"Kami sedang mempersiapkan sarapan untuk uwa." Kata pula Mandari.
"Eh, keponakanku yang ayu
merak-ati, murid-muridku yang dhenok montrok-montrok, aku tadi duduk termenung
di sini dan melihat burung-burung itu terbang berpasang-pasangan dengan
gembira. Aku lalu teringat kepada kalian dan merasa berdosa mengapa dua orang
keponakanku yang ayu manis kubiarkan hidup merana dan kesepian. Lasmini dan
Mandari, ingatkah kalian berapa usia kalian tahun ini?"
"Usiaku dua puluh tiga tahun,
uwa Nagakumala." Kata Lasmini.
"Dan usiaku dua puluh satu
tahun, uwa." kata Mandari, keduanya tersenyum, seolah merasa geli mengapa
uwa mereka menanyakan usia mereka.
"Nah, usia kalian sudah cukup
dewasa, bahkan usia sekian itu sudah sepatutnya kalau kalian menjadi ibu! Akan
tetapi sampai sekarang kalian masih saja perawan dan belum mempunyai suami.
Padahal, sejak beberapa tahun yang lalu, sudah ratusan orang muda, bangsawan
dan hartawan, datang meminang. Akan tetapi selalu kalian menolak pinangan
mereka. Bagaimana sih kalian ini? Jangan-jangan nanti ibu kalian, Nimas Ratu
Durgamala, menyalahkan aku yang disangka menghalangi kalian memilih
jodoh!"
"Ah, kami masih belum suka
melayani pria, uwa!" kata dua orang gadis itu dengan suara hampir
berbareng.
"Mustahil! Jangan bohongi aku.
Dari gerak gerik kalian, dari senyum dan kerling mata kalian, aku tahu bahwa
kalian bagaikan dua tangkai bunga segar yang selalu merindukan datangnya
kupu-kupu untuk menghisap sari madumu." kata Ki Nagakumala sambil
tersenyum dan mengelus sepasang kumisnya yang melintang di bawah hidungnya.
Lasmini tersenyum manja.
"Kami berdua telah bersepakat
uwa hanya akan suka melayani seorang suami yang sakti mandraguna dan mampu
mengalahkan kedigdayaan kami."
"Juga kami tidak sudi menjadi
isteri laki-laki biasa, uwa. Haruslah dia seorang raja, pangeran atau
setidaknya seorang ponggawa kerajaan yang berkedudukkan tinggi!" kata pula
Mandari.
Ki Nagakumala terkekeh dan
mengangguk-angguk.
"Ya-ya, aku mengerti dan memang
sudah sepatutnya kalian mendapatkan seorang suami yang pilihan. Akan tetapi
betapa akan sulitnya menemukan pria seperti yang kalian kehendaki itu."
"Masih ada lagi syarat kami,
uwa."
"Hemm, masih ada lagi? apa
itu?"
"Pria yang berkedudukan tinggi
dan sakti mandraguna itu juga harus muda dan tampan!" kata Lasmini sambil
tersenyum.
"Wah-wah-wah, agaknya kalian
menghendaki para dewa sengaja menciptakan laki-laki yang kalian kehendaki!
Ksatria seperti itu kiranya hanya terdapat di Mataram, keturunan keluarga
istana atau setidaknya seorang priyayi agung trah ingkusuma rembesing madu.
Pada hal Mataram adalah musuh besar kita!"
Tiba-tiba Ki Nagakumala memandang ke
depan. Tampak beberapa ekor burung terbang dari pohon seolah terkejut dan
ketakutan.
"Hernm, ada orang datang.
Kalian berdua masuklah dan lanjutkan membuat persiapan sarapan. Biar aku yang
menyambut tamu itu!" kata Ki Nagakumala dan dua orang gadis itu tersenyum
lalu masuk ke dalam pondok.
Ki Nagakumala masih tetap duduk
bersila di atas bangku. Dia adalah orang yang sakti mandraguna, seorang yang
telah mempelajari dan menghayati olah raga, olah batin dan olah rasa. Dia dapat
merasakan bahwa yang datang ini bukan orang biasa, walaupun dia belum dapat
melihat orangnya. Karena itulah dia tadi minta kepada dua orang muridnya agar
masuk. Dia ingin tahu lebih dulu siapa orang yang berani mendaki Bukit
Jungringsiaka ini. Tidak sembarang orang berani mendaki bukit ini, apalagi
sampai ke puncak. Sudah pasti orang yang sakti dan jelas bukan orang daerah
sini karena semua penduduk pedusunan di sekitar Bukit Junggringslaka tidak ada
yang berani mendaki bukit ini. Tak lama kemudian orang itu muncul dari balik
pohon besar. Dari jauh Ki Nagakumala sudah melihat bahwa orang itu masih muda,
seorang laki-laki bertubuh tegap dan wajahnya tampan berwibawa walaupun
pakaiannya sederhana saja. Langkahnya tegap dan tenang bagaikan langkah seekor
harimau. Timbul niat di hati Ki Nagakumala untuk menguji kesaktian pendatang
ini sebelum berkenalan. Mulutnya berkemak-kemik, tangannya dijulurkan ke bawah
mengambil segenggam batu kerikil dan setelah ucapan mantranya selesai, dia
melempar segenggam batu kerikil itu ke depannya.
"Blarrr .....I" Tampak
asap mengepul dibarengi ledakan dan tahu-tahu sebuah dinding besi menghalangi
antara dia dan pemuda pendatang itu.
Pemuda itu bukan lain adalah Ki
Patih Narotama. Tadi ketika dia mulai mendaki Bukit Junggringslaka, sejak tiba
di lereng bukit dekat puncak, dia sudah dihadang berbagai rintangan. Ada ular
sebesar batang pohon kelapa menghadang, akan tetapi dia berhasil mengusir ular
besar itu tanpa membunuhnya. Kemudian ada hutan yang menyesatkan, yang jalan
setapaknya berputar-putar dan orang biasa pasti akan tersesat dan tidak dapat
naik ke puncak, juga tidak dapat turun kembali. Akan tetapi Narotama dapat
melalui rintangan ini karena maklum bahwa semua ini adalah pengaruh rajah ilmu
sihir yang kuat. Kini, setelah tiba di depan pondok, dia melihat seorang
laki-laki tua bersila di atas dipan depan pondok. Dia sudah dapat menduga bahwa
laki-laki yang tampak gagah itu tentulah Ki Nagakumala yang sudah didengar
namanya namun belum pernah dilihat orangnya. Ketika laki-laki itu melontarkan
batu kerikil dan menciptakan sebuah dinding besi dari hasil sihirnya, Narotama
tersenyum. Dia tahu bahwa kakek itu kembali menggunakan sihir untuk
menghalanginya atau mengujinya. Karena kedatangannya membawa perintah Prabu
Erlangga untuk mengajukan pinangan dan menawarkan perdamaian, maka Narotama tidak
ingin menggunakan kekerasan. Dia hanya mengambil segenggam kerikil dan terucap
dengan-suara lembut.
"Sampurasun .....!"
Dilontarkan segenggam kerikil itu ke arah dinding besi dengan ucapan lembut
namun berwibawa,
"Berasal dari kerikil kembali
menjadi kerikil"
"Blarrr .....!" Asap
mengepul dan dinding besi jadi-jadian itu runtuh dan kembali menjadi segenggam
kerikil yang berserakan.
"Jagad Dewa Bathara .....!
Teja-teja sulaksana tejanya ksatria yang baru datang. Siapakah andika, orang
muda, berani lancang mendaki puncak Junggringslaka tanpa ijin?" Ki
Nagakumala bertanya sambil tetap duduk bersila.
Diam diam dia terkejut melihat
betapa orang yang masih muda belia ini dapat memusnahkan sihirnya dengan cara
lembut. Biarpun memiliki watak liar dan keras, namun karena Ki Nagakumala
adalah putera mendiang Raja Parang Siluman, pernah menjadi suami Ratu Mayang
Gupita dan dia kakak kandung Ratu Durgamala, maka tentu saja sikap
kebangsawanannya masih nyata dan diapun memiliki wibawa yang cukup kuat.
"Maaf beribu maaf, Paman
Nagakumala."
"Hemm, orang muda. Andika
mengenal aku?"
"Siapa yang tidak mengenal nama
paman yang besar sebagai seorang pangeran Kerajaan Parang Siluman dan sebagai
suami Ratu Mayang Gupita? Harap paman sudi memaafkan kelancangan saya,
menghadap tanpa ijin, karena saya menjadi utusan untuk menyampaikan sesuatu
yang amat penting kepada paman."
"Hemm, orang muda, sebelum
andika menceritakan apa yang menjadi keperluan andika datang ke sini, lebih
dulu perkenalkan dirimu kepadaku agar dapat kupertimbangkan apakah andika
seorang yang cukup berharga dan pantas untuk berwawancara dengan aku!" Ada
keangkuhan seorang bangsawan tinggi terkandung dalam ucapan ini.
Narotama tersenyum. Dia cukup
mengenal watak para bangsawan. Seorang yang benar-benar berdarah bangsawan
kilir batin, seperti misalnya Sang Prabu Erlangga, memiliki wibawa yang amat
kuat namun lembut dan wajar, wibawa yang bagaikan sinar yang mencorong dari
dalam, tanpa dibuat-buat, bahkan seorang bangsawan yang adiluhung biasanya
bersikap rendah hati, tidak pernah menyombongkan kebangsawanannya, bagaikan
emas yang sudah mencorong tanpa digosok. Sebaliknya,orang yang hanya bangsawan
secara lahiriah, karena memperoleh kedudukan, karena pangkat atau harta, maka
wibawanya ditonjolkan karena sikap yang dibuat-buat, karena keangkuhan dan
kesombongan. Orang seperti ini bagaikan gentong kosong yang tampaknya saja
gendut dan nyaring suaranya, namun isinya tidak ada apa-apanya. Ki Nagakumala
ini agaknya termasuk model bangsawan gentong kosong ini!
"Paman, nama saya adalah
Narotama."
Ki Nagakumala nampak terkejut bukan
main. Dia memandang Narotama dengan mata terbelalak lebar, seolah tidak percaya
akan apa yang didengarnya tadi.
"Andika Rakyan. Kanuruhan Mpu
Dharmamurti Narotama Danasura, patih dari Kahuripan, pembantu utama Sang Prabu
Erlangga?"
Narotama tersenyum dan membungkuk
dengan hormat sambil merangkap kedua tangannya di depan dada.
"Saya memang pembantu Gusti
Sinuwun Prabu Erlangga yang diutus untuk menghadap paman di sini. Sebelumnya
perkenankan saya menyampaikan salam hormat dari Gusti Sinuwun untuk
paman."
Melihat sikap dan mendengar ucapan
Narotama, Ki Nagakumala sejenak termangu, akan tetapi kemudian dia teringat
bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang musuh besar, tokoh besar Kerajaan
Mataram di Kahuripan. Dia bangkit berdiri dan bertolak pinggang, sepasang
matanya melotot dan kumis gatotkaca-nya bergerak-gerak.
"Babo-babo, Narotama! Besar
sekali nyalimu, berani mendatangi guha harimau! Tidak tahukah andika bahwa kami
adalah musuh-musuh besar Mataram? Rajamu adalah musuh besar kami, maka andika
sebagai utusannya berani datang, berarti sama dengan menyerahkan nyawamu!"
"Paman Nagakumala, justeru
karena sikap andika yang memusuhi Gusti Sinuwn itulah maka saya diutus untuk
menemui andika. Bukan sekali-kali untuk menanggapi sikap permusuhan paman
dengan pertentangan, melainkan saya diutus untuk mengulurkan tangan
perdamaian."
Ki Nagakumala terbelalak heran.
"Mengulurkan tangan perdamaian?
Apa maksud andika?"
"Begini, Paman Nagakumala. Saya
di utus Kanjeng Gusti Sinuwun untuk meminang dua orang keponakan andika dan
murid andika untuk menjadi garwa selir Gusti Sinuwun. Dengan cara ini Gusti
Sinuwun hendak mengikat pertalian keluarga dan menyudahi semua pertentangan dan
permusuhan."
Ki Nagakumala hampir tak dapat
mempercayai ucapan yang baru saja didengarnya itu. Sang Prabu Erlangga melamar
Lasmini dan Mandari untuk menjadi garwa selirnya? Bukan main! Raja besar yang
masih muda, tampan dan sakti mandraguna itu akan menjadi suami kedua orang
muridnya! Sungguh merupakan anugerah yang luar biasa besarnya bagi kedua orang
gadis itu! Calon suami yang luar biasa! Merupakan seorang maha raja, masih
muda, terkenal gagah perkasa dan tampan, dan dia tahu betapa sakti mandraguna
Raja Kahuripan itu! Akan tetapi sekilas berkelebat dalam benaknya bahwa raja
itu adalah musuh besarnya musuh besar keluarganya yang harus dibunuh dan sama
sekali tidak dapat diampuni, apalagi dijadikan mantu keponakan! Hampir saja dia
melompat dan menyerang Narotama ketika dia teringat akan hal ini. Akan tetapi
kemarahan itu ditahannya. Sekilas gagasan bersinar dalam pikirannya. Inilah
kesempatan paling baik untuk membalas dendam! Dia dapat mempergunakan dua orang
muridnya itu untuk membunuh atau setidaknya menghancurkan keturunan kerajaan Mataram
itu! Kilatan gagasan ini membuat dia cepat menekan kemarahannya dan tertawa
bergelak.
"Ha-ha-ha, Ki Patih Narotama.
Berita yang andika bawa ini sungguh demikian mengejutkan dan mengherankan
hatiku sehingga sejenak aku kehilangan akal."
"Paman Nagakumala, saya harap
paman cukup berakal untuk melihat kebijaksanaan Gusti Sinuwun dan dapat
menerima pinangan ini dengan baik demi kebahagian bersama."
"Nanti dulu, kipatih! Urusan
perjodohan adalah urusan yang amat penting dan hal ini tak dapat diputuskan olehku
seorang. Karena itu, aku minta waktu untuk merundingkan hal ini dengan kedua
orang murid, eh, kedua orang keponakanku. Besok pagi-pagi datanglah andika ke
sini dan aku akan dapat memberi jawaban yang pasti."
Lega rasa hati Narotama mendengar
jawaban itu. Setidaknya, kakek yang dia tahu amat membenci keturunan Mataram
itu, tidak langsung menolak mentah-mentah dan kalau dia hendak merundingkan
pinangan itu dengan dua orang gadis keponakannya, besar harapan pinangan itu
akan diterima. Gadis-gadis mana yang tidak akan menjadi bahagia mendengar
dirinya dipinang Sang Prabu Erlangga untuk menjadi garwa selirnya?
"Baiklah, paman dan sebelumnya
atas nama Gusti Sinuwun Prabu Erlangga, saya mengucapkan banyak terima kasih
atas perhatian andika. Selamat tinggal dan sampai jumpa besok pagi."
Setelah berkata demikian, Narotama meninggalkan tempat itu menuruni bukit
karena bagaimanapun juga, dia tahu bahwa bermalam di bukit yang berada di bawah
kekuasaan Ki Nagakumala itu amatlah berbahaya. Di waktu siang dia dapat menjaga
dan membela diri dengan baik. Akan tetapi di waktu malam gelap berada di daerah
yang asing baginya itu sungguh amat berbahaya.
"Benarkah itu, uwa? Sang Prabu
Erlangga meminang kami berdua?" tanya Lasmini dengan sepasang matanya yang
indah terbelalak dan bersinar gembira.
"Bukan main! Baru saja tadi
kita bicara tentang jodoh, kini tiba-tiba kami berdua dilamar orang dan
pelamarnya adalah Sang Prabu Erlangga!" kata Mandari dengan wajah gembira
sekali.
"Dia terkenal sebagai seorang
pria yang masih muda dan tampan juga sakti mandraguna seperti Sang Arjuna! Aku
mendengar bahwa dia memiliki kesaktian seperti Sang Bathara Wisnu! Wah, kalau
dia yang meminangku, aku mau, uwa, aku mau menjadi garwanya!" kata Lasmini
sambil tersenyum dan mukanya berubah kemerahan karena biarpun ia seorang gadis
yang kenes (genit), namun ia sama sekali belum pernah bergaul dekat dengan pria
karena merasa dirinya jauh lebih tinggi daripada laki-laki biasa yang suka
menaksirnya dengan pandang mata, senyum dan sikap mereka.
"Aku juga mau, uwa!" kata
pula Mandari, agaknya tidak mau kalah oleh kakaknya.
"Hemm, dia memang meminang
kalian berdua!" kata Ki Nagakumala.
"Kalau begitu kami mau, uwa.
Engkau terima sajalah pinangan itu!" kata mereka berdua dengan suara
hamper berbareng.
Ki Nagakumala mengerutkan alisnya.
"Hemm, Lasmini dan engkau
Mandari, lupakah kalian kita ini dari keluarga mana?"
Mendengar suara yang bernada ketus
dalam pertanyaan itu Lasmini dan Mandari terkejut.
"Tentu saja kami tidak lupa,
uwa. Kita ini keturunan keluarga kerajaan Parang Siluman!" kata Lasmini.
"Hemm, kalau begitu kalian
tentu tahu bahwa Mataram adalah musuh bebuyutan kita!"
Lasmini dan Mandari saling pandang,
lalu Mandari membantah.
"Akan tetapi, uwa. Sang Prabu
Erlangga adalah raja yang baru dan muda, tidak pernah ada permusuhan pribadi
antara dia dan keluarga Kerajaan Parang Siluman!"
No comments:
Post a Comment