Bagian 30


"Sudah kukatakan tadi, Adi Bargowo. Mereka datang mencari gara-gara, memusuhi aku hanya karena aku menjadi penasihat Sang Prabu Erlangga. Jelas mereka itu bermaksud mendatangkan kekacauan di Kahuripan. Aku harus melaporkan hal ini kepada Gusti Sinuwun agar beliau berhati-hati dan kalau perlu mengirim para petugas untuk melakukan pemantauan gerak-gerik dan kegiatan di Kadipaten Wengker dan Parang Siluman."
"Kakang Bharada orang-orang dari daerah-daerah yang dikuasai orang-orang sesat itu memang kejam sekali. Dalam perjalananku menuju ke sini, akupun mendengar berita yang amat mengejutkan, yaitu bahwa Empu Dewamurti yang bertapa di tepi Laut Kidul dekat dengan dusun Karang Tirta, juga menjadi korban keganasan mereka. Kabar yang kudengar mengatakan bahwa Empu Dewamurti tewas. Memang tidak ada penduduk sekitar Karang Tirta melihat kejadian itu, akan tetapi mereka melihat munculnya lima orang di dusun itu sebelum Empu Dewamurti tewas. Dan menurut penggambaran penduduk mengenai lima orang itu, aku menduga bahwa mereka itu adalah Resi Bajrasakti yang tadi, Ratu Mayang Gupita, ratu kerajaan kecil liar Siluman Laut Kidul, dan tiga orang yang terkenal dengan sebutan Tri Kala, para jagoan dari Wura-wuri."
"Jagad Dewa Bathara.....! Mulai berjatuhan korban keganasan mereka.....! Empu Dewamurti adalah seorang ahli membuat keris pusaka yang pandai dan dia juga seorang yang sakti mandraguna. Kahuripan kehilangan seorang empu pembuat pusaka yang pandai." kata Empu Bharada.
"Ketika aku berada di Karang Tirta, aku mendengar pula kabar dari penduduk di sana bahwa mendiang Empu Dewamurti meninggalkan seorang murid bernama Nurseta dan kabarnya pemuda itu telah menemukan sebatang keris pusaka bernama Kyai Megatantra. Pemuda itu telah pergi dan tak seorangpun mengetahui ke mana dia pergi."
"Sang Megatantra .....?" Empu Bharada dan Empu Kanwa berseru hampir berbareng.
"Wah, Megatantra adalah sebuah keris pusaka di jaman Kerajaan Medang Kamulan yang terkenal ampuh sekali dan kabarnya pusaka itu hilang puluhan tahun yang lalu!" kata Empu Kanwa.
Empu Bharada mengangguk-angguk.
"Benar, Kakang Kanwa. Megatantra merupakan satu di antara pusaka-pusaka istana Mataram, bahkan dianggap sebagai satu di antara wahyu mahkota kerajaan Mataram. Pusaka itu lenyap sekitar tujuh puluh tahun yang lalu. Kalau benar Sang Megatantra kini telah muncul kembali, Gusti Sinuwun harus mengetahuinya. Harus diusahakan agar pusaka itu kembali ke istana Kahuripan sebagai keturunan Mataram. Kalau sampai pusaka itu terjatuh ke tangan orang jahat, hal itu berbahaya sekali dan dapat menimbulkan bencana."

Tiga orang itu bercakap-cakap sampai malam. Pada keesokan harinya, baik Empu Kanwa maupun Ki Bargowo berpamit dan meninggalkan Lemah Citra, pulang ke tempat tinggal masing-masing. Lembah hijau subur yang terletak di antara Gunung Arjuna dan Gunung Bromo itu termasuk dalam wilayah Kerajaan Wura-wuri yang pusat kerajaannya berada di Lwarang (Loarang/Lawang). Di sana terdapat beberapa buah dusun yang penduduknya menjadi petani yang cukup makmur karena tanah di daerah itu amat loh jinawi (subur). Di atas sebuah bukit kecil yang agak terpencil terdapat sebuah rumah mungil, tidak mempunyai tetangga, seolah bukit itu seluruhnya dikuasai oleh si pemilik rumah. Sebatang sungai kecil yang airnya jernih sekali mengalir gemercik di belakang rumah.Sungai kecil itu terbentuk oleh sumber air yang memancar dari sebuah sumber air di puncak bukit dan menjadi sebatang sungai kecil yang mengalir turun melalui belakang rumah.

Suatu pagi yang indah. Sinar matahari yang keemasan dan gemilang baru saja menyelesaikan tugasnya sejak fajar mengusir halimun pagi, menggugah ayam dan burung-burung dari tidur lelap dan memberi kehangatan yang menyehatkan dan menyegarkan. Lembah itu memiliki hawa udara yang amat nyaman, tidak terlalu dingin seperti di kedua gunung yang terletak di barat dan timur itu? Ayam dan burung menyambut pagi dengan kokok dan kicau mereka sebagai tanda bersukur dan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi yang telah menganugerahkan segala keindahan dan kenikmatan hidup itu. Di belakang rumah itu terdapat sebuah kebun yang dipenuhi tanaman bunga beraneka macam, terutama yang terbanyak bunga melati dan bunga mawar, berbagai warna, pohon-pohon buah mangga, jeruk, jambu, rambutan dan, sawo. Di tengah-tengah kebun itulah anak sungai berair jernih itu mengalir, bermain-main dengan batu-batu hitam sambil bercanda, gemerciknya seperti tawa ria yang tiada hentinya.

Angin pagi itu sepoi-sepoi, berbisik-bisik di antara daun-daun pohon seolah ikut berdendang tentang keindahan alam pagi hari, diseling kicau burung kutilang, eniprit dan gereja. Seorang gadis duduk di atas batu hitam sebesar perut kerbau yang terletak di tepi anak sungai itu. Batu itu licin bersih mengkilap dan gadis itu duduk dengan kedua kaki berjuntai ke bawah, termenung melamun sambil memandang ke arah air yang tiada hentinya bergerak menari dan berdendang. Semangatnya seolah hanyut bersama air sungai itu menuju ke hilir, ke bawah bukit. Gadis itu berusia kurang lebih delapan belas tahun, bertubuh sedang dan bagaikan setangkai bunga yang sedang mekar, tubuh itu padat dengan lekuk lengkung yang indah sempurna. Kulit yang tampak pada muka, leher, lengan dan sebagian kakinya itu putih mulus kekuningan. Rambutnya panjang dan saat itu terurai sampai ke bawah pinggul yang membusung, agak berombak. Sinom (anak rambut) melingkar-lingkar di pelipis dan dahinya. Agaknya ia hendak mandi maka rambutnya diurai dan ada sebuah keranjang terisi pakaian yang hendak dicuci terletak di tepi anak sungai. Wajahnya ayu manis merak ati dengan sepasang alis hitam kecil melengkung seperti dilukis. Sepasang matanya mencorong seperti bintang, jeli dan tajam walau sinarnya mengandung kekerasan hati. Hidungnya kecil mancung dan yang amat menarik adalah mulutnya! Bibir itu tipis, basah kemerahan, dengan lekuk yang menantang dan menggairahkan, manis sekali. Tahi lalat kecil hitam di dagu menambah kemanisan wajahnya.

Agaknya kini ia sadar dari lamunannya, lalu kedua tangannya mengatur rambutnya untuk disanggul. Gerakan menyanggul rambut dengan kedua lengan ditekuk ke belakang kepala ini merupakan gerakan khas wanita yang selalu amat indah, manis dan menarik hati kaum pria. Seperti gerakan tarian yang manis. Setelah rambutnya disanggul, tiba-tiba gadis itu membuat gerakan melompat dari atas batu. Gerakan ini mengejutkan karena berlawanan dengan gerakan tadi ketika menyanggul rambutnya, tadi gerakannya begitu luwes dan lembut. Kini ia melompat dengan gerakan tangkas, kemudian mulailah ia bersilat dan orang yang dapat melihatnya tentu akan ternganga keheranan. Gerakannya selain amat cepat juga mengandung tenaga kuat sehingga setiap tangannya bergerak, terdengar desir angin bersiutan dan tanaman-tanaman yang tumbuh di arah ia melakukan pukulan, seperti tertiup angin yang kuat! Kemudian ia melompat ke atas, ke arah pohon jambu yang tumbuh di tepi anak sungai.
"Krekk!"
Ia sudah menyambar dan mematahkan sebatang ranting pohon jambu. Kemudian ia menggunakan ranting itu untuk bersilat, memainkan ranting itu seolah benda itu merupakan sebatang pedang. Dan tampaklah daun-daun jambu yang terendah jatuh berhamburan seperti dibabat senjata tajam! Ranting itu berubah menjadi gulungan sinar dan tubuhnya sendiri lenyap terbungkus gulungan sinar, hanya tampak sebagai bayangan yang berkelebat ke sana-sini dengan amat cepatnya. Lama juga ia berlatih silat. Setelah, puas ia berhenti, membuang ranting dan mengusap leher jenjang itu yang berkeringat, lalu melepaskan lagi gelungan rambutnya sehingga rambut itu terurai, kembali. Kini ia tidak melamun lagi melainkan mengambil keranjang pakaiannya dan mulai mencuci pakaian di atas batu-batu hitam yang menonjol dari permukaan air sungai yang dalamnya hanya sampai ke pinggangnya. Karena sudah terbiasa dan merasa yakin bahwa tempat itu tidak mungkin didatangi orang lain, ia lalu menanggalkan seluruh pakaiannya untuk sekalian dicuci. Sungguh merupakan pemandangan di alam bebas yang amat indah dan gadis yang bertelanjang bulat itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari seluruh alam yang mempesona. Dongeng tentang bidadari yang mandi di telaga, seperti gadis itulah agaknya! Setelah selesai mencuci pakaian yang diperasnya kering dan dimasukkan ke keranjang pakaian, ia lalu mandi. Berkali-kali ia membenamkan kepalanya ke dalam air, menggosok-gosok kulit tubuhnya dengan sebuah batu yang halus licin. Tubuhnya terasa segar dan gosokan batu itu membuat kulitnya tampak putih kemerahan, seperti kulit buah tomat yang sedang menguning. Akhirnya ia selesai mandi, mengeringkan tubuhnya dengan sehelai kain dan mengenakan pakaian bersih yang memang sudah dipersiapkannya dan diletakkan di atas batu yang kering, la menggulung dan memeras rambutnya yang hitam panjang, lalu membiarkannya terurai agar cepat kering. Baru saja ia keluar dari anak sungai dan hendak membawa keranjang pakaian pergi dari situ, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan tahu tahu seorang wanita berdiri tak jauh di depan gadis itu.

Wanita ini tampaknya seperti berusia paling banyak dua puluh lima tahun. padahal sesungguhnya usianya sudah dua kali itu, sudah lima puluh tahun. Cantik jelita, pesolek dan pakaiannya mewah. Di punggungnya tergantung sebatang pedang dengan sarung yang indah. Wanita itu menggandeng tangan seorang pemuda remaja berusia kurang lebih enam belas tahun, pemuda remaja yang tampan. Sejenak gadis dan wanita itu saling tatap dan sinar mata gadis itu mencorong penuh kemarahan.
"Nini Puspa Dewi, aku baru pulang," kata wanita cantik itu, suaranya terdengar sungkan-sungkan.
Gadis itu adalah Puspa Dewi, gadis dari Karang Tirta yang lima tahun lalu diculik Nyi Dewi Durgakumala kemudian dijadikan murid bahkan diangkat menjadi anaknya. Wanita itu adalah Nyi Durgakumala sendiri. Puspa Dewi memandang kepada pemuda remaja itu, kemudian ia membanting kaki kirinya tiga kali dengan jengkel lalu berkata dengan ketus.
"Ibu ini bagaimana sih? Apa belum juga mau bertaubat? Berapa kali sudah kukatakan bahwa kalau ibu melanjutkan kebiasaan yang amat hina dan memalukan ini, aku tidak sudi tinggal lebih lama bersamamu dan akan minggat!"

Sungguh amat mengherankan. Nyi Dewi Durgakumala yang dahulu terkenal sebagai iblis betina yang berhati baja dan tidak pernah mau tunduk kepada siapapun juga, kini berdiri di depan muridnya yang telah menjadi anak angkatnya dengan kepala ditundukkan dan sikapnya seperti seorang anak kecil yang merasa bersalah di depan ibunya! Ternyata semenjak ia mempunyai Puspa Dewi sebagai murid dan anak angkat, bergaul setiap hari, ia mencinta gadis itu sedemikian rupa sehingga ia amat memanjakan gadis itu. Cintanya yang luar biasa inilah yang membuat ia selalu menuruti kehendak Puspa Dewi, apa lagi kalau gadis itu mengancam hendak minggat dan meninggalkannya. Hatinya akan hancur dan hidup ini rasanya sengsara bagi Nyi Dewi Durgakumala kalau sampai Puspa Dewi membencinya. Ia juga telah menurunkan semua aji kesaktiannya kepada gadis yang amat disayangnya itu dan mendapatkan kenyataan yang amat menggirangkan hatinya bahwa gadis itu ternyata memiliki bakat yang amat besar dalam olah kanuragan. Bahkan gadis itupun mewarisi wataknya yang keras dan ganas. Akan tetapi, gadis itu selalu menentangnya kalau ia melakukan hal-hal yang tidak disetujuinya, termasuk kesukaannya membawa laki-laki muda untuk bersenang senang.
"Aduh Dewi.....!" Nyi Dewi Durgakumala mengeluh dengan suara seperti meratap.
"Engkau selalu melarang aku bersenang-senang dan akupun selama ini selalu menurut. Akan tetapi sekali ini saja, biarkan aku bersenang-senang dengan pemuda ini, Dewi. Sekali ini saja! Engkau tahu, aku kesepian sekali ....."
"Kesepian? Ibu kesepian? Bukankah di sini ada aku yang selalu menemani dan melayani ibu?" Puspa Dewi membantah.
"Tentu saja keberadaanmu amat membahagiakan hatiku, anakku. Akan tetapi aku ..... sewaktu-waktu ..... aku butuh laki-laki ....."
"Hemm, kalau ibu membutuhkan laki- laki, bukan begini caranya! Kenapa ibu tidak menikah saja? Bukankah sebulan yang lalu Sang Adipati Bhismaprabhawa melamar ibu untuk menjadi permaisurinya? Kenapa ibu tidak menerima lamarannya itu?"
"Tapi ..... tapi ....."
"Tidak ada tapi, ibu. Sekarang ibu pilih saja, berat aku atau berat kadal ini. Kalau ibu berat dia, biar sekarang juga aku pergi dari sini dan selamanya tidak akan bertemu lagi dengan ibu."
"Jangan, Dewi! Jangan tinggalkan aku.."
"Kalau ibu tidak ingin aku pergi, cepat suruh kadal ini turun bukit dan jangan ibu ulangi perbuatan yang hina ini!"

Nyi Dewi Durgakumala menghela napas panjang, memandang wajah pemuda remaja yang tampan itu. Kemudian ia menepuk punggung pemuda itu dan berkata,
"Pergilah engkau menuruni bukit ini! "
Pemuda itu tampak kecewa dan menatap wajah Puspa Dewi dengan alis berkerut seperti orang marah, kemudian dia memutar tubuhnya dan pergi menuruni bukit itu melalui jalan setapak. Puspa Dewi mengikuti bayangan pemuda itu dengan pandang matanya, kemudian ia menoleh kepada ibu angkatnya dan mencela,
"Ibu menyerangnya dengan Aji Wisakenaka (Kuku Beracun) dan dia akan mati setelah tiba di bawah bukit. Kenapa ibu membunuhnya?"
"Tentu saja! Habis, apakah engkau ingin dia mengoceh di bawah bukit dan menceritakan kepada semua orang tentang percakapan kita berdua tadi? Mari kita masuk rumah dan usulmu tentang lamaran Adipati Bhismaprabhawa tadi akan kupertimbangkan. Setelah kupikir-pikir pendapatmu itu memang benar. Kalau tidak sekarang aku mencari kedudukan, kapan lagi? Aku akan menjadi permaisuri Raja Wura-wuri, kemuliaan dan kekuasaan akan berada di tanganku. Ah, engkau memang pintar dan ayu! Aku bangga mempunyai anak seperti engkau, Puspa Dewi!" Nyi Dewi Durgakumala lalu merangkul dan menciumi gadis itu.
Mereka bergandengan tangan memasuki rumah mungil mereka. Memang aneh hubungan antara Nyi Dewi Durgakumala dan Puspa Dewi itu. Ketika lima tahun yang lalu Puspa Dewi dibawa pergi Nyi Dewi Durgakumala, wanita yang menjadi tokoh sakti yang membantu kerajaan Wura-wuri ini berhati keras dan berwatak kejam sekali, la tinggal di Lembah Tengkorak, di sebuah bukit kecil yang terletak di antara Gunung Arjuna dan Gunung Bromo itu.

Semua penduduk di sekitar bukit itu maklum bahwa rumah mungil di atas bukit itu dihuni oleh Nyi Dewi Durgakumala bersama puterinya yang bernama Puspa Dewi. Tak seorangpun berani memasuki daerah Lembah Tengkorak apa lagi mendaki bukit kecil itu. Mereka semua mengenal nama Nyi Dewi Durgakumala sebagai tokoh besar Wura-wuri, berkuasa dan sakti mandraguna, juga kejam terhadap siapa saja yang melakukan pelanggaran. Ia menggembleng Puspa Dewi selama lima tahun sehingga gadis itu kini menjadi seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Bukan itu saja, bahkan Puspa Dewi dapat menundukkan hati guru atau ibu angkatnya itu yang amat mengasihinya.

<<<Bagian 29                                                                                          Bagian 31 >>>

No comments:

Post a Comment