Melihat ini, dengan suara yang khas manja dan merdu merayu bagaikan seorang waranggana yang ahli bertembang Mandari menegur lembut.
"Duhai Kakanda sinuwun,
siapakah gerangan Sang Empu Bharada itu sehingga paduka tampak demikian
tergesa-gesa hendak menyambutnya?"
Sang Prabu Erlangga tersenyum.
"Beliau adalah Sang Empu
Bharada, yayi Dewi Mandari. Paman Empu Bharada adalah seorang pendeta yang arif
bijaksana dan beliau menjadi penasihat kerajaan, seorang pinisepuh."
Mandari merasa jantungnya berdebar
tegang dan perasaan tidak enak menyerubungi hatinya.
"Kakanda sinuwun, bolehkah
hamba ikut menyambut sang empu agar hamba dapat berkenalan dengannya?"
Sang Prabu Erlangga menggeleng
kepala sambil tersenyum menghibur.
"Sayang tidak pada saat ini,
yayi. Pada kesempatan lain engkau akan kuperkenalkan. Akan tetapi kalau paman
empu datang berkunjung pada saat yang bukan pesewakan (persidangan), berarti
beliau mempunyai urusan penting sekali yang hendak dibicarakan empat mata
denganku. Karena itu, tunggulah di sini, aku akan menjumpainya sebentar,
yayi."
Sang prabu lalu merangkul dan
mencium selir barunya itu. Mandari cukup pandai untuk menyimpan kekecewaannya
dan dengan patuh ia mengangguk. Sang Prabu Erlangga lalu keluar dari kamar dan
memasuki ruang tamu di mana Sang Empu Bharada telah duduk menantinya. Empu
Bharada segera bangkit berdiri memberi hormat dengan sembah di dada ketika sang
prabu muncul.
"Ah, maafkan saya, paman.
Apakah paman sudah lama menanti?" tegur sang prabu dengan ramah.
"Baru saja, anak prabu. Hamba
yang mohon maaf kalau kunjungan hamba ini mengganggu."
"Ah, sama sekali tidak, paman.
Silahkan duduk."
Mereka lalu duduk berhadapan.
"Saya yakin bahwa kedatangan
paman ini tentu membawa hal yang amat penting. Hal apakah itu, paman?"
"Terlebih dahulu hamba
menghaturkan sembah hormat hamba kepada paduka anak prabu dan mohon maaf
sebanyaknya. Sesungguhnya, hamba menghadap karena terdorong oleh perasaan tidak
enak dan khawatir akan keselamatan kerajaan paduka."
Seketika Prabu Erlangga menjadi
serius dan memandang pendeta itu penuh perhatian.
"Paman Empu Bharada, apakah
yang menyebabkan paman merasa tidak enak dan apa kiranya yang mengancam keselamatan
kerajaan kita?"
"Maaf, sinuwun. Hamba tidak
dapat menjelaskan apa yang mengancam keselamatan kerajaan ini. Akan tetapi
hamba mendapat getaran perasaan bahwa saat ini terdapat mendung tebal menutupi
kecerahan matahari di Kahuripan. Ada sesuatu yang tidak benar telah terjadi dan
kiranya hanya paduka sendiri yang dapat mengetahui apa yang telah terjadi itu.
Hamba hanya dapat menunjukkan adanya ancaman keselamatan itu agar paduka dapat
berhati-hati."
Raja Erlangga mengerutkan alisnya
dan mengangguk-angguk. Dia percaya akan semua ucapan sang empu dan timbul
kekhawatiran dalam hatinya.
"Saya tahu bahwa apa yang akan
terjadi itu merupakan rahasia bagi manusia dan tak seorangpun boleh membukanya.
Akan tetapi, dapatkah paman menceritakan bahaya dalam bentuk apa yang akan
menggelapkan suasana di kerajaan kita ini?"
Sang empu memejamkan kedua matanya,
tunduk tepekur lalu berkata, suaranya lirih, bergetar, seolah suara itu datang
dari jauh.
"..... perang antara
manusia.....banjir darah..... api kebencian dan dendam berkobar merajalela.....
iblis setan berpesta pora..... para dewa berduka, langit bumi gonjang
ganjing..... alampun nangis karena ulah manusia....." Kakek itu terdiam,
lalu menghela napas panjang dan membaca doa puja-puji kepada Sang Hyang Widhi
Wasa.
"Ommm ..... swastiastu, oommm
....."
Mendengar ini, Sang Prabu Erlangga
ikut memuji Sang Hyang Widhi dan setelah itu menurunkan kedua tangannya yang
menyembah kepada Sang Maha Kuasa dengan penuh penyerahan diri dan berkata
sambil menghela napas panjang.
"Ouh Jagad Dewa Bathara,
ampunilah kiranya dosa-dosa hamba....." Kemudian dia bertanya kepada Empu
Bharada.
"Duh paman empu, apakah tidak
ada cara untuk menolak ancaman bencana itu?"
“Oh, sinuwun! Kehendak Hyang Widhi
terjadilah! Siapa yang mampu mengubahnya? Apa lagi manusia biasa, bahkan para
dewa sekalipun tidak akan mampu mengubahnya dan harus menerima kenyataan bahwa
apapun yang dikehendaki Hyang Widhi, pasti akan terjadi. Soal baik atau buruk
itu hanya pandangan manusia yang menerima kenyataan itu, akan tetapi yang sudah
pasti dan kita harus yakin akan hal itu adalah bahwa kehendak Sang Hyang Widhi
sudah pasti baik, benar dan sempurna dan seadil adilnya! Tidak ada akibat
terjadi tanpa sebab, tidak ada buah tanpa pohon dan baik buruknya buah tergantung
dari baik atau buruknya pohon. Orang bijaksana yakin bahwa akibat datang dari
sebab maka dia akan mencari sebab pada dirinya sendiri, bukan di luar dirinya.
Tidak menyalahkan yang di atas, tidak menyalahkan yang di bawah, melainkan
menyalahkan diri sendiri karena di situlah terletak segala sumber yang menjadi
sebab timbulnya persoalan sebagai akibatnya."
"Paman Empu Bharada, saya
mengerti benar akan hal itu. Berarti, malapetaka mengerikan yang paman rasakan
itu akan terjadi karena sebab yang terletak dalam diri saya sendiri. Paman,
sudilah paman mengingatkan saya, kesalahan apakah yang telah saya lakukan?
Kejahatan apakah yang menyeret saya ke dalam dosa?"
"Anak prabu, akibat dari sebab
memang tidak dapat dihindarkan. Namun Hyang Widhi adalah Maha Pengasih dan Maha
Penyayang, Maha Murah dan Maha Pengampun. Satu-satunya sikap, yang terbaik bagi
manusia hanyalah bertaubat, taubat yang sejati. Bertaubat sejati bukan berarti
penyesalan karena perbuatan itu menimbulkan kesengsaraan. Penyesalan karena
memetik buah pahit perbuatan dosa belum tentu membuat orang bertaubat dengan
sungguh-sungguh. Itu hanya apa yang disebut' kapok lombok' saja, bertaubatnya
orang makan sambal pedas, kalau kepedasan dan kepanasan mengatakan bertaubat,
akan tetapi di lain saat dia sudah makan sambal lagi karena enaknya! Bertaubat
yang sejati hanya dapat terjadi kalau orang sadar sepenuhnya akan perbuatannya
yang menyimpang dari kebenaran sehingga dia tidak akan mengulang lagi
kesalahannya.”
"Duh kanjeng paman,
tunjukkanlah kesalahan apa yang telah saya perbuat?"
"Maafkan hamba, sinuwun.
Mencari sampai menemukan kesalahan sendiri haruslah dilakukan oleh dirinya
sendiri. Kalau sudah ditemukan, itulah yang dinamakan kesadaran. Kalau
ditunjukkan orang lain hanya akan menjadi bahan perbantahan, memperebutkan
kebenaran karena nafsu selalu mendorong manusia untuk membenarkan karena diri
sendiri. Kebenaran yang diperebutkan bukanlah kebenaran lagi namanya. Karena
itu silakan paduka mencari dan menemukan sendiri, gusti."
Sang Prabu Erlangga menghela napas
panjang.
"Andika benar dan saya yang
keliru telah mengajukan pertanyaan bodoh itu, paman. Baiklah, saya akan
menelusuri diri sendiri dan semoga Sang Hyang Widhi Wasa akan memberi petunjuk
sehingga saya akan dapat menemukan kesalahan saya sendiri."
"Semoga Hyang Widhi selalu
melindungi paduka. Hamba mohon pamit, gusti, karena semua yang hendak hamba
sampaikan telah paduka terima."
"Silakan, paman dan banyak
terima kasih atas semua petunjuk dan peringatan yang telah paman berikan kepada
saya. Selamat jalan."
Empu Bharada memberi hormat lalu
mengundurkan diri, keluar dari istana, Setelah pertapa itu pergi, Sang Prabu
Erlangga sampai lama tetap duduk termenung. Kemudian dia memasuki sanggar
pamujan, sebuah ruangan yang khusus untuk berdoa dan samadhi. Di ruangan yang
tidak boleh diganggu siapapun juga, Sang Prabu Erlangga bersamadhi, mohon
petunjuk dari Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam keadaan yang hening dan kosong itu,
perlahan-lahan tampak oleh mata batinnya bayang-bayang yang suram, makin lama
semakin jelas dan dia melihat wajah yang cantik jelita, ayu manis merak ati tak
ubahnya seorang dewi dari kahyangan, wajah yang tersenyum manis dengan sepasang
bibir merah indah merekah, kerlingan sepasang mata yang indah tajam penuh daya
pikat. Wajah Mandari, selirnya yang tersayang. Sang Prabu Erlangga seperti
tersentak kaget dan dia mengerutkan alisnya. Mandari? Itukah yang menjadi
sebabnya Itukah kesalahannya? Mengambil Mandari sebagai selir?
"Tidak, bukan .....!" Dia
menggeleng kepalanya, membantah suara hatinya sendiri.
"Bukan itu, mustahil kalau
mengambil Mandari sebagai selir merupakan kesalahan. Hal itu kulakukan bahkan
untuk mengadakan perdamaian dan menjauhkan permusuhan? Bukankah hal ini
mendatangkan perdamaian antara Kahuripan dan Parang Siluman?"
Demikianlah pikiran raja itu membuat
renungan penalaran sendiri yang tentu saja anggapannya benar, sama sekali dia
tidak ingat bahwa pada hakekatnya bukan untuk perdamaian itu dia mengamnil
Mandari sebagai selir, melainkan karena dia tergila-gila dan terpikat oleh
kecantikan dan rayuan Mandari. Dan begitu membayangkan Mandari, yang tampak
hanyalah segi yang menyenangkan saja dan gadis yang menjadi selirnya itu tampak
baik sekali, terlalu baik, bahkan nyaris sempurna dalam pandangannya. Makin
diingat, hati Sang Prabu Erlangga semakin terpikat dan timbul perasaan rindu
kepada selirnya terkasih itu. Bahkan ada perasaan iba bahwa tadi hati/akal
pikirannya pernah meragukan kehadiran wanita jelita itu sebagai sumber
malapetaka yang diramalkan Empu Bharada. Maka keluarlah dia dari sanggar
pamujan, lalu bergegas menuju ke bagian istana yang menjadi tempat tinggal
Mandari. Setibanya di situ, dia tidak melihat Mandari di luar kamar. Seorang
abdi yang ditanyanya memberitahukan bahwa sang puteri juwita sejak tadi berada
di dalam kamarnya. Sang Prabu Erlangga cepat membuka daun pintu kamar yang luas
dan indah itu dan pertama kali yang menyambutnya adalah keharuman lembut yang
amat menyenangkan hidung dan menyejukkan hati. Dia melihat selir terkasih itu
rebah melungkup di atas pembaringan dengan posisi yang amat indah menawan.
Pakaiannya dari sutera halus itu menempel ketat di tubuhnya, memperlihatkan
lekak lengkung tubuh yang menggairahkan, agaknya tersingkap di bagian kaki
sehingga tampak betis yang kuning memadi bunting paha yang putih dan halus
mulus. Akan tetapi wanita cantik itu membenamkan mukanya pada bantal dan
pundaknya bergoyang-goyang sedikit seperti orang sedang menahan isak tangis.
"Adinda Mandari, engkau
kenapa!......?"
Sang Prabu Erlangga menegur lembut.
Mendengar teguran ini, Mandari mengangkat mukanya memandang dan jelas tampak
bahwa ia tengah menangis. Begitu melihat raja yang menjadi suaminya itu,
bergegas ia turun dari atas pembaringan, lari menghampiri dan menjatuhkan diri
berlutut, merangkul kedua kaki sang prabu sambil menangis.
"Duh gusti sinuwun pujaan hamba
mengapa paduka begitu tega kepada hamba .....?"
Sang Prabu Erlangga tertegun, heran
lalu tersenyum geli karena menganggap sikap selirnya itu terlalu manja, sikap
manja yang bahkan menambah daya tariknya. Dia merangkul dan membangunkan wanita
itu, lalu diajaknya duduk berjajar di tepi pembaringan. Dengan sentuhan mesra
penuh kasih sayang dihapusnya kedua pipi yang agak basah air mata itu lalu
diciuminya kedua pipi yang kemerahan, licin halus dan sedap harum mawar itu.
"Apa maksudmu, yayi? Aku tega
kepadamu? Aneh-aneh saja engkau ini. Aku selalu cinta dan sayang padamu, mana
mungkin aku tega?"
"Buktinya, sinuwun, paduka tega
meninggalkan hamba sejak tadi, meninggalkan hamba kesepian dan menanggung rindu
....."
Sang Prabu Erlangga tertawa dan
merangkul kekasihnya.
"Ha-ha-ha, diajeng Mandari.
Hanya sebentar aku meninggalkanmu karena aku harus menyambut datangnya tamu
yang kuhormati, dan engkau mengatakan sudah kesepian dan rindu?"
"Duh sinuwun, kalau paduka tidak
berada dekat hamba, hamba merasa seolah kehilangan matahari, gelap gulita
kehidupan hamba dan ..... dan ..... hamba khawatir sekali ....."
"Eh? Khawatir? Apa yang
kaukhawatirkan, sayangku, Engkau hidup di sini aman, tidak akan ada yang berani
mengganggumu, kecuali orang takut kepadaku juga engkau bukan sembarang wanita
yang mudah diganggu orang! Apa lagi yang kautakutkan?"
"Ampunkan hamba, sinuwun.....,
pertapa itu..... baru satu kali hamba bertemu dengannya akan tetapi.....
pandang matanya sungguh membuat hamba meriding (meremang), hamba takut padanya
gusti. Karena itu, ketika paduka menerima kunjungan Empu Bharada itu..hamba
takut.....!"
"Ah, rasa takutmu tidak
beralasan diajeng. Paman Empu Bharada adalah seorang yang bijaksana dan sejak
dulu beliau menjadi penasehatku yang setia. Sama sekali tidak ada alasannya
untuk ditakuti."
"Ampun, sinuwun. Mungkin paduka
benar, hamba hanya takut bayang-bayang sendiri. Akan tetapi agar hati hamba
dapat menjadi tenang, sudilah kiranya paduka memberitahu kepada hamba, berita
apakah gerangan yang dibawa sang Empu itu kepada paduka."
Sang Prabu Erlangga menghela napas
panjang.
"Wahai, adinda sayang, agaknya
perasaanmu sudah sedemikian pekanya sehingga kerisauan hatiku menembusmu dan
membuat engkau menjadi gelisah juga. Akan tetapi apa perlunya aku menceritakan
hal yang buruk kepadamu dan yang hanya akan membuat engkau merasa khawatir
sehingga akan mengurangi sinar kejelitaanmu?"
"Duh sinuwun pujaan hamba,
mengapa paduka berkata demikian? Bukankah hamba ini garwa (isteri) paduka, dan
bukankah garwo itu berarti sigaraning nyowo (belahan nyawa) suami dan isteri
itu selalu sehidup semati dengan suaminya, suka sama dinikmati dan duka sama
ditanggung, swargo nunut neroko katut(Ke surga ikut ke neraka terbawa)?"
Mendengar ini, Sang Prabu Erlangga
melupakan kerisauan hatinya.
"Heh-heh..heh, yayi Mandari!
Ucapanmu itu hanya merupakan pendapat umum yang salah kaprah! Memang benar
bahwa garwa adalah sigaraning nyowo, selagi hidup suami isteri sudah selayaknya
membagi rasa, suka sama dinikmati dan duka sama ditanggung. Akan tetapi kalau
sudah memasuki alam baka, masing-masing mempunyai tangung jawab dan tempat
sendiri-sendiri yang sepadan dengan keadaan masing-masing selama hidup didunia.
Seorang isteri tidak hanya swarga nunut neroko katut! Betapapun bijaksana sang
suami, kalau sang isteri jahat, tidak mungkin ia akan nunut ke surga dengan
suaminya. Sebaliknya, betapapun jahatnya sang suami, kalau isterinya baik budi
dan bijak, iapun tidak akan ikut ke neraka bersama sang suami."
Dengan manja Mandari lalu
menjatuhkan diri menelungkup dan meletakkan mukanya di atas pangkuan Sang Prabu
Erlangga yang menggunakan kedua tangan mengelus-elus rambut kepala selir
terkasih itu. Satu di antara daya tarik yang sangat kuat dari wanita ini adalah
rambutnya.
No comments:
Post a Comment