Bagian 12


Ketika dia menoleh ke arah kanan dia melihat Kenangasari juga duduk di atas sebuah bangku. Dua orang gadis itu duduk diam dan Nurseta merasa heran bukan main. Benarkah mereka sengaja duduk berjaga di luar kamarnya? Menjaga apakah? Menjaga keselamatan dirinya? Rasanya tidak mungkin. Teringatlah dia akan ucapan Kenangasari tadi.
"Andika kan tamu agung kami, harus dijaga baik-baik, tentu saja!" Demikian kata gadis itu. Jadi mereka itu menjaganya? Dan di mana Widarti, gadis termuda? Dia menghampiri jendela dan mengintai keluar. Benar saja, gadis cantik jelita berlesung pipit itu juga duduk di atas sebuah bangku, tak jauh dari jendelanya. Semua jalan keluar, atau jalan masuk dari dan ke kamarnya telah terjaga! Apakah yang mereka jaga? Menjaga agar jangan ada yang masuk kamar atau menjaga agar jangan ada yang keluar kamar? Kalau benar mereka itu berjaga, sungguh menggelikan. Apakah yang mampu dilakukan gadis-gadis manis itu kalau ada yang masuk atau keluar kamar? Tiba-tiba dia teringat betapa tadi, ketika dia hendak keluar kamar, Sukarti tahu-tahu telah memegang lengannya. Pada hal tadinya gadis itu masih duduk di atas kursi. Betapa cepatnya dia bergerak! Apakah tiga orang puteri pangeran yang cantik jelita itu ahli aji kanuragan, gadis-gadis yang digdaya? Betapapun juga, dari sikap mereka dan sikap ayah mereka, sama sekali tidak ada yang mencurigakan, tidak ada kesan-kesan bahwa mereka memusuhinya. Mungkin mereka itu agak berlebihan dan terlalu memanjakannya. Dia menjadi malu sendiri. Biarlah mereka berbuat sesuka mereka karena dia tidak terganggu. Dengan pikiran ini Nurseta kembali merebahkan diri dan tak lama kemudian karena dia memang lelah sekali, diapun tertidur.

Karena larut malam baru dapat pulas dan tubuhnya memang amat lelah, Nurseta tidur nyenyak sekali. Pagi keesokan harinya dia tergugah oleh kicau burung di luar jendela. Begitu merdu dan indah kicau burung kutilang di luar rumah itu sehingga Nurseta tetap rebah sambil menikmati suara itu. Kemudian terdengar ringkik kuda. Suara ini membuat bangkit duduk keheranan. Ada ringkik kuda! Kemarin dia tidak melihat adanya kuda di sekitar rumah itu. Dan dari gerakan kaki kuda di atas tanah itu dia dapat mengetahui bahwa ada lebih dari dua ekor kuda di sana. Mungkin ada empat ekor. Karena ingin tahu sekali, Nurseta lalu menghampiri jendela dan membuka daun jendela. Widarti yang semalam duduk 'berjaga" di situ tak tampak lagi. Dari jendela dia dapat melihat adanya empat ekor kuda tertambat pada batang pohon-pohon di kebun. Empat ekor' kuda yang tinggi besar, indah dan kuat, lengkap dengan pelana dan kendalinya. Apakah ada tamu-tamu datang berkunjung? Mungkin, karena tiga orang gadis itu tidak tampak, tentu sedang menyambut para tamu itu. Dia merasa tidak enak karena masih belum keluar dari kamarnya. Dia segera membuka daun pintu. Tidak tampak ada orang. Nurseta keluar rumah dan karena tidak melihat keluarga tuan rumah, dia langsung pergi ke anak sungai untuk membersihkan diri. Air anak sungai yang jernih dan dingin menyegarkan tubuhnya dan dia cepat kembali ke rumah. Setelah dia tiba di beranda, dia melihat Raden Hendratama dan tiga orang puterinya telah berada di situ. Nurseta yang berpemandangan tajam segera dapat merasakan bahwa ada terjadi sesuatu. Hal ini dapat dia lihat dari sikap mereka. Wajah mereka, terutama sekali tiga orang gadis yang kemarin amat ramah kepadanya penuh senyum dan pandang mata berseri kini tampak dingin sekali, bahkan seolah tiga orang dara itu menghindari pertemuan pandang mata dengan dia. Apakah mereka kecewa dan marah atas sikapnya semalam?
"Anakmas Nurseta, terimalah kerismu ini. Sudah kupasangkan gagang baru dan kumasukkan dalam warangka baru”. Raden Hendratama menyerahkan keris itu kepada Nurseta.
Nurseta menerimanya dan dia kagum melihat warangka yang terukir indah dan gagang kerisnya sudah terganti gagang berukir pula. Dia lalu menyelipkan keris itu pada ikat pinggangnya, tanpa memeriksa isinya karena hal itu akan menimbulkan kesan seolah dia tidak percaya kepada bekas pangeran itu.
"Terima kasih banyak, paman." katanya.
"Anakmas Nurseta, terpaksa andika akan kami tinggalkan karena kami ada urusan penting sekali yang harus kami lakukan pagi ini. Maaf, kami tidak sempat mengajak andika makan pagi."
Nurseta tersenyum.
"Ah, tidak mengapa, paman. Saya hanya membutuhkan tempat bermalam dan paman sekalian telah begitu baik untuk menerima saya. Biarlah saya pergi sekarang juga agar tidak mengganggu kesibukan paman sekalian." Setelah berkata demikian, Nurseta memasuki rumah, terus ke kamarmya, berkemas lalu keluar lagi menggendong buntalan pakaian di punggungnya.

Dia mendengar derap kaki kuda dan setelah tiba di beranda, dia melihat Raden Hendratama telah melarikan kuda dengan cepat meninggalkan tempat itu. Tentu saja Nurseta merasa heran sekali dan dia bertanya kepada Kenangasari yang biasanya paling ramah kepadanya.
"Nimas Kenangasari, ke manakah perginya Paman Hendratama? Aku ingin berpamit kepadanya."
"Tidak usah berpamit lagi. Dia sudah pergi." Jawab Kenangasari dengan pendek dan ketus.
Nurseta merasa tidak enak sekali. Dia merasa berhutang budi kepada mereka, maka meninggalkan mereka dalam keadaan seperti ini sungguh tidak menyenangkan.
"Nimas bertiga, apakah sebetulnya yang terjadi? Kalian tampak berbeda sekali. Apakah ada kesulitan yang kalian semua hadapi? Kalau memerlukan bantuan, percayalah, aku akan membantu sekuat tenagaku."
"Sudah, pergilah! Kami tidak membutuhkan kamu!" kata Sukarti.
"Ya, cerewet benar sih, kamu!" kata pula Widarti dan tiga orang gadis itu lalu memasuki ruangan depan yang penuh dengan keris dan tombak itu, mengumpulkan semua senjata itu, agaknya mereka seperti berkemas hendak pindah dari pondok itu.

Menghadapi sikap tiga orang gadis itu, Nurseta mengangkat kedua pundaknya dan diapun melompat keluar dan pergi dari situ dengan cepat. Hatinya tertekan kekecewaan, perasaannya terpukul. Tak habis heran dia memikirkan perubahan yang terjadi dalam sikap keluarga pangeran itu terhadap dirinya. Sambil melangkah pergi, pikirannya terus bekerja. Dia mencari-cari, kesalahan apa yang telah dilakukannya sehingga membuat marah keluarga itu. Kalau sikapnya tidak mau menerima tiga orang gadis itu tinggal di kamarnya itu dianggap salah, maka merekalah yang bersalah. Dia sudah benar, menjaga kesusilaan. Kalau dianggap salah, maka merekalah gadis-gadis cantik yang sayangnya tidak dapat menjaga kesusilaan. Apakah dia telah lengah, melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang tidak semestinya atau yang seharusnya? Dia mcngingat-ingat kembali dan tiba-tiba dia menghentikan langkahnya, mengerutkan alisnya. Raden Hendratama telah mengembalikan keris pusakanya akan tetapi kenapa dia tidak memeriksanya. Tidak memeriksa isi warangka itu untuk melihat kerisnya. Hal itu seharusnya dia lakukan mengingat bahwa keris itu adalah sebuah benda pusaka yang amat ampuh, yang diperebutkan banyak orang. Bahkan eyang gurunya tewas karena mempertahankan keris itu!

Cepat dia memegang gagang keris itu dan mencabutnya, memeriksanya dengan teliti. Nurseta mengerutkan alisnya. Ujud keris itu memang masih sama, baik luk (lekuk) tiga dan semua cirinya. Akan tetapi dia merasa kehilangan wibawa yang keluar dari keris itu, yang dirasakannya setiap kali keris itu dia cabut. Sinar aneh yang dimiliki keris itu tak tampak atau terasa lagi. Dia teringat akan petunjuk mendiang Empu Dewamurti bagaimana untuk mengenal keaslian Keris Megatantra. Dengan telunjuk kirinya Nurseta lalu menjentik ujung keris itu. Biasanya, kalau dia menjentik ujung keris pusaka itu dengan pengerahan tenaga sakti, maka akan terdengar bunyi melenting nyaring dan ujung keris Itu tergetar!
"Trikk ....." Bukan main kaget rasa hati Nurseta ketika telunjuknya menjentik, ujung keris itu patah!
"Celaka .....!" serunya, maklum sepenuhnya bahwa dia tertipu. Keris yang sama benar rupa dan bentuknya ini ternyata palsu! Cepat dia menyarungkan keris yang bunting ujungnya itu ke dalam warangka yang masih terselip diikat pinggangnya, lalu dia berlari cepat sekali ke arah pondok tempat tinggal keluarga bekas pangeran itu.

Akan tetapi ketika dia tiba di pekarangan rumah itu, hanya tinggal seekor kuda saja yang tertambat pada batang pohon dan seorang gadis jelita berdiri di luar beranda. Gadis yang berdiri tegak sambil bertolak pinggang dan memandang kepadanya dengan senyum mengejek itu bukan lain adalah Kenangasari, gadis paling genit di antara tiga orang puteri bekas pangeran itu. Nurseta tidak memperdulikannya, melainkan langsung memasuki ruangan tamu di mana tersimpan banyak senjata pusaka. Akan tetapi ruangan itu kini telah kosong, tidak tampak sepotongpun senjata! Juga dua orang gadis yang lain, Sukarti dan Widarti, tidak tampak. Cepat dia melompat keluar lagi dan pada saat itu dia mendengar derap kaki kuda dan melihat Kenangasari sudah menunggang seekor kuda dan membalapkah kuda itu ke arah barat. Nurseta hendak mengejar dan menghalangi gadis itu kabur, akan tetapi dia lalu teringat. Gadis itu adalah satu-satunya orang yang akan dapat membawa dia kepada Raden Hendratama yang telah menipu dan mencuri Keris Megatantra! Gadis itu tentu akan melarikan diri menyusul ayahnya. Berpikir demikian, Nurseta tidak jadi mengejar untuk menangkap, melainkan membayangi saja. Biarpun kuda itu seekor kuda besar yang baik dan kuat, larinya cepat dan ternyata penunggangnya mahir sekali, namun dengan menggunakan Aji Bayu Sakti, tubuh Nurseta meluncur seperti angin dan selalu dapat membayangi dan menjaga jarak sehingga tidak sampai tertinggal.
Akan tetapi, yang dibayangi itu membalap terus ke barat. Setelah matahari naik tinggi dan matahari terik sekali, Kenangasari menghentikan kudanya di tengah hutan lebat, la menjadi bingung dan agaknya tersesat, tidak tahu jalan. Melihat bahwa tidak ada orang mengejarnya, gadis itu melompat turun dan menanggalkan kendali, membiarkan kudanya minum air anak sungai yang terdapat di situ dan makan rumput, la sendiri lalu merebahkan diri bersandar pada batang pohon, mengusap keringatnya dan beristirahat, la tersenyum-senyurn manis seorang diri, mengira bahwa tidak mungkin pemuda tolol itu dapat mengejarnya.
"Nimas Kenangasari!"
Gadis itu terkejut sekali sampai tersentak dan melompat berdiri sambil memutar tubuhnya. Kiranya Nurseta telah berada di situ!
"Kau .....?" gadis itu menggagap.
"Nimas, hentikan semua main-main ini. Aku hanya menginginkan keris pusakaku dikembalikan."

Tiba-tiba gadis itu sudah melompat Lompatannya amat ringan dan tahu-tahu ia telah berada di atas punggung kudanya yang berada dalam jarak empat lima meter dari tempat ia berdiri. Ia sudah menyambar kendali kuda dan hendak membalapkan kudanya. Akan tetapi Nurseta Tidak membiarkan gadis itu melarikan diri. Cepat dia melompat ke depan kuda dan menangkap kendali di depan mulut kuda itu. Kuda meringkik keras dan mengangkat kedua kaki depan tinggi ke atas. Gerakan yang tiba-tiba ini membuat Kenangasari kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terlempar ke belakang kuda! Agaknya gadis itu tentu akan terbanting keras. Akan tetapi sesosok bayangan berkelebat dan tahu-tahu Nurseta telah menyambut tubuh gadis itu dengan kedua lengannya dan Kenangasari terjatuh lunak ke dalam pondongannya! Ketika merasa dirinya betapa dirinya berada dalam rangkulan dan pondongan Nurseta, Kenangasari lalu meraih dengan kedua lengannya ke atas, merangkul leher Nurseta dan merapatkan tubuhnya di dada pemuda itu, bahkan mengangkat mukanya mendekati muka Nurseta, pemuda itu terkejut dan cepat cepat dia melepaskan pondongannya sehingga tubuh Kenangasari terjatuh ke atas tanah. Tiba-tiba sikap Kenangasari berubah. Ia menjadi marah sekali dan dengan trengginas (tangkas) ia melompat dan langsung menyerang Nurseta dengan tamparan yang cepat dan kuat.
"Jahanam....." Ia memaki dan tamparannya menyambar ke arah muka Nurseta.

Nurseta cepat mengelak. Akan tetapi gerakan Kenangasari cepat bukan main. Ia telah menyusulkan serangan bertubi-tubi, menampar, mencengkeram, dan menendang. Gerakannya jelas menunjukkan bahwa ia seorang gadis yang sama sekali tidak lemah, bahkan amat tangkas dan pandai bersilat! Nurseta mengalah, berulang kali mengelak dan menangkis. Ketika tangkisan tangannya bertemu dengan tangan gadis itu, diapun mendapat kenyataan bahwa tenaga gadis itu cukup kuat. Laki laki yang kedigdayaannya hanya sedang-sedang saja jangan harap akan mampu menandingi gadis yang ayu manis dan lincah jenaka ini! Karena dia tidak tega untuk membuat seorang gadis cidera, setelah mengalah beberapa jurus lamanya dalam suatu kesempatan tangan kirinya dapat menepuk pusat syaraf di punggung Kenangasari dan gadis itu mengeluh, lalu terkulai dan jatuh duduk bersimpuh diatas tanah, ia mencoba untuk bangkit berdiri, akan tetapi tubuhnya yang tiba tiba menjadi lemas itu tidak kuat berdiri lagi!
"Aduh....." ia mengeluh,
".... tubuhku lemas tak dapat digerakkan.....pulihkanlah..... aku tidak berani melawan lagi, tobat ....."
Akan tetapi Nurseta sudah tahu sekarang bahwa Kenangasari adalah orang wanita yang digdaya dan amat cerdik. Dia ingin mendapatkan keterangan dari gadis ini, maka dia tidak membebaskannya dulu.
"Nimas Kenangasari, kenapa kalian melakukan hal ini kepadaku? Hayo katakan, di mana ayahmu dan di mana pula keris pusakaku Megatantra? Kalian harus mengembalikan keris itu kepadaku!"
"Siapa ayahku? Aku sudah tidak mempunyai ayah." Jawab Kenangasari. Ia tidak merasa tubuhnya nyeri, hanya lemas tidak mampu berdiri.
"Tidak mempunyai ayah?" Nurseta bertanya dengan alis berkerut.
"Katamu Raden Hendratama itu ayah kalian?"
"Itu hanya karena andika bodoh dan percaya saja. Kami bertiga bukan puterinya, melainkan selir Gusti Pangeran Hendratama."

Nurseta tercengang. Pantas saja tiga orang gadis itu tampaknya begitu manja dan sikap sang pangeran itu juga demikian mesra. Pada jaman itu memang bukan hal aneh kalau melihat seorang bangsawan tinggi, apa lagi seorang pangeran, mempunyai banyak selir yang cantik-cantik dan muda-muda. Dan Pangeran Hendratama ini agaknya memiliki juga orang selir yang selain muda-muda dan cantik jelita, juga memiliki kedigdayaan sehingga selain sebagai penghibur juga sebagai pelindungnya.
"Hemm, begitukah? Memang aku bodoh sekali mudah percaya kepada wajah cantik, sikap-sikap ramah dan mulut-mulut manis yang mengucapkan segala macam kata-kata lembut. Kiranya di balik semua keindahan itu tersembunyi kepalsuan dan kejahatan. Nah, sekarang katakan di mana adanya Pangeran Hendratama."
Biarpun tubuhnya lemas sehingga ia hanya duduk bersimpuh, gadis itu mengangkat mukanya dan sinar matanya tajam galak memandang wajah Nurseta.
"Nurseta, tidak sadarkah andika bahwa Keris Pusaka Megatantra itu adalah pusaka sejak Kerajaan Mataram dulu? Tentu saja yang berhak adalah keturunan Mataram. Sekarang keris itu sudah kembali ke dalam tangan Gusti Pangeran Hendratama dan dia yang berhak memilikinya!"

<<<Bagian 11                                                                                           Bagian 13 >>>

No comments:

Post a Comment