Bagian 14


"Pangeran Hendratama adalah kakak ipar dari Sang Prabu Erlangga. Ketika Sang Prabu Erlangga yang menikah dengan adiknya, menggantikan kedudukan Sang Prabu Dharmawangsa yang menjadi ayah kandung Pangeran Hendratama, dia merasa sakit hati karena dia merasa bahwa semestinya dia yang berhak melanjutkan kedudukan sebagai raja. Akan tetapi karena ibunya dari kasta yang rendah, maka dia kehilangan kedudukan itu. Dalam keadaan marah dan dendam dia meninggalkan kota raja. Akan tetapi, Pangeran Hendratama masih mempunyai pengaruh yang besar sekali, dan diapun berhasil membawa lari dari kota raja sejumlah besar harta kekayaan. Dia bercita-cita untuk pada suatu hari dapat menjadi raja dan untuk cita-cita itu dia bahkan mengadakan hubungan dengan kerajaan-kerajaan yang pada waktu ini sedang memusuhi Sang Prabu Erlangga.
"Hernm, jadi dia merencana kan pemberontakan?"
"Begitulah, akan tetapi tentu saja untuk bergerak sendiri dia tidak akan berani karena tidak mempunyai cukup pasukan yang kuat."
"Dan engkau tadi mengatakan bahwa kalian bertiga menjadi selirnya dan setia kepadanya karena terpaksa sekali. Apa yang memaksamu, nimas?"
"Ayah ibuku hanya mempunyai aku sebagai anak tunggal. Ayahku dahulu menjadi perwira dalam pasukan mendiang Prabu Teguh Dharmawangsa yang setia kepada Pangeran Hendratama dan sampai sekarang masih menjadi pembantunya.. juga ayah mbakyu Sukarti dan ayah mbakayu Kenangasari, mereka adalah perajurit-perajurit yang setia kepada Pangeran Hendratama. Karena itu, ketika Pangeran Hendratama mengambil kami bertiga sebagai selir-selirnya yang terpercaya, para orang tua kami tidak berani menolaknya. Bahkan mereka berpengharapan apabila kelak sang pangeran menjadi raja, tentu kami dan orang tua kami akan naik derajat dan mendapatkan kemuliaan."
"Hemm," kata Nurseta dengan hati merasa penasaran,
"berarti engkau telah dijual, nimas! Dan engkau merasa berbahagia menjadi selir pangeran itu dan karena itu setia kepadanya sampai mati?"
"Sama sekali tidak begitu, kakangmas. Di dasar hatiku aku merasa sedih dan menyesal sekali, akan tetapi kami tidak berdaya, kakangmas. Kami tahu bahwa kalau kami menolak, bahkan kalau kami sampai tidak setia, misalnya sekarang ini kalau sampai aku menceritakan kepadamu di mana engkau dapat menemukan dia, akibatnya dapat merupakan malapetaka bagi keluargaku. Orang tuaku tentu akan menerima hukuman, mungkin kematian. Inilah yang membuat kami bertiga tidak berdaya dan harus setia dan mematuhi segala perintah pangeran."
"Ah, betapa kejamnya pangeran itu!" kata Nurseta sambil mengepal tangannya dengan hati geram.
"Bagaimanapun juga, sikapnya terhadap kami bertiga baik sekali, kakangmas. Kami diberi kebebasan, agaknya karena dia percaya bahwa kami tidak mungkin berani mengkhianatinya setelah orang tua kami berada dalam cengkeramannya, Bahkan dia memperlihatkan kasih sayang kepada kami, memanjakan kami, juga dia melatih kami dengan aji kanuragan sehingga kami kini menjadi pengawal-pengawal pribadinya yang dapat diandalkan dan setia."
"Hemm, karena sikapnya yang baik itu, maka kalian bertiga amat mencintanya."
"Bagiku sama sekali tidak, kakangmas. Mungkin mbakayu Sukarti dan mbakayu Kenangasari benar-benar mencintanya sehingga mereka suka bersaing memperebutkan perhatian sang pangeran. Akan tetapi, aku tahu bahwa kebaikan sang pangeran itu hanya sebagai lapisan luar saja, karena itu biarpun pada lahirnya aku terpaksa tunduk dan taat kepadanya, di dalam hati aku merana, bahkan diam diam membencinya! Akan tetapi...... betapapun kagumku kepadamu..... sehingga mau rasanya aku melakukan apa pun juga untukmu..... akan tetapi untuk mengaku di mana dia berada, aku tidak berani, kakangmas..... aku takut kalau-kalau orang tuaku dibunuhnya....." Gadis itu kini menangis terisak-isak. Semua kesedihan yang selama ini ditekan dan disembunyikannya, membanjir keluar menjadi tangis mengguguk.

Melihat gadis itu menangis tersedu-sedu demikian sedihnya Nurseta merasa iba sekali dan dia tidak tahan untuk tidak mencoba untuk menghiburnya. Dia mendekat dan dipegangnya kedua pundak gadis itu yang berguncang-guncang.
"Kasihan sekali engkau, Nimas Widarti .....!" katanya halus.
Merasakan kedua pundaknya disentuh lembut dan mendengar kata-kata itu, Widarti mendesah panjang dan menubruk, merangkul dan merapatkan mukanya di dada pemuda itu sambil menangis sesenggukan. Nurseta merasa kaget dan juga bingung, salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa, akan tetapi karena dia terbawa kesedihan gadis itu, diapun bermaksud menghibur dengan mengelus rambut yang halus, hitam dan berbau kembang melati itu. Sejenak ada perasaan haru yang lembut sekali, perasaan mesra dan dekat sekali dengan gadis itu. Akan tetapi dia segera menyadari bahwa keadaan seperti ini kalau dibiarkan dapat membahayakan karena rasa haru yang mendalam itu dapat saja menyeretnya kepada gairah berahi. Dia lalu dengan lembut mendorong gadis itu merenggang dan membantunya duduk dengan tegak di atas batu. Widarti masih menangis dan menutupi muka dengan kedua tangannya.
"Aku merasa iba sekali kepadamu yang bernasib malang, Nimas Widarti. Percayalah, kalau aku dapat bertemu dengan Pangeran Hendratama, aku akan menegurnya dan akan kuminta agar dia suka melepaskan cengkeramannya kepada engkau dan keluargamu!"
"Tidak mungkin! Jangan lakukan itu, kakangmas, bukan dia yang mencengkeram, melainkan ayahku sendiri yang sangat setia kepadanya. Mereka semua setia kepadanya, termasuk kedua orang maduku itu karena mereka mengharapkan agar sang pangeran kelak menjadi raja dan merekapun akan mendapatkan kedudukan tinggi dan kemuliaan."

Nurseta menghela napas panjang. Kalau demikian halnya, keadaan gadis ini sungguh serba salah. Keadaan orang tuanya berlawanan dengan keinginan hatinya.
"Ah, nimas. Kalau begitu, apa yang dapat kulakukan untukmu?"
"Kakangmas Nurseta, kalau engkau dapat membebaskan aku dari sang pangeran, tanpa membahayakan ayah ibuku, aku..... aku mau menjadi apapun juga. Aku mau menjadi hambamu, mencucikan pakaianmu, memasakkan makananmu, apa saja yang kaukehendaki dariku, akan kulakukan dengan senang hati." Gadis itu kembali menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Nurseta.
Nurseta menarik napas panjang dan dengan kedua tangannya dia memegang kedua pundak Widarti dan mengangkatnya bangkit berdiri.
"Nimas, kalau keadaanmu ini memang sudah dikehendaki oleh orang tuamu, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Engkau sendirilah yang dapat menentukan, apakah engkau akan tetap menjadi selir dan pembantu Raden Hendratama ataukah engkau akan meninggalkannya. Aku tidak ingin mencampuri urusan pribadi kalian, juga aku tidak mengharapkan apa-apa darimu. Apakah engkau tetap tidak ingin menceritakan kepadaku di mana kiranya aku dapat menemukan Raden Hendratama? Aku ingin minta kembalinya kerisku."
Widarti menggelengkan kepalanya dengan sedih.
"Aku tidak berani mengatakannya, Kakangmas Nurseta."
"Kalau begitu, sudahlah. Aku akan mencarinya sendiri. Selamat tinggal, Nimas Widarti. Kembalilah engkau kepada dua orang madumu itu. Mereka akan pulih sendiri beberapa saat kemudian." Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Nurseta sudah lenyap dari depan Widarti.
"Kakangmas Nurseta .....!!" Gadis itu memanggil dengan suara melengking.

Akan tetapi Nurseta telah lenyap dan gadis itu mengepal tangan kanannya menggigit bibirnya, merasa kecewa dan menyesal bukan main. Ia tadi bicara sesungguhnya kepada Nurseta. Berbeda dengan dua orang madunya, ia tidak menginginkan kedudukan tinggi di samping Raden Hendratama. Ia tahu bahwa cinta suaminya itu kepadanya hanyalah cinta birahi belaka, karena ia muda dan cantik seperti dua orang madunya. Pada hakekatnya, mereka bertiga hanya dijadikan pemuas nafsu pangeran itu, di samping menjadi pengawal pribadi. Pangeran itu memang tampak sayang kepada mereka, namun sayangnya itu seperti menyayangi benda yang indah dan dapat dipergunakan demi kesenangan dan kepentingan pribadi. Buktinya, dia tidak segan-segan menawarkan mereka bertiga kepada laki-laki lain sebagai umpan demi keuntungan dirinya sendiri. Hatinya terasa sakit sekali, akan tetapi apa dayanya? Orang tuanya menghendaki demikian. Benar juga apa yang dikatakan Kakangmas Nurseta, demikian bisik hatinya. Kalau orang tuanya menghendaki demikian, iapun tidak dapat berbuat apa apa tanpa membahayakan kehidupan orang tuanya. Dengan tangan kirinya Widarti mengusap dua butir air mata yang masih tersisa, mengusir bayangan wajah Nurseta yang tadinya diharapkan untuk dapat mengubah keadaan hidupnya. Kemudian dengan langkah gontai ia kembali ke tempat Nurseta meninggalkan Sukarti dan Kenangasari. Ternyata benar seperti yang dikatakan Nurseta, ketika Widarti tiba di situ, ia melihat Sukarti dan Kenangasari sudah bangkit duduk dan mereka berdua duduk bersila melatih pernapasan untuk memulihkan tenaga mereka yang tadi terasa meninggalkan tubuh mereka.

Melihat Widarti datang, keduanya bangkit berdiri dan ternyata tenaga mereka telah pulih kembali.
"Widarti, engkau membocorkan rahasia Pangeran? Engkau mengkhianatinya?" tanya Sukarti sambil menatap wajah madunya dengan penuh selidik.
"Engkau diapakan olehnya, Widarti?" tanya Kenangasari sambil memandang dengan senyum mengejek.
"Aku sama sekali tidak mengkhianati pangeran, Mbakayu Sukarti. Dan akupun tidak diapa-apakan oleh Kakangmas Nurseta, Mbakayu Kenangasari." bantah Widarti.
"Ihh, siapa mau percaya? Dia telah memondongmu pergi, mau apa lagi kalau tidak begitu7 Engkau pasti sudah dianu, setidaknya satu kali!" ejek Kenangasari yang centil.
Merah wajah Widarti, ia marah bukan karena dirinya sendiri, melainkan marah karena merasa betapa Nurseta yang demikian baik dan bersih, seorang ksatria sejati, disamakan dengan laki-laki kebanyakan yang hidung belang dan mata keranjang!
"Mbakayu Kenangasari! Kakangmas Nurseta bukanlah seorang laki-laki macam itu!" teriaknya penasaran dan marah.
"Nah-nah, engkau membelanya mati-matian. Sudah jatuh cinta rupanya!" Kenangasari menggoda dengan hati curiga dan juga iri karena ia sendiri harus mengakui bahwa seorang pemuda yang demikian sakti mandraguna sungguh merupakan pria yang menggairahkan hatinya.
"Mbakayu Kenangasari! Engkau menuduh yang bukan-bukan!" kembali Widarti berteriak untuk menyembunyikan perasaan hatinya yang terguncang karena dugaan Kenangasari itu memang tepat. Ia memang telah jatuh cinta kepada Nurseta.
"Sudahlah, jangan ribut!" Sukarti melerai dan mencela.
"Sekarang ceritakanlah apa maunya membawamu pergi dari sini tadi."
"Dia memang membujukku agar memberi tahu di mana Pangeran Hendratama berada, akan tetapi tentu saja aku tidak mau memberitahukannya. Akhirnya dia pergi meninggalkan aku dan aku lalu cepat kembali ke sini. Hanya itulah yang terjadi dan jangan menuduh yang bukan bukan! Bagaimanapun juga, aku harus mengakui bahwa Kakangmas Nurseta itu seorang laki-laki yang bijaksana dan sopan, sama sekali tidak menggangguku!"
"Sudahlah, mari kita susul Pangeran dan melapor kepadanya agar dia berhati-hati, jangan sampai dapat ditemukan pemuda yang sakti mandraguna itu." kata Sukarti dan tiga orang wanita ayu itu segera meninggalkan tempat itu.

Kita tinggalkan dulu Nurseta yang kehilangan keris pusaka Megatantra, dan mari kita menjenguk keadaan Kerajaan Kahuripan yang dipimpin oleh Sang Prabu Erlangga yang terkenal arif bijaksana. Pada suatu pagi, bukan hari persidangan menghadap raja, Sang Prabu Erlangga mengutus seorang perajurit pengawal dalam istana untuk pergi memanggil Ki Patih Narotama agar datang menghadap dengan segera. Ki Patih Narotama yang sedang duduk seorang diri di gedung kepatihan tidak merasa heran menerima panggilan mendadak bukan pada hari paseban (menghadap raja) ini karena antara Sang Prabu Erlangga dan dia memiliki hubungan yang amat dekat. Bukan sekadar hubungan antara raja dan patihnya, melainkan lebih dari itu. Sebagai sahabat, juga sebagai saudara seperguruan yang memiliki ikatan batin yang jauh lebih dekat daripada saudara sekandung. Karena itu, diapun segera membereskan pakaian lalu cepat pergi ke istana raja dan langsung memasuki ruangan pustaka di mana Sang Prabu Erlangga biasanya bicara berdua dengannya. Tepat seperti diduganya, ketika dia memasuki ruangan tertutup itu, dia melihat Sang Prabu Erlangga sudah duduk menantinya di atas sebuah kursi berukir indah. Ki Patih Narotama cepat maju berlutut dan memberi hormat dengan sembah.
"Ah, apa andika lupa akan kebiasaan kita, Kakang Narotama? Dalam pertemuan resmi, aku memang gustimu Sang Prabu Erlangga dan engkau pembantuku, Kakang Patih Narotama. Akan tetapi, dalam pertemuan tidak resmi, engkau adalah Kakang Narotama sahabat karibku dan aku bagimu adalah Adi Erlangga. Bangkit dan duduklah. Bicara begini tidak enak dan tidak leluasa." kata Sang Prabu Erlangga yang usianya sekitar dua puluh lima tahun dan tampak tampan, berkulit kuning bersih, berwajah cerah dan matanya bersinar tajam mencorong penuh wibawa.
Narotama menyembah lagi, lalu bangkit berdiri dan duduk di atas kursi di depan junjungannya.
"Terima kasih dan ampunkan kelancanganku, gusti....."
"Lha! Andika mulai lagi. Bersikaplah biasa, kakang, agar kita dapat bicara dengan santai dan enak."
"Baiklah, Yayi Prabu. Perintah apakah gerangan yang hendak paduka berikan kepada hamba. Hamba siap melaksanakan semua perintah paduka dengan taruhan nyawa hamba."

Prabu Erlangga tertawa. Suara tawanya renyah dan sedap didengar. Dalam persidangan resmi, tentu saja dia tidak akan tertawa sebebas itu. Akan tetapi, bicara dengan Narotama dia merasa seperti bicara dengan keluarga sendiri.
"Ha-ha-ha, Kakang Narotama! Tidak perlu andika berjanji lagi karena aku sudah yakin sepenuhnya akan kesetiaanmu kepadaku. Untuk itu, aku tiada hentinya berterima kasih dalam hatiku kepadamu. Kakang Narotama, pernahkah andika mendengar akan nama Ki Nagakumala yang bertapa di Bukit Junggringslaka di pantai Laut Kidul?"
Narotama mengangguk-angguk.
"Ki Nagakumala yang mengundurkan diri ke Bukit Junggringslaka itu adalah kakak dari Ratu Durgamala dari Kerajaan Parang Siluman. Dia itukah yang paduka maksudkan?"
"Benar sekali, kakang. Ki Nagakumala adalah kakak Ratu Kerajaan Parang Siluman dan dia juga bekas suami Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman yang berada di sebelah timur Kerajaan Parang Siluman, dekat perbatasan Blambangan."
"Ada apakah dengan Ki Nagakumala, Yayi Prabu? Tampaknya dia kini tidak membuat gerakan apa-apa untuk menentang kita, tidak membantu Parang Siluman, juga tidak membantu Kerajaan Siluman dekat Blambangan."
"Begini, kakang. Kalau saja kita dapat mengulurkan tangan persaudaraan dengan Ki Nagakumala, maka melalui dia kiranya akan mudah membujuk Kerajaan Siluman dan juga Kerajaan Parang Siluman untuk berdamai sehingga berkuranglah daerah yang memusuhi kita."

<<<Bagian 13                                                                                          Bagian 15 >>>

No comments:

Post a Comment