Bagian 13



"Hemm, andaikata benar demikian, tidak sepatutnya dia menguasai keris itu dengan cara yang curang dan menipuku! Aku harus menghaturkan pusaka itu kepada Gusti Maha Prabu Erlangga. Hayo katakan di mana Pangeran Hendratama?"!

Kenangasari tersenyum. Wanita yang cerdik ini tahu bahwa pemuda perkasa itu membutuhkan keterangannya, maka tentu saja ia akan menggunakan kebutuhan pemuda itu untuk menekan.
"Nurseta, bukan begini sikap orang yang hendak minta keterangan. Bebaskan dulu aku, pulihkan tenagaku kalau andika ingin mendapatkan keterangan dariku."
Melihat gadis cantik itu mengerling genit dan tersenyum mengejek, Nurseta menghela napas panjang. Mengapa gadis muda secantik ini, begitu manis merak ati, begitu menarik menggemaskan, dapat bersikap ramah dan mesra, dapat berwatak demikian palsu? Bagaikan sebutir buah tomat yang kulitnya merah halus tanpa cacat, segar menarik menimbulkan selera, tahu-tahu di sebelah dalamnya berulat. Akan tetapi karena dia perlu mendapatkan keterangan di mana adanya Raden Hendratama agar dia dapat merampas kembali Keris Megatantra, terpaksa dia memenuhi permintaan Kenangasari. Sekali dia menepuk punggung gadis itu, Kenangasari dapat bergerak kembali dan tiba-tiba dengan tangkasnya ia melompat bangun berdiri, meraba pinggangnya dan sudah mencabut sebatang keris yang mengkilat lalu menerjang, menusukkan kerisnya ke arah perut Nurseta.
"Hyaaaahh!"
Serangan itu cepat sekali datangnya. Kalau bukan Nurseta yang diserang, serangan itu dapat mendatangkan maut. Akan tetapi Nurseta yang sama sekali tidak mengira akan diserang secara tiba-tiba dari jarak begitu dekat sehingga dia tidak sempat lagi mengelak, hanya mengangkat tangan kirinya dan menggunakan telapak tangan kirinya untuk menjadi perisai melindungi perutnya. Tentu saja dengan kesaktiannya, dia dapat membuat perutnya kebal. Akan tetapi dia tidak mau membiarkan bajunya terobek keris, maka telapak tangan kirinya yang menyambut tusukan keris itu.
"Wuutt ..... takkk!" Kenangasari terkejut bukan main.

Pemuda itu menyambut tusukan kerisnya dengan telapak tangan dan ia merasa betapa kerisnya seolah bertemu dengan dinding baja yang teramat kuat sehingga senjata itu terpental dan ia merasa tangannya tergetar hebat.
"Auuuww .....!" Ia menjerit dan melempar tubuh ke belakang lalu berjungkir balik lima kali menjauhkan diri. Kalau gadis itu merasa terkejut dan kagum sekali melihat kesaktian Nurseta, sebaliknya pemuda itu juga kagum menyaksikan gerakan yang amat lincah dan tangkas dari Kenangasari.
"Syuuuttt ..... syuuuuttt .....!" Suara berdesir ini membawa luncuran benda benda hitam yang mengarah leher, dada, dan pusar Nurseta. Ada empat batang anak panah menyambar dengan cepat sekali. Nurseta bergerak, menggeser kaki sehingga tubuhnya condong ke kiri dan kedua tangannya diputar ke kanan, memukul runtuh empat batang anak panah itu. Dari arah depan berlompatan dua bayangan orang dan ternyata yang muncul adalah Sukarti dan Widarti Dua orang gadis ini memegang sebuah gendewa dan tanpa banyak cakap lagi keduanya lalu menyerang Nurseta dengan gendewa (busur) mereka. Gerakan mereka juga lincah dan kuat seperti gerakan Kenangasari. Melihat kedua orang kawannya telah muncul dan membantunya, Kenangasari merasa girang sekali. Ia sama sekali tidak menyangka, bahkan bekas pangeran dan juga semua selirnya tidak pernah mengira bahwa Nurseta ternyata seorang yang sakti mandraguna!
"Hati-hati, dia tangguh sekali!" Kenangasari berseru memperingatkan kedua orang kawannya dan iapun sudah menerjang lagi dengan tusukan kerisnya. Agaknya gadis ini memang cerdik sekali karena ia selalu berusaha untuk menyerang Nurseta dari belakang karena senjatanya lebih pendek dan membiarkan kedua orang kawannya yang memegang gendewa menyerang dari depan kanan kiri.

Menghadapi serangan tiga orang gadis cantik itu, Nurseta menjadi serba salah. Dia sama sekali tidak ingin merobohkan atau menciderai mereka, akan tetap kalau tidak dilawan, serangan tiga orang gadis ini cukup berbahaya. Melihat bahwa dua batang gendewa itu menyambar dari depan kanan kiri dan keris di tangan Kenangasari menusuk dari belakang mengancam lambungnya, Nurseta mengerahkan Aji Bayu Sakti dan tiba-tiba tiga orang gadis itu berseru kaget karena lawan yang mereka kurung telah lenyap. Mereka hanya melihat bayangan berkelebat ke atas dan tahu-tahu pemuda itu telah lenyap. Kemudian terdengar suara Nurseta yang telah berada di belakang Sukarti dan Widarti.
"Aku tidak ingin bermusuhan dengan kalian bertiga. Hentikanlah serangan kalian. Aku hanya ingin dikembalikannya Keris Megatantra!"
"Mbakayu Sukarti, Widarti, hati-hati, jahanam ini berbahaya sekali. Dia tadi merobohkan aku dan memaksa aku untuk mengaku di mana adanya Gusti Pangeran. Dia berbahaya sekali bagi Gusti Pangeran!" kata Kenangasari.
"Bunuh dia" kata Sukarti.
"Nanti dulu!" kata Widarti, lalu gadis termuda ini menghadapi Nurseta. Suaranya tidak seketus dua orang kawannya.
"Kakangmas Nurseta, andika tidak ingin bermusuhan dengan kami, kenapa andika... tidak pergi saja dengan damai dan tidak lagi mengganggu kami?"
"Nimas Widarti. Pangeran Hendratama telah menipuku dan mencuri keris pusakaku. Aku tidak ingin bermusuhan dengan kalian akan tetapi aku ingin agar keris pusakaku itu dikembalikan kepadaku."
"Akan tetapi ingat, kakangmas. Keris Megatantra adalah pusaka milik keturunan Mataram, maka Gusti Pangeran Hendratama adalah pemiliknya yang sah. Maka, sekali lagi aku minta kepadamu, kakangmas, demi persahabatan kita, relakan keris itu dan pergilah dengan damai."

Nurseta mencatat dalam hatinya bahwa sikap wanita termuda ini yang paling baik dan dia sendiri juga sejak semula paling tertarik kepada wanita muda yang sikapnya agak malu-malu ini. Tampaknya masih demikian muda, masih remaja, tidak tahunya ternyata sekarang telah menjadi selir seorang bekas pangeran!
"Nimas, bagaimanapun juga, saya tidak dapat merasa yakin bahwa Raden Hendratama berhak memiliki keris pusaka itu. Agar keris itu tidak terjatuh ke tangan yang salah, saya memutuskan untuk menghaturkan keris pusaka itu kepada Sang Prabu Erlangga. Karena itu, kembalikanlah kepadaku atau tunjukkan kepadaku di mana saya dapat bertemu dengannya." Mengingat bahwa wanita yang diajaknya bicara itu ternyata isteri Pangeran Hendratama, maka dengan sendirinya Nurseta memandang lebih hormat dan sungkan dan dia tidak lagi berlaku kepada Widarti. Mendengar ucapan Nurseta ini, Sukarti membentak,
"Widarti, tidak perlu banyak cakap dengan orang ini!" lapun sudah menerjang lagi dengan gendewanya, dibantu Kenangasari yang juga menggerakkan kerisnya menyerang.

Melihat dua orang wanita itu sudah turun tangan menyerang, Widarti terpaksa juga menggerakkan gendewanya menyerang sehingga kembali Nurseta dikeroyok tiga orang wanita yang cukup tangguh. Dia cepat mengerahkan Aji Bayu Sakti dan bersilat dengan ilmu silat Baka Denta. Gerakannya yang cepat itu membuat dia seolah menjadi seekor burung bangau yang lincah. Tubuhnya sukar sekali diserang karena dia berkelebatan seperti bayang-bayang dan setiap serangan yang tidak dapat dielakkan, disampok dan ditangkis dengan kedua lengannya yang lentur dan kuat seperti leher burung bangau. Hanya karena dia masih tidak tega untuk melukai tiga orang gadis itu, maka Nurseta masih belum membalas serangan mereka. Dia sedang mencari-cari kesempatan untuk mengalahkan mereka tanpa melukai, seperti yang dia lakukan kepada Kenangasari tadi. Namun untuk melakukan hal itu kepada tiga orang wanita yang mengeroyoknya, bukanlah hal mudah karena mereka bergerak cepat dan mengirim serangan serangan maut yang tidak boleh dipandang rendah.

Kenangasari pandai sekali bersilat keris dan setiap tusukannya mengarah bagian-bagian tubuh yang berbahaya. Sedangkan Sukarti dan Widarti agaknya memang khusus mempelajari silat menggunakan gendewa yang kedua ujungnya runcing itu. Ketika mereka berdua itu menggerakkan gendewa mereka untuk menyerang, terdengar bunyi mengaung dan tali gendewa saking kuatnya senjata itu digerakkan. Dua puluh jurus lebih telah lewat dan selama itu tiga orang wanita yang biasanya amat tangguh kalau maju bertiga sehingga mereka dipercaya sebagai pengawal-pengawal pribadi Pangeran Hendratama itu menjadi penasaran sekali. Mereka mengerahkan seluruh tenaga sakti mereka dan mengeluarkan semua jurus simpanan yang ampuh. Namun tetap saja mereka tidak pernah menyentuh ujung baju Nurseta, apa lagi melukainya. Bahkan karena sejak tadi mereka mengerahkan terlalu banyak tenaga, padahal semalam mereka sama sekali tidak tidur, mereka menjadi kelelahan dan baju mereka telah menjadi basah oleh keringat.

Nurseta melihat betapa tiga orang lawannya mulai lemah dan kurang cepat serangan mereka. Cepat Nurseta melompat ke belakang dan begitu turun ke atas tanah, cepat dia membalik, kedua kakinya ditekuk dan kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka mendorong ke depan, ke arah tiga orang wanita itu.
"Haaaiiittt .....!" Serangkum angin yang kuat melanda tiga orang wanita itu. Mereka terkejut dan cepat mengerahkan tenaga menyambut. Akan tetapi tetap saja mereka merasa tubuh mereka tiba tiba menjadi lemas, seperti lumpuh dan mereka terkulai roboh. Nurseta mendekati mereka dan merampas dua batang gendewa dan sebatang keris, lalu menggunakan jari-jari tangannya dan dengan mudah dia mematahkan dua batang gendewa dan sebatang keris itu, lalu melemparkannya ke atas tanah.
"Maafkan, terpaksa aku membuat kalian tidak mampu menyerangku lagi. Nah, sekarang, katakanlah di mana aku dapat bertemu dengan Raden Hendratama dan kalian akan kubebaskan."
"Tidak sudi kami mengkhianati suami kami!" bentak Kenangasari yang masih galak.
"Nurseta, kami telah kalah. Kalau mau bunuh, bunuhlah kami. Jangan harap kami akan sudi mengatakan sesuatu tentang keris dan Gusti Pangeran!" kata pula Sukarti.

Dari sikap dan suara dua orang gadis yang sudah tidak mampu bergerak itu, Nurseta tahu bahwa dia tidak dapat mengharapkan jawaban yang jujur dari mereka. Melihat Widarti diam saja dan hanya menundukkan mukanya, tiba-tiba dia mendapat akal. Cepat dia menyambar tubuh Widarti, memondongnya dan membawanya lari seperti terbang cepatnya meninggalkan dua orang gadis yang lain.
"Widarti...... jangan mengkhianati Gusti Pangeran.....!" terdengar dua orang gadis itu berteriak-teriak.
Akan tetapi Nurseta telah pergi jauh sehingga tidak tampak oleh mereka. Nurseta hanya pergi sekitar selepasan anak panah dari mereka dan menurunkan Widarti di atas tanah berumput lalu membebaskan kelemasan tubuhnya dengan menepuk punggungnya. Widarti dapat bergerak kembali, la masih duduk di atas rumput dan ia memandang kepada Nurseta. Mereka saling pandang dan diam diam Nurseta harus mengakui dalam hatinya bahwa kalau saja gadis ini seorang gadis baik-baik, bukan selir Raden Hendratama dan tidak membantu pangeran itu melakukan perbuatan tak terpuji, agaknya akan mudah terjadi bahwa dia merasa tertarik dan suka sekali kepada gadis ini sehingga besar kemungkinan jatuh cinta! Sepasang mata itu! Mulut mungil itu! Entah mana yang lebih indah menggairahkan. Lesung pipit itu, kini tampak karena Widarti tiba-tiba tersenyum!
"Hemm, Kakang Nurseta, tadinya kukira emas murni, tidak tahunya hanya tembaga dilapis emas!"
"Apa maksudmu, nimas?"
"Tadinya kukira engkau seorang ksatria sejati, tidak tahunya sama saja. dengan semua laki-laki yang mata keranjang dan berwatak cabul!"
Wajah Nurseta berubah merah.
"Nimas Widarti, apa maksudmu dengan tuduhan keji terhadap diriku itu?"
Widarti tersenyum dan lesung pipitnya tampak nyata, membuat wajah itu manis bukan main melebihi madu!
"KakangMas Nurseta, engkau telah mengalahkan aku dan kedua orang maduku, akan tetapi engkau memondongku dan membawa aku lari ke tempat ini, apa lagi kehendakmu kalau tidak ingin mengajak aku bermain cinta?"
"Tidak tahu malu!" Nurseta membentak marah sehingga gadis itu menjadi kaget.
"Engkau menilai terlalu rendah! Nimas Widarti, kaukira aku ini laki-laki macam itukah? Engkau keliru besar! Biarpun harus kuakui bahwa engkau seorang gadis yang ayu manis merak ati, namun jangan dikira bahwa aku mudah tergila-gila oleh kecantikan wanita dan mudah dipermainkan nafsu berahi! Tidak sama sekali, nimas. Aku membawamu ke sini karena melihat engkau berbeda dengan dua orang wanita yang lain itu dan kuharap engkau akan dapat bersikap lebih jujur kepadaku, dapat melihat bahwa aku berada di pihak benar dan mau menunjukkan kepadaku di mana aku dapat menemukan Pangeran Hendratama."
Mendengar ucapan pemuda itu, Widarti lalu merangkak maju menyembah kepada Nurseta.
"Aduh, Kakangmas Nurseta, maafkan tuduhanku yang lancang dan tidak patut tadi. Aku telah salah sangka ....."

Mendengar suara gadis itu bercampur isak, Nurseta lalu duduk pula di atas rumput dan berkata,
"Ah, jangan begitu, nimas. Aku tahu mengapa engkau salah sangka terhadap diriku. Aku tahu pula bahwa engkau adalah seorang gadis yang baik, tidak seperti dua orang yang lain itu. Akan tetapi aku merasa heran sekali, mengapa engkau yang masih begini muda dapat..... eh, dapat menjadi..... eh, maksudku..... benarkah seperti apa yang dikatakan Kenangasari bahwa kalian bertiga adalah selir-selir Raden Hendratama, nimas?"
Widarti mengusap beberapa butir air mata yang membasahi pipinya. Ia duduk dan melihat rumput itu agak basah Nurseta lalu mengajaknya duduk di atas batu. Setelah duduk berhadapan, Widarti berkata lirih.
"Memang benar, kakangmas Kami adalah selir-selir Pangeran Hendratama. Kenapa kami semua setia kepadanya, bahkan rela membelanya sampai mati? Ketahuilah, kakangmas. Kami bersikap seperti itu karena terpaksa sekali."
"Terpaksa? Apa maksudmu, nimas?"
"Kakangmas Nurseta, terus terang saja. Belum pernah aku bertemu dengan seorang pria sepertimu, yang sakti mandraguna, juga sopan santun, bersusila dan amat menarik hatiku. Aku mau menceritakan segala tentang diriku dan tentang Pangeran Hendratama, akan tetapi terus terang saja, aku tidak dapat menceritakan padamu di mana adanya sang pangeran itu. Aku tidak berani, kakangmas."
Nurseta mengerutkan alisnya. Dia mengerti bahwa tentu ada sesuatu yang mengancam gadis ini sehingga ia takut membuka rahasia di mana adanya Pangeran Hendratama. Dia mengangguk dan berkata,
"Baiklah, nimas. Akupun tidak akan memaksamu. Ceritakan saja apa yang dapat kauceritakan dan aku sudah berterima kasih sekali kepadamu atas kepercayaanmu kepadaku."

<<<Bagian 12                                                                                          Bagian 14 >>>

No comments:

Post a Comment