Bagian 17


"Siapa bilang tidak ada permusuhan? Kita masih ada ikatan keluarga dengan Kerajaan Wurawari, juga menjadi sekutu kita kerajaan itu sejak dahulu jaman Kanjeng Raja Dirgabaskara masih menjadi Raja Parang Siluman. Akan tetapi Kerajaan Wurawari yang berhasil mengalahkan Mataram dan membunuh Sang Prabu Teguh Dharmawangsa kemudian diserbu Erlangga yang kemudian menjadi raja sampai sekarang. Sang Prabu Erlangga adalah musuh kita, musuh besar keluarga kita!"
"Wah, kalau begitu aku tidak bisa menjadi garwanya!" kata Lasmini.
"Aduh, alangkah sayangnya!" seru Mandari kecewa sekali.
"Kapan lagi kita bisa mendapatkan seorang calon suami sehebat itu?"
"Kalau begitu, uwa tentu sudah menolak pinangan itu!" kata Lasmini, juga merasa kecewa.
"Tidak, aku hanya menangguhkan jawaban sampai besok pagi, karena aku ingin mengajak kalian berunding lebih dulu. Dengar baik-baik, Lasmini dan Mandari. Kalian adalah keturunan keluarga kerajaan Parang Siluman, karena itu sudah menjadi kewajiban kalian untuk membalas dendam kepada Mataram. Sanggupkah kalian?"
"Tentu saja kami sanggup, uwa. Bukankah kanjeng ibu menyuruh kami memperdalam aji kanuragan di bawah bimbingan uwa juga agar kelak kami dapat membalas dendam kepada Mataram?" kata Lasmini.
"Bagus sekali kalau begitu! Tidak sia sia selama ini aku mewariskan seluruh ilmuku kepada kalian berdua. Ketahuilah, musuh besar yang memperkuat Mataram ada dua orang, yaitu Sang Prabu Erlangga sendiri dan patihnya, yaitu Ki patih Narotama. Nah, sekarang aku menugaskan kalian berdua untuk membagi tugas yang seorang membunuh Sang Prabu Erlangga dan yang lain membunuh Kipatih Narotama."
"Akan tetapi bagaimana caranya, uwa? Aku pernah mendengar bahwa Erlangga dan Narotama itu tunggal guru dan sakti mandraguna. Pula, mereka itu adalah raja dan patih, tentu dilindungi bala tentara. Kami yang hanya berdua ini bagaimana mungkin dapat membunuh dua orang sakti itu?" tanya Mandari.
"Caranya mudah dan akan memuaskan dan menyenangkan hati kalian, yaitu dengan menerima pinangan itu."
"Hehh .....? Bagaimana sih uwa ini? Mau membalas dendam kok disuruh menjadi isterinya!" seru Lasmini sambil memalalakan kedua matanya yang indah.
"Begitulah! Bukankah kalian tadi mengatakan bahwa kalian akan senang sekali menjadi garwa Sang Prabu Erlangga? Nah, kesempatan baik itu datang. Kalian menjadi garwanya, dapat memenuhi keinginan hati mempersuamikan seorang pria ganteng berpangkat tinggi berdarah bangsawan dan sakti mandraguna, juga kalian mendapat kesempatan baik sekali untuk membalas dendam. Bukankah itu bagus sekali?"
"Akan tetapi uwa tadi mengatakan bahwa kami berdua harus membagi tugas, yang seorang membunuh Sang Prabu Erlangga dan yang lain membunuh Kipatih Narotama. Kalau kami berdua menjadi garwa Prabu Erlangga, lalu bagaimana dapat membunuh Ki patih Narotama?" Tanya Mandari.
"Oya, aku belum memberitahukan kalian bahwa yang diutus Sang Prabu Erlangga untuk mengajukan pinangan adalah Narotama sendiri! Malam ini dia turun bukit dan besok pagi dia akan datang lagi ke sini. Kalau bukan dia yang diutus, orang lain mana mampu mendaki sampai ke puncak menghindarkan semua rajah yang sudah kupasang di sepanjang lereng menuju puncak ini?"
"Wah, kalau begitu dia tentu datang membawa pasukan?" tanya Lasmini.
"Tidak, dia hanya datang seorang diri saja."
"Kalau begitu kebetulan sekali, uwa Kita turun tangan membunuhnya kala besok pagi dia muncul. Dengan demikian berarti kita telah menyingkirkan seorang musuh!" kata Mandari.

Ki Nagakumala menggeleng kepalanya!
"Tidak. Biarpun Narotama merupakan orang penting di Mataram yang harus di bunuh, namun kalau hal itu kita lakukan kita akan gagal membunuh Erlangga, hal yang lebih penting lagi. Kematian Narotama hanya akan memperlemah Mataram, namun kematian Erlangga berarti menghancurkan Mataram. Justeru kebetulan sekali Narotama yang menjadi utusan sehingga engkau mempunyai alasan yang kuat untuk menolak menjadi garwa Erlangga dan memilih menjadi isteri Narotama, Lasmini."
Tiba-tiba di tengah malam itu terdengar bunyi burung malam yang terbang melintas di atas pondok.
"Kulik! Kulik! Kulik!"
"Sstt ..... kita harus berhati-hati. Narotama itu sakti mandraguna. Siapa tahu burung tadi merupakan penyelidik yang dikirimnya. Mari dengar bisikanku. Kita harus menggunakan siasat begini ....." Ki Nagakumala lalu berbisik-bisik, didengarkan dengan penuh perhatian oleh Kedua orang keponakan yang juga menjadi muridnya yang amat disayangnya itu.

Setelah merencanakan siasat yang hendak mereka lakukan terhadap Narotama, dua orang perawan Bukit JungKringslaka yang cantik jelita itu lalu masuk kamar dan tidur. Ki Nagakumala sendiri duduk bersila di dalam pondok, memusatkan tenaganya agar besok dapat siap menghadapi segala kemungkinan. Pada keesokan harinya, Narotama mendaki Bukit Junggringslaka. Seperti biasa, orang muda perkasa ini selalu dalam keadaan waspada. Sikap "eling lan waspada" (sadar dan waspada) ini merupakan sikap yang tidak pernah meninggalkan dirinya lahir batin setiap saat. Sadar dan waspada saat demi saat. Sadar akan keberadaan dirinya, sadar akan Kekuasaan Maha Tinggi yang menguasai dan mengatur segala sesuatu yang tampak dan tidak tampak, termasuk diri pribadinya lahir batin, sadar dan ingat selalu bahwa dirinya merupakan ciptaan dan alat Sang Hyang Widhi Wasa, bahwa Kekuasaan Maha Tinggi itu merupakan awal akhir, merupakan sangkan paraning dumadi (awal dan akhir semua keberadaan). Di samping kesadaran rohani ini, juga selalu ada kewaspadaan dalam dirinya melalui panca-inderanya, pengamatan yang selalu baru akan segala yang berada di dalam dan di luar dirinya. Dengan demikian, maka segala gerak hati akal pikiran dan kelakuan dibimbing oleh Sang Dewa Ruci (Roh Suci) sehingga yang berada dalam hati sanubari hanyalah upaya untuk "memayu hayuning bawana" (menjaga keindahan alam). Dalam bimbingan Sang Dewa Ruci, si aku, yang bukan lain hanya nafsu-nafsu daya rendah yang saling berlumba untuk menguasai diri manusia lalu mengaku ku sebagai "aku", menjadi lenyap atau setidaknya melemah sehingga hati menjadi sabar dan tenang, tidak mudah terbakar emosi yang bukan lain hanyalah gejolak nafsu daya rendah.

Narotama melangkah perlahan-lahan dan santai mendaki bukit. Matahari pagi mulai mengusir halimun yang semalam memeluk bumi, meninggalkan butir-butir mutiara embun bergantung di ujung-ujung daun dan merupakan butir-butir air mata kelopak-kelopak bunga. Air mata tangis bahagia, sama sekali tidak tersentuh duka walau pada bunga yang sudah layu sekalipun. Semua itu seperti digelar di depan Narotama, tampak semuanya, dan yang ada hanya satu kesan, yaitu indah dan bahagia! Terasa benar oleh Narotama semua itu merupakan hasil karya Seniman Maha Besar, merupakan ciptaan agung yang tiada taranya. Namun, biarpun semua itu merupakan berkah Sang Hyang Widhi Wasa, berkah yang paling besar berada dalam dirinya sendiri. Apa yang membuat kesemuanya itu tampak indah? Karena ada penglihatan di matanya! Kalau Sang Hyang Widhi Wasa tidak memberi berkah penglihatan pada kedua matanya, semua keindahan yang terbentang di jagad raya ini takkan ada arti baginya. Juga semua keindahan bunyi, kemerduan kicau burung, kokok ayam, dengus kerbau dan embik kambing nun jauh di bawah bukit, takkan ada artinya kalau dia tidak diberkahi dengan pendengaran pada telinganya! Mata Narotama yang memandang tanpa ditunggangi nafsu daya rendah, dapat melihat dengan hati akal pikiran yang jernih tanpa penilaian, tanpa pendapat, tanpa keinginan sehingga tidak ada pertentangan dengan keadaan seperti apa adanya. Kalau sudah begitu, tidak ada lagi bagus atau jelek, menyenangkan atau tidak menyenangkan. Yang ada hanya indah sempurna, wajar dan pas, karena yang ada hanyalah terjadinya Kehendak Sang Hyang Widhi. Kehendak si aku, yaitu nafsu daya rendah, sama sekali tidak bekerja.

Sedikit gerakan di antara rumput hijau gemuk itu cukup membuat Narotama yang selalu waspada menyadari bahwa ada sesuatu terjadi di situ. Dia cepat menoleh dan mengamati. Kiranya seekor ular dumung sedang bergerak perlahan sekali, menyusup di antara rumput menghampiri seekor kelinci putih yang sedang makan daun. Narotama melihat betapa indahnya kulit ular itu tertimpa matahari pagi yang bersinar lembut.Tidak akan ada tangan seorang seniman lukis dapat membuat coretan garis-garis seperti yang tergambar pada kulit ular itu! Setelah jarak antara ular dan kelinci itu tinggal kurang lebih dua kaki lagi, ular itu mengangkat kepalanya ke atas, gerakannya perlahan sekali sehingga kelinci itupun tidak mendengar atau melihatnya. Kemudian, bagaikan kilat menyambar, kepala ular itu meluncur ke depan, moncong yang terbuka lebar itu, menyambar dan tengkuk kelinci putih itu sudah digigitnya. Darah merah menodai bulu kelinci yang putih. Kelinci itu menjerit lirih dan meronta, namun suara jeritan dan tubuhnya segera tak terdengar dan tak tampak lagi dibelit tubuh ular. Belitan kuat yang meremukkan tulang-tulang kelinci itu. Narotama tersenyum. Teringat dia ketika baru saja berguru di Pulau Bali dan melihat peristiwa seperti ini, seekor ular yang menggigit lalu mencaplok seekor katak, hatinya dipenuhi perasaan marah dan kengerian. Timbul keinginan hatinya untuk membela katak dan memusuhi ular yang dianggapnya kejam dari ganas. Masih terngiang dalam ingatannya apa yang dikatakan gurunya ketika itu. Gurunya tertawa melihat dia marah dan penasaran.
"Narotama, yang baru saja engkau saksikan itu sama sekali bukan merupakan keganasan dan kekejaman seekor ular, melainkan terjadinya hukum atas segala mahluk seperti yang sudah dikodratkan oleh Sang Hyang Widhi yang menciptakan segala alam maya pada berikut seluruh isinya. Binatang itu hidup menurutkan naluri dan pembawaannya. Ular makan binatang kecil lain, hal itu adalah merupakan hukum yang berlaku atas dirinya, tak mungkin diubah lagi oleh siapapun juga kecuali kalau Sang Hyang Widhi menghendaki. Ular itu sudah menjadi kodratnya tidak bisa makan daun atau akar. Makannya ya binatang kecil itulah. Kalau engkau menghalangi dia makan katak dan sebagainya, yaitu binatang kecil, dia akan mati kelaparan. Demikian pula engkau tidak dapat memaksa seekor kerbau makan ular atau binatang lain. Makannya, menurut kodratnya, adalah daun-daun atau rerumputan. Apakah engkau hendak menentang kodrat yang ditentukan oleh Sang Hyang Widhi Wasa?"

Kini, melihat seekor ular mencaplok seekor kelinci, tidak ada lagi perasaan penasaran dalam hati Narotama, bahkan dia melihat betapa tertib, sempurna, dan indahnya semua hokum alam sesuai dengan Kehendak Hyang Widhi berlangsung dan berjalan tanpa diikat dan dikuasai ruang dan waktu. Semua Kehendak Hyang Widhi Wasa sudah baik, benar, adil dan suci. Terjadilah segala kehendakNya. Salahnya, manusia menilai atas dasar kehendak masing-masing yang bukan lagi adalah ulah nafsu daya rendah. Oleh karena itu muncullah konflik-konflik dalam diri sendiri yang mencuat menjadi konflik antar manusia, bahkan konflik antara kehendak manusia yang dibandingkan dengan Kehendak Hyang Widhi. Jadilah kehendakMu, demikian seharusnya seorang bijaksana berserah diri kepadaNya. Jangan sekali-sekali menambah kalimat suci dari dua kata itu menjadi Jadilah kehendakMu sesuai dengan keinginanku! karena kalau demikian kita akan bertemu dengan konflik batin yang berkepanjangan.

Ketika Narotama tiba di depan pondok tempat tinggal Ki Nagakumala, dia melihat Ki Nagakumala sudah menanti di atas dipan depan pondok bersama dua orang wanita muda yang dia duga pasti dua orang gadis yang dipinang oleh Sang Prabu Erlangga.
"Selamat pagi, Paman Nagakumala dan ..... nimas berdua!" kata Narotama dengan ramahnya.
Di dalam hatinya Narotama terpesona juga melihat dua orang dara itu. Memang sukarlah mencari dua orang dara yang demikian cantik jelita, ayu manis, luwes kuwes merak ati seperti mereka yang duduk di atas bangku sebelah kiri Ki Nagakumala dengan pandang mata mereka yang demikian indah sambil tersenyum simpul. Bibir manis merah basah itu merekah seperti bunga mawar sedang mekar di pagi hari bermandi embun pagi yang segar. Akan tetapi, dasar seorang ksatria yang kokoh kuat batinnya, pada pandang matanya, Narotama tidak menunjukkan kekagumannya dan hanya memandang biasa dengan tenang dan penuh sopan santun.
"Selamat pagi, Ki patih Narotama dan silakan duduk." Ki Nagakumala menunjuk ke arah sebuah bangku yang sudah disediakan untuk tamunya, berhadapan dengan mereka bertiga.

Narotama memandang ke arah bangku yang ditawarkan. Sekilas pandang saja tahulah dia bahwa bangku kayu itu sudah dirajah (diisi dengan aji). Agaknya kembali Ki Nagakumala hendak mengujinya. Dia pura-pura tidak tahu dan duduk di atas bangku yang ditawarkan. Tentu saja diam-diam dia mengerahkan aji kesaktiannya untuk melindungi diri terhadap serangan rajah yang sudah dipasang pada bangku itu. Tiga orang itu, terutama Lasmini dan Mandari, memandang dengan hati tegang. Mereka tahu bahwa barang siapa menduduki bangku yang sudah dirajah dengan Rajah Banaspati itu tentu akan terbakar Narotama duduk dan.....
"cesssssss ....." tampak asap mengepul tebal dari bangku yang diduduki Narotama. Narotama bangkit berdiri dengan tenang dan bangku itupun hancur menjadi arang setelah baru saja dibakar api yang besar, padahal pakaian Narotama sedikitpun tidak ada yang terbakar, apalagi kulit tubuhnya.
"Maaf, Paman Nagakumala. Bangku ini rusak." Kata Narotama dan dia mengambil sebuah bangku lain dan duduk berhadapan dengan tiga orang itu.
"Ha-ha-ha-ha! Bagus, Anakmas Narotama! Tidak percuma andika menjadi maha patih di Kahuripan. Kami menerima andika sebagai utusan Sang Prabu Erlangga dengan penuh penghormatan."
"Terima kasih, Paman Nagakumala, atas kebijaksanaan andika."
"Perkenalkan, anakmas. Ini adalah keponakanku, juga murid-muridku. Ini adalah Nini Lasmini dan yang lebih muda Nini Mandari. Mereka adalah kakak beradik, puteri-puteri adikku Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman. Nini berdua, inilah Rakyana Patih Narotama dari Mataram."

Dua orang gadis itu memberi hormat dengan sembah di depan hidung mereka. Narotama membalas dengan sembah di depan dada.
"Paman Nagakumala, bagaimana jawaban paman atas pinangan yang saya ajukan kemarin? Apakah sudah ada keputusan jawabannya?"
"Ha-ha-ha! Sudah kami rundingkan dengan dua orang anak yang bersangkutan, anakmas. Sebaiknya kalau anakmas mendengar sendiri apa yang menjadi jawaban mereka. Nini Lasmini, engkau sudah mendengar sendiri pertanyaan Ki patih Narotama dan aku sudah menceritakan kepada kalian berdua tentang pinangan yang diajukan Ki patih atas nama Sang Prabu Erlangga. Nah, sekarang, engkau jawablah sendiri saja pertanyaan itu dan terserah kepadamu sendiri apakah engkau dapat menerima pinangan itu ataukah tidak."

<<<Bagian 16                                                                                          Bagian 18 >>>

No comments:

Post a Comment