Rambut itu halus lemas hitam berikal dan panjangnya sampai ke lutut! Ketika itu, gelungan rambutnya yang sejak tadi memang longgar itu terlepas dan rambutnya terurai seperti selendang dari benang sutera hitam melibat tubuhnya. Indah sekali.
"Kalau paduka tidak berkenan
dan tidak percaya kepada hamba, paduka tidak menceritakan kepada hamba juga
tidak mengapa, sinuwun. Hamba dapat menerimanya, hamba juga rumangsa (tahu
diri) bahwa hamba hanyalah seorang selir....." kata Mandari manja.
Sang Prabu Erlangga merangkulnya.
"Tentu saja aku percaya
sepenuhnya kepadamu, yayi. Nah, dengarlah berita yang tidak menyenangkan itu.
Paman Empu bharada dating memberi peringatan kepadaku bahwa dia merasakan
adanya ancaman malapetaka yang akan melanda Mataram, yaitu akan datangnya
perang besar, banjir darah dan bunuh membunuh antara manusia."
"Aduh, sinuwun. Bagaimana
mungkin pertapa itu dapat menggambarkan keadaan yang akan datang?" tanya
Mandari dengan hati terkejut dan cemas.
"Engkau tidak tahu, diajeng.
Paman Empu Bharada adalah seorang yang bijaksana dan sidda paningal (sempurna
penglihatan batinnya) sehingga dia seolah dapat mengetahui atau merasakan
hal-hal yang belum terjadi."
"Sinuwun, kalau begitu, paduka
harap tenang dan jangan khawatir. Hambamu ini yang siap untuk membantu, kalau
perlu berkorban nyawa, untuk menjaga keselamatan paduka."
"Hemm, aku senang mendengar
ucapanmu yang menunjukkan kesetiaanmu Mandari. Akan tetapi aku tidak
menkhawatirkan keselamatan sendiri, yang kuprihatinkan adalah kemelut yang
mengorbankan nyawa banyak kawulak itu. Yah, kalau Sang Hyang Widhi sudah
menghendaki demikian, apa yang dapat kita lakukan? Menurut Paman Empu Bharada,
semua itu merupakan akibat dari pada sebab, akan tetapi aku belum dapat
menemukan apa yang menjadi sebab datangnya ancaman marabahaya ini."
"Ah, paduka pujaan hamba, harap
jangan berduka. Hamba sanggup untuk membantu paduka mencari apa yang menjadi
penyebabnya."
Dengan gaya yang amat menarik dan
memikat, Mandari mempergunakan semua kecantikan dan kepandaiannya untuk
menghibur hati Sang Prabu Erlangga. Harus diakui bahwa Mandari, seperti juga
kakaknya, Lasmini yang menjadi selir Ki Patih Narotama, biarpun ketika diboyong
ke Kahuripan masih gadis dan belum pernah berhubungan dengan pria, namun dalam
hal memikat hati pria memiliki bakat dan kepandaian istimewa. Semua ini mereka
dapatkan dari lingkungan pergaulan di istana Kerajaan Parang siluman. Sang
Prabu Erlangga yang memang sedang terpesona oleh kecantikan Mandari, segera
dapat terhibur dan tenggelam dalam lautan madu asmara dengan buih-buih nafsu
berahinya yang memabokkan, lupa akan segala. Betapapun pandai dan kuatnya
seorang manusia, tetap saja dia merupakan mahluk lemah yang terkadang menjadi
bodoh dan lemah tak berdaya, ringkih dan menjadi permainan dari nafsunya
sendiri Nafsu yang telah diikut sertakan kepada manusia sejak dia lahir, yang
semestinya menjadi peserta dan pelayan manusia agar manusia dapat bertahan
hidup dan dapat menikmati kehidupan di dunia ini seringkali berubah menjadi
majikan yang menyesatkan. Kita ditungganginya, dipermainkannya, hati akal
pikiran kita dikuasainya sehingga kita menuruti segala kehendaknya, kehendak
iblis yang bersenjatakan nafsu, kita ditundukkan dengan pancinganpancingan
kesenangan dan kenikmatan duniawi, dengan umpan pancingan yang serba
enak-kepenak. Oleh karena itulah, seorang yang bijaksana akan selalu eling
(ingat) dan waspada, ingat setiap saat kepada Sang Hyang Widhi, mohon kekuatan
dan bimbinganNya dan waspada terhadap gejolaknya nafsu daya rendah yang selalu
siap menerkam dan menguasai kita.
Pemuda itu duduk diam bagaikan arca
di atas batu karang besar itu. Batu karang yang cukup tinggi sehingga pecahan
air laut bergelombang yang membentur karang itu tidak sampai mencapai pemuda
itu. Dia memegang sebatang walesan (tangkai pancing), duduk diam tak bergerak
sedikitpun, sepasang matanya menatap tali pancing yang sebagian tenggelam dalam
air, yang bergoyang-goyang terbawa air berombak, hampir tak pernah berkedip.
Perasaannya berpusat pada jari tangan yang memegang tangkai pancing karena dari
situlah dia akan dapat mengetahui apabila umpannya disambar ikan. Pemuda itu
berusia kurang lebih dua puluh tahun. Tubuhnya tinggi tegap, bentuknya gagah
dan kokoh seperti Sang gatotkaca. Kedua lengannya tampak berisi kekuatan
dahsyat. Wajahnya yang tertutup sebuah caping lebar itu tampan dan gagah.
Matanya lebar dan mencorong, hidungnya mancung dan mulutnya terhias senyum
mengejek yang membayangkan keangkuhan. Pakaiannya terbuat dari kain halus,
potongannya seperti bangsawan! kain pengikat kepalanya juga baru, dilibatkan di
kepalanya dengan bentuk yang khas, ujungnya berdiri meruncing di bagian
belakang. Kain pengikat kepala ini tersembunyi di bawah caping lebar yang
dipakainya untuk melindungi wajahnya yang tampan halus dari sengatan panas
matahari siang itu. Sudah berjam-jam dia duduk memancing di atas batu karang
itu, namun belum sekalipun juga umpan pancingnya disentuh ikan. Alisnya yang
tebal berkerut, pandang matanya mulai tak sabar. Tangan kirinya meraih ujung
batu karang dan sekali dia mengerahkan tenaga, ujung batu karang itu sempal
(terpotong patah) Kemudian pandang matanya mencari cari ke atas permukaan air
yang bergerak-gerak di bawah batu karang. Pandang mata yang tajam itu dapat
menangkap berkelebatnya bayang-bayang dalam air dan tiba-tiba tangan kiri yang
memegang potongan batu karang sebesar kepalan itu bergerak cepat. Batu karang
itu meluncur ke arah air.
"Syuuuuutt ..... cupp
.....!!"
Batu karang itu masuk ke air dan
tampak air bergerak keras, memercik-mercik ke atas dan seekor ikan meloncat ke
atas permukaan air, lalu mengambang dengan perutnya yang putih di atas. Ikan
sebesar paha manusia itu mati dengan kepala pecah! Bukan main hebatnya sambitan
batu karang itu, dapat mengenai kepala ikan yang berenang di bawah permukaan
air dengan tepat dan sekaligus membuat kepala yang keras itu pecah! Wajah
tampan itu tersenyum dan tangan kirinya menepuk caping di kepalanya.
“Tolol kau! Datang ke sini bukan
untuk mencari ikan, melainkan untuk berlatih kesabaran!"
Siapakah pemuda yang tangkas ini?
Dia adalah Linggajaya, pemuda putera kepala dusun Suramenggala dusun Karang
Tirta yang lima tahun lalu diculik kemudian menjadi murid Resi Bajrasakti dan
dibawa ke Kerajaan Wengker. Selama lima tahun, dia telah digembleng oleh
gurunya, kini dia telah menguasai berbagai aji kesaktian yang dahsyat. Resi
Bajrasakti senang dan puas hatinya melihat muridnya ini karena pemuda ini
benar-benar berbakat baik sehingga dalam waktu lima tahun saja telah mampu
menerima semua ajiannya. Hanya sedikit yang dianggapnya masih kurang pada diri
Linggajaya, yaitu kesabaran. Karena itu selama beberapa hari dia menyuruh
muridnya itu melatih kesabaran dengan memancing ikan di Laut Kidul. Sejak pagi
tadi Linggajaya melatih kesabaran dan memancing, akan tetapi karena sampai
siang belum juga ada ikan menyentuh umpan pada pancingnya, ia menjadi kesal dan
membunuh seekor ikan besar dengan sambitan batu karang. Akan tetapi dia mencela
diri sendiri dan teringat bahwa pekerjaannya memancing ikan hanya merupakan
latihan kesabaran dan ketenangan dan dia merasa bahwa latihannya gagal karena
dia merasa kesal dan tidak sabar.
Linggajaya lalu membuang tangkai
pancingnya ke laut dan dia segera bangkit dan melompat dari batu karang itu ke
batu karang yang lain. Dengan tubuh ringan dia berloncatan sampai akhirnya ia
tiba di tepi pantai. Kemudian dia berlari cepat menuju ke utara, ke Kerajaan
Wengker. Larinya cepat bukan main sehingga yang tampak hanya bayangannya
berkelebat. Inilah merupakan satu di antara aji kesaktian yang sudah dikuasai
Linggajaya. Tubuhnya menjadi ringan dan tenaga yang mendorongnya meluncur ke
depan amat kuatnya. Di samping aji kanuragan yang membuat pemuda ini menjadi
seorang yang digdaya, dia juga mewarisi ilmu-ilmu sihir yang diajarkan gurunya.
Bukan hanya kesaktian yang diperolehnya, namun lingkungan hidup di Kerajaan
Wengker yang penuh kemaksiatan itupun mempengaruhi watak Linggajaya. Pada
dasarnya, ketika masih menjadi pemuda putera lurah di Karang Tirta, dia sudah
merupakan seorang pemuda yang tinggi hati, manja, mengandalkan kedudukan
ayahnya sebagai orang "nomor satu" di dusun Karang Tirta dan suka
bertindak sewenang-wenang melindas siapa saja yang berani menentangnya. Setelah
menjadi murid Resi Bajrasakti dan hidup di Kerajaan Wengker selama lima tahun,
tabiatnya tidak berubah bahkan dipengaruhi lingkungan yang lebih bejat lagi!
Akan tetapi, dia kini berubah menjadi seorang pemuda yang ganteng, pesolek,
pandai membawa menutupi watak buruknya dengan penampilan yang menyenangkan.
Wataknya yang mata keranjang sejak remaja menjadi lebih matang dan dia terkenal
sekali di antara para gadis di kota raja Wengker, baik para puteri di
lingkungan istana maupun para gadis yang tinggal di luar istana. Dia terkenal
sebagai seorang pemuda perayu yang membuat banyak gadis tergila-gila.
Resi Bajrasakti sendiri adalah
seorang yang suka memperdalam ilmu sesatnya dengan cara yang cabul dan kotor,
lihat ulah muridnya, dia tidak menegur, tidak marah, bahkan merasa bangga dan
sering memuji Linggajaya sebagai seorang pria yang "jantan" seperti
Sang Arjuna. Tentu saja pujian gurunya ini membuat Linggajaya menjadi semakin
berkepala besar dan semakin nekat. Bukan saja para gadis yang cantik menarik
dirayunya, bahkan dia berani merayu isteri orang yang menarik hatinya. Tidak
ada wanita yang tidak jatuh oleh rayuannya karena dia menggunakan aji pameletan
yang ampuh! Hanya sayang, Linggajaya menganggap para wanita di Kerajaan Wengker
kurang menarik, gerak geriknya kasar sehingga jarang ada wanita yang
benar-benar menarik perhatiannya. Di kerajaan tetangga, yaitu Kerajaan Parang
Siluman yang berada di pantai Laut Kidul, di sanalah tempatnya para wanita yang
cantik jelita dan menarik. Menurut dongeng, daerah itu dahulu menjadi tempat
para pangeran dan bangsawan tinggi Mataram bertamasya dan para bangsawan itu
banyak yang memadu kasih dengan para wanita daerah itu sehingga keturunan
mereka berwajah elok. Prianya ganteng-ganteng, wanitanya cantik-cantik dan
berkulit kuning mulus. Akan tetapi Linggajaya tidak berani bermain gila di
daerah Kerajaan Parang siluman yang diperintah oleh Ratu Durgakala yang
terkenal cantik jelita. Daerah ini merupakan daerah larangan. Gurunya, Resi
Bajrasakti berulang kali memperingatkan agar dia tidak mengganggu para wanita
daerah kerajaan kecil itu karena Kerajaan Parang Siluman itu biarpun kecil
memiliki banyak orang sakti dan kerajaan itupun menjadi sahabat Kerajaan
Wengker dalam menghadapi Mataram atau yang kini disebut Kerajaan Kahuripan.
Pernah pasukan Mataram dahulu menyerang Kerajaan Wengker, namun berkat
perlawanan Raja Wengker, yaitu Raja Adhamapanuda, dibantu oleh pasukan Kerajaan
Parang Siluman, maka serangan Mataram yang berkali-kali itu gagal. Sampai sekarang
masih berlangsung semacam "perang dingin" antara Kahuripan dengan
Wengker dan Parang Siluman.
Ketika Linggajaya tiba di perbatasan
antara daerah Parang Siluman dan daerah Wengker, di sebuah dusun, matahari
telah condong ke barat, bunyi gamelan menarik perhatiannya dan ia pun memasuki
dusun itu, selain untuk melihat ada perayaan apa di dusun Sumber itu, juga
karena perutnya terasa lapar dan dia ingin mendapatkan makanan. Setelah tiba di
tempat keramaian, ternyata ada pesta perayaan pernikahan di rumah kepala dusun
Sumber itu. Putera kepala dusun itu sedang melangsungkan pernikahan dengan
seorang gadis dari daerah Parang Siluman. Linggajaya tersenyum girang.
Kebetulan sekali, pikirnya tersedia hidangan yang enak untuknya. Maka tanpa
ragu-ragu lagi diapun memasuki tempat perayaan itu. Karena seorang pemuda
ganteng yang berpakaian seperti seorang bangsawan, maka lurah Sumber yang
bernama Kartodikun itu menyambutnya dengan hormat dan Linggajaya malah mendapat
tempat terhormat, di jajaran para tamu yang dihormati, dekat tempat duduk kedua
mempelai!
Ketika hidangan disuguhkan,
Linggajaya makan sampai kenyang dan setelah makan barulah dia memperhatikan
sekitarnya. Baru dia melihat dengan hati terguncang betapa ayu manisnya
mempelai wanita itu! Kulitnya yang kuning mulus, wajahnya yang manis, segera
menarik hatinya. Di daerah Wengker jarang dia melihat gadis secantik itu! Dia
mengerling ke arah mempelai pria. Seorang pemuda yang bertubuh tinggi besar dan
bersikap kasar, ciri khas orang-orang Kerajaan Wengker. Sayang sekali,
pikirnya, gadis yang begitu ayu manis, bertubuh mulus menggairahkan, akan
menjadi isteri seorang laki-laki yang buruk rupa dan kasar! Dari tempat
duduknya, Linggajaya lalu mengerahkan tenaga batinnya melalui pandang mata yang
tertuju kepada mempelai wanita yang sejak tadi menundukkan mukanya itu.
Sebentar saja mempelai wanita itu terpaksa mengangkat muka karena ada suatu
dorongan yang amat kuat memaksanya untuk mengangkat muka dan menoleh ke kanan.
Pandang mata gadis itu bertemu dengan wajah Linggajaya dan seketika gadis itu
terpesona. Di antara para tamu, apa lagi dibandingkan pria yang duduk di
sampingnya sebagai calon suaminya, maka Linggajaya tampak seperti Arjuna di
antara para raksasa! Linggajaya juga memandang. Dua pasang mata bertemu pandang,
bertaut sejenak. Linggajaya tersenyum kepada mempelai wanita itu. Gadis itupun
tersipu, menundukkan mukanya lagi dengan senyum tersungging di bibirnya yang
manis. Kenyataan ini merupakan tanda yang cukup jelas bagi Linggajaya dan dia
pun sudah mengambil keputusan untuk menggunakan kesempatan itu dan
bersenang-senang malam ini di rumah Ki Lurah Kartodikun! Ketika para tamu
dibubarkan, diapun ikut keluar.
Malam itu, rumah ki lurah masih
meriah dengan bunyi gamelan. Tamunya tidak banyak karena yang datang hanya yang
siang tadi tak sempat datang dari perayaannya siang tadi. Akan tetapi gamelan
masih terus dimainkan, mengiringi suara tiga orang pesinden. Banyak orang yang
menonton di luar pagar pekarangan. Akan tetapi, sepasang mempelai tidak tampak
di luar. Mereka sudah lelah mengikuti upacara dan pesta sehari tadi dan kini
mereka berdua sudah berada di kamar pengantin yang dijaga beberapa orang di
luar pintu kamar untuk melindungi mereka dari gangguan. Tampaknya semua aman
saja dan semua orang, sambil tersenyum penuh pengertian, saling berbisik dan
mengira bahwa sepasang mempelai tentu sedang berasyik masyuk sendiri. Akan
tetapi, tidak ada seorangpun menduga apa lagi mengetahui, bahwa begitu sepasang
mempelai tadi memasuk kamar dan memasang palang pada daun pintu dari dalam,
terjadilah sesuatu yang luar biasa. Ketika putera Lurah dusun Sumber itu
selesai memasang palang pintu dan hendak menggandeng tangan isterinya menuju ke
pembaringan, tiba-tiba dia melihat halimun atau asap putih turun dari atap memasuki
kamar itu. Sarju, mempelai pria yang berusia sekitar tiga puluh tahun itu
adalah seorang pemuda Wengker yang rata-rata memiliki kegagahan dan keberanian.
Dia pun tidak asing dengan keanehan yang terjadi sebagai hasil ilmu sihir, maka
tahulah dia bahwa ada sesuatu yang tidak beres memasuki kamarnya. Mungkin
sebangsa siluman atau orang yang mempergunakan ilmu setan.
No comments:
Post a Comment