Limantoko adalah seorang yang benar
benar tangguh karena tenaganya yang besar dan selama ini belum ada orang yang
mampu mengimbangi tenaganya. Tentu saja dia gentar menghadapi Resi Bajrasakti
karena dia tahu benar bahwa resi itu adalah seorang yang sakti mandraguna dan
tidak dapat dilawan oleh kekuatan tenaganya saja. Tetapi menghadapi orang lain,
dia memandang rendah. Maka, tidak mengherankan kalau diapun memandang rendah
kepada Linggajaya, walaupun dia sudah mendengar bahwa pemuda ini murid Resi
Bajrasakti selama lima tahun. Dia sendiri melatih diri dengan aji kanuragan
sejak muda sampai kini berusia empat puluh tahun. Mana mungkin seorang pemuda
yang baru belajar lima tahun saja akan mampu menandinginya?
"Linggajaya jangan
membunuhnya," kata Resi Bajrasakti kepada muridnya.
Linggajaya menoleh kepada gurunnya
sambil tersenyum.
"Baik, bapa."
Pesan Resi Bajrasakti itu membuat
Limantoko menjadi merah mukanya dan hatinya merasa panas dan marah. Dia merasa
dipandang rendah sekali dengan pesan resi itu kepada muridnya, seolah sudah
yakin bahwa pemuda itu pasti akan mengalahkannya! Dengan penuh geram dia mulai
menyerang.
"Sambut seranganku!"
bentaknya dan tiba-tiba dia membuat gerakan menerkam seperti seekor biruang
menangkap kelinci. Kedua lengan yang panjang besar itu bergerak dari kanan kiri
dan kedua tangan itu mencengkeram ke arah tubuh Linggajaya, agaknya hendak
ditangkapnya tubuh yang baginya kecil itu.
Namun kedua tangannya saling
bertemu, mengeluarkan bunyi keras karena tubuh yang hendak ditangkapnya itu
tibatiba saja lenyap. Dengan ketangkasannya Linggajaya sudah melompat
menghindar kekiri. Demikian cepat gerakannya sehingga raksasa itu tidak melihat
dan tahu-tahu kehilangan lawannya. Akan tetapi sebagai seorang jagoan,
Limantoko mendengar gerakan Linggajaya dan cepat dia sudah memutar tubuh ke
kanan. Begitu melihat Linggajaya, dia sudah menyerang lagi, kini menggunakan
lengannya yang panjang, mengayun tangan kanan untuk menampar ke arah kepala
lawan dan tangan kirinya menyusul dengan cengkeraman ke arah pinggang pemuda
itu. Serangan ini cepat dan kuat sekali, tamparan itu seperti palu godam
raksasa dan kepala Linggajaya dapat remuk kalau terkena dan cengkeraman itupun
tidak kalah dahsyatnya. Namun kembali Linggajaya memperlihatkan kesigapannya.
Dia mengelak ke belakang lalu melompat ke kanan. Setelah serangannya kembali
luput, Limantoko menjadi semakin penasaran. Dia menyerang bertubi-tubi, dengan
tamparan, pukulan, cengkeraman, bahkan tendangan sehingga angin menderu-deru di
ruangan itu. Namun semua serangan itu hanya mengenai tempat kosong belaka.
Linggajaya memang hendak memamerkan kelincahan tubuhnya di depan sang adipati.
Kalau dia mau, hanya dengan elakan-elakannya saja dia akan dapat membuat
raksasa itu kehabisan tenaga dan napas karena baginya gerakan manusia gajah itu
terlampau lamban. Limantoko menjadi marah, merasa dipermainkan, maka dia
berkata,
"Orang muda, engkau balaslah
kalau mampu!"
Akan tetapi agaknya Linggajaya
memang hendak memamerkan kemampuannya kepada Raja Adhamapanuda. Ketika tangan
kanan raksasa itu kembali menyambar, mencengkeram ke arah lehernya dia sengaja
menangkis dengan tangan kirinya.
"Wuutt ..... tappp .....!"
Lengan kiri Linggajaya dapat
dicengkeram, ditangkap oleh tangan raksasa yang besar itu. Linggajaya
menggunakan tangan kanan untuk memukul, juga perlahan saja sehingga Limantoko
dapat menangkap pula pergelangan tangan kanannya. Limantoko girang bukan main
telah dapat menangkap kedua pergelangan tangan Linggajaya, sama sekali tidak
menduga bahwa pemuda itu memang sengaja membiarkan dirinya ditangkap! Kini
Limantoko sambil menyeringai gembira mengerahkan seluruh tenaganya untuk
mengangkat tubuh Linggajaya ke atas, untuk kemudian dibanting walaupun dia
tidak akan menggunakan sepenuh tenaganya agar pemuda itu tidak sampai mati.
Akan tetapi alangkah terkejutnya
ketika dia mendapat kenyataan betapa kedua tangannya tidak kuat mengangkat
pemuda itu ke atas! Dia berkali-kali mengerahkan seluruh tenaganya sampai
mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh menahan napas, namun tubuh Linggajaya sama
sekali tidak dapat diangkatnya. Kedua kaki pemuda itu seolah-olah telah berakar
di lantai, bagaikan sebatang pohon yang kuat sekali dan tidak dapat dicabut.
Linggajaya sengaja membiarkan dirinya ditangkap hanya untuk memamerkan Aji
Selogiri (Batu Gunung) yang membuat tubuhnya seberat batu gunung. Setelah
membiarkan Limantoko berbekah-bekuh beberapa saat lamanya dan raksasa itu mulai
menjadi bingung karena, merasa benar-benar tidak kuat mengangkat tubuh yang
baginya kecil saja itu. tiba-tiba Linggajaya melepaskan ajiannya dan tubuhnya
kini terangkat ke atas Limantoko kembali merasa girang sekali sehingga dia
menjadi lengah. Tiba-tiba Linggajaya menggerakkan kedua kakinya menendang ke
arah dagu raksasa itu.
"Bresss .....!"
Tubuh Limantoko terjengkang dan
pegangannya terlepas. Linggajaya berjungkir balik dan memandang ke arah
Limantoko yang jatuh terjengkang sampai terguling-guling!
"Cukup!" kata Adipati
Adhamapanudi
"Limantoko, bagaimana
pendapatmu. Apakah Linggajaya ini cukup tangguh?"
Limantoko sudah bangkit dan
menyembah.
"Sesungguhnya, gusti, pemuda
ini tangguh sekali."
Adipati Adhamapanuda tertawa senang
"Ha-ha-ha, bagus! Engkau boleh
mundur Limantoko."
Limantoko menyembah lalu
mengundurkan diri meninggalkan ruangan itu. Resi Bajrasakti tertawa.
"Ha-ha-ha, Adi Adipati, sudah
hamba katakan berkali-kali bahwa paduka boleh percaya kepada murid hamba ini.
Akan tetapi, tugas apakah yang hendak paduka berikan kepada Linggajaya?"
Adipati Adhamapanuda mengangguk
angguk lalu berkata dengan suara bernada serius.
"Begini, Kakang Resi, dan
engkau juga Linggajaya, dengarkan baik baik. Aku mendapat kabar dari Ratu
Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman bahwa kedua orang puterinya yang cantik
jelita itu dipinang oleh Sang Prabu Erlangga dan sekarang bahkan sudah diboyong
ke Kahuripan. Lasmini, puterinya yang pertama kini menjadi selir Ki Patih
Narotama, sedangkan puterinya yang ke dua Mandari, menjadi selir Sang Prabu
Erlangga."
Resi Bajrasakti mengerutkan alisnya
yang tebal dan dia menggeleng-geleng kepalanya.
"Bukankah dua orang puterinya
itu, seperti yang hamba dengar, ikut dan menjadi murid Ki Nagakumala, (kakak
ibu) dua orang gadis itu sendiri yang bertapa di Pegunungan Kidul?"
"Benar sekali, kakang
resi."
Resi Bajrasakti menepuk pahanya
sendiri.
"Tak tahu malu! Kenapa orang
orang tua itu menyerahkan puteri-puteri mereka kepada Erlangga dan Narotama
yang menjadi musuh-musuh besar kita? Apakah kini Parang Siluman sudah hendak
bertekuk lutut dan menyerah kepada Kahuripan tanpa berperang?"
"Bukan begitu, kakang resi.
Penyerahan dua orang gadis itu malah merupakan siasat yang bagus sekali.
Lasmini dan Mandari adalah dua orang gadis cantik jelita yang juga pandai dan
telah menguasai ilmu-ilmu yang tinggi dari uwa dan ibu mereka. Mereka sengaja
diberikan karena mereka berdua itu dapat memperoleh kesempatan baik untuk
membunuh Erlangga dan Narotama."
"Waahh, itu gagasan yang
terlalu muluk! Kita semua mengetahui bahwa Erlangga dan Narotama adalah dua
orang yang sakti mandraguna. Hamba kira Ki Nagakumala sendiri tidak akan mampu
mengalahkan mereka. Apa lagi hanya dua orang gadis muridnya!"
"Akan tetapi dua orang gadis
itu memiliki kelebihan yang tidak kita milik yaitu kecantikan mereka yang luar
biasa. Dengan kecantikan mereka inilah mereka hendak menundukkan Erlangga dan
Narotama sehingga mereka mendapatkan kesempatan untuk membunuh raja dan
patihnya itu. Menurut surat Ratu Durgamala yang diberikan kepadaku, Mandari telah
berkunjung dan puterinya itu menceritakan bahwa ia mulai dapat memikat hati
Erlangga sehingga ia menjadi selir terkasih. Dan mereka telah mengatur siasat,
kalau membunuh raja dan patihnya yang sakti mandraguna itu tidak berhasil,
mereka akan berusaha untuk mengadu domba antara raja dan patihnya itu atau
setidaknya akan menimbulkan kekacauan sehingga Kahuripan menjadi lemah. Kalau
sudah begitu, Ratu Durgamala minta kepadaku untuk bersama sama mengerahkan
pasukan dan memukul Kahuripan yang sedang kacau dan lemah itu. Bagaimana
pendapatmu, kakang resi?"
Kini Resi Bajrasakti mengangguk
angguk dan wajahnya berseri.
"Bagus, bagus sekali Tidak
hamba kira bahwa Ratu Durgamala yang cantik jelita itu dapat membuat siasat
yang demikian hebatnya!"
"Siasat itu diatur oleh Ratu
Durgamala, Ki Nagakumala, dan juga Lasmini dan Mandari. Dua orang gadis jelita
itu memang hebat, sudah sakti cantik jelita pula sehingga senjata mereka berdua
itu lengkap!" kata Adipati Adhamapanuda.
"Hamba kira kita sudah
semestinya membantu mereka. Lalu tugas apakah yang akan paduka berikan kepada
Linggajaya?"
"Begini, kakang resi dan
engkau, Lingajaya. Aku hendak mengirimmu ke Kahuripan dan engkau menjadi
mata-mata kami. Kalau kami mengirim seorang tokoh Wengker, mungkin akan mudah
ketahuan. Akan tetapi engkau adalah orang dari daerah Kahuripan, maka tidak
akan ada yang mencurigaimu. Kau hubungilah Lasmini dan Mandari itu dan kau
bantu mereka sampai berhasil membunuh raja dan patihnya, atau setidaknya
mengadu domba dan membikin kacau. Tugasmu penting sekali, juga berat karena
kalau engkau ketahuan, tentu nyawamu terancam. Nah, sanggupkah engkau
melaksanakan tugas ini Linggajaya?"
Linggajaya adalah seorang pemuda
yang amat cerdik. Ayahnya adalah seorang lurah, seorang pamong praja kerajaan
Kahuripan. Biarpun dia tidak memiliki watak setia kepada Kahuripan, namun dia
adalah kawula Kahuripan. Kalau dia harus berkorban mengkhianati Kahuripan, dia
harus mendapatkan imbalan yang sepadan dan yang amat besar. Maka dia menyembah
lalu berkata kepada Adipati Adhamapanuda.
"Ampun, gusti adipati. Tentu
saja hamba sanggup melaksanakan tugas berat itu, akan tetapi ada suatu
kenyataan yang menjadi penghalang bagi hamba untuk menyanggupinya."
"Hemm, kenyataan yang
bagaimana! Linggajaya?" Tanya sang adipati sambil mengerutkan alisnya.
"Kenyataannya bahwa hamba ini
bukanlah seorang punggawa Kerajaan Wengker, bagaimana hamba dapat melaksanakan
tugas yang amat penting dan rahasia ini? Bukankah seyogianya tugas sepenting
ini dilakukan oleh seorang punggawa yang berkedudukan tinggi, setidaknya
seorang senopati?"
Mendengar ucapan ini, Adipati
Adhamapanuda menoleh kepada Resi Bajrasakti dan bertanya,
"Bagaimana pendapat andika
tentang hal ini, kakang resi?"
Resi Bajrasakti tersenyum.
"Hamba sekali-kali bukan
membela murid hamba, akan tetapi hamba kira ucapannya itu mengandung kebenaran.
Kalau Linggajaya tidak menjadi punggawa berkedudukan dan terpercaya di Kerajaan
Wengker, bagaimana kita dapat mengharapkan kesetiaan darinya?"
Adipati Adhamapanuda
mengangguk-angguk.
"Baiklah kalau begitu.
Linggajaya, mulai saat ini kami mengangkat andika menjadi senopati muda dengan
julukan Senopati Lingga Wijaya!"
Bukan main girang hati pemuda itu.
Akan tetapi dasar dia murka dan juga cerdik, maka dia memberi sembah hormat dan
berkata,
"Hamba menghaturkan banyak
terima kasih atas kebijaksanaan paduka. Akan tetapi karena hamba hendak
melaksanakan tugas yang amat penting dan berat, dan mungkin hamba akan
menghadapi lawan-lawan yang tanggu, sedangkan hamba tidak memiliki pusaka ampuh,
maka hamba akan bersyukur apa bila paduka berkenan memberi hamba sebuah pusaka
untuk pelindung diri hamba, gusti."
Mendengar ini, Resi Bajrasakti
tertawa gembira.
"Ha-ha-ha, murid hamba ini
orangnya jujur, Adi Adipati. Memang hamba belum memberi pusaka kepadanya,
karena kalau hamba berikan pusaka hamba Cambuk Gading, tentu banyak tokoh
Kahuripan mengenalnya dan dapat menduga bahwa Linggajaya mempunyai hubungan
dengan hamba. Karena itu untuk membesarkan hatinya dan demi tercapainya
cita-cita kita, hamba mohon paduka merelakan untuk memberikan Ki Candalamanik
kepadanya."
Adipati Adhamapanuda menghela napas
panjang. Keris pusaka Ki Candalamanik adalah pusaka keturunan raja-raja
Wengker. Akan tetapi untuk menolaknya, dia merasa tidak enak karena pemuda itu
memiliki tugas berat.
"Baiklah," katanya sambil
mencabut keris bersama warangkanya yang terselip di pinggangnya.
"Terimalah Ki Candalamanik ini,
kami pinjamkan kepadamu untuk kaupergunakan dalam tugas ini, Senopati Lingga
Wijaya."
Linggajaya menerima keris itu dan
menyembah sambil menghaturkan terima kasih, lalu menyelipkan keris pusaka itu
di ikat pinggangnya. Setelah kembali ke gedung Resi Bajrasakti, Linggajaya
berkemas dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali pemuda itu meninggalkan
kota kerajaan Wengker dan menuju ke dusun Karang Tirta, kembali ke rumah orang
tuanya, yaitu Ki Lurah Suramenggala kepala dusun Karang Tirta. Apa yang
diceritakan oleh Adipati Adhamapanuda, raja Wengker itu kepada Linggajaya
memang benar. Dia mendapat surat dari Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang
Siluman tentang siasat yang melakukan kerajaan yang sejak dulu menjadi musuh
Mataram dan sekarang memusuhi Kahuripan itu, siasat keji yang dilakukan melalui
dua orang puterinya, yaitu Lasmini dan Mandari. Seperti telah kita ketahui, dengan
bujuk rayunya yang amat memikat hati Mandari berhasil membuat Sang Prabu
Erlangga menceritakan tentang peringatan Sang Empu Bharada tentang banjir darah
yang akan terjadi di Kahuripan dan Sang Prabu Erlangga masih bingung karena
tidak tahu apa yang menjadi sebab datangnya ancaman malapetaka itu. Mandari
sendiri kehilangan akal, maka pada suatu hari ia berpamit kepada Sang Prabu
Erlangga untuk mengunjungi mbak ayunya, yaitu Lasmini yang menjadi selir Ki
Patih Narotama karena ia merasa rindu. Tentu saja Sang Prabu Erlangga
mengijinkannya.
Setelah dua orang kakak beradik itu
bertemu, mereka lalu bicara bisik-bisik dalam sebuah kamar tertutup. Ki Patih
Narotama juga tentu saja mengijinkan selirnya yang terkasih itu bercengkerama
dan melepas kerinduan dengan adiknya sang kini menjadi selir Sang Prabu
Erlangga.
"Aduh Mbakayu Lasmini,
ketiwasan (celaka) ....." bisik Mandari setelah mereka duduk berdua di
atas pembaringan.
"Ehh? Ada apakah,
Mandari?" tanya Lasmini khawatir. Kalau adiknya bersikap demikian khawatir,
pasti terjadi sesuatu yang amat penting dan hebat.
"Si keparat Empu Bharada itu!
Sejak semula, dalam pertemuan pertama matanya sudah memandangku seperti mata
kucing, tajam menusuk dan menyelidik. Dan sekarang dia menghadap Sang Prabu
Erlangga, memperingatkan sang prabu bahwa akan ada malapetaka menimpa
Kahuripan, akan ada pertempuran, bunuh membunuh dan banjir darah!
No comments:
Post a Comment