Ketika dia menoleh ke arah kanan dia melihat Kenangasari juga duduk di atas sebuah bangku. Dua orang gadis itu duduk diam dan Nurseta merasa heran bukan main. Benarkah mereka sengaja duduk berjaga di luar kamarnya? Menjaga apakah? Menjaga keselamatan dirinya? Rasanya tidak mungkin. Teringatlah dia akan ucapan Kenangasari tadi.
"Andika kan tamu agung kami,
harus dijaga baik-baik, tentu saja!" Demikian kata gadis itu. Jadi mereka
itu menjaganya? Dan di mana Widarti, gadis termuda? Dia menghampiri jendela dan
mengintai keluar. Benar saja, gadis cantik jelita berlesung pipit itu juga
duduk di atas sebuah bangku, tak jauh dari jendelanya. Semua jalan keluar, atau
jalan masuk dari dan ke kamarnya telah terjaga! Apakah yang mereka jaga?
Menjaga agar jangan ada yang masuk kamar atau menjaga agar jangan ada yang
keluar kamar? Kalau benar mereka itu berjaga, sungguh menggelikan. Apakah yang
mampu dilakukan gadis-gadis manis itu kalau ada yang masuk atau keluar kamar?
Tiba-tiba dia teringat betapa tadi, ketika dia hendak keluar kamar, Sukarti
tahu-tahu telah memegang lengannya. Pada hal tadinya gadis itu masih duduk di
atas kursi. Betapa cepatnya dia bergerak! Apakah tiga orang puteri pangeran
yang cantik jelita itu ahli aji kanuragan, gadis-gadis yang digdaya? Betapapun
juga, dari sikap mereka dan sikap ayah mereka, sama sekali tidak ada yang
mencurigakan, tidak ada kesan-kesan bahwa mereka memusuhinya. Mungkin mereka
itu agak berlebihan dan terlalu memanjakannya. Dia menjadi malu sendiri.
Biarlah mereka berbuat sesuka mereka karena dia tidak terganggu. Dengan pikiran
ini Nurseta kembali merebahkan diri dan tak lama kemudian karena dia memang
lelah sekali, diapun tertidur.
Karena larut malam baru dapat pulas
dan tubuhnya memang amat lelah, Nurseta tidur nyenyak sekali. Pagi keesokan
harinya dia tergugah oleh kicau burung di luar jendela. Begitu merdu dan indah
kicau burung kutilang di luar rumah itu sehingga Nurseta tetap rebah sambil
menikmati suara itu. Kemudian terdengar ringkik kuda. Suara ini membuat bangkit
duduk keheranan. Ada ringkik kuda! Kemarin dia tidak melihat adanya kuda di
sekitar rumah itu. Dan dari gerakan kaki kuda di atas tanah itu dia dapat
mengetahui bahwa ada lebih dari dua ekor kuda di sana. Mungkin ada empat ekor.
Karena ingin tahu sekali, Nurseta lalu menghampiri jendela dan membuka daun
jendela. Widarti yang semalam duduk 'berjaga" di situ tak tampak lagi.
Dari jendela dia dapat melihat adanya empat ekor kuda tertambat pada batang
pohon-pohon di kebun. Empat ekor' kuda yang tinggi besar, indah dan kuat,
lengkap dengan pelana dan kendalinya. Apakah ada tamu-tamu datang berkunjung?
Mungkin, karena tiga orang gadis itu tidak tampak, tentu sedang menyambut para
tamu itu. Dia merasa tidak enak karena masih belum keluar dari kamarnya. Dia
segera membuka daun pintu. Tidak tampak ada orang. Nurseta keluar rumah dan
karena tidak melihat keluarga tuan rumah, dia langsung pergi ke anak sungai untuk
membersihkan diri. Air anak sungai yang jernih dan dingin menyegarkan tubuhnya
dan dia cepat kembali ke rumah. Setelah dia tiba di beranda, dia melihat Raden
Hendratama dan tiga orang puterinya telah berada di situ. Nurseta yang
berpemandangan tajam segera dapat merasakan bahwa ada terjadi sesuatu. Hal ini
dapat dia lihat dari sikap mereka. Wajah mereka, terutama sekali tiga orang
gadis yang kemarin amat ramah kepadanya penuh senyum dan pandang mata berseri
kini tampak dingin sekali, bahkan seolah tiga orang dara itu menghindari
pertemuan pandang mata dengan dia. Apakah mereka kecewa dan marah atas sikapnya
semalam?
"Anakmas Nurseta, terimalah
kerismu ini. Sudah kupasangkan gagang baru dan kumasukkan dalam warangka baru”.
Raden Hendratama menyerahkan keris itu kepada Nurseta.
Nurseta menerimanya dan dia kagum
melihat warangka yang terukir indah dan gagang kerisnya sudah terganti gagang
berukir pula. Dia lalu menyelipkan keris itu pada ikat pinggangnya, tanpa
memeriksa isinya karena hal itu akan menimbulkan kesan seolah dia tidak percaya
kepada bekas pangeran itu.
"Terima kasih banyak,
paman." katanya.
"Anakmas Nurseta, terpaksa
andika akan kami tinggalkan karena kami ada urusan penting sekali yang harus
kami lakukan pagi ini. Maaf, kami tidak sempat mengajak andika makan
pagi."
Nurseta tersenyum.
"Ah, tidak mengapa, paman. Saya
hanya membutuhkan tempat bermalam dan paman sekalian telah begitu baik untuk
menerima saya. Biarlah saya pergi sekarang juga agar tidak mengganggu kesibukan
paman sekalian." Setelah berkata demikian, Nurseta memasuki rumah, terus
ke kamarmya, berkemas lalu keluar lagi menggendong buntalan pakaian di
punggungnya.
Dia mendengar derap kaki kuda dan
setelah tiba di beranda, dia melihat Raden Hendratama telah melarikan kuda
dengan cepat meninggalkan tempat itu. Tentu saja Nurseta merasa heran sekali
dan dia bertanya kepada Kenangasari yang biasanya paling ramah kepadanya.
"Nimas Kenangasari, ke manakah
perginya Paman Hendratama? Aku ingin berpamit kepadanya."
"Tidak usah berpamit lagi. Dia
sudah pergi." Jawab Kenangasari dengan pendek dan ketus.
Nurseta merasa tidak enak sekali.
Dia merasa berhutang budi kepada mereka, maka meninggalkan mereka dalam keadaan
seperti ini sungguh tidak menyenangkan.
"Nimas bertiga, apakah
sebetulnya yang terjadi? Kalian tampak berbeda sekali. Apakah ada kesulitan
yang kalian semua hadapi? Kalau memerlukan bantuan, percayalah, aku akan
membantu sekuat tenagaku."
"Sudah, pergilah! Kami tidak
membutuhkan kamu!" kata Sukarti.
"Ya, cerewet benar sih,
kamu!" kata pula Widarti dan tiga orang gadis itu lalu memasuki ruangan
depan yang penuh dengan keris dan tombak itu, mengumpulkan semua senjata itu,
agaknya mereka seperti berkemas hendak pindah dari pondok itu.
Menghadapi sikap tiga orang gadis
itu, Nurseta mengangkat kedua pundaknya dan diapun melompat keluar dan pergi
dari situ dengan cepat. Hatinya tertekan kekecewaan, perasaannya terpukul. Tak
habis heran dia memikirkan perubahan yang terjadi dalam sikap keluarga pangeran
itu terhadap dirinya. Sambil melangkah pergi, pikirannya terus bekerja. Dia
mencari-cari, kesalahan apa yang telah dilakukannya sehingga membuat marah
keluarga itu. Kalau sikapnya tidak mau menerima tiga orang gadis itu tinggal di
kamarnya itu dianggap salah, maka merekalah yang bersalah. Dia sudah benar,
menjaga kesusilaan. Kalau dianggap salah, maka merekalah gadis-gadis cantik
yang sayangnya tidak dapat menjaga kesusilaan. Apakah dia telah lengah,
melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang tidak semestinya atau yang
seharusnya? Dia mcngingat-ingat kembali dan tiba-tiba dia menghentikan
langkahnya, mengerutkan alisnya. Raden Hendratama telah mengembalikan keris
pusakanya akan tetapi kenapa dia tidak memeriksanya. Tidak memeriksa isi
warangka itu untuk melihat kerisnya. Hal itu seharusnya dia lakukan mengingat
bahwa keris itu adalah sebuah benda pusaka yang amat ampuh, yang diperebutkan
banyak orang. Bahkan eyang gurunya tewas karena mempertahankan keris itu!
Cepat dia memegang gagang keris itu
dan mencabutnya, memeriksanya dengan teliti. Nurseta mengerutkan alisnya. Ujud
keris itu memang masih sama, baik luk (lekuk) tiga dan semua cirinya. Akan
tetapi dia merasa kehilangan wibawa yang keluar dari keris itu, yang
dirasakannya setiap kali keris itu dia cabut. Sinar aneh yang dimiliki keris
itu tak tampak atau terasa lagi. Dia teringat akan petunjuk mendiang Empu
Dewamurti bagaimana untuk mengenal keaslian Keris Megatantra. Dengan telunjuk
kirinya Nurseta lalu menjentik ujung keris itu. Biasanya, kalau dia menjentik
ujung keris pusaka itu dengan pengerahan tenaga sakti, maka akan terdengar
bunyi melenting nyaring dan ujung keris Itu tergetar!
"Trikk ....." Bukan main
kaget rasa hati Nurseta ketika telunjuknya menjentik, ujung keris itu patah!
"Celaka .....!" serunya,
maklum sepenuhnya bahwa dia tertipu. Keris yang sama benar rupa dan bentuknya
ini ternyata palsu! Cepat dia menyarungkan keris yang bunting ujungnya itu ke
dalam warangka yang masih terselip diikat pinggangnya, lalu dia berlari cepat
sekali ke arah pondok tempat tinggal keluarga bekas pangeran itu.
Akan tetapi ketika dia tiba di
pekarangan rumah itu, hanya tinggal seekor kuda saja yang tertambat pada batang
pohon dan seorang gadis jelita berdiri di luar beranda. Gadis yang berdiri
tegak sambil bertolak pinggang dan memandang kepadanya dengan senyum mengejek
itu bukan lain adalah Kenangasari, gadis paling genit di antara tiga orang
puteri bekas pangeran itu. Nurseta tidak memperdulikannya, melainkan langsung
memasuki ruangan tamu di mana tersimpan banyak senjata pusaka. Akan tetapi
ruangan itu kini telah kosong, tidak tampak sepotongpun senjata! Juga dua orang
gadis yang lain, Sukarti dan Widarti, tidak tampak. Cepat dia melompat keluar
lagi dan pada saat itu dia mendengar derap kaki kuda dan melihat Kenangasari
sudah menunggang seekor kuda dan membalapkah kuda itu ke arah barat. Nurseta
hendak mengejar dan menghalangi gadis itu kabur, akan tetapi dia lalu teringat.
Gadis itu adalah satu-satunya orang yang akan dapat membawa dia kepada Raden
Hendratama yang telah menipu dan mencuri Keris Megatantra! Gadis itu tentu akan
melarikan diri menyusul ayahnya. Berpikir demikian, Nurseta tidak jadi mengejar
untuk menangkap, melainkan membayangi saja. Biarpun kuda itu seekor kuda besar
yang baik dan kuat, larinya cepat dan ternyata penunggangnya mahir sekali,
namun dengan menggunakan Aji Bayu Sakti, tubuh Nurseta meluncur seperti angin
dan selalu dapat membayangi dan menjaga jarak sehingga tidak sampai tertinggal.
Akan tetapi, yang dibayangi itu
membalap terus ke barat. Setelah matahari naik tinggi dan matahari terik
sekali, Kenangasari menghentikan kudanya di tengah hutan lebat, la menjadi
bingung dan agaknya tersesat, tidak tahu jalan. Melihat bahwa tidak ada orang
mengejarnya, gadis itu melompat turun dan menanggalkan kendali, membiarkan
kudanya minum air anak sungai yang terdapat di situ dan makan rumput, la
sendiri lalu merebahkan diri bersandar pada batang pohon, mengusap keringatnya
dan beristirahat, la tersenyum-senyurn manis seorang diri, mengira bahwa tidak
mungkin pemuda tolol itu dapat mengejarnya.
"Nimas Kenangasari!"
Gadis itu terkejut sekali sampai
tersentak dan melompat berdiri sambil memutar tubuhnya. Kiranya Nurseta telah
berada di situ!
"Kau .....?" gadis itu
menggagap.
"Nimas, hentikan semua
main-main ini. Aku hanya menginginkan keris pusakaku dikembalikan."
Tiba-tiba gadis itu sudah melompat
Lompatannya amat ringan dan tahu-tahu ia telah berada di atas punggung kudanya
yang berada dalam jarak empat lima meter dari tempat ia berdiri. Ia sudah
menyambar kendali kuda dan hendak membalapkan kudanya. Akan tetapi Nurseta
Tidak membiarkan gadis itu melarikan diri. Cepat dia melompat ke depan kuda dan
menangkap kendali di depan mulut kuda itu. Kuda meringkik keras dan mengangkat
kedua kaki depan tinggi ke atas. Gerakan yang tiba-tiba ini membuat Kenangasari
kehilangan keseimbangan dan tubuhnya terlempar ke belakang kuda! Agaknya gadis
itu tentu akan terbanting keras. Akan tetapi sesosok bayangan berkelebat dan
tahu-tahu Nurseta telah menyambut tubuh gadis itu dengan kedua lengannya dan
Kenangasari terjatuh lunak ke dalam pondongannya! Ketika merasa dirinya betapa
dirinya berada dalam rangkulan dan pondongan Nurseta, Kenangasari lalu meraih
dengan kedua lengannya ke atas, merangkul leher Nurseta dan merapatkan tubuhnya
di dada pemuda itu, bahkan mengangkat mukanya mendekati muka Nurseta, pemuda
itu terkejut dan cepat cepat dia melepaskan pondongannya sehingga tubuh
Kenangasari terjatuh ke atas tanah. Tiba-tiba sikap Kenangasari berubah. Ia
menjadi marah sekali dan dengan trengginas (tangkas) ia melompat dan langsung
menyerang Nurseta dengan tamparan yang cepat dan kuat.
"Jahanam....." Ia memaki
dan tamparannya menyambar ke arah muka Nurseta.
Nurseta cepat mengelak. Akan tetapi
gerakan Kenangasari cepat bukan main. Ia telah menyusulkan serangan bertubi-tubi,
menampar, mencengkeram, dan menendang. Gerakannya jelas menunjukkan bahwa ia
seorang gadis yang sama sekali tidak lemah, bahkan amat tangkas dan pandai
bersilat! Nurseta mengalah, berulang kali mengelak dan menangkis. Ketika
tangkisan tangannya bertemu dengan tangan gadis itu, diapun mendapat kenyataan
bahwa tenaga gadis itu cukup kuat. Laki laki yang kedigdayaannya hanya
sedang-sedang saja jangan harap akan mampu menandingi gadis yang ayu manis dan
lincah jenaka ini! Karena dia tidak tega untuk membuat seorang gadis cidera,
setelah mengalah beberapa jurus lamanya dalam suatu kesempatan tangan kirinya
dapat menepuk pusat syaraf di punggung Kenangasari dan gadis itu mengeluh, lalu
terkulai dan jatuh duduk bersimpuh diatas tanah, ia mencoba untuk bangkit berdiri,
akan tetapi tubuhnya yang tiba tiba menjadi lemas itu tidak kuat berdiri lagi!
"Aduh....." ia mengeluh,
".... tubuhku lemas tak dapat
digerakkan.....pulihkanlah..... aku tidak berani melawan lagi, tobat
....."
Akan tetapi Nurseta sudah tahu
sekarang bahwa Kenangasari adalah orang wanita yang digdaya dan amat cerdik.
Dia ingin mendapatkan keterangan dari gadis ini, maka dia tidak membebaskannya
dulu.
"Nimas Kenangasari, kenapa
kalian melakukan hal ini kepadaku? Hayo katakan, di mana ayahmu dan di mana
pula keris pusakaku Megatantra? Kalian harus mengembalikan keris itu
kepadaku!"
"Siapa ayahku? Aku sudah tidak
mempunyai ayah." Jawab Kenangasari. Ia tidak merasa tubuhnya nyeri, hanya
lemas tidak mampu berdiri.
"Tidak mempunyai ayah?"
Nurseta bertanya dengan alis berkerut.
"Katamu Raden Hendratama itu
ayah kalian?"
"Itu hanya karena andika bodoh
dan percaya saja. Kami bertiga bukan puterinya, melainkan selir Gusti Pangeran
Hendratama."
Nurseta tercengang. Pantas saja tiga
orang gadis itu tampaknya begitu manja dan sikap sang pangeran itu juga
demikian mesra. Pada jaman itu memang bukan hal aneh kalau melihat seorang
bangsawan tinggi, apa lagi seorang pangeran, mempunyai banyak selir yang
cantik-cantik dan muda-muda. Dan Pangeran Hendratama ini agaknya memiliki juga
orang selir yang selain muda-muda dan cantik jelita, juga memiliki kedigdayaan
sehingga selain sebagai penghibur juga sebagai pelindungnya.
"Hemm, begitukah? Memang aku
bodoh sekali mudah percaya kepada wajah cantik, sikap-sikap ramah dan mulut-mulut
manis yang mengucapkan segala macam kata-kata lembut. Kiranya di balik semua
keindahan itu tersembunyi kepalsuan dan kejahatan. Nah, sekarang katakan di
mana adanya Pangeran Hendratama."
Biarpun tubuhnya lemas sehingga ia
hanya duduk bersimpuh, gadis itu mengangkat mukanya dan sinar matanya tajam
galak memandang wajah Nurseta.
"Nurseta, tidak sadarkah andika
bahwa Keris Pusaka Megatantra itu adalah pusaka sejak Kerajaan Mataram dulu?
Tentu saja yang berhak adalah keturunan Mataram. Sekarang keris itu sudah
kembali ke dalam tangan Gusti Pangeran Hendratama dan dia yang berhak
memilikinya!"
No comments:
Post a Comment