"Akan tetapi bagaimana caranya, Yayi Prabu? Mohon petunjuk paduka."
"Pernahkah engkau mendengar
bahwa Ki Nagakumala mempunyai dua orang keponakan perempuan yang juga menjadi
murid-muridnya? Menurut laporan penyelidik, dua orang gadis keponakan Ki
Nagakumala itu cantik jelita bagaikan dewi kahyangan! Nah, aku dapat memetik
dua keuntungan kalau tugasmu berhasil baik, kakang. Yaitu mendapatkan dua orang
selir cantik jelita dan sakti mandraguna, dan di samping itu, Ki Nagakumala
dapat menjadi jembatan untuk mengadakan hubungan persahabatan dengan dua orang
ratu yang selama ini memusuhi kita."
Narotama mengangguk-angguk. Biarpun
pada wajahnya tidak tampak sesuatu, namun dalam hatinya dia tertawa. Dia
mengenal benar junjungannya ini. Seorang raja yang masih muda dan tampan, dan
berjiwa romantis seperti watak Arjuna Perang dan memboyong puteri cantik, itu
merupakan satu di antara kegemarannya. Walaupun demikian, tidak pernah raja ini
menggunakan kekerasan untuk menundukkan wanita. Biasanya, para wanita yang
saling berebutan untuk dapat menjadi kekasih atau selirnya. Hal ini tidaklah
mengherankan. Perawan mana (pada jaman itu) yang tidak rindu untuk menjadi
kekasih Prabu Erlangga, raja yang masih belia, elok dan tampan, gagah perkasa
dan sakti mandraguna di samping arif bijaksana pula itu?
"Bagaimana, kakang. Kenapa
andika diam saja?" Narotama terkejut dan sadar dari lamunannya.
"Sendika dhawuh paduka, Yayi
Prabu. Akan tetapi, bagaimana selanjutnya? Apa yang harus hamba lakukan?"
"Ah, apakah andika masih belum
dapat menduga apa yang harus kaulakukan, kakang?"
Narotama tersenyum.
"Apakah hamba harus mendatangi
Ki Nagakumala dan mengajukan pinangan atas diri dua orang keponakan atau
muridnya itu?"
Prabu Erlangga tertawa.
"Ha-ha, aku mengira tadi
kecerdikan andika sudah mulai berkurang. Ternyata andika masih cerdik dan
tanggap seperti dulu, Kakang Narotama. Memang itulah yang kukehendaki. Kalau
pinanganku diterima, berarti aku mendapatkan dua orang gadis cantik sebagai
selir dan pengawal pribadi, juga Ki Nagakumala dapat berjasa mendamaikan kita
dengan dua orang ratu kerajaan kecil yang merongrong kita itu."
"Hamba mohon petunjuk, Yayi
Prabu, bagaimana kalau pinangan ditolak Ki Nagakumala?"
Prabu Erlangga termenung dan
mengerutkan alisnya yang bagus bentuknya dan hitam.
"Ditolak? Mungkinkah itu? Hemm,
ya, mungkin saja ditolak. Nah, kalau ditolak, aku menyerahkan purba wasesanya
sepenuhnya kepadamu, kakang. Andika boleh melakukan apa saja atas namaku dan
sebagai wakilku. Sudah jelaskah, Kakang Narotama?"
"Sudah jelas bagi hamba, Yayi
Prabu."
"Nah, kalau begitu berangkatlah
sekarang juga. Andika boleh membawa pasukan sesukamu dan kubekali doa restuku
semoga tugasmu berhasil baik."
"Terima kasih, Yayi prabu,
hamba pamit undur."
Narotama lalu meninggalkan istana
dan kembali ke gedung kepatihan, di mana isterinya, Listyarini, yang baru
dinikahi setahun yang lalu dan belum mempunyai keturunan, menanti dengan tidak
sabar. Wanita yang berasal dari kaki Gunung Mahameru ini tahu benar bahwa kalau
suaminya dipanggil Sang Prabu pada waktu bukan sidang, tentu ada perkara yang
gawat sekali, yang biasa dirundingkan berdua saja oleh raja dan patihnya yang
masih muda-muda dan sakti mandraguna itu.
"Kakangmas, urusan apakah
gerangan yang menyebabkan Gusti Sinuwun memanggil paduka?" sambut
Listyarini dengan wajah manis.
Narotama merangkul isterinya dan
mengajaknya duduk di atas balai-balai di ruangan depan kepatihan.
"Urusan penting sekali,
diajeng. Aku diminta untuk mewakili gusti sinuwun melakukan pinangan."
"Pinangan? Siapa yang dipinang
gusti sinuwun?" Tanya Listyarini heran. Biasanya, kalau sang prabu
menginginkan seorang selir, dia tinggal mengutus pengawal biasa saja untuk
mengurusnya. Kalau sekarang suaminya, patih dan merupakan orang ke dua di
Kerajaan Kahuripan setelah Sang Prabu Erlangga, maka dua orang gadis yang
dipinang itu tentulah bukan orang sembarangan!
"Yang dipinang itu keponakan
yang juga merupakan murid-murid Ki Nagakumala, pertapa di Bukit Junggringslaka.
Karena pinangan ini ada hubungannya dengan kepentingan kerajaan, maka Gusti
Sinuwun mengutus aku sendiri yang melakukan pinangan."
Setelah berpamit kepada isterinya,
pada hari itu juga Ki Patih Narotama berangkat melaksanakan tugasnya. Seperti
biasa kalau menerima tugas urusan pribadi dari Sang Prabu Erlangga, Narotama
berangkat seorang diri, tidak mau membawa pasukan, apa lagi tugas ini hanya
untuk menghadapi seorang pertapa, bukan tugas untuk menggempur atau berperang.
Juga seperti sudah menjadi kebiasaannya, kalau melakukan perjalanan, Ki patih
Narotama yang usianya baru dua puluh tujuh tahun ini tidak suka menggunakan
kereta kebesaran dan tidak mengenakan pakaian sebagai pejabat dan bangsawan
tinggi. Dia merasa lebih leluasa berpakaian biasa saja, seperti dulu sebelum
menjadi patih dan merantau dari Nusa Bali ke Nusa Jawa bersama Sang Prabu
Erlangga yang ketika itu masih menjadi seorang pangeran Bali. Dia hanya
menunggang seekor kuda pilihan yang tinggi besar dan kuat, menyusuri Kali
Brantas menuju ke selatan.
Jajaran perbukitan yang membujur
dari barat ke timur itu berada dekat pantai, seolah menjadi bendungan alam
besar yang mencegah meluapnya air Laut Selatan ke darat. Ada dongeng
menceritakan bahwa dahulu kala, terjadi perang antara Penguasa Laut Kidul dan
Para Dewa penjaga Nusa Jawa. Kerajaan Laut Selatan mengancam akan
menenggelamkan seluruh pulau dengan air pasang yang akan menelan Pulau Jawa.
Akan tetapi para dewa mempergunakan kesaktian mereka untuk menciptakan
bukit-bukit di sepanjang Pulau Jawa bagian selatan, dekat pantai untuk menolak
air yang akan membanjiri daratan. Sebagian besar dari bukit-bukit ini merupakan
bukit kapur yang tandus. Akan tetapi ada pula beberapa buah bukit yang bertanah
subur sehingga penuh dengan tanaman menghijau. Di antara bukit-bukit subur ini
terdapat sebuah bukit yang agak menjulang tinggi. Itulah Bukit Junggringslaka,
menghadap ke selatan, ke arah lautan, seolah merupakan satu di antara para dewa
yang berdiri dan melakukan penjagaan di situ untuk menentang kemurkaan kerajaan
Laut Kidul! Biarpun memiliki tanah subur, Bukit Junggringslaka ini merupakan
tempat yang wingit. Para petani di sekitar bukit ini tidak berani mendirikan
rumah di bukit itu sehingga dari kaki sampai ke puncak bukit, tidak tampak ada
dusun. Dusun-dusun yang ada didirikan agak jauh di sekeliling bukit.
Orang-orang memilih daerah yang kurang subur tanahnya dari pada Bukit
Junggringslaka, karena bukit itu dianggap keramat dan menjadi tempat para dewa
mengadakan pertemuan. Sudah terjadi beberapa kali ada petani kedapatan tewas
ketika berani mendaki bukit untuk mencari kayu atau tanaman. Apa lagi setelah
para penghuni dusun di sekitarnya tahu bahwa di puncak bukit itu terdapat
seorang pertapa yang aneh dan kabarnya sakti mandraguna.
Pertapa itu adalah Ki Nagakumala
yang tidak menghendaki seorangpun melanggar bukit yang telah dianggap sebagai
milik pribadi dan wilayahnya. Juga semua orang tahu bahwa kakek pertapa itu
tinggal di puncak bukit bersama dua orang gadis yang luar biasa cantik
jelitanya sehingga mereka semua sepakat untuk mengakui bahwa dua orang wanita
muda itu sudah pasti bukan manusia, melainkan dewi atau peri atau siluman. Akan
tetapi tentu saja mereka tidak berani berterus terang mengatakan hal ini dan
kala sewaktu-waktu seorang di antara mereka atau keduanya turun bukit
mengunjungi dusun mereka, mereka menyambutnya dengan ramah dan hormat. Apa lagi
karena dua orang gadis cantik jelita bernama Lasmini dan Mandari itu tak pernah
mengganggu penduduk, dan bahkan setiap membutuhkan sesuatu mereka membeli dari
penduduk dan royal sekali dalam memberi hadiah. Akan tetapi, keramahan mereka
itu tetap saja tidak membuat para pria di seluruh dusun sekitar situ berani
bersikap kurang hormat, apa lagi kurang ajar. Hal ini merupakan akibat dari
peristiwa yang terjadi dua tahun yang lalu. Karena dua orang gadis itu memang
cantik jelita luar biasa, maka setiap orang laki-laki yang memandang mereka,
langsung tergila-gila. Pada waktu itu, maklum orang muda, ada dua orang pemuda
yang datang dari dusun yang agak jauh dari situ, berani bersikap kurang ajar
untuk menarik perhatian Lasmini dan Mandari. Dan apa akibatnya? Banyak sekali
penduduk dusun melihat betapa dua orang gadis itu menghajar dua orang pemuda itu
sampai tewas dengan tubuh remuk-remuk! Semenjak itu, tahulah semua orang bahwa
dua orang gadis itu sakti mandraguna dan semua orang menganggap mereka berdua
itu sebangsa peri atau siluman. Sejak itu tak ada seorangpun berani bersikap
kurang ajar, bahkan menatap wajah mereka secara langsung saja mereka tidak
berani.
Siapakah Ki Nagakumala yang hidup
sebagai pertapa di puncak Bukit Junggringslaka itu? Nama kakek ini sudah
terkenal sejak puluhan tahun yang lalu. Dia adalah kakak dari Ratu Durgamala
yang memerintah Kerajaan kecil Parang Siluman di pantai Laut Kidul. Mestinya
dia mewarisi tahta kerajaan kecil itu dari ayah mereka, akan tetapi karena Ki
Nagakumala ingin menikah dengan Ratu Mayang Gupita yang memerintah Kerajaan
Siluman, juga di pantai Laut Kidul sebelah timur, maka dia mengalah dan
menyerahkan kerajaan kecil Parang Siluman itu kepada adiknya. Setelah menikah
dengan Ratu Mayang Gupita yang sakti, Nagakumala memperdalam ilmunya dan saling
berlatih dengan isterinya yang sakti mandraguna. Akan tetapi, setelah belasan
tahun menjadi suami isteri dan tidak mempunyai keturunan, Ki Nagakumala menjadi
jenuh juga. Apa lagi ketika adiknya yang menjadi ratu di Kerajaan Parang
Siluman menjadi janda karena suaminya telah pergi meninggalkannya dan kini ia
hidup dengan dua orang puterinya, Nagakumala lalu meninggalkan Ratu Mayang
Gupita dan kembali ke Parang Siluman. Keluarga ini sejak dahulu memang memusuhi
Mataram yang kini berganti nama menjadi kerajaan Kahuripan. Nagakumala senang
melihat dua orang keponakan perempuan yang cantik-cantik itu. Maka, dia lalu
mengambil Lasmini dan Mandari menjadi muridnya. Biarpun dua orang gadis ini
sudah mendapat pelajaran aji kanuragaan dari ibu mereka yang juga sakti, namun
mereka gembira sekali mendapat gemblengan dari uwa mereka yang lebih sakti
daripada ibu mereka. Mereka lalu dengan senang hati mengikuti Ki Nagakumala ke
puncak Bukit Junggringslaka untuk memperdalam ilmu-ilmu yang amat dahsyat.
Bukan hanya ilmu pencak silat, aji kanuragan, juga ilmu-ilmu sihir!
Pada hari itu, Ki Nagakumala duduk
di luar pondoknya di puncak Bukit Junggringslaka. Sinar matahari pagi yang
hangat terasa nyaman sekali di badan yang diselimuti hawa dingin puncak itu.
Kabut pagi mulai terusir perlahan-lahan oleh sinar matahari pagi. Kakek
Nagakumala duduk bersila di atas sebuah dipan bambu yang berada di luar pondok.
Tubuhnya masih tampak gagah walaupun usianya sudah mendekati enam puluh tahun.
Wajahnya juga gagah seperti Gatutkaca dengan kumis sekepal sebelah yang sudah
mulai berwarna dua. Ki Nagakumala memang tampan gagah, pantas menjadi kakak
Ratu Durgamala yang terkenal cantik jelita. Sungguh mengherankan sekali mengapa
pria segagah dan setampan ini mau menjadi suami seorang wanita raksasa yang
bertubuh tinggi besar, berperut gendut, wajahnya mengerikan karena bertaring,
seperti Ratu Mayang Gupita, ratu Kerajaan Siluman itu. Ini pula menunjukkan
betapa besar kebencian dalam hati Ki Nagakumala terhadap Mataram atau keturunan
Mataram. Dia rela mengorbankan diri, memperisteri Ratu Mayang Gupita yang buruk
rupa dan mengerikan itu, hanya untuk dapat menambah kesaktiannya agar kelak dia
dapat menghancurkan Kahuripan atau keturunan Mataram! Dan kini, untuk
memperkuat diri, dia menurunkan semua aji kesaktiannya kepada dua orang
keponakan yang telah menjadi muridnya agar kelak dua orang gadis itu dapat
membantunya melawan Erlangga yang menjadi raja Kahuripan sekarang. Ki
Nagakumala duduk seorang diri termenung. Kemudian seperti teringat akan
sesuatu, tiba-tiba dia menoleh ke arah pondok dan berseru, suaranya nyaring
seperti suara Sang Gatotkaca.
"Murid-muridku cah ayu
thinik-thinik, Nini Lasmini dan Nini Mandari, di manakah kalian? Tinggalkan
dulu kesibukan kalian, aku mau bicara dengan kalian!"
Tak lama kemudian, tampak dua
bayangan berkelebat dan dari pintu pondok muncullah dua orang gadis. Gerakan
mereka demikian cepat dan ringan seperti melayang saja sehingga yang tampak
hanya bayangan merah dan bayangan kuning. Setelah bayangan itu berhenti di
depan Ki Nagakumala, tampaklah bahwa mereka adalah seorang gadis berpakaian
serba merah muda dan yang seorang berpakaian serba kuning. Pakaian mereka dari
sutera halus dan begitu serasi di tubuh mereka sehingga mereka tampak seperti
dewi-dewi saja. Pakaian itu bersih, membungkus tubuh yang indah menggairahkan,
serba sempurna lekuk lengkungnya, dada dan pinggulnya membusung sehingga
pinggang mereka yang memakai sabuk berlapis emas itu tampak ramping bukan main,
pinggang yang disebut nawon kemit
(pinggangnya seperti lebah kemit)! Kaki yang tampak dari betis ke bawah itu
berkulit kuning putih mulus dan bentuknya memadi bunting, dan bagian atas tumitnya mencekung. Tanda-tanda
kewanitaan pilihan! Yang berpakaian merah muda adalah Lasmini, berusia dua
puluh tiga tahun. Yang pertama menarik dari gadis ini adalah rambutnya. Rambut
itu panjang sampai ke pinggul, hitam sekali dan bergelombang, indah
menggairahkan, dengan sinom (anak rambut) halus lembut bergantungan di atas
dahi dan di pelipis. Wajahnya bulat telur dengan dagu meruncing, manis sekali.
Semua bagian wajahnya amatlah cantiknya, terutama sekali mata dan bibirnya,
amat menggairahkan, seperti menantang dan menjanjikan kenikmatan dan kemesraan
yang memabokkan, apalagi ditambah pemanis di pipi kiri dengan adanya sebintik
tahi lalat hitam. Sungguh merupakan seorang wanita yang sudah masak, bagaikan
setangkai bunga sedang mekar-mekarnya. Dan hebatnya, wanita yang masih perawan
berusia dua puluh tiga tahun ini tiada ubahnya seorang dara berusia delapan
belas tahun saja! Adapun gadis yang berpakaian serba kuning bernama Mandari,
berusia dua puluh satu tahun. Ia adalah adik Lasmini. Berbeda bentuk wajahnya
dengan mbakayunya, Mandari berwajah agak bulat dengan mata yang lebar
bersinar-sinar, hidungnya mancung dan mulutnya juga amat indah dengan bibir
yang selalu merekah dan merah basah. Seperti juga mbakayunya, kulit gadis ini
kekuningan, putih mulus dan kedua pipinya yang putih halus itu agak kemerahan
tanpa gincu, tanda bahwa tubuh yang muda itu sehat segar. Seperti juga Lasmini,
Mandari yang berusia dua puluh satu tahun itu kelihatannya seperti baru berusia
tujuh belas tahun saja.
Sukar untuk menilai siapa yang lebih
menarik di antara kedua orang gadis kakak beradik ini. Keduanya memiliki
kecantikan yang berbeda, namun sama sama menarik dan menggairahkan. Pakaian
mereka juga indah, dengan perhiasan-perhiasan dari emas dan batu permata. Kedua
orang gadis itu lalu duduk di atas bangku-bangku berhadapan dengan Ki
Nagakumala.
"Uwa, ada keperluan apakah
gerangan maka uwa memanggil kami dengan teriakan nyaring?" tanya Lasmini,
senyumnya tak pernah meninggalkan bibirnya yang semringah.
No comments:
Post a Comment