Bagian 18


Lasmini menatap tajam wajah Narotama dan pada sinar matanya terbayang kekaguman kepada pria perkasa itu. Pria yang masih muda, paling banyak dua puluh tujuh tahun usianya, tubuhnya tinggi tegap dan jelas berisi tenaga yang amat kokoh kuat walaupun sikapnya sederhana. Wajahnya tampan dan penuh wibawa. Tidak mengenakan pakaian kebesaran seperti seorang bangsawan tinggi, melainkan seperti seorang muda dari pulau Bali. Kepalanya terbungkus kain pala yang ujungnya meruncing di bagian belakang. Mata yang tajam seperti mata elang itu memandang dengan lurus dan wajar, sama sekali tidak membayangkan perasaan hatinya, namun bibir yang tersenyum itu membayangkan kesabaran dan penuh pengertian. Wajah seorang laki-laki, seorang jantan dan begitu bertemu pandang, Lasmini segera jatuh hati. la merasa tertarik sekali dan ada kemesraan menyentuh hati sanubarinya. Kalau laki-laki ini benar memiliki kedigdayaan seperti yang pernah didengarnya, maka inilah calon suami yang di nanti-nantinya dan ia segera merasa cocok dan setuju dengan siasat yang telah direncanakan semalam bersama Mandari dan Ki Nagakumala. Mendengar ucapan uwanya itu, Lasmini tersenyum, menjaga agar senyum itu keluar dengan wajar tidak dibuat-buat dan tampak semanis-manisnya. Memang manis bukan main ketika ia tersenyum itu. Bahkan tahi lalat hitam kecil di sudut mulut bagian kiri itu seolah menari.
"Karena andika ternyata masih amat muda, Kipatih, bolehkah saya menyebut andika Kakangmas Narotama saja?" katanya dengan lembut dan sikap sopan, agak malu-malu.

Narotama tersenyum. Wajah Lasmini begitu menarik dan mempesona hatinya, namun dia ingat bahwa dia dalam tugas dan wanita ini bersama adiknya dipinang oleh Sang Prabu Erlangga, hendak dijadikan selir dan dia hanyalah seorang utusan sehingga sama sekali tidak boleh perasaannya ikut berulah.
"Tentu saja, Nimas Lasmini. Tentu andika boleh menyebutku Kakangmas Narotama saja. Sesungguhnya sayapun tidak ingin membanggakan kedudukanku sebagai patih dan saya sekarang ini hanya bertindak sebagai seorang utusan."
"Baiklah kalau begitu, kakangmas. Sekarang, apakah kakangmas menghendaki jawaban atas pinangan itu langsung dari mulut saya?"
"Sebaiknya begitulah. Saya hanya utusan dan apapun yang menjadi jawaban andika sekalian atas pinangan itu, saya hanya akan melaporkannya kepada Gusti Sinuwun."
"Terus terang saja aku dan adikku Mandari sudah saling berembuk dalam hal ini dan sudah mengambil keputusan. Andika tadi sudah mendengar bahwa kami adalah puteri-puteri Kanjeng Ibu Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman, dan ayah kami adalah Sang Bhagawan Kundolomuko yang kini menjadi pertapa di pantai Blambangan. Nah, setelah mengetahui akan hal itu, bahwa ayah ibu kami adalah musuh-musuh Mataram, apakah andika masih hendak melanjutkan pinangan itu, kakangmas?"
"Kanjeng Gusti Sinuwun tahu benar akan hal itu, nimas. justeru karena selama ini Kerajaan Parang Siluman memusuhi Mataram, maka beliau mempunyai keinginan untuk mengulurkan tangan persahabatan, bahkan kekeluargaan dengan Kerajaan Parang Siluman. Maka, mendengar bahwa Kerajaan Parang Siluman mempunyai dua orang puteri yang bijaksana, sakti dan cantik jelita, lalu timbul keinginan Gusti Sinuwun untuk meminang andika berdua."

Lasmini tersenyum lagi dan mengangguk-angguk.
"Hal itupun sudah kami dengar dari keterangan Uwa Nagakumala. Akan tetapi semenjak kami remaja, kami berdua sudah menentukan syarat bagi pria yang hendak mempersunting kami sebagai isteri. Pertama dia harus seorang ksatria yang berkedudukan tinggi."
"Gusti Sinuwun Erlangga adalah seorang ksatria besar dengan kedudukan sebagai raja!" kata Narotama.
"Syarat yang ke dua, dia harus seorang pria muda yang tampan dan bijaksana."
"Itu syarat yang sudah terpenuhi, nimas. Siapa yang tidak mengenal bahwa Sang Prabu Erlangga adalah seorang pria muda yang tampan dan gagah, berbudi bawa laksana, sugih bandha bandhu lagi bijaksana?"
"Dan syarat ke tiga yang penting kali bagi kami, pria itu harus sakti mandraguna dan dapat mengalahkan kami dalam pertandingan adu kesaktian!"
"Sang Prabu Erlangga adalah seorang raja yang sakti mandraguna pilih tanding, lebih lebih digdaya dibandingkan aku. Akan tetapi beliau tidak berada di sini untuk membuktikan kesaktiannya. Aku adalah utusannya yang berkuasa penuh, bertanggung jawab dan berhak mewakili beliau menghadapi segala rintangan dan tantangan. Oleh karena itu, syarat ketiga itu dapat dipenuhi dan aku yang menjadi wakilnya."
"Kalau begitu, andika yang akan mewakili Sang Prabu Erlangga menandingiku, kakangmas?" tanya Lasmini dan matanya memandang begitu indahnya, setengah tertutup sehingga bulu mata yang lentik panjang itu hampir saling merapat.
"Kalau memang itu merupakan sayembara bagimu, akan kuhadapi, nimas!"

Lasmini tersenyum menoleh kepada Ki Nagakumala.
"Uwa, aku akan menerima di mana lagi kalau tidak di sini? Pelataran pondok kami ini cukup luas untuk dijadikan tempat bertanding kesaktian. Mari, Kakangmas Narotama, mari saling menguji kesaktian masing-masing. Sudah lama aku mendengar akan kehebatan Kipatih Narotama dan ingin sekali aku merasakan sendiri sampai berapa hebat dan ampuh kepandaiannya!”
Setelah berkata demikian, Lasmini melompat ke depan. Sekali lompat ia sudah melayang ke pelataran yang terbuka, tidak kurang dari lima tombak jauhnya, bagaikan seekor burung srikatan saja gesitnya, ia berdiri tegak seperti srikandi, pendekar wanita digdaya dalam cerita Mahabharata itu. Narotama bangkit berdiri, membungkuk kepada Ki Nagakumala seolah minta perkenan tuan rumah itu. Kakek itu tersenyum dan mempersilakan dengan gerakan tangannya. Narotama lalu melangkah menghampiri Lasmini yang telah berdiri menanti sambil bertolak pinggang. Mereka saling berhadapan, saling mengamati seperti lagak dua ekor ayam yang hendak bertarung. Lasmini mengamati wajah dan tubuh Narotama penuh perhatian. Pria itu memang tampan dan gagah sekali walaupun sikapnya lembut bersahaja. Tubuhnya yang tinggi tegap itu menunduk seolah memperlihatkan kerendahan hatinya, namun kepalanya tegak penuh wibawa dan keagungan, pancaran pandang matanya penuh pengertian dan penuh kekuatan batin, pandang mata yang begitu dalam dan tenang seperti permukaan air telaga yang dalam namun di balik semua kekuatan tersembunyi itu, terbayang kelembutan seorang ksatria yang selalu merasa rendah dan tunduk akan kekuasan Yang Maha Tinggi. Biarpun pakaiannya juga tidak terlalu mewah, namun dalam kesederhanaan itu terbayang keagungan seorang priyayi yang berkedudukan tinggi. Sebatang keris berwarangka kayu terukir terselip di ikat pinggangnya. Itulah keris pusaka Kolomisani, sebatang keris kecil berbentuk lurus.

Di lain pihak, Narotama juga mengamati calon lawannya dan kembali hatinya tergetar dan terguncang oleh daya tarik yang luar biasa dari dara ayu itu. Tubuh Lasmini ramping dan padat, denok dan kewes. Dadanya yang membusung itu tampak membayang di balik kemben sutera halus, seolah-olah bukit dadanya hendak memberontak karena ditutup dan ditekan kemben, seperti sepasang gunung berapi siap meletus. Rambutnya yang hitam panjang berombak itu digelung lebar terhias emas bermata intan yang amat indah. Gelung rambut itu ujungnya terurai di leher sebelah kanan, terhias untaian bunga melati. Wajahnya gemilang seperti bulan purnama, dihalus-putihkan dengan bedak tipis-tipis. Kulitnya yang putih mulus itu demikian halus sehingga ketika tertimpa sinar matahari pagi, seperti berkilau laksana emas. Sebilah keris kecil terselip di pinggangnya. Sungguh merupakan seorang dara yang luar biasa cantik jelitanya, bagaikan Dyah Srikandi, cantik dan juga gagah perkasa.

Lasmini melepas lagi senyumnya. Senyum yang lebih tajam dan lebih berbahaya daripada anak panah yang dilepas dari gendewa di tangan Srikandi. Senyum itu bagaikan anak panah mujijat yang langsung menyambar ke arah jantung Narotama! Namun, kipatih ini cepat menangkis dengan tekanan batinnya, mengingat bahwa wanita itu adalah calon garwa selir junjungannya sehingga tidak pantaslah kalau dia jatuh cinta!
"Kakangmas Narotama, sudah siapkah andika?" Tanya Lasmini, suaranya merdu sekali, bukan seperti orang menantang bertanding, begitu mesra dan bersahabat.
"Sudah, nimas. Aku sudah siap. Mulailah." kata Narotama tenang.
Lasmini sudah merencanakan siasat bersama adik dan uwaknya. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan mungkin dapat menandingi Ki patih yang sudah amat terkenal kedigdayaannya itu. Sudah diatur bahwa ia harus berhasil menjadi garwa atau selir Ki patih Narotama yang nama jabatannya adalah Rakryan Patih Kanuruhan Mpu Dharmamurti Narotama Danasura itu.

Karena itu, setelah kini berhadapan dengan Narotama dan mulai bertanding, iapun memasang gaya yang amat menarik, la membuka gerakan silatnya dengan indah sekali. Ia berdiri memasang kuda-kuda dengan kaki kanan di belakang dan kaki kiri di depan, kedua lutut ditekuk dan kaki kiri berdiri pada ujung kakinya, sikapnya "ndegeg", yaitu dada dibusungkan ke depan dan pinggul ditonjolkan ke belakang, tangan kiri dengan siku ditekuk dan jari-jari terpentang berada di depan dahi dengan telunnjuk menuding ke atas, tangan kanan berkembang ke belakang dengan jari jari terbuka pula. Gerakan pembukaan ini indah sekali, seperti seorang penari Bali beraksi, dadanya dan pinggulnya makin tampak membusung dan pinggangnya tampak begitu ramping seperti akan patah, pasangan pembukaan yang indah dan juga mengandung daya tarik yang menggairahkan. Narotama terpesona akan semua keindahan gerak tubuh wanita ini, akan tetapi dia bersikap tenang, menanti dara itu melakukan penyerangan.
"Sambut seranganku!" Tiba-tiba Lasmini berseru dan tubuhnya mulai bergerak menyerang. Tangan kirinya menyabar dari atas mencengkeram ke arah kepala Narotama disusul tangan kanan yang meluncur ke arah dada dengan tusukan dua jari tangan.
"Hyaaaaattt .....!"

Narotama kagum. Serangan itu sungguh dahsyat. Namun baginya tidak merupakan ancaman bahaya. Dia lalu mengelak dan ketika Lasmini menyusulkan serangan bertubi-tubi sambil dibarengi dengan bentakan-bentakan nyaring, Narotama hanya membela diri dengan elakan dan tangkisan. Kalaupun menangkis, dia membatasi tenaganya, tidak mempergunakan tenaga yang mengandung kekerasan, melainkan menggunakan tenaga lemas sehingga Lasmini merasa seolah lengannya ditangkis sebatang lengan yang hanya terdiri dari kulit dan daging tanpa tulang, begitu empuk walaupun amat kuat sehingga tidak membuat lengannya nyeri. Diam-diam Lasmini merasa girang sekali. Kenyataan ini saja menunjukkan bahwa kipatih ini "ada rasa" kepadanya, menyayangnya dan tidak ingin menyakitinya. Bahkan sampai tiga puluh jurus ia menyerang terus secara bertubi-tubi, tidak satu kalipun patih itu membalas! Bagaimanapun juga, Lasmini merasa penasaran sekali.

Ia memang sudah diberi tahu uwanya bahwa Narotama amat sakti mandraguna dan ia tidak mampu menandingmya, namun kini ia merasa begitu tidak berdaya seperti seorang anak kecil saja. la merasa penasaran juga karena selama ini belum pernah ia dikalahkan orang. Setelah kembali sebuah tangkisan lengan yang lunak seperti karet itu membuatnya terpental ke belakang, Lasmini diam-diam membaca mantra dan mengosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Segera terasa hawa dingin menyelubungi sekitar dara itu, terutama sekali Narotama merasa ada hawa dingin menyergapnya. Dia maklum bahwa gadis itu mempergunakan aji kesaktian yang mengandung hawa dingin dan tentu merupakan pukulan yang memiliki daya serang berbahaya. Maka, diapun sudah siap siaga untuk menyambut serangan aji yang mengandung kekuatan sihir itu. Lasmini mengumpulkan tenaga dan setelah merasa tenaganya mencapai titik puncak, ia lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Narotama sambil berseru melengking.
"Aji Ampak-ampak ..... hyaaaaahh....!!"
Tampak cahaya kebiruan menyambar dari kedua telapak tangan itu meluncur ke arah tubuh Narotama. Ampak-ampak adalah semacam halimun atau kabut dingin yang biasanya terdapat di puncak puncak gunung yang wingit, yang mengandung hawa dingin menyusup tulang dan juga mengandung bisa yang dapat mematikan manusia maupun tumbuh tumbuhan.

Narotama yang sudah siap siaga, lalu mengerahkan tenaga saktinya, menyambut dengan dorongan kedua tangannya sambil berseru nyaring.
"Aji Bojrodahono (Api Halilintar) .....!"
Tidak ada lawan yang lebih ampuh untuk melawan Aji Ampak-ampak yang dingin seperti salju itu kecuali Aji Bojrodahono yang panas bagaikan api.
"Blarrrrr .....!"
Masih untung bagi Lasmini bahwa Narotama tidak mempergunakan seluruh tenaga saktinya, hanya membatasi dan cukup untuk menolak serangan dara itu saja. Namun, pertemuan dua tenaga sakti itu tetap saja membuat tubuh denok Lasmini terdorong ke belakang dan nyaris ia jatuh terjengkang kalau saja ia tidak cepat berjungkir balik ke belakang sampai tiga kali. Perbuatan ini tentu saja membuat kain yang menutupi tubuhnya tersingkap sedikit sehingga tampak oleh Narotama kulit paha yang putih mulus dan betis kaki yang indah memadi bunting. Kembali darahnya berdesir kencang. Lasmini merasa kagum sekali. Akan tetapi dasar ia berwatak liar dan biasaya suka menyombongkan kepandaian sendiri, kekalahan demi kekalahannya itu membuat ia semakin penasaran. Ia lalu mencabut keris kecil yang terselip di pinggangnya. Sambil mengacungkan senjata itu, ia berkata, suaranya menantang.
"Kakangmas Narotama, beranikah andika menyambut keris pusakaku ini? Kalau engkau berani dan mampu mengalahkan aku sekali ini, barulah aku menerima kekalahanku!"
Narotama tersenyum. Dia harus menjaga kebesaran nama junjungannya. Pertandingan ini memang dilakukan olehnya namun sebagai wakil Sang Prabu Erlangga sehingga kemenangannya atau kekalahannya, juga merupakan kemenangan atau kekalahan Sang Prabu Erlangga. Dia memandang keris kecil itu dan melihat betapa ujung keris itu mengeluarkan sinar hitam. Dia dapat menduga bahwa keris itu pasti telah direndam racun yang amat berbahaya dan sedikit tergores saja, kalau sampai kulit terobek dan berdarah, cukup untuk membunuh orang. Dia maklum bahwa betapapun cantik jelitanya, dara ini adalah keturunan keluarga kerajaan sesat.

Kerajaan Parang Siluman memang terkenal memiliki tokoh-tokoh ahli sihir dan racun. Akan tetapi dia tidak menjadi gentar, mengingat bahwa tingkat kesaktian Lasmini sudah diukurnya dalam pertandingan tadi dan tenaga dara itu tidak terlalu kuat baginya. Dia lalu menanggalkan baju atasnya agar jangan sampai terobek, lalu dengan dada terbuka dia melangkah maju.
"Marilah, Nimas Lasmini, akan ku tadahi keris pusakamu dengan dadaku. Hendak kulihat bagaimana ampuhnya keris pusakamu itu!"
Lasmini terbelalak. Benarkah pemuda ini hendak menerima tusukan kerisnya yang ampuh beracun dengan bertelanjang dada?

<<<Bagian 17                                                                                           Bagian 19 >>>

No comments:

Post a Comment