Bagian 15


"Akan tetapi bagaimana caranya, Yayi Prabu? Mohon petunjuk paduka."
"Pernahkah engkau mendengar bahwa Ki Nagakumala mempunyai dua orang keponakan perempuan yang juga menjadi murid-muridnya? Menurut laporan penyelidik, dua orang gadis keponakan Ki Nagakumala itu cantik jelita bagaikan dewi kahyangan! Nah, aku dapat memetik dua keuntungan kalau tugasmu berhasil baik, kakang. Yaitu mendapatkan dua orang selir cantik jelita dan sakti mandraguna, dan di samping itu, Ki Nagakumala dapat menjadi jembatan untuk mengadakan hubungan persahabatan dengan dua orang ratu yang selama ini memusuhi kita."

Narotama mengangguk-angguk. Biarpun pada wajahnya tidak tampak sesuatu, namun dalam hatinya dia tertawa. Dia mengenal benar junjungannya ini. Seorang raja yang masih muda dan tampan, dan berjiwa romantis seperti watak Arjuna Perang dan memboyong puteri cantik, itu merupakan satu di antara kegemarannya. Walaupun demikian, tidak pernah raja ini menggunakan kekerasan untuk menundukkan wanita. Biasanya, para wanita yang saling berebutan untuk dapat menjadi kekasih atau selirnya. Hal ini tidaklah mengherankan. Perawan mana (pada jaman itu) yang tidak rindu untuk menjadi kekasih Prabu Erlangga, raja yang masih belia, elok dan tampan, gagah perkasa dan sakti mandraguna di samping arif bijaksana pula itu?
"Bagaimana, kakang. Kenapa andika diam saja?" Narotama terkejut dan sadar dari lamunannya.
"Sendika dhawuh paduka, Yayi Prabu. Akan tetapi, bagaimana selanjutnya? Apa yang harus hamba lakukan?"
"Ah, apakah andika masih belum dapat menduga apa yang harus kaulakukan, kakang?"
Narotama tersenyum.
"Apakah hamba harus mendatangi Ki Nagakumala dan mengajukan pinangan atas diri dua orang keponakan atau muridnya itu?"
Prabu Erlangga tertawa.
"Ha-ha, aku mengira tadi kecerdikan andika sudah mulai berkurang. Ternyata andika masih cerdik dan tanggap seperti dulu, Kakang Narotama. Memang itulah yang kukehendaki. Kalau pinanganku diterima, berarti aku mendapatkan dua orang gadis cantik sebagai selir dan pengawal pribadi, juga Ki Nagakumala dapat berjasa mendamaikan kita dengan dua orang ratu kerajaan kecil yang merongrong kita itu."
"Hamba mohon petunjuk, Yayi Prabu, bagaimana kalau pinangan ditolak Ki Nagakumala?"
Prabu Erlangga termenung dan mengerutkan alisnya yang bagus bentuknya dan hitam.
"Ditolak? Mungkinkah itu? Hemm, ya, mungkin saja ditolak. Nah, kalau ditolak, aku menyerahkan purba wasesanya sepenuhnya kepadamu, kakang. Andika boleh melakukan apa saja atas namaku dan sebagai wakilku. Sudah jelaskah, Kakang Narotama?"
"Sudah jelas bagi hamba, Yayi Prabu."
"Nah, kalau begitu berangkatlah sekarang juga. Andika boleh membawa pasukan sesukamu dan kubekali doa restuku semoga tugasmu berhasil baik."
"Terima kasih, Yayi prabu, hamba pamit undur."

Narotama lalu meninggalkan istana dan kembali ke gedung kepatihan, di mana isterinya, Listyarini, yang baru dinikahi setahun yang lalu dan belum mempunyai keturunan, menanti dengan tidak sabar. Wanita yang berasal dari kaki Gunung Mahameru ini tahu benar bahwa kalau suaminya dipanggil Sang Prabu pada waktu bukan sidang, tentu ada perkara yang gawat sekali, yang biasa dirundingkan berdua saja oleh raja dan patihnya yang masih muda-muda dan sakti mandraguna itu.
"Kakangmas, urusan apakah gerangan yang menyebabkan Gusti Sinuwun memanggil paduka?" sambut Listyarini dengan wajah manis.
Narotama merangkul isterinya dan mengajaknya duduk di atas balai-balai di ruangan depan kepatihan.
"Urusan penting sekali, diajeng. Aku diminta untuk mewakili gusti sinuwun melakukan pinangan."
"Pinangan? Siapa yang dipinang gusti sinuwun?" Tanya Listyarini heran. Biasanya, kalau sang prabu menginginkan seorang selir, dia tinggal mengutus pengawal biasa saja untuk mengurusnya. Kalau sekarang suaminya, patih dan merupakan orang ke dua di Kerajaan Kahuripan setelah Sang Prabu Erlangga, maka dua orang gadis yang dipinang itu tentulah bukan orang sembarangan!
"Yang dipinang itu keponakan yang juga merupakan murid-murid Ki Nagakumala, pertapa di Bukit Junggringslaka. Karena pinangan ini ada hubungannya dengan kepentingan kerajaan, maka Gusti Sinuwun mengutus aku sendiri yang melakukan pinangan."

Setelah berpamit kepada isterinya, pada hari itu juga Ki Patih Narotama berangkat melaksanakan tugasnya. Seperti biasa kalau menerima tugas urusan pribadi dari Sang Prabu Erlangga, Narotama berangkat seorang diri, tidak mau membawa pasukan, apa lagi tugas ini hanya untuk menghadapi seorang pertapa, bukan tugas untuk menggempur atau berperang. Juga seperti sudah menjadi kebiasaannya, kalau melakukan perjalanan, Ki patih Narotama yang usianya baru dua puluh tujuh tahun ini tidak suka menggunakan kereta kebesaran dan tidak mengenakan pakaian sebagai pejabat dan bangsawan tinggi. Dia merasa lebih leluasa berpakaian biasa saja, seperti dulu sebelum menjadi patih dan merantau dari Nusa Bali ke Nusa Jawa bersama Sang Prabu Erlangga yang ketika itu masih menjadi seorang pangeran Bali. Dia hanya menunggang seekor kuda pilihan yang tinggi besar dan kuat, menyusuri Kali Brantas menuju ke selatan.

Jajaran perbukitan yang membujur dari barat ke timur itu berada dekat pantai, seolah menjadi bendungan alam besar yang mencegah meluapnya air Laut Selatan ke darat. Ada dongeng menceritakan bahwa dahulu kala, terjadi perang antara Penguasa Laut Kidul dan Para Dewa penjaga Nusa Jawa. Kerajaan Laut Selatan mengancam akan menenggelamkan seluruh pulau dengan air pasang yang akan menelan Pulau Jawa. Akan tetapi para dewa mempergunakan kesaktian mereka untuk menciptakan bukit-bukit di sepanjang Pulau Jawa bagian selatan, dekat pantai untuk menolak air yang akan membanjiri daratan. Sebagian besar dari bukit-bukit ini merupakan bukit kapur yang tandus. Akan tetapi ada pula beberapa buah bukit yang bertanah subur sehingga penuh dengan tanaman menghijau. Di antara bukit-bukit subur ini terdapat sebuah bukit yang agak menjulang tinggi. Itulah Bukit Junggringslaka, menghadap ke selatan, ke arah lautan, seolah merupakan satu di antara para dewa yang berdiri dan melakukan penjagaan di situ untuk menentang kemurkaan kerajaan Laut Kidul! Biarpun memiliki tanah subur, Bukit Junggringslaka ini merupakan tempat yang wingit. Para petani di sekitar bukit ini tidak berani mendirikan rumah di bukit itu sehingga dari kaki sampai ke puncak bukit, tidak tampak ada dusun. Dusun-dusun yang ada didirikan agak jauh di sekeliling bukit. Orang-orang memilih daerah yang kurang subur tanahnya dari pada Bukit Junggringslaka, karena bukit itu dianggap keramat dan menjadi tempat para dewa mengadakan pertemuan. Sudah terjadi beberapa kali ada petani kedapatan tewas ketika berani mendaki bukit untuk mencari kayu atau tanaman. Apa lagi setelah para penghuni dusun di sekitarnya tahu bahwa di puncak bukit itu terdapat seorang pertapa yang aneh dan kabarnya sakti mandraguna.

Pertapa itu adalah Ki Nagakumala yang tidak menghendaki seorangpun melanggar bukit yang telah dianggap sebagai milik pribadi dan wilayahnya. Juga semua orang tahu bahwa kakek pertapa itu tinggal di puncak bukit bersama dua orang gadis yang luar biasa cantik jelitanya sehingga mereka semua sepakat untuk mengakui bahwa dua orang wanita muda itu sudah pasti bukan manusia, melainkan dewi atau peri atau siluman. Akan tetapi tentu saja mereka tidak berani berterus terang mengatakan hal ini dan kala sewaktu-waktu seorang di antara mereka atau keduanya turun bukit mengunjungi dusun mereka, mereka menyambutnya dengan ramah dan hormat. Apa lagi karena dua orang gadis cantik jelita bernama Lasmini dan Mandari itu tak pernah mengganggu penduduk, dan bahkan setiap membutuhkan sesuatu mereka membeli dari penduduk dan royal sekali dalam memberi hadiah. Akan tetapi, keramahan mereka itu tetap saja tidak membuat para pria di seluruh dusun sekitar situ berani bersikap kurang hormat, apa lagi kurang ajar. Hal ini merupakan akibat dari peristiwa yang terjadi dua tahun yang lalu. Karena dua orang gadis itu memang cantik jelita luar biasa, maka setiap orang laki-laki yang memandang mereka, langsung tergila-gila. Pada waktu itu, maklum orang muda, ada dua orang pemuda yang datang dari dusun yang agak jauh dari situ, berani bersikap kurang ajar untuk menarik perhatian Lasmini dan Mandari. Dan apa akibatnya? Banyak sekali penduduk dusun melihat betapa dua orang gadis itu menghajar dua orang pemuda itu sampai tewas dengan tubuh remuk-remuk! Semenjak itu, tahulah semua orang bahwa dua orang gadis itu sakti mandraguna dan semua orang menganggap mereka berdua itu sebangsa peri atau siluman. Sejak itu tak ada seorangpun berani bersikap kurang ajar, bahkan menatap wajah mereka secara langsung saja mereka tidak berani.

Siapakah Ki Nagakumala yang hidup sebagai pertapa di puncak Bukit Junggringslaka itu? Nama kakek ini sudah terkenal sejak puluhan tahun yang lalu. Dia adalah kakak dari Ratu Durgamala yang memerintah Kerajaan kecil Parang Siluman di pantai Laut Kidul. Mestinya dia mewarisi tahta kerajaan kecil itu dari ayah mereka, akan tetapi karena Ki Nagakumala ingin menikah dengan Ratu Mayang Gupita yang memerintah Kerajaan Siluman, juga di pantai Laut Kidul sebelah timur, maka dia mengalah dan menyerahkan kerajaan kecil Parang Siluman itu kepada adiknya. Setelah menikah dengan Ratu Mayang Gupita yang sakti, Nagakumala memperdalam ilmunya dan saling berlatih dengan isterinya yang sakti mandraguna. Akan tetapi, setelah belasan tahun menjadi suami isteri dan tidak mempunyai keturunan, Ki Nagakumala menjadi jenuh juga. Apa lagi ketika adiknya yang menjadi ratu di Kerajaan Parang Siluman menjadi janda karena suaminya telah pergi meninggalkannya dan kini ia hidup dengan dua orang puterinya, Nagakumala lalu meninggalkan Ratu Mayang Gupita dan kembali ke Parang Siluman. Keluarga ini sejak dahulu memang memusuhi Mataram yang kini berganti nama menjadi kerajaan Kahuripan. Nagakumala senang melihat dua orang keponakan perempuan yang cantik-cantik itu. Maka, dia lalu mengambil Lasmini dan Mandari menjadi muridnya. Biarpun dua orang gadis ini sudah mendapat pelajaran aji kanuragaan dari ibu mereka yang juga sakti, namun mereka gembira sekali mendapat gemblengan dari uwa mereka yang lebih sakti daripada ibu mereka. Mereka lalu dengan senang hati mengikuti Ki Nagakumala ke puncak Bukit Junggringslaka untuk memperdalam ilmu-ilmu yang amat dahsyat. Bukan hanya ilmu pencak silat, aji kanuragan, juga ilmu-ilmu sihir!

Pada hari itu, Ki Nagakumala duduk di luar pondoknya di puncak Bukit Junggringslaka. Sinar matahari pagi yang hangat terasa nyaman sekali di badan yang diselimuti hawa dingin puncak itu. Kabut pagi mulai terusir perlahan-lahan oleh sinar matahari pagi. Kakek Nagakumala duduk bersila di atas sebuah dipan bambu yang berada di luar pondok. Tubuhnya masih tampak gagah walaupun usianya sudah mendekati enam puluh tahun. Wajahnya juga gagah seperti Gatutkaca dengan kumis sekepal sebelah yang sudah mulai berwarna dua. Ki Nagakumala memang tampan gagah, pantas menjadi kakak Ratu Durgamala yang terkenal cantik jelita. Sungguh mengherankan sekali mengapa pria segagah dan setampan ini mau menjadi suami seorang wanita raksasa yang bertubuh tinggi besar, berperut gendut, wajahnya mengerikan karena bertaring, seperti Ratu Mayang Gupita, ratu Kerajaan Siluman itu. Ini pula menunjukkan betapa besar kebencian dalam hati Ki Nagakumala terhadap Mataram atau keturunan Mataram. Dia rela mengorbankan diri, memperisteri Ratu Mayang Gupita yang buruk rupa dan mengerikan itu, hanya untuk dapat menambah kesaktiannya agar kelak dia dapat menghancurkan Kahuripan atau keturunan Mataram! Dan kini, untuk memperkuat diri, dia menurunkan semua aji kesaktiannya kepada dua orang keponakan yang telah menjadi muridnya agar kelak dua orang gadis itu dapat membantunya melawan Erlangga yang menjadi raja Kahuripan sekarang. Ki Nagakumala duduk seorang diri termenung. Kemudian seperti teringat akan sesuatu, tiba-tiba dia menoleh ke arah pondok dan berseru, suaranya nyaring seperti suara Sang Gatotkaca.
"Murid-muridku cah ayu thinik-thinik, Nini Lasmini dan Nini Mandari, di manakah kalian? Tinggalkan dulu kesibukan kalian, aku mau bicara dengan kalian!"

Tak lama kemudian, tampak dua bayangan berkelebat dan dari pintu pondok muncullah dua orang gadis. Gerakan mereka demikian cepat dan ringan seperti melayang saja sehingga yang tampak hanya bayangan merah dan bayangan kuning. Setelah bayangan itu berhenti di depan Ki Nagakumala, tampaklah bahwa mereka adalah seorang gadis berpakaian serba merah muda dan yang seorang berpakaian serba kuning. Pakaian mereka dari sutera halus dan begitu serasi di tubuh mereka sehingga mereka tampak seperti dewi-dewi saja. Pakaian itu bersih, membungkus tubuh yang indah menggairahkan, serba sempurna lekuk lengkungnya, dada dan pinggulnya membusung sehingga pinggang mereka yang memakai sabuk berlapis emas itu tampak ramping bukan main, pinggang yang disebut nawon kemit (pinggangnya seperti lebah kemit)! Kaki yang tampak dari betis ke bawah itu berkulit kuning putih mulus dan bentuknya memadi bunting, dan bagian atas tumitnya mencekung. Tanda-tanda kewanitaan pilihan! Yang berpakaian merah muda adalah Lasmini, berusia dua puluh tiga tahun. Yang pertama menarik dari gadis ini adalah rambutnya. Rambut itu panjang sampai ke pinggul, hitam sekali dan bergelombang, indah menggairahkan, dengan sinom (anak rambut) halus lembut bergantungan di atas dahi dan di pelipis. Wajahnya bulat telur dengan dagu meruncing, manis sekali. Semua bagian wajahnya amatlah cantiknya, terutama sekali mata dan bibirnya, amat menggairahkan, seperti menantang dan menjanjikan kenikmatan dan kemesraan yang memabokkan, apalagi ditambah pemanis di pipi kiri dengan adanya sebintik tahi lalat hitam. Sungguh merupakan seorang wanita yang sudah masak, bagaikan setangkai bunga sedang mekar-mekarnya. Dan hebatnya, wanita yang masih perawan berusia dua puluh tiga tahun ini tiada ubahnya seorang dara berusia delapan belas tahun saja! Adapun gadis yang berpakaian serba kuning bernama Mandari, berusia dua puluh satu tahun. Ia adalah adik Lasmini. Berbeda bentuk wajahnya dengan mbakayunya, Mandari berwajah agak bulat dengan mata yang lebar bersinar-sinar, hidungnya mancung dan mulutnya juga amat indah dengan bibir yang selalu merekah dan merah basah. Seperti juga mbakayunya, kulit gadis ini kekuningan, putih mulus dan kedua pipinya yang putih halus itu agak kemerahan tanpa gincu, tanda bahwa tubuh yang muda itu sehat segar. Seperti juga Lasmini, Mandari yang berusia dua puluh satu tahun itu kelihatannya seperti baru berusia tujuh belas tahun saja.

Sukar untuk menilai siapa yang lebih menarik di antara kedua orang gadis kakak beradik ini. Keduanya memiliki kecantikan yang berbeda, namun sama sama menarik dan menggairahkan. Pakaian mereka juga indah, dengan perhiasan-perhiasan dari emas dan batu permata. Kedua orang gadis itu lalu duduk di atas bangku-bangku berhadapan dengan Ki Nagakumala.
"Uwa, ada keperluan apakah gerangan maka uwa memanggil kami dengan teriakan nyaring?" tanya Lasmini, senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya yang semringah.

<<<Bagian 14                                                                                          Bagian 16 >>>

No comments:

Post a Comment