Dan Sang Prabu Erlangga menjadi gelisah, mencari apa yang menjadi sebab, kesalahan apa yang dia lakukan sehingga akan timbul malapetaka itu. Bukankah ini gawat sekali?"
"Hemm ....., dan Sang Prabu
Erlangga menceritakan semua itu kepadamu. Apakah dia amat percaya kepadamu!
Mandari?"
"Tentu saja dia amat percaya
kepadaku! Engkau tahu, mbakayu Lasmini, Sang Prabu Erlangga amat mengasihiku.
Apa pun permintaanku tentu dituruti. Karena itu, mendengar tentang empu keparat
itu, aku menjadi bingung dan gelisah. Aku sengaja minta ijin berkunjung ke sini
untuk minta pendapatmu. Kita harus segera bertindak, mbakayu, sebelum empu
keparat itu merusak rencana kita."
Lasmini mengangguk.
"Memang gawat, Ki Patih
Narotama juga sudah terjerat olehku. Dia amat mencintaku. Akan tapi untuk
melangkah selanjutnya dan mencoba membunuhnya, aku tidak berani. Dia sakti
mandraguna dan kalau aku gagal membunuhnya, tentu aku akan celaka."
"Akupun tidak berani melakukan
pembunuhan terhadap Sang Prabu Erlangga. Dia amat sakti mandraguna. Aku yakin
kalau menggunakan jalan kekerasan kita tidak akan berhasil."
"Lalu bagaimana
rencanamu?" tanya Lasmini.
"Aku memang mempunyai rencana baik
sekali. Akan tetapi aku masih ragu, maka aku datang menemuimu karena siasat ini
hanya dapat dilakukan oleh kita berdua." kata Mandari.
"Bagaimana rencana siasatmu
itu?"
"Begini, mbakayu. Kita adu
domba antara Sang Prabu Erlangga dan Ki Patih Narotama. Sekarang ada kesempatan
baik sekali bagiku. Sang Prabu Erlangga sedang mencari sebab mengapa Kahuripan
akan dilanda malapetaka. Nah, aku akan mengatakan bahwa hal ini disebabkan ulah
Ki Patih Narotama!"
"Eh? Disebabkan Ki Patih
Narotama? Bagaimana ini? Apa maksudmu?" Tanya Lasmini heran.
"Aku akan mengatakan kepada
Sang Prabu Erlangga bahwa sebetulnya dahulu ketika Sang Prabu Erlangga meminang
kita, engkau sudah setuju dan bahwa sebetulnya engkau diam-diam mencintai dan
mengagumi Sang Prabu Erlangga. Akan tetapi di tengah perjalanan, Ki Patih
Narotama yang berpura-pura mengobatimu, telah menelanjangimu, melihati dan
meraba-raba perut dan pusarmu. Akan kukatakan bahwa sampai sekarangpun
sebetulnya engkau masih mencinta Sang Prabu Erlangga dan hanya mau menjadi
selir Ki Patih Narotama karena terpaksa."
"Hemm, apakah Sang Prabu
Erlangga akan percaya?" Tanya Lasmini ragu.
"Kalau aku yang bilang,
tanggung dia percaya. Aku akan membujuknya agar dia minta kepada Ki Patih
Narotama agar menyerahkan engkau kepadanya. Nah, dia tentu akan tergerak
hatinya dan menuruti permintaanku agar engkau diboyong ke istana untuk menjadi
selirnya dan berdekatan denganku."
"Akan tetapi, bagaimana kalau
Ki Patih Narotama yang setia itu menyerahkan aku kepada Sang Prabu Erlangga
dengan suka rela? Bukankah itu berarti bahwa siasatmu itu sia-sia belaka? Apa
untungnya? Kau tahu, Ki Patih Narotama adalah seorang laki-laki yang amat
menyenangkan dan membahagiakan hatiku. Dia jantan, lembut, pendeknya aku jatuh
cinta kepadanya!" Lasmini tersenyum nanis dan melanjutkan,
"Kalau hasil siasatmu itu hanya
memindahkan aku dari tangan Ki Patih Narotama ke tangan Sang Prabu Erlangga,
aku tidak mau. Aku sudah terlanjur cinta kepada Ki Patih Narotama!"
"Mbakayu Lasmini! Apa engkau
sudah lupa akan tugas kita? Aku sendiripun sudah menikmati hidup bahagia dengan
Sang Prabu Erlangga! Akan tetapi kita tidak boleh melupakan dendam
turun-temurun kita terhadap keturunan Mataram, terutama kepada Sang Prabu
Erlangga dan Ki Patih Narotama!"
"Aku tidak pernah melupakan hal
itu, Adi Mandari. Akan tetapi kalau hanya memindahkan aku dari kepatihan ke
istana, apa untungnya?"
"Aku belum selesai menceritakan
siasatku. Engkau harus membantu. Engkau katakan kepada Ki Patih Narotama bahwa
engkau mendengar dariku kalau Sang Prabu Erlangga itu sebetulnya menaksirmu,
dan sampai sekarang masih ingin mengambilmu dari tangan Ki Patih Narotama.
Pendeknya, bakarlah hatinya agar dia menjadi cemburu. Nah, dengan kecemburuan
itu, mungkin dia akan menolak permintaan Sang Prabu Erlangga. Andaikata dia
tetap menyerahkanmu maka giliranmu untuk melaporkan kepada Sang Prabu Erlangga
bahwa sesungguhnya Ki Patih Narotama membenci rajanya bahwa kebaikan sikapnya
itu hanya pada lahirnya saja, namun di dalam hatinya Ki Patih Narotama penuh
iri dan dia akan mengadakan pemberontakan terhadap Sang Prabu Erlangga. Nah,
dengan usaha kita berdua ini, mustahil tidak timbul kemarahan dan kebencian
dalam hati mereka, saling curiga, saling marah dan membenci sehingga akhirnya
terpecah belah."
Lasmini mengangguk-angguk.
"Wah, siasatmu ini hebat
sekali, adikku. Baiklah, aku akan berusaha agar Ki Patih Narotama marah kepada
Sang Prabu Erlangga."
Mandari menghela napas panjang.
“Terus terang saja, usaha kita ini
penuh resiko, penuh bahaya. Kita sudah terlanjur mencinta pria yang menjadi
suami kita, akan tetapi di samping itu kita berkewajiban untuk mencelakakan
mereka atau bahkan membunuh mereka. Akan tetapi, kita tak boleh melupakan bahwa
mereka itu sesungguhnya adalah musuh bebuyutan kita!"
"Engkau benar, adikku. Akan
tetapi, untuk mencari kesenangan bagi diri kita sendiri, masih ada banyak waktu
dan dimana-mana terdapat laki-laki yang tampan dan gagah, yang akan dapat
memberi kenikmatan dan kesenangan kepada kita."
"Akan tetapi biarpun kita sudah
sepakat untuk mengatur siasat mengadu domba antara raja dan patihnya itu,
hatiku masih gelisah memikirkan tentang mpu brengsek itu, mbakayu. Dia tetap
merupakan ancaman besar bagi kita. Agaknya, entah bagaimana, dia itu sudah
dapat mengetahui bahwa kehadiran kita berdua di Kahuripan menyembunyikan
niat-niat yang akan merugikan Kahuripan."
"Memang, kita harus bertindak
sekarang juga, Mandari. Karena itu, selagi engkau berada di sini, mari kita
mengunjungi Ibu Ratu di Parang Siluman. Kita rundingkan tentang Empu Bharada
ini dengan Ibu Ratu. Biarlah ia dan Uwa Nagakumala yang mengatur untuk
menyingkirkan empu keparat itu. Aku akan minta ijin Ki Patih, dan kita pergi
bersama."
Demikianlah, setelah minta ijin
kepada Ki Patih Narotama bahwa ia dan adiknya akan pergi berkunjung kepada ibu
mereka di Parang Siluman dan Patih Narotama mengijinkannya, Lasmini dan Mandari
naik kereta dan berangkat ke Kerajaan Parang Siluman di pantai Laut Kidul.
Mereka bertemu dengan Ratu Durgamala yang biarpun usianya sudah empatpuluh
tahun akan tetapi masih tampak muda dan cantik jelita, tak ubahnya seperti
saudara saja dari kedua orang puterinya itu. Di sini siasat mereka diatur lebih
matang lagi dan karena kebetulan Ki Nagakumala juga berada di situ, maka ibu
dan uwa mereka menyanggupi untuk "membereskan" Empu Bharada. Setelah
semua siasat diatur rapi, Lasmini dan Mandari kembali ke Kahuripan. Mandari
menuju ke istana Raja Erlangga sedangkan Lasmini kembali ke kepatihan. Ketika
Lasmini memasuki gedung kepatihan dan tiba di ruangan dalam, ia melihat suaminya
duduk seorang diri sambil membaca Kitab Weda. Lasmini pura-pura tidak melihat
dan terus menlangkah sambil menundukkan mukanya ke arah kamarnya. Ki patih
Narotama melihat sikap selirnya terkasih ini dan dia menjadi heran. Biasanya
Lasmini bersikap penuh hormat, manja dan ramah kepadanya, akan tetapi sekali
ini Lasmini seolah olah tidak melihatnya dan memasuki kamar dengan kepala
menunduk dan wajahnya yang muram. Maka dia cepat menyimpan kitabnya dan
bergegas mengejar ke dalam kamar selirnya, sebuah kamar yang mewah, bersih dan
berharum bunga mawar dan melati, bunga kesayangan selirnya. Dia melihat Lasmini
duduk di tepi pembaringan dan menundukkan mukanya dengan lesu. Narotama cepat
menghampiri selirnya duduk di sisinya dan merangkul leher yang berkulit putih
mulus itu. Dicium pelipis Lasmini.
"Yayi, apakah yang terjadi?
Mengapa engkau bermuram durja setelah engkau kembali dari Parang Siluman
bersama adikmu yayi Mandari?"
"Duh kakangmas..... bagaimana
harus saya katakan? Saya..... saya tidak berani..... saya khawatir akan membuat
kakangmas..... bingung dan susah....ahh, sungguh tidak sangka, hidup saya akan
menghadapi penderitaan seperti ini....." Lasmini sesenggukan dan ketika
Narotama merangkul, ia menyembunyikan mukanya di dada suaminya itu dan air matanya
membasahi kulit dada Narotama.
"Tenanglah, yayi Lasmini.
Tenangkan hatimu dan katakana saja, apa yang mengganggu pikiranmu itu?
Percayalah, aku tidak akan marah, juga tidak akan bingung atau susah. Masih
ragukah engkau bahwa aku sungguh mencintamu?"
"Aduh kakangmas..... justru
karena itulah, justeru karena saya tahu betapa kakangmas amat mencintaku dan
saya juga mencinta kakangmas dengan seluruh jiwa raga, maka hal ini menjadi
semakin merisaukan hati saya ....."
Ki Patih Narotama mengangkat muka
Lasmini dari dadanya, menciumi muka yang cantik jelita itu dengan penuh kasih
sayang lalu berkata lembut,
"Hayo ceritakanlah dan jangan
membuat hatiku menjadi penasaran, Lasmini."
"Baiklah, kakangmas, akan
tetapi sebelumnya saya mohon beribu maaf. Saya mendengar laporan adik saya
Mandari..... akan tetapi ia pesan wanti wanti kepada saya agar saya tidak
menceritakannya kepada siapapun juga terutama tidak kepada kakangmas
....."
"Sudahlah, ceritakan saja
padaku, kekasihku tersayang!"
"Begini, kakangmas. Menurut cerita
adik saya bahwa..... bahwa Sang Prabu Erlangga sejak dulu..... menaksir diriku
dan bahkan sampai sekarangpun masih sering membicarakannya dengan Mandari bahwa
beliau..... hendak mengambil saya dari tanganmu, kakangmas..... Ahh, saya.....
saya khawatir sekali, kakangmas."
Narotama terkejut dan merasa
terpukul hatinya. Dia menatap wajah yang menunduk lesu itu dan bertanya,
"Hemmmn benarkah itu,
Lasmini?"
"Kakangrnas, Mandari adalah
adik saya yang sayang dan setia kepada saya, ia tidak akan berani berbohong.
Saya percaya sepenuhnya kepadanya. Bagaimana, kakangmas? Saya..... takut”
Lasmini merangkul Narotama dan
menangis lagi. Narotama juga merangkul kekasihnya dan mengelus rambut
kepalanya. Dia diam saja dan pikirannya menjadi kacau. Dia memang amat terpikat
oleh selirnya ini, terpikat oleh kecantikannya dan terutama oleh sikapnya yang
tampaknya begitu mesra dan penuh cinta kepadanya. Mungkinkah dia dapat
memisahkan ikatan cintanya dengan Lasmini dan menyerahkannya kepada Sang Prabu
Erlangga? Akan tetapi, dia juga terikat kesetiaannya kepada sang raja.
Jangankan baru menyerahkan selir, biarpun menyerahkan nyawanya dia akan rela
untuk memenuhi permintaan junjungannya itu. Perasaan hatinya terpecah dua dan
berulang-ulang dia menghela napas panjang.
Melihat ini, Lasmini lalu merangkul
lagi dan menciumi muka suaminya.
"Duh kakangmas, ampunilah
saya..... saya telah membuat paduka menjadi gelisah dan berduka ....."
Dengan pengerahan seluruh daya
tariknya untuk memikat hati Narotama, Lasmini lalu menghibur dan untuk
sementara memang hati Narotama terhibur dan larut dalam kemesraan. Sementara
itu, di istana Sang Prabu Erlangga, Mandari juga segera menjalankan siasatnya.
Setelah ia berada berdua dalam kamarnya bersama Sang Prabu Erlangga, dengan
muka cemberut ia berkata kepada raja itu.
"Sinuwun, hamba kira sekarang
hamba telah menemukan apa yang menjadi sebab sehingga Kahuripan terancam bahaya
seperti yang digambarkan oleh Paman Empu Bharada."
Sang Prabu Erlangga tercengang,
"Jagad Dewa Bathara! Benarkah
itu, yayi? Engkau baru saja pulang dari kepatihan dan dan Parang Siluman,
bagaimana bisa mendapatkan sebab yang sedang kucari itu?"
"Justeru di kepatihan hamba
menemukan penyebab itu, sinuwun sesembahan hamba."
"Aneh sekali engkau ini,
Mandari. Penyebab malapetaka yang diramalkan itu berada di kepatihan? Bagaimana
itu? Apa yang kau maksudkan?"
"Begini sesungguhnya, sinuwun.
Akan tetapi sebelum hamba menceritakan! hamba mohon beribu ampun apabila cerita
hamba ini mendatangkan perasaan tidak senang dalam hati paduka."
Sang Prabu Erlangga tersenyum.
"Ceritakanlah dan jangan
khawatir, aku tidak akan marah kepadamu kalau engkau menceritakan keadaan yang
sebenarnya."
"Begini, sinuwun. Hal ini
mengenai diri Mbakayu Lasmini dan Ki Patih Narotama." Mandari berhenti
lagi seolah merasa ragu dan takut untuk melanjutkan.
"Eh? Ada apa dengan Lasmini dan
Kakang Narotama?"
"Terus terang saja, ketika
dahulu paduka meminang Mbakayu Lasmini dan hamba melalui Ki Patih, Mbakayu
Lasmini menyambut dengan penuh suka cita dan serta merta menerima pinangan
paduka karena memang sejak remaja Mbakayu Lasmini sudah mengagumi dan
memuja-muja nama paduka. Mbakayu Lasmini ingin sekali mengabdi dan menghambakan
diri kepada paduka. Hal ini ia ceritakan kepada hamba ketika hamba berdua
berangkat dengan kereta menuju Kahuripan. Akan tetapi di tengah perjalanan,
ketika Mbakayu Lasmini menderita sakit perut, Ki Patih Narotama menggunakan
alasan mengobati telah menelanjangi dan meraba perut dan pusar Mbakayu Lasmini
....." Mandari berhenti lagi.
"Hemm, kalau ia memang
mengharapkan menjadi selirku, kenapa ia menolakku dan memilih menjadi selir
Kakang Patih Narotama?"
"Itulah, sinuwun. Mbakayu
Lasmini merasa bahwa ia akan menanggung aib kalau tidak bersuamikan Ki Patih,
karena pria itu telah melihat dan meraba perut dan pusarnya. Ketika hamba
bertemu dengannya, ia mengaku bahwa sampai sekarang ia masih mencinta,
mengagumi dan memuja paduka dan bahwa hidupnya sebagai selir Ki Patih Narotama
tidak membahagiakan hatinya. Agaknya dahulu itu Ki Patih Narotama sengaja menelanjanginya
dengan pamrih agar kakak hamba itu tidak mau diperisteri paduka karena malu.
Ah, sinuwun, hamba mohon tolonglah Mbakayu Lasmini. Biarkanlah menjadi selir
paduka dan hidup berbahagia di sini bersama hamba. Hamba yakin bahwa Mbakayu
Lasmini akan menambah kebahagiaan paduka, sinuwun."
Sang Prabu Erlangga adalah seorang
yang sakti mandraguna dan juga bijaksana, akan tetapi sesuai dengan kenyataan
bahwa tidak ada manusia yang sempurna tanpa cacat, diapun hanyalah seorang
manusia. Tiada yang sempurna di alam maya pada ini kecuali Sang Hyang Widhi
Wasa, Yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna. Manusia, betapapun kecilnya, pasti
memiliki kelemahan. Dan Sang Prabu Erlangga, seperti juga Sang Arjuna, tokoh
yang dikaguminya, juga memiliki satu kelemahan, yaitu terhadap wanita.
Mendengar keterangan Mandari bahwa Lasmini sejak dulu sampai sekarang memuja
dan mencintanya, dan hanya karena ulah Narotama yang licik maka gadis yang
cantik jelita itu kini menjadi selir Narotama, hati Sang Prabu Erlangga tergerak.
Kalau begitu, dialah yang berhak mempersunting gadis itu. Pikiran ini menyambar
bagaikan kilat di dalam benaknya. Walaupun memiliki kelemahan terhadap wanita
cantik, namun seorang yang bijaksana seperti Sang Prabu Erlangga tidaklah
diperbudak oleh nafsunya. Bujukan nafsu itu hanya sekilas.
No comments:
Post a Comment