkin hamba dapat hidup bersama wanita itu sebagai madu hamba. Pendeknya, ia harus mati atau hamba menolak pinangan paduka!"

Adipati Bhismaprabhawa mengerutkan alisnya dan menghela napas. Dia harus mengalah. Gendari hanya seorang wanita lemah, hanya memiliki kecantikan dan dapat menghibur hatinya. Selain itu, tidak ada gunanya. Sebaliknya, Nyi Dewi Durgakumala ini selain dapat menjadi seorang isteri yang cantik jelita dan memikat, juga dapat menjadi seorang yang akan memperkuat kedudukannya karena ia seorang wanita yang sakti mandraguna.
"Hemm, kalau begitu ....."
Melihat sang adipati itu jelas hendak menuruti kehendak ibunya, Puspa Dewi yang sejak tadi mendengarkan dengan alis berkerut karena tidak setuju dengan syarat yang diajukan ibunya mengenai wanita bernama Gendari itu, segera berkata.
"Ampunkan hamba, gusti..... eh maaf, kanjeng rama Kanjeng, ibu tidak suka tinggal serumah dengan wanita bernama Gendari itu. Hal itu mudah saja diatasi, Kalau paduka menyingkirkannya, mengirimnya pulang ke tempat asalnya, tentu ia tidak akan tinggal di sini lagi dan tidak akan mengganggu kanjeng ibu, bukankah jalan ini baik sekali, ibu?" Puspa Dewi menatap wajah ibunya.
Mereka saling pandang dan Nyi Dewi Durgakumala menghela napas panjang. Dalam sinar mata anak angkatnya itu kembali ia melihat ancaman gadis itu untuk meninggalkannya kalau ia tidak setuju! la mengangguk dan berkata lirih.
"Begitu juga baik ....."
Adipati Bhismaprabhawa menghela napas lega. Dia tidak berkeberatan kehilangan Gendari karena sebagai penggantinya dia mendapatkan Nyi Dewi Durgakumala. Akan tetapi untuk membunuh Gendari, dia tidak tega. Sudah sepuluh tahun Gendari menjadi selirnya yang terkasih dan dia masih sayang kepada wanita itu. Kini ada jalan keluar yang amat baik. Dia dapat mengirim Gendari kembali ke orang tuanya dan membekali banyak harta kepada selir terkasih ini. Masih baik bahwa Gendari tidak mempunyai anak sehingga ikatan di antara mereka tidak terlalu kuat.
"Baiklah, hari ini juga aku akan menyuruh Gendari pergi dan pulang ke kampung halamannya, dan mulai hari ini juga, andika diajeng Dewi dan andika, Nini Puspa Dewi, kalian tinggal di istana kadipaten. Kita akan mengadakan sebuah pesta perayaan besar untuk pernikahan kita, diajeng Dewi."

Demikianlah, dengan derai air mata, akan tetapi dengan membawa banyak harta benda, Nyi Gendari diantar pengawal dengan sebuah kereta, pulang ke kampung halamannya. Sementara itu, di kadipaten diadakan pesta perayaan untuk menyambut Nyi Dewi Durgakumala sebagai isteri sang adipati. Dengan sendirinya Puspa Dewi mulai hari itu menjadi puteri adipati dan gadis itu merasa bangga juga mendengar orang-orang menyebutnya gusti puteri sekar kedaton! Kurang lebih sebulan setelah peristiwa itu terjadi, pada suatu pagi Adipati Bhismaprabhawa dan Nyi Dewi Durgakumala memanggil Puspa Dewi untuk menghadap. Setelah tiga orang ini duduk di ruangan dalam, Nyi Dewi Durgakumala berkata kepada gadis itu.
"Anakku bocah ayu Puspa Dewi, sekarang semua aji kesaktian telah kuajarkan kepadamu. Tibalah saatnya bagimu untuk memanfaatkan semua yang telah kaupelajari itu untuk berbakti kepada kanjeng ramamu dan Kadipaten Wura wuri."
Puspa Dewi mengangkat muka menatap wajah ibu angkatnya dengan penuh selidik.
"Kanjeng ibu, apakah yang ibu maksudkan? Apa yang harus kulakukan?"
"Begini, Puspa Dewi. Engkau tentu sudah sering mendengar dari ibumu bahwa Wura-wuri mempunyai musuh besar, yaitu Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Sang Prabu Erlangga dan patihnya yang bernama Ki Patih Narotama. Kerajaan Kahuripan dengan rajanya yang angkara murka itu selalu ingin menguasai kadipaten-kadipaten seperti Wura-wuri, Wengker, Parang Siluman dan lain-lain. Sejak dahulu, Mataram memang menjadi musuh kita sampai keturunannya yang sekarang. Nah, sekarang terbuka kesempatan bagi kita untuk bersama kadipaten lain menghancurkan keturunan Mataram itu dan kami mengandalkan bantuanmu dalam usaha ini, Nini Puspa Dewi."
Gadis itu menatap wajah sang adipati dengan pandang mata penuh selidik.
"Lalu apa yang dapat saya lakukan, kanjeng rama?"
"Begini, Puspa Dewi. Pada saat ini, kerajaan kecil Parang Siluman sedang berusaha untuk menghancurkan Mataram, bukan dengan jalan perang karena hal itu tidak akan menguntungkan, mengingat bahwa Kahuripan, kelanjutan Mataram itu, memiliki bala tentara yang kuat. Kini Parang Siluman mempergunakan cara halus dan tampaknya akan berhasil baik. Kerajaan Wengker sudah membantu Parang Siluman, bahkan kerajaan kecil Siluman Laut Kidul juga siap membantu. Kita tidak mau ketinggalan dan kalau kita semua bersatu dalam usaha ini, tentu akan membawa hasil lebih baik."
"Cara apakah yang dipergunakan itu, kanjeng rama?"
"Kahuripan mempunyai raja yang sakti mandraguna, yaitu Sang Prabu Erlangga, dibantu patihnya yang menjadi tulang punggung kerajaan bernama Ki Patih Narotama. Nah, untuk menghancurkan Kahuripan, kini diusahakan untuk membinasakan kedua orang pemimpin itu, dengan cara mengadu domba di antara keduanya, atau membunuh keduanya.”
"Akan tetapi, paduka tadi mengatakan bahwa kedua orang itu sakti mandraguna dan sebagai raja dan patihnya tentu mereka itu mempunyai pasukan pengawal yang amat kuat. Bagaimana mungkin membunuh mereka?" tanya Puspa Dewi.
"Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman telah menggunakan siasat yang baik sekali. Ia mempunyai dua orang puteri yang cantik bernama Lasmini dan Mandari dan sekarang dua orang puteri cantik itu telah berhasil menyusup ke Kahuripan. Puteri Mandari kini menjadi selir terkasih Sang Prabu Erlangga, sedangkan Puteri Lasmini menjadi selir Ki Patih Narotama."
Puspa Dewi mengerutkan alisnya.
"Memusuhi mereka, mengapa malah menjadi selir mereka?"
"Jangan salah mengerti, anakku." kata Nyi Dewi Durgakumala,
"mereka menjadi selir hanya untuk mencari kesempatan melaksanakan siasat mereka, yaitu mengadu domba antara raja dan patihnya itu, atau kalau mungkin membunuh mereka."
"Hemm, begitukah?" kata Puspa Dewi, diam-diam merasa heran sekali bagaimana dua orang gadis cantik itu mau melakukan hal seperti itu. Kalau ia yang disuruh mengorbankan diri seperti itu, tentu saja ia tidak sudi.
"Lalu, apa yang dapat saya lakukan, kanjeng rama?"
"Nini, seperti kukatakan tadi, kita harus membantu gerakan mereka yang berusaha menghancurkan Kahuripan. Engkau wakililah Wura-wuri untuk bersekutu dengan kedua orang puteri Parang Siluman itu, dan bekerja sama dengan kadipaten Wengker, kerajaan Siluman Laut Kidul dan kerajaan Parang Siluman. Kalau sampai usaha membinasakan Sang Prabu Erlangga dan Patih Narotama berhasil, Kahuripan tentu akan mudah kita taklukkan!"
"Kenapa harus saya yang mewakili Wura-wuri, kanjeng rama?"
"Anakku, kenapa masih kautanyakan hal itu? Ada tiga alasan kuat mengapa engkau yang dipilih kanjeng ramamu mewakili Wura-wuri. Pertama, engkau adalah puteri sekar kedaton Wura-wuri, sudah sepatutnya engkau berdarma bakti kepada Wura-wuri. Ke dua, kalau menyuruh para tokoh Wurawuri, tentu akan dikenal oleh orang-orang Kahuripan sedangkan engkau tidak akan dikenal dan tidak dicurigai karena engkau berasal dari dusun Karang Tirta yang termasuk daerah Kahuripan sendiri. Dan ke tiga, sekarang terbuka kesempatan bagimu untuk mempergunakan semua aji kesaktian yang selama ini kaupelajari."

Puspa Dewi tiba-tiba teringat akan ibunya yang tinggal di Karang Tirta dan timbul rasa rindunya. Selama kurang lebih setengah tahun akhir-akhir ini ia memang ingin sekali pergi ke Karang Tirta, akan tetapi ibu angkatnya selalu melarangnya dan bagaimanapun juga, ia memang memiliki rasa sayang kepada Nyi Dewi Durgakumala yang amat menyayangnya dan yang telah mendidiknya dengan tekun selama lima tahun lebih. Kini ia mendapat kesempatan untuk meninggalkan Wura-wuri dan kembali ke tempat tinggal ibu kandungnya.
"Kanjeng rama, kalau saya menerima tugas itu, lalu apa saja yang harus saya kerjakan? Saya sama sekali tidak mempunyai pengalaman tentang pekerjaan ini." Tanyanya kepada sang adipati.
"Ha-ha-ha!" Adipati Bhismaprabhawa tertawa.
"Andika memang belum berpengalaman, nini. Akan tetapi andika memiliki aji kesaktian yang memungkinkan andika melakukan apa saja. Kalau andika sudah memasuki Kahuripan dan bertemu dengan kedua orang puteri Parang Siluman itu, atau bertemu dengan wakil-wakil dari kerajaan Wengker, Parang Siluman, dan Siluman Laut Kidul, andika tentu akan tahu apa yang harus dilakukan. Singkatnya, andika harus bekerja sama dengan mereka dan andika harus memusuhi Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama, juga siapa saja yang setia dan mendukung kedua orang pimpinan Kahuripan itu."
Puspa Dewi mengangguk.
"Baiklah, kanjeng rama, saya akan melaksanakan tugas itu. Kapan saya diharuskan berangkat?"
Sebelum sang adipati menjawab, Nyi Dewi Durgakumala mendahului.
"Besok pagi saja, anakku. Malam ini engkau harus tidur sekamar denganku. Aku ingin bicara banyak denganmu, untuk bekal perjalananmu."

<<<Bagian 30                                                                                         Bagian 32 >>>

No comments:

Post a Comment