Mendengar itu, sang Prabu Erlangga
menjadi semakin heran dan kagum. Akan tetapi dia sudah maklum bahwa Kerajaan
Parang Siluman merupakan pusat para ahli sihir. Tentu dua orang gadis ini
mempergunakan ilmu atau jamu tertentu yang membuat mereka tampak begitu awet
muda! Kembali sang prabu memandang kepada Lasmini yang masih menundukkan
mukanya. Sungguh berbeda dengan sikap Mandari yang selalu berani memandangnya
sambil tersenyum.
"Lasmini," kata sang
prabu. "Benarkah seperti yang dilaporkan Kakang Patih Narotama bahwa
engkau menerima pinanganku, suka menjadi garwa selirku?"
Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba
Lasmini menangis. Tidak menangis keras, hanya terisak dan beberapa butir air
mata menetes di atas kedua pipinya. Melihat ini, Sang Prabu Erlangga
mengerutkan alisnya.
"Lasmini, kenapa andika
menangis? ceritakanlah, apa yang menyusahkan hatimu? Kalau andika tidak suka
menjadi garwa selir kami, mengapa tidak andika tolak saja pinangan yang
diajukan Kakang Patih Narotama? Setelah tiba di sini kenapa andika
menangis!" Tentu saja sang prabu merasa tidak senang hatinya melihat gadis
itu menangis di depannya seolah akan dipaksa menjadi garwa selir di luar
kemauannya. Dia tidak akan pernah sudi melakukan paksaan terhadap wanita
manapun!
Lasmini menahan isaknya dan
menyembah.
"Mohon beribu ampun, gusti.
Hamba sudah lama mendengar akan kebijaksanaan paduka yang berlimpah budi, mohon
pertimbangkan paduka, gusti, bagaimana seorang gadis seperti hamba dapat
berserah diri kepada seorang prabu agung seperti paduka setelah ada pria lain
yang tidak saja telah melihat pusar hamba, bahkan telah menyentuh dan
merabanya? Hamba tidak mungkin dapat melayani pria lain....."
Bukan main kagetnya Sang Prabu
Erlangga mendengar ini. Alisnya berkerut dan kulit wajahnya berubah merah.
"Lasmini, siapa yang telah
berani melakukan hal itu kepadamu?"
Lasmini menoleh ke arah Kipatih
Narotama.
"Harap paduka tanyakan kepada
Kakangmas Narotama, gusti."
Sang Prabu Erlangga terbelalak heran
dan terkejut sekali mendengar jawaban gadis itu. Dia segera memandang Narotama
dan bertanya.
"Kakang Patih Narotama, apa
artinya semua ini? Benarkah andika melakukan hal yang tidak patut itu terhadap
diri Lasmini?"
Narotama menyembah dan menjawab
dengan sikap tenang.
"Sesungguhnya benarlah apa yang
dikatakan Nimas Lasmini itu, gusti. Dalam perjalanan, di tengah hutan mendadak
Nimas Lasmini mengeluh kesakitan. Setelah hamba periksa, ternyata ia terkena pukulan
yang mengandung hawa dingin beracun. Menurut keterangan Nimas Lasmini, ia
terluka dalam karena hawa pukulannya sendiri membalik ketika ia berlatih Aji
Ampak-ampak secara keliru. Ia terluka dalam di bagian sisi pusarnya. Melihat
keadaannya yang amat berbahaya, maka terpaksa hamba lalu mengobatinya dengan
menggunakan Aji Bojrodahono untuk mengusir hawa dingin beracun itu dan
menempelkan telapak tangan hamba pada bagian perut yang terluka dalam."
Mendengar keterangan ini, Sang Prabu
Erlangga tersenyum lega.
"Lasmini, Kakang Patih Narotama
melakukan hal itu adalah dalam rangka pengobatan hendak menyelamatkan nyawamu,
bukan karena dia sengaja hendak bertindak melanggar susila!"
"Hamba mengakui akan hal itu,
gusti. Akan tetapi, sejak remaja dahulu hamba dan Mandari sudah bersumpah bahwa
hamba berdua hanya mau menikah dengan seorang pria yang dapat mengalahkan hamba
dalam adu kesaktian. Hamba telah bertanding melawan Kakangmas Narotama dan
hamba sudah dia kalahkan. Itu merupakan kenyataan pertama. Kenyataan kedua
adalah bahwa Kakangmas Narotama sudah menyelamatkan nyawa hamba dengan
mengobati penyakit hamba sehingga hamba berhutang budi, berhutang nyawa
kepadanya. Kenyataan ketiga adalah hal itu tadi, gusti, bahwa ialah
satu-satunya pria yang pernah melihat dan meraba pusar dan perut hamba. Karena
itu, bagaimana mungkin hamba dapat melayani pria lain?"
Mendengar ini, tiba-tiba Sang Prabu
Erlangga tertawa geli karena tahulah dia bahwa gadis ini telah jatuh hati
kepada Narotama!
"Ha-ha-ha! Lasmini, jawab saja
terus terang. Andika ingin menjadi garwa selir Kakang Patih Narotama,
bukan?"
Bagaimanapun juga, karena ia masih
seorang perawan, Lasmini tersipu dan dengan muka berubah merah yang
ditunjukkan, ia menjawab lirih.
"Duh gusti sinuwun,
keputusannya tentu hanya paduka dan Kakangmas Narotama yang dapat menentukan.
Kalau kakangmas Narotama sudi menerima hamba, hamba ..... hamba ..... menurut
saja ....."
"Ha-ha-ha, bagus! Aku suka
kejujuran itu. Kakang Patih Narotama, bagaimana pendapatmu setelah mendengar
ucapan Lasmini? Maukah andika menerimanya sebagai garwa selirmu?"
Narotama menyembah dan mukanya juga
berubah kemerahan.
"Hamba hanya sendika dhawuh
(menaati perintah) paduka, gusti."
"Kalau begitu, mulai detik ini
juga kami menyerahkan Lasmini kepadamu agar ia menjadi garwa selirmu. Kalian
mendapatkan restuku dan semoga kalian hidup berbahagia."
Narotama dan Lasmini menyembah dan
hampir berbareng mereka mengucapkan terima kasih. Sang Prabu Erlangga lalu
memandang kepada Mandari yang masih mengangkat muka memandang semua itu dengan
wajah berseri. Dia diam, ia merasa gembira sekali karena siasat yang sudah
mereka berdua rencanakan bersama Ki Nagakumala ternyata berhasil baik. Lasmini
menjadi selir Narotama seperti yang mereka rencanakan.
"Sekarang, bagaimana dengan andika
Mandari? Apakah andika juga berpendapat seperti Lasmini, ingin menjadi selir
Kakang Patih Narotama?"
"Mohon beribu ampun,
gusti." kata Mandari sambil menyembah.
"Hamba sama sekali tidak
mempunyai keinginan seperti itu! Hamba memang pernah bersumpah untuk menikah
dengan pria yang mampu mengalahkan hamba, akan tetapi hamba tidak pernah
bertanding dan tidak pernah dikalahkan Ki patih Narotama. Hamba tidak berhutang
budi apapun kepadanya. Selain itu, yang hamba terima adalah pinangan
paduka."
Jawaban ini jelas sudah dan hati
Sang Pabu Erlangga merasa lega. Bagaimana pun juga tadinya ada kekhawatiran
dalam hatinya bahwa Mandari juga telah jatuh hati kepada patihnya yang ganteng
dan gagah seperti halnya Lasmini.
"Akan tetapi andika belum
pernah menguji kesaktianku, Mandari! Agar andika tidak melanggar sumpah
sendiri, mari andika boleh menguji kedigdayaanku." Sang Prabu Erlangga
berkata sambil tersenyum lebar.
"Wah, hamba ..... hamba tidak
berani, gusti ....."
"Mandari, jawablah sejujurnya.
Ilmu apakah yang merupakan aji pamungkasmu, yang paling andika andalkan?"
"Ya hanya Aji Ampak-ampak
itulah gusti, seperti yang dikuasai oleh Mbakayu Lasmini."
"Nah, sekarang kuperintahkan
andika untuk bangkit dan seranglah aku dengan Aji Ampak-ampakmu itu. Akan
tetapi kuperintahkan andika, pukullah dengan seluruh kekuatanmu. Bukan andika
saja yang ingin menguji kemampuanku, sebaliknya akupun ingin sekali melihat
sampai di mana kedigdayaan calon selirku yang dapat kujadikan pengawal pribadi.
Lakukanlah dan taati perintah!"
Mandari adalah seorang gadis yang
cerdik. Dari sikap dan ucapan sang prabu itu, mengertilah ia bahwa raja itu
tidak main-main dan bahwa ia harus menaatinya karena raja itu agaknya bukan
hanya hendak menguji kedigdayaannya, melainkan juga ketaatannya akan perintah
raja. Tanpa ragu-ragu lagi Mandari bangkit berdiri, menyembah dan berkata,
"Mohon beribu ampun,
gusti." Lalu ia menggosok kedua tangannya, memasang kuda-kuda dan sambil
mengerahkan seluruh tenaganya, ia menggunakan Aji Ampak-ampak mendorongkan
kedua telapak tangannya ke arah Sang Prabu Erlangga yang masih duduk dengan
tenang di atas kursi gading.
"Aji Ampak-ampak .....
hyaaaaaahhh....."
Seluruh ruangan itu terasa dingin
ketika cahaya kebiruan menyambar keluar dari telapak tangan gadis itu,
menyerang ke arah Sang Prabu Erlangga! Sang Prabu Erlangga tidak beranjak dari
kursinya dan tiba-tiba ketika hawa pukulan dingin itu menerpa dengan dahsyat ke
arahnya, raja yang sakti mandraguna itu menggerakkan tangan kirinya seperti
menepis. Akan tetapi dari gerakan tangan kiri ini menyambar angin yang dahsyat
sekali.
"Wuuuttt ..... blarrrrr
.....!"
Tubuh Mandari yang tadinya berdiri
itu terpelanting dan gadis itu roboh dengan tubuh terkulai lemas, seolah-olah
seluruh urat syarafnya dilolosi dari tubuhnya!
"Aduhhh ..... gusti sinuwun
..... hamba tobat ..... mohon ampun gusti ....." Gadis itu merintih.
Tubuhnya tidak terasa nyeri, akan tetapi ia merasa begitu lemah sehingga untuk
bangkit dudukpun sukar sekali!
Sang Prabu Erlangga tertawa senang.
"Bagus, tenaga pukulanmu cukup
hebat Mandari!"
Lalu Sang Prabu Erlangga turun dari
kursinya, menghampiri Mandari dan dua kali dia menepuk pundak dan punggung
gadis itu. Mandari dapat bergerak kembali dan dia dituntun sang prabu dan
diajak duduk di sebelahnya.
Demikianlah, mulai hari itu, Lasmini
menjadi selir Kipatih Narotama dan Mandari menjadi selir Sang Prabu Erlangga.
Dalam waktu singkat saja dua orang gadis ini mampu memikat hati raja dan
patihnya itu sehingga dua orang yang sakti mandraguna itu amat mengasihi dua
orang puteri dari Parang Siluman itu.
Tidak ada manusia yang sempurna
dunia ini. Bahkan tidak ada mahluk yang sempurna di dunia ini. Yang Maha
Sempurna hanyalah Sang Hyang Widhi Wasa, Pencipta alam maya pada dengan seluruh
isinya. Sebersih-bersih manusia, pasti ada nodanya walaupun setitik.
Sekuat-kuatnya manusia pasti ada kelemahannya. Bahkan menurut dongeng, para
dewata yang hidup di khayangan sekalipun tidak luput dari pada dosa dan
kelemahan. Biasanya, ada tiga hal yang mampu melemahkan manusia, yaitu harta, kedudukan,
dan wanita. Banyak sekali para ksatria yang batinnya kuat menahan godaan harta
maupun kedudukan, namun jarang yang kuat menghadapi keindahan yang terdapat
pada diri wanita.
Memang harus diakui bahwa adanya
Mandari sebagai selir Sang Prabu Erlangga dan Lasmini sebagai selir Kipatih
Narotama tidak mengurangi kebijaksanaan raja dan patihnya ini dalam
pemerintahan. Juga tidak mengurangi kewaspadaan mereka dalam mengatur para
menteri dan hulubalang menjaga ketentraman negara. Akan tetapi kalau dalam pandangan
manusia biasa seolah tidak ada perubahan apapun yang merugikan kerajaan dan
kawulanya, namun ada seseorang yang terkadang mengerutkan alisnya kalau dia
melihat adanya pengaruh buruk seperti mendung meliputi kecerahan matahari di
atas Kahuripan. Dia tidak tahu apa yang menyebabkan itu, namun dia merasa perlu
untuk memberi peringatan kepada Sang Prabu Erlangga. Orang itu adalah Empu
Bharada, seorang pendeta yang arif bijaksana dan sakti mandraguna. Empu Bharada
merupakan seorang sesepuh di Kerajaan Kahuripan. Bahkan selain dia menjadi
penasihat Sribaginda, diapun dianggap sebagai gurunya. Empu Bharada hidup
menyendiri, tidak menikah, melakukan apa yang disebut bertapa di tempat ramai.
Biarpun dia hidup di dalam sebuah gedung mungil pemberian sang prabu, namun dia
hidup menyendiri seperti pertapa. Lebih banyak dia berada di sanggar pamujaan,
melakukan puja-puji dan mengagungkan Sang Hyang Widhi Wasa. Hanya sekali-kali
dia keluar di ruangan pendopo untuk memberi wejangan kepada para cantrik. Atau
terkadang dia muncul pula di dalam masyarakat untuk mengulurkan tangan memberi
pertolongan kepada mereka yang pantas dan perlu ditolong, misalnya mengobati
orang sakit, memberi penerangan kepada mereka yang sedang menderita kegelapan
batin, dan lain sebagainya. Dasar pelajaran hidupnya adalah bahwa manusia hidup
haruslah menjadi alat atau pembantu Sang Hyang Widhi yang selalu menjaga dan
"mangayu hayuning bhawana" (mengusahakan ketentraman jagad). Caranya
adalah mencintai sesama manusia dan membagi segala macam kemampuan untuk saling
menolong antara manusia. Gusti Maha Suci atau Sang Hyang Widhi Wasa melimpahkan
berkah kepada kita dengan berkelebihan, dengan maksud agar kita membagi
kelebihan itu kepada orang yang membutuhkannya. Kalau kita kelebihan harta,
haruslah menolong dan membagi sebagian dari kelebihan harta kita itu untuk
mereka yang membutuhkannya. Kalau kita memiliki kelebihan kepintaran, haruslah
menolong dan membagi sebagian dari kepintaran kita untuk mereka yang bodoh dan
membutuhkan petunjuk agar dapat keluar dari jurang kebodohan. Demikian pula,
yang kelebihan tenaga menolong mere ka yang lemah dan selanjutnya. Dengan
demikian, kita tidak menyia-nyiakan berkah dari Sang Hyang Widhi yang melimpah
ruah itu sehingga Sang Hyang Widhi semakin banyak melimpahkan berkahNya kepada
kita sebagai penyalur berkah kepada sesama manusia yang membutuhkannya.
Pada pagi hari itu, Sang Empu
Bharada berjalan perlahan-lahan keluar pondoknya yang mungil indah, menuju
istana Sang Prabu Erlangga. Sang Empu Bharada berusia kurang lebih empat puluh
lima tahun, bertubuh tinggi kurus dan berjenggot panjang. Wajah kurus itu
memiliki sepasang mata cekung yang bersinar lembut penuh pengertian, berwibawa
namun tidak menakutkan, membuat orang tidak takut melainkan segan dan tunduk kepadanya.
Pakaiannya sederhana dengan sehelai jubah yang lebar dan panjang. Dia dikenal,
dihormati dan disegani rakyat karena suka memberi pertolongan. Mereka yang
berwatak pun segan, bahkan takut kepadanya karena mereka tahu betapa saktinya
sang empu itu. Semua orang yang berjumpa dengannya di sepanjang jalan, cepat
memberi hormat dengan ramah yang dibalasnya dengan senyumnya yang penuh
pengertian. Seperti lajimnya, tidaklah mudah bagi seseorang untuk dapat
diperkenankan menghadap raja tanpa dipanggil. Namun, ada beberapa kekecualian.
Orang-orang yang dihormati raja, yang dianggap sebagai keluarga sendiri yang
dihormati, tentu saja dapat berkunjung sewaktu waktu dan diterima oleh raja
sebagai tamu pribadi, misalnya Ki patih Narotama. Dia dapat saja sewaktu-waktu
datang berkunjung, seperti seorang mengunjungi rumah sahabatnya. Yang
mendapatkan perlakuan istimewa ini hanya beberapa orang, di antaranya tentu
saja Sang empu Bharada yang dianggap sesepuh dan penasihat Sang Prabu Erlangga.
Kepala pengawal segera menyambut
sang empu dan melaporkan kepada Sang Prabu bahwa Empu Bharada datang
berkunjung. Pada saat menerima laporan akan kunjungan Sang Empu Bharada itu,
Prabu Erlangga masih berada dalam kamarnya bersama selirnya yang baru, yaitu
Mandari. Maklum, kedua orang ini sedang mesra-mesranya sebagai sepasang
pengatin baru dan Sang Prabu Erlangga seperti mabok kepayang karena merasa
betapa selama hidupnya baru sekarang dia mendapatkan seorang isteri yang luar
biasa hebat dan memikatnya seperti Mandari. Dia menjadi lengket dan menyayangi
Mandari dengan cinta berahi yang berkobar-kobar. Akan tetapi begitu medengar
laporan bahwa Sang Empu Bharada datang berkunjung, cepat-cepat sang prabu
membereskan pakaiannya dan siap untuk menyambut kedatangan sang empu.
No comments:
Post a Comment