Sampai belasan kali Resi Bajrasakti menyerang dengan pukulan bertubi-tubi, namun selalu pukulan dahsyat itu hanya mengenai angin karena tubuh sang empu berkelebat bagaikan bayangan yang tidak dapat terkena pukulan.
"Hyaaahhh!" kembali
pukulan tangan kanan Resi Bajrasakti menyambar ke arah perut sang empu.
Empu Bharada miringkan tubuh dan
tangan kanannya menyambar ke depan, menangkap pergelangan tangan lawan dan
dengan sentakan kuat menarik lengan tangan lawan sehingga ketika dilepaskan,
tubuh Resi Bajrasakti geloyoran (terhuyung) ke depan dan hampir terjungkal.
Namun dia berhasil mematahkan daya dorongan yang kuat itu dengan cara melompat
ke atas dan ketika turun lagi, tangannya sudah memegang gagang cambuk yang
terbuat dari gading gajah itu. Kini dia marah sekali dan tanpa banyak cakap
lagi dia sudah menyerang dengan senjata cambuk pusaka itu.
'Tar-tar-tarrr .....!"
Cambuk itu meledak-ledak di atas
lalu turun menyambar ke arah tubuh Empu Bharada. Namun, kini tubuh Empu Bharada
bergerak lebih cepat lagi sehingga tubuhnya berkelebatan, sukar sekali diserang
karena tubuh itu berpindah-pindah sehingga membingungkan lawan. Sang empu yang
sakti ini telah mempergunakan Aji Bayu Sakti yang membuat tubuhnya ringan
sekali dan dapat bergerak cepat sekali. Kini, melihat ancaman cambuk yang ampuh
itu, Empu Bharada mulai membalas dengan tamparan-tamparan kedua tangannya.
Tamparan itu tampaknya perlahan saja, namun tamparan tangan yang dibarengi
dengan menyambarnya ujung lengan baju yang longgar itu membawa tenaga sakti
yang amat kuat. Bahkan kedua tangan yang sudah dipenuhi tenaga sakti itu berani
menyambut dan menangkis sambaran cambuk dan beberapa kali tangan empu berusaha
untuk menangkap ujung cambuk! Tentu saja Resi Bajrasakti tidak membiarkan ujung
cambuknya ditangkap karena kalau hal itu terjadi cambuknya dapat rusak, putus
atau bahkan terampas lawan! Perkelahian menjadi seimbang, bahkan Resi
Bajrasakti tampak terdesak karena dia mulai merasa gentar melawan empu yang
sakti mandraguna ini.
Melihat betapa temannya tidak mampu
mengalahkan Empu Bharada, Ki Nagakumala yang tadinya hanya menonton, tidak
dapat tinggal diam. Rencana mereka berdua datang ke Lemah Citra adalah untuk
membunuh Empu Bharada. Kalau tadi dia diam saja adalah karena dia percaya bahwa
Resi Bajrasakti yang angkuh itu akan mampu merobohkan sang empu. Dia tidak
ingin menyinggung perasaan datuk Wengker itu dengan membantunya. Akan tetapi
kini melihat kenyataan bahwa sang resi malah terdesak, terpaksa dia lalu
melompat maju dan menyerang Empu Bharada dengan pukulan tangan kanannya.
"Sambut Aji Ampak-ampak!"
bentaknya dan ketika tangan kanan itu menyambar dengan telapak tangan terbuka
ada hawa yang amat dingin terasa oleh Empu Bharada. Sang empu terkejut karena
dia mengenal ilmu pukulan yang ampuh, pukulan yang mengandung tenaga sakti
berhawa dingin. Pukulan seperti ini kalau mengenai sasaran amat berbahaya.
Darah dalam tubuh dapat membeku terpengaruh hawa dingin itu! Menghadapi
pengeroyokan dua orang lawan yang sakti itu, Empu Bharada mulai terdesak hebat.
Dia masih mampu menghindarkan semua serangan kedua orang lawannya dengan
pengerahan Aji Bayu Sakti, akan tetapi dia tidak mendapat kesempatan untuk
membalas dengan dua aji pukulannya yang ampuh, yaitu Aji Sihung Warak dan Aji
Tapak Saloko. Dia terdesak terus, hanya mampu mengelak dan kadang menangkis,
tidak sempat membalas serangan. Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan
seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun muncul. Pria ini bertubuh
sedang, penampilannya sederhana, pakaiannya juga pakaian longgar seperti yang
biasa dipakai seorang petani dusun. Akan tetapi sepasang matanya mencorong
pertanda bahwa dia adalah seorang yang "berisi".
"Hcmm, sungguh licik dan
curang! Dua orang mengeroyok seorang lawan! Kakang Empu, maafkan kalau aku
membantu andika tanpa diperintah!" Setelah berkata demikian, pria itu
cepat menerjang ke arah Ki Nagakumala dengan tamparan tangan kiri yang
mendatangkan angin dahsyat.
"Sambut Aji Gelap Musti!"
bentaknya ketika tangannya menyambar dan menampar ke arah dada Ki Nagakumala.
Pertapa Jonggringslaka ini terkejut
bukan main dan maklum bahwa lawan barunya ini memiliki aji pukulan yang
dahsyat. Maka diapun cepat mengangkat tangan untuk menangkis sambil mengerahkan
seluruh tenaga saktinya.
"Desss .....!!"
Dua lengan bertemu dan akibatnya Ki
Nagakumalaka terdorong ke belakang sampai terhuyung sedangkan lawannya hanya
mundur dua langkah. Ini menunjukkan bahwa Ki Nagakumala masih kalah kuat dalam
adu tenaga sakti. Hatinya menjadi gentar. Demikian pula Resi Bajrasakti,
melihat Ki Nagakumala tidak lagi dapat membantunya karena diserang pendatang
baru itu, menjadi gentar karena merasa bahwa seorang diri saja dia tidak akan
mampu menandingi kedigdayaan Empu Bharada. Tiba-tiba Resi Bajrasakti
mengerahkan Aji Panglimutan lagi. Halimun putih tebal menyelubungi tempat itu.
"Kita pergi!" katanya
kepada Ki Nagakumala yang maklum akan isyarat ini. Maka kedua orang itu lalu
melompat jauh dan menggunakan ilmu mereka untuk melarikan diri secepatnya.
Setelah Empu Bharada mengusir
halimun dengan kebutan jubahnya, ternyata kedua orang penyerbu itu telah
lenyap. Dia menghela napas dan memandang kepada orang yang membantunya tadi.
"Adi Bargowo, Sang Hyang Widhi
telah mengirim andika datang membantuku sehingga aku terbebas dari ancaman dua
orang sakti tadi. Selamat datang, adi!"
Pria itu melangkah maju menghampiri
Empu Bharada dan mereka saling rangkul. Pria itu adalah Ki Bargowo yang
merupakan adik seperguruan yang kemudian menjadi adik angkat Empu Bharada.
"Kakang Bharada, aku sungguh
merasa terkejut dan heran. Sudah tiga tahun kita tidak saling berjumpa, dan aku
tahu bahwa andika telah menjadi pembantu yang amat dikasihi Gusti Sinuwun,
mendapat anugerah dan hidup dengan tenteram di tanah perdikan Lemah Citra ini.
Akan tetapi apa yang kulihat tadi? Andika bertanding melawan dua orang sakti
yang berbahaya! Bagaimana andika dapat hidup terancam bahaya seperti itu,
kakang?"
Empu Bharada tersenyum dan menarik
tangan Ki Bargowo diajak masuk ke ruangan dalam.
"Kita bicara di dalam saja, Adi
Bargowo, dan di dalam masih ada seorang sahabat baikku, yaitu Empu Kanwa,
seorang sastrawan yang bijaksana. Mari kuperkenalkan dan nanti kujelaskan
semua."
Sambil bergandengan tangan mereka
berdua memasuki ruangan di mana Empu Kanwa masih duduk sambil makan ubi rebus
dengan enaknya. Empu Bharada tidak merasa heran melihat sikap sahabatnya ini,
yang masih duduk enak-enak dan tenang-tenang saja walaupun maklum bahwa dia berhadapan
dengan orang orang yang memaksanya bertanding. Padahal Empu Kanwa adalah
seorang yang lemah jasmaninya. Namun dia adalah seorang yang sudah sepenuhnya
percaya dan pasrah kepada kekuasaan Sang Hyang Widhi, maklum bahwa kalau Hyang
Widhi menghendaki seseorang selamat, biarpun dikeroyok selaksa bahayapun akan
dapat lolos, namun sebaliknya kalau Hyang Widhi menghendaki seseorang mati,
biarpun seribu orang dewa tidak akan mampu menghindarkannya dari kematian!
Karena kepasrahannya itu, juga karena merasa tidak berdaya, dia tenang tenang
saja. Kalau sahabatnya itu masuk lagi dengan selamat, hal itu tidak aneh
baginya, juga kalau sahabatnya itu digotong masuk menjadi jenazah, diapun tidak
akan merasa aneh! Betapapun juga, ketika dia melihat Empu Bharada memasuki
ruangan itu, bergandengan tangan dengan seorang pria sederhana yang tidak dia
kenal, senyumnya semakin cerah dan pandang matanya bersinar-sinar, lalu
memandang kepada Ki Bargowo dengan sinar mata penuh selidik.
"Kakang Kanwa, perkenalkan. Ini
adalah adik seperguruan, juga adik angkatku bernama Ki Bargowo yang tinggal di
Sungapan, muara Kali Progo. Dialah yang tadi datang secara kebetulan dan dapat
membantuku sehingga kami dapat mengusir Resi Bajrasakti dan Ki Nagakumala yang
datang dengan niat menantang yang berarti mereka hendak membunuhku."
Kemudian Empu Bharada menoleh kepada adiknya.
"Adi Bargowo, sahabat baikku
ini adalah Kakang Kanwa, sastrawan paling terkenal di Kahuripan."
"Kakang Empu Kanwa, saya
Bargowo menghaturkan salam hormat." kata Ki Bargowo. Empu Kanwa mengangkat
tangan sebagai tanda salam dan berkata.
"Adi Bargowo, karena andika ini
adik Adi Bharada, maka seperti adikku juga. Mari kita duduk dan bicara dengan
enak."
Setelah mereka duduk bersila
mengelilingi meja pendek, Ki Bargowo yang tidak sabar lagi lalu bertanya kepada
Empu Bharada.
"Kakang Bharada, apakah yang
andika maksudkan tadi Resi Bajrasakti datuk dari Kadipaten Wengker, dan Ki
Nagakumala itu kakak dari Sang Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang
Siluman?"
"Benar, adi. Serbuan mereka ke
sini itu memperkuat dugaanku bahwa Wengker dan Parang Siluman telah bersekutu
dan mulai melakukan aksi pengacauan ke Kahuripan. Tidak mungkin aku yang
menjadi sasaran, karena aku tidak mempunyai permusuhan atau permasalahan
pribadi dengan mereka. Mereka tentu menyerang dan hendak membunuhku sebagai
penasihat Gusti Sinuwun Erlangga."
"Perang, perang, perang .....!
Selama manusia masih dikuasai dan diperbudak nafsu daya rendah yang berada
dalam dirinya sendiri, maka permusuhan, perang dan bunuh membunuh antara
manusia masih akan terus terjadi. Bumi akan menjadi neraka dan manusia hanya
akan menderita kesengsaraan." kata Empu Kanwa seperti orang bertembang.
Mendengar ini, Empu Bharada
tersenyum saja, akan tetapi Ki Bargowo mendengarkan dengan hati tertarik,
"Maaf, Kakang Empu Kanwa, apa
yang kakang ucapkan itu sungguh tepat dan kenyataannya memang demikian. Apakah
dengan demikian kakang hendak mengemukakan pendapat bahwa orang yang
mempelajari aji kanuragan dan olah gegaman (senjata) itu tidak benar?"
Empu Kanwa juga tersenyum dan
setelah mengamati wajah Ki Bargowo sejenak, dia lalu menembang dengan tembang
Sekar Pangkur.
"Kawaca raras kawuryan
Miwah mundi saradibya umingis
Ing mangka punika tuhu
Aling-aJinging anggo
Ananangi hardaning kang hawa napsu
Manawi sampun angredha
Dadya rubeda ngribedi."
(Suka akan baju perang dan membawa
senjata terhunus padahal semua itu sesungguhnya menutupi kebersihan hati
membangkitkan gelora hawa nafsu kalau sudah merajalela menjadi halangan yang
mengganggu.)
Empu Bharada dan Ki Bargowo saling
pandang dan merasa penasaran karena dalam tembang itu Empu Kanwa jelas mencela
orang yang mempelajari kedigdayaan dan olah senjata. Empu Bharada yang sudah
tanggap akan pandangan Empu Kanwa hanya tersenyum, akan tetapi Ki Bargowo yang
merasa penasaran bertanya lagi, dan nada suaranya membantah.
"Akan tetapi. Kakang Empu
Kanwa, terkadang, bahkan sering terjadi, perbuatan baik yang membela kebenaran
dan keadilan, harus dilengkapi dengan aji kanuragan, baru dapat terlaksana
dengan baik. Bagi perorangan, kepandaian itu penting untuk membela diri dan
bagi negara, kekuatan balatentara amat penting untuk menegakkan kedaulatan
negara. Apakah setiap orang yang mempelajari kanuragan lalu menjadi hamba nafsu
dan jahat?"
Kembali Empu Kanwa bertembang, masih
dengan tembang Sekar Pangkur.
"Datan pisah mg gegaman
karsanira kinarya ngreksa mnng
raharjaning bawana gung sarana
anumpesa sagung ingkang
dadya memala satuhu pra manungsa
ingkang sasar marang
anggering durnadi."
(Tidak pisah dari senjata agar dapat
menjaga ketentraman dunia dengan membinasakan segala yang menjadi penyakit para
manusia yang menyimpang dari kebenaran hidup.)
"Ha-ha-ha!" Empu Bharada
tertawa.
"Kakang Kanwa semula mencela,
kemudian membela orang yang mempelajari kanuragan."
Empu Kanwa juga tersenyum.
"Sesungguhnya, aji kanuragan
dan senjata hanyalah alat dan seperti segala macam alat di dunia ini, tidak
mempunyai sifat baik maupun buruk. Baik dan buruknya suatu alat tergantung dari
manusianya sendiri yang mempergunakannya. Para satria mempergunakan aji
kanuragan dan senjata untuk membela kebenaran dan keadilan, menentang
penindasan dan kejahatan, membela mereka yang tertindas, dengan demikian maka
kanuragan dan senjata itu menjadi alat yang baik. Akan tetapi banyak orang
tersesat yang mempergunakan kanuragan dan senjata untuk memaksakan keinginan
mereka, sewenang-wenang, melakukan hukum rimba sehingga dengan demikian maka
kanuragan dan senjata itu menjadi alat yang amat buruk. Akan tetapi, Adi
Bargowo, kanuragan dan senjata itu mendatangkan kekuatan yang memberi kekuasaan
kepada manusia. Kekuasaan inilah yang condong untuk mendorong manusia melakukan
tindakan sewenang-wenang, mengandalkan kekuatannya dan kekuasaannya. Bukan
berarti bahwa orang seperti aku, yang lemah dan bisanya hanya termenung
mengkhayal, menerawang dan menulis tidak akan dapat melakukan kejahatan
mencelakai orang lain. Tentu saja dapat, walau tidak dengan mengandalkan
kekuatan dan kekerasan. Akan tetapi kecondongannya tidak sekuat orang yang
menjadi ahli kanuragan. Karena itu, yang terpenting adalah jangan sampai nafsu
daya rendah yang semestinya menjadi pembantu itu berubah menjadi majikan."
Kembali terdengar Empu Bharada
tertawa.
"Wah, wah! Andika beruntung
sekali, Adi Bargowo. Begitu datang bertemu dengan seorang guru yang memberi
wejangan yang amat berharga. Akan tetapi, setelah lama tidak berjumpa denganmu,
aku ingin sekali mendengar keterangan tentang keadaanmu sekarang, adi. Yang
terakhir kita bertemu adalah ketika andika melaksanakan pernikahanmu tiga tahun
yang lalu. Bagaimana kabarnya dengan isterimu?"
"Keadaan kami baik saja,
kakang. Kami telah mempunyai seorang anak perempuan yang kini berusia satu
tahun."
"Ah, aku ikut berbahagia
mendengarnya, Adi Bargowo. Mudah-mudahan anakmu kelak menjadi seorang manusia
yang berbakti kepada Sang Hyang Widhi, kepada orang tuanya, dan kepada bangsa
dan negara."
"Terima kasih, Kakang Bharada.
Semoga doa restu kakang menyertai kami dan harapan kakang itu akan
terjadi."
"Sekarang katakan, kepentingan
apakah yang membawamu datang ke sini?"
"Sesungguhnya tidak ada
persoalan apapun, kakang. Aku hanya merasa kangen dan ingin bertemu dan
bercakap-cakap denganmu. Kebetulan sekali kedatanganku tepat pada saat andika
dikeroyok dua orang datuk itu. Sebetulnya, apakah yang menyebabkan mereka
berdua itu menyerangmu?"
No comments:
Post a Comment