Bagian 29


Sampai belasan kali Resi Bajrasakti menyerang dengan pukulan bertubi-tubi, namun selalu pukulan dahsyat itu hanya mengenai angin karena tubuh sang empu berkelebat bagaikan bayangan yang tidak dapat terkena pukulan.
"Hyaaahhh!" kembali pukulan tangan kanan Resi Bajrasakti menyambar ke arah perut sang empu.
Empu Bharada miringkan tubuh dan tangan kanannya menyambar ke depan, menangkap pergelangan tangan lawan dan dengan sentakan kuat menarik lengan tangan lawan sehingga ketika dilepaskan, tubuh Resi Bajrasakti geloyoran (terhuyung) ke depan dan hampir terjungkal. Namun dia berhasil mematahkan daya dorongan yang kuat itu dengan cara melompat ke atas dan ketika turun lagi, tangannya sudah memegang gagang cambuk yang terbuat dari gading gajah itu. Kini dia marah sekali dan tanpa banyak cakap lagi dia sudah menyerang dengan senjata cambuk pusaka itu.
'Tar-tar-tarrr .....!"
Cambuk itu meledak-ledak di atas lalu turun menyambar ke arah tubuh Empu Bharada. Namun, kini tubuh Empu Bharada bergerak lebih cepat lagi sehingga tubuhnya berkelebatan, sukar sekali diserang karena tubuh itu berpindah-pindah sehingga membingungkan lawan. Sang empu yang sakti ini telah mempergunakan Aji Bayu Sakti yang membuat tubuhnya ringan sekali dan dapat bergerak cepat sekali. Kini, melihat ancaman cambuk yang ampuh itu, Empu Bharada mulai membalas dengan tamparan-tamparan kedua tangannya. Tamparan itu tampaknya perlahan saja, namun tamparan tangan yang dibarengi dengan menyambarnya ujung lengan baju yang longgar itu membawa tenaga sakti yang amat kuat. Bahkan kedua tangan yang sudah dipenuhi tenaga sakti itu berani menyambut dan menangkis sambaran cambuk dan beberapa kali tangan empu berusaha untuk menangkap ujung cambuk! Tentu saja Resi Bajrasakti tidak membiarkan ujung cambuknya ditangkap karena kalau hal itu terjadi cambuknya dapat rusak, putus atau bahkan terampas lawan! Perkelahian menjadi seimbang, bahkan Resi Bajrasakti tampak terdesak karena dia mulai merasa gentar melawan empu yang sakti mandraguna ini.

Melihat betapa temannya tidak mampu mengalahkan Empu Bharada, Ki Nagakumala yang tadinya hanya menonton, tidak dapat tinggal diam. Rencana mereka berdua datang ke Lemah Citra adalah untuk membunuh Empu Bharada. Kalau tadi dia diam saja adalah karena dia percaya bahwa Resi Bajrasakti yang angkuh itu akan mampu merobohkan sang empu. Dia tidak ingin menyinggung perasaan datuk Wengker itu dengan membantunya. Akan tetapi kini melihat kenyataan bahwa sang resi malah terdesak, terpaksa dia lalu melompat maju dan menyerang Empu Bharada dengan pukulan tangan kanannya.
"Sambut Aji Ampak-ampak!" bentaknya dan ketika tangan kanan itu menyambar dengan telapak tangan terbuka ada hawa yang amat dingin terasa oleh Empu Bharada. Sang empu terkejut karena dia mengenal ilmu pukulan yang ampuh, pukulan yang mengandung tenaga sakti berhawa dingin. Pukulan seperti ini kalau mengenai sasaran amat berbahaya. Darah dalam tubuh dapat membeku terpengaruh hawa dingin itu! Menghadapi pengeroyokan dua orang lawan yang sakti itu, Empu Bharada mulai terdesak hebat. Dia masih mampu menghindarkan semua serangan kedua orang lawannya dengan pengerahan Aji Bayu Sakti, akan tetapi dia tidak mendapat kesempatan untuk membalas dengan dua aji pukulannya yang ampuh, yaitu Aji Sihung Warak dan Aji Tapak Saloko. Dia terdesak terus, hanya mampu mengelak dan kadang menangkis, tidak sempat membalas serangan. Tiba-tiba tampak bayangan berkelebat dan seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun muncul. Pria ini bertubuh sedang, penampilannya sederhana, pakaiannya juga pakaian longgar seperti yang biasa dipakai seorang petani dusun. Akan tetapi sepasang matanya mencorong pertanda bahwa dia adalah seorang yang "berisi".
"Hcmm, sungguh licik dan curang! Dua orang mengeroyok seorang lawan! Kakang Empu, maafkan kalau aku membantu andika tanpa diperintah!" Setelah berkata demikian, pria itu cepat menerjang ke arah Ki Nagakumala dengan tamparan tangan kiri yang mendatangkan angin dahsyat.
"Sambut Aji Gelap Musti!" bentaknya ketika tangannya menyambar dan menampar ke arah dada Ki Nagakumala.
Pertapa Jonggringslaka ini terkejut bukan main dan maklum bahwa lawan barunya ini memiliki aji pukulan yang dahsyat. Maka diapun cepat mengangkat tangan untuk menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaga saktinya.
"Desss .....!!"
Dua lengan bertemu dan akibatnya Ki Nagakumalaka terdorong ke belakang sampai terhuyung sedangkan lawannya hanya mundur dua langkah. Ini menunjukkan bahwa Ki Nagakumala masih kalah kuat dalam adu tenaga sakti. Hatinya menjadi gentar. Demikian pula Resi Bajrasakti, melihat Ki Nagakumala tidak lagi dapat membantunya karena diserang pendatang baru itu, menjadi gentar karena merasa bahwa seorang diri saja dia tidak akan mampu menandingi kedigdayaan Empu Bharada. Tiba-tiba Resi Bajrasakti mengerahkan Aji Panglimutan lagi. Halimun putih tebal menyelubungi tempat itu.
"Kita pergi!" katanya kepada Ki Nagakumala yang maklum akan isyarat ini. Maka kedua orang itu lalu melompat jauh dan menggunakan ilmu mereka untuk melarikan diri secepatnya.

Setelah Empu Bharada mengusir halimun dengan kebutan jubahnya, ternyata kedua orang penyerbu itu telah lenyap. Dia menghela napas dan memandang kepada orang yang membantunya tadi.
"Adi Bargowo, Sang Hyang Widhi telah mengirim andika datang membantuku sehingga aku terbebas dari ancaman dua orang sakti tadi. Selamat datang, adi!"
Pria itu melangkah maju menghampiri Empu Bharada dan mereka saling rangkul. Pria itu adalah Ki Bargowo yang merupakan adik seperguruan yang kemudian menjadi adik angkat Empu Bharada.
"Kakang Bharada, aku sungguh merasa terkejut dan heran. Sudah tiga tahun kita tidak saling berjumpa, dan aku tahu bahwa andika telah menjadi pembantu yang amat dikasihi Gusti Sinuwun, mendapat anugerah dan hidup dengan tenteram di tanah perdikan Lemah Citra ini. Akan tetapi apa yang kulihat tadi? Andika bertanding melawan dua orang sakti yang berbahaya! Bagaimana andika dapat hidup terancam bahaya seperti itu, kakang?"
Empu Bharada tersenyum dan menarik tangan Ki Bargowo diajak masuk ke ruangan dalam.
"Kita bicara di dalam saja, Adi Bargowo, dan di dalam masih ada seorang sahabat baikku, yaitu Empu Kanwa, seorang sastrawan yang bijaksana. Mari kuperkenalkan dan nanti kujelaskan semua."

Sambil bergandengan tangan mereka berdua memasuki ruangan di mana Empu Kanwa masih duduk sambil makan ubi rebus dengan enaknya. Empu Bharada tidak merasa heran melihat sikap sahabatnya ini, yang masih duduk enak-enak dan tenang-tenang saja walaupun maklum bahwa dia berhadapan dengan orang orang yang memaksanya bertanding. Padahal Empu Kanwa adalah seorang yang lemah jasmaninya. Namun dia adalah seorang yang sudah sepenuhnya percaya dan pasrah kepada kekuasaan Sang Hyang Widhi, maklum bahwa kalau Hyang Widhi menghendaki seseorang selamat, biarpun dikeroyok selaksa bahayapun akan dapat lolos, namun sebaliknya kalau Hyang Widhi menghendaki seseorang mati, biarpun seribu orang dewa tidak akan mampu menghindarkannya dari kematian! Karena kepasrahannya itu, juga karena merasa tidak berdaya, dia tenang tenang saja. Kalau sahabatnya itu masuk lagi dengan selamat, hal itu tidak aneh baginya, juga kalau sahabatnya itu digotong masuk menjadi jenazah, diapun tidak akan merasa aneh! Betapapun juga, ketika dia melihat Empu Bharada memasuki ruangan itu, bergandengan tangan dengan seorang pria sederhana yang tidak dia kenal, senyumnya semakin cerah dan pandang matanya bersinar-sinar, lalu memandang kepada Ki Bargowo dengan sinar mata penuh selidik.
"Kakang Kanwa, perkenalkan. Ini adalah adik seperguruan, juga adik angkatku bernama Ki Bargowo yang tinggal di Sungapan, muara Kali Progo. Dialah yang tadi datang secara kebetulan dan dapat membantuku sehingga kami dapat mengusir Resi Bajrasakti dan Ki Nagakumala yang datang dengan niat menantang yang berarti mereka hendak membunuhku." Kemudian Empu Bharada menoleh kepada adiknya.
"Adi Bargowo, sahabat baikku ini adalah Kakang Kanwa, sastrawan paling terkenal di Kahuripan."
"Kakang Empu Kanwa, saya Bargowo menghaturkan salam hormat." kata Ki Bargowo. Empu Kanwa mengangkat tangan sebagai tanda salam dan berkata.
"Adi Bargowo, karena andika ini adik Adi Bharada, maka seperti adikku juga. Mari kita duduk dan bicara dengan enak."
Setelah mereka duduk bersila mengelilingi meja pendek, Ki Bargowo yang tidak sabar lagi lalu bertanya kepada Empu Bharada.
"Kakang Bharada, apakah yang andika maksudkan tadi Resi Bajrasakti datuk dari Kadipaten Wengker, dan Ki Nagakumala itu kakak dari Sang Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman?"
"Benar, adi. Serbuan mereka ke sini itu memperkuat dugaanku bahwa Wengker dan Parang Siluman telah bersekutu dan mulai melakukan aksi pengacauan ke Kahuripan. Tidak mungkin aku yang menjadi sasaran, karena aku tidak mempunyai permusuhan atau permasalahan pribadi dengan mereka. Mereka tentu menyerang dan hendak membunuhku sebagai penasihat Gusti Sinuwun Erlangga."
"Perang, perang, perang .....! Selama manusia masih dikuasai dan diperbudak nafsu daya rendah yang berada dalam dirinya sendiri, maka permusuhan, perang dan bunuh membunuh antara manusia masih akan terus terjadi. Bumi akan menjadi neraka dan manusia hanya akan menderita kesengsaraan." kata Empu Kanwa seperti orang bertembang.

Mendengar ini, Empu Bharada tersenyum saja, akan tetapi Ki Bargowo mendengarkan dengan hati tertarik,
"Maaf, Kakang Empu Kanwa, apa yang kakang ucapkan itu sungguh tepat dan kenyataannya memang demikian. Apakah dengan demikian kakang hendak mengemukakan pendapat bahwa orang yang mempelajari aji kanuragan dan olah gegaman (senjata) itu tidak benar?"
Empu Kanwa juga tersenyum dan setelah mengamati wajah Ki Bargowo sejenak, dia lalu menembang dengan tembang Sekar Pangkur.

"Kawaca raras kawuryan
Miwah mundi saradibya umingis
Ing mangka punika tuhu Aling-aJinging anggo
Ananangi hardaning kang hawa napsu
Manawi sampun angredha
Dadya rubeda ngribedi."
(Suka akan baju perang dan membawa senjata terhunus padahal semua itu sesungguhnya menutupi kebersihan hati membangkitkan gelora hawa nafsu kalau sudah merajalela menjadi halangan yang mengganggu.)

Empu Bharada dan Ki Bargowo saling pandang dan merasa penasaran karena dalam tembang itu Empu Kanwa jelas mencela orang yang mempelajari kedigdayaan dan olah senjata. Empu Bharada yang sudah tanggap akan pandangan Empu Kanwa hanya tersenyum, akan tetapi Ki Bargowo yang merasa penasaran bertanya lagi, dan nada suaranya membantah.
"Akan tetapi. Kakang Empu Kanwa, terkadang, bahkan sering terjadi, perbuatan baik yang membela kebenaran dan keadilan, harus dilengkapi dengan aji kanuragan, baru dapat terlaksana dengan baik. Bagi perorangan, kepandaian itu penting untuk membela diri dan bagi negara, kekuatan balatentara amat penting untuk menegakkan kedaulatan negara. Apakah setiap orang yang mempelajari kanuragan lalu menjadi hamba nafsu dan jahat?"
Kembali Empu Kanwa bertembang, masih dengan tembang Sekar Pangkur.

"Datan pisah mg gegaman karsanira kinarya ngreksa mnng
raharjaning bawana gung sarana anumpesa sagung ingkang
dadya memala satuhu pra manungsa ingkang sasar marang
anggering durnadi."
(Tidak pisah dari senjata agar dapat menjaga ketentraman dunia dengan membinasakan segala yang menjadi penyakit para manusia yang menyimpang dari kebenaran hidup.)

"Ha-ha-ha!" Empu Bharada tertawa.
"Kakang Kanwa semula mencela, kemudian membela orang yang mempelajari kanuragan."
Empu Kanwa juga tersenyum.
"Sesungguhnya, aji kanuragan dan senjata hanyalah alat dan seperti segala macam alat di dunia ini, tidak mempunyai sifat baik maupun buruk. Baik dan buruknya suatu alat tergantung dari manusianya sendiri yang mempergunakannya. Para satria mempergunakan aji kanuragan dan senjata untuk membela kebenaran dan keadilan, menentang penindasan dan kejahatan, membela mereka yang tertindas, dengan demikian maka kanuragan dan senjata itu menjadi alat yang baik. Akan tetapi banyak orang tersesat yang mempergunakan kanuragan dan senjata untuk memaksakan keinginan mereka, sewenang-wenang, melakukan hukum rimba sehingga dengan demikian maka kanuragan dan senjata itu menjadi alat yang amat buruk. Akan tetapi, Adi Bargowo, kanuragan dan senjata itu mendatangkan kekuatan yang memberi kekuasaan kepada manusia. Kekuasaan inilah yang condong untuk mendorong manusia melakukan tindakan sewenang-wenang, mengandalkan kekuatannya dan kekuasaannya. Bukan berarti bahwa orang seperti aku, yang lemah dan bisanya hanya termenung mengkhayal, menerawang dan menulis tidak akan dapat melakukan kejahatan mencelakai orang lain. Tentu saja dapat, walau tidak dengan mengandalkan kekuatan dan kekerasan. Akan tetapi kecondongannya tidak sekuat orang yang menjadi ahli kanuragan. Karena itu, yang terpenting adalah jangan sampai nafsu daya rendah yang semestinya menjadi pembantu itu berubah menjadi majikan."
Kembali terdengar Empu Bharada tertawa.
"Wah, wah! Andika beruntung sekali, Adi Bargowo. Begitu datang bertemu dengan seorang guru yang memberi wejangan yang amat berharga. Akan tetapi, setelah lama tidak berjumpa denganmu, aku ingin sekali mendengar keterangan tentang keadaanmu sekarang, adi. Yang terakhir kita bertemu adalah ketika andika melaksanakan pernikahanmu tiga tahun yang lalu. Bagaimana kabarnya dengan isterimu?"
"Keadaan kami baik saja, kakang. Kami telah mempunyai seorang anak perempuan yang kini berusia satu tahun."
"Ah, aku ikut berbahagia mendengarnya, Adi Bargowo. Mudah-mudahan anakmu kelak menjadi seorang manusia yang berbakti kepada Sang Hyang Widhi, kepada orang tuanya, dan kepada bangsa dan negara."
"Terima kasih, Kakang Bharada. Semoga doa restu kakang menyertai kami dan harapan kakang itu akan terjadi."
"Sekarang katakan, kepentingan apakah yang membawamu datang ke sini?"
"Sesungguhnya tidak ada persoalan apapun, kakang. Aku hanya merasa kangen dan ingin bertemu dan bercakap-cakap denganmu. Kebetulan sekali kedatanganku tepat pada saat andika dikeroyok dua orang datuk itu. Sebetulnya, apakah yang menyebabkan mereka berdua itu menyerangmu?"

<<<Bagian 28                                                                                         Bagian 30 >>>

No comments:

Post a Comment