"Cepat, Kipatih Narotama, cepat
tolonglah Mbakayu Lasmini. Sakit perutnya kambuh lagi, aku khawatir
sekali."
Narotama dengan khawatir lalu menjenguk
ke dalam kereta dan dia mengerutkan alisnya, terkejut bukan main. Di melihat
Lasmini duduk setengah rebah di atas bangku kereta, wajahnya pucat sekali,
bahkan agak membiru tanda bahwa gadis itu menderita keracunan! Gadis itu
menekan perutnya dan menggigit bibirnya menahan rasa nyeri. Cepat dia meraba
dahi gadis itu dan dia semakin terkejut, dari wajah yang pucat kebiruan dan
dahi yang terasa panas seperti terbakar api itu, segera Narotama tahu bahwa
Lasmini benar-benar menderita luka dalam yang keracunan dan berbahaya sekali.
Kalau hawa beracun dalam tubuh gadis itu tidak segera dikeluarkan, besar
kemungkinan gadis itu akan tewas! Karena tidak mungkin mengobati gadis itu
dalam kereta karena tempat itu sempit dan gadis itu tidak dapat direbahkan telentang,
tanpa ragu lagi Narotama lalu memondong tubuh Lasmini yang udah lemas itu
keluar dari kereta.
Tiba-tiba terdengar suara Mandari,
"Kipatih, bawalah ia ke sini.
Di sini ada tempat bersih!"
Narotama menengok dan melihat
Mandari menunjuk ke kiri. Dia memondong tubuh Lasmini dan menghampiri dan benar
saja, Mandari telah menemukan sebuah tempat di mana terdapat rumput tebal dan
tempat itu bersih, agak jauh dari kereta. Narotama lalu merebahkan tubuh
Lasmini, telentang di atas rumput tebal.
"Agaknya kambuh kembali
penyakit perutnya," kata Mandari sambil berlutut dan memandang kepada
Narotama.
"Ki patih, dapatkah andika
mengobatinya. Menurut uwa kami kalau ia sedang begini, nyawanya terancam kalau
tidak segera diobati dengan pengerahan hawa sakti."
"Dia terluka sebelah dalam,
luka yang beracun dan cukup berbahaya. Hanya aku belum tahu di bagian mana ia
terpukul dan sampai berapa parahnya akibat pukulan itu. Tahukah andika mengapa
ia menderita luka dalam seperti ini?"
"Ini akibat latihan Aji
Ampak-ampak yang salah menurut keterangan Uwa Nagakumala. Karena keliru ketika
latihan dan terlalu ingin cepat menguasai, Mbakayu Lasmini membuat tenaga
pukulan aji itu membalik dan menurut uwa kami, ia terluka di bagian pusarnya.
Berbahaya sekali. Tolonglah, kipatih, andika yang berkepandaian tinggi pasti
dapat menolongnya." kata Mandari khawatir.
"Aduhhh..... ah, mati aku.....
Kakangmas Narotama..... tolonglah aku, kakangmas....." Lasmini
merintih-rintih sambil menekan-nekan perutnya.
"Di bagian mana yang nyeri,
nimas?" tanya Narotama, merasa iba sekali.
"Di sini..... ah, perut.....
pusar ini..... dingin sekali, seperti ditusuk-tusuk rasanya....." Lasmini
menggigit bibirnya dengan giginya yang putih dan berderet rapi seperti mutiara.
"Jangan khawatir, nimas. Aku
akan mengobatimu dan mudah-mudahan aku akan dapat menyembuhkanmu. Akan
tetapi..... maafkan aku, nimas. Terpaksa aku harus memeriksa dan melihat
keadaan bagian tubuhmu yang terkena pukulan itu."
"Aih, kipatih. Dalam keadaan
seperti ini, nyawa Mbakayu Lasmini terancam bahaya maut, mengapa andika masih
bersikap sungkan-sungkan segala? Lakukanlah pemeriksaan dan pengobatan itu, aku
hendak memberi tahu ki kusir agar melepaskan kuda-kuda biar mengaso dan makan
rumput."
Setelah berkata demikian Mandari
lalu cepat meninggalkan mereka berdua.
"Aduhh..... cepat
periksalah..... kakangmas..... ah, aku tidak kuat lagi ....." Lasmini lalu
menurunkan kain yang membungkus perutnya sehingga perutnya sampai ke pusar
tampak telanjang.
"... ini ..... di sini.....
yang nyeri..... aduh....." Lasmini menekan perutnya di bagian samping
pusar.
Narotama terpaksa memejamkan kedua
matanya. Pemandangan itu terlalu indah merangsang sehingga jantungnya berdebar
keras sekali. Kulit itu demikian putih mulus kemerahan, perut itu begitu halus
dan rata, bentuk pusar yang kecil mungil itu. Dia membuka matanya, akan tetapi
mata itu kini seperti tidak lagi melihat keindahan tadi karena dia sudah
menyatukan hati akal pikirannya, dipusatkan menjadi satu saja perhatian tujuan,
yaitu perhatian terhadap penyakit yang diderita Lasmini dan tujuannya hanyalah
mengobati penyakit itu Dijulurkan tangan kirinya, meraba sipusar yang tampak
kemerahan. Terasa jari-jarinya menyentuh kulit yang dingin luar biasa dan
tahulah dia bahwa di situlah letak luka dalam, di bawah kulit itulah hawa
dingin beracun agaknya mengeram di bagian itu, sedangkan bagian tubuh lain,
terasa panas membakar. Narotama mengerutkan alisnya. Pantasnya gadis ini
terkena pukulan yang ampuh, kiranya. Atau, seperti diceritakan Mandari tadi,
mungkin juga terkena hawa pukulan sendiri yang membalik sehingga luka dalam.
Dan dia tahu bagaimana harus mengusir hawa dingin beracun itu.
"Maaf, Nimas Lasmini.
Mudah-mudahan aku dapat mengobati penyakitmu ini. Andika terluka di sebelah
dalam, di dekat pusar ini, seperti terkena pukulan beracun dingin..... akan
tetapi mungkin juga terluka oleh pukulanmu sendiri yang membalik. Pengobatannya
sederhana saja, yaitu hawa dingin beracun itu harus diusir keluar dan untuk
itu..... sekali lagi maaf, aku harus menempelkan telapak tanganku untuk
beberapa lamanya di bagian yang terluka ini."
"Aduh ....., kakangmas .....
kenapa andika masih malu dan sungkan segala? Aku .... aku percaya padamu .....
kuserahkan jiwa ragaku kepadamu. Cepat lakukan pengobatan itu, kakangmas ...aku
tidak kuat lagi menahan rasa nyerinya ..... aduhhh ....."
Melihat penderitaan Lasmini,
Narotama tidak membuang waktu lagi. Dia menggosok-gosok kedua telapak tangannya
lalu menempelkan kedua telapak tangannya di kedua sisi pusar perut Lasmini.
Tangan kiri menempel tepat pada bagian yang terluka dan berwarna merah lalu dia
mengerahkan tenaga saktinya untuk menyedot. Adapun telapak tangan kanan yang
menempel di sisi yang lain menyalurkan hawa panas dari Aji Bojrodahono untuk
menyerang dan mendesak hawa dingin beracun yang berasal dari Aji Ampak-ampak
itu.
Sementara itu, Mandari menghampiri
kereta dan memerintahkan kusir kereta untuk melepaskan empat ekor kuda agar
dapat mengaso dan makan rumput, sedangkan ia sendiri duduk di bawah pohon yang
rindang sambil tersenyum-senyum, membayangkan hasil akal yang dipergunakan
Lasmini. Tentu saja tadi ia yang sengaja memukul sisi pusar perut mbakayunya
dengan Aji Ampak-ampak, cukup kuat untuk mendatangkan luka sehingga tidak
mencurigakan Narotama akan tetapi tidak cukup kuat untuk membahayakan nyawa
mbakayunya. Ternyata siasat yang dipergunakan dua orang puteri itu berhasil
baik. Narotama terkecoh dan mengira bahwa Lasmini benar-benar terluka oleh
pukulannya sendiri yang membalik karena salah latihan. Akan tetapi akibatnya
cukup hebat baginya. Dia telah melihat perut bahkan pusar gadis itu, bukan
hanya melihat, bahkan telah meraba dan menempelkan kedua telapak tangannya
dalam waktu yang cukup lama! Aji Bojrodahono (Api Halilintar) yang dikerahkan
Narotama memang hebat bukan main.
Panasnya hawa dari aji itu dapat
diatur dan perlahan-lahan hawa panas dari Bojrodahono dapat membakar hawa
dingin Aji Ampak-ampak sehingga mencair dan hawa beracun itu tersedot oleh
telapak tangan kiri Narotama. Kalau tadi bagian sisi pusar yang terluka itu
terasa dingin seperti embun di puncak Mahameru, kini mulai terasa hangat dan
kehangatan ini menimbulkan getaran aneh yang mengusik hati akal pikiran
Narotama yang tadi dia pusatkan. Merasakan ini, jantung Narotama berdebar dan
dia lalu mengangkat kedua tangannya. Lasmini tidak mengeluh dan merintih lagi,
bahkan kini kedua matanya tengah terpejam memandang kepada Narotama dan
bibirnya tersenyum manis melebihi madu.
"Nimas, hawa dingin beracun itu
telah pergi, andika telah sembuh." Narotama melihat tangan kirinya yang
berubah agak menghitam karena menyedot hawa beracun itu. Dia mengerahkan hawa
Bojrodahono ke dalam telapak tangan kirinya dan tampak telapak tangannya
mengepul dan perlahan-lahan warna hitam telapak tangannya itupun lenyap.
Tiba-tiba Lasmini bangkit dan tanpa
membereskan kainnya yang tadi terbuka di bawah ia merangkul leher Narotama
dengan kedua lengannya. Bagaikan dua ekor ular, lengan itu merangkul dan ia
merapatkan mukanya di dada Narotama.
"Duh Kakangmas Narotama .....
andika telah menolongku, menyelamatkan nyawaku ..... ahh, bagaimanakah aku
dapat membalas budimu yang setinggi gunung sedalam lautan ini, kakangmas..?!
Semula Narotama menganggap bahwa
perbuatan Lasmini ini hanya dorongan rasa syukur dan terima kasihnya saja yang
mendatangkan keharuan. Namun ketika merasa betapa jantungnya tergetar hebat,
dia menyadari akan bahaya gejolak berahinya. Cepat dengan lembut mendorong
kedua pundak gadis itu dan melepaskan rangkulan sambil berkata dengan suara
agak gemetar.
"Jangan begini, nimas. Ini
tidak benar. Bersukurlah kepada para dewa yang telah menyembuhkanmu dan mari
kita melanjutkan perjalanan kita." Dia memegang tangan Lasmini, ditariknya
bangkit berdiri dan diajaknya kembali ke kereta. Lasmini tidak membantah, akan
tetapi ia tidak mau melepaskan tangan Narotama yang memegangnya sehingga mereka
bergandengan tangan sambil berjalan menuju ke kereta. Mandari menyambut mereka
dengan senyum gembira.
"Ah, Mbakayu Lasmini, sungguh
beruntung engkau' Dari wajahmu saja aku sudah dapat melihat bahwa Engkau tentu
telah sembuh, diobati oleh Kipatih Narotama. Engkau berhutang budi, bahkan
berhutang nyawa kepadanya, mbakayu!"
"Aku tahu, Mandari.
Mudah-mudahan saja kelak aku dapat membalas budinya itu."
Narotama tidak ingin mendengarkan
lagi tentang budi itu dan dia segera memerintahkan kusir untuk memasang kembali
empat ekor kuda di depan kereta dan setelah dua orang gadis itu memasuki
kereta, kusir lalu menjalankan keretanya kembali dengan laju. Karena dikawal
oleh Narotama yang selain sakti mandraguna juga dikenal semua pejabat-pejabat
di daerah, maka perjalanan itu lancar dan tidak ada halangan. Di sepanjang
jalan mereka mendapat sambutan para demang dan lurah dan mendapat bantuan
seperlunya. Akhirnya kereta memasuki kota raja Kahuripan dan Narotama langsung
mengajak Lasmini dan Mandari menghadap Sang Prabu Erlangga setelah menyuruh
pengawal melaporkan kedatangannya kepada Sang Prabu Erlangga. Sang Prabu
Erlangga sudah menanti duduk di singgasana, tempat duduk terbuat dari gading
berlapis emas, hanya seorang diri karena dia ingin menyambut kedatangan Ki
patih Narotama bersama dua gadis itu tanpa disaksikan para ponggawa. Bahkan
para pengawal istanapun tidak diperkenankan hadir dalam ruangan itu. Memang
Sang Prabu Erlangga berbeda dengan para raja yang lain, yang selalu ingin
dikawal ke manapun dia berada untuk menjaga keselamatannya Sang Prabu Erlangga
merasa tidak enak dan tidak leluasa kalau ke manapun pergi dijaga pengawal. Hal
ini adalah karena raja yakin akan kesaktian sendiri yang jauh lebih dapat
diandalkan daripada penjagaan ratusan orang pengwal pribadi! Apalagi di dalam
istana, bahkan kalau Sang Prabu melakukan perjalanan keluar istana, hanya dalam
perjalanan resmi saja Sang Prabu Erlangga diiringkan sepasukan pengawal. Akan
tetapi kalau melakukan perjalanan seorang diri, untuk urusan pribadi atau
sengaja hendak memeriksa keadaan rakyat jelata, Sang Prabu Erlangga tidak
pernah didampingi seorang pengawalpun.
Kipatih Narotama berlutut dan
menyembah sebagai penghormatan ketika dia menghadap Sang Prabu Erlangga.
"Sembah hormat hamba haturkan
kepada paduka gusti sinuwun junjungan hamba."
"Aih, Kakang Patih Narotama,
andika baru kembali? Bagaimana dengan perjalananmu? Semoga selamat dan berhasil
baik." kata Sang Prabu Erlangga sambil memandang ke arah dua orang puteri
yang sudah duduk bersimpuh dengan sikap hormat.
"Dengan bekal doa restu paduka,
hamba telah selesai melaksanakan tugas dan berhasil baik, gusti. Mereka inilah
Nini Lasmini dan Nini Mandari, dua orang puteri Kanjeng Ratu Durgamala dari
Kerajaan Parang Siluman, keponakan dan murid Ki Nagakumala di Bukit
Junggringslaka. Pinangan paduka telah diterima dengan baik dan kini kedua orang
puteri sudah menghadap paduka menanti perintah."
Prabu Erlangga tersenyum dan
mengangguk-angguk, memandang dua orang gadis yang masih duduk bersimpuh sambil
menundukkan muka mereka itu. Walaupun mereka menunduk dan Sribaginda tidak
dapat melihat wajah mereka dengan jelas namun diam-diam Sang Prabu Erlangga
kagum dan harus mengakui bahwa dua orang dara itu memiliki bentuk tubuh yang
amat indah menggairahkan.
"Siapa di antara andika berdua
yang bernama Lasmini?" tanya Sang Prabu dengan suara ramah dan lembut.
Lasmini menggerakkan kedua tangannya
menyembah, gerakannya luwes seperti sedang menari.
"Hamba yang bernama Lasmini,
gusti."
"Lasmini, coba angkat mukamu
dan pandang kami." perintah sang prabu dengan suara ramah dan lembut.
Lasmini mengangkat mukanya. Sejenak
mereka berdua saling pandang. Sepasang mata Sang Prabu Erlangga mengamati wajah
gadis itu penuh selidik. Cantik jelita nian gadis ini, pikirnya, sungguhpun dia
hanya melihat kecantikan kulit saja. Namun harus diakuinya bahwa jarang dia
melihat wanita secantik itu. Di lain pihak, Lasmini juga mendapat kenyataan
bahwa raja itu selain masih muda, juga tampan luar biasa. Hanya sinar mata Sang
Prabu Erlangga membuat ia merasa gentar dan tidak berani ia menatap sepasang
mata itu berlama-lama dan menunduk kembali.
Sang Prabu Erlangga mengalihkan
pandang matanya kepada gadis ke dua yang lebih muda. Kalau Lasmini tampak
berusia delapan belas tahun, Mandari ini tampak lebih muda seperti dara remaja
berusia tujuh belas tahun saja.
"Andika yang bernama Mandari?
Angkat mukamu dan pandang kami, Mandari." perintahnya.
Mandari mengangkat muka dan gadis
ini memandang wajah Sang Prabu Erlangga dengan senyum manis, pandang mata kagum
sekali. Ia merasa berbahagia telah memilih raja ini untuk menjadi suaminya.
Ternyata Sang Prabu Erlangga amat ganteng, melebihi semua harapan dan
dugaannya. Sang Prabu juga kagum. Dara ini tidak kalah elok dibandingkan
Lasmini sehingga sukarlah untuk menilai siapa antara mereka yang lebih menarik.
Bahkan yang lebih muda ini memiliki kelebihan, yaitu pada rambutnya yang
panjang dan indah sekali. Dia menduga kalau rambut itu diurai, tentu akan mencapai
kaki!
"Mandari, berapakah
usiamu?" tanya sang prabu dan Mandari tidak menundukan muka seperti
mbakayunya yang tadi menundukkan muka bukan semata karena jerih, melainkan
memang sesuai dengan siasat yang direncanakan.
"Usia hamba dua puluh satu tahun
gusti."
"Ahh? Andika masih tampak
seperti seorang gadis remaja! Dan berapa usia mbakayumu, Lasmini ini?"
"Usianya dua puluh tiga tahun,
gusti." jawab Mandari lancar.
No comments:
Post a Comment