Bagaimana kalau Narotama tewas oleh kerisnya? Jadi berantakan siasat yang telah direncanakan dan diatur sebelumnya. Akan tetapi, timbul pula keinginan dalam hatinya untuk menguji kesaktian pria ini. Untuk menyerahkan dirinya yang masih perawan itu kepada seorang laki-laki, ia harus yakin bahwa laki-laki itu memang patut memiliki dirinya, menerima cinta kasihnya, patut untuk dilayaninya sebagai seorang suami.
"Baik, sambutlah ini,
kakangmas!" la melangkah maju dan tangan kanannya yang memegang gagang
keris itu bergerak menusukkan kerisnya ke arah ulu hati Narotama.
"Syuuuttt ..... tukk!"
Keris itu membalik, seperti menusuk
benda yang kenyal lunak namun kuat seperti karet! Dan kulit dada yang putih
bersih itu sama sekali tidak terluka, lecet sedikitpun tidak! Lasmini terkejut
dan kagum sekali. Ia sendiri juga memiliki aji kekebalan, akan tetapi kalau
harus menerima tusukan keris pusakanya ini, tentu saja ia tidak berani. Keris
pusakanya ini sudah dirajai dan ditapai, dapat menembus kekebalan lawan. Akan
tetapi kekebalan yang dimiliki Narotama ternyata sama sekali tidak dapat
ditembus.
Setelah bertubi-tubi menusuk dada
dan perut sampai tujuh kali dan selalu kerisnya membalik, Lasmini menggertakkan
gigi dan mengerahkan seluruh tenaga saktinya, lalu menusuk lagi ke arah lambung
Narotama.
"Hyaattt ..... ahhh!"
Tadi Lasmini sudah merasakan betapa
semakin kuat ia menusuk, semakin kuat pula kerisnya terpental. Akan tetapi ia
tidak kapok, kini malah menusuk dengan seluruh tenaganya. Begitu kerisnya
mengenai lambung keris itu terpental dan membawa tubuhnya terjengkang. Ia tentu
terbantai roboh kalau saja Narotama tidak cepat menyambar dan merangkul
pinggangnya untuk mencegah tubuh gadis itu terbanting. Dalam rangkulan sejenak
ini, Narotama mencium bau kembang melati dan rambut gadis itu dan bau harum
seperi cendana keluar dari tubuh Lasmini. Kedua tangannya juga merasakan tubuh
yang kenyal dan lunak lembut hangat Kembali jantungnya berdebar, akan tetapi
segera dia teringat akan tugasnya dan dengan lembut dia melepaskan
rangkulannya.
"Maaf, nimas ....."
katanya sambil melangkah mundur.
Lasmini tersenyum dan kedua pipinya
menjadi kemerahan, terutama di bagian tulang pipi yang menonjol di bawah kedua
matanya. Ia seperti tersipu malu padahal kemerahan wajahnya bukan hanya karena
tersipu, melainkan terutama karena ia tadi telah mengerahkan banyak tenaga
sehingga jantungnya berdetak kencang.
"Uwa, aku telah dikalahkan oleh
Kangmas Narotama, maka aku menerima pinangan itu."
"Ha-ha-ha, sudah kuduga bahwa
engkau tentu tidak akan mampu menandingi Ki patih Narotama. Dan engkau
bagaimana Mandari?" kata Ki Nagakumala sambil memandang Mandari.
Dara ini tersenyum.
"Kalau Mbakayu ini sudah
mengaku kalah, tentu saja akupun mengaku kalah, uwa, dan aku juga menerima
pinangan Gusti Sinuwun Sang Prabu Erlangga."
"Anakmas Patih Narotama, andika
sudah mendengar sendiri kesanggupan kedua orang keponakanku. Nah, sekarang
bagaimana? Kapan anakmas akan mengajak mereka ke istana Sang Prabu
Erlangga?"
"Karena urusannya telah beres,
maka sedapat mungkin saya akan memboyong mereka ke istana Gusti Sinuwun
secepatnya, paman." kata Narotama sambil memandang kepada dua orang gadis
cantik jelita itu.
Kini Mandari yang bicara dengan
sikap manja.
"Kami masih mempunyai sebuah
permintaan sebagai syarat, Kakang Patih Narotama!"
Narotama terkejut dan diam-diam
mencatat dalam hatinya bahwa sikap gadis yang lebih muda ini sungguh penuh
arti. Karena merasa telah menjadi calon garwa Sang Prabu Erlangga, maka gadis
ini sudah menganggap dirinya sebagai isteri raja dan memanggilnya Kakang Patih,
tidak seperti Lasmini yang memanggilnya kakangmas!
"Syarat apakah itu,
nimas?" tanya Narotama sambil menatap wajah gadis yang memiliki rambut
lebih gemuk dan lebih panjang ketimbang rambut mbakayunya.
"Begini, kakang patih. Mba ayu
Lasmini dan aku adalah keturunan bangsawan tinggi, ibu kami adalah seorang
ratu. Biarpun dalam urusan perjodohan ini telah diputuskan oleh Uwa Nagakumala
dan kami sendiri, namun kami merasa sudah sepatutnya kalau Sang Prabu Erlangga
menghargai kami sebagai puteri puteri yang diboyong karena pinangan, bukan
diboyong karena kalah perang. Oleh karena itu, kami minta agar andika jemput
kami dengan menggunakan buah kereta kebesaran dan ditarik oleh empat ekor
kuda."
"Ah, permintaanmu itu pantas
sekali, adikku. Kakangmas Narotama, aku memperkuat permintaan Mandari. Kalau
andika akan memboyong kami, harus menggunakan kereta kebesaran, dengan demikian
kami merasa dihormati dan tidak dipandang rendah orang." kata Lasmini.
Narotama tersenyum dan mengangguk.
"jangan khawatir, nimas berdua.
Sesungguhnya, kereta untuk memboyong andika berdua itu sudah siap menanti di
kaki bukit ini."
Narotama tidak berbohong. Memang
ketika dia pergi ke Bukit Junggringslaka, dia sudah mempersiapkan sebuah kereta
untuk menjemput dua orang puteri itu kalau pinangannya diterima. Kereta itu dia
titipkan pada seorang lurah di dusun yang berada di kaki bukit dan seorang
kusirnya yang berpakaian dinas juga menanti di sana. Mendengar ucapan Narotama
itu, Ki Nagakumala lalu tertawa.
"Sekarang berkemaslah, Lasmini
dan Mandari. Bawa segala barang kebutuhanmu. Nanti kita bersama-sama turun
bukit. Kalian ikut Ki patih Narotama ke Kahuripan dan aku akan pergi melaporkan
kepada ibu kalian di Parang Siluman."
Kedua orang gadis itu lalu berkemas
Narotama menanti di ruangan pendapa. Setelah selesai berkemas, dua orang gadis
itu bersama Ki Nagakumala mengikuti Narotama turun bukit menuju ke dusun di
mana dia menitipkan kereta, kuda dan kusirnya di rumah kepala dusun. Siang hari
itu juga berangkatlah Narotama mengawal kereta menuju ke Kahuripan, sedangkan
Ki Nagakumala pergi ke selatan, ke arah Kerajaan Parang Siluman di mana adiknya
Ratu Durgamala memerintah, untuk melaporkan bahwa kedua orang puterinya pergi
ke Kahuripan untuk menjadi garwa selir Sang Prabu Erlangga.
Ketika Ratu Durgamala mendengar
pelaporan kakaknya bahwa kedua orang puterinya menerima pinangan untuk menjadii
selir Sang Prabu Erlangga, wanita berusia empat puluh tahun yang masih cantik
seperti seorang gadis itu menjadi marah sekali. Ia menggebrak meja dan
memandang kakaknya dengan mata melotot.
"Gilakah andika, Kakang
Nagakumala? dan sudah gila pulakah Nini Lasmini dan Nini Mandari maka mereka
sudi menjadi garwa selir Raja Erlangga? Dia itu musuh bebuyutan kita, kakang!
Mataram sejak dulu adalah musuh Parang Siluman! bagaimana sekarang dua orang
puteri Parang Siluman, anak-anakku sendiri, menjadi selir Raja Mataram yang
menjadi musuh besar kita?"
"Tenang dan bersabarlah, yayi
ratu. Penerimaan pinangan Prabu Erlangga ini disetujui oleh Nini Lasmini dan
Nini Mandari sendiri. Pertama karena memang keinginan dua orang puterimu itulah
yang menghendaki agar mereka yang sudah dewasa mendapatkan suami seorang
bangsawan tinggi yang muda tampan, dan sakti mandraguna. Dan siapakah orang
muda yang dapat melebih Prabu Erlangga dalam tiga hal itu? Hanya Kipatih
Narotama yang dapat mengimbanginya. Karena itu, Nini Lasmini memilih agar
diperisteri Kipatih Narotama dan Nini Mandari memilih untuk diperisteri Prabu
Erlangga. Dan hal kedua yang tidak kalah pentingnya, justeru perjodohan ini
telah kami rencanakan untuk menjadi sarana penghancuran Mataram."
"Ehh?? Penghancuran Mataram
melalui perjodohan anak-anakku dengan Erlangga dan Narotama? Apa maksudmu
kakang?"
"Begini, yayi ratu. Kedua orang
puterimu itu, murid-muridku yang pintar pintar, telah menyetujui rencana kami
itu. Dengan penuh keyakinan mereka percaya bahwa mereka akan mampu membuat raja
dan patihnya mabok kepayang dan selanjutnya mengadakan bujukan-bujukan agar
raja dan patih yang sakti mandraguna itu saling bertikai dan bertentangan
sehingga Mataram menjadi lemah. Bahkan kalau usaha itu gagal, mereka akan
meningkatkan usaha mereka, yaitu membunuh Erlangga dan Narotama."
"Ahh! Mereka..... para puteriku
yang ayu manis, mau melakukan itu?" Ratu Durgamala membelalakan matanya
dan wajahnya menjadi cerah gembira.
"Ya, itulah yang kami
rencanakan. Maka mereka tidak merasa ragu lagi untuk menerima pinangan dan
mengikuti Ki patih Narotama menuju Kahuripan."
"Dan mereka mengorbankan diri
untuk itu! Aih, anak-anakku yang manis, anak anakku yang hebat, kalian tidak
mengecewakan, kalian pantas menjadi anak anakku, kalian persis watak ibu
kalian! I leh-he-he-hi-hik!"
Ratu Durgamala tertawa senang,
agaknya sudah lupa betapa beberapa tahun yang lalu ia selalu merasa bersaing
dengan dua orang puterinya yang makin dewasa menjadi semakin cantik sehingga ia
merasa terancam. Ialah yang menjadi ratu. Ia yang menjadi wanita nomor satu,
paling cantik, di Parang Siluman, ia tidak mau disaingi atau dikalahkan dalam
hal kecantikannya oleh wanita manapun juga, bahkan kecantikan dua orang
puterinya yang menonjol itu membuatnya iri dan khawatir kalau kedudukannya
sebagai wanita tercantik akan tergeser oleh dua orang puterinya. Karena itulah
maka ia mengharuskan dua orang puterinya itu ikut kakaknya, Ki Nagakumala di
Bukit Junggringslaka untuk memperdalam ilmu mereka. Di lain pihak, dua orang
puterinya juga merasakan ketidak-senangan bahkan mendekati kebencian ibu
kandung mereka sendiri terhadap mereka. Karena itulah mereka lebih senang ikut
uwa mereka mempelajari ilmu, dan ketika mereka menerima pinangan Raja Erlangga,
mereka sama sekali tidak mempunyai keinginan untuk minta ijin atau pamit kepada
ibu kandung mereka! Memang Ratu Durgamala ini memiliki watak yang seperti
iblis, gila akan kecantikannya sendiri. Bahkan ia mempelajari segala macam ilmu
untuk dapat membuat dirinya awet muda, dan akhirnya ia menemukan Suket sungsang,
semacam rumput yang langka dunia ini dan rumput ajaib inilah yang membuat ia
awet muda dan tampak seperti berusia dua puluh tahun saja walaupun usianya
sudah empat puluh tahun lebih. la juga memberi jamu Suket Sungsang kepada dua
orang puterinya sehingga dua orang gadis itupun menjadi awet muda. Iapun
seorang petualang nafsu berahi dan inilah yang membuat suaminya, ayah dari
Lasmini dan Mandari, meninggalkannya dan lebih suka menjadi seorang pertapa di
pantai Blambangan.
Tadinya, mendengar dua orang puteri
kandungnya hendak menjadi garwa Raja Erlangga dan Patih Narotama tanpa
seijinnya, tanpa pamit, kasih sayang seorang ibu dalam hatinya tersentuh. Akan
tetapi setelah mendengar bahwa kedua orang puterinya itu sengaja mengorbankan
diri untuk kepentingan Parang Siluman, yaitu menghancurkan Mataram, ia menjadi
bangga dan gembira sekali. Demikianlah, kasih sayang manusia antara berhubungan
apapun juga, suami isteri, sahabat, bahkan ibu dan anaknya, kalau sudah
dikuasai nafsu pementingan diri sendiri, maka kasih sayang itu menjadi kotor.
Kasih sayang seperti itu hanya merupakan sarana untuk menyenangkan diri
sendiri. Kalau kasih sayang murni yang sejati ada, maka si-aku yang
mementingkan kesenangan hati dan perasaan sendiri, tidak akan muncul. Kalau
si-aku yang berupa nafsu hati akal pikiran muncul, apa yang dinamakan cinta
kasih itu hanyalah ulah nafsu yang pamrihnya tidak lain untuk mencari keenakan
dan kesenangan diri sendiri, untuk pemuasan jasmani.
Maklum bahwa kakaknya adalah seorang
yang sakti mandraguna, Ratu Durgamala lalu menahan kakaknya dan membujuk agar
kakaknya itu suka tinggal di Parang Siluman membantunya. Ki Nagakumala yang
merasa kesepian setelah ditinggalkan dua orang keponakannya, menerima ajakan
itu dan sejak hari itu, diapun tinggal di Parang Siluman dan menjadi penasihat
dari Ratu Durgamala.
Kereta itu meluncur dengan cepatnya
menuju ke kota raja Kahuripan. Sang kusir yang berpakaian indah itu
mengendalikan empat ekor kuda penarik kereta dan dua orang puteri Parang
Siluman pun duduk di dalam kereta, berbisik-bisik sehingga suara percakapan
mereka tidak terdengar oleh sang kusir. Di belakang kereta itu, dalam jarak
kurang lebih sepuluh meter, Narotama menunggangi kudanya, mengawal dari
belakang. Hatinya merasa gembira bukan main karena dia dapat melaksanakan
tugasnya dengan baik. Beruntung sekali bahwa pinangan itu dapat diterima oleh
Ki Nagakumala dan dua orang puteri itu, tanpa ada syarat yang terlalu berat.
Andaikata Ki Nagakumala sendiri yang menguji kepandaiannya, dia dapat menduga
bahwanya tidak akan begitu mudah baginya untuk mengalahkannya. Dan andaikata
mereka menolak, tentu akan terjadi perkelahian. Akan tetapi semua itu tidak
jadi dan dia hanya harus mengalahkan Lasmini. Dia telah berhasil dan Sang Prabu
Erlangga tentu akan merasa senang sekali. Akan tetapi tiba-tiba wajah Lasmini
terbayang di pelupuk matanya. Sayang sekali Lasmini akan menjadi garwa selir
sang prabu! Ah, mengapa Sang Prabu Erllanga begitu tamak? Bukankah garwa
selirnya sudah ada sedikitnya tujuh orang muda-muda dan cantik-cantik pula.
Kenapa sekarang hendak mengambil Lasmini dan Mandari pula? Kedua-duanya?
Sedangkan dia sendiri hanya hidup berdua dengan Listyarini, isterinya. Dia
tidak mempunyai selir seorangpun! Sudah pantasnyalah kalau sang prabu menyerahkan
Lasmini kepadanya, untuk menjadi selirnya, sebagai hadiah atas keberhasilannya.
Sudah tepat dan pantas sekali. Bukankah dia yang bersusah payah mengajukan
pinangan sehingga berhasil membawa dua orang puteri itu ke Kahuripan.
Tanpa terdengar oleh kusir dan oleh
Narotama, dua orang gadis dalam kereta itu merencanakan sesuatu. Mereka bicara
bisik-bisik.
"Akalmu itu baik sekali,
Mbakayu Lasmini. Sebaiknya kita lakukan sekarang juga."
“Lakukanlah, Mandari, akan tetapi
hati-hati, batasi dan kendalikan tenaga. Jangan terlalu kuat sehingga nyawaku
terancam, juga jangan terlalu lemah hingga akan mencurigakan. Tunggu bentar
kalau kereta sudah memasuki hutan di depan."
Kereta meluncur masuk ke dalam hutan
di perbatasan kerajaan Kahuripan. Tiba-tiba terdengar suara wanita mengeluh dan
disusul teriakan Mandari.
"Ki kusir, hentikan dulu
keretanya! Mbakayuku sakit!"
Mendengar teriakan ini, kusir
menghentikan empat ekor kudanya. Melihat kereta berhenti tiba-tiba di dalam
hutan itu, Narotama lalu melompat turun dari kudanya dan menghampiri kereta.
Dia juga mendengar keluhan tadi dan mendengar teriakan Mandari. Ketika dia
mendekati kereta, dia masih mendengar keluh kesah itu. Tirai kereta dibuka dari
dalam dan Mandari meloncat keluar. Mukanya pucat dan ia cepat berkata ketika
melihat Narotama mendekat.
No comments:
Post a Comment