Bagian 27


Dia sudah pula dapat cepat menekan gejolak nafsu yang ingin mendapatkan Lasmini yang cantik jelita menggairahkan itu. Dia teringat siapa Narotama, seorang yang amat dekat dengan hatinya, kawan seperjuangan, pembantunya sejak dahulu yang amat setia. Ditolaknya bujukan nafsu berahi itu dan dia sudah dapat menguasai dirinya. Dia tersenyum dan mengelus rambut kepala Mandari.
"Tidak, Mandari wong ayu. Lasmini telah menjadi milik Kakang Narotama. Aku tidak berhak merampasnya, bahkan tidak berhak membayangkan wajahnya dan kecantikannya. Hubunganku dengan Kakang Narotama tidak dapat dinilai harganya, tidak mungkin menjadi retak dan terganggu hanya karena seorang wanita. Pula, aku sudah memiliki engkau dan aku tidak menginginkan wanita lain. Biarlah Lasmini tetap menjadi selir Kakang Narotama."

Dapat dibayangkan betapa kecewa dan sebal hati Mandari mendengar ucapan Sang Prabu Erlangga ini. Pria ini ternyata memiliki keteguhan hati seperti gunung karang! la menangis dan mengeluh.
"Duhai sinuwun pujaan hamba..... kalau begitu paduka tidak cinta lagi kepada hamba....." Ia terisak-isak dan menangis di atas pangkuan Sang Prabu Erlangga.
Sang Prabu Erlangga tersenyum dan mengangkat bangun selirnya sehingga Mandari dipaksa duduk di sampingnya, ditepi pembaringan.
"Kenapa engkau berkata demikian, yayi? Justeru penolakanku ini sebagian adalah karena sayang dan cintaku kepadamu. Aku tidak ingin ada wanita lain lagi yang berada di sampingku selain engkau dan permaisuri serta selir yang sudah ada. Aku tidak ingin mengambil selir lain lagi."
"Akan tetapi hamba merasa kasihan kepada Mbakayu Lasmini, hamba ingin menolongnya dan membahagiakannya. Kalau paduka memenuhi permintaan hamba dan mengambilnya sebagai garwo ampil (selir), hamba akan merasa bahagia, sebaliknya kalau paduka menolak, hamba akan merasa berduka. Apakah paduka tidak kasihan kepada hamba?"
"Mandari, selirku terkasih. Ketahuilah, cinta tidak berarti harus memenuhi semua permintaan orang yang dicintai Sama sekali tidak. Cinta bahkan harus menolak permintaan orang yang dicintai kalau permintaan itu tidak benar, berarti menyadarkan orang yang dicinta dan kekeliruan. Kalau menuruti saja permintaan yang keliru dari orang yang dicintai hal itu berarti malah mendorongnya ke dalam jurang. Dan ketahuilah bahwa permintaanmu sekali ini adalah keliru tidak benar sama sekali. Kakang Narotama adalah tulang punggung Kerajaan Kahuripan. Apakah aku harus mematahkan tulang punggung itu hanya demi merampas seorang wanita cantik dari tangan pria yang berhak memilikinya? Tidak, wong ayu, sekali lagi tidak!"

Dalam ucapan Sang Prabu itu terdengar suara yang mengandung keyakinan dan kepastian yang tidak mungkin dapat diubah pula dan Mandari tahu akan hal ini, maka iapun tidak berani membujuk lagi, takut kalau-kalau Sang Prabu Erlangga menjadi curiga kepadanya. Beberapa hari kemudian, Sang Prabu Erlangga terkejut ketika Ki Patih Narotama datang berkunjung dan mohon menghadap tidak pada hari paseban (menghadap raja). Dan kedatangan Ki Patih Narotama ini bersama Lasmini yang berdandan rapi sehingga tampak cantik jelita seperti bidadari! Maklum bahwa Narotama tentu mempunyai urusan penting untuk dibicarakan, maka Sang Prabu Erlangga menerima patihnya bersama Lasmini dalam sebuah ruangan tertutup tanpa dihadiri orang lain, bahkan Mandari sendiripun tidak diperkenankan ikut menyambut.
Setelah dipersilakan duduk, Sang Prabu Erlangga berkata sambil tersenyum.
"Wahai, Kakang Narotama, andika dating berkunjung bukan pada hari paseban, tentu ada urusan yang teramat penting. Dan andika mengajak pula selir andika Lasmini, ada urusan apakah gerangan, Kakang Narotama?"
Sang Prabu mengerling ke arah Lasmini yang menundukkan mukanya dan harus dia akui bahwa wanita itu memang cantik luar biasa. Hanya Mandari saja yang dapat menandingi kecantikan itu.
"Ampun beribu ampun, gusti sinuwun. Kedatangan hamba menghadap paduka tanpa dipanggil ini adalah untuk menghaturkan Lasmini kepada paduka."
Sang Prabu Erlangga memandang patihnya dengan mata terbelalak penuh keheranan.
"Menghaturkan Lasmini kepadaku? Apa maksudmu, Kakang Narotama?"
"Apabila paduka berkenan menghendaki untuk mengambil Lasmini sebagai garwo ampil, silakan, gusti. Hamba menyerahkannya dengan kedua tangan terbuka dan hati serela-relanya."
"Duh Jagad Dewa Bathara! Serendah itukah penilaianmu terhadap diriku? Aku bukan perusak pagar ayu, aku tidak akan merampas isteri orang lain, apa lagi isterimu, kakang, Bawalah garwamu pulang dan jangan berpikir yang bukan bukan! Heh, Lasmini, andika bersuamikan seorang ksatria yang arif bijaksana. Pulanglah bersama dia dan hiduplah bahagia disampingnya sebagai seorang isteri yang setia. Nah, pulanglah kalian!"

Dalam kalimat terakhir ini terkandung perintah tegas sehingga Ki Patih Narotama tidak berani membantah lagi. Setelah berpamit dan mohon diri dia lalu mengajak Lasmini pulang dengan hati yang lega dan tenang. Kalau benar Sang Prabu Erlangga tertarik dan mencintai Lasmini, hal itu tidaklah aneh. Selirnya itu memang memiliki kecantikan luar biasa sehingga kalau ada dewa sekalipun yang jatuh cinta padanya, dia tidak akan merasa heran. Sang Prabu Erlangga sebagai seorang pria boleh jadi terpikat dan jatuh cinta kepada Lasmini, namun dia percaya sepenuhnya bahwa Sang Prabu Erlangga tidak akan sedemikian sesat untuk mengganggu isteri orang lain. Dari semula dia sudah menduga begitu, maka diapun sengaja mengajak Lasmini menghadap dan menyerahkan Lasmini kepada Sang Prabu Erlangga. Dan, seperti memang sudah diduganya, Sang Prabu Erlangga menolak keras! Maka timbul perasaan terima kasih dan bangga kepada rajanya yang membuat dia semakin kagum, memuja dan setia kepada junjungannya yang juga merupakan sahabat dan saudara seperguruannya itu. Sebaliknya, Lasmini dan Mandiri yang diam-diam menyumpah-serapah, kecewa dan marah bukan main melihat betapa siasat mereka berdua itu gagal sama sekali. Hasilnya bukan mengadu domba dan memecah belah, bahkan membuat hubungan antara raja dan patihnya itu menjadi semakin kuat. Akan tetapi dua orang kakak beradik yang cantik jelita dan cerdik sekali ini tidak memperlihatkan perasaan mereka di depan suami masing-masing, bahkan berusaha sekuat tenaga untuk semakin memikat suami mereka sehingga mereka berdua semakin disayang. Mereka bagaikan dua ekor harimau yang tampak jinak menyenangkan, akan tetapi yang diam-diam menanti saat dan kesempatan baik untuk menerkam dan membinasakan!

Tanah perdikan Lemah Citra merupakan sebidang tanah yang subur di daerah perbukitan. Tanah perdikan ini cukup luas, dihuni oleh sekitar seratus buah keluarga yang menjadi petani. Lemah Citra ini adalah milik Empu Bharada, pemberian Prabu Erlangga kepadanya. Setelah banyak keluarga menghuni Lemah Citra dengan persetujuan Empu Bharada sebagai pemiliknya, maka Lemah Citra menjadi sebuah pedusunan yang cukup aman, makmur dan penuh kedamaian. Dengan adanya Empu Bharada yang menjadi pemilik tanah sekaligus pimpinan, tidak ada orang berani berbuat jahat. Bahkan mereka yang tadinya mudah dipengaruhi dan dipermainkan nafsu sendiri, setelah tinggal di Lemah Citra dan sering mendengarkan sang empu memberi wejangan-wejangan, berubah menjadi seorang manusia yang bertaubat dan mengubah jalan hidupnya. Mereka bertani, bekerja keras dan bergotong royong dengan akrab sehingga mereka bagaikan keluarga besar, kalau ada hasil panen besar sama dinikmati, kalau ada kesulitan sama ditanggulangi, ada kesukaran sama dipikul. Empu Bharada tinggal di tengah dusun, di bagian tanah yang paling tinggi di puncak sebuah bukit kecil. Rumahnya terbuat dari kayu jati, cukup besar dan kokoh. Empu Bharada hidup membujang sejak muda, tinggal di dalam rumah itu, ditemani lima cantrik yang berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun. Mereka tidak berkeluarga. Kalau ada cantrik yang mau menikah, dia harus pindah ke rumah lain, tidak diperkenankan tinggal di rumah itu. Lima orang cantrik ini selain menjadi murid juga melayani segala kebutuhan sang empu, membersihkan rumah dan pekarangan, mencuci, kerja di dapur. Selain mengajarkan masalah kerohanian kepada para cantrik, sang empu juga sering memberi wejangan kepada penduduk sehingga rata-rata para penduduk merupakan orang-orang yang memiliki pandangan hidup yang luas dan bersikap bijaksana. Sebagai seorang pemimpin, Empu Bharada dengan teguh menegakkan kebenaran dan keadilan, didasari kasih sayang antara manusia. Tidak ragu untuk menghukum yang bersalah, selalu siap menolong yang lemah dan mengekang yang kuat agar tidak bertindak sewenang-wenang. Karena itu, sang empu disegani, dihormati dan juga dicinta oleh penduduk Lemah Citra.

Pada suatu pagi yang cerah. Matahari pagi tersenyum memancarkan cahayanya yang keemasan dan hangat, membawa daya hidup bagi semua yang berada di permukaan bumi. Orang-orang dusun Lemah Citra sedang bekerja dengan tekun dan gembira. Kaum prianya tua muda bekerja di sawah ladang sambil bertembang tanda bahwa mereka bekerja dengan hati senang. Empu Bharada selalu menasihati mereka bahwa hidup itu bergerak dan gerakan yang paling baik dan bermanfaat adalah bekerja.
"Apapun yang kalian lakukan dalam kehidupan ini, lakukanlah dengan hati penuh cinta terhadap apa yang kalian lakukan. Dengan demikian kalian dapat menikmati hidup kalian dan akan ternyata bahwa hidup ini sesungguhnya indah."
Demikian antara lain sang empu memberi wejangan. Karena itu, mereka yang bekerja di sawah ladang pagi itu bekerja dengan wajah ceria dan bertembang karena bekerja merupakan kesenangan bagi mereka. Sebagian wanita membantu di ladang. Sebagian lagi bekerja di dapur, membuat masakan untuk mereka yang bekerja di sawah ladang, mencuci pakaian, memelihara anak-anak yang masih kecil. Anak-anak bermain main di pelataran. Pekik dan tawa mereka menyaingi kicau burung-burung. Mereka diawasi kakek atau nenek mereka yang sudah terlalu tua dan terlalu lemah untuk bekerja di sawah ladang. Mereka semua mendapat kenyataan akan kebenaran wejangan sang empu. Mereka mencintai pekerjaan mereka dan menganggap bahwa setiap pekerjaan merupakan ibadah kepada Sang Hyang Widhi seperti yang dikatakan Empu Bharada.

Pagi itu, setelah melakukan samadhi sejak fajar tadi, Empu Bharada duduk di pendopo rumahnya, menikmati keindahan pagi yang cerah itu sambil mendengarkan kicau beberapa ekor burung kutilang yang beterbangan dari dahan ke dahan pohon sawo yang tumbuh subur di pelataran rumahnya. Empu Bharada yang berusia kurang lebih empat puluh lima tahun ini bertubuh tinggi kurus, wajahnya dihiasi jenggot panjang, sepasang matanya yang cekung itu lembut berwibawa, mulutnya selalu tersenyum penuh pengertian. Tubuhnya tinggi kurus, memakai jubah yang panjang dan lebar. Empu Bharada ini adalah seorang sakti mandraguna, masih terhitung adik seperguruan dari mendiang Empu Dewamurti yang tewas dikeroyok Resi Bajrasakti datuk Wengker, Ratu Mayang Gupita dari kerajaan Siluman Laut Kidul, dan tiga bersaudara Tri Kala para jagoan kerajaan Wura-wari. Tiba-tiba Empu Bharada mendengar kicau burung prenjak di atas pohon jambu yang tumbuh di sebelah kanan dalam pekarangan depan itu. Dia mendengarkan, termenung sejenak dan tersenyum. Kebetulan seorang cantriknya bernama Dwipo datang mengantarkan minuman untuk sang empu. Setelah cantrik itu menaruh cangkir minuman air teh ke atas meja kecil di depan sang empu dan dia hendak mengundurkan diri, Empu Bharada berkata,
"Eh, Dwipo, cepat kau persiapkan minuman air teh yang cukup untuk disuguhkan tamu, dan godok ubi-ubi merah yang manis itu."
"Baik, bapa empu." jawab Dwipo yang memberi hormat lalu cepat masuk kedalam untuk melaksanakan perintah gurunya. Dia tidak merasa heran melihat betapa gurunya dapat mengetahui lebih dulu bahwa akan ada tamu datang berkunjung.

Tepat pada saat pesan sang empu kepada Dwipo itu terlaksana dan ubi ubi merah itu telah matang, muncullah seorang laki-laki di pekarangan rumah Empu Bharada. Laki-laki itu berusia sekitar lima puluh tahun, tubuhnya sedang saja dan pakaiannya sederhana bahkan sembarangan, agak kedodoran namun cukup bersih. Kuku jari tangannya panjang, rambutnya juga panjang. Ada kesan sembarangan dan tidak perdulian akan keadaan dirinya. Namun sinar matanya terang dan jernih, sedangkan senyum di bibirnya penuh pengertian. Biarpun tampaknya seperti orang biasa saja yang sederhana tanpa arti, namun sesungguhnya orang ini bukan orang sembarangan. Dia adalah Empu Kanwa, seorang ahli sastra, seorang sastrawan besar yang dihormati oleh Sang Prabu Erlangga sendiri karena keahliannya itu dan karena kebijaksanaannya. Sudah lama Empu Kanwa menjadi sahabat baik Empu Bharada walaupun keadaan diri mereka jauh berbeda. Empu Kanwa adalah seorang sastrawan yang tidak menyukai kekerasan, seorang yang tubuhnya lemah seperti orang biasa, sebaliknya Empu Bharada adalah seorang yang sakti mandraguna. Mereka saling mengagumi. Empu Kanwa mengagumi kesaktian Empu Bharada, sebaliknya Empu Bharada mengagumi Empu Kanwa karena kecemerlangannya dalam perbincangan tentang kehidupan. Ketika Empu Kanwa tiba di pendopo Empu Bharada menyambut dengan wajah girang. Mereka saling berpelukan dengan senyum yang penuh kegembiraan.
"Pantas pagi tadi burung prenjak berkicau riang mengisyaratkan datangnya seorang tamu penting! Kiranya andika yang datang berkunjung! Selamat datang, Kakang Kanwa!" kata Empu Bharada.
Empu Kanwa menepuk-nepuk pundak tuan rumah sambil tertawa.
"Ha-ha-ha, bagi seorang bijaksana seperti andika, alam ini bagaikan sebuah kitab terbuka lebar, membuka semua rahasia peristiwa yang akan terjadi. Bagaimana, Adi Bharada, selama ini andika baik-baik saja, bukan?"
"Baik-baik, terima kasih atas doa restumu, Kakang Kanwa. Mari, mari silakan duduk!" Empu Bharada menggandeng lengan Empu Kanwa dan diajaknya duduk di ruangan dalam, duduk di atas lantai beralaskan tikar halus menghadapi sebuah meja pendek.

Pada saat itu, Dwipo keluar menyuguhkan ubi yang masih mengepulkan uap dan sepoci air teh dengan cangkirnya. Mereka bercakap-cakap, saling menanyakan keadaan masing-masing selama mereka tak jumpa. Sudah setengah tahun lebih mereka tidak pernah berjumpa karena Empu Kanwa adalah seorang yang suka berkelana seorang diri, tidak terikat keluarga, harta benda, atau apapun juga. Dari ruangan itu, mereka dapat melihat keadaan di taman sebelah rumah itu melalui jendela yang terbuka lebar. Sinar matahari pagi tampak menerobos antara celah-celah daun pohon dan beberapa ekor burung yang masih bermalas-malasan meninggalkan pohon, mandi sinar matahari sambil menyisiri bulu dengan paruh mereka sambil bercowetan saling menegur. Beberapa ekor kupu-kupu dengan sayapnya yang indah beterbangan di antara bunga-bunga mawar yang beraneka warna.
"Lihat, Kakang Kanwa, alangkah indahnya pagi ini. Kedatangan andika menambah keindahan hari ini!" kata Empu Bharada, sengaja memancing tanggapan Empu Kanwa atas pendapatnya itu. Dia selalu kagum akan gagasan-gagasan yang cemerlang dan baru dari sahabatnya itu dan dapat banyak memetik buahnya yang dapat memperluas pengertiannya tentang kehidupan ini.

<<<Bagian 26                                                                                         Bagian 28 >>>

No comments:

Post a Comment