"Siapa bilang tidak ada permusuhan? Kita masih ada ikatan keluarga dengan Kerajaan Wurawari, juga menjadi sekutu kita kerajaan itu sejak dahulu jaman Kanjeng Raja Dirgabaskara masih menjadi Raja Parang Siluman. Akan tetapi Kerajaan Wurawari yang berhasil mengalahkan Mataram dan membunuh Sang Prabu Teguh Dharmawangsa kemudian diserbu Erlangga yang kemudian menjadi raja sampai sekarang. Sang Prabu Erlangga adalah musuh kita, musuh besar keluarga kita!"
"Wah, kalau begitu aku tidak
bisa menjadi garwanya!" kata Lasmini.
"Aduh, alangkah
sayangnya!" seru Mandari kecewa sekali.
"Kapan lagi kita bisa
mendapatkan seorang calon suami sehebat itu?"
"Kalau begitu, uwa tentu sudah
menolak pinangan itu!" kata Lasmini, juga merasa kecewa.
"Tidak, aku hanya menangguhkan
jawaban sampai besok pagi, karena aku ingin mengajak kalian berunding lebih
dulu. Dengar baik-baik, Lasmini dan Mandari. Kalian adalah keturunan keluarga
kerajaan Parang Siluman, karena itu sudah menjadi kewajiban kalian untuk
membalas dendam kepada Mataram. Sanggupkah kalian?"
"Tentu saja kami sanggup, uwa.
Bukankah kanjeng ibu menyuruh kami memperdalam aji kanuragan di bawah bimbingan
uwa juga agar kelak kami dapat membalas dendam kepada Mataram?" kata
Lasmini.
"Bagus sekali kalau begitu!
Tidak sia sia selama ini aku mewariskan seluruh ilmuku kepada kalian berdua.
Ketahuilah, musuh besar yang memperkuat Mataram ada dua orang, yaitu Sang Prabu
Erlangga sendiri dan patihnya, yaitu Ki patih Narotama. Nah, sekarang aku
menugaskan kalian berdua untuk membagi tugas yang seorang membunuh Sang Prabu
Erlangga dan yang lain membunuh Kipatih Narotama."
"Akan tetapi bagaimana caranya,
uwa? Aku pernah mendengar bahwa Erlangga dan Narotama itu tunggal guru dan
sakti mandraguna. Pula, mereka itu adalah raja dan patih, tentu dilindungi bala
tentara. Kami yang hanya berdua ini bagaimana mungkin dapat membunuh dua orang
sakti itu?" tanya Mandari.
"Caranya mudah dan akan
memuaskan dan menyenangkan hati kalian, yaitu dengan menerima pinangan
itu."
"Hehh .....? Bagaimana sih uwa
ini? Mau membalas dendam kok disuruh menjadi isterinya!" seru Lasmini
sambil memalalakan kedua matanya yang indah.
"Begitulah! Bukankah kalian tadi
mengatakan bahwa kalian akan senang sekali menjadi garwa Sang Prabu Erlangga?
Nah, kesempatan baik itu datang. Kalian menjadi garwanya, dapat memenuhi
keinginan hati mempersuamikan seorang pria ganteng berpangkat tinggi berdarah
bangsawan dan sakti mandraguna, juga kalian mendapat kesempatan baik sekali
untuk membalas dendam. Bukankah itu bagus sekali?"
"Akan tetapi uwa tadi
mengatakan bahwa kami berdua harus membagi tugas, yang seorang membunuh Sang
Prabu Erlangga dan yang lain membunuh Kipatih Narotama. Kalau kami berdua
menjadi garwa Prabu Erlangga, lalu bagaimana dapat membunuh Ki patih
Narotama?" Tanya Mandari.
"Oya, aku belum memberitahukan
kalian bahwa yang diutus Sang Prabu Erlangga untuk mengajukan pinangan adalah
Narotama sendiri! Malam ini dia turun bukit dan besok pagi dia akan datang lagi
ke sini. Kalau bukan dia yang diutus, orang lain mana mampu mendaki sampai ke
puncak menghindarkan semua rajah yang sudah kupasang di sepanjang lereng menuju
puncak ini?"
"Wah, kalau begitu dia tentu
datang membawa pasukan?" tanya Lasmini.
"Tidak, dia hanya datang
seorang diri saja."
"Kalau begitu kebetulan sekali,
uwa Kita turun tangan membunuhnya kala besok pagi dia muncul. Dengan demikian
berarti kita telah menyingkirkan seorang musuh!" kata Mandari.
Ki Nagakumala menggeleng kepalanya!
"Tidak. Biarpun Narotama
merupakan orang penting di Mataram yang harus di bunuh, namun kalau hal itu
kita lakukan kita akan gagal membunuh Erlangga, hal yang lebih penting lagi.
Kematian Narotama hanya akan memperlemah Mataram, namun kematian Erlangga
berarti menghancurkan Mataram. Justeru kebetulan sekali Narotama yang menjadi
utusan sehingga engkau mempunyai alasan yang kuat untuk menolak menjadi garwa
Erlangga dan memilih menjadi isteri Narotama, Lasmini."
Tiba-tiba di tengah malam itu
terdengar bunyi burung malam yang terbang melintas di atas pondok.
"Kulik! Kulik! Kulik!"
"Sstt ..... kita harus
berhati-hati. Narotama itu sakti mandraguna. Siapa tahu burung tadi merupakan
penyelidik yang dikirimnya. Mari dengar bisikanku. Kita harus menggunakan
siasat begini ....." Ki Nagakumala lalu berbisik-bisik, didengarkan dengan
penuh perhatian oleh Kedua orang keponakan yang juga menjadi muridnya yang amat
disayangnya itu.
Setelah merencanakan siasat yang
hendak mereka lakukan terhadap Narotama, dua orang perawan Bukit JungKringslaka
yang cantik jelita itu lalu masuk kamar dan tidur. Ki Nagakumala sendiri duduk
bersila di dalam pondok, memusatkan tenaganya agar besok dapat siap menghadapi
segala kemungkinan. Pada keesokan harinya, Narotama mendaki Bukit
Junggringslaka. Seperti biasa, orang muda perkasa ini selalu dalam keadaan
waspada. Sikap "eling lan waspada" (sadar dan waspada) ini merupakan
sikap yang tidak pernah meninggalkan dirinya lahir batin setiap saat. Sadar dan
waspada saat demi saat. Sadar akan keberadaan dirinya, sadar akan Kekuasaan
Maha Tinggi yang menguasai dan mengatur segala sesuatu yang tampak dan tidak
tampak, termasuk diri pribadinya lahir batin, sadar dan ingat selalu bahwa
dirinya merupakan ciptaan dan alat Sang Hyang Widhi Wasa, bahwa Kekuasaan Maha
Tinggi itu merupakan awal akhir, merupakan sangkan paraning dumadi (awal dan
akhir semua keberadaan). Di samping kesadaran rohani ini, juga selalu ada
kewaspadaan dalam dirinya melalui panca-inderanya, pengamatan yang selalu baru
akan segala yang berada di dalam dan di luar dirinya. Dengan demikian, maka
segala gerak hati akal pikiran dan kelakuan dibimbing oleh Sang Dewa Ruci (Roh
Suci) sehingga yang berada dalam hati sanubari hanyalah upaya untuk
"memayu hayuning bawana" (menjaga keindahan alam). Dalam bimbingan
Sang Dewa Ruci, si aku, yang bukan lain hanya nafsu-nafsu daya rendah yang
saling berlumba untuk menguasai diri manusia lalu mengaku ku sebagai
"aku", menjadi lenyap atau setidaknya melemah sehingga hati menjadi
sabar dan tenang, tidak mudah terbakar emosi yang bukan lain hanyalah gejolak
nafsu daya rendah.
Narotama melangkah perlahan-lahan
dan santai mendaki bukit. Matahari pagi mulai mengusir halimun yang semalam
memeluk bumi, meninggalkan butir-butir mutiara embun bergantung di ujung-ujung
daun dan merupakan butir-butir air mata kelopak-kelopak bunga. Air mata tangis
bahagia, sama sekali tidak tersentuh duka walau pada bunga yang sudah layu
sekalipun. Semua itu seperti digelar di depan Narotama, tampak semuanya, dan
yang ada hanya satu kesan, yaitu indah dan bahagia! Terasa benar oleh Narotama
semua itu merupakan hasil karya Seniman Maha Besar, merupakan ciptaan agung
yang tiada taranya. Namun, biarpun semua itu merupakan berkah Sang Hyang Widhi
Wasa, berkah yang paling besar berada dalam dirinya sendiri. Apa yang membuat
kesemuanya itu tampak indah? Karena ada penglihatan di matanya! Kalau Sang
Hyang Widhi Wasa tidak memberi berkah penglihatan pada kedua matanya, semua
keindahan yang terbentang di jagad raya ini takkan ada arti baginya. Juga semua
keindahan bunyi, kemerduan kicau burung, kokok ayam, dengus kerbau dan embik
kambing nun jauh di bawah bukit, takkan ada artinya kalau dia tidak diberkahi
dengan pendengaran pada telinganya! Mata Narotama yang memandang tanpa
ditunggangi nafsu daya rendah, dapat melihat dengan hati akal pikiran yang
jernih tanpa penilaian, tanpa pendapat, tanpa keinginan sehingga tidak ada
pertentangan dengan keadaan seperti apa adanya. Kalau sudah begitu, tidak ada
lagi bagus atau jelek, menyenangkan atau tidak menyenangkan. Yang ada hanya
indah sempurna, wajar dan pas, karena yang ada hanyalah terjadinya Kehendak
Sang Hyang Widhi. Kehendak si aku, yaitu nafsu daya rendah, sama sekali tidak
bekerja.
Sedikit gerakan di antara rumput
hijau gemuk itu cukup membuat Narotama yang selalu waspada menyadari bahwa ada
sesuatu terjadi di situ. Dia cepat menoleh dan mengamati. Kiranya seekor ular
dumung sedang bergerak perlahan sekali, menyusup di antara rumput menghampiri
seekor kelinci putih yang sedang makan daun. Narotama melihat betapa indahnya
kulit ular itu tertimpa matahari pagi yang bersinar lembut.Tidak akan ada
tangan seorang seniman lukis dapat membuat coretan garis-garis seperti yang
tergambar pada kulit ular itu! Setelah jarak antara ular dan kelinci itu
tinggal kurang lebih dua kaki lagi, ular itu mengangkat kepalanya ke atas,
gerakannya perlahan sekali sehingga kelinci itupun tidak mendengar atau
melihatnya. Kemudian, bagaikan kilat menyambar, kepala ular itu meluncur ke
depan, moncong yang terbuka lebar itu, menyambar dan tengkuk kelinci putih itu
sudah digigitnya. Darah merah menodai bulu kelinci yang putih. Kelinci itu
menjerit lirih dan meronta, namun suara jeritan dan tubuhnya segera tak
terdengar dan tak tampak lagi dibelit tubuh ular. Belitan kuat yang meremukkan
tulang-tulang kelinci itu. Narotama tersenyum. Teringat dia ketika baru saja
berguru di Pulau Bali dan melihat peristiwa seperti ini, seekor ular yang
menggigit lalu mencaplok seekor katak, hatinya dipenuhi perasaan marah dan
kengerian. Timbul keinginan hatinya untuk membela katak dan memusuhi ular yang
dianggapnya kejam dari ganas. Masih terngiang dalam ingatannya apa yang
dikatakan gurunya ketika itu. Gurunya tertawa melihat dia marah dan penasaran.
"Narotama, yang baru saja
engkau saksikan itu sama sekali bukan merupakan keganasan dan kekejaman seekor
ular, melainkan terjadinya hukum atas segala mahluk seperti yang sudah
dikodratkan oleh Sang Hyang Widhi yang menciptakan segala alam maya pada
berikut seluruh isinya. Binatang itu hidup menurutkan naluri dan pembawaannya.
Ular makan binatang kecil lain, hal itu adalah merupakan hukum yang berlaku
atas dirinya, tak mungkin diubah lagi oleh siapapun juga kecuali kalau Sang
Hyang Widhi menghendaki. Ular itu sudah menjadi kodratnya tidak bisa makan daun
atau akar. Makannya ya binatang kecil itulah. Kalau engkau menghalangi dia
makan katak dan sebagainya, yaitu binatang kecil, dia akan mati kelaparan.
Demikian pula engkau tidak dapat memaksa seekor kerbau makan ular atau binatang
lain. Makannya, menurut kodratnya, adalah daun-daun atau rerumputan. Apakah
engkau hendak menentang kodrat yang ditentukan oleh Sang Hyang Widhi
Wasa?"
Kini, melihat seekor ular mencaplok
seekor kelinci, tidak ada lagi perasaan penasaran dalam hati Narotama, bahkan
dia melihat betapa tertib, sempurna, dan indahnya semua hokum alam sesuai
dengan Kehendak Hyang Widhi berlangsung dan berjalan tanpa diikat dan dikuasai
ruang dan waktu. Semua Kehendak Hyang Widhi Wasa sudah baik, benar, adil dan
suci. Terjadilah segala kehendakNya. Salahnya, manusia menilai atas dasar
kehendak masing-masing yang bukan lagi adalah ulah nafsu daya rendah. Oleh
karena itu muncullah konflik-konflik dalam diri sendiri yang mencuat menjadi
konflik antar manusia, bahkan konflik antara kehendak manusia yang dibandingkan
dengan Kehendak Hyang Widhi. Jadilah kehendakMu, demikian seharusnya seorang
bijaksana berserah diri kepadaNya. Jangan sekali-sekali menambah kalimat suci
dari dua kata itu menjadi Jadilah kehendakMu sesuai dengan keinginanku! karena
kalau demikian kita akan bertemu dengan konflik batin yang berkepanjangan.
Ketika Narotama tiba di depan pondok
tempat tinggal Ki Nagakumala, dia melihat Ki Nagakumala sudah menanti di atas
dipan depan pondok bersama dua orang wanita muda yang dia duga pasti dua orang
gadis yang dipinang oleh Sang Prabu Erlangga.
"Selamat pagi, Paman Nagakumala
dan ..... nimas berdua!" kata Narotama dengan ramahnya.
Di dalam hatinya Narotama terpesona
juga melihat dua orang dara itu. Memang sukarlah mencari dua orang dara yang
demikian cantik jelita, ayu manis, luwes kuwes merak ati seperti mereka yang
duduk di atas bangku sebelah kiri Ki Nagakumala dengan pandang mata mereka yang
demikian indah sambil tersenyum simpul. Bibir manis merah basah itu merekah
seperti bunga mawar sedang mekar di pagi hari bermandi embun pagi yang segar.
Akan tetapi, dasar seorang ksatria yang kokoh kuat batinnya, pada pandang
matanya, Narotama tidak menunjukkan kekagumannya dan hanya memandang biasa
dengan tenang dan penuh sopan santun.
"Selamat pagi, Ki patih
Narotama dan silakan duduk." Ki Nagakumala menunjuk ke arah sebuah bangku
yang sudah disediakan untuk tamunya, berhadapan dengan mereka bertiga.
Narotama memandang ke arah bangku
yang ditawarkan. Sekilas pandang saja tahulah dia bahwa bangku kayu itu sudah
dirajah (diisi dengan aji). Agaknya kembali Ki Nagakumala hendak mengujinya.
Dia pura-pura tidak tahu dan duduk di atas bangku yang ditawarkan. Tentu saja
diam-diam dia mengerahkan aji kesaktiannya untuk melindungi diri terhadap
serangan rajah yang sudah dipasang pada bangku itu. Tiga orang itu, terutama
Lasmini dan Mandari, memandang dengan hati tegang. Mereka tahu bahwa barang
siapa menduduki bangku yang sudah dirajah dengan Rajah Banaspati itu tentu akan
terbakar Narotama duduk dan.....
"cesssssss ....." tampak
asap mengepul tebal dari bangku yang diduduki Narotama. Narotama bangkit
berdiri dengan tenang dan bangku itupun hancur menjadi arang setelah baru saja
dibakar api yang besar, padahal pakaian Narotama sedikitpun tidak ada yang
terbakar, apalagi kulit tubuhnya.
"Maaf, Paman Nagakumala. Bangku
ini rusak." Kata Narotama dan dia mengambil sebuah bangku lain dan duduk
berhadapan dengan tiga orang itu.
"Ha-ha-ha-ha! Bagus, Anakmas
Narotama! Tidak percuma andika menjadi maha patih di Kahuripan. Kami menerima
andika sebagai utusan Sang Prabu Erlangga dengan penuh penghormatan."
"Terima kasih, Paman
Nagakumala, atas kebijaksanaan andika."
"Perkenalkan, anakmas. Ini
adalah keponakanku, juga murid-muridku. Ini adalah Nini Lasmini dan yang lebih
muda Nini Mandari. Mereka adalah kakak beradik, puteri-puteri adikku Ratu
Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman. Nini berdua, inilah Rakyana Patih
Narotama dari Mataram."
Dua orang gadis itu memberi hormat
dengan sembah di depan hidung mereka. Narotama membalas dengan sembah di depan
dada.
"Paman Nagakumala, bagaimana
jawaban paman atas pinangan yang saya ajukan kemarin? Apakah sudah ada
keputusan jawabannya?"
"Ha-ha-ha! Sudah kami
rundingkan dengan dua orang anak yang bersangkutan, anakmas. Sebaiknya kalau
anakmas mendengar sendiri apa yang menjadi jawaban mereka. Nini Lasmini, engkau
sudah mendengar sendiri pertanyaan Ki patih Narotama dan aku sudah menceritakan
kepada kalian berdua tentang pinangan yang diajukan Ki patih atas nama Sang
Prabu Erlangga. Nah, sekarang, engkau jawablah sendiri saja pertanyaan itu dan
terserah kepadamu sendiri apakah engkau dapat menerima pinangan itu ataukah
tidak."
No comments:
Post a Comment