Sementara itu, Sarikem, mempelai wanita yang berusia delapan belas tahun, juga melihat halimun atau asap putih yang turun dari atas itu. Ia menjadi ketakutan dan cepat berlari dan naik ke atas pembaringan, mepet di dinding sambil memandang kearah Sarju yang sudah mencabut kerisnya.
"Setan! Kalau berani,
perlihatkan mukamu!" bentak Sarju.
Halimun atau asap putih itu membuyar
dan tampaklah seorang pemuda tampan berdiri sambil bertolak pinggang menghadapi
Sarju, lalu pemuda itu menoleh ke arah Sarikem dan tersenyum. Sarikem melihat
dengan mata terbelalak bahwa pemuda itu bukan lain adalah pemuda ganteng yang
dilihatnya menjadi tamu dalam pesta siang tadi. Pemuda itu adalah Linggajaya
yang mempergunakan Aji Panglimutan.
Melihat pemuda ini, Sarju terkejut
dan heran karena dia belum pernah melihatnya. Siang tadi dia tidak
memperhatikan para tamunya dan tidak melihat Linggajaya.
"Heh! Siapa kamu? Berani mati
memasuki kamar tanpa ijin!" bentak Sarji Suaranya cukup lantang dan hal
ini memang dia sengaja untuk menarik perhatian para penjaga di luar kamarnya.
Akan tetapi tanpa dia sadari,
Linggajaya telah mengerahkan kekuatan sihirnya sehingga pada saat itu suara
Sarju yang dirasakannya lantang itu hanya terdengar lirih saja sehingga tidak
mungkin terdengar dari luar kamar.
"Aku adalah Dewa Asmara. Aku
lebih berhak atas diri gadis ini daripada engkau!"
Sarju marah sekali dan sambil
mengeluarkan suara gerengan seperti harimau terluka dia sudah menerjang dengan
kerisnya. Dengan pengerahan tenaganya dia menusukkan keris itu ke arah perut
Linggajaya. Linggajaya sudah dapat menduga bahwa laki-laki tinggi besar itu
hanya mengandalkan tenaga kasar saja dan kerisnyapun bukan pusaka ampuh, maka
sambil tersenyum saja membiarkan perutnya ditusuk.
"Singg ....."
Keris itu berdesing dan dengan
kuatnya menghujam ke arah perut LinggaJaya. Melihat ini, Sarikem memejamkan
matanya karena ngeri membayangkan perut pemuda tampan itu akan mengucurkan
darah.
"Tuk-tuk.....!"
Dua kali keris itu menusuk perut,
akan tetapi alangkah kagetnya hati Sarju ketika merasa seolah kerisnya bertemu
dengan baja! Dia menjadi penasaran sekali melihat bahwa yang tertusuk robek
hanya baju pemuda itu. Maka dia mengerahkan seluruh tenaganya, kini menusuk ke
arah dada.
"Wuuuttt ..... krekkk
.....!"
Kerisnya patah menjadi dua dan
sebelum dia dapat berbuat sesuatu, tangan kiri Linggajaya menampar ke arah
leher Sarju.
"Wuutt ..... plak ......'"
Sarju terkulai roboh dan tak dapat
bergerak lagi karena tamparan itu membuat dia pingsan Dengan kakinya Linggajaya
mendorong tubuh Sarju yang pingsan itu ke kolong pembaringan sehingga tidak
tampak. Sarikem yang tadi memejamkan mata setelah tidak mendengar adanya
gerakan lagi, lalu memberanikan diri membuka matanya dengan hati merasa ngeri.
Akan tetapi ia terbelalak heran melihat pemuda ganteng itu berdiri di dekat
pembaringan sambil tersenyum kepadanya sedangkan calon suaminya tidak tampak
lagi. Biarpun Sarikem amat kagum dan tertarik kepada pemuda yang ganteng itu,
berbeda jauh dari calon suaminya yang hilang, namun karena pemuda itu asing
baginya, ia merasa khawatir juga, kalau saja ia menjadi hamba manusia. Akan
tetapi, kalau sampai nafsu berahi memperhamba manusia, maka seperti nafsu-nafsu
lainnya, ia akan menyeret manusia ke dalam perbuatan-perbuatan jahat dan tidak
bersusila. Kalau nafsu berahi memperhambakan manusia maka muncullah perjinaan,
pelacuran, bahkan perkosaan!
Linggajaya juga menjadi hamba nafsu berahi
sehingga dia melakukan perbuatan yang hina dan keji. Gamelan di ruangan depan
rumah Ki Lurah Kartodikun yang semalam suntuk dibunyikan itu akhirnya berhenti
setelah fajar menyingsing dan terdengar ayam jantan berkokok menyambut
munculnya cahaya lembut yang menandakan bahwa matahari akan segera tersembul di
balik bukit.
Sarju yang tadinya rebah pingsan di
kalong pembaringan, kini membuka mata dan siuman dari pingsannya, seperti orang
baru bangun tidur. Dia merasa bingung karena mendapatkan dirinya rebah di
kolong pembaringan. Ketika pandang matanya bertemu dengan keris patah yang
menggeletak di sudut kamar, teringatlah dia akan perkelahiannya semalam melawan
pemuda asing itu. Dia segera menggulingkan dirinya keluar dari bawah
pembaringan lalu bangkit berdiri. Matanya terbelalak dan mukanya merah sekali
ketika dia melihat Sarikem tidur pulas berangkulan dengan pemuda yang semalam
memasuki kamar itu.
"Jahanam busuk!" bentaknya
dan dia melupakan pengalaman semalam betapa dia sama sekali bukan tandingan pemuda
yang sakti mandraguna itu. Setelah membentak dengan suara lantang, dia lalu
menangkap lengan Linggajaya dan menyeretnya turun dari atas pembaringan!
Sarikem terbangun dari pulasnya oleh gerakan dan suara ini, dan ia membuka
matanya, terkejut melihat Sarju menyeret Linggajaya turun dari pembaringan. Ia
bangkit duduk dan menjerit karena kaget dan takut.
Linggajaya segera sadar dan dia
melihat Sarju sudah mengayun kepalan tangannya untuk memukul mukanya.
Linggajaya menggerakkan tangan kanan, miringkan tubuh dan menangkap lengan yang
bergerak memukulnya. Sekali mengerahkan tenaga dan jari-jari tangannya
mencengkeram, tulang lengan Sarju menjadi patah-patah. Sarju berteriak
mengaduh, akan tetapi kaki Linggajaya menendangnya dan tubuhnya terlempar
menabrak pintu kamar. Begitu kuatnya tubuhnya menabrak daun pintu sehingga daun
pintu itu jebol dan tubuh Sarju menggelinding keluar. Empat orang yang bertugas
jaga di luar kamar pengantin adalah jagoan-jagoan yang menjadi jagabaya
(penjaga keamanan) di dusun Sumber. Tadipun mereka sudah merasa heran mendengar
suara Sarju memaki di dalam kamar itu. Kini terdengar suara gedubrakan dan
tiba-tiba daun pintu jebol dan tubuh Sarju menggelinding keluar. Tentu saja
mereka terkejut sekali. Mereka cepat melonggokan dalam kamar dan melihat
seorang pemuda tampan sedang membereskan pakaian yang tadinya awut-awutan,
sedang mempelai wanita mendekam di atas pembaringan sambil menangis ketakutan.
Tanpa dikomando lagi empat orang jagoan itu segera berlompatan masuk dalam
kamar, mengepung Linggajaya yang membereskan pakaiannya sambil tersenyum dengan
sikap tenang sekali.
"Hei, siapakah engkau?
Menyerahlah untuk kami tangkap!" bentak seorang diantara mereka yang
kumisnya tebal dan panjang melintang.
Linggajaya membereskan kain pengikat
kepala sambil tersenyum dan tidak tergesa-gesa, setelah semua pakaiannya beres
dan rapi kembali, baru dia berkata
"Kalian hendak menangkap aku?
Nah tangkaplah kalau kalian bisa!"
Si kumis tebal memerintahkan
temannya yang bertubuh gempal pendek,
"Suro, tangkap dan belenggu
kedua tangannya. Kita hadapkan kepada Ki Lurah!"
Suro yang bertubuh pendek gempal dan
tampaknya kokoh kuat itu segera maju dan dia sudah membawa segulung tali.
Dengan cepat dia menangkap lengan kiri Linggajaya, menelikungnya ke belakang, disatukan
dengan lengan kanan lalu mengikat kedua pergelangan tangan pemuda itu dengan
kuat. Linggajaya tersenyum geli seolah melihat pertunjukan yang lucu. Setelah
kedua lengan itu diikat kuat kuat, si kumis tebal membentak pemuda tampan itu.
"Hayo ikut kami menghadap Ki
Lurah!"
Akan tetapi Linggajaya menggerakkan
dua tangannya dan tali yang membelenggunya itu putus, kedua lengannya sudah
bebas lagi.
"Hemm, kalian anjing-anjing
buduk pergilah dan jangan mengganggu aku!" kata Linggajaya.
Empat orang itu terkejut dan marah
sekali. Mereka mencabut klewang (golok) yang terselip di pinggang lalu
menyerang pemuda itu dari depan, belakang, kanan dan kiri. Akan tetapi
Linggajaya dengan gerakan cepat memutar tubuhnya seperti gasing, kedua
tangannya bergerak cepat empat kali dan empat orang itu berpelantingan dan
tidak mampu bangkit kembali! Linggajaya lalu menghampiri pembaringan, mengelus
rambut yang terurai itu dan mencubit dagu Sarikem, lalu berkata,
"Manis, aku pergi
sekarang."
Sarikem yang kebingungan dan ketakutan,
menjerit,
"Kakangmas, bawalah aku pergi!
Aku ikut.....!"
Akan tetapi Linggajaya sudah
melompat ke atas dan menjebol atap yang semalam dia tutup kembali ketika
memasuki kamar itu. Mana dia mau perduli kepada Sarikem. Setelah apa yang
terjadi semalam nafsunya telah terlampiaskan dan dia tidak mau mengacuhkan lagi
gadis itu, tidak mau tahu nasib apa yang akan menimpa dirinya. Tentu saja dia
tidak sudi membawa pergi Sarikem yang hanya akan menjadi beban saja baginya
Setelah keinginannya tercapai, diapun tidak menginginkan lagi wanita itu! Dengan mempergunakan kesaktiannya Linggajaya
berlari seperti angin cepat dan menjelang tengah hari dia sudah sampai di rumah
tinggal Resi Bajrasakti yang berupa sebuah gedung yang cukup mewah. Resi
Bajrasakti merupakan datuk Kerajaan Wengker, menjadi penasihat utama dari Raja
Adhamapanuda, yaitu raja Wengker yang berusia empat puluh lima tahun.
Linggajaya disambut oleh empat orang wanita muda yang rata-rata berwajah
cantik. Mereka adalah selir-selir Resi Brajasakti dan mereka juga diam-diam
mengadakan hubungan gelap dengan Linggajaya, bahkan mereka berempat ini yang
menjadi "guru-guru" pemuda itu dalam olah asmara. Tentu saja Resi
Bajrasakti tidak mudah dikelabui dan tahu bahwa empat orang selirnya itu
bermain gila dengan muridnya. Akan tetapi dasar perangainya sendiri sudah
bobrok dia tidak menjadi marah bahkan merasa bangga karena muridnya itu tidak
saja mewarisi ilmu-ilmunya, bahkan juga mewarisi wataknya yang mata keranjang
dan tidak mau melewatkan wanita cantik begitu saja! Ketika Linggajaya memasuki
ruangan dalam, gurunya sedang duduk di situ. Linggajaya cepat memberi hormat
kepada gurunya.
"Bapa guru," katanya
sebagai salam.
"Hemm, Linggajaya, bagaimana
dengan latihanmu? Sudahkah engkau dapat memupuk kesabaranmu? Kesabaran itu
penting sekali agar engkau dapat mengendalikan diri, tidak menjadi mata gelap
dan lengah karena dipengaruhi perasaan."
"Sudah, bapa. Baru pagi tadi
saya berhenti memancing."
"Bagus, sekarang bergantilah
pakaian yang pantas. Kita harus menghadap Gusti Adipati."
"Menghadap Gusti Adipati? Ada
kepentingan apakah, bapa resi?"
"Ada tugas penting untukmu.
Engkau sudah cukup mempelajari semua aji kanuragan dariku. Kepandaian itu harus
kaupergunakan untuk mencari kedudukaan dan kemuliaan. Gusti Adipati hendak
menyerahkan tugas penting kepadamu. Engkau harus menyanggupinya, dan kalau
engkau berhasil dengan tugasmu itu, ha ha, tentu engkau akan memperoleh
kedudukan yang tinggi."
Linggajaya lalu pergi mandi dan
berganti pakaian baru. Kemudian bersama gurunya mereka pergi menghadap Adipati
Adhamapanuda yang menjadi raja Kerajaan Wengker. Sebagai penasihat raja atau
adipati, Resi Bajrasakti dapat masuk sewaktu-waktu ke istana tanpa ada
perajurit pengawal yang berani menghalanginya. Setelah tiba di ruangan depan
istana, Resi Bajrasakti memanggil kepala pengawal dan menyuruhnya menghadap dan
melaporkan kepada Adipati Adhamapanuda bahwa dia bersama muridnya mohon
menghadap. Setelah kepala pengawal pergi ke dalam istana, guru dan murid itu
duduk menanti di pendopo itu. Biarpun sudah beberapa kali Linggajaya memasuki
istana diajak gurunya, tetap saja kini dia masih mengagumi ruangan istana yang
indah dengan perabot ruangan yang serba bagus dan mewah. Gedung tempat tinggal
gurunya yang besar itupun bukan apa-apa dibandingkan dengan istana adipati. Apa
lagi rumah orang tuanya di Karang Tirta, walaupun merupakan rumah terbesar dan
terindah di dusun itu, namun seolah sebuah gubuk miskin saja dibandingkan
istana ini! Diam-diam timbul keinginan dalam hatinya. Kalau saja dia yang
menjadi raja dan memiliki istana ini! Alangkah akan senangnya dan bangganya!
Lamunan Linggajaya membuyar ketika kepala pengawal itu muncul dan mengatakan
kepada Resi Bajrasakti bahwa sang adipati telah menanti di ruangan samping, di
mana sang adipati biasa menerima para pamong praja dan pembantunya.
Ruangan itu luas sekali dan Raja
Adhamapanuda sudah duduk di atas kursi kebesarannya dan di depannya telah
disediakan kursi untuk Resi Bajrasaki yang menjadi penasihatnya. Setelah
memberi hormat, sang resi duduk atas di kursi itu dan Linggajaya duduk bersila
menghadap sang adipati atau Raja Wengker itu.
"Ah, kakang resi telah datang
sama muridmu. Siapa nama muridmu ini kakang resi? Aku lupa lagi namanya."
kata raja yang bertubuh tinggi besar bermuka brewok dan kedua lengannya berbulu
lebat seperti seekor lutung. Suaranya besar parau dan matanya yang lebar itu
memandang penuh selidik kepada Linggajaya yang duduk bersila di depannya.
Karena gurunya memandang kepadanya, Linggajaya lalu menyembah dan menjawab,
"Nama hamba Linggajaya,
Gusti."
"Oh ya, sekarang aku ingat.
Kakang resi, apakah muridmu ini sudah menguasai semua aji kesaktian yang andika
ajarkan kepadanya selama ini?"
"Sudah, Adi Adipati."
"Bagus! Boleh kami
mengujinya?"
"Tentu saja, silakan!"
"Heh, Linggajaya, kami ingin
menguji kemampuanmu. Beranikah engkau melawan Limantoko, pengawal pribadi
kami?" tanya sang adipati kepada Linggajaya.
Pemuda itu sudah tahu bahwa
Limantoko adalah seorang raksasa yang kokoh kuat dan merupakan jagoan istana
Wengker. Akan tetapi menurut keterangan gurunya, Limantoko hanyalah seorang
kasar yang mengandalkan tenaga kasar saja, jadi bukan merupakan lawan yang
terlalu berat baginya. Maka tanpa ragu dia menjawab.
"Hamba sanggup dan berani,
gusti adipati."
"Bagus!" kata Adipati
Adhamapanuda yang lalu bertepuk tangan tiga kali dan muncullah seorang
laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun. Laki-laki ini memang
menyeramkan. Tubuhnya tinggi besar, dua kali tubuh Linggajaya, bahkan lebih
tinggi besar dibandingkan tubuh sang adipati dan tubuh Resi Bajrasakti sendiri.
Seperti seekor gajah dia menghampiri sang adipati dan memberi hormat dengan
sembah.
"Limantoko, kami ingin menguji
ketangguhan Linggajaya ini. Lawanlah dia agar kami dapat mengetahui sampai di
mana kemampuannya."
"Sendika melaksanakan perintah
paduka!" kata Limantoko yang segera bangkit dan menuju ke tengah ruangan
yang luas itu, berdiri dengan kedua kaki terpentang dan tampak kokoh kuat
seperi batu karang. Dia menoleh ke arah Linggajaya dan berkata dengan suara
lantang,
"Marilah, orang muda, kita
main-main sebentar."
Linggajaya menyembah kepada sang
adipati, lalu bangkit berdiri dan menghampiri raksasa itu.
"Aku telah siap, andika
mulailah!"
No comments:
Post a Comment