Bagian 11


Raden Hendratama, bekas pangeran itu mengerutkan alisnya dan mengepal tangan kanannya.
"Hemm, mereka memang orang-orang jahat! Kanjeng Rama juga wafat ketika kerajaan diserang oleh raja Wurawari! Akan tetapi, Anakmas Nurseta, mengapa Sang Empu Dewamurti mereka musuhi dan mereka bunuh?"
Kembali Nurseta tak dapat merahasiakan hal itu.
"Mereka agaknya menyerang eyang guru karena mereka ingin merebut keris pusaka ini dari tangan eyang guru, paman. Akan tetapi keris pusaka ini telah diserahkan kepada saya karena memang saya yang dulu menemukannya, sehingga eyang guru sampai tewas."
"Hemmm, keris pusaka apakah itu anakmas?" Tanya Raden Hendratama sambil memandang keris yang terselip dipinggang pemuda itu.
"Menurut keterangan eyang guru. keris ini adalah Keris Pusaka Megatantra. Menurut eyang, keris pusaka ini adalah keris pusaka Kerajaan Mataram yang dahulu lenyap dan kebetulan saya temukan ketika saya menggali tanah di dusun Karang Tirta dekat pantai Laut Kidul."
"Hemm, begitukah?" Sikap bekas pangeran itu agaknya tidak begitu acuh atau tertarik. Mungkin karena dia melihat gagang dan sarung keris yang buruk itu. Dia sendiri yang mengganti gagang keris yang sudah lapuk karena lama terpendam, juga dia yang menbuatkan warangkanya. Atau mungkin karena Raden Hendratama sudah memiliki pusaka yang demikian banyaknya, pikir Nurseta.

Pada saat itu, terdengar suara tawa lembut dan tiga orang gadis cantik yang kini diketahui oleh Nurseta sebagai puteri-puteri bangsawan tinggi, puteri-puteri seorang pangeran!
"Hidangan makan malam telah siap!" kata Kenangasari dengan senyum manis dan sinar matanya berseri.
"Tidak repot-repot akan tetapi semua telah dikeluarkan!" kata Widarti yang kini tampak lebih berani dan centil.
"Mari silakan, hidangan telah kami siapkan di ruangan makan!" kata pula Sukarti.
"Ha-ha-ha, hayo anakmas, kita makan di dalam. Nanti kita lanjutkan pembicaraan kita!" kata Raden Hendratama sambil bangkit berdiri. Nurseta bangkit pula dan dia lalu mengikuti tuan rumah menuju ke ruangan sebelah dalam. Ketika Widarti melangkah dekat ayahnya, Raden Hendrarama merangkul gadis itu dan Widarti tampak manja sekali ketika sambil melangkah ayahnya merangkulnya. Tadinya tiga orang gadis itu berdiri dan melayani dua orang laki-laki yang mulai makan itu, akan tetapi Nurseta merasa tidak enak dilayani puteri-puteri bangsawan itu.
"Harap andika bertiga makan bersama agar aku tidak merasa sungkan." katanya.
Raden Hendratama tertawa.
"Duduklah kalian bertiga dan mari makan bersama. Memang akan lebih lezat rasanya kalau kembul bnojana (makan bersama).!”
Tiga orang gadis itupun duduk dan Nurseta melihat bahwa meja besar ini penuh dengan hidangan yang serba lezat. Heran dia melihat adanya hidangan dari bermacam daging. Ada daging ayam yang tentu saja mudah menyembelih ayam piaraan sendiri. Akan tetapi yang membuat dia terheran-heran adalah melihat adanya daging ikan seperti lele, baber dan lain-lain. Juga tersedia masakan daging kambing dan kerbau!
"Bukan main!" dia berseru. "Bagaimana andika sekalian bisa mendapatkan segala macam daging ini?"
"Hi-hik! Bukan sulap bukan sihir Kangmas Nurseta. Ayam dan ikan-ikan itu dipeliharaan kami sendiri, dan daging kerbau dan kambing itu kami dapatkan dari sebuah dusun tak jauh dari sini. Katanya semua dan seadanya harus dikeluarkan!" kata Kenangasari yang centil.
"Aduh, kalau begitu aku benar-benar membuat andika semua repot sekali!"
"Ayolah, anakmas. Jangan sungkan lagi. Makan saja seadanya, cicipi satu demi satu. Kalau ada hidangan yang tidak andika makan, pembuatnya tentu akan kecewa." Kata Raden Hendratama sambil tertawa.
"Kalau masakanku tidak dicicipi, aku akan menangis!" kata Kenangasari.
"Aku juga!" kata Widarti.
"Dan aku akan marah!" kata Sukarti.
Nurseta tersenyum dan karena dia tidak tahu mereka bertiga itu masing-masing masak yang mana, terpaksa dia mencicipi semua hidangan yang tersedia. Hal ini mudah saja dia lakukan karena memang perutnya sudah amat lapar. Sejak pagi tadi, sehari penuh, dia tidak makan. Kini dengan tubuh sehat perut lapar dan suasana menggembirakan, tentu saja dia dapat makan dengan
lahapnya, membuat tiga orang gadis itu tampak gembira sekali.

Setelah selesai makan minum, Raden Hendratama mengajak Nurseta duduk kembali ke ruangan depan. Kepada tiga orang gadis itu dia berkata,
"Bersihkan dan persiapkan kamar tamu itu untuk Anakmas Nurseta dan aku minta agar kalian bertiga beristirahat di dalam. Jangan mengganggu kami yang akan bercakap-cakap."
Tiga orang gadis itu terang-terangan memperlihatkan muka cemberut. Bibir-bibir yang manis itu diruncingkan, mata yang indah jeli itu mengerling manja dan marah, akan tetapi tidak ada yang berani membantah. Diam-diam Nurseta sendiri juga merasa kecewa karena akan lebih menggembirakan baginya kalau bercakap-cakap dengan dihadiri mereka bertiga yang lincah itu. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani menanggapi perintah Raden Hendratama kepada para puterinya itu dan mengikuti tuan rumah menuju ke ruangan depan. Setelah duduk di atas kursi, Raden Hendratama melihat betapa Nurseta memandang ke arah keris dan tombak yang tergantung di dinding, agaknya mengagumi warangka dan gagang yang terukir indah itu.
"Aku sejak dulu memang suka mengumpulkan keris dan tombak pusaka, anakmas. Biarpun aku bukan seorang empu pembuat keris, namun aku pandai mengukir gagang warangka. Lihat ini, keris ini kuberi gagang dan warangka yang terbuat dari kayu cendana." Dia mengambil sebatang keris dalam sarung keris yang mengkilap dan terukir indah, memperlihatkannya kepada pemuda Itu. Nurseta menerima dan mengamati gagang dan warangka keris itu. Memang indah sekali dan mengeluarkan ganda harum cendana. Setelah Nurseta mengembalikannya, Raden Hendratama menyelipkan keris itu di ikat pinggangnya. Kemudian bekas pangeran itu memandang ke arah keris yang terselip di pinggang Nurseta.
"Oya, apa namanya keris yang andika temukan itu, anakmas?" pertanyaan ini terdengar sambil lalu saja, seperti tak acuh.
Nurseta meraba gagang kerisnya.
"Namanya menurut mendiang eyang guru adalah Megatantra, paman."
"Hemm, rasanya belum pernah aku mendengar nama itu. Bolehkah aku melihatnya sebentar, Anakmas Nurseta?"
"Ah, tentu saja boleh, paman!" kata Nurseta dan cepat dia mengambil keris itu berikut warangkanya yang amat sederhana dan menyerahkannya kepada Raden Hendratama.

Raden Hendratama lalu mencabut keris itu dari warangkanya yang sederhana, lalu mengamatinya. Agaknya dia sudah terbiasa melihat keris-keris pusaka ampuh karena melihat keris Megatantra dia tidak kelihatan kagum atau heran. Dia meneliti keris itu dan berkata lirih.
"Keris ini mempunyai ganja wuyung berbentuk Kalap Lintah, kudupnya (pucuknya) Kembang Gambir, berdapur Sagara Winotan luk (lekuk) tiga, racikannya Kembang Kacang, Jenggot, dengan Sogokan dua yang satu sampai ujung. Hemm, bukan keris pusaka sembarangan saja, anakmas! Lho, ehh ....." Tiba-tiba tangan kanan bekas pangeran yang memegang gagang keris itu gemetar lalu menggigil. Cepat dia menggunakan tangan kirinya untuk mencabut keris bergagang dan berwarangka kayu cendana yang diselipkan di ikat pinggangnya tadi dan melemparkan keris itu ke atas meja. Seketika tangan kanannya yang memegang Keris Megatantra tidak menggigil lagi!
"Nah, andika melihat sendiri, anakmas! Kerismu ini memiliki daya yang ampuh sekali. Karena tadi aku memakai keris pusaka kayu cendana itu daya mereka bertanding dan kerisku kalah ampuh maka tanganku menggigil. Setelah kulepaskan kerisku, keadaanku pulih kembali. Keris pusakamu ini ampuh, sayang sekali diberi gagang dan warangka seburuk ini. Namanya itu kurang menghargai. Aku akan memberi hadiah kepada andika anak mas. Aku masih mempunyai cadangan warangka dan gagang ukiran yang indah. Biar kuhadiahkan kepadamu dan malam ini akan kupasangkan gagang dan warangka itu kepada kerismu. Besok pagi-pagi sudah selesai dan andika dapat menerimanya kembali dengan gagang dan warangka baru yang sepadan dengan kehebatan keris pusaka ini."
"Wah, saya hanya merepotkan paman saja!" kata Nurseta dengan sungkan sekali. Masa seorang pangeran harus memasangkan gagang kerisnya, bersusah payah untuknya?
"Sama sekali tidak. Aku memang suka sekali mendandani sebuah keris pusaka. Tentu saja kalau andika boleh dan percaya kepadaku, Anakmas Nurseta!"
"Tentu saja saya percaya dan juga merasa senang sekali kalau keris saya mendapatkan gagang dan warangka yang indah. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati paman."
"Tidak perlu berterima kasih, anak mas. Aku malah merasa senang melakukannya. Nah, sekarang anakmas boleh beristirahat, dan aku akan segera mengerjakan pemasangan gagang keris ini."
Dia menengok ke arah dalam dan berseru memanggil,
"Sukarti! Kenangasari! Widarti! Di mana kalian?"

Tiba-tiba saja tiga orang gadis itu muncul dari ruangan dalam sambil tersenyum.
"Kami berada di sini sejak tadi!" kata Kenangasari.
"Eh! Kalian sudah sejak tadi di balik pintu, ya? Bukankah tadi kusuruh kalian membereskan kamar tamu untuk tempat tamu kita menginap?"
"Sudah kami persiapkan dengan rapi untuk tamu agung kita." kata Sukarti.
"Nah, kamar andika sudah siap, anakmas. Silakan beristirahat." kata Raden Hendratama.
Nurseta bangkit berdiri.
"Terima kasih, paman."
"Mari, kakangmas, kami antar andika ke kamar tamu." Kata Widarti.

Nurseta keluar dari ruangan itu dan mengikuti tiga orang gadis yang mengajaknya ke bagian belakang pondok itu. kamar tamu itu sederhana, namun bersih. Hanya terdapat sebuah pembaringan, sebuah meja dan empat kursi dalam kamar itu. Sebuah lampu duduk berada di atas meja. Nurseta memasuki kamar itu dan dia merasa rikuh sekali melihat betapa tiga orang dara itu ikut pula memasuki kamar!
"Nimas, kalian bertiga dan ayah kalian sungguh telah melimpahkan kebaikan kepadaku. Tiada habisnya aku merasa berterima kasih. Sekarang harap andika bertiga meninggalkan aku karena aku hendak mengaso. Perjalanan sehari tadi amat melelahkan."
"Aeh, kakangmas. Apakah kami tidak boleh duduk-duduk sebentar dalam kamarmu ini?" tanya Kenangasari sambil mengerling manis. Ia dan dua orang saudaranya lalu duduk di atas kursi-kursi itu, ketiganya memandang kepada Nurseta sambil tersenyum manis. Tentu saja Nurseta merasa sungkan dan tidak enak sekali. Tiga orang gadis puteri pangeran yang cantik jelita duduk di dalam kamarnya! Mana dia berani merebahkan diri atas pembaringan kalau mereka bertiga duduk di situ? Maka diapun lalu duduk dikursi ke empat, menghadapi mereka.
"Katanya mau istirahat, kakangmas. Kalau hendak tidur, tidur sajalah. Kami akan menjagamu." kata Sukarti.
Nurseta tertawa.
"Wah, kenapa harus dijaga? Seperti anak kecil saja, tidur pakai dijaga!"
"Habis, andika kan tamu agung kami, harus dijaga baik-baik, tentu saja!" kata Kenangasari.
"Akan tetapi ..... aku takut dan malu kepada ayah kalian! Beliau tentu akan marah sekali kalau melihat tiga orang puterinya berada di dalam kamar ini bersamaku." Nurseta membantah.
"Ayah? Dia tidak akan marah. Bukankah dia senang sekali kalau saja kakangmas mau menjadi..... eh..... suami kami?" kata Widarti dengan sikap malu-malu kucing. Dua orang kakaknya tertawa cekikikan.
Nurseta terkejut dan merasa heran bukan main. Bagaimana sikap tiga orang puteri pangeran itu seperti ini genit centil dan agaknya kurang bersusila. Mulailah rasa kagum dalam hatinya terhadap mereka bertiga agak berkurang. Rasa bimbang dan curiga mulai menyelinap dalam hatinya.
Dia bangkit berdiri.
"Kalau andika bertiga tidak mau keluar dari kamar ini, lebih baik aku yang keluar. Aku akan menanti lewatnya malam ini di ruangan depan saja!" Setelah berkata demikian Nurseta melangkah dan hendak keluar dari kamar itu.
Tiba-tiba ada tangan lembut memegang lengannya dari belakang. Ketika dia menengok, yang memegang lengannya itu adalah Sukarti. Dia merasa heran bagaimana gadis lembut itu begitu cepat dan tiba-tiba memegang lengannya.
"Kakangmas Nurseta, kenapa andika begini pemarah? Kurang baikkah pelayanan kami kepadamu? Kalau andika tidak suka kami temani, biarlah kami keluar dari kamar ini. Tidak perlu andika marah-marah kepada kami."
Mendengar ucapan yang lembut dan penuh teguran itu, Nurseta merasa malu sendiri. Bagaimanapun juga, sikap tiga orang gadis itu belum membuktikan perbuatan yang melanggar susila. Mungkin saja mereka bersikap seperti itu karena memang mereka itu terlalu baik hati dan tulus ingin bersahabat.
"Maafkan aku, nimas. Aku tidak marah, melainkan takut kalau kalau aku akan dianggap sebagai seorang tamu, seorang laki-laki kurang ajar. Ayah andika telah begitu baik kepadaku, aku tidak ingin kelihatan tidak sopan atau tidak menghargai andika bertiga. Maafkan aku."
Tiga orang gadis itu bangkit berdiri.
“Sudahlah, mbakayu Sukarti, mari kita tinggalkan kamar ini. Mungkin Kakang mas Nurseta ini menganggap dirinya terlalu baik dan kami tidak pantas untuk menemaninya." kata Kenangasari dan mereka bertiga melangkah keluar dari kamar itu.
"Maafkan aku ..... maafkan .....!" kata Nurseta dan merasa menyesal bahwa dia telah membuat hati para gadis Itu menjadi tidak senang. Dia lalu menutupkan daun pintu, kemudian merebahkan diri terlentang di atas pembaringan. Akan tetapi dia tidak dapat tidur. Pikirannya masih dipenuhi tiga orang gadis itu dan mempertimbangkan sikap mereka yang dianggapnya aneh dan tidak lajim. Mereka itu terlalu baik, terlalu ramah, ataukah memang memiliki watak yang genit? Mereka itu puteri-puteri bangsawan yang bersusila tinggi, ataukah wanita-wanita yang tidak tahu malu?

Tiba-tiba pendengarannya yang tajam mendengar suara gerakan orang di luar kamarnya. Nurseta cepat turun dengan mengerahkan kepandaiannya sehingga gerakannya tidak menimbulkan suara sedikitpun. Dia menghampiri pintu dan mengintai dari renggangan di dekat daun pintu. Dia melihat Sukarti duduk di atas sebuah bangku, di sudut kiri luar kamar itu.

<<<Bagian 10                                                                                          Bagian 12 >>>

No comments:

Post a Comment