Lasmini menatap tajam wajah Narotama dan pada sinar matanya terbayang kekaguman kepada pria perkasa itu. Pria yang masih muda, paling banyak dua puluh tujuh tahun usianya, tubuhnya tinggi tegap dan jelas berisi tenaga yang amat kokoh kuat walaupun sikapnya sederhana. Wajahnya tampan dan penuh wibawa. Tidak mengenakan pakaian kebesaran seperti seorang bangsawan tinggi, melainkan seperti seorang muda dari pulau Bali. Kepalanya terbungkus kain pala yang ujungnya meruncing di bagian belakang. Mata yang tajam seperti mata elang itu memandang dengan lurus dan wajar, sama sekali tidak membayangkan perasaan hatinya, namun bibir yang tersenyum itu membayangkan kesabaran dan penuh pengertian. Wajah seorang laki-laki, seorang jantan dan begitu bertemu pandang, Lasmini segera jatuh hati. la merasa tertarik sekali dan ada kemesraan menyentuh hati sanubarinya. Kalau laki-laki ini benar memiliki kedigdayaan seperti yang pernah didengarnya, maka inilah calon suami yang di nanti-nantinya dan ia segera merasa cocok dan setuju dengan siasat yang telah direncanakan semalam bersama Mandari dan Ki Nagakumala. Mendengar ucapan uwanya itu, Lasmini tersenyum, menjaga agar senyum itu keluar dengan wajar tidak dibuat-buat dan tampak semanis-manisnya. Memang manis bukan main ketika ia tersenyum itu. Bahkan tahi lalat hitam kecil di sudut mulut bagian kiri itu seolah menari.
"Karena andika ternyata masih
amat muda, Kipatih, bolehkah saya menyebut andika Kakangmas Narotama
saja?" katanya dengan lembut dan sikap sopan, agak malu-malu.
Narotama tersenyum. Wajah Lasmini
begitu menarik dan mempesona hatinya, namun dia ingat bahwa dia dalam tugas dan
wanita ini bersama adiknya dipinang oleh Sang Prabu Erlangga, hendak dijadikan
selir dan dia hanyalah seorang utusan sehingga sama sekali tidak boleh
perasaannya ikut berulah.
"Tentu saja, Nimas Lasmini.
Tentu andika boleh menyebutku Kakangmas Narotama saja. Sesungguhnya sayapun
tidak ingin membanggakan kedudukanku sebagai patih dan saya sekarang ini hanya
bertindak sebagai seorang utusan."
"Baiklah kalau begitu,
kakangmas. Sekarang, apakah kakangmas menghendaki jawaban atas pinangan itu
langsung dari mulut saya?"
"Sebaiknya begitulah. Saya
hanya utusan dan apapun yang menjadi jawaban andika sekalian atas pinangan itu,
saya hanya akan melaporkannya kepada Gusti Sinuwun."
"Terus terang saja aku dan
adikku Mandari sudah saling berembuk dalam hal ini dan sudah mengambil
keputusan. Andika tadi sudah mendengar bahwa kami adalah puteri-puteri Kanjeng
Ibu Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman, dan ayah kami adalah Sang
Bhagawan Kundolomuko yang kini menjadi pertapa di pantai Blambangan. Nah,
setelah mengetahui akan hal itu, bahwa ayah ibu kami adalah musuh-musuh
Mataram, apakah andika masih hendak melanjutkan pinangan itu, kakangmas?"
"Kanjeng Gusti Sinuwun tahu
benar akan hal itu, nimas. justeru karena selama ini Kerajaan Parang Siluman
memusuhi Mataram, maka beliau mempunyai keinginan untuk mengulurkan tangan
persahabatan, bahkan kekeluargaan dengan Kerajaan Parang Siluman. Maka,
mendengar bahwa Kerajaan Parang Siluman mempunyai dua orang puteri yang
bijaksana, sakti dan cantik jelita, lalu timbul keinginan Gusti Sinuwun untuk
meminang andika berdua."
Lasmini tersenyum lagi dan
mengangguk-angguk.
"Hal itupun sudah kami dengar
dari keterangan Uwa Nagakumala. Akan tetapi semenjak kami remaja, kami berdua
sudah menentukan syarat bagi pria yang hendak mempersunting kami sebagai
isteri. Pertama dia harus seorang ksatria yang berkedudukan tinggi."
"Gusti Sinuwun Erlangga adalah
seorang ksatria besar dengan kedudukan sebagai raja!" kata Narotama.
"Syarat yang ke dua, dia harus
seorang pria muda yang tampan dan bijaksana."
"Itu syarat yang sudah terpenuhi,
nimas. Siapa yang tidak mengenal bahwa Sang Prabu Erlangga adalah seorang pria
muda yang tampan dan gagah, berbudi bawa laksana, sugih bandha bandhu lagi
bijaksana?"
"Dan syarat ke tiga yang
penting kali bagi kami, pria itu harus sakti mandraguna dan dapat mengalahkan
kami dalam pertandingan adu kesaktian!"
"Sang Prabu Erlangga adalah
seorang raja yang sakti mandraguna pilih tanding, lebih lebih digdaya
dibandingkan aku. Akan tetapi beliau tidak berada di sini untuk membuktikan
kesaktiannya. Aku adalah utusannya yang berkuasa penuh, bertanggung jawab dan
berhak mewakili beliau menghadapi segala rintangan dan tantangan. Oleh karena
itu, syarat ketiga itu dapat dipenuhi dan aku yang menjadi wakilnya."
"Kalau begitu, andika yang akan
mewakili Sang Prabu Erlangga menandingiku, kakangmas?" tanya Lasmini dan
matanya memandang begitu indahnya, setengah tertutup sehingga bulu mata yang
lentik panjang itu hampir saling merapat.
"Kalau memang itu merupakan
sayembara bagimu, akan kuhadapi, nimas!"
Lasmini tersenyum menoleh kepada Ki
Nagakumala.
"Uwa, aku akan menerima di mana
lagi kalau tidak di sini? Pelataran pondok kami ini cukup luas untuk dijadikan
tempat bertanding kesaktian. Mari, Kakangmas Narotama, mari saling menguji
kesaktian masing-masing. Sudah lama aku mendengar akan kehebatan Kipatih
Narotama dan ingin sekali aku merasakan sendiri sampai berapa hebat dan ampuh
kepandaiannya!”
Setelah berkata demikian, Lasmini
melompat ke depan. Sekali lompat ia sudah melayang ke pelataran yang terbuka,
tidak kurang dari lima tombak jauhnya, bagaikan seekor burung srikatan saja
gesitnya, ia berdiri tegak seperti srikandi, pendekar wanita digdaya dalam
cerita Mahabharata itu. Narotama bangkit berdiri, membungkuk kepada Ki
Nagakumala seolah minta perkenan tuan rumah itu. Kakek itu tersenyum dan
mempersilakan dengan gerakan tangannya. Narotama lalu melangkah menghampiri
Lasmini yang telah berdiri menanti sambil bertolak pinggang. Mereka saling
berhadapan, saling mengamati seperti lagak dua ekor ayam yang hendak bertarung.
Lasmini mengamati wajah dan tubuh Narotama penuh perhatian. Pria itu memang
tampan dan gagah sekali walaupun sikapnya lembut bersahaja. Tubuhnya yang
tinggi tegap itu menunduk seolah memperlihatkan kerendahan hatinya, namun
kepalanya tegak penuh wibawa dan keagungan, pancaran pandang matanya penuh
pengertian dan penuh kekuatan batin, pandang mata yang begitu dalam dan tenang
seperti permukaan air telaga yang dalam namun di balik semua kekuatan
tersembunyi itu, terbayang kelembutan seorang ksatria yang selalu merasa rendah
dan tunduk akan kekuasan Yang Maha Tinggi. Biarpun pakaiannya juga tidak
terlalu mewah, namun dalam kesederhanaan itu terbayang keagungan seorang
priyayi yang berkedudukan tinggi. Sebatang keris berwarangka kayu terukir
terselip di ikat pinggangnya. Itulah keris pusaka Kolomisani, sebatang keris
kecil berbentuk lurus.
Di lain pihak, Narotama juga
mengamati calon lawannya dan kembali hatinya tergetar dan terguncang oleh daya
tarik yang luar biasa dari dara ayu itu. Tubuh Lasmini ramping dan padat, denok
dan kewes. Dadanya yang membusung itu tampak membayang di balik kemben sutera
halus, seolah-olah bukit dadanya hendak memberontak karena ditutup dan ditekan
kemben, seperti sepasang gunung berapi siap meletus. Rambutnya yang hitam panjang
berombak itu digelung lebar terhias emas bermata intan yang amat indah. Gelung
rambut itu ujungnya terurai di leher sebelah kanan, terhias untaian bunga
melati. Wajahnya gemilang seperti bulan purnama, dihalus-putihkan dengan bedak
tipis-tipis. Kulitnya yang putih mulus itu demikian halus sehingga ketika
tertimpa sinar matahari pagi, seperti berkilau laksana emas. Sebilah keris
kecil terselip di pinggangnya. Sungguh merupakan seorang dara yang luar biasa
cantik jelitanya, bagaikan Dyah Srikandi, cantik dan juga gagah perkasa.
Lasmini melepas lagi senyumnya.
Senyum yang lebih tajam dan lebih berbahaya daripada anak panah yang dilepas
dari gendewa di tangan Srikandi. Senyum itu bagaikan anak panah mujijat yang
langsung menyambar ke arah jantung Narotama! Namun, kipatih ini cepat menangkis
dengan tekanan batinnya, mengingat bahwa wanita itu adalah calon garwa selir
junjungannya sehingga tidak pantaslah kalau dia jatuh cinta!
"Kakangmas Narotama, sudah
siapkah andika?" Tanya Lasmini, suaranya merdu sekali, bukan seperti orang
menantang bertanding, begitu mesra dan bersahabat.
"Sudah, nimas. Aku sudah siap.
Mulailah." kata Narotama tenang.
Lasmini sudah merencanakan siasat
bersama adik dan uwaknya. Ia juga tahu bahwa ia tidak akan mungkin dapat
menandingi Ki patih yang sudah amat terkenal kedigdayaannya itu. Sudah diatur
bahwa ia harus berhasil menjadi garwa atau selir Ki patih Narotama yang nama
jabatannya adalah Rakryan Patih Kanuruhan Mpu Dharmamurti Narotama Danasura
itu.
Karena itu, setelah kini berhadapan
dengan Narotama dan mulai bertanding, iapun memasang gaya yang amat menarik, la
membuka gerakan silatnya dengan indah sekali. Ia berdiri memasang kuda-kuda
dengan kaki kanan di belakang dan kaki kiri di depan, kedua lutut ditekuk dan
kaki kiri berdiri pada ujung kakinya, sikapnya "ndegeg", yaitu dada
dibusungkan ke depan dan pinggul ditonjolkan ke belakang, tangan kiri dengan
siku ditekuk dan jari-jari terpentang berada di depan dahi dengan telunnjuk
menuding ke atas, tangan kanan berkembang ke belakang dengan jari jari terbuka
pula. Gerakan pembukaan ini indah sekali, seperti seorang penari Bali beraksi,
dadanya dan pinggulnya makin tampak membusung dan pinggangnya tampak begitu
ramping seperti akan patah, pasangan pembukaan yang indah dan juga mengandung daya
tarik yang menggairahkan. Narotama terpesona akan semua keindahan gerak tubuh
wanita ini, akan tetapi dia bersikap tenang, menanti dara itu melakukan
penyerangan.
"Sambut seranganku!"
Tiba-tiba Lasmini berseru dan tubuhnya mulai bergerak menyerang. Tangan kirinya
menyabar dari atas mencengkeram ke arah kepala Narotama disusul tangan kanan
yang meluncur ke arah dada dengan tusukan dua jari tangan.
"Hyaaaaattt .....!"
Narotama kagum. Serangan itu sungguh
dahsyat. Namun baginya tidak merupakan ancaman bahaya. Dia lalu mengelak dan
ketika Lasmini menyusulkan serangan bertubi-tubi sambil dibarengi dengan
bentakan-bentakan nyaring, Narotama hanya membela diri dengan elakan dan
tangkisan. Kalaupun menangkis, dia membatasi tenaganya, tidak mempergunakan
tenaga yang mengandung kekerasan, melainkan menggunakan tenaga lemas sehingga
Lasmini merasa seolah lengannya ditangkis sebatang lengan yang hanya terdiri
dari kulit dan daging tanpa tulang, begitu empuk walaupun amat kuat sehingga
tidak membuat lengannya nyeri. Diam-diam Lasmini merasa girang sekali.
Kenyataan ini saja menunjukkan bahwa kipatih ini "ada rasa"
kepadanya, menyayangnya dan tidak ingin menyakitinya. Bahkan sampai tiga puluh
jurus ia menyerang terus secara bertubi-tubi, tidak satu kalipun patih itu membalas!
Bagaimanapun juga, Lasmini merasa penasaran sekali.
Ia memang sudah diberi tahu uwanya
bahwa Narotama amat sakti mandraguna dan ia tidak mampu menandingmya, namun
kini ia merasa begitu tidak berdaya seperti seorang anak kecil saja. la merasa
penasaran juga karena selama ini belum pernah ia dikalahkan orang. Setelah
kembali sebuah tangkisan lengan yang lunak seperti karet itu membuatnya
terpental ke belakang, Lasmini diam-diam membaca mantra dan mengosok-gosokkan
kedua telapak tangannya. Segera terasa hawa dingin menyelubungi sekitar dara
itu, terutama sekali Narotama merasa ada hawa dingin menyergapnya. Dia maklum
bahwa gadis itu mempergunakan aji kesaktian yang mengandung hawa dingin dan
tentu merupakan pukulan yang memiliki daya serang berbahaya. Maka, diapun sudah
siap siaga untuk menyambut serangan aji yang mengandung kekuatan sihir itu.
Lasmini mengumpulkan tenaga dan setelah merasa tenaganya mencapai titik puncak,
ia lalu mendorongkan kedua telapak tangannya ke arah Narotama sambil berseru
melengking.
"Aji Ampak-ampak .....
hyaaaaahh....!!"
Tampak cahaya kebiruan menyambar
dari kedua telapak tangan itu meluncur ke arah tubuh Narotama. Ampak-ampak
adalah semacam halimun atau kabut dingin yang biasanya terdapat di puncak
puncak gunung yang wingit, yang mengandung hawa dingin menyusup tulang dan juga
mengandung bisa yang dapat mematikan manusia maupun tumbuh tumbuhan.
Narotama yang sudah siap siaga, lalu
mengerahkan tenaga saktinya, menyambut dengan dorongan kedua tangannya sambil
berseru nyaring.
"Aji Bojrodahono (Api
Halilintar) .....!"
Tidak ada lawan yang lebih ampuh
untuk melawan Aji Ampak-ampak yang dingin seperti salju itu kecuali Aji
Bojrodahono yang panas bagaikan api.
"Blarrrrr .....!"
Masih untung bagi Lasmini bahwa
Narotama tidak mempergunakan seluruh tenaga saktinya, hanya membatasi dan cukup
untuk menolak serangan dara itu saja. Namun, pertemuan dua tenaga sakti itu
tetap saja membuat tubuh denok Lasmini terdorong ke belakang dan nyaris ia
jatuh terjengkang kalau saja ia tidak cepat berjungkir balik ke belakang sampai
tiga kali. Perbuatan ini tentu saja membuat kain yang menutupi tubuhnya
tersingkap sedikit sehingga tampak oleh Narotama kulit paha yang putih mulus
dan betis kaki yang indah memadi bunting. Kembali darahnya berdesir kencang.
Lasmini merasa kagum sekali. Akan tetapi dasar ia berwatak liar dan biasaya
suka menyombongkan kepandaian sendiri, kekalahan demi kekalahannya itu membuat
ia semakin penasaran. Ia lalu mencabut keris kecil yang terselip di
pinggangnya. Sambil mengacungkan senjata itu, ia berkata, suaranya menantang.
"Kakangmas Narotama, beranikah
andika menyambut keris pusakaku ini? Kalau engkau berani dan mampu mengalahkan
aku sekali ini, barulah aku menerima kekalahanku!"
Narotama tersenyum. Dia harus
menjaga kebesaran nama junjungannya. Pertandingan ini memang dilakukan olehnya
namun sebagai wakil Sang Prabu Erlangga sehingga kemenangannya atau
kekalahannya, juga merupakan kemenangan atau kekalahan Sang Prabu Erlangga. Dia
memandang keris kecil itu dan melihat betapa ujung keris itu mengeluarkan sinar
hitam. Dia dapat menduga bahwa keris itu pasti telah direndam racun yang amat
berbahaya dan sedikit tergores saja, kalau sampai kulit terobek dan berdarah,
cukup untuk membunuh orang. Dia maklum bahwa betapapun cantik jelitanya, dara
ini adalah keturunan keluarga kerajaan sesat.
Kerajaan Parang Siluman memang
terkenal memiliki tokoh-tokoh ahli sihir dan racun. Akan tetapi dia tidak
menjadi gentar, mengingat bahwa tingkat kesaktian Lasmini sudah diukurnya dalam
pertandingan tadi dan tenaga dara itu tidak terlalu kuat baginya. Dia lalu
menanggalkan baju atasnya agar jangan sampai terobek, lalu dengan dada terbuka
dia melangkah maju.
"Marilah, Nimas Lasmini, akan
ku tadahi keris pusakamu dengan dadaku. Hendak kulihat bagaimana ampuhnya keris
pusakamu itu!"
Lasmini terbelalak. Benarkah pemuda
ini hendak menerima tusukan kerisnya yang ampuh beracun dengan bertelanjang
dada?
No comments:
Post a Comment