Bagian 28


Empu Kanwa memandang ke luar jendela, mulutnya tersenyum dan matanya bersinar-sinar.
"Adi Bharada, segala macam keindahan yang menjadi hasil pendapat dan penilaian hanyalah bayangan dari suasana hati. Kalau hati sedang senang maka segalapun tampak indah, sebaliknya kalau hati sedang susah, maka segalapun tampak buruk!"
Empu Bharada tersenyum dan mengangguk-angguk maklum karena memang tidak mungkin ucapan Empu Kanwa itu dibantah lagi. Yang diucapkan itu memang suatu kenyataan.
"Aku dapat merasakan kebenaran itu, Kakang Kanwa Lalu apakah keindahan yang sejati itu?"
"Adi Bharada, aku tidak berwenang menentukan apa itu keindahan yang sejati. Aku hanya mengenal keindahan yang kurasakan setiap saat, keindahan dari kenyataan yang ada tanpa adanya penilaian dan pendapat. Tanpa adanya si aku yang merasakan keindahan itu karena diri ini menjadi sebagian dari keindahan itu, tidak terpisah. Di manapun, bilamanapun, dalam keadaan apapun, keindahan itu menjadi bagian hidup ini sehingga diri ini hanya dapat memuji sukur yang tiada hentinya kepada Sang Hyang Widhi Sang Pencipta keindahan itu sendiri."
"Hemm, ucapan andika mengandung makna yang amat dalam dan menambah pengertian yang amat berarti bagiku, Kakang Kanwa. Ada hal yang selalu mengherankan hatiku kalau mengingat akan keadaan andika. Gusti Sinuwun sudah memberi banyak hadiah kepada andika berupa tanah, rumah dan harta benda. Akan tetapi semua itu andika bagi-bagikan kepada orang-orang sehingga andika tidak mempunyai apa-apa lagi. Mengapa andika lebih suka hidup miskin, kakang?"
Empu Kanwa tertawa.
"Ha-ha-ha, siapa bilang aku miskin, adi? Aku sama sekali bukan orang miskin!"
"Wah, kalau begitu, andika seorang kaya?"
Kembali Empu Kanwa tertawa.
"Tidak, aku bukan orang kaya. Miskin tidak, kayapun tidak. Aku ini orang cukup, tidak kurang tidak lebih melainkan cukup dan karena aku merasa cukup, berkecukupan segala kebutuhan hidupku, maka setiap saat aku selalu berterima kasih dan bersukur memuji nama Sang Hyang Widhi."
Empu Bharada mengangguk-angguk.
"Bukan main! Seperti andika inilah yang patut disebut manusia yang berbahagia kakang. Orang miskin selalu merasa tidak cukup, bahkan orang kayapun tidak ada yang merasa cukup! Nafsu angkara murka membuat orang tidak pernah merasa cukup, biar seluruh dunia diberikan kepadanya dia masih menginginkan dunia yang ke dua, ke tiga dan seterusnya. Ada satu hal lagi yang ingin kuperbincangkan dengan andika, Kakang Kanwa. Dia antara kita berdua terdapat perbedaan yang amat besar. Aku mempelajari aji kanuragan dan kesaktian sejak kecil dan andika mempelajari kesusasteraan sehingga keadaan kita berdua sekarang berbeda jauh. Lalu apa bedanya tugas di antara kita yang berbeda jauh keadaannya ini?"
"Apanya yang berbeda, Adi Bharada Tidak ada bedanya sama sekali! Tugas kita, juga tugas seluruh manusia di dunia, adalah sama. Tugas kita, adalah 'mamayu hayuning bawana' (mengusahakan kesejahteraan dunia/manusia), tentu saja dengan cara dan keahlian masing-masing! Segala apapun yang tampak maupun yang tidak tampak adalah milik Sang Hyang Widhi. Kalau milikNya itu diberikan kepada kita secara berlimpahan maka sudah menjadi kehendakNya agar kita melimpahkan karunia itu kepada orang-orang lain sehingga kita menjadi alat bagi Sang Hyang Widhi untuk menyalurkan berkahNya."
"Nanti dulu Kakang Kanwa. Apa yang andika ucapkan ini penting sekali dan aku mohon penjelasan."
"Kekayaan, kepandaian, kekuatan, kekuasaan, semua itu adalah milik Sang Hyang Widhi, hanya dipinjamkan kepada manusia tertentu selagi manusia itu hidup dengan tugas kewajiban untuk melimpahkan semua kelebihan itu kepada mereka yang membutuhkan. Karena itu, orang kaya harus memberikan sebagian kekayaannya kepada orang miskin yang membutuhkannya, orang pandai harus memberikan sebagian kepandaiannya kepada orang bodoh yang membutuhkannya, orang kuat harus memberikan sebagian kekuatannya kepada orang lemah yang membutuhkan, orang berkuasa harus menggunakan kekuasaannya untuk menyejahterakan rakyat kecil yang membutuhkan pertolongannya dan sebagainya. Pemberian itu harus tanpa pamrih untuk kepentingan diri sendiri, melainkan semata-mata sebagai pelaksana tugas kewajiban sebagai penyalur berkah Sang Hyang Widhi kepada manusia."
"Jagad Dewa Bathara! Wejanganmu ini teramat penting, kakang. Aku akan membantu menyebar luaskan pengertian ini. Akan tetapi berapa gelintir manusia yang sanggup melaksanakan tugas suci itu? Mereka pasti tidak rela kehilangan .....”
"Kehilangan apa, Adi Bharada? Yang diberikan kepada orang lain itu bukan miliknya! Itu milik Sang Hyang Widhi. Kalau Yang Maha Kuasa mengambil kembali miliknya berupa harta, kepandaian, kekuatan, kekuasaan itu dari orang yang dititipiNya, orang itu dapat berbuat apakah? Bahkan nyawa itupun milikNya dan kalau Dia mengambilnya kembali, orang itupun tidak akan dapat berbuat apa-apa untuk menolaknya. Memang, kuasa kegelapan akan selalu menghalangi manusia yang ingin menjadi alat Sang Hyang Widhi, ingin menarik semua manusia untuk menjadi alatnya, alat setan. Karena itu, kita harus mohon kepada Sang Hyang Widhi setiap saat agar Dia bertahta dalam hati sanubari kita sehingga tumbuh Kasih dengan suburnya. Kalau ada Kasih tumbuh dalam hati sanubari kita, maka tugas itu akan kita laksanakan dengan baik, bersih dari pada pamrih karena digerakkan oleh kekuasaan-Nya!"

Percakapan antara kedua orang empu sambil makan ubi rebus dan minum air teh ini tiba-tiba terhenti ketika terdengar gerengan dahsyat yang membuat ruangan di mana kedua empu itu duduk bercakap-cakap, tergetar dan disusul bunyi ledakan tiga kali yang amat nyaring. Kemudian terdengar suara besar parau menggelegar.
"Haiii! Empu Bharada, keluarlah kamu! Kami ingin bicara!"
Empu Bharada memandang kepada Empu Kanwa sambil menghela napas.
"Ah, agaknya andika lebih bijaksana memilih tugas, kakang. Tugasku ini lebih banyak bertemu dengan kekerasan dan pertentangan."
Empu Kanwa tersenyum.
"Sama saja tantangan selalu ada, Adi Bharada. Yang penting kita membela kebenaran dan keadilan dan selalu berusaha menjadi alat Sang Hyang Widhi."
"Andika duduklah saja di sini, kakang. Aku akan menemui mereka di luar" Setelah berkata demikian, Empu Bharada lalu keluar dari rumahnya.
Sementara itu, lima orang cantri murid Empu Bharada telah berada di pekarangan, menghadapi dua orang kakek yang berdiri di situ dan yang tadi berteriak memanggil Empu Bharada. Kakek pertama berusia lima puluh lima tahun bertubuh tinggi besar bermuka penuh brewok, berpakaian mewah seperti orang bangsawan tinggi. Dia adalah Resi Bajrasakti, datuk penasihat kerajaan Wengker itu. Adapun orang ke dua berusia lima puluh tahun, bertubuh sedang dengan wajah tampan gagah dengan kumis melintang seperti Raden Gatotkaca. Dia adalah Ki Nagakumala, paman dan juga guru Lasmini dan Mandari.

Seperti telah kita ketahui, Ki Nagakumala dan adiknya, Ratu Durgamala, telah mendengar pelaporan kedua orang puteri ratu kerajaan Parang Siluman itu tentang Empu Bharada yang memperingatkan Sang Prabu Erlangga dan merupakan ancaman bagi kedua orang puteri. Mereka lalu mengatur rencana. Ratu Durgamala lalu menghubungi Kerajaan Wengker yang menjadi sekutunya, minta bantuan untuk membinasakan Empu Bharada yang merupakan ancaman dan dapat menggagalkan rencana untuk mengadu domba antara Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Adipati Adhamapanuda, raja Wengker, lalu mengutus Resi Bajrasakti untuk membantu. Demikianlah, Resi Bajrasakti sebagai utusan Kerajaan Wengker dan Ki Nagakumala yang mewakili Kerajaan Parang Siluman lalu berangkat ke Lemah Citra mencari Empu Bharada.

Dwipo mewakili rekan-rekannya berkata kepada dua orang tamu itu.
"Harap andika berdua tidak berteriak-teriak seperti itu. Kalau andika hendak bertamu, beritahukanlah nama andika dan akan kami laporkan kepada Bapa Empu."
Ucapan itu walaupun nadanya halus namun mengandung teguran, seolah mengingatkan bahwa sikap yang diperlihatkan dua orang itu sebagai tamu adalah kurang pantas. Resi Bajrasakti yang berwatak brangasan (pemarah) mengerutkan alisnya yang tebal. Dia menggulung ujung cambuknya dengan tangan kiri dan dengan sikap angkuh dia bertanya kepada lima orang cantrik itu.
"Heh, kalian berlima ini siapa berani menyambut kami dengan lancang? Hayo suruh Empu Bharada keluar menemui kami!"
Dwipo menjawab dengan alis berkerut,
"Kami adalah para cantrik yang melayani Bapa Empu. Katakan siapa andika agar dapat kami laporkan ke dalam."
Mendengar ini, Resi Bajrasakti tertawa bergelak.
"Hua-ha-ha-ha! Hanya cantrik? Cantrik-cantrik kurus kelaparan jangan banyak tingkah. Hayo menari!" Setelah berkata demikian, cambuknya menyambar-nyambar ke depan, ke arah kaki lima orang cantrik itu, suaranya meledak-ledak nyaring. Para cantrik terkejut, ujung cambuk yang mengenai kaki mendatangkan rasa panas dan nyeri sehingga mereka terpaksa berloncat-loncatan untuk menghindarkan cambukan. Karena mereka berloncat-loncatan, maka mereka seolah menari-nari dan hal ini dianggap lucu sekali oleh Resi Bajrasakti dan Ki Nagakumala sehingga mereka tertawa-tawa.
"Tar-tar-tar-tar-tar ..... plakk!"
Tiba tiba ujung cambuk itu mental karena bertemu dengan ujung lengan baju yang menangkisnya. Resi Bajrasakti terkejut dan menghentikan gerakan cambuknya, memandang kepada Empu Bharada yang tadinya menangkis cambuk itu dengan ujung lengan bajunya yang longgar dan panjang.
"Kalian masuklah dan obati kaki kalian." kata Empu Bharada kepada lima orang cantrik yang kakinya lecet-lecet terkena sengatan ujung cambuk.

Setelah lima orang cantrik itu memasuki rumah, Empu Bharada menghadapi dua orang itu, mengamati mereka penuh selidik. Dia mengangguk-angguk setelah mengenal siapa dua orang yang datang membikin kacau itu.
'Teja-teja sulaksana! Kalau aku tidak salah duga, andika tentu Resi Bajrasakti, datuk besar dari Kadipaten Wengker yang tersohor itu." Empu Bharada kini memandang kepada orang ke dua.
"Dan bukankah andika ini Ki Nagakumala, pertapa di Junggringslaka itu?"
Resi Bajrasakti mendengus dengan sikap mengejek lalu berkata dengan lantang dan angkuh.
"Ha, inikah Empu Bharada yang terkenal itu? Ternyata matamu masih tajam, dapat mengenal kami berdua!"
"Resi Bajrasakti, karena andika tadi berteriak memanggilku keluar, maka kini aku keluar menyambut kalian dan katakanlah, apa maksud kedatangan andika berdua ini?"
Kini Ki Nagakumala yang menjawab. Sikap kakek ini tidaklah sekasar sikap Resi Bajrasakti, bahkan sikapnya halus dan gagah, namun suaranya mengandung kebencian melihat orang yang menjadi penghalang bagi dua orang keponakannya itu.
"Empu Bharada, namamu tersohor sampai ke sepanjang pantai Laut Kidul, bergelora menyaingi Laut Kidul. Karena itu, kami sengaja datang untuk membuktikan sendiri sampai dimana kedigdayaan Empu Bharada yang terkenal sakti mandraguna itu!"
"Hemm, Ki Nagakumala, apakah gerangan yang tersembunyi di balik kata kata andika itu? Apa yang andika maksudkan?"
Resi Bajrasakti tertawa.
"Ha-ha-ha! Masih kurang jelaskah, Empu Bharada? tentu saja maksud kami adalah untuk bertanding aji kesaktian denganmu, untuk menguji apakah benar-benar andika sakti mandraguna ataukah ketenaranmu itu hanya kosong belaka!"
"Jagad Dewa Bathara! jadi kalian berdua ini jauh-jauh datang berkunjung ke sini hanya untuk menantang aku bertanding? Sungguh tidak masuk akal kalau andika berdua menantang aku tanpa alasan apapun. Secara pribadi, di antara kita tidak ada permusuhan apapun. Terus terang saja, Resi Bajrasakti dan Ki Nagakumala, katakan mengapa kalian menantangku bertanding?"
"Ha-ha, apa anehnya itu, Empu Bharada? Di antara kerajaan Kahuripan dan kerajan kami berdua, Wengker dan Parang Siluman, sejak dulu memang sudah bermusuhan. Andika setia kepada Kahuripan dan kamipun setia kepada kerajaan kami masing-masing. Selain itu, kami sudah mendengar akan kesombongan yang selalu menganggap diri paling sakti. Karena itulah kami sengaja datang untuk menantangmu dan menghentikan kesombonganmu!" kata Resi Bajrasakti.
"Hemm, andika berdua bukalah telinga kalian baik-baik dan dengar kata-kataku ini! Kalau kalian datang menantangku bertanding hanya karena perasaan pribadi untuk mengujiku, aku tidak bersedia melayani ulah nafsu kalian. Akan tetapi kalau kalian datang sebagai utusan Wengker dan Parang Siluman untuk mengacau Kahuripan, akulah yang akan menentang kalian!"
"Babo-babo, manusia sombong! Sambut ini! " Resi Bajrasakti mengeluarkan segenggam pasir yang sejak tadi sudah dia persiapkan dan setelah berkemak-kemik membaca mantra dia melempar segenggam pasir itu ke atas dan berseru dengan suara nyaring berwibawa.
"Aji Bramara Sewu (Lebah Seribu)....."
Sungguh aneh! Segenggam pasir itu setelah dilontarkan ke atas segera berubah menjadi serombongan lebah yang beterbangan sambil mengeluarkan suara berdengung. Rombongan lebah ini meluncur dan menyerang ke arah Empu Bharada.

Empu Bharada memandang serangan yang mengandung ilmu sihir ini sebagai permainan kanak-kanak. Dengan tenang dia menggerakkan lengan kirinya dan jubahnya yang panjang dan lebar itu mengebut ke atas. Angin yang amat kuat bertiup ke arah serombongan lebah yang datang menyerang.
"Kembalilah ke asalmu!" bentaknya dengan suara lembut namun amat berwibawa. Angin dari kebutan jubah itu menyambar serombongan lebah jadi-jadian dan runtuhlah semua lebah itu, jatuh ke atas tanah dan kembali menjadi pasir yang berserakan!
Resi Bajrasakti terkejut dan menjadi marah sekali. Dia membaca mantra dan mengerahkan Aji Panglimutan agar dirinya tidak tampak oleh Empu Bharada sehingga dia akan dapat menyerang dan membunuh sang empu. Muncullah halimun tebal yang menutup tubuhnya sehingga lenyap dari pandang mata. Akan tetap kembali Empu Bharada mengebutkan jubahnya beberapa kali dan..... halimun tebal itupun membuyar dan lenyap sehingga tubuh Resi Bajrasakti tampak lagi. Merah wajah sang resi datuk Wengker ini.
"Aji Sihung Naga ...... haaiiiikk!"
Resi Bajrasakti kini menggerakkan tubuh dan menerjang maju, kedua tangannya yang besar panjang itu melakukan serangan pukulan bertubi. Pukulan itu dahsyat sekali, ketika tangannya menyambar, terdengar suara angin bersiutan, tanda betapa kuatnya pukulan itu. Dengan tenang namun gesit dan ringan, tubuh Empu Bharada menghindarkan diri dengan elakan-elakan.
 
<<< Bagian 27                                                                                         Bagian 29 >>>

No comments:

Post a Comment