Empu Kanwa memandang ke luar jendela, mulutnya tersenyum dan matanya bersinar-sinar.
"Adi Bharada, segala macam
keindahan yang menjadi hasil pendapat dan penilaian hanyalah bayangan dari
suasana hati. Kalau hati sedang senang maka segalapun tampak indah, sebaliknya
kalau hati sedang susah, maka segalapun tampak buruk!"
Empu Bharada tersenyum dan
mengangguk-angguk maklum karena memang tidak mungkin ucapan Empu Kanwa itu
dibantah lagi. Yang diucapkan itu memang suatu kenyataan.
"Aku dapat merasakan kebenaran
itu, Kakang Kanwa Lalu apakah keindahan yang sejati itu?"
"Adi Bharada, aku tidak
berwenang menentukan apa itu keindahan yang sejati. Aku hanya mengenal
keindahan yang kurasakan setiap saat, keindahan dari kenyataan yang ada tanpa
adanya penilaian dan pendapat. Tanpa adanya si aku yang merasakan keindahan itu
karena diri ini menjadi sebagian dari keindahan itu, tidak terpisah. Di
manapun, bilamanapun, dalam keadaan apapun, keindahan itu menjadi bagian hidup
ini sehingga diri ini hanya dapat memuji sukur yang tiada hentinya kepada Sang
Hyang Widhi Sang Pencipta keindahan itu sendiri."
"Hemm, ucapan andika mengandung
makna yang amat dalam dan menambah pengertian yang amat berarti bagiku, Kakang
Kanwa. Ada hal yang selalu mengherankan hatiku kalau mengingat akan keadaan
andika. Gusti Sinuwun sudah memberi banyak hadiah kepada andika berupa tanah,
rumah dan harta benda. Akan tetapi semua itu andika bagi-bagikan kepada
orang-orang sehingga andika tidak mempunyai apa-apa lagi. Mengapa andika lebih
suka hidup miskin, kakang?"
Empu Kanwa tertawa.
"Ha-ha-ha, siapa bilang aku
miskin, adi? Aku sama sekali bukan orang miskin!"
"Wah, kalau begitu, andika
seorang kaya?"
Kembali Empu Kanwa tertawa.
"Tidak, aku bukan orang kaya.
Miskin tidak, kayapun tidak. Aku ini orang cukup, tidak kurang tidak lebih
melainkan cukup dan karena aku merasa cukup, berkecukupan segala kebutuhan
hidupku, maka setiap saat aku selalu berterima kasih dan bersukur memuji nama
Sang Hyang Widhi."
Empu Bharada mengangguk-angguk.
"Bukan main! Seperti andika
inilah yang patut disebut manusia yang berbahagia kakang. Orang miskin selalu
merasa tidak cukup, bahkan orang kayapun tidak ada yang merasa cukup! Nafsu
angkara murka membuat orang tidak pernah merasa cukup, biar seluruh dunia
diberikan kepadanya dia masih menginginkan dunia yang ke dua, ke tiga dan
seterusnya. Ada satu hal lagi yang ingin kuperbincangkan dengan andika, Kakang
Kanwa. Dia antara kita berdua terdapat perbedaan yang amat besar. Aku
mempelajari aji kanuragan dan kesaktian sejak kecil dan andika mempelajari
kesusasteraan sehingga keadaan kita berdua sekarang berbeda jauh. Lalu apa
bedanya tugas di antara kita yang berbeda jauh keadaannya ini?"
"Apanya yang berbeda, Adi
Bharada Tidak ada bedanya sama sekali! Tugas kita, juga tugas seluruh manusia
di dunia, adalah sama. Tugas kita, adalah 'mamayu hayuning bawana'
(mengusahakan kesejahteraan dunia/manusia), tentu saja dengan cara dan keahlian
masing-masing! Segala apapun yang tampak maupun yang tidak tampak adalah milik
Sang Hyang Widhi. Kalau milikNya itu diberikan kepada kita secara berlimpahan
maka sudah menjadi kehendakNya agar kita melimpahkan karunia itu kepada
orang-orang lain sehingga kita menjadi alat bagi Sang Hyang Widhi untuk
menyalurkan berkahNya."
"Nanti dulu Kakang Kanwa. Apa
yang andika ucapkan ini penting sekali dan aku mohon penjelasan."
"Kekayaan, kepandaian,
kekuatan, kekuasaan, semua itu adalah milik Sang Hyang Widhi, hanya dipinjamkan
kepada manusia tertentu selagi manusia itu hidup dengan tugas kewajiban untuk
melimpahkan semua kelebihan itu kepada mereka yang membutuhkan. Karena itu,
orang kaya harus memberikan sebagian kekayaannya kepada orang miskin yang membutuhkannya,
orang pandai harus memberikan sebagian kepandaiannya kepada orang bodoh yang
membutuhkannya, orang kuat harus memberikan sebagian kekuatannya kepada orang
lemah yang membutuhkan, orang berkuasa harus menggunakan kekuasaannya untuk
menyejahterakan rakyat kecil yang membutuhkan pertolongannya dan sebagainya.
Pemberian itu harus tanpa pamrih untuk kepentingan diri sendiri, melainkan
semata-mata sebagai pelaksana tugas kewajiban sebagai penyalur berkah Sang
Hyang Widhi kepada manusia."
"Jagad Dewa Bathara! Wejanganmu
ini teramat penting, kakang. Aku akan membantu menyebar luaskan pengertian
ini. Akan tetapi berapa gelintir manusia yang sanggup melaksanakan tugas suci
itu? Mereka pasti tidak rela kehilangan .....”
"Kehilangan apa, Adi Bharada?
Yang diberikan kepada orang lain itu bukan miliknya! Itu milik Sang Hyang
Widhi. Kalau Yang Maha Kuasa mengambil kembali miliknya berupa harta,
kepandaian, kekuatan, kekuasaan itu dari orang yang dititipiNya, orang itu
dapat berbuat apakah? Bahkan nyawa itupun milikNya dan kalau Dia mengambilnya
kembali, orang itupun tidak akan dapat berbuat apa-apa untuk menolaknya.
Memang, kuasa kegelapan akan selalu menghalangi manusia yang ingin menjadi alat
Sang Hyang Widhi, ingin menarik semua manusia untuk menjadi alatnya, alat
setan. Karena itu, kita harus mohon kepada Sang Hyang Widhi setiap saat agar
Dia bertahta dalam hati sanubari kita sehingga tumbuh Kasih dengan suburnya.
Kalau ada Kasih tumbuh dalam hati sanubari kita, maka tugas itu akan kita
laksanakan dengan baik, bersih dari pada pamrih karena digerakkan oleh
kekuasaan-Nya!"
Percakapan antara kedua orang empu
sambil makan ubi rebus dan minum air teh ini tiba-tiba terhenti ketika
terdengar gerengan dahsyat yang membuat ruangan di mana kedua empu itu duduk
bercakap-cakap, tergetar dan disusul bunyi ledakan tiga kali yang amat nyaring.
Kemudian terdengar suara besar parau menggelegar.
"Haiii! Empu Bharada, keluarlah
kamu! Kami ingin bicara!"
Empu Bharada memandang kepada Empu
Kanwa sambil menghela napas.
"Ah, agaknya andika lebih
bijaksana memilih tugas, kakang. Tugasku ini lebih banyak bertemu dengan
kekerasan dan pertentangan."
Empu Kanwa tersenyum.
"Sama saja tantangan selalu
ada, Adi Bharada. Yang penting kita membela kebenaran dan keadilan dan selalu
berusaha menjadi alat Sang Hyang Widhi."
"Andika duduklah saja di sini,
kakang. Aku akan menemui mereka di luar" Setelah berkata demikian, Empu
Bharada lalu keluar dari rumahnya.
Sementara itu, lima orang cantri
murid Empu Bharada telah berada di pekarangan, menghadapi dua orang kakek yang
berdiri di situ dan yang tadi berteriak memanggil Empu Bharada. Kakek pertama
berusia lima puluh lima tahun bertubuh tinggi besar bermuka penuh brewok,
berpakaian mewah seperti orang bangsawan tinggi. Dia adalah Resi Bajrasakti, datuk
penasihat kerajaan Wengker itu. Adapun orang ke dua berusia lima puluh tahun,
bertubuh sedang dengan wajah tampan gagah dengan kumis melintang seperti Raden
Gatotkaca. Dia adalah Ki Nagakumala, paman dan juga guru Lasmini dan Mandari.
Seperti telah kita ketahui, Ki
Nagakumala dan adiknya, Ratu Durgamala, telah mendengar pelaporan kedua orang
puteri ratu kerajaan Parang Siluman itu tentang Empu Bharada yang
memperingatkan Sang Prabu Erlangga dan merupakan ancaman bagi kedua orang
puteri. Mereka lalu mengatur rencana. Ratu Durgamala lalu menghubungi Kerajaan
Wengker yang menjadi sekutunya, minta bantuan untuk membinasakan Empu Bharada
yang merupakan ancaman dan dapat menggagalkan rencana untuk mengadu domba
antara Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Adipati Adhamapanuda, raja
Wengker, lalu mengutus Resi Bajrasakti untuk membantu. Demikianlah, Resi
Bajrasakti sebagai utusan Kerajaan Wengker dan Ki Nagakumala yang mewakili
Kerajaan Parang Siluman lalu berangkat ke Lemah Citra mencari Empu Bharada.
Dwipo mewakili rekan-rekannya
berkata kepada dua orang tamu itu.
"Harap andika berdua tidak
berteriak-teriak seperti itu. Kalau andika hendak bertamu, beritahukanlah nama
andika dan akan kami laporkan kepada Bapa Empu."
Ucapan itu walaupun nadanya halus
namun mengandung teguran, seolah mengingatkan bahwa sikap yang diperlihatkan
dua orang itu sebagai tamu adalah kurang pantas. Resi Bajrasakti yang berwatak
brangasan (pemarah) mengerutkan alisnya yang tebal. Dia menggulung ujung
cambuknya dengan tangan kiri dan dengan sikap angkuh dia bertanya kepada lima
orang cantrik itu.
"Heh, kalian berlima ini siapa
berani menyambut kami dengan lancang? Hayo suruh Empu Bharada keluar menemui
kami!"
Dwipo menjawab dengan alis berkerut,
"Kami adalah para cantrik yang
melayani Bapa Empu. Katakan siapa andika agar dapat kami laporkan ke
dalam."
Mendengar ini, Resi Bajrasakti
tertawa bergelak.
"Hua-ha-ha-ha! Hanya cantrik?
Cantrik-cantrik kurus kelaparan jangan banyak tingkah. Hayo menari!"
Setelah berkata demikian, cambuknya menyambar-nyambar ke depan, ke arah kaki
lima orang cantrik itu, suaranya meledak-ledak nyaring. Para cantrik terkejut,
ujung cambuk yang mengenai kaki mendatangkan rasa panas dan nyeri sehingga
mereka terpaksa berloncat-loncatan untuk menghindarkan cambukan. Karena mereka
berloncat-loncatan, maka mereka seolah menari-nari dan hal ini dianggap lucu
sekali oleh Resi Bajrasakti dan Ki Nagakumala sehingga mereka tertawa-tawa.
"Tar-tar-tar-tar-tar .....
plakk!"
Tiba tiba ujung cambuk itu mental
karena bertemu dengan ujung lengan baju yang menangkisnya. Resi Bajrasakti
terkejut dan menghentikan gerakan cambuknya, memandang kepada Empu Bharada yang
tadinya menangkis cambuk itu dengan ujung lengan bajunya yang longgar dan
panjang.
"Kalian masuklah dan obati kaki
kalian." kata Empu Bharada kepada lima orang cantrik yang kakinya
lecet-lecet terkena sengatan ujung cambuk.
Setelah lima orang cantrik itu
memasuki rumah, Empu Bharada menghadapi dua orang itu, mengamati mereka penuh
selidik. Dia mengangguk-angguk setelah mengenal siapa dua orang yang datang
membikin kacau itu.
'Teja-teja sulaksana! Kalau aku
tidak salah duga, andika tentu Resi Bajrasakti, datuk besar dari Kadipaten
Wengker yang tersohor itu." Empu Bharada kini memandang kepada orang ke
dua.
"Dan bukankah andika ini Ki
Nagakumala, pertapa di Junggringslaka itu?"
Resi Bajrasakti mendengus dengan
sikap mengejek lalu berkata dengan lantang dan angkuh.
"Ha, inikah Empu Bharada yang
terkenal itu? Ternyata matamu masih tajam, dapat mengenal kami berdua!"
"Resi Bajrasakti, karena andika
tadi berteriak memanggilku keluar, maka kini aku keluar menyambut kalian dan
katakanlah, apa maksud kedatangan andika berdua ini?"
Kini Ki Nagakumala yang menjawab.
Sikap kakek ini tidaklah sekasar sikap Resi Bajrasakti, bahkan sikapnya halus
dan gagah, namun suaranya mengandung kebencian melihat orang yang menjadi
penghalang bagi dua orang keponakannya itu.
"Empu Bharada, namamu tersohor
sampai ke sepanjang pantai Laut Kidul, bergelora menyaingi Laut Kidul. Karena
itu, kami sengaja datang untuk membuktikan sendiri sampai dimana kedigdayaan
Empu Bharada yang terkenal sakti mandraguna itu!"
"Hemm, Ki Nagakumala, apakah
gerangan yang tersembunyi di balik kata kata andika itu? Apa yang andika
maksudkan?"
Resi Bajrasakti tertawa.
"Ha-ha-ha! Masih kurang
jelaskah, Empu Bharada? tentu saja maksud kami adalah untuk bertanding aji
kesaktian denganmu, untuk menguji apakah benar-benar andika sakti mandraguna
ataukah ketenaranmu itu hanya kosong belaka!"
"Jagad Dewa Bathara! jadi
kalian berdua ini jauh-jauh datang berkunjung ke sini hanya untuk menantang aku
bertanding? Sungguh tidak masuk akal kalau andika berdua menantang aku tanpa
alasan apapun. Secara pribadi, di antara kita tidak ada permusuhan apapun.
Terus terang saja, Resi Bajrasakti dan Ki Nagakumala, katakan mengapa kalian
menantangku bertanding?"
"Ha-ha, apa anehnya itu, Empu
Bharada? Di antara kerajaan Kahuripan dan kerajan kami berdua, Wengker dan
Parang Siluman, sejak dulu memang sudah bermusuhan. Andika setia kepada
Kahuripan dan kamipun setia kepada kerajaan kami masing-masing. Selain itu,
kami sudah mendengar akan kesombongan yang selalu menganggap diri paling sakti.
Karena itulah kami sengaja datang untuk menantangmu dan menghentikan
kesombonganmu!" kata Resi Bajrasakti.
"Hemm, andika berdua bukalah
telinga kalian baik-baik dan dengar kata-kataku ini! Kalau kalian datang
menantangku bertanding hanya karena perasaan pribadi untuk mengujiku, aku tidak
bersedia melayani ulah nafsu kalian. Akan tetapi kalau kalian datang sebagai utusan
Wengker dan Parang Siluman untuk mengacau Kahuripan, akulah yang akan menentang
kalian!"
"Babo-babo, manusia sombong!
Sambut ini! " Resi Bajrasakti mengeluarkan segenggam pasir yang sejak tadi
sudah dia persiapkan dan setelah berkemak-kemik membaca mantra dia melempar
segenggam pasir itu ke atas dan berseru dengan suara nyaring berwibawa.
"Aji Bramara Sewu (Lebah
Seribu)....."
Sungguh aneh! Segenggam pasir itu
setelah dilontarkan ke atas segera berubah menjadi serombongan lebah yang
beterbangan sambil mengeluarkan suara berdengung. Rombongan lebah ini meluncur
dan menyerang ke arah Empu Bharada.
Empu Bharada memandang serangan yang
mengandung ilmu sihir ini sebagai permainan kanak-kanak. Dengan tenang dia
menggerakkan lengan kirinya dan jubahnya yang panjang dan lebar itu mengebut ke
atas. Angin yang amat kuat bertiup ke arah serombongan lebah yang datang
menyerang.
"Kembalilah ke asalmu!"
bentaknya dengan suara lembut namun amat berwibawa. Angin dari kebutan jubah
itu menyambar serombongan lebah jadi-jadian dan runtuhlah semua lebah itu,
jatuh ke atas tanah dan kembali menjadi pasir yang berserakan!
Resi Bajrasakti terkejut dan menjadi
marah sekali. Dia membaca mantra dan mengerahkan Aji Panglimutan agar dirinya
tidak tampak oleh Empu Bharada sehingga dia akan dapat menyerang dan membunuh
sang empu. Muncullah halimun tebal yang menutup tubuhnya sehingga lenyap dari
pandang mata. Akan tetap kembali Empu Bharada mengebutkan jubahnya beberapa
kali dan..... halimun tebal itupun membuyar dan lenyap sehingga tubuh Resi
Bajrasakti tampak lagi. Merah wajah sang resi datuk Wengker ini.
"Aji Sihung Naga ......
haaiiiikk!"
Resi Bajrasakti kini menggerakkan
tubuh dan menerjang maju, kedua tangannya yang besar panjang itu melakukan
serangan pukulan bertubi. Pukulan itu dahsyat sekali, ketika tangannya
menyambar, terdengar suara angin bersiutan, tanda betapa kuatnya pukulan itu.
Dengan tenang namun gesit dan ringan, tubuh Empu Bharada menghindarkan diri
dengan elakan-elakan.
<<< Bagian 27 Bagian 29 >>>
<<< Bagian 27 Bagian 29 >>>
No comments:
Post a Comment