"Hemm, andaikata benar
demikian, tidak sepatutnya dia menguasai keris itu dengan cara yang curang dan
menipuku! Aku harus menghaturkan pusaka itu kepada Gusti Maha Prabu Erlangga.
Hayo katakan di mana Pangeran Hendratama?"!
Kenangasari tersenyum. Wanita yang
cerdik ini tahu bahwa pemuda perkasa itu membutuhkan keterangannya, maka tentu
saja ia akan menggunakan kebutuhan pemuda itu untuk menekan.
"Nurseta, bukan begini sikap
orang yang hendak minta keterangan. Bebaskan dulu aku, pulihkan tenagaku kalau
andika ingin mendapatkan keterangan dariku."
Melihat gadis cantik itu mengerling
genit dan tersenyum mengejek, Nurseta menghela napas panjang. Mengapa gadis
muda secantik ini, begitu manis merak ati, begitu menarik menggemaskan, dapat
bersikap ramah dan mesra, dapat berwatak demikian palsu? Bagaikan sebutir buah
tomat yang kulitnya merah halus tanpa cacat, segar menarik menimbulkan selera,
tahu-tahu di sebelah dalamnya berulat. Akan tetapi karena dia perlu mendapatkan
keterangan di mana adanya Raden Hendratama agar dia dapat merampas kembali
Keris Megatantra, terpaksa dia memenuhi permintaan Kenangasari. Sekali dia
menepuk punggung gadis itu, Kenangasari dapat bergerak kembali dan tiba-tiba
dengan tangkasnya ia melompat bangun berdiri, meraba pinggangnya dan sudah
mencabut sebatang keris yang mengkilat lalu menerjang, menusukkan kerisnya ke
arah perut Nurseta.
"Hyaaaahh!"
Serangan itu cepat sekali datangnya.
Kalau bukan Nurseta yang diserang, serangan itu dapat mendatangkan maut. Akan
tetapi Nurseta yang sama sekali tidak mengira akan diserang secara tiba-tiba
dari jarak begitu dekat sehingga dia tidak sempat lagi mengelak, hanya
mengangkat tangan kirinya dan menggunakan telapak tangan kirinya untuk menjadi
perisai melindungi perutnya. Tentu saja dengan kesaktiannya, dia dapat membuat
perutnya kebal. Akan tetapi dia tidak mau membiarkan bajunya terobek keris,
maka telapak tangan kirinya yang menyambut tusukan keris itu.
"Wuutt ..... takkk!"
Kenangasari terkejut bukan main.
Pemuda itu menyambut tusukan
kerisnya dengan telapak tangan dan ia merasa betapa kerisnya seolah bertemu
dengan dinding baja yang teramat kuat sehingga senjata itu terpental dan ia merasa
tangannya tergetar hebat.
"Auuuww .....!" Ia
menjerit dan melempar tubuh ke belakang lalu berjungkir balik lima kali
menjauhkan diri. Kalau gadis itu merasa terkejut dan kagum sekali melihat
kesaktian Nurseta, sebaliknya pemuda itu juga kagum menyaksikan gerakan yang
amat lincah dan tangkas dari Kenangasari.
"Syuuuttt ..... syuuuuttt
.....!" Suara berdesir ini membawa luncuran benda benda hitam yang
mengarah leher, dada, dan pusar Nurseta. Ada empat batang anak panah menyambar
dengan cepat sekali. Nurseta bergerak, menggeser kaki sehingga tubuhnya condong
ke kiri dan kedua tangannya diputar ke kanan, memukul runtuh empat batang anak
panah itu. Dari arah depan berlompatan dua bayangan orang dan ternyata yang
muncul adalah Sukarti dan Widarti Dua orang gadis ini memegang sebuah gendewa
dan tanpa banyak cakap lagi keduanya lalu menyerang Nurseta dengan gendewa
(busur) mereka. Gerakan mereka juga lincah dan kuat seperti gerakan
Kenangasari. Melihat kedua orang kawannya telah muncul dan membantunya, Kenangasari
merasa girang sekali. Ia sama sekali tidak menyangka, bahkan bekas pangeran dan
juga semua selirnya tidak pernah mengira bahwa Nurseta ternyata seorang yang
sakti mandraguna!
"Hati-hati, dia tangguh
sekali!" Kenangasari berseru memperingatkan kedua orang kawannya dan iapun
sudah menerjang lagi dengan tusukan kerisnya. Agaknya gadis ini memang cerdik
sekali karena ia selalu berusaha untuk menyerang Nurseta dari belakang karena
senjatanya lebih pendek dan membiarkan kedua orang kawannya yang memegang gendewa
menyerang dari depan kanan kiri.
Menghadapi serangan tiga orang gadis
cantik itu, Nurseta menjadi serba salah. Dia sama sekali tidak ingin merobohkan
atau menciderai mereka, akan tetap kalau tidak dilawan, serangan tiga orang
gadis ini cukup berbahaya. Melihat bahwa dua batang gendewa itu menyambar dari
depan kanan kiri dan keris di tangan Kenangasari menusuk dari belakang
mengancam lambungnya, Nurseta mengerahkan Aji Bayu Sakti dan tiba-tiba tiga
orang gadis itu berseru kaget karena lawan yang mereka kurung telah lenyap.
Mereka hanya melihat bayangan berkelebat ke atas dan tahu-tahu pemuda itu telah
lenyap. Kemudian terdengar suara Nurseta yang telah berada di belakang Sukarti
dan Widarti.
"Aku tidak ingin bermusuhan
dengan kalian bertiga. Hentikanlah serangan kalian. Aku hanya ingin
dikembalikannya Keris Megatantra!"
"Mbakayu Sukarti, Widarti,
hati-hati, jahanam ini berbahaya sekali. Dia tadi merobohkan aku dan memaksa
aku untuk mengaku di mana adanya Gusti Pangeran. Dia berbahaya sekali bagi
Gusti Pangeran!" kata Kenangasari.
"Bunuh dia" kata Sukarti.
"Nanti dulu!" kata
Widarti, lalu gadis termuda ini menghadapi Nurseta. Suaranya tidak seketus dua
orang kawannya.
"Kakangmas Nurseta, andika
tidak ingin bermusuhan dengan kami, kenapa andika... tidak pergi saja dengan
damai dan tidak lagi mengganggu kami?"
"Nimas Widarti. Pangeran
Hendratama telah menipuku dan mencuri keris pusakaku. Aku tidak ingin
bermusuhan dengan kalian akan tetapi aku ingin agar keris pusakaku itu
dikembalikan kepadaku."
"Akan tetapi ingat, kakangmas.
Keris Megatantra adalah pusaka milik keturunan Mataram, maka Gusti Pangeran
Hendratama adalah pemiliknya yang sah. Maka, sekali lagi aku minta kepadamu,
kakangmas, demi persahabatan kita, relakan keris itu dan pergilah dengan damai."
Nurseta mencatat dalam hatinya bahwa
sikap wanita termuda ini yang paling baik dan dia sendiri juga sejak semula
paling tertarik kepada wanita muda yang sikapnya agak malu-malu ini. Tampaknya
masih demikian muda, masih remaja, tidak tahunya ternyata sekarang telah
menjadi selir seorang bekas pangeran!
"Nimas, bagaimanapun juga, saya
tidak dapat merasa yakin bahwa Raden Hendratama berhak memiliki keris pusaka
itu. Agar keris itu tidak terjatuh ke tangan yang salah, saya memutuskan untuk
menghaturkan keris pusaka itu kepada Sang Prabu Erlangga. Karena itu,
kembalikanlah kepadaku atau tunjukkan kepadaku di mana saya dapat bertemu
dengannya." Mengingat bahwa wanita yang diajaknya bicara itu ternyata
isteri Pangeran Hendratama, maka dengan sendirinya Nurseta memandang lebih
hormat dan sungkan dan dia tidak lagi berlaku kepada Widarti. Mendengar ucapan
Nurseta ini, Sukarti membentak,
"Widarti, tidak perlu banyak
cakap dengan orang ini!" lapun sudah menerjang lagi dengan gendewanya,
dibantu Kenangasari yang juga menggerakkan kerisnya menyerang.
Melihat dua orang wanita itu sudah
turun tangan menyerang, Widarti terpaksa juga menggerakkan gendewanya menyerang
sehingga kembali Nurseta dikeroyok tiga orang wanita yang cukup tangguh. Dia
cepat mengerahkan Aji Bayu Sakti dan bersilat dengan ilmu silat Baka Denta.
Gerakannya yang cepat itu membuat dia seolah menjadi seekor burung bangau yang
lincah. Tubuhnya sukar sekali diserang karena dia berkelebatan seperti
bayang-bayang dan setiap serangan yang tidak dapat dielakkan, disampok dan
ditangkis dengan kedua lengannya yang lentur dan kuat seperti leher burung
bangau. Hanya karena dia masih tidak tega untuk melukai tiga orang gadis itu,
maka Nurseta masih belum membalas serangan mereka. Dia sedang mencari-cari
kesempatan untuk mengalahkan mereka tanpa melukai, seperti yang dia lakukan
kepada Kenangasari tadi. Namun untuk melakukan hal itu kepada tiga orang wanita
yang mengeroyoknya, bukanlah hal mudah karena mereka bergerak cepat dan
mengirim serangan serangan maut yang tidak boleh dipandang rendah.
Kenangasari pandai sekali bersilat
keris dan setiap tusukannya mengarah bagian-bagian tubuh yang berbahaya.
Sedangkan Sukarti dan Widarti agaknya memang khusus mempelajari silat
menggunakan gendewa yang kedua ujungnya runcing itu. Ketika mereka berdua itu
menggerakkan gendewa mereka untuk menyerang, terdengar bunyi mengaung dan tali
gendewa saking kuatnya senjata itu digerakkan. Dua puluh jurus lebih telah
lewat dan selama itu tiga orang wanita yang biasanya amat tangguh kalau maju bertiga
sehingga mereka dipercaya sebagai pengawal-pengawal pribadi Pangeran Hendratama
itu menjadi penasaran sekali. Mereka mengerahkan seluruh tenaga sakti mereka
dan mengeluarkan semua jurus simpanan yang ampuh. Namun tetap saja mereka tidak
pernah menyentuh ujung baju Nurseta, apa lagi melukainya. Bahkan karena sejak
tadi mereka mengerahkan terlalu banyak tenaga, padahal semalam mereka sama
sekali tidak tidur, mereka menjadi kelelahan dan baju mereka telah menjadi
basah oleh keringat.
Nurseta melihat betapa tiga orang
lawannya mulai lemah dan kurang cepat serangan mereka. Cepat Nurseta melompat
ke belakang dan begitu turun ke atas tanah, cepat dia membalik, kedua kakinya
ditekuk dan kedua tangannya dengan telapak tangan terbuka mendorong ke depan,
ke arah tiga orang wanita itu.
"Haaaiiittt .....!"
Serangkum angin yang kuat melanda tiga orang wanita itu. Mereka terkejut dan
cepat mengerahkan tenaga menyambut. Akan tetapi tetap saja mereka merasa tubuh
mereka tiba tiba menjadi lemas, seperti lumpuh dan mereka terkulai roboh.
Nurseta mendekati mereka dan merampas dua batang gendewa dan sebatang keris,
lalu menggunakan jari-jari tangannya dan dengan mudah dia mematahkan dua batang
gendewa dan sebatang keris itu, lalu melemparkannya ke atas tanah.
"Maafkan, terpaksa aku membuat
kalian tidak mampu menyerangku lagi. Nah, sekarang, katakanlah di mana aku
dapat bertemu dengan Raden Hendratama dan kalian akan kubebaskan."
"Tidak sudi kami mengkhianati
suami kami!" bentak Kenangasari yang masih galak.
"Nurseta, kami telah kalah.
Kalau mau bunuh, bunuhlah kami. Jangan harap kami akan sudi mengatakan sesuatu
tentang keris dan Gusti Pangeran!" kata pula Sukarti.
Dari sikap dan suara dua orang gadis
yang sudah tidak mampu bergerak itu, Nurseta tahu bahwa dia tidak dapat mengharapkan
jawaban yang jujur dari mereka. Melihat Widarti diam saja dan hanya menundukkan
mukanya, tiba-tiba dia mendapat akal. Cepat dia menyambar tubuh Widarti,
memondongnya dan membawanya lari seperti terbang cepatnya meninggalkan dua
orang gadis yang lain.
"Widarti...... jangan
mengkhianati Gusti Pangeran.....!" terdengar dua orang gadis itu
berteriak-teriak.
Akan tetapi Nurseta telah pergi jauh
sehingga tidak tampak oleh mereka. Nurseta hanya pergi sekitar selepasan anak
panah dari mereka dan menurunkan Widarti di atas tanah berumput lalu
membebaskan kelemasan tubuhnya dengan menepuk punggungnya. Widarti dapat
bergerak kembali, la masih duduk di atas rumput dan ia memandang kepada
Nurseta. Mereka saling pandang dan diam diam Nurseta harus mengakui dalam
hatinya bahwa kalau saja gadis ini seorang gadis baik-baik, bukan selir Raden
Hendratama dan tidak membantu pangeran itu melakukan perbuatan tak terpuji,
agaknya akan mudah terjadi bahwa dia merasa tertarik dan suka sekali kepada
gadis ini sehingga besar kemungkinan jatuh cinta! Sepasang mata itu! Mulut
mungil itu! Entah mana yang lebih indah menggairahkan. Lesung pipit itu, kini
tampak karena Widarti tiba-tiba tersenyum!
"Hemm, Kakang Nurseta, tadinya
kukira emas murni, tidak tahunya hanya tembaga dilapis emas!"
"Apa maksudmu, nimas?"
"Tadinya kukira engkau seorang
ksatria sejati, tidak tahunya sama saja. dengan semua laki-laki yang mata
keranjang dan berwatak cabul!"
Wajah Nurseta berubah merah.
"Nimas Widarti, apa maksudmu
dengan tuduhan keji terhadap diriku itu?"
Widarti tersenyum dan lesung
pipitnya tampak nyata, membuat wajah itu manis bukan main melebihi madu!
"KakangMas Nurseta, engkau
telah mengalahkan aku dan kedua orang maduku, akan tetapi engkau memondongku
dan membawa aku lari ke tempat ini, apa lagi kehendakmu kalau tidak ingin
mengajak aku bermain cinta?"
"Tidak tahu malu!" Nurseta
membentak marah sehingga gadis itu menjadi kaget.
"Engkau menilai terlalu rendah!
Nimas Widarti, kaukira aku ini laki-laki macam itukah? Engkau keliru besar!
Biarpun harus kuakui bahwa engkau seorang gadis yang ayu manis merak ati, namun
jangan dikira bahwa aku mudah tergila-gila oleh kecantikan wanita dan mudah
dipermainkan nafsu berahi! Tidak sama sekali, nimas. Aku membawamu ke sini
karena melihat engkau berbeda dengan dua orang wanita yang lain itu dan kuharap
engkau akan dapat bersikap lebih jujur kepadaku, dapat melihat bahwa aku berada
di pihak benar dan mau menunjukkan kepadaku di mana aku dapat menemukan
Pangeran Hendratama."
Mendengar ucapan pemuda itu, Widarti
lalu merangkak maju menyembah kepada Nurseta.
"Aduh, Kakangmas Nurseta,
maafkan tuduhanku yang lancang dan tidak patut tadi. Aku telah salah sangka
....."
Mendengar suara gadis itu bercampur
isak, Nurseta lalu duduk pula di atas rumput dan berkata,
"Ah, jangan begitu, nimas. Aku
tahu mengapa engkau salah sangka terhadap diriku. Aku tahu pula bahwa engkau
adalah seorang gadis yang baik, tidak seperti dua orang yang lain itu. Akan
tetapi aku merasa heran sekali, mengapa engkau yang masih begini muda dapat.....
eh, dapat menjadi..... eh, maksudku..... benarkah seperti apa yang dikatakan
Kenangasari bahwa kalian bertiga adalah selir-selir Raden Hendratama,
nimas?"
Widarti mengusap beberapa butir air
mata yang membasahi pipinya. Ia duduk dan melihat rumput itu agak basah Nurseta
lalu mengajaknya duduk di atas batu. Setelah duduk berhadapan, Widarti berkata
lirih.
"Memang benar, kakangmas Kami
adalah selir-selir Pangeran Hendratama. Kenapa kami semua setia kepadanya,
bahkan rela membelanya sampai mati? Ketahuilah, kakangmas. Kami bersikap
seperti itu karena terpaksa sekali."
"Terpaksa? Apa maksudmu,
nimas?"
"Kakangmas Nurseta, terus
terang saja. Belum pernah aku bertemu dengan seorang pria sepertimu, yang sakti
mandraguna, juga sopan santun, bersusila dan amat menarik hatiku. Aku mau
menceritakan segala tentang diriku dan tentang Pangeran Hendratama, akan tetapi
terus terang saja, aku tidak dapat menceritakan padamu di mana adanya sang
pangeran itu. Aku tidak berani, kakangmas."
Nurseta mengerutkan alisnya. Dia
mengerti bahwa tentu ada sesuatu yang mengancam gadis ini sehingga ia takut
membuka rahasia di mana adanya Pangeran Hendratama. Dia mengangguk dan berkata,
"Baiklah, nimas. Akupun tidak
akan memaksamu. Ceritakan saja apa yang dapat kauceritakan dan aku sudah
berterima kasih sekali kepadamu atas kepercayaanmu kepadaku."
No comments:
Post a Comment