"Sudah kukatakan tadi, Adi Bargowo. Mereka datang mencari gara-gara, memusuhi aku hanya karena aku menjadi penasihat Sang Prabu Erlangga. Jelas mereka itu bermaksud mendatangkan kekacauan di Kahuripan. Aku harus melaporkan hal ini kepada Gusti Sinuwun agar beliau berhati-hati dan kalau perlu mengirim para petugas untuk melakukan pemantauan gerak-gerik dan kegiatan di Kadipaten Wengker dan Parang Siluman."
"Kakang Bharada orang-orang
dari daerah-daerah yang dikuasai orang-orang sesat itu memang kejam sekali.
Dalam perjalananku menuju ke sini, akupun mendengar berita yang amat
mengejutkan, yaitu bahwa Empu Dewamurti yang bertapa di tepi Laut Kidul dekat
dengan dusun Karang Tirta, juga menjadi korban keganasan mereka. Kabar yang
kudengar mengatakan bahwa Empu Dewamurti tewas. Memang tidak ada penduduk
sekitar Karang Tirta melihat kejadian itu, akan tetapi mereka melihat munculnya
lima orang di dusun itu sebelum Empu Dewamurti tewas. Dan menurut penggambaran
penduduk mengenai lima orang itu, aku menduga bahwa mereka itu adalah Resi
Bajrasakti yang tadi, Ratu Mayang Gupita, ratu kerajaan kecil liar Siluman Laut
Kidul, dan tiga orang yang terkenal dengan sebutan Tri Kala, para jagoan dari
Wura-wuri."
"Jagad Dewa Bathara.....! Mulai
berjatuhan korban keganasan mereka.....! Empu Dewamurti adalah seorang ahli
membuat keris pusaka yang pandai dan dia juga seorang yang sakti mandraguna.
Kahuripan kehilangan seorang empu pembuat pusaka yang pandai." kata Empu
Bharada.
"Ketika aku berada di Karang
Tirta, aku mendengar pula kabar dari penduduk di sana bahwa mendiang Empu
Dewamurti meninggalkan seorang murid bernama Nurseta dan kabarnya pemuda itu
telah menemukan sebatang keris pusaka bernama Kyai Megatantra. Pemuda itu telah
pergi dan tak seorangpun mengetahui ke mana dia pergi."
"Sang Megatantra .....?"
Empu Bharada dan Empu Kanwa berseru hampir berbareng.
"Wah, Megatantra adalah sebuah
keris pusaka di jaman Kerajaan Medang Kamulan yang terkenal ampuh sekali dan
kabarnya pusaka itu hilang puluhan tahun yang lalu!" kata Empu Kanwa.
Empu Bharada mengangguk-angguk.
"Benar, Kakang Kanwa.
Megatantra merupakan satu di antara pusaka-pusaka istana Mataram, bahkan
dianggap sebagai satu di antara wahyu mahkota kerajaan Mataram. Pusaka itu
lenyap sekitar tujuh puluh tahun yang lalu. Kalau benar Sang Megatantra kini
telah muncul kembali, Gusti Sinuwun harus mengetahuinya. Harus diusahakan agar
pusaka itu kembali ke istana Kahuripan sebagai keturunan Mataram. Kalau sampai
pusaka itu terjatuh ke tangan orang jahat, hal itu berbahaya sekali dan dapat
menimbulkan bencana."
Tiga orang itu bercakap-cakap sampai
malam. Pada keesokan harinya, baik Empu Kanwa maupun Ki Bargowo berpamit dan
meninggalkan Lemah Citra, pulang ke tempat tinggal masing-masing. Lembah hijau
subur yang terletak di antara Gunung Arjuna dan Gunung Bromo itu termasuk dalam
wilayah Kerajaan Wura-wuri yang pusat kerajaannya berada di Lwarang
(Loarang/Lawang). Di sana terdapat beberapa buah dusun yang penduduknya menjadi
petani yang cukup makmur karena tanah di daerah itu amat loh jinawi (subur). Di
atas sebuah bukit kecil yang agak terpencil terdapat sebuah rumah mungil, tidak
mempunyai tetangga, seolah bukit itu seluruhnya dikuasai oleh si pemilik rumah.
Sebatang sungai kecil yang airnya jernih sekali mengalir gemercik di belakang
rumah.Sungai kecil itu terbentuk oleh sumber air yang memancar dari sebuah
sumber air di puncak bukit dan menjadi sebatang sungai kecil yang mengalir
turun melalui belakang rumah.
Suatu pagi yang indah. Sinar
matahari yang keemasan dan gemilang baru saja menyelesaikan tugasnya sejak
fajar mengusir halimun pagi, menggugah ayam dan burung-burung dari tidur lelap
dan memberi kehangatan yang menyehatkan dan menyegarkan. Lembah itu memiliki
hawa udara yang amat nyaman, tidak terlalu dingin seperti di kedua gunung yang
terletak di barat dan timur itu? Ayam dan burung menyambut pagi dengan kokok
dan kicau mereka sebagai tanda bersukur dan terima kasih kepada Sang Hyang
Widhi yang telah menganugerahkan segala keindahan dan kenikmatan hidup itu. Di
belakang rumah itu terdapat sebuah kebun yang dipenuhi tanaman bunga beraneka
macam, terutama yang terbanyak bunga melati dan bunga mawar, berbagai warna, pohon-pohon
buah mangga, jeruk, jambu, rambutan dan, sawo. Di tengah-tengah kebun itulah
anak sungai berair jernih itu mengalir, bermain-main dengan batu-batu hitam
sambil bercanda, gemerciknya seperti tawa ria yang tiada hentinya.
Angin pagi itu sepoi-sepoi,
berbisik-bisik di antara daun-daun pohon seolah ikut berdendang tentang
keindahan alam pagi hari, diseling kicau burung kutilang, eniprit dan gereja.
Seorang gadis duduk di atas batu hitam sebesar perut kerbau yang terletak di
tepi anak sungai itu. Batu itu licin bersih mengkilap dan gadis itu duduk
dengan kedua kaki berjuntai ke bawah, termenung melamun sambil memandang ke
arah air yang tiada hentinya bergerak menari dan berdendang. Semangatnya seolah
hanyut bersama air sungai itu menuju ke hilir, ke bawah bukit. Gadis itu
berusia kurang lebih delapan belas tahun, bertubuh sedang dan bagaikan
setangkai bunga yang sedang mekar, tubuh itu padat dengan lekuk lengkung yang
indah sempurna. Kulit yang tampak pada muka, leher, lengan dan sebagian kakinya
itu putih mulus kekuningan. Rambutnya panjang dan saat itu terurai sampai ke
bawah pinggul yang membusung, agak berombak. Sinom (anak rambut)
melingkar-lingkar di pelipis dan dahinya. Agaknya ia hendak mandi maka
rambutnya diurai dan ada sebuah keranjang terisi pakaian yang hendak dicuci
terletak di tepi anak sungai. Wajahnya ayu manis merak ati dengan sepasang alis
hitam kecil melengkung seperti dilukis. Sepasang matanya mencorong seperti
bintang, jeli dan tajam walau sinarnya mengandung kekerasan hati. Hidungnya
kecil mancung dan yang amat menarik adalah mulutnya! Bibir itu tipis, basah
kemerahan, dengan lekuk yang menantang dan menggairahkan, manis sekali. Tahi
lalat kecil hitam di dagu menambah kemanisan wajahnya.
Agaknya kini ia sadar dari
lamunannya, lalu kedua tangannya mengatur rambutnya untuk disanggul. Gerakan
menyanggul rambut dengan kedua lengan ditekuk ke belakang kepala ini merupakan
gerakan khas wanita yang selalu amat indah, manis dan menarik hati kaum pria.
Seperti gerakan tarian yang manis. Setelah rambutnya disanggul, tiba-tiba gadis
itu membuat gerakan melompat dari atas batu. Gerakan ini mengejutkan karena
berlawanan dengan gerakan tadi ketika menyanggul rambutnya, tadi gerakannya
begitu luwes dan lembut. Kini ia melompat dengan gerakan tangkas, kemudian
mulailah ia bersilat dan orang yang dapat melihatnya tentu akan ternganga
keheranan. Gerakannya selain amat cepat juga mengandung tenaga kuat sehingga
setiap tangannya bergerak, terdengar desir angin bersiutan dan tanaman-tanaman
yang tumbuh di arah ia melakukan pukulan, seperti tertiup angin yang kuat!
Kemudian ia melompat ke atas, ke arah pohon jambu yang tumbuh di tepi anak
sungai.
"Krekk!"
Ia sudah menyambar dan mematahkan
sebatang ranting pohon jambu. Kemudian ia menggunakan ranting itu untuk
bersilat, memainkan ranting itu seolah benda itu merupakan sebatang pedang. Dan
tampaklah daun-daun jambu yang terendah jatuh berhamburan seperti dibabat
senjata tajam! Ranting itu berubah menjadi gulungan sinar dan tubuhnya sendiri
lenyap terbungkus gulungan sinar, hanya tampak sebagai bayangan yang berkelebat
ke sana-sini dengan amat cepatnya. Lama juga ia berlatih silat. Setelah, puas
ia berhenti, membuang ranting dan mengusap leher jenjang itu yang berkeringat,
lalu melepaskan lagi gelungan rambutnya sehingga rambut itu terurai, kembali.
Kini ia tidak melamun lagi melainkan mengambil keranjang pakaiannya dan mulai
mencuci pakaian di atas batu-batu hitam yang menonjol dari permukaan air sungai
yang dalamnya hanya sampai ke pinggangnya. Karena sudah terbiasa dan merasa
yakin bahwa tempat itu tidak mungkin didatangi orang lain, ia lalu menanggalkan
seluruh pakaiannya untuk sekalian dicuci. Sungguh merupakan pemandangan di alam
bebas yang amat indah dan gadis yang bertelanjang bulat itu merupakan bagian
yang tak terpisahkan dari seluruh alam yang mempesona. Dongeng tentang bidadari
yang mandi di telaga, seperti gadis itulah agaknya! Setelah selesai mencuci
pakaian yang diperasnya kering dan dimasukkan ke keranjang pakaian, ia lalu
mandi. Berkali-kali ia membenamkan kepalanya ke dalam air, menggosok-gosok
kulit tubuhnya dengan sebuah batu yang halus licin. Tubuhnya terasa segar dan
gosokan batu itu membuat kulitnya tampak putih kemerahan, seperti kulit buah
tomat yang sedang menguning. Akhirnya ia selesai mandi, mengeringkan tubuhnya
dengan sehelai kain dan mengenakan pakaian bersih yang memang sudah
dipersiapkannya dan diletakkan di atas batu yang kering, la menggulung dan
memeras rambutnya yang hitam panjang, lalu membiarkannya terurai agar cepat
kering. Baru saja ia keluar dari anak sungai dan hendak membawa keranjang
pakaian pergi dari situ, tiba-tiba berkelebat sesosok bayangan dan tahu tahu
seorang wanita berdiri tak jauh di depan gadis itu.
Wanita ini tampaknya seperti berusia
paling banyak dua puluh lima tahun. padahal sesungguhnya usianya sudah dua kali
itu, sudah lima puluh tahun. Cantik jelita, pesolek dan pakaiannya mewah. Di
punggungnya tergantung sebatang pedang dengan sarung yang indah. Wanita itu
menggandeng tangan seorang pemuda remaja berusia kurang lebih enam belas tahun,
pemuda remaja yang tampan. Sejenak gadis dan wanita itu saling tatap dan sinar
mata gadis itu mencorong penuh kemarahan.
"Nini Puspa Dewi, aku baru
pulang," kata wanita cantik itu, suaranya terdengar sungkan-sungkan.
Gadis itu adalah Puspa Dewi, gadis
dari Karang Tirta yang lima tahun lalu diculik Nyi Dewi Durgakumala kemudian
dijadikan murid bahkan diangkat menjadi anaknya. Wanita itu adalah Nyi
Durgakumala sendiri. Puspa Dewi memandang kepada pemuda remaja itu, kemudian ia
membanting kaki kirinya tiga kali dengan jengkel lalu berkata dengan ketus.
"Ibu ini bagaimana sih? Apa
belum juga mau bertaubat? Berapa kali sudah kukatakan bahwa kalau ibu
melanjutkan kebiasaan yang amat hina dan memalukan ini, aku tidak sudi tinggal
lebih lama bersamamu dan akan minggat!"
Sungguh amat mengherankan. Nyi Dewi
Durgakumala yang dahulu terkenal sebagai iblis betina yang berhati baja dan
tidak pernah mau tunduk kepada siapapun juga, kini berdiri di depan muridnya
yang telah menjadi anak angkatnya dengan kepala ditundukkan dan sikapnya
seperti seorang anak kecil yang merasa bersalah di depan ibunya! Ternyata
semenjak ia mempunyai Puspa Dewi sebagai murid dan anak angkat, bergaul setiap
hari, ia mencinta gadis itu sedemikian rupa sehingga ia amat memanjakan gadis
itu. Cintanya yang luar biasa inilah yang membuat ia selalu menuruti kehendak
Puspa Dewi, apa lagi kalau gadis itu mengancam hendak minggat dan
meninggalkannya. Hatinya akan hancur dan hidup ini rasanya sengsara bagi Nyi
Dewi Durgakumala kalau sampai Puspa Dewi membencinya. Ia juga telah menurunkan
semua aji kesaktiannya kepada gadis yang amat disayangnya itu dan mendapatkan
kenyataan yang amat menggirangkan hatinya bahwa gadis itu ternyata memiliki
bakat yang amat besar dalam olah kanuragan. Bahkan gadis itupun mewarisi
wataknya yang keras dan ganas. Akan tetapi, gadis itu selalu menentangnya kalau
ia melakukan hal-hal yang tidak disetujuinya, termasuk kesukaannya membawa
laki-laki muda untuk bersenang senang.
"Aduh Dewi.....!" Nyi Dewi
Durgakumala mengeluh dengan suara seperti meratap.
"Engkau selalu melarang aku
bersenang-senang dan akupun selama ini selalu menurut. Akan tetapi sekali ini
saja, biarkan aku bersenang-senang dengan pemuda ini, Dewi. Sekali ini saja!
Engkau tahu, aku kesepian sekali ....."
"Kesepian? Ibu kesepian?
Bukankah di sini ada aku yang selalu menemani dan melayani ibu?" Puspa
Dewi membantah.
"Tentu saja keberadaanmu amat
membahagiakan hatiku, anakku. Akan tetapi aku ..... sewaktu-waktu ..... aku
butuh laki-laki ....."
"Hemm, kalau ibu membutuhkan
laki- laki, bukan begini caranya! Kenapa ibu tidak menikah saja? Bukankah
sebulan yang lalu Sang Adipati Bhismaprabhawa melamar ibu untuk menjadi
permaisurinya? Kenapa ibu tidak menerima lamarannya itu?"
"Tapi ..... tapi ....."
"Tidak ada tapi, ibu. Sekarang
ibu pilih saja, berat aku atau berat kadal ini. Kalau ibu berat dia, biar
sekarang juga aku pergi dari sini dan selamanya tidak akan bertemu lagi dengan
ibu."
"Jangan, Dewi! Jangan
tinggalkan aku.."
"Kalau ibu tidak ingin aku
pergi, cepat suruh kadal ini turun bukit dan jangan ibu ulangi perbuatan yang
hina ini!"
Nyi Dewi Durgakumala menghela napas
panjang, memandang wajah pemuda remaja yang tampan itu. Kemudian ia menepuk
punggung pemuda itu dan berkata,
"Pergilah engkau menuruni bukit
ini! "
Pemuda itu tampak kecewa dan menatap
wajah Puspa Dewi dengan alis berkerut seperti orang marah, kemudian dia memutar
tubuhnya dan pergi menuruni bukit itu melalui jalan setapak. Puspa Dewi
mengikuti bayangan pemuda itu dengan pandang matanya, kemudian ia menoleh
kepada ibu angkatnya dan mencela,
"Ibu menyerangnya dengan Aji
Wisakenaka (Kuku Beracun) dan dia akan mati setelah tiba di bawah bukit. Kenapa
ibu membunuhnya?"
"Tentu saja! Habis, apakah
engkau ingin dia mengoceh di bawah bukit dan menceritakan kepada semua orang
tentang percakapan kita berdua tadi? Mari kita masuk rumah dan usulmu tentang
lamaran Adipati Bhismaprabhawa tadi akan kupertimbangkan. Setelah kupikir-pikir
pendapatmu itu memang benar. Kalau tidak sekarang aku mencari kedudukan, kapan
lagi? Aku akan menjadi permaisuri Raja Wura-wuri, kemuliaan dan kekuasaan akan
berada di tanganku. Ah, engkau memang pintar dan ayu! Aku bangga mempunyai anak
seperti engkau, Puspa Dewi!" Nyi Dewi Durgakumala lalu merangkul dan
menciumi gadis itu.
Mereka bergandengan tangan memasuki
rumah mungil mereka. Memang aneh hubungan antara Nyi Dewi Durgakumala dan Puspa
Dewi itu. Ketika lima tahun yang lalu Puspa Dewi dibawa pergi Nyi Dewi
Durgakumala, wanita yang menjadi tokoh sakti yang membantu kerajaan Wura-wuri
ini berhati keras dan berwatak kejam sekali, la tinggal di Lembah Tengkorak, di
sebuah bukit kecil yang terletak di antara Gunung Arjuna dan Gunung Bromo itu.
Semua penduduk di sekitar bukit itu
maklum bahwa rumah mungil di atas bukit itu dihuni oleh Nyi Dewi Durgakumala
bersama puterinya yang bernama Puspa Dewi. Tak seorangpun berani memasuki
daerah Lembah Tengkorak apa lagi mendaki bukit kecil itu. Mereka semua mengenal
nama Nyi Dewi Durgakumala sebagai tokoh besar Wura-wuri, berkuasa dan sakti
mandraguna, juga kejam terhadap siapa saja yang melakukan pelanggaran. Ia
menggembleng Puspa Dewi selama lima tahun sehingga gadis itu kini menjadi
seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Bukan itu saja, bahkan Puspa Dewi
dapat menundukkan hati guru atau ibu angkatnya itu yang amat mengasihinya.
No comments:
Post a Comment