Bagian 24


Sementara itu, Sarikem, mempelai wanita yang berusia delapan belas tahun, juga melihat halimun atau asap putih yang turun dari atas itu. Ia menjadi ketakutan dan cepat berlari dan naik ke atas pembaringan, mepet di dinding sambil memandang kearah Sarju yang sudah mencabut kerisnya.
"Setan! Kalau berani, perlihatkan mukamu!" bentak Sarju.
Halimun atau asap putih itu membuyar dan tampaklah seorang pemuda tampan berdiri sambil bertolak pinggang menghadapi Sarju, lalu pemuda itu menoleh ke arah Sarikem dan tersenyum. Sarikem melihat dengan mata terbelalak bahwa pemuda itu bukan lain adalah pemuda ganteng yang dilihatnya menjadi tamu dalam pesta siang tadi. Pemuda itu adalah Linggajaya yang mempergunakan Aji Panglimutan.

Melihat pemuda ini, Sarju terkejut dan heran karena dia belum pernah melihatnya. Siang tadi dia tidak memperhatikan para tamunya dan tidak melihat Linggajaya.
"Heh! Siapa kamu? Berani mati memasuki kamar tanpa ijin!" bentak Sarji Suaranya cukup lantang dan hal ini memang dia sengaja untuk menarik perhatian para penjaga di luar kamarnya.
Akan tetapi tanpa dia sadari, Linggajaya telah mengerahkan kekuatan sihirnya sehingga pada saat itu suara Sarju yang dirasakannya lantang itu hanya terdengar lirih saja sehingga tidak mungkin terdengar dari luar kamar.
"Aku adalah Dewa Asmara. Aku lebih berhak atas diri gadis ini daripada engkau!"
Sarju marah sekali dan sambil mengeluarkan suara gerengan seperti harimau terluka dia sudah menerjang dengan kerisnya. Dengan pengerahan tenaganya dia menusukkan keris itu ke arah perut Linggajaya. Linggajaya sudah dapat menduga bahwa laki-laki tinggi besar itu hanya mengandalkan tenaga kasar saja dan kerisnyapun bukan pusaka ampuh, maka sambil tersenyum saja membiarkan perutnya ditusuk.
"Singg ....."
Keris itu berdesing dan dengan kuatnya menghujam ke arah perut LinggaJaya. Melihat ini, Sarikem memejamkan matanya karena ngeri membayangkan perut pemuda tampan itu akan mengucurkan darah.
"Tuk-tuk.....!"
Dua kali keris itu menusuk perut, akan tetapi alangkah kagetnya hati Sarju ketika merasa seolah kerisnya bertemu dengan baja! Dia menjadi penasaran sekali melihat bahwa yang tertusuk robek hanya baju pemuda itu. Maka dia mengerahkan seluruh tenaganya, kini menusuk ke arah dada.
"Wuuuttt ..... krekkk .....!"
Kerisnya patah menjadi dua dan sebelum dia dapat berbuat sesuatu, tangan kiri Linggajaya menampar ke arah leher Sarju.
"Wuutt ..... plak ......'"

Sarju terkulai roboh dan tak dapat bergerak lagi karena tamparan itu membuat dia pingsan Dengan kakinya Linggajaya mendorong tubuh Sarju yang pingsan itu ke kolong pembaringan sehingga tidak tampak. Sarikem yang tadi memejamkan mata  setelah tidak mendengar adanya gerakan lagi, lalu memberanikan diri membuka matanya dengan hati merasa ngeri. Akan tetapi ia terbelalak heran melihat pemuda ganteng itu berdiri di dekat pembaringan sambil tersenyum kepadanya sedangkan calon suaminya tidak tampak lagi. Biarpun Sarikem amat kagum dan tertarik kepada pemuda yang ganteng itu, berbeda jauh dari calon suaminya yang hilang, namun karena pemuda itu asing baginya, ia merasa khawatir juga, kalau saja ia menjadi hamba manusia. Akan tetapi, kalau sampai nafsu berahi memperhamba manusia, maka seperti nafsu-nafsu lainnya, ia akan menyeret manusia ke dalam perbuatan-perbuatan jahat dan tidak bersusila. Kalau nafsu berahi memperhambakan manusia maka muncullah perjinaan, pelacuran, bahkan perkosaan!
Linggajaya juga menjadi hamba nafsu berahi sehingga dia melakukan perbuatan yang hina dan keji. Gamelan di ruangan depan rumah Ki Lurah Kartodikun yang semalam suntuk dibunyikan itu akhirnya berhenti setelah fajar menyingsing dan terdengar ayam jantan berkokok menyambut munculnya cahaya lembut yang menandakan bahwa matahari akan segera tersembul di balik bukit.

Sarju yang tadinya rebah pingsan di kalong pembaringan, kini membuka mata dan siuman dari pingsannya, seperti orang baru bangun tidur. Dia merasa bingung karena mendapatkan dirinya rebah di kolong pembaringan. Ketika pandang matanya bertemu dengan keris patah yang menggeletak di sudut kamar, teringatlah dia akan perkelahiannya semalam melawan pemuda asing itu. Dia segera menggulingkan dirinya keluar dari bawah pembaringan lalu bangkit berdiri. Matanya terbelalak dan mukanya merah sekali ketika dia melihat Sarikem tidur pulas berangkulan dengan pemuda yang semalam memasuki kamar itu.
"Jahanam busuk!" bentaknya dan dia melupakan pengalaman semalam betapa dia sama sekali bukan tandingan pemuda yang sakti mandraguna itu. Setelah membentak dengan suara lantang, dia lalu menangkap lengan Linggajaya dan menyeretnya turun dari atas pembaringan! Sarikem terbangun dari pulasnya oleh gerakan dan suara ini, dan ia membuka matanya, terkejut melihat Sarju menyeret Linggajaya turun dari pembaringan. Ia bangkit duduk dan menjerit karena kaget dan takut.

Linggajaya segera sadar dan dia melihat Sarju sudah mengayun kepalan tangannya untuk memukul mukanya. Linggajaya menggerakkan tangan kanan, miringkan tubuh dan menangkap lengan yang bergerak memukulnya. Sekali mengerahkan tenaga dan jari-jari tangannya mencengkeram, tulang lengan Sarju menjadi patah-patah. Sarju berteriak mengaduh, akan tetapi kaki Linggajaya menendangnya dan tubuhnya terlempar menabrak pintu kamar. Begitu kuatnya tubuhnya menabrak daun pintu sehingga daun pintu itu jebol dan tubuh Sarju menggelinding keluar. Empat orang yang bertugas jaga di luar kamar pengantin adalah jagoan-jagoan yang menjadi jagabaya (penjaga keamanan) di dusun Sumber. Tadipun mereka sudah merasa heran mendengar suara Sarju memaki di dalam kamar itu. Kini terdengar suara gedubrakan dan tiba-tiba daun pintu jebol dan tubuh Sarju menggelinding keluar. Tentu saja mereka terkejut sekali. Mereka cepat melonggokan dalam kamar dan melihat seorang pemuda tampan sedang membereskan pakaian yang tadinya awut-awutan, sedang mempelai wanita mendekam di atas pembaringan sambil menangis ketakutan. Tanpa dikomando lagi empat orang jagoan itu segera berlompatan masuk dalam kamar, mengepung Linggajaya yang membereskan pakaiannya sambil tersenyum dengan sikap tenang sekali.
"Hei, siapakah engkau? Menyerahlah untuk kami tangkap!" bentak seorang diantara mereka yang kumisnya tebal dan panjang melintang.
Linggajaya membereskan kain pengikat kepala sambil tersenyum dan tidak tergesa-gesa, setelah semua pakaiannya beres dan rapi kembali, baru dia berkata
"Kalian hendak menangkap aku? Nah tangkaplah kalau kalian bisa!"
Si kumis tebal memerintahkan temannya yang bertubuh gempal pendek,
"Suro, tangkap dan belenggu kedua tangannya. Kita hadapkan kepada Ki Lurah!"

Suro yang bertubuh pendek gempal dan tampaknya kokoh kuat itu segera maju dan dia sudah membawa segulung tali. Dengan cepat dia menangkap lengan kiri Linggajaya, menelikungnya ke belakang, disatukan dengan lengan kanan lalu mengikat kedua pergelangan tangan pemuda itu dengan kuat. Linggajaya tersenyum geli seolah melihat pertunjukan yang lucu. Setelah kedua lengan itu diikat kuat kuat, si kumis tebal membentak pemuda tampan itu.
"Hayo ikut kami menghadap Ki Lurah!"
Akan tetapi Linggajaya menggerakkan dua tangannya dan tali yang membelenggunya itu putus, kedua lengannya sudah bebas lagi.
"Hemm, kalian anjing-anjing buduk pergilah dan jangan mengganggu aku!" kata Linggajaya.
Empat orang itu terkejut dan marah sekali. Mereka mencabut klewang (golok) yang terselip di pinggang lalu menyerang pemuda itu dari depan, belakang, kanan dan kiri. Akan tetapi Linggajaya dengan gerakan cepat memutar tubuhnya seperti gasing, kedua tangannya bergerak cepat empat kali dan empat orang itu berpelantingan dan tidak mampu bangkit kembali! Linggajaya lalu menghampiri pembaringan, mengelus rambut yang terurai itu dan mencubit dagu Sarikem, lalu berkata,
"Manis, aku pergi sekarang."
Sarikem yang kebingungan dan ketakutan, menjerit,
"Kakangmas, bawalah aku pergi! Aku ikut.....!"

Akan tetapi Linggajaya sudah melompat ke atas dan menjebol atap yang semalam dia tutup kembali ketika memasuki kamar itu. Mana dia mau perduli kepada Sarikem. Setelah apa yang terjadi semalam nafsunya telah terlampiaskan dan dia tidak mau mengacuhkan lagi gadis itu, tidak mau tahu nasib apa yang akan menimpa dirinya. Tentu saja dia tidak sudi membawa pergi Sarikem yang hanya akan menjadi beban saja baginya Setelah keinginannya tercapai, diapun tidak menginginkan lagi wanita itu!  Dengan mempergunakan kesaktiannya Linggajaya berlari seperti angin cepat dan menjelang tengah hari dia sudah sampai di rumah tinggal Resi Bajrasakti yang berupa sebuah gedung yang cukup mewah. Resi Bajrasakti merupakan datuk Kerajaan Wengker, menjadi penasihat utama dari Raja Adhamapanuda, yaitu raja Wengker yang berusia empat puluh lima tahun. Linggajaya disambut oleh empat orang wanita muda yang rata-rata berwajah cantik. Mereka adalah selir-selir Resi Brajasakti dan mereka juga diam-diam mengadakan hubungan gelap dengan Linggajaya, bahkan mereka berempat ini yang menjadi "guru-guru" pemuda itu dalam olah asmara. Tentu saja Resi Bajrasakti tidak mudah dikelabui dan tahu bahwa empat orang selirnya itu bermain gila dengan muridnya. Akan tetapi dasar perangainya sendiri sudah bobrok dia tidak menjadi marah bahkan merasa bangga karena muridnya itu tidak saja mewarisi ilmu-ilmunya, bahkan juga mewarisi wataknya yang mata keranjang dan tidak mau melewatkan wanita cantik begitu saja! Ketika Linggajaya memasuki ruangan dalam, gurunya sedang duduk di situ. Linggajaya cepat memberi hormat kepada gurunya.
"Bapa guru," katanya sebagai salam.
"Hemm, Linggajaya, bagaimana dengan latihanmu? Sudahkah engkau dapat memupuk kesabaranmu? Kesabaran itu penting sekali agar engkau dapat mengendalikan diri, tidak menjadi mata gelap dan lengah karena dipengaruhi perasaan."
"Sudah, bapa. Baru pagi tadi saya berhenti memancing."
"Bagus, sekarang bergantilah pakaian yang pantas. Kita harus menghadap Gusti Adipati."
"Menghadap Gusti Adipati? Ada kepentingan apakah, bapa resi?"
"Ada tugas penting untukmu. Engkau sudah cukup mempelajari semua aji kanuragan dariku. Kepandaian itu harus kaupergunakan untuk mencari kedudukaan dan kemuliaan. Gusti Adipati hendak menyerahkan tugas penting kepadamu. Engkau harus menyanggupinya, dan kalau engkau berhasil dengan tugasmu itu, ha ha, tentu engkau akan memperoleh kedudukan yang tinggi."

Linggajaya lalu pergi mandi dan berganti pakaian baru. Kemudian bersama gurunya mereka pergi menghadap Adipati Adhamapanuda yang menjadi raja Kerajaan Wengker. Sebagai penasihat raja atau adipati, Resi Bajrasakti dapat masuk sewaktu-waktu ke istana tanpa ada perajurit pengawal yang berani menghalanginya. Setelah tiba di ruangan depan istana, Resi Bajrasakti memanggil kepala pengawal dan menyuruhnya menghadap dan melaporkan kepada Adipati Adhamapanuda bahwa dia bersama muridnya mohon menghadap. Setelah kepala pengawal pergi ke dalam istana, guru dan murid itu duduk menanti di pendopo itu. Biarpun sudah beberapa kali Linggajaya memasuki istana diajak gurunya, tetap saja kini dia masih mengagumi ruangan istana yang indah dengan perabot ruangan yang serba bagus dan mewah. Gedung tempat tinggal gurunya yang besar itupun bukan apa-apa dibandingkan dengan istana adipati. Apa lagi rumah orang tuanya di Karang Tirta, walaupun merupakan rumah terbesar dan terindah di dusun itu, namun seolah sebuah gubuk miskin saja dibandingkan istana ini! Diam-diam timbul keinginan dalam hatinya. Kalau saja dia yang menjadi raja dan memiliki istana ini! Alangkah akan senangnya dan bangganya! Lamunan Linggajaya membuyar ketika kepala pengawal itu muncul dan mengatakan kepada Resi Bajrasakti bahwa sang adipati telah menanti di ruangan samping, di mana sang adipati biasa menerima para pamong praja dan pembantunya.

Ruangan itu luas sekali dan Raja Adhamapanuda sudah duduk di atas kursi kebesarannya dan di depannya telah disediakan kursi untuk Resi Bajrasaki yang menjadi penasihatnya. Setelah memberi hormat, sang resi duduk atas di kursi itu dan Linggajaya duduk bersila menghadap sang adipati atau Raja Wengker itu.
"Ah, kakang resi telah datang sama muridmu. Siapa nama muridmu ini kakang resi? Aku lupa lagi namanya." kata raja yang bertubuh tinggi besar bermuka brewok dan kedua lengannya berbulu lebat seperti seekor lutung. Suaranya besar parau dan matanya yang lebar itu memandang penuh selidik kepada Linggajaya yang duduk bersila di depannya. Karena gurunya memandang kepadanya, Linggajaya lalu menyembah dan menjawab,
"Nama hamba Linggajaya, Gusti."
"Oh ya, sekarang aku ingat. Kakang resi, apakah muridmu ini sudah menguasai semua aji kesaktian yang andika ajarkan kepadanya selama ini?"
"Sudah, Adi Adipati."
"Bagus! Boleh kami mengujinya?"
"Tentu saja, silakan!"
"Heh, Linggajaya, kami ingin menguji kemampuanmu. Beranikah engkau melawan Limantoko, pengawal pribadi kami?" tanya sang adipati kepada Linggajaya.

Pemuda itu sudah tahu bahwa Limantoko adalah seorang raksasa yang kokoh kuat dan merupakan jagoan istana Wengker. Akan tetapi menurut keterangan gurunya, Limantoko hanyalah seorang kasar yang mengandalkan tenaga kasar saja, jadi bukan merupakan lawan yang terlalu berat baginya. Maka tanpa ragu dia menjawab.
"Hamba sanggup dan berani, gusti adipati."
"Bagus!" kata Adipati Adhamapanuda yang lalu bertepuk tangan tiga kali dan muncullah seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun. Laki-laki ini memang menyeramkan. Tubuhnya tinggi besar, dua kali tubuh Linggajaya, bahkan lebih tinggi besar dibandingkan tubuh sang adipati dan tubuh Resi Bajrasakti sendiri. Seperti seekor gajah dia menghampiri sang adipati dan memberi hormat dengan sembah.
"Limantoko, kami ingin menguji ketangguhan Linggajaya ini. Lawanlah dia agar kami dapat mengetahui sampai di mana kemampuannya."
"Sendika melaksanakan perintah paduka!" kata Limantoko yang segera bangkit dan menuju ke tengah ruangan yang luas itu, berdiri dengan kedua kaki terpentang dan tampak kokoh kuat seperi batu karang. Dia menoleh ke arah Linggajaya dan berkata dengan suara lantang,
"Marilah, orang muda, kita main-main sebentar."
Linggajaya menyembah kepada sang adipati, lalu bangkit berdiri dan menghampiri raksasa itu.
"Aku telah siap, andika mulailah!"

<<<Bagian 23                                                                                         Bagian 25 >>>

No comments:

Post a Comment