Bagian 22


Melihat ini, dengan suara yang khas manja dan merdu merayu bagaikan seorang waranggana yang ahli bertembang Mandari menegur lembut.
"Duhai Kakanda sinuwun, siapakah gerangan Sang Empu Bharada itu sehingga paduka tampak demikian tergesa-gesa hendak menyambutnya?"
Sang Prabu Erlangga tersenyum.
"Beliau adalah Sang Empu Bharada, yayi Dewi Mandari. Paman Empu Bharada adalah seorang pendeta yang arif bijaksana dan beliau menjadi penasihat kerajaan, seorang pinisepuh."
Mandari merasa jantungnya berdebar tegang dan perasaan tidak enak menyerubungi hatinya.
"Kakanda sinuwun, bolehkah hamba ikut menyambut sang empu agar hamba dapat berkenalan dengannya?"
Sang Prabu Erlangga menggeleng kepala sambil tersenyum menghibur.
"Sayang tidak pada saat ini, yayi. Pada kesempatan lain engkau akan kuperkenalkan. Akan tetapi kalau paman empu datang berkunjung pada saat yang bukan pesewakan (persidangan), berarti beliau mempunyai urusan penting sekali yang hendak dibicarakan empat mata denganku. Karena itu, tunggulah di sini, aku akan menjumpainya sebentar, yayi."

Sang prabu lalu merangkul dan mencium selir barunya itu. Mandari cukup pandai untuk menyimpan kekecewaannya dan dengan patuh ia mengangguk. Sang Prabu Erlangga lalu keluar dari kamar dan memasuki ruang tamu di mana Sang Empu Bharada telah duduk menantinya. Empu Bharada segera bangkit berdiri memberi hormat dengan sembah di dada ketika sang prabu muncul.
"Ah, maafkan saya, paman. Apakah paman sudah lama menanti?" tegur sang prabu dengan ramah.
"Baru saja, anak prabu. Hamba yang mohon maaf kalau kunjungan hamba ini mengganggu."
"Ah, sama sekali tidak, paman. Silahkan duduk."
Mereka lalu duduk berhadapan.
"Saya yakin bahwa kedatangan paman ini tentu membawa hal yang amat penting. Hal apakah itu, paman?"
"Terlebih dahulu hamba menghaturkan sembah hormat hamba kepada paduka anak prabu dan mohon maaf sebanyaknya. Sesungguhnya, hamba menghadap karena terdorong oleh perasaan tidak enak dan khawatir akan keselamatan kerajaan paduka."
Seketika Prabu Erlangga menjadi serius dan memandang pendeta itu penuh perhatian.
"Paman Empu Bharada, apakah yang menyebabkan paman merasa tidak enak dan apa kiranya yang mengancam keselamatan kerajaan kita?"
"Maaf, sinuwun. Hamba tidak dapat menjelaskan apa yang mengancam keselamatan kerajaan ini. Akan tetapi hamba mendapat getaran perasaan bahwa saat ini terdapat mendung tebal menutupi kecerahan matahari di Kahuripan. Ada sesuatu yang tidak benar telah terjadi dan kiranya hanya paduka sendiri yang dapat mengetahui apa yang telah terjadi itu. Hamba hanya dapat menunjukkan adanya ancaman keselamatan itu agar paduka dapat berhati-hati."
Raja Erlangga mengerutkan alisnya dan mengangguk-angguk. Dia percaya akan semua ucapan sang empu dan timbul kekhawatiran dalam hatinya.
"Saya tahu bahwa apa yang akan terjadi itu merupakan rahasia bagi manusia dan tak seorangpun boleh membukanya. Akan tetapi, dapatkah paman menceritakan bahaya dalam bentuk apa yang akan menggelapkan suasana di kerajaan kita ini?"

Sang empu memejamkan kedua matanya, tunduk tepekur lalu berkata, suaranya lirih, bergetar, seolah suara itu datang dari jauh.
"..... perang antara manusia.....banjir darah..... api kebencian dan dendam berkobar merajalela..... iblis setan berpesta pora..... para dewa berduka, langit bumi gonjang ganjing..... alampun nangis karena ulah manusia....." Kakek itu terdiam, lalu menghela napas panjang dan membaca doa puja-puji kepada Sang Hyang Widhi Wasa.
"Ommm ..... swastiastu, oommm ....."
Mendengar ini, Sang Prabu Erlangga ikut memuji Sang Hyang Widhi dan setelah itu menurunkan kedua tangannya yang menyembah kepada Sang Maha Kuasa dengan penuh penyerahan diri dan berkata sambil menghela napas panjang.
"Ouh Jagad Dewa Bathara, ampunilah kiranya dosa-dosa hamba....." Kemudian dia bertanya kepada Empu Bharada.
"Duh paman empu, apakah tidak ada cara untuk menolak ancaman bencana itu?"
“Oh, sinuwun! Kehendak Hyang Widhi terjadilah! Siapa yang mampu mengubahnya? Apa lagi manusia biasa, bahkan para dewa sekalipun tidak akan mampu mengubahnya dan harus menerima kenyataan bahwa apapun yang dikehendaki Hyang Widhi, pasti akan terjadi. Soal baik atau buruk itu hanya pandangan manusia yang menerima kenyataan itu, akan tetapi yang sudah pasti dan kita harus yakin akan hal itu adalah bahwa kehendak Sang Hyang Widhi sudah pasti baik, benar dan sempurna dan seadil adilnya! Tidak ada akibat terjadi tanpa sebab, tidak ada buah tanpa pohon dan baik buruknya buah tergantung dari baik atau buruknya pohon. Orang bijaksana yakin bahwa akibat datang dari sebab maka dia akan mencari sebab pada dirinya sendiri, bukan di luar dirinya. Tidak menyalahkan yang di atas, tidak menyalahkan yang di bawah, melainkan menyalahkan diri sendiri karena di situlah terletak segala sumber yang menjadi sebab timbulnya persoalan sebagai akibatnya."
"Paman Empu Bharada, saya mengerti benar akan hal itu. Berarti, malapetaka mengerikan yang paman rasakan itu akan terjadi karena sebab yang terletak dalam diri saya sendiri. Paman, sudilah paman mengingatkan saya, kesalahan apakah yang telah saya lakukan? Kejahatan apakah yang menyeret saya ke dalam dosa?"
"Anak prabu, akibat dari sebab memang tidak dapat dihindarkan. Namun Hyang Widhi adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Maha Murah dan Maha Pengampun. Satu-satunya sikap, yang terbaik bagi manusia hanyalah bertaubat, taubat yang sejati. Bertaubat sejati bukan berarti penyesalan karena perbuatan itu menimbulkan kesengsaraan. Penyesalan karena memetik buah pahit perbuatan dosa belum tentu membuat orang bertaubat dengan sungguh-sungguh. Itu hanya apa yang disebut' kapok lombok' saja, bertaubatnya orang makan sambal pedas, kalau kepedasan dan kepanasan mengatakan bertaubat, akan tetapi di lain saat dia sudah makan sambal lagi karena enaknya! Bertaubat yang sejati hanya dapat terjadi kalau orang sadar sepenuhnya akan perbuatannya yang menyimpang dari kebenaran sehingga dia tidak akan mengulang lagi kesalahannya.”
"Duh kanjeng paman, tunjukkanlah kesalahan apa yang telah saya perbuat?"
"Maafkan hamba, sinuwun. Mencari sampai menemukan kesalahan sendiri haruslah dilakukan oleh dirinya sendiri. Kalau sudah ditemukan, itulah yang dinamakan kesadaran. Kalau ditunjukkan orang lain hanya akan menjadi bahan perbantahan, memperebutkan kebenaran karena nafsu selalu mendorong manusia untuk membenarkan karena diri sendiri. Kebenaran yang diperebutkan bukanlah kebenaran lagi namanya. Karena itu silakan paduka mencari dan menemukan sendiri, gusti."

Sang Prabu Erlangga menghela napas panjang.
"Andika benar dan saya yang keliru telah mengajukan pertanyaan bodoh itu, paman. Baiklah, saya akan menelusuri diri sendiri dan semoga Sang Hyang Widhi Wasa akan memberi petunjuk sehingga saya akan dapat menemukan kesalahan saya sendiri."
"Semoga Hyang Widhi selalu melindungi paduka. Hamba mohon pamit, gusti, karena semua yang hendak hamba sampaikan telah paduka terima."
"Silakan, paman dan banyak terima kasih atas semua petunjuk dan peringatan yang telah paman berikan kepada saya. Selamat jalan."
Empu Bharada memberi hormat lalu mengundurkan diri, keluar dari istana, Setelah pertapa itu pergi, Sang Prabu Erlangga sampai lama tetap duduk termenung. Kemudian dia memasuki sanggar pamujan, sebuah ruangan yang khusus untuk berdoa dan samadhi. Di ruangan yang tidak boleh diganggu siapapun juga, Sang Prabu Erlangga bersamadhi, mohon petunjuk dari Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam keadaan yang hening dan kosong itu, perlahan-lahan tampak oleh mata batinnya bayang-bayang yang suram, makin lama semakin jelas dan dia melihat wajah yang cantik jelita, ayu manis merak ati tak ubahnya seorang dewi dari kahyangan, wajah yang tersenyum manis dengan sepasang bibir merah indah merekah, kerlingan sepasang mata yang indah tajam penuh daya pikat. Wajah Mandari, selirnya yang tersayang. Sang Prabu Erlangga seperti tersentak kaget dan dia mengerutkan alisnya. Mandari? Itukah yang menjadi sebabnya Itukah kesalahannya? Mengambil Mandari sebagai selir?
"Tidak, bukan .....!" Dia menggeleng kepalanya, membantah suara hatinya sendiri.
"Bukan itu, mustahil kalau mengambil Mandari sebagai selir merupakan kesalahan. Hal itu kulakukan bahkan untuk mengadakan perdamaian dan menjauhkan permusuhan? Bukankah hal ini mendatangkan perdamaian antara Kahuripan dan Parang Siluman?"

Demikianlah pikiran raja itu membuat renungan penalaran sendiri yang tentu saja anggapannya benar, sama sekali dia tidak ingat bahwa pada hakekatnya bukan untuk perdamaian itu dia mengamnil Mandari sebagai selir, melainkan karena dia tergila-gila dan terpikat oleh kecantikan dan rayuan Mandari. Dan begitu membayangkan Mandari, yang tampak hanyalah segi yang menyenangkan saja dan gadis yang menjadi selirnya itu tampak baik sekali, terlalu baik, bahkan nyaris sempurna dalam pandangannya. Makin diingat, hati Sang Prabu Erlangga semakin terpikat dan timbul perasaan rindu kepada selirnya terkasih itu. Bahkan ada perasaan iba bahwa tadi hati/akal pikirannya pernah meragukan kehadiran wanita jelita itu sebagai sumber malapetaka yang diramalkan Empu Bharada. Maka keluarlah dia dari sanggar pamujan, lalu bergegas menuju ke bagian istana yang menjadi tempat tinggal Mandari. Setibanya di situ, dia tidak melihat Mandari di luar kamar. Seorang abdi yang ditanyanya memberitahukan bahwa sang puteri juwita sejak tadi berada di dalam kamarnya. Sang Prabu Erlangga cepat membuka daun pintu kamar yang luas dan indah itu dan pertama kali yang menyambutnya adalah keharuman lembut yang amat menyenangkan hidung dan menyejukkan hati. Dia melihat selir terkasih itu rebah melungkup di atas pembaringan dengan posisi yang amat indah menawan. Pakaiannya dari sutera halus itu menempel ketat di tubuhnya, memperlihatkan lekak lengkung tubuh yang menggairahkan, agaknya tersingkap di bagian kaki sehingga tampak betis yang kuning memadi bunting paha yang putih dan halus mulus. Akan tetapi wanita cantik itu membenamkan mukanya pada bantal dan pundaknya bergoyang-goyang sedikit seperti orang sedang menahan isak tangis.
"Adinda Mandari, engkau kenapa!......?"
Sang Prabu Erlangga menegur lembut. Mendengar teguran ini, Mandari mengangkat mukanya memandang dan jelas tampak bahwa ia tengah menangis. Begitu melihat raja yang menjadi suaminya itu, bergegas ia turun dari atas pembaringan, lari menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut, merangkul kedua kaki sang prabu sambil menangis.
"Duh gusti sinuwun pujaan hamba mengapa paduka begitu tega kepada hamba .....?"
Sang Prabu Erlangga tertegun, heran lalu tersenyum geli karena menganggap sikap selirnya itu terlalu manja, sikap manja yang bahkan menambah daya tariknya. Dia merangkul dan membangunkan wanita itu, lalu diajaknya duduk berjajar di tepi pembaringan. Dengan sentuhan mesra penuh kasih sayang dihapusnya kedua pipi yang agak basah air mata itu lalu diciuminya kedua pipi yang kemerahan, licin halus dan sedap harum mawar itu.
"Apa maksudmu, yayi? Aku tega kepadamu? Aneh-aneh saja engkau ini. Aku selalu cinta dan sayang padamu, mana mungkin aku tega?"
"Buktinya, sinuwun, paduka tega meninggalkan hamba sejak tadi, meninggalkan hamba kesepian dan menanggung rindu ....."

Sang Prabu Erlangga tertawa dan merangkul kekasihnya.
"Ha-ha-ha, diajeng Mandari. Hanya sebentar aku meninggalkanmu karena aku harus menyambut datangnya tamu yang kuhormati, dan engkau mengatakan sudah kesepian dan rindu?"
"Duh sinuwun, kalau paduka tidak berada dekat hamba, hamba merasa seolah kehilangan matahari, gelap gulita kehidupan hamba dan ..... dan ..... hamba khawatir sekali ....."
"Eh? Khawatir? Apa yang kaukhawatirkan, sayangku, Engkau hidup di sini aman, tidak akan ada yang berani mengganggumu, kecuali orang takut kepadaku juga engkau bukan sembarang wanita yang mudah diganggu orang! Apa lagi yang kautakutkan?"
"Ampunkan hamba, sinuwun....., pertapa itu..... baru satu kali hamba bertemu dengannya akan tetapi..... pandang matanya sungguh membuat hamba meriding (meremang), hamba takut padanya gusti. Karena itu, ketika paduka menerima kunjungan Empu Bharada itu..hamba takut.....!"
"Ah, rasa takutmu tidak beralasan diajeng. Paman Empu Bharada adalah seorang yang bijaksana dan sejak dulu beliau menjadi penasehatku yang setia. Sama sekali tidak ada alasannya untuk ditakuti."
"Ampun, sinuwun. Mungkin paduka benar, hamba hanya takut bayang-bayang sendiri. Akan tetapi agar hati hamba dapat menjadi tenang, sudilah kiranya paduka memberitahu kepada hamba, berita apakah gerangan yang dibawa sang Empu itu kepada paduka."
Sang Prabu Erlangga menghela napas panjang.
"Wahai, adinda sayang, agaknya perasaanmu sudah sedemikian pekanya sehingga kerisauan hatiku menembusmu dan membuat engkau menjadi gelisah juga. Akan tetapi apa perlunya aku menceritakan hal yang buruk kepadamu dan yang hanya akan membuat engkau merasa khawatir sehingga akan mengurangi sinar kejelitaanmu?"
"Duh sinuwun pujaan hamba, mengapa paduka berkata demikian? Bukankah hamba ini garwa (isteri) paduka, dan bukankah garwo itu berarti sigaraning nyowo (belahan nyawa) suami dan isteri itu selalu sehidup semati dengan suaminya, suka sama dinikmati dan duka sama ditanggung, swargo nunut neroko katut(Ke surga ikut ke neraka terbawa)?"
Mendengar ini, Sang Prabu Erlangga melupakan kerisauan hatinya.
"Heh-heh..heh, yayi Mandari! Ucapanmu itu hanya merupakan pendapat umum yang salah kaprah! Memang benar bahwa garwa adalah sigaraning nyowo, selagi hidup suami isteri sudah selayaknya membagi rasa, suka sama dinikmati dan duka sama ditanggung. Akan tetapi kalau sudah memasuki alam baka, masing-masing mempunyai tangung jawab dan tempat sendiri-sendiri yang sepadan dengan keadaan masing-masing selama hidup didunia. Seorang isteri tidak hanya swarga nunut neroko katut! Betapapun bijaksana sang suami, kalau sang isteri jahat, tidak mungkin ia akan nunut ke surga dengan suaminya. Sebaliknya, betapapun jahatnya sang suami, kalau isterinya baik budi dan bijak, iapun tidak akan ikut ke neraka bersama sang suami."

Dengan manja Mandari lalu menjatuhkan diri menelungkup dan meletakkan mukanya di atas pangkuan Sang Prabu Erlangga yang menggunakan kedua tangan mengelus-elus rambut kepala selir terkasih itu. Satu di antara daya tarik yang sangat kuat dari wanita ini adalah rambutnya.

<<<Bagian 21                                                                                          Bagian 23 >>>

No comments:

Post a Comment