Bagian 21



Mendengar itu, sang Prabu Erlangga menjadi semakin heran dan kagum. Akan tetapi dia sudah maklum bahwa Kerajaan Parang Siluman merupakan pusat para ahli sihir. Tentu dua orang gadis ini mempergunakan ilmu atau jamu tertentu yang membuat mereka tampak begitu awet muda! Kembali sang prabu memandang kepada Lasmini yang masih menundukkan mukanya. Sungguh berbeda dengan sikap Mandari yang selalu berani memandangnya sambil tersenyum.
"Lasmini," kata sang prabu. "Benarkah seperti yang dilaporkan Kakang Patih Narotama bahwa engkau menerima pinanganku, suka menjadi garwa selirku?"
Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba Lasmini menangis. Tidak menangis keras, hanya terisak dan beberapa butir air mata menetes di atas kedua pipinya. Melihat ini, Sang Prabu Erlangga mengerutkan alisnya.
"Lasmini, kenapa andika menangis? ceritakanlah, apa yang menyusahkan hatimu? Kalau andika tidak suka menjadi garwa selir kami, mengapa tidak andika tolak saja pinangan yang diajukan Kakang Patih Narotama? Setelah tiba di sini kenapa andika menangis!" Tentu saja sang prabu merasa tidak senang hatinya melihat gadis itu menangis di depannya seolah akan dipaksa menjadi garwa selir di luar kemauannya. Dia tidak akan pernah sudi melakukan paksaan terhadap wanita manapun!

Lasmini menahan isaknya dan menyembah.
"Mohon beribu ampun, gusti. Hamba sudah lama mendengar akan kebijaksanaan paduka yang berlimpah budi, mohon pertimbangkan paduka, gusti, bagaimana seorang gadis seperti hamba dapat berserah diri kepada seorang prabu agung seperti paduka setelah ada pria lain yang tidak saja telah melihat pusar hamba, bahkan telah menyentuh dan merabanya? Hamba tidak mungkin dapat melayani pria lain....."
Bukan main kagetnya Sang Prabu Erlangga mendengar ini. Alisnya berkerut dan kulit wajahnya berubah merah.
"Lasmini, siapa yang telah berani melakukan hal itu kepadamu?"
Lasmini menoleh ke arah Kipatih Narotama.
"Harap paduka tanyakan kepada Kakangmas Narotama, gusti."
Sang Prabu Erlangga terbelalak heran dan terkejut sekali mendengar jawaban gadis itu. Dia segera memandang Narotama dan bertanya.
"Kakang Patih Narotama, apa artinya semua ini? Benarkah andika melakukan hal yang tidak patut itu terhadap diri Lasmini?"

Narotama menyembah dan menjawab dengan sikap tenang.
"Sesungguhnya benarlah apa yang dikatakan Nimas Lasmini itu, gusti. Dalam perjalanan, di tengah hutan mendadak Nimas Lasmini mengeluh kesakitan. Setelah hamba periksa, ternyata ia terkena pukulan yang mengandung hawa dingin beracun. Menurut keterangan Nimas Lasmini, ia terluka dalam karena hawa pukulannya sendiri membalik ketika ia berlatih Aji Ampak-ampak secara keliru. Ia terluka dalam di bagian sisi pusarnya. Melihat keadaannya yang amat berbahaya, maka terpaksa hamba lalu mengobatinya dengan menggunakan Aji Bojrodahono untuk mengusir hawa dingin beracun itu dan menempelkan telapak tangan hamba pada bagian perut yang terluka dalam."
Mendengar keterangan ini, Sang Prabu Erlangga tersenyum lega.
"Lasmini, Kakang Patih Narotama melakukan hal itu adalah dalam rangka pengobatan hendak menyelamatkan nyawamu, bukan karena dia sengaja hendak bertindak melanggar susila!"
"Hamba mengakui akan hal itu, gusti. Akan tetapi, sejak remaja dahulu hamba dan Mandari sudah bersumpah bahwa hamba berdua hanya mau menikah dengan seorang pria yang dapat mengalahkan hamba dalam adu kesaktian. Hamba telah bertanding melawan Kakangmas Narotama dan hamba sudah dia kalahkan. Itu merupakan kenyataan pertama. Kenyataan kedua adalah bahwa Kakangmas Narotama sudah menyelamatkan nyawa hamba dengan mengobati penyakit hamba sehingga hamba berhutang budi, berhutang nyawa kepadanya. Kenyataan ketiga adalah hal itu tadi, gusti, bahwa ialah satu-satunya pria yang pernah melihat dan meraba pusar dan perut hamba. Karena itu, bagaimana mungkin hamba dapat melayani pria lain?"

Mendengar ini, tiba-tiba Sang Prabu Erlangga tertawa geli karena tahulah dia bahwa gadis ini telah jatuh hati kepada Narotama!
"Ha-ha-ha! Lasmini, jawab saja terus terang. Andika ingin menjadi garwa selir Kakang Patih Narotama, bukan?"
Bagaimanapun juga, karena ia masih seorang perawan, Lasmini tersipu dan dengan muka berubah merah yang ditunjukkan, ia menjawab lirih.
"Duh gusti sinuwun, keputusannya tentu hanya paduka dan Kakangmas Narotama yang dapat menentukan. Kalau kakangmas Narotama sudi menerima hamba, hamba ..... hamba ..... menurut saja ....."
"Ha-ha-ha, bagus! Aku suka kejujuran itu. Kakang Patih Narotama, bagaimana pendapatmu setelah mendengar ucapan Lasmini? Maukah andika menerimanya sebagai garwa selirmu?"
Narotama menyembah dan mukanya juga berubah kemerahan.
"Hamba hanya sendika dhawuh (menaati perintah) paduka, gusti."
"Kalau begitu, mulai detik ini juga kami menyerahkan Lasmini kepadamu agar ia menjadi garwa selirmu. Kalian mendapatkan restuku dan semoga kalian hidup berbahagia."

Narotama dan Lasmini menyembah dan hampir berbareng mereka mengucapkan terima kasih. Sang Prabu Erlangga lalu memandang kepada Mandari yang masih mengangkat muka memandang semua itu dengan wajah berseri. Dia diam, ia merasa gembira sekali karena siasat yang sudah mereka berdua rencanakan bersama Ki Nagakumala ternyata berhasil baik. Lasmini menjadi selir Narotama seperti yang mereka rencanakan.
"Sekarang, bagaimana dengan andika Mandari? Apakah andika juga berpendapat seperti Lasmini, ingin menjadi selir Kakang Patih Narotama?"
"Mohon beribu ampun, gusti." kata Mandari sambil menyembah.
"Hamba sama sekali tidak mempunyai keinginan seperti itu! Hamba memang pernah bersumpah untuk menikah dengan pria yang mampu mengalahkan hamba, akan tetapi hamba tidak pernah bertanding dan tidak pernah dikalahkan Ki patih Narotama. Hamba tidak berhutang budi apapun kepadanya. Selain itu, yang hamba terima adalah pinangan paduka."
Jawaban ini jelas sudah dan hati Sang Pabu Erlangga merasa lega. Bagaimana pun juga tadinya ada kekhawatiran dalam hatinya bahwa Mandari juga telah jatuh hati kepada patihnya yang ganteng dan gagah seperti halnya Lasmini.
"Akan tetapi andika belum pernah menguji kesaktianku, Mandari! Agar andika tidak melanggar sumpah sendiri, mari andika boleh menguji kedigdayaanku." Sang Prabu Erlangga berkata sambil tersenyum lebar.
"Wah, hamba ..... hamba tidak berani, gusti ....."
"Mandari, jawablah sejujurnya. Ilmu apakah yang merupakan aji pamungkasmu, yang paling andika andalkan?"
"Ya hanya Aji Ampak-ampak itulah gusti, seperti yang dikuasai oleh Mbakayu Lasmini."
"Nah, sekarang kuperintahkan andika untuk bangkit dan seranglah aku dengan Aji Ampak-ampakmu itu. Akan tetapi kuperintahkan andika, pukullah dengan seluruh kekuatanmu. Bukan andika saja yang ingin menguji kemampuanku, sebaliknya akupun ingin sekali melihat sampai di mana kedigdayaan calon selirku yang dapat kujadikan pengawal pribadi. Lakukanlah dan taati perintah!"

Mandari adalah seorang gadis yang cerdik. Dari sikap dan ucapan sang prabu itu, mengertilah ia bahwa raja itu tidak main-main dan bahwa ia harus menaatinya karena raja itu agaknya bukan hanya hendak menguji kedigdayaannya, melainkan juga ketaatannya akan perintah raja. Tanpa ragu-ragu lagi Mandari bangkit berdiri, menyembah dan berkata,
"Mohon beribu ampun, gusti." Lalu ia menggosok kedua tangannya, memasang kuda-kuda dan sambil mengerahkan seluruh tenaganya, ia menggunakan Aji Ampak-ampak mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Sang Prabu Erlangga yang masih duduk dengan tenang di atas kursi gading.
"Aji Ampak-ampak ..... hyaaaaaahhh....."
Seluruh ruangan itu terasa dingin ketika cahaya kebiruan menyambar keluar dari telapak tangan gadis itu, menyerang ke arah Sang Prabu Erlangga! Sang Prabu Erlangga tidak beranjak dari kursinya dan tiba-tiba ketika hawa pukulan dingin itu menerpa dengan dahsyat ke arahnya, raja yang sakti mandraguna itu menggerakkan tangan kirinya seperti menepis. Akan tetapi dari gerakan tangan kiri ini menyambar angin yang dahsyat sekali.
"Wuuuttt ..... blarrrrr .....!"
Tubuh Mandari yang tadinya berdiri itu terpelanting dan gadis itu roboh dengan tubuh terkulai lemas, seolah-olah seluruh urat syarafnya dilolosi dari tubuhnya!
"Aduhhh ..... gusti sinuwun ..... hamba tobat ..... mohon ampun gusti ....." Gadis itu merintih. Tubuhnya tidak terasa nyeri, akan tetapi ia merasa begitu lemah sehingga untuk bangkit dudukpun sukar sekali!
Sang Prabu Erlangga tertawa senang.
"Bagus, tenaga pukulanmu cukup hebat Mandari!"
Lalu Sang Prabu Erlangga turun dari kursinya, menghampiri Mandari dan dua kali dia menepuk pundak dan punggung gadis itu. Mandari dapat bergerak kembali dan dia dituntun sang prabu dan diajak duduk di sebelahnya.

Demikianlah, mulai hari itu, Lasmini menjadi selir Kipatih Narotama dan Mandari menjadi selir Sang Prabu Erlangga. Dalam waktu singkat saja dua orang gadis ini mampu memikat hati raja dan patihnya itu sehingga dua orang yang sakti mandraguna itu amat mengasihi dua orang puteri dari Parang Siluman itu.

Tidak ada manusia yang sempurna dunia ini. Bahkan tidak ada mahluk yang sempurna di dunia ini. Yang Maha Sempurna hanyalah Sang Hyang Widhi Wasa, Pencipta alam maya pada dengan seluruh isinya. Sebersih-bersih manusia, pasti ada nodanya walaupun setitik. Sekuat-kuatnya manusia pasti ada kelemahannya. Bahkan menurut dongeng, para dewata yang hidup di khayangan sekalipun tidak luput dari pada dosa dan kelemahan. Biasanya, ada tiga hal yang mampu melemahkan manusia, yaitu harta, kedudukan, dan wanita. Banyak sekali para ksatria yang batinnya kuat menahan godaan harta maupun kedudukan, namun jarang yang kuat menghadapi keindahan yang terdapat pada diri wanita.

Memang harus diakui bahwa adanya Mandari sebagai selir Sang Prabu Erlangga dan Lasmini sebagai selir Kipatih Narotama tidak mengurangi kebijaksanaan raja dan patihnya ini dalam pemerintahan. Juga tidak mengurangi kewaspadaan mereka dalam mengatur para menteri dan hulubalang menjaga ketentraman negara. Akan tetapi kalau dalam pandangan manusia biasa seolah tidak ada perubahan apapun yang merugikan kerajaan dan kawulanya, namun ada seseorang yang terkadang mengerutkan alisnya kalau dia melihat adanya pengaruh buruk seperti mendung meliputi kecerahan matahari di atas Kahuripan. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan itu, namun dia merasa perlu untuk memberi peringatan kepada Sang Prabu Erlangga. Orang itu adalah Empu Bharada, seorang pendeta yang arif bijaksana dan sakti mandraguna. Empu Bharada merupakan seorang sesepuh di Kerajaan Kahuripan. Bahkan selain dia menjadi penasihat Sribaginda, diapun dianggap sebagai gurunya. Empu Bharada hidup menyendiri, tidak menikah, melakukan apa yang disebut bertapa di tempat ramai. Biarpun dia hidup di dalam sebuah gedung mungil pemberian sang prabu, namun dia hidup menyendiri seperti pertapa. Lebih banyak dia berada di sanggar pamujaan, melakukan puja-puji dan mengagungkan Sang Hyang Widhi Wasa. Hanya sekali-kali dia keluar di ruangan pendopo untuk memberi wejangan kepada para cantrik. Atau terkadang dia muncul pula di dalam masyarakat untuk mengulurkan tangan memberi pertolongan kepada mereka yang pantas dan perlu ditolong, misalnya mengobati orang sakit, memberi penerangan kepada mereka yang sedang menderita kegelapan batin, dan lain sebagainya. Dasar pelajaran hidupnya adalah bahwa manusia hidup haruslah menjadi alat atau pembantu Sang Hyang Widhi yang selalu menjaga dan "mangayu hayuning bhawana" (mengusahakan ketentraman jagad). Caranya adalah mencintai sesama manusia dan membagi segala macam kemampuan untuk saling menolong antara manusia. Gusti Maha Suci atau Sang Hyang Widhi Wasa melimpahkan berkah kepada kita dengan berkelebihan, dengan maksud agar kita membagi kelebihan itu kepada orang yang membutuhkannya. Kalau kita kelebihan harta, haruslah menolong dan membagi sebagian dari kelebihan harta kita itu untuk mereka yang membutuhkannya. Kalau kita memiliki kelebihan kepintaran, haruslah menolong dan membagi sebagian dari kepintaran kita untuk mereka yang bodoh dan membutuhkan petunjuk agar dapat keluar dari jurang kebodohan. Demikian pula, yang kelebihan tenaga menolong mere ka yang lemah dan selanjutnya. Dengan demikian, kita tidak menyia-nyiakan berkah dari Sang Hyang Widhi yang melimpah ruah itu sehingga Sang Hyang Widhi semakin banyak melimpahkan berkahNya kepada kita sebagai penyalur berkah kepada sesama manusia yang membutuhkannya.

Pada pagi hari itu, Sang Empu Bharada berjalan perlahan-lahan keluar pondoknya yang mungil indah, menuju istana Sang Prabu Erlangga. Sang Empu Bharada berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, bertubuh tinggi kurus dan berjenggot panjang. Wajah kurus itu memiliki sepasang mata cekung yang bersinar lembut penuh pengertian, berwibawa namun tidak menakutkan, membuat orang tidak takut melainkan segan dan tunduk kepadanya. Pakaiannya sederhana dengan sehelai jubah yang lebar dan panjang. Dia dikenal, dihormati dan disegani rakyat karena suka memberi pertolongan. Mereka yang berwatak pun segan, bahkan takut kepadanya karena mereka tahu betapa saktinya sang empu itu. Semua orang yang berjumpa dengannya di sepanjang jalan, cepat memberi hormat dengan ramah yang dibalasnya dengan senyumnya yang penuh pengertian. Seperti lajimnya, tidaklah mudah bagi seseorang untuk dapat diperkenankan menghadap raja tanpa dipanggil. Namun, ada beberapa kekecualian. Orang-orang yang dihormati raja, yang dianggap sebagai keluarga sendiri yang dihormati, tentu saja dapat berkunjung sewaktu waktu dan diterima oleh raja sebagai tamu pribadi, misalnya Ki patih Narotama. Dia dapat saja sewaktu-waktu datang berkunjung, seperti seorang mengunjungi rumah sahabatnya. Yang mendapatkan perlakuan istimewa ini hanya beberapa orang, di antaranya tentu saja Sang empu Bharada yang dianggap sesepuh dan penasihat Sang Prabu Erlangga.

Kepala pengawal segera menyambut sang empu dan melaporkan kepada Sang Prabu bahwa Empu Bharada datang berkunjung. Pada saat menerima laporan akan kunjungan Sang Empu Bharada itu, Prabu Erlangga masih berada dalam kamarnya bersama selirnya yang baru, yaitu Mandari. Maklum, kedua orang ini sedang mesra-mesranya sebagai sepasang pengatin baru dan Sang Prabu Erlangga seperti mabok kepayang karena merasa betapa selama hidupnya baru sekarang dia mendapatkan seorang isteri yang luar biasa hebat dan memikatnya seperti Mandari. Dia menjadi lengket dan menyayangi Mandari dengan cinta berahi yang berkobar-kobar. Akan tetapi begitu medengar laporan bahwa Sang Empu Bharada datang berkunjung, cepat-cepat sang prabu membereskan pakaiannya dan siap untuk menyambut kedatangan sang empu.

<<<Bagian 20                                                                                         Bagian 22 >>>

No comments:

Post a Comment