Dia sudah pula dapat cepat menekan gejolak nafsu yang ingin mendapatkan Lasmini yang cantik jelita menggairahkan itu. Dia teringat siapa Narotama, seorang yang amat dekat dengan hatinya, kawan seperjuangan, pembantunya sejak dahulu yang amat setia. Ditolaknya bujukan nafsu berahi itu dan dia sudah dapat menguasai dirinya. Dia tersenyum dan mengelus rambut kepala Mandari.
"Tidak, Mandari wong ayu.
Lasmini telah menjadi milik Kakang Narotama. Aku tidak berhak merampasnya,
bahkan tidak berhak membayangkan wajahnya dan kecantikannya. Hubunganku dengan
Kakang Narotama tidak dapat dinilai harganya, tidak mungkin menjadi retak dan
terganggu hanya karena seorang wanita. Pula, aku sudah memiliki engkau dan aku
tidak menginginkan wanita lain. Biarlah Lasmini tetap menjadi selir Kakang
Narotama."
Dapat dibayangkan betapa kecewa dan
sebal hati Mandari mendengar ucapan Sang Prabu Erlangga ini. Pria ini ternyata
memiliki keteguhan hati seperti gunung karang! la menangis dan mengeluh.
"Duhai sinuwun pujaan
hamba..... kalau begitu paduka tidak cinta lagi kepada hamba....." Ia
terisak-isak dan menangis di atas pangkuan Sang Prabu Erlangga.
Sang Prabu Erlangga tersenyum dan
mengangkat bangun selirnya sehingga Mandari dipaksa duduk di sampingnya, ditepi
pembaringan.
"Kenapa engkau berkata
demikian, yayi? Justeru penolakanku ini sebagian adalah karena sayang dan
cintaku kepadamu. Aku tidak ingin ada wanita lain lagi yang berada di sampingku
selain engkau dan permaisuri serta selir yang sudah ada. Aku tidak ingin
mengambil selir lain lagi."
"Akan tetapi hamba merasa
kasihan kepada Mbakayu Lasmini, hamba ingin menolongnya dan membahagiakannya.
Kalau paduka memenuhi permintaan hamba dan mengambilnya sebagai garwo ampil
(selir), hamba akan merasa bahagia, sebaliknya kalau paduka menolak, hamba akan
merasa berduka. Apakah paduka tidak kasihan kepada hamba?"
"Mandari, selirku terkasih.
Ketahuilah, cinta tidak berarti harus memenuhi semua permintaan orang yang
dicintai Sama sekali tidak. Cinta bahkan harus menolak permintaan orang yang
dicintai kalau permintaan itu tidak benar, berarti menyadarkan orang yang
dicinta dan kekeliruan. Kalau menuruti saja permintaan yang keliru dari orang
yang dicintai hal itu berarti malah mendorongnya ke dalam jurang. Dan
ketahuilah bahwa permintaanmu sekali ini adalah keliru tidak benar sama sekali.
Kakang Narotama adalah tulang punggung Kerajaan Kahuripan. Apakah aku harus
mematahkan tulang punggung itu hanya demi merampas seorang wanita cantik dari
tangan pria yang berhak memilikinya? Tidak, wong ayu, sekali lagi tidak!"
Dalam ucapan Sang Prabu itu
terdengar suara yang mengandung keyakinan dan kepastian yang tidak mungkin
dapat diubah pula dan Mandari tahu akan hal ini, maka iapun tidak berani
membujuk lagi, takut kalau-kalau Sang Prabu Erlangga menjadi curiga kepadanya.
Beberapa hari kemudian, Sang Prabu Erlangga terkejut ketika Ki Patih Narotama
datang berkunjung dan mohon menghadap tidak pada hari paseban (menghadap raja).
Dan kedatangan Ki Patih Narotama ini bersama Lasmini yang berdandan rapi
sehingga tampak cantik jelita seperti bidadari! Maklum bahwa Narotama tentu
mempunyai urusan penting untuk dibicarakan, maka Sang Prabu Erlangga menerima
patihnya bersama Lasmini dalam sebuah ruangan tertutup tanpa dihadiri orang
lain, bahkan Mandari sendiripun tidak diperkenankan ikut menyambut.
Setelah dipersilakan duduk, Sang
Prabu Erlangga berkata sambil tersenyum.
"Wahai, Kakang Narotama, andika
dating berkunjung bukan pada hari paseban, tentu ada urusan yang teramat
penting. Dan andika mengajak pula selir andika Lasmini, ada urusan apakah
gerangan, Kakang Narotama?"
Sang Prabu mengerling ke arah
Lasmini yang menundukkan mukanya dan harus dia akui bahwa wanita itu memang
cantik luar biasa. Hanya Mandari saja yang dapat menandingi kecantikan itu.
"Ampun beribu ampun, gusti
sinuwun. Kedatangan hamba menghadap paduka tanpa dipanggil ini adalah untuk
menghaturkan Lasmini kepada paduka."
Sang Prabu Erlangga memandang
patihnya dengan mata terbelalak penuh keheranan.
"Menghaturkan Lasmini kepadaku?
Apa maksudmu, Kakang Narotama?"
"Apabila paduka berkenan
menghendaki untuk mengambil Lasmini sebagai garwo ampil, silakan, gusti. Hamba
menyerahkannya dengan kedua tangan terbuka dan hati serela-relanya."
"Duh Jagad Dewa Bathara!
Serendah itukah penilaianmu terhadap diriku? Aku bukan perusak pagar ayu, aku
tidak akan merampas isteri orang lain, apa lagi isterimu, kakang, Bawalah
garwamu pulang dan jangan berpikir yang bukan bukan! Heh, Lasmini, andika
bersuamikan seorang ksatria yang arif bijaksana. Pulanglah bersama dia dan
hiduplah bahagia disampingnya sebagai seorang isteri yang setia. Nah, pulanglah
kalian!"
Dalam kalimat terakhir ini
terkandung perintah tegas sehingga Ki Patih Narotama tidak berani membantah
lagi. Setelah berpamit dan mohon diri dia lalu mengajak Lasmini pulang dengan
hati yang lega dan tenang. Kalau benar Sang Prabu Erlangga tertarik dan
mencintai Lasmini, hal itu tidaklah aneh. Selirnya itu memang memiliki
kecantikan luar biasa sehingga kalau ada dewa sekalipun yang jatuh cinta
padanya, dia tidak akan merasa heran. Sang Prabu Erlangga sebagai seorang pria
boleh jadi terpikat dan jatuh cinta kepada Lasmini, namun dia percaya sepenuhnya
bahwa Sang Prabu Erlangga tidak akan sedemikian sesat untuk mengganggu isteri
orang lain. Dari semula dia sudah menduga begitu, maka diapun sengaja mengajak
Lasmini menghadap dan menyerahkan Lasmini kepada Sang Prabu Erlangga. Dan,
seperti memang sudah diduganya, Sang Prabu Erlangga menolak keras! Maka timbul
perasaan terima kasih dan bangga kepada rajanya yang membuat dia semakin kagum,
memuja dan setia kepada junjungannya yang juga merupakan sahabat dan saudara
seperguruannya itu. Sebaliknya, Lasmini dan Mandiri yang diam-diam
menyumpah-serapah, kecewa dan marah bukan main melihat betapa siasat mereka
berdua itu gagal sama sekali. Hasilnya bukan mengadu domba dan memecah belah,
bahkan membuat hubungan antara raja dan patihnya itu menjadi semakin kuat. Akan
tetapi dua orang kakak beradik yang cantik jelita dan cerdik sekali ini tidak
memperlihatkan perasaan mereka di depan suami masing-masing, bahkan berusaha
sekuat tenaga untuk semakin memikat suami mereka sehingga mereka berdua semakin
disayang. Mereka bagaikan dua ekor harimau yang tampak jinak menyenangkan, akan
tetapi yang diam-diam menanti saat dan kesempatan baik untuk menerkam dan
membinasakan!
Tanah perdikan Lemah Citra merupakan
sebidang tanah yang subur di daerah perbukitan. Tanah perdikan ini cukup luas,
dihuni oleh sekitar seratus buah keluarga yang menjadi petani. Lemah Citra ini
adalah milik Empu Bharada, pemberian Prabu Erlangga kepadanya. Setelah banyak
keluarga menghuni Lemah Citra dengan persetujuan Empu Bharada sebagai
pemiliknya, maka Lemah Citra menjadi sebuah pedusunan yang cukup aman, makmur
dan penuh kedamaian. Dengan adanya Empu Bharada yang menjadi pemilik tanah
sekaligus pimpinan, tidak ada orang berani berbuat jahat. Bahkan mereka yang
tadinya mudah dipengaruhi dan dipermainkan nafsu sendiri, setelah tinggal di
Lemah Citra dan sering mendengarkan sang empu memberi wejangan-wejangan,
berubah menjadi seorang manusia yang bertaubat dan mengubah jalan hidupnya.
Mereka bertani, bekerja keras dan bergotong royong dengan akrab sehingga mereka
bagaikan keluarga besar, kalau ada hasil panen besar sama dinikmati, kalau ada
kesulitan sama ditanggulangi, ada kesukaran sama dipikul. Empu Bharada tinggal
di tengah dusun, di bagian tanah yang paling tinggi di puncak sebuah bukit
kecil. Rumahnya terbuat dari kayu jati, cukup besar dan kokoh. Empu Bharada
hidup membujang sejak muda, tinggal di dalam rumah itu, ditemani lima cantrik
yang berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun. Mereka tidak
berkeluarga. Kalau ada cantrik yang mau menikah, dia harus pindah ke rumah
lain, tidak diperkenankan tinggal di rumah itu. Lima orang cantrik ini selain
menjadi murid juga melayani segala kebutuhan sang empu, membersihkan rumah dan
pekarangan, mencuci, kerja di dapur. Selain mengajarkan masalah kerohanian
kepada para cantrik, sang empu juga sering memberi wejangan kepada penduduk
sehingga rata-rata para penduduk merupakan orang-orang yang memiliki pandangan
hidup yang luas dan bersikap bijaksana. Sebagai seorang pemimpin, Empu Bharada
dengan teguh menegakkan kebenaran dan keadilan, didasari kasih sayang antara
manusia. Tidak ragu untuk menghukum yang bersalah, selalu siap menolong yang
lemah dan mengekang yang kuat agar tidak bertindak sewenang-wenang. Karena itu,
sang empu disegani, dihormati dan juga dicinta oleh penduduk Lemah Citra.
Pada suatu pagi yang cerah. Matahari
pagi tersenyum memancarkan cahayanya yang keemasan dan hangat, membawa daya
hidup bagi semua yang berada di permukaan bumi. Orang-orang dusun Lemah Citra
sedang bekerja dengan tekun dan gembira. Kaum prianya tua muda bekerja di sawah
ladang sambil bertembang tanda bahwa mereka bekerja dengan hati senang. Empu
Bharada selalu menasihati mereka bahwa hidup itu bergerak dan gerakan yang
paling baik dan bermanfaat adalah bekerja.
"Apapun yang kalian lakukan
dalam kehidupan ini, lakukanlah dengan hati penuh cinta terhadap apa yang
kalian lakukan. Dengan demikian kalian dapat menikmati hidup kalian dan akan
ternyata bahwa hidup ini sesungguhnya indah."
Demikian antara lain sang empu
memberi wejangan. Karena itu, mereka yang bekerja di sawah ladang pagi itu
bekerja dengan wajah ceria dan bertembang karena bekerja merupakan kesenangan
bagi mereka. Sebagian wanita membantu di ladang. Sebagian lagi bekerja di
dapur, membuat masakan untuk mereka yang bekerja di sawah ladang, mencuci
pakaian, memelihara anak-anak yang masih kecil. Anak-anak bermain main di
pelataran. Pekik dan tawa mereka menyaingi kicau burung-burung. Mereka diawasi
kakek atau nenek mereka yang sudah terlalu tua dan terlalu lemah untuk bekerja
di sawah ladang. Mereka semua mendapat kenyataan akan kebenaran wejangan sang
empu. Mereka mencintai pekerjaan mereka dan menganggap bahwa setiap pekerjaan
merupakan ibadah kepada Sang Hyang Widhi seperti yang dikatakan Empu Bharada.
Pagi itu, setelah melakukan samadhi
sejak fajar tadi, Empu Bharada duduk di pendopo rumahnya, menikmati keindahan
pagi yang cerah itu sambil mendengarkan kicau beberapa ekor burung kutilang
yang beterbangan dari dahan ke dahan pohon sawo yang tumbuh subur di pelataran
rumahnya. Empu Bharada yang berusia kurang lebih empat puluh lima tahun ini
bertubuh tinggi kurus, wajahnya dihiasi jenggot panjang, sepasang matanya yang
cekung itu lembut berwibawa, mulutnya selalu tersenyum penuh pengertian.
Tubuhnya tinggi kurus, memakai jubah yang panjang dan lebar. Empu Bharada ini
adalah seorang sakti mandraguna, masih terhitung adik seperguruan dari mendiang
Empu Dewamurti yang tewas dikeroyok Resi Bajrasakti datuk Wengker, Ratu Mayang
Gupita dari kerajaan Siluman Laut Kidul, dan tiga bersaudara Tri Kala para
jagoan kerajaan Wura-wari. Tiba-tiba Empu Bharada mendengar kicau burung
prenjak di atas pohon jambu yang tumbuh di sebelah kanan dalam pekarangan depan
itu. Dia mendengarkan, termenung sejenak dan tersenyum. Kebetulan seorang cantriknya
bernama Dwipo datang mengantarkan minuman untuk sang empu. Setelah cantrik itu
menaruh cangkir minuman air teh ke atas meja kecil di depan sang empu dan dia
hendak mengundurkan diri, Empu Bharada berkata,
"Eh, Dwipo, cepat kau
persiapkan minuman air teh yang cukup untuk disuguhkan tamu, dan godok ubi-ubi
merah yang manis itu."
"Baik, bapa empu." jawab
Dwipo yang memberi hormat lalu cepat masuk kedalam untuk melaksanakan perintah
gurunya. Dia tidak merasa heran melihat betapa gurunya dapat mengetahui lebih
dulu bahwa akan ada tamu datang berkunjung.
Tepat pada saat pesan sang empu
kepada Dwipo itu terlaksana dan ubi ubi merah itu telah matang, muncullah
seorang laki-laki di pekarangan rumah Empu Bharada. Laki-laki itu berusia
sekitar lima puluh tahun, tubuhnya sedang saja dan pakaiannya sederhana bahkan
sembarangan, agak kedodoran namun cukup bersih. Kuku jari tangannya panjang,
rambutnya juga panjang. Ada kesan sembarangan dan tidak perdulian akan keadaan
dirinya. Namun sinar matanya terang dan jernih, sedangkan senyum di bibirnya
penuh pengertian. Biarpun tampaknya seperti orang biasa saja yang sederhana
tanpa arti, namun sesungguhnya orang ini bukan orang sembarangan. Dia adalah
Empu Kanwa, seorang ahli sastra, seorang sastrawan besar yang dihormati oleh
Sang Prabu Erlangga sendiri karena keahliannya itu dan karena kebijaksanaannya.
Sudah lama Empu Kanwa menjadi sahabat baik Empu Bharada walaupun keadaan diri
mereka jauh berbeda. Empu Kanwa adalah seorang sastrawan yang tidak menyukai
kekerasan, seorang yang tubuhnya lemah seperti orang biasa, sebaliknya Empu
Bharada adalah seorang yang sakti mandraguna. Mereka saling mengagumi. Empu
Kanwa mengagumi kesaktian Empu Bharada, sebaliknya Empu Bharada mengagumi Empu
Kanwa karena kecemerlangannya dalam perbincangan tentang kehidupan. Ketika Empu
Kanwa tiba di pendopo Empu Bharada menyambut dengan wajah girang. Mereka saling
berpelukan dengan senyum yang penuh kegembiraan.
"Pantas pagi tadi burung
prenjak berkicau riang mengisyaratkan datangnya seorang tamu penting! Kiranya
andika yang datang berkunjung! Selamat datang, Kakang Kanwa!" kata Empu
Bharada.
Empu Kanwa menepuk-nepuk pundak tuan
rumah sambil tertawa.
"Ha-ha-ha, bagi seorang
bijaksana seperti andika, alam ini bagaikan sebuah kitab terbuka lebar, membuka
semua rahasia peristiwa yang akan terjadi. Bagaimana, Adi Bharada, selama ini
andika baik-baik saja, bukan?"
"Baik-baik, terima kasih atas
doa restumu, Kakang Kanwa. Mari, mari silakan duduk!" Empu Bharada
menggandeng lengan Empu Kanwa dan diajaknya duduk di ruangan dalam, duduk di
atas lantai beralaskan tikar halus menghadapi sebuah meja pendek.
Pada saat itu, Dwipo keluar
menyuguhkan ubi yang masih mengepulkan uap dan sepoci air teh dengan
cangkirnya. Mereka bercakap-cakap, saling menanyakan keadaan masing-masing
selama mereka tak jumpa. Sudah setengah tahun lebih mereka tidak pernah
berjumpa karena Empu Kanwa adalah seorang yang suka berkelana seorang diri,
tidak terikat keluarga, harta benda, atau apapun juga. Dari ruangan itu, mereka
dapat melihat keadaan di taman sebelah rumah itu melalui jendela yang terbuka
lebar. Sinar matahari pagi tampak menerobos antara celah-celah daun pohon dan
beberapa ekor burung yang masih bermalas-malasan meninggalkan pohon, mandi
sinar matahari sambil menyisiri bulu dengan paruh mereka sambil bercowetan
saling menegur. Beberapa ekor kupu-kupu dengan sayapnya yang indah beterbangan
di antara bunga-bunga mawar yang beraneka warna.
"Lihat, Kakang Kanwa, alangkah
indahnya pagi ini. Kedatangan andika menambah keindahan hari ini!" kata
Empu Bharada, sengaja memancing tanggapan Empu Kanwa atas pendapatnya itu. Dia
selalu kagum akan gagasan-gagasan yang cemerlang dan baru dari sahabatnya itu
dan dapat banyak memetik buahnya yang dapat memperluas pengertiannya tentang
kehidupan ini.
No comments:
Post a Comment