"Pangeran Hendratama adalah kakak ipar dari Sang Prabu Erlangga. Ketika Sang Prabu Erlangga yang menikah dengan adiknya, menggantikan kedudukan Sang Prabu Dharmawangsa yang menjadi ayah kandung Pangeran Hendratama, dia merasa sakit hati karena dia merasa bahwa semestinya dia yang berhak melanjutkan kedudukan sebagai raja. Akan tetapi karena ibunya dari kasta yang rendah, maka dia kehilangan kedudukan itu. Dalam keadaan marah dan dendam dia meninggalkan kota raja. Akan tetapi, Pangeran Hendratama masih mempunyai pengaruh yang besar sekali, dan diapun berhasil membawa lari dari kota raja sejumlah besar harta kekayaan. Dia bercita-cita untuk pada suatu hari dapat menjadi raja dan untuk cita-cita itu dia bahkan mengadakan hubungan dengan kerajaan-kerajaan yang pada waktu ini sedang memusuhi Sang Prabu Erlangga.
"Hernm, jadi dia merencana kan
pemberontakan?"
"Begitulah, akan tetapi tentu
saja untuk bergerak sendiri dia tidak akan berani karena tidak mempunyai cukup
pasukan yang kuat."
"Dan engkau tadi mengatakan
bahwa kalian bertiga menjadi selirnya dan setia kepadanya karena terpaksa
sekali. Apa yang memaksamu, nimas?"
"Ayah ibuku hanya mempunyai aku
sebagai anak tunggal. Ayahku dahulu menjadi perwira dalam pasukan mendiang
Prabu Teguh Dharmawangsa yang setia kepada Pangeran Hendratama dan sampai
sekarang masih menjadi pembantunya.. juga ayah mbakyu Sukarti dan ayah mbakayu
Kenangasari, mereka adalah perajurit-perajurit yang setia kepada Pangeran
Hendratama. Karena itu, ketika Pangeran Hendratama mengambil kami bertiga
sebagai selir-selirnya yang terpercaya, para orang tua kami tidak berani
menolaknya. Bahkan mereka berpengharapan apabila kelak sang pangeran menjadi
raja, tentu kami dan orang tua kami akan naik derajat dan mendapatkan
kemuliaan."
"Hemm," kata Nurseta
dengan hati merasa penasaran,
"berarti engkau telah dijual,
nimas! Dan engkau merasa berbahagia menjadi selir pangeran itu dan karena itu
setia kepadanya sampai mati?"
"Sama sekali tidak begitu,
kakangmas. Di dasar hatiku aku merasa sedih dan menyesal sekali, akan tetapi
kami tidak berdaya, kakangmas. Kami tahu bahwa kalau kami menolak, bahkan kalau
kami sampai tidak setia, misalnya sekarang ini kalau sampai aku menceritakan
kepadamu di mana engkau dapat menemukan dia, akibatnya dapat merupakan
malapetaka bagi keluargaku. Orang tuaku tentu akan menerima hukuman, mungkin
kematian. Inilah yang membuat kami bertiga tidak berdaya dan harus setia dan
mematuhi segala perintah pangeran."
"Ah, betapa kejamnya pangeran
itu!" kata Nurseta sambil mengepal tangannya dengan hati geram.
"Bagaimanapun juga, sikapnya
terhadap kami bertiga baik sekali, kakangmas. Kami diberi kebebasan, agaknya
karena dia percaya bahwa kami tidak mungkin berani mengkhianatinya setelah
orang tua kami berada dalam cengkeramannya, Bahkan dia memperlihatkan kasih
sayang kepada kami, memanjakan kami, juga dia melatih kami dengan aji kanuragan
sehingga kami kini menjadi pengawal-pengawal pribadinya yang dapat diandalkan
dan setia."
"Hemm, karena sikapnya yang
baik itu, maka kalian bertiga amat mencintanya."
"Bagiku sama sekali tidak,
kakangmas. Mungkin mbakayu Sukarti dan mbakayu Kenangasari benar-benar
mencintanya sehingga mereka suka bersaing memperebutkan perhatian sang
pangeran. Akan tetapi, aku tahu bahwa kebaikan sang pangeran itu hanya sebagai
lapisan luar saja, karena itu biarpun pada lahirnya aku terpaksa tunduk dan
taat kepadanya, di dalam hati aku merana, bahkan diam diam membencinya! Akan
tetapi...... betapapun kagumku kepadamu..... sehingga mau rasanya aku melakukan
apa pun juga untukmu..... akan tetapi untuk mengaku di mana dia berada, aku
tidak berani, kakangmas..... aku takut kalau-kalau orang tuaku
dibunuhnya....." Gadis itu kini menangis terisak-isak. Semua kesedihan
yang selama ini ditekan dan disembunyikannya, membanjir keluar menjadi tangis
mengguguk.
Melihat gadis itu menangis
tersedu-sedu demikian sedihnya Nurseta merasa iba sekali dan dia tidak tahan
untuk tidak mencoba untuk menghiburnya. Dia mendekat dan dipegangnya kedua
pundak gadis itu yang berguncang-guncang.
"Kasihan sekali engkau, Nimas
Widarti .....!" katanya halus.
Merasakan kedua pundaknya disentuh
lembut dan mendengar kata-kata itu, Widarti mendesah panjang dan menubruk,
merangkul dan merapatkan mukanya di dada pemuda itu sambil menangis
sesenggukan. Nurseta merasa kaget dan juga bingung, salah tingkah dan tidak
tahu harus berbuat apa, akan tetapi karena dia terbawa kesedihan gadis itu,
diapun bermaksud menghibur dengan mengelus rambut yang halus, hitam dan berbau
kembang melati itu. Sejenak ada perasaan haru yang lembut sekali, perasaan
mesra dan dekat sekali dengan gadis itu. Akan tetapi dia segera menyadari bahwa
keadaan seperti ini kalau dibiarkan dapat membahayakan karena rasa haru yang
mendalam itu dapat saja menyeretnya kepada gairah berahi. Dia lalu dengan
lembut mendorong gadis itu merenggang dan membantunya duduk dengan tegak di
atas batu. Widarti masih menangis dan menutupi muka dengan kedua tangannya.
"Aku merasa iba sekali kepadamu
yang bernasib malang, Nimas Widarti. Percayalah, kalau aku dapat bertemu dengan
Pangeran Hendratama, aku akan menegurnya dan akan kuminta agar dia suka
melepaskan cengkeramannya kepada engkau dan keluargamu!"
"Tidak mungkin! Jangan lakukan
itu, kakangmas, bukan dia yang mencengkeram, melainkan ayahku sendiri yang
sangat setia kepadanya. Mereka semua setia kepadanya, termasuk kedua orang
maduku itu karena mereka mengharapkan agar sang pangeran kelak menjadi raja dan
merekapun akan mendapatkan kedudukan tinggi dan kemuliaan."
Nurseta menghela napas panjang.
Kalau demikian halnya, keadaan gadis ini sungguh serba salah. Keadaan orang
tuanya berlawanan dengan keinginan hatinya.
"Ah, nimas. Kalau begitu, apa
yang dapat kulakukan untukmu?"
"Kakangmas Nurseta, kalau
engkau dapat membebaskan aku dari sang pangeran, tanpa membahayakan ayah ibuku,
aku..... aku mau menjadi apapun juga. Aku mau menjadi hambamu, mencucikan
pakaianmu, memasakkan makananmu, apa saja yang kaukehendaki dariku, akan
kulakukan dengan senang hati." Gadis itu kembali menjatuhkan diri berlutut
di depan kaki Nurseta.
Nurseta menarik napas panjang dan
dengan kedua tangannya dia memegang kedua pundak Widarti dan mengangkatnya
bangkit berdiri.
"Nimas, kalau keadaanmu ini
memang sudah dikehendaki oleh orang tuamu, aku tidak dapat berbuat apa-apa.
Engkau sendirilah yang dapat menentukan, apakah engkau akan tetap menjadi selir
dan pembantu Raden Hendratama ataukah engkau akan meninggalkannya. Aku tidak
ingin mencampuri urusan pribadi kalian, juga aku tidak mengharapkan apa-apa
darimu. Apakah engkau tetap tidak ingin menceritakan kepadaku di mana kiranya
aku dapat menemukan Raden Hendratama? Aku ingin minta kembalinya kerisku."
Widarti menggelengkan kepalanya dengan
sedih.
"Aku tidak berani
mengatakannya, Kakangmas Nurseta."
"Kalau begitu, sudahlah. Aku
akan mencarinya sendiri. Selamat tinggal, Nimas Widarti. Kembalilah engkau
kepada dua orang madumu itu. Mereka akan pulih sendiri beberapa saat
kemudian." Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Nurseta sudah
lenyap dari depan Widarti.
"Kakangmas Nurseta
.....!!" Gadis itu memanggil dengan suara melengking.
Akan tetapi Nurseta telah lenyap dan
gadis itu mengepal tangan kanannya menggigit bibirnya, merasa kecewa dan
menyesal bukan main. Ia tadi bicara sesungguhnya kepada Nurseta. Berbeda dengan
dua orang madunya, ia tidak menginginkan kedudukan tinggi di samping Raden
Hendratama. Ia tahu bahwa cinta suaminya itu kepadanya hanyalah cinta birahi
belaka, karena ia muda dan cantik seperti dua orang madunya. Pada hakekatnya,
mereka bertiga hanya dijadikan pemuas nafsu pangeran itu, di samping menjadi
pengawal pribadi. Pangeran itu memang tampak sayang kepada mereka, namun
sayangnya itu seperti menyayangi benda yang indah dan dapat dipergunakan demi
kesenangan dan kepentingan pribadi. Buktinya, dia tidak segan-segan menawarkan
mereka bertiga kepada laki-laki lain sebagai umpan demi keuntungan dirinya
sendiri. Hatinya terasa sakit sekali, akan tetapi apa dayanya? Orang tuanya
menghendaki demikian. Benar juga apa yang dikatakan Kakangmas Nurseta, demikian
bisik hatinya. Kalau orang tuanya menghendaki demikian, iapun tidak dapat
berbuat apa apa tanpa membahayakan kehidupan orang tuanya. Dengan tangan
kirinya Widarti mengusap dua butir air mata yang masih tersisa, mengusir
bayangan wajah Nurseta yang tadinya diharapkan untuk dapat mengubah keadaan
hidupnya. Kemudian dengan langkah gontai ia kembali ke tempat Nurseta
meninggalkan Sukarti dan Kenangasari. Ternyata benar seperti yang dikatakan
Nurseta, ketika Widarti tiba di situ, ia melihat Sukarti dan Kenangasari sudah
bangkit duduk dan mereka berdua duduk bersila melatih pernapasan untuk
memulihkan tenaga mereka yang tadi terasa meninggalkan tubuh mereka.
Melihat Widarti datang, keduanya
bangkit berdiri dan ternyata tenaga mereka telah pulih kembali.
"Widarti, engkau membocorkan
rahasia Pangeran? Engkau mengkhianatinya?" tanya Sukarti sambil menatap
wajah madunya dengan penuh selidik.
"Engkau diapakan olehnya,
Widarti?" tanya Kenangasari sambil memandang dengan senyum mengejek.
"Aku sama sekali tidak
mengkhianati pangeran, Mbakayu Sukarti. Dan akupun tidak diapa-apakan oleh
Kakangmas Nurseta, Mbakayu Kenangasari." bantah Widarti.
"Ihh, siapa mau percaya? Dia
telah memondongmu pergi, mau apa lagi kalau tidak begitu7 Engkau pasti sudah
dianu, setidaknya satu kali!" ejek Kenangasari yang centil.
Merah wajah Widarti, ia marah bukan
karena dirinya sendiri, melainkan marah karena merasa betapa Nurseta yang
demikian baik dan bersih, seorang ksatria sejati, disamakan dengan laki-laki
kebanyakan yang hidung belang dan mata keranjang!
"Mbakayu Kenangasari! Kakangmas
Nurseta bukanlah seorang laki-laki macam itu!" teriaknya penasaran dan
marah.
"Nah-nah, engkau membelanya
mati-matian. Sudah jatuh cinta rupanya!" Kenangasari menggoda dengan hati
curiga dan juga iri karena ia sendiri harus mengakui bahwa seorang pemuda yang
demikian sakti mandraguna sungguh merupakan pria yang menggairahkan hatinya.
"Mbakayu Kenangasari! Engkau
menuduh yang bukan-bukan!" kembali Widarti berteriak untuk menyembunyikan
perasaan hatinya yang terguncang karena dugaan Kenangasari itu memang tepat. Ia
memang telah jatuh cinta kepada Nurseta.
"Sudahlah, jangan ribut!"
Sukarti melerai dan mencela.
"Sekarang ceritakanlah apa
maunya membawamu pergi dari sini tadi."
"Dia memang membujukku agar
memberi tahu di mana Pangeran Hendratama berada, akan tetapi tentu saja aku
tidak mau memberitahukannya. Akhirnya dia pergi meninggalkan aku dan aku lalu
cepat kembali ke sini. Hanya itulah yang terjadi dan jangan menuduh yang bukan
bukan! Bagaimanapun juga, aku harus mengakui bahwa Kakangmas Nurseta itu
seorang laki-laki yang bijaksana dan sopan, sama sekali tidak
menggangguku!"
"Sudahlah, mari kita susul
Pangeran dan melapor kepadanya agar dia berhati-hati, jangan sampai dapat
ditemukan pemuda yang sakti mandraguna itu." kata Sukarti dan tiga orang
wanita ayu itu segera meninggalkan tempat itu.
Kita tinggalkan dulu Nurseta yang
kehilangan keris pusaka Megatantra, dan mari kita menjenguk keadaan Kerajaan
Kahuripan yang dipimpin oleh Sang Prabu Erlangga yang terkenal arif bijaksana.
Pada suatu pagi, bukan hari persidangan menghadap raja, Sang Prabu Erlangga
mengutus seorang perajurit pengawal dalam istana untuk pergi memanggil Ki Patih
Narotama agar datang menghadap dengan segera. Ki Patih Narotama yang sedang
duduk seorang diri di gedung kepatihan tidak merasa heran menerima panggilan
mendadak bukan pada hari paseban (menghadap raja) ini karena antara Sang Prabu
Erlangga dan dia memiliki hubungan yang amat dekat. Bukan sekadar hubungan
antara raja dan patihnya, melainkan lebih dari itu. Sebagai sahabat, juga
sebagai saudara seperguruan yang memiliki ikatan batin yang jauh lebih dekat
daripada saudara sekandung. Karena itu, diapun segera membereskan pakaian lalu
cepat pergi ke istana raja dan langsung memasuki ruangan pustaka di mana Sang
Prabu Erlangga biasanya bicara berdua dengannya. Tepat seperti diduganya,
ketika dia memasuki ruangan tertutup itu, dia melihat Sang Prabu Erlangga sudah
duduk menantinya di atas sebuah kursi berukir indah. Ki Patih Narotama cepat
maju berlutut dan memberi hormat dengan sembah.
"Ah, apa andika lupa akan
kebiasaan kita, Kakang Narotama? Dalam pertemuan resmi, aku memang gustimu Sang
Prabu Erlangga dan engkau pembantuku, Kakang Patih Narotama. Akan tetapi, dalam
pertemuan tidak resmi, engkau adalah Kakang Narotama sahabat karibku dan aku
bagimu adalah Adi Erlangga. Bangkit dan duduklah. Bicara begini tidak enak dan
tidak leluasa." kata Sang Prabu Erlangga yang usianya sekitar dua puluh
lima tahun dan tampak tampan, berkulit kuning bersih, berwajah cerah dan
matanya bersinar tajam mencorong penuh wibawa.
Narotama menyembah lagi, lalu
bangkit berdiri dan duduk di atas kursi di depan junjungannya.
"Terima kasih dan ampunkan
kelancanganku, gusti....."
"Lha! Andika mulai lagi.
Bersikaplah biasa, kakang, agar kita dapat bicara dengan santai dan enak."
"Baiklah, Yayi Prabu. Perintah
apakah gerangan yang hendak paduka berikan kepada hamba. Hamba siap
melaksanakan semua perintah paduka dengan taruhan nyawa hamba."
Prabu Erlangga tertawa. Suara
tawanya renyah dan sedap didengar. Dalam persidangan resmi, tentu saja dia
tidak akan tertawa sebebas itu. Akan tetapi, bicara dengan Narotama dia merasa
seperti bicara dengan keluarga sendiri.
"Ha-ha-ha, Kakang Narotama!
Tidak perlu andika berjanji lagi karena aku sudah yakin sepenuhnya akan
kesetiaanmu kepadaku. Untuk itu, aku tiada hentinya berterima kasih dalam
hatiku kepadamu. Kakang Narotama, pernahkah andika mendengar akan nama Ki
Nagakumala yang bertapa di Bukit Junggringslaka di pantai Laut Kidul?"
Narotama mengangguk-angguk.
"Ki Nagakumala yang
mengundurkan diri ke Bukit Junggringslaka itu adalah kakak dari Ratu Durgamala
dari Kerajaan Parang Siluman. Dia itukah yang paduka maksudkan?"
"Benar sekali, kakang. Ki
Nagakumala adalah kakak Ratu Kerajaan Parang Siluman dan dia juga bekas suami
Ratu Mayang Gupita dari Kerajaan Siluman yang berada di sebelah timur Kerajaan
Parang Siluman, dekat perbatasan Blambangan."
"Ada apakah dengan Ki
Nagakumala, Yayi Prabu? Tampaknya dia kini tidak membuat gerakan apa-apa untuk
menentang kita, tidak membantu Parang Siluman, juga tidak membantu Kerajaan
Siluman dekat Blambangan."
"Begini, kakang. Kalau saja
kita dapat mengulurkan tangan persaudaraan dengan Ki Nagakumala, maka melalui
dia kiranya akan mudah membujuk Kerajaan Siluman dan juga Kerajaan Parang
Siluman untuk berdamai sehingga berkuranglah daerah yang memusuhi kita."
No comments:
Post a Comment