Bagian 26


Dan Sang Prabu Erlangga menjadi gelisah, mencari apa yang menjadi sebab, kesalahan apa yang dia lakukan sehingga akan timbul malapetaka itu. Bukankah ini gawat sekali?"
"Hemm ....., dan Sang Prabu Erlangga menceritakan semua itu kepadamu. Apakah dia amat percaya kepadamu! Mandari?"
"Tentu saja dia amat percaya kepadaku! Engkau tahu, mbakayu Lasmini, Sang Prabu Erlangga amat mengasihiku. Apa pun permintaanku tentu dituruti. Karena itu, mendengar tentang empu keparat itu, aku menjadi bingung dan gelisah. Aku sengaja minta ijin berkunjung ke sini untuk minta pendapatmu. Kita harus segera bertindak, mbakayu, sebelum empu keparat itu merusak rencana kita."
Lasmini mengangguk.
"Memang gawat, Ki Patih Narotama juga sudah terjerat olehku. Dia amat mencintaku. Akan tapi untuk melangkah selanjutnya dan mencoba membunuhnya, aku tidak berani. Dia sakti mandraguna dan kalau aku gagal membunuhnya, tentu aku akan celaka."
"Akupun tidak berani melakukan pembunuhan terhadap Sang Prabu Erlangga. Dia amat sakti mandraguna. Aku yakin kalau menggunakan jalan kekerasan kita tidak akan berhasil."
"Lalu bagaimana rencanamu?" tanya Lasmini.
"Aku memang mempunyai rencana baik sekali. Akan tetapi aku masih ragu, maka aku datang menemuimu karena siasat ini hanya dapat dilakukan oleh kita berdua." kata Mandari.
"Bagaimana rencana siasatmu itu?"
"Begini, mbakayu. Kita adu domba antara Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Sekarang ada kesempatan baik sekali bagiku. Sang Prabu Erlangga sedang mencari sebab mengapa Kahuripan akan dilanda malapetaka. Nah, aku akan mengatakan bahwa hal ini disebabkan ulah Ki Patih Narotama!"
"Eh? Disebabkan Ki Patih Narotama? Bagaimana ini? Apa maksudmu?" Tanya Lasmini heran.
"Aku akan mengatakan kepada Sang Prabu Erlangga bahwa sebetulnya dahulu ketika Sang Prabu Erlangga meminang kita, engkau sudah setuju dan bahwa sebetulnya engkau diam-diam mencintai dan mengagumi Sang Prabu Erlangga. Akan tetapi di tengah perjalanan, Ki Patih Narotama yang berpura-pura mengobatimu, telah menelanjangimu, melihati dan meraba-raba perut dan pusarmu. Akan kukatakan bahwa sampai sekarangpun sebetulnya engkau masih mencinta Sang Prabu Erlangga dan hanya mau menjadi selir Ki Patih Narotama karena terpaksa."
"Hemm, apakah Sang Prabu Erlangga akan percaya?" Tanya Lasmini ragu.
"Kalau aku yang bilang, tanggung dia percaya. Aku akan membujuknya agar dia minta kepada Ki Patih Narotama agar menyerahkan engkau kepadanya. Nah, dia tentu akan tergerak hatinya dan menuruti permintaanku agar engkau diboyong ke istana untuk menjadi selirnya dan berdekatan denganku."
"Akan tetapi, bagaimana kalau Ki Patih Narotama yang setia itu menyerahkan aku kepada Sang Prabu Erlangga dengan suka rela? Bukankah itu berarti bahwa siasatmu itu sia-sia belaka? Apa untungnya? Kau tahu, Ki Patih Narotama adalah seorang laki-laki yang amat menyenangkan dan membahagiakan hatiku. Dia jantan, lembut, pendeknya aku jatuh cinta kepadanya!" Lasmini tersenyum nanis dan melanjutkan,
"Kalau hasil siasatmu itu hanya memindahkan aku dari tangan Ki Patih Narotama ke tangan Sang Prabu Erlangga, aku tidak mau. Aku sudah terlanjur cinta kepada Ki Patih Narotama!"
"Mbakayu Lasmini! Apa engkau sudah lupa akan tugas kita? Aku sendiripun sudah menikmati hidup bahagia dengan Sang Prabu Erlangga! Akan tetapi kita tidak boleh melupakan dendam turun-temurun kita terhadap keturunan Mataram, terutama kepada Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama!"
"Aku tidak pernah melupakan hal itu, Adi Mandari. Akan tetapi kalau hanya memindahkan aku dari kepatihan ke istana, apa untungnya?"
"Aku belum selesai menceritakan siasatku. Engkau harus membantu. Engkau katakan kepada Ki Patih Narotama bahwa engkau mendengar dariku kalau Sang Prabu Erlangga itu sebetulnya menaksirmu, dan sampai sekarang masih ingin mengambilmu dari tangan Ki Patih Narotama. Pendeknya, bakarlah hatinya agar dia menjadi cemburu. Nah, dengan kecemburuan itu, mungkin dia akan menolak permintaan Sang Prabu Erlangga. Andaikata dia tetap menyerahkanmu maka giliranmu untuk melaporkan kepada Sang Prabu Erlangga bahwa sesungguhnya Ki Patih Narotama membenci rajanya bahwa kebaikan sikapnya itu hanya pada lahirnya saja, namun di dalam hatinya Ki Patih Narotama penuh iri dan dia akan mengadakan pemberontakan terhadap Sang Prabu Erlangga. Nah, dengan usaha kita berdua ini, mustahil tidak timbul kemarahan dan kebencian dalam hati mereka, saling curiga, saling marah dan membenci sehingga akhirnya terpecah belah."
Lasmini mengangguk-angguk.
"Wah, siasatmu ini hebat sekali, adikku. Baiklah, aku akan berusaha agar Ki Patih Narotama marah kepada Sang Prabu Erlangga."

Mandari menghela napas panjang.
“Terus terang saja, usaha kita ini penuh resiko, penuh bahaya. Kita sudah terlanjur mencinta pria yang menjadi suami kita, akan tetapi di samping itu kita berkewajiban untuk mencelakakan mereka atau bahkan membunuh mereka. Akan tetapi, kita tak boleh melupakan bahwa mereka itu sesungguhnya adalah musuh bebuyutan kita!"
"Engkau benar, adikku. Akan tetapi, untuk mencari kesenangan bagi diri kita sendiri, masih ada banyak waktu dan dimana-mana terdapat laki-laki yang tampan dan gagah, yang akan dapat memberi kenikmatan dan kesenangan kepada kita."
"Akan tetapi biarpun kita sudah sepakat untuk mengatur siasat mengadu domba antara raja dan patihnya itu, hatiku masih gelisah memikirkan tentang mpu brengsek itu, mbakayu. Dia tetap merupakan ancaman besar bagi kita. Agaknya, entah bagaimana, dia itu sudah dapat mengetahui bahwa kehadiran kita berdua di Kahuripan menyembunyikan niat-niat yang akan merugikan Kahuripan."
"Memang, kita harus bertindak sekarang juga, Mandari. Karena itu, selagi engkau berada di sini, mari kita mengunjungi Ibu Ratu di Parang Siluman. Kita rundingkan tentang Empu Bharada ini dengan Ibu Ratu. Biarlah ia dan Uwa Nagakumala yang mengatur untuk menyingkirkan empu keparat itu. Aku akan minta ijin Ki Patih, dan kita pergi bersama."

Demikianlah, setelah minta ijin kepada Ki Patih Narotama bahwa ia dan adiknya akan pergi berkunjung kepada ibu mereka di Parang Siluman dan Patih Narotama mengijinkannya, Lasmini dan Mandari naik kereta dan berangkat ke Kerajaan Parang Siluman di pantai Laut Kidul. Mereka bertemu dengan Ratu Durgamala yang biarpun usianya sudah empatpuluh tahun akan tetapi masih tampak muda dan cantik jelita, tak ubahnya seperti saudara saja dari kedua orang puterinya itu. Di sini siasat mereka diatur lebih matang lagi dan karena kebetulan Ki Nagakumala juga berada di situ, maka ibu dan uwa mereka menyanggupi untuk "membereskan" Empu Bharada. Setelah semua siasat diatur rapi, Lasmini dan Mandari kembali ke Kahuripan. Mandari menuju ke istana Raja Erlangga sedangkan Lasmini kembali ke kepatihan. Ketika Lasmini memasuki gedung kepatihan dan tiba di ruangan dalam, ia melihat suaminya duduk seorang diri sambil membaca Kitab Weda. Lasmini pura-pura tidak melihat dan terus menlangkah sambil menundukkan mukanya ke arah kamarnya. Ki patih Narotama melihat sikap selirnya terkasih ini dan dia menjadi heran. Biasanya Lasmini bersikap penuh hormat, manja dan ramah kepadanya, akan tetapi sekali ini Lasmini seolah olah tidak melihatnya dan memasuki kamar dengan kepala menunduk dan wajahnya yang muram. Maka dia cepat menyimpan kitabnya dan bergegas mengejar ke dalam kamar selirnya, sebuah kamar yang mewah, bersih dan berharum bunga mawar dan melati, bunga kesayangan selirnya. Dia melihat Lasmini duduk di tepi pembaringan dan menundukkan mukanya dengan lesu. Narotama cepat menghampiri selirnya duduk di sisinya dan merangkul leher yang berkulit putih mulus itu. Dicium pelipis Lasmini.
"Yayi, apakah yang terjadi? Mengapa engkau bermuram durja setelah engkau kembali dari Parang Siluman bersama adikmu yayi Mandari?"
"Duh kakangmas..... bagaimana harus saya katakan? Saya..... saya tidak berani..... saya khawatir akan membuat kakangmas..... bingung dan susah....ahh, sungguh tidak sangka, hidup saya akan menghadapi penderitaan seperti ini....." Lasmini sesenggukan dan ketika Narotama merangkul, ia menyembunyikan mukanya di dada suaminya itu dan air matanya membasahi kulit dada Narotama.
"Tenanglah, yayi Lasmini. Tenangkan hatimu dan katakana saja, apa yang mengganggu pikiranmu itu? Percayalah, aku tidak akan marah, juga tidak akan bingung atau susah. Masih ragukah engkau bahwa aku sungguh mencintamu?"
"Aduh kakangmas..... justru karena itulah, justeru karena saya tahu betapa kakangmas amat mencintaku dan saya juga mencinta kakangmas dengan seluruh jiwa raga, maka hal ini menjadi semakin merisaukan hati saya ....."

Ki Patih Narotama mengangkat muka Lasmini dari dadanya, menciumi muka yang cantik jelita itu dengan penuh kasih sayang lalu berkata lembut,
"Hayo ceritakanlah dan jangan membuat hatiku menjadi penasaran, Lasmini."
"Baiklah, kakangmas, akan tetapi sebelumnya saya mohon beribu maaf. Saya mendengar laporan adik saya Mandari..... akan tetapi ia pesan wanti wanti kepada saya agar saya tidak menceritakannya kepada siapapun juga terutama tidak kepada kakangmas ....."
"Sudahlah, ceritakan saja padaku, kekasihku tersayang!"
"Begini, kakangmas. Menurut cerita adik saya bahwa..... bahwa Sang Prabu Erlangga sejak dulu..... menaksir diriku dan bahkan sampai sekarangpun masih sering membicarakannya dengan Mandari bahwa beliau..... hendak mengambil saya dari tanganmu, kakangmas..... Ahh, saya..... saya khawatir sekali, kakangmas."
Narotama terkejut dan merasa terpukul hatinya. Dia menatap wajah yang menunduk lesu itu dan bertanya,
"Hemmmn benarkah itu, Lasmini?"
"Kakangrnas, Mandari adalah adik saya yang sayang dan setia kepada saya, ia tidak akan berani berbohong. Saya percaya sepenuhnya kepadanya. Bagaimana, kakangmas? Saya..... takut”

Lasmini merangkul Narotama dan menangis lagi. Narotama juga merangkul kekasihnya dan mengelus rambut kepalanya. Dia diam saja dan pikirannya menjadi kacau. Dia memang amat terpikat oleh selirnya ini, terpikat oleh kecantikannya dan terutama oleh sikapnya yang tampaknya begitu mesra dan penuh cinta kepadanya. Mungkinkah dia dapat memisahkan ikatan cintanya dengan Lasmini dan menyerahkannya kepada Sang Prabu Erlangga? Akan tetapi, dia juga terikat kesetiaannya kepada sang raja. Jangankan baru menyerahkan selir, biarpun menyerahkan nyawanya dia akan rela untuk memenuhi permintaan junjungannya itu. Perasaan hatinya terpecah dua dan berulang-ulang dia menghela napas panjang.
Melihat ini, Lasmini lalu merangkul lagi dan menciumi muka suaminya.
"Duh kakangmas, ampunilah saya..... saya telah membuat paduka menjadi gelisah dan berduka ....."
Dengan pengerahan seluruh daya tariknya untuk memikat hati Narotama, Lasmini lalu menghibur dan untuk sementara memang hati Narotama terhibur dan larut dalam kemesraan. Sementara itu, di istana Sang Prabu Erlangga, Mandari juga segera menjalankan siasatnya. Setelah ia berada berdua dalam kamarnya bersama Sang Prabu Erlangga, dengan muka cemberut ia berkata kepada raja itu.
"Sinuwun, hamba kira sekarang hamba telah menemukan apa yang menjadi sebab sehingga Kahuripan terancam bahaya seperti yang digambarkan oleh Paman Empu Bharada."
Sang Prabu Erlangga tercengang,
"Jagad Dewa Bathara! Benarkah itu, yayi? Engkau baru saja pulang dari kepatihan dan dan Parang Siluman, bagaimana bisa mendapatkan sebab yang sedang kucari itu?"
"Justeru di kepatihan hamba menemukan penyebab itu, sinuwun sesembahan hamba."
"Aneh sekali engkau ini, Mandari. Penyebab malapetaka yang diramalkan itu berada di kepatihan? Bagaimana itu? Apa yang kau maksudkan?"
"Begini sesungguhnya, sinuwun. Akan tetapi sebelum hamba menceritakan! hamba mohon beribu ampun apabila cerita hamba ini mendatangkan perasaan tidak senang dalam hati paduka."

Sang Prabu Erlangga tersenyum.
"Ceritakanlah dan jangan khawatir, aku tidak akan marah kepadamu kalau engkau menceritakan keadaan yang sebenarnya."
"Begini, sinuwun. Hal ini mengenai diri Mbakayu Lasmini dan Ki Patih Narotama." Mandari berhenti lagi seolah merasa ragu dan takut untuk melanjutkan.
"Eh? Ada apa dengan Lasmini dan Kakang Narotama?"
"Terus terang saja, ketika dahulu paduka meminang Mbakayu Lasmini dan hamba melalui Ki Patih, Mbakayu Lasmini menyambut dengan penuh suka cita dan serta merta menerima pinangan paduka karena memang sejak remaja Mbakayu Lasmini sudah mengagumi dan memuja-muja nama paduka. Mbakayu Lasmini ingin sekali mengabdi dan menghambakan diri kepada paduka. Hal ini ia ceritakan kepada hamba ketika hamba berdua berangkat dengan kereta menuju Kahuripan. Akan tetapi di tengah perjalanan, ketika Mbakayu Lasmini menderita sakit perut, Ki Patih Narotama menggunakan alasan mengobati telah menelanjangi dan meraba perut dan pusar Mbakayu Lasmini ....." Mandari berhenti lagi.
"Hemm, kalau ia memang mengharapkan menjadi selirku, kenapa ia menolakku dan memilih menjadi selir Kakang Patih Narotama?"
"Itulah, sinuwun. Mbakayu Lasmini merasa bahwa ia akan menanggung aib kalau tidak bersuamikan Ki Patih, karena pria itu telah melihat dan meraba perut dan pusarnya. Ketika hamba bertemu dengannya, ia mengaku bahwa sampai sekarang ia masih mencinta, mengagumi dan memuja paduka dan bahwa hidupnya sebagai selir Ki Patih Narotama tidak membahagiakan hatinya. Agaknya dahulu itu Ki Patih Narotama sengaja menelanjanginya dengan pamrih agar kakak hamba itu tidak mau diperisteri paduka karena malu. Ah, sinuwun, hamba mohon tolonglah Mbakayu Lasmini. Biarkanlah menjadi selir paduka dan hidup berbahagia di sini bersama hamba. Hamba yakin bahwa Mbakayu Lasmini akan menambah kebahagiaan paduka, sinuwun."

Sang Prabu Erlangga adalah seorang yang sakti mandraguna dan juga bijaksana, akan tetapi sesuai dengan kenyataan bahwa tidak ada manusia yang sempurna tanpa cacat, diapun hanyalah seorang manusia. Tiada yang sempurna di alam maya pada ini kecuali Sang Hyang Widhi Wasa, Yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna. Manusia, betapapun kecilnya, pasti memiliki kelemahan. Dan Sang Prabu Erlangga, seperti juga Sang Arjuna, tokoh yang dikaguminya, juga memiliki satu kelemahan, yaitu terhadap wanita. Mendengar keterangan Mandari bahwa Lasmini sejak dulu sampai sekarang memuja dan mencintanya, dan hanya karena ulah Narotama yang licik maka gadis yang cantik jelita itu kini menjadi selir Narotama, hati Sang Prabu Erlangga tergerak. Kalau begitu, dialah yang berhak mempersunting gadis itu. Pikiran ini menyambar bagaikan kilat di dalam benaknya. Walaupun memiliki kelemahan terhadap wanita cantik, namun seorang yang bijaksana seperti Sang Prabu Erlangga tidaklah diperbudak oleh nafsunya. Bujukan nafsu itu hanya sekilas.

<<<Bagian 25                                                                                          Bagian 27 >>>

No comments:

Post a Comment