Bagian 25



Limantoko adalah seorang yang benar benar tangguh karena tenaganya yang besar dan selama ini belum ada orang yang mampu mengimbangi tenaganya. Tentu saja dia gentar menghadapi Resi Bajrasakti karena dia tahu benar bahwa resi itu adalah seorang yang sakti mandraguna dan tidak dapat dilawan oleh kekuatan tenaganya saja. Tetapi menghadapi orang lain, dia memandang rendah. Maka, tidak mengherankan kalau diapun memandang rendah kepada Linggajaya, walaupun dia sudah mendengar bahwa pemuda ini murid Resi Bajrasakti selama lima tahun. Dia sendiri melatih diri dengan aji kanuragan sejak muda sampai kini berusia empat puluh tahun. Mana mungkin seorang pemuda yang baru belajar lima tahun saja akan mampu menandinginya?
"Linggajaya jangan membunuhnya," kata Resi Bajrasakti kepada muridnya.
Linggajaya menoleh kepada gurunnya sambil tersenyum.
"Baik, bapa."
Pesan Resi Bajrasakti itu membuat Limantoko menjadi merah mukanya dan hatinya merasa panas dan marah. Dia merasa dipandang rendah sekali dengan pesan resi itu kepada muridnya, seolah sudah yakin bahwa pemuda itu pasti akan mengalahkannya! Dengan penuh geram dia mulai menyerang.
"Sambut seranganku!" bentaknya dan tiba-tiba dia membuat gerakan menerkam seperti seekor biruang menangkap kelinci. Kedua lengan yang panjang besar itu bergerak dari kanan kiri dan kedua tangan itu mencengkeram ke arah tubuh Linggajaya, agaknya hendak ditangkapnya tubuh yang baginya kecil itu.

Namun kedua tangannya saling bertemu, mengeluarkan bunyi keras karena tubuh yang hendak ditangkapnya itu tibatiba saja lenyap. Dengan ketangkasannya Linggajaya sudah melompat menghindar kekiri. Demikian cepat gerakannya sehingga raksasa itu tidak melihat dan tahu-tahu kehilangan lawannya. Akan tetapi sebagai seorang jagoan, Limantoko mendengar gerakan Linggajaya dan cepat dia sudah memutar tubuh ke kanan. Begitu melihat Linggajaya, dia sudah menyerang lagi, kini menggunakan lengannya yang panjang, mengayun tangan kanan untuk menampar ke arah kepala lawan dan tangan kirinya menyusul dengan cengkeraman ke arah pinggang pemuda itu. Serangan ini cepat dan kuat sekali, tamparan itu seperti palu godam raksasa dan kepala Linggajaya dapat remuk kalau terkena dan cengkeraman itupun tidak kalah dahsyatnya. Namun kembali Linggajaya memperlihatkan kesigapannya. Dia mengelak ke belakang lalu melompat ke kanan. Setelah serangannya kembali luput, Limantoko menjadi semakin penasaran. Dia menyerang bertubi-tubi, dengan tamparan, pukulan, cengkeraman, bahkan tendangan sehingga angin menderu-deru di ruangan itu. Namun semua serangan itu hanya mengenai tempat kosong belaka. Linggajaya memang hendak memamerkan kelincahan tubuhnya di depan sang adipati. Kalau dia mau, hanya dengan elakan-elakannya saja dia akan dapat membuat raksasa itu kehabisan tenaga dan napas karena baginya gerakan manusia gajah itu terlampau lamban. Limantoko menjadi marah, merasa dipermainkan, maka dia berkata,
"Orang muda, engkau balaslah kalau mampu!"
Akan tetapi agaknya Linggajaya memang hendak memamerkan kemampuannya kepada Raja Adhamapanuda. Ketika tangan kanan raksasa itu kembali menyambar, mencengkeram ke arah lehernya dia sengaja menangkis dengan tangan kirinya.
"Wuutt ..... tappp .....!"
Lengan kiri Linggajaya dapat dicengkeram, ditangkap oleh tangan raksasa yang besar itu. Linggajaya menggunakan tangan kanan untuk memukul, juga perlahan saja sehingga Limantoko dapat menangkap pula pergelangan tangan kanannya. Limantoko girang bukan main telah dapat menangkap kedua pergelangan tangan Linggajaya, sama sekali tidak menduga bahwa pemuda itu memang sengaja membiarkan dirinya ditangkap! Kini Limantoko sambil menyeringai gembira mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengangkat tubuh Linggajaya ke atas, untuk kemudian dibanting walaupun dia tidak akan menggunakan sepenuh tenaganya agar pemuda itu tidak sampai mati.

Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika dia mendapat kenyataan betapa kedua tangannya tidak kuat mengangkat pemuda itu ke atas! Dia berkali-kali mengerahkan seluruh tenaganya sampai mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh menahan napas, namun tubuh Linggajaya sama sekali tidak dapat diangkatnya. Kedua kaki pemuda itu seolah-olah telah berakar di lantai, bagaikan sebatang pohon yang kuat sekali dan tidak dapat dicabut. Linggajaya sengaja membiarkan dirinya ditangkap hanya untuk memamerkan Aji Selogiri (Batu Gunung) yang membuat tubuhnya seberat batu gunung. Setelah membiarkan Limantoko berbekah-bekuh beberapa saat lamanya dan raksasa itu mulai menjadi bingung karena, merasa benar-benar tidak kuat mengangkat tubuh yang baginya kecil saja itu. tiba-tiba Linggajaya melepaskan ajiannya dan tubuhnya kini terangkat ke atas Limantoko kembali merasa girang sekali sehingga dia menjadi lengah. Tiba-tiba Linggajaya menggerakkan kedua kakinya menendang ke arah dagu raksasa itu.
"Bresss .....!"
Tubuh Limantoko terjengkang dan pegangannya terlepas. Linggajaya berjungkir balik dan memandang ke arah Limantoko yang jatuh terjengkang sampai terguling-guling!
"Cukup!" kata Adipati Adhamapanudi
"Limantoko, bagaimana pendapatmu. Apakah Linggajaya ini cukup tangguh?"
Limantoko sudah bangkit dan menyembah.
"Sesungguhnya, gusti, pemuda ini tangguh sekali."
Adipati Adhamapanuda tertawa senang
"Ha-ha-ha, bagus! Engkau boleh mundur Limantoko."

Limantoko menyembah lalu mengundurkan diri meninggalkan ruangan itu. Resi Bajrasakti tertawa.
"Ha-ha-ha, Adi Adipati, sudah hamba katakan berkali-kali bahwa paduka boleh percaya kepada murid hamba ini. Akan tetapi, tugas apakah yang hendak paduka berikan kepada Linggajaya?"
Adipati Adhamapanuda mengangguk angguk lalu berkata dengan suara bernada serius.
"Begini, Kakang Resi, dan engkau juga Linggajaya, dengarkan baik baik. Aku mendapat kabar dari Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman bahwa kedua orang puterinya yang cantik jelita itu dipinang oleh Sang Prabu Erlangga dan sekarang bahkan sudah diboyong ke Kahuripan. Lasmini, puterinya yang pertama kini menjadi selir Ki Patih Narotama, sedangkan puterinya yang ke dua Mandari, menjadi selir Sang Prabu Erlangga."
Resi Bajrasakti mengerutkan alisnya yang tebal dan dia menggeleng-geleng kepalanya.
"Bukankah dua orang puterinya itu, seperti yang hamba dengar, ikut dan menjadi murid Ki Nagakumala, (kakak ibu) dua orang gadis itu sendiri yang bertapa di Pegunungan Kidul?"
"Benar sekali, kakang resi."
Resi Bajrasakti menepuk pahanya sendiri.
"Tak tahu malu! Kenapa orang orang tua itu menyerahkan puteri-puteri mereka kepada Erlangga dan Narotama yang menjadi musuh-musuh besar kita? Apakah kini Parang Siluman sudah hendak bertekuk lutut dan menyerah kepada Kahuripan tanpa berperang?"
"Bukan begitu, kakang resi. Penyerahan dua orang gadis itu malah merupakan siasat yang bagus sekali. Lasmini dan Mandari adalah dua orang gadis cantik jelita yang juga pandai dan telah menguasai ilmu-ilmu yang tinggi dari uwa dan ibu mereka. Mereka sengaja diberikan karena mereka berdua itu dapat memperoleh kesempatan baik untuk membunuh Erlangga dan Narotama."
"Waahh, itu gagasan yang terlalu muluk! Kita semua mengetahui bahwa Erlangga dan Narotama adalah dua orang yang sakti mandraguna. Hamba kira Ki Nagakumala sendiri tidak akan mampu mengalahkan mereka. Apa lagi hanya dua orang gadis muridnya!"
"Akan tetapi dua orang gadis itu memiliki kelebihan yang tidak kita milik yaitu kecantikan mereka yang luar biasa. Dengan kecantikan mereka inilah mereka hendak menundukkan Erlangga dan Narotama sehingga mereka mendapatkan kesempatan untuk membunuh raja dan patihnya itu. Menurut surat Ratu Durgamala yang diberikan kepadaku, Mandari telah berkunjung dan puterinya itu menceritakan bahwa ia mulai dapat memikat hati Erlangga sehingga ia menjadi selir terkasih. Dan mereka telah mengatur siasat, kalau membunuh raja dan patihnya yang sakti mandraguna itu tidak berhasil, mereka akan berusaha untuk mengadu domba antara raja dan patihnya itu atau setidaknya akan menimbulkan kekacauan sehingga Kahuripan menjadi lemah. Kalau sudah begitu, Ratu Durgamala minta kepadaku untuk bersama sama mengerahkan pasukan dan memukul Kahuripan yang sedang kacau dan lemah itu. Bagaimana pendapatmu, kakang resi?"

Kini Resi Bajrasakti mengangguk angguk dan wajahnya berseri.
"Bagus, bagus sekali Tidak hamba kira bahwa Ratu Durgamala yang cantik jelita itu dapat membuat siasat yang demikian hebatnya!"
"Siasat itu diatur oleh Ratu Durgamala, Ki Nagakumala, dan juga Lasmini dan Mandari. Dua orang gadis jelita itu memang hebat, sudah sakti cantik jelita pula sehingga senjata mereka berdua itu lengkap!" kata Adipati Adhamapanuda.
"Hamba kira kita sudah semestinya membantu mereka. Lalu tugas apakah yang akan paduka berikan kepada Linggajaya?"
"Begini, kakang resi dan engkau, Lingajaya. Aku hendak mengirimmu ke Kahuripan dan engkau menjadi mata-mata kami. Kalau kami mengirim seorang tokoh Wengker, mungkin akan mudah ketahuan. Akan tetapi engkau adalah orang dari daerah Kahuripan, maka tidak akan ada yang mencurigaimu. Kau hubungilah Lasmini dan Mandari itu dan kau bantu mereka sampai berhasil membunuh raja dan patihnya, atau setidaknya mengadu domba dan membikin kacau. Tugasmu penting sekali, juga berat karena kalau engkau ketahuan, tentu nyawamu terancam. Nah, sanggupkah engkau melaksanakan tugas ini Linggajaya?"

Linggajaya adalah seorang pemuda yang amat cerdik. Ayahnya adalah seorang lurah, seorang pamong praja kerajaan Kahuripan. Biarpun dia tidak memiliki watak setia kepada Kahuripan, namun dia adalah kawula Kahuripan. Kalau dia harus berkorban mengkhianati Kahuripan, dia harus mendapatkan imbalan yang sepadan dan yang amat besar. Maka dia menyembah lalu berkata kepada Adipati Adhamapanuda.
"Ampun, gusti adipati. Tentu saja hamba sanggup melaksanakan tugas berat itu, akan tetapi ada suatu kenyataan yang menjadi penghalang bagi hamba untuk menyanggupinya."
"Hemm, kenyataan yang bagaimana! Linggajaya?" Tanya sang adipati sambil mengerutkan alisnya.
"Kenyataannya bahwa hamba ini bukanlah seorang punggawa Kerajaan Wengker, bagaimana hamba dapat melaksanakan tugas yang amat penting dan rahasia ini? Bukankah seyogianya tugas sepenting ini dilakukan oleh seorang punggawa yang berkedudukan tinggi, setidaknya seorang senopati?"
Mendengar ucapan ini, Adipati Adhamapanuda menoleh kepada Resi Bajrasakti dan bertanya,
"Bagaimana pendapat andika tentang hal ini, kakang resi?"
Resi Bajrasakti tersenyum.
"Hamba sekali-kali bukan membela murid hamba, akan tetapi hamba kira ucapannya itu mengandung kebenaran. Kalau Linggajaya tidak menjadi punggawa berkedudukan dan terpercaya di Kerajaan Wengker, bagaimana kita dapat mengharapkan kesetiaan darinya?"
Adipati Adhamapanuda mengangguk-angguk.
"Baiklah kalau begitu. Linggajaya, mulai saat ini kami mengangkat andika menjadi senopati muda dengan julukan Senopati Lingga Wijaya!"
Bukan main girang hati pemuda itu. Akan tetapi dasar dia murka dan juga cerdik, maka dia memberi sembah hormat dan berkata,
"Hamba menghaturkan banyak terima kasih atas kebijaksanaan paduka. Akan tetapi karena hamba hendak melaksanakan tugas yang amat penting dan berat, dan mungkin hamba akan menghadapi lawan-lawan yang tanggu, sedangkan hamba tidak memiliki pusaka ampuh, maka hamba akan bersyukur apa bila paduka berkenan memberi hamba sebuah pusaka untuk pelindung diri hamba, gusti."
Mendengar ini, Resi Bajrasakti tertawa gembira.
"Ha-ha-ha, murid hamba ini orangnya jujur, Adi Adipati. Memang hamba belum memberi pusaka kepadanya, karena kalau hamba berikan pusaka hamba Cambuk Gading, tentu banyak tokoh Kahuripan mengenalnya dan dapat menduga bahwa Linggajaya mempunyai hubungan dengan hamba. Karena itu untuk membesarkan hatinya dan demi tercapainya cita-cita kita, hamba mohon paduka merelakan untuk memberikan Ki Candalamanik kepadanya."

Adipati Adhamapanuda menghela napas panjang. Keris pusaka Ki Candalamanik adalah pusaka keturunan raja-raja Wengker. Akan tetapi untuk menolaknya, dia merasa tidak enak karena pemuda itu memiliki tugas berat.
"Baiklah," katanya sambil mencabut keris bersama warangkanya yang terselip di pinggangnya.
"Terimalah Ki Candalamanik ini, kami pinjamkan kepadamu untuk kaupergunakan dalam tugas ini, Senopati Lingga Wijaya."
Linggajaya menerima keris itu dan menyembah sambil menghaturkan terima kasih, lalu menyelipkan keris pusaka itu di ikat pinggangnya. Setelah kembali ke gedung Resi Bajrasakti, Linggajaya berkemas dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali pemuda itu meninggalkan kota kerajaan Wengker dan menuju ke dusun Karang Tirta, kembali ke rumah orang tuanya, yaitu Ki Lurah Suramenggala kepala dusun Karang Tirta. Apa yang diceritakan oleh Adipati Adhamapanuda, raja Wengker itu kepada Linggajaya memang benar. Dia mendapat surat dari Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman tentang siasat yang melakukan kerajaan yang sejak dulu menjadi musuh Mataram dan sekarang memusuhi Kahuripan itu, siasat keji yang dilakukan melalui dua orang puterinya, yaitu Lasmini dan Mandari. Seperti telah kita ketahui, dengan bujuk rayunya yang amat memikat hati Mandari berhasil membuat Sang Prabu Erlangga menceritakan tentang peringatan Sang Empu Bharada tentang banjir darah yang akan terjadi di Kahuripan dan Sang Prabu Erlangga masih bingung karena tidak tahu apa yang menjadi sebab datangnya ancaman malapetaka itu. Mandari sendiri kehilangan akal, maka pada suatu hari ia berpamit kepada Sang Prabu Erlangga untuk mengunjungi mbak ayunya, yaitu Lasmini yang menjadi selir Ki Patih Narotama karena ia merasa rindu. Tentu saja Sang Prabu Erlangga mengijinkannya.

Setelah dua orang kakak beradik itu bertemu, mereka lalu bicara bisik-bisik dalam sebuah kamar tertutup. Ki Patih Narotama juga tentu saja mengijinkan selirnya yang terkasih itu bercengkerama dan melepas kerinduan dengan adiknya sang kini menjadi selir Sang Prabu Erlangga.
"Aduh Mbakayu Lasmini, ketiwasan (celaka) ....." bisik Mandari setelah mereka duduk berdua di atas pembaringan.
"Ehh? Ada apakah, Mandari?" tanya Lasmini khawatir. Kalau adiknya bersikap demikian khawatir, pasti terjadi sesuatu yang amat penting dan hebat.
"Si keparat Empu Bharada itu! Sejak semula, dalam pertemuan pertama matanya sudah memandangku seperti mata kucing, tajam menusuk dan menyelidik. Dan sekarang dia menghadap Sang Prabu Erlangga, memperingatkan sang prabu bahwa akan ada malapetaka menimpa Kahuripan, akan ada pertempuran, bunuh membunuh dan banjir darah!

<<<Bagian 24                                                                                         Bagian 26 >>>

No comments:

Post a Comment