Raden Hendratama, bekas pangeran itu mengerutkan alisnya dan mengepal tangan kanannya.
"Hemm, mereka memang
orang-orang jahat! Kanjeng Rama juga wafat ketika kerajaan diserang oleh raja
Wurawari! Akan tetapi, Anakmas Nurseta, mengapa Sang Empu Dewamurti mereka
musuhi dan mereka bunuh?"
Kembali Nurseta tak dapat
merahasiakan hal itu.
"Mereka agaknya menyerang eyang
guru karena mereka ingin merebut keris pusaka ini dari tangan eyang guru,
paman. Akan tetapi keris pusaka ini telah diserahkan kepada saya karena memang
saya yang dulu menemukannya, sehingga eyang guru sampai tewas."
"Hemmm, keris pusaka apakah itu
anakmas?" Tanya Raden Hendratama sambil memandang keris yang terselip
dipinggang pemuda itu.
"Menurut keterangan eyang guru.
keris ini adalah Keris Pusaka Megatantra. Menurut eyang, keris pusaka ini
adalah keris pusaka Kerajaan Mataram yang dahulu lenyap dan kebetulan saya
temukan ketika saya menggali tanah di dusun Karang Tirta dekat pantai Laut
Kidul."
"Hemm, begitukah?" Sikap
bekas pangeran itu agaknya tidak begitu acuh atau tertarik. Mungkin karena dia
melihat gagang dan sarung keris yang buruk itu. Dia sendiri yang mengganti
gagang keris yang sudah lapuk karena lama terpendam, juga dia yang menbuatkan
warangkanya. Atau mungkin karena Raden Hendratama sudah memiliki pusaka yang
demikian banyaknya, pikir Nurseta.
Pada saat itu, terdengar suara tawa
lembut dan tiga orang gadis cantik yang kini diketahui oleh Nurseta sebagai
puteri-puteri bangsawan tinggi, puteri-puteri seorang pangeran!
"Hidangan makan malam telah
siap!" kata Kenangasari dengan senyum manis dan sinar matanya berseri.
"Tidak repot-repot akan tetapi
semua telah dikeluarkan!" kata Widarti yang kini tampak lebih berani dan
centil.
"Mari silakan, hidangan telah
kami siapkan di ruangan makan!" kata pula Sukarti.
"Ha-ha-ha, hayo anakmas, kita
makan di dalam. Nanti kita lanjutkan pembicaraan kita!" kata Raden
Hendratama sambil bangkit berdiri. Nurseta bangkit pula dan dia lalu mengikuti
tuan rumah menuju ke ruangan sebelah dalam. Ketika Widarti melangkah dekat
ayahnya, Raden Hendrarama merangkul gadis itu dan Widarti tampak manja sekali
ketika sambil melangkah ayahnya merangkulnya. Tadinya tiga orang gadis itu
berdiri dan melayani dua orang laki-laki yang mulai makan itu, akan tetapi
Nurseta merasa tidak enak dilayani puteri-puteri bangsawan itu.
"Harap andika bertiga makan
bersama agar aku tidak merasa sungkan." katanya.
Raden Hendratama tertawa.
"Duduklah kalian bertiga dan
mari makan bersama. Memang akan lebih lezat rasanya kalau kembul bnojana (makan
bersama).!”
Tiga orang gadis itupun duduk dan
Nurseta melihat bahwa meja besar ini penuh dengan hidangan yang serba lezat.
Heran dia melihat adanya hidangan dari bermacam daging. Ada daging ayam yang
tentu saja mudah menyembelih ayam piaraan sendiri. Akan tetapi yang membuat dia
terheran-heran adalah melihat adanya daging ikan seperti lele, baber dan
lain-lain. Juga tersedia masakan daging kambing dan kerbau!
"Bukan main!" dia berseru.
"Bagaimana andika sekalian bisa mendapatkan segala macam daging ini?"
"Hi-hik! Bukan sulap bukan
sihir Kangmas Nurseta. Ayam dan ikan-ikan itu dipeliharaan kami sendiri, dan
daging kerbau dan kambing itu kami dapatkan dari sebuah dusun tak jauh dari
sini. Katanya semua dan seadanya harus dikeluarkan!" kata Kenangasari yang
centil.
"Aduh, kalau begitu aku
benar-benar membuat andika semua repot sekali!"
"Ayolah, anakmas. Jangan
sungkan lagi. Makan saja seadanya, cicipi satu demi satu. Kalau ada hidangan
yang tidak andika makan, pembuatnya tentu akan kecewa." Kata Raden
Hendratama sambil tertawa.
"Kalau masakanku tidak
dicicipi, aku akan menangis!" kata Kenangasari.
"Aku juga!" kata Widarti.
"Dan aku akan marah!" kata
Sukarti.
Nurseta tersenyum dan karena dia
tidak tahu mereka bertiga itu masing-masing masak yang mana, terpaksa dia
mencicipi semua hidangan yang tersedia. Hal ini mudah saja dia lakukan karena
memang perutnya sudah amat lapar. Sejak pagi tadi, sehari penuh, dia tidak
makan. Kini dengan tubuh sehat perut lapar dan suasana menggembirakan, tentu
saja dia dapat makan dengan
lahapnya, membuat tiga orang gadis
itu tampak gembira sekali.
Setelah selesai makan minum, Raden
Hendratama mengajak Nurseta duduk kembali ke ruangan depan. Kepada tiga orang
gadis itu dia berkata,
"Bersihkan dan persiapkan kamar
tamu itu untuk Anakmas Nurseta dan aku minta agar kalian bertiga beristirahat
di dalam. Jangan mengganggu kami yang akan bercakap-cakap."
Tiga orang gadis itu terang-terangan
memperlihatkan muka cemberut. Bibir-bibir yang manis itu diruncingkan, mata
yang indah jeli itu mengerling manja dan marah, akan tetapi tidak ada yang
berani membantah. Diam-diam Nurseta sendiri juga merasa kecewa karena akan
lebih menggembirakan baginya kalau bercakap-cakap dengan dihadiri mereka
bertiga yang lincah itu. Akan tetapi tentu saja dia tidak berani menanggapi
perintah Raden Hendratama kepada para puterinya itu dan mengikuti tuan rumah
menuju ke ruangan depan. Setelah duduk di atas kursi, Raden Hendratama melihat
betapa Nurseta memandang ke arah keris dan tombak yang tergantung di dinding,
agaknya mengagumi warangka dan gagang yang terukir indah itu.
"Aku sejak dulu memang suka
mengumpulkan keris dan tombak pusaka, anakmas. Biarpun aku bukan seorang empu
pembuat keris, namun aku pandai mengukir gagang warangka. Lihat ini, keris ini
kuberi gagang dan warangka yang terbuat dari kayu cendana." Dia mengambil
sebatang keris dalam sarung keris yang mengkilap dan terukir indah, memperlihatkannya
kepada pemuda Itu. Nurseta menerima dan mengamati gagang dan warangka keris
itu. Memang indah sekali dan mengeluarkan ganda harum cendana. Setelah Nurseta
mengembalikannya, Raden Hendratama menyelipkan keris itu di ikat pinggangnya.
Kemudian bekas pangeran itu memandang ke arah keris yang terselip di pinggang
Nurseta.
"Oya, apa namanya keris yang
andika temukan itu, anakmas?" pertanyaan ini terdengar sambil lalu saja,
seperti tak acuh.
Nurseta meraba gagang kerisnya.
"Namanya menurut mendiang eyang
guru adalah Megatantra, paman."
"Hemm, rasanya belum pernah aku
mendengar nama itu. Bolehkah aku melihatnya sebentar, Anakmas Nurseta?"
"Ah, tentu saja boleh,
paman!" kata Nurseta dan cepat dia mengambil keris itu berikut warangkanya
yang amat sederhana dan menyerahkannya kepada Raden Hendratama.
Raden Hendratama lalu mencabut keris
itu dari warangkanya yang sederhana, lalu mengamatinya. Agaknya dia sudah
terbiasa melihat keris-keris pusaka ampuh karena melihat keris Megatantra dia
tidak kelihatan kagum atau heran. Dia meneliti keris itu dan berkata lirih.
"Keris ini mempunyai ganja
wuyung berbentuk Kalap Lintah, kudupnya (pucuknya) Kembang Gambir, berdapur
Sagara Winotan luk (lekuk) tiga, racikannya Kembang Kacang, Jenggot, dengan
Sogokan dua yang satu sampai ujung. Hemm, bukan keris pusaka sembarangan saja,
anakmas! Lho, ehh ....." Tiba-tiba tangan kanan bekas pangeran yang
memegang gagang keris itu gemetar lalu menggigil. Cepat dia menggunakan tangan
kirinya untuk mencabut keris bergagang dan berwarangka kayu cendana yang
diselipkan di ikat pinggangnya tadi dan melemparkan keris itu ke atas meja.
Seketika tangan kanannya yang memegang Keris Megatantra tidak menggigil lagi!
"Nah, andika melihat sendiri,
anakmas! Kerismu ini memiliki daya yang ampuh sekali. Karena tadi aku memakai
keris pusaka kayu cendana itu daya mereka bertanding dan kerisku kalah ampuh
maka tanganku menggigil. Setelah kulepaskan kerisku, keadaanku pulih kembali.
Keris pusakamu ini ampuh, sayang sekali diberi gagang dan warangka seburuk ini.
Namanya itu kurang menghargai. Aku akan memberi hadiah kepada andika anak mas.
Aku masih mempunyai cadangan warangka dan gagang ukiran yang indah. Biar
kuhadiahkan kepadamu dan malam ini akan kupasangkan gagang dan warangka itu
kepada kerismu. Besok pagi-pagi sudah selesai dan andika dapat menerimanya
kembali dengan gagang dan warangka baru yang sepadan dengan kehebatan keris
pusaka ini."
"Wah, saya hanya merepotkan
paman saja!" kata Nurseta dengan sungkan sekali. Masa seorang pangeran
harus memasangkan gagang kerisnya, bersusah payah untuknya?
"Sama sekali tidak. Aku memang
suka sekali mendandani sebuah keris pusaka. Tentu saja kalau andika boleh dan
percaya kepadaku, Anakmas Nurseta!"
"Tentu saja saya percaya dan
juga merasa senang sekali kalau keris saya mendapatkan gagang dan warangka yang
indah. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan hati
paman."
"Tidak perlu berterima kasih,
anak mas. Aku malah merasa senang melakukannya. Nah, sekarang anakmas boleh
beristirahat, dan aku akan segera mengerjakan pemasangan gagang keris
ini."
Dia menengok ke arah dalam dan
berseru memanggil,
"Sukarti! Kenangasari! Widarti!
Di mana kalian?"
Tiba-tiba saja tiga orang gadis itu
muncul dari ruangan dalam sambil tersenyum.
"Kami berada di sini sejak
tadi!" kata Kenangasari.
"Eh! Kalian sudah sejak tadi di
balik pintu, ya? Bukankah tadi kusuruh kalian membereskan kamar tamu untuk
tempat tamu kita menginap?"
"Sudah kami persiapkan dengan
rapi untuk tamu agung kita." kata Sukarti.
"Nah, kamar andika sudah siap,
anakmas. Silakan beristirahat." kata Raden Hendratama.
Nurseta bangkit berdiri.
"Terima kasih, paman."
"Mari, kakangmas, kami antar
andika ke kamar tamu." Kata Widarti.
Nurseta keluar dari ruangan itu dan
mengikuti tiga orang gadis yang mengajaknya ke bagian belakang pondok itu.
kamar tamu itu sederhana, namun bersih. Hanya terdapat sebuah pembaringan,
sebuah meja dan empat kursi dalam kamar itu. Sebuah lampu duduk berada di atas
meja. Nurseta memasuki kamar itu dan dia merasa rikuh sekali melihat betapa
tiga orang dara itu ikut pula memasuki kamar!
"Nimas, kalian bertiga dan ayah
kalian sungguh telah melimpahkan kebaikan kepadaku. Tiada habisnya aku merasa
berterima kasih. Sekarang harap andika bertiga meninggalkan aku karena aku
hendak mengaso. Perjalanan sehari tadi amat melelahkan."
"Aeh, kakangmas. Apakah kami
tidak boleh duduk-duduk sebentar dalam kamarmu ini?" tanya Kenangasari
sambil mengerling manis. Ia dan dua orang saudaranya lalu duduk di atas
kursi-kursi itu, ketiganya memandang kepada Nurseta sambil tersenyum manis.
Tentu saja Nurseta merasa sungkan dan tidak enak sekali. Tiga orang gadis
puteri pangeran yang cantik jelita duduk di dalam kamarnya! Mana dia berani
merebahkan diri atas pembaringan kalau mereka bertiga duduk di situ? Maka
diapun lalu duduk dikursi ke empat, menghadapi mereka.
"Katanya mau istirahat,
kakangmas. Kalau hendak tidur, tidur sajalah. Kami akan menjagamu." kata
Sukarti.
Nurseta tertawa.
"Wah, kenapa harus dijaga?
Seperti anak kecil saja, tidur pakai dijaga!"
"Habis, andika kan tamu agung
kami, harus dijaga baik-baik, tentu saja!" kata Kenangasari.
"Akan tetapi ..... aku takut
dan malu kepada ayah kalian! Beliau tentu akan marah sekali kalau melihat tiga
orang puterinya berada di dalam kamar ini bersamaku." Nurseta membantah.
"Ayah? Dia tidak akan marah.
Bukankah dia senang sekali kalau saja kakangmas mau menjadi..... eh..... suami
kami?" kata Widarti dengan sikap malu-malu kucing. Dua orang kakaknya
tertawa cekikikan.
Nurseta terkejut dan merasa heran
bukan main. Bagaimana sikap tiga orang puteri pangeran itu seperti ini genit
centil dan agaknya kurang bersusila. Mulailah rasa kagum dalam hatinya terhadap
mereka bertiga agak berkurang. Rasa bimbang dan curiga mulai menyelinap dalam
hatinya.
Dia bangkit berdiri.
"Kalau andika bertiga tidak mau
keluar dari kamar ini, lebih baik aku yang keluar. Aku akan menanti lewatnya
malam ini di ruangan depan saja!" Setelah berkata demikian Nurseta
melangkah dan hendak keluar dari kamar itu.
Tiba-tiba ada tangan lembut memegang
lengannya dari belakang. Ketika dia menengok, yang memegang lengannya itu
adalah Sukarti. Dia merasa heran bagaimana gadis lembut itu begitu cepat dan
tiba-tiba memegang lengannya.
"Kakangmas Nurseta, kenapa
andika begini pemarah? Kurang baikkah pelayanan kami kepadamu? Kalau andika
tidak suka kami temani, biarlah kami keluar dari kamar ini. Tidak perlu andika
marah-marah kepada kami."
Mendengar ucapan yang lembut dan
penuh teguran itu, Nurseta merasa malu sendiri. Bagaimanapun juga, sikap tiga
orang gadis itu belum membuktikan perbuatan yang melanggar susila. Mungkin saja
mereka bersikap seperti itu karena memang mereka itu terlalu baik hati dan
tulus ingin bersahabat.
"Maafkan aku, nimas. Aku tidak
marah, melainkan takut kalau kalau aku akan dianggap sebagai seorang tamu,
seorang laki-laki kurang ajar. Ayah andika telah begitu baik kepadaku, aku
tidak ingin kelihatan tidak sopan atau tidak menghargai andika bertiga. Maafkan
aku."
Tiga orang gadis itu bangkit
berdiri.
“Sudahlah, mbakayu Sukarti, mari
kita tinggalkan kamar ini. Mungkin Kakang mas Nurseta ini menganggap dirinya
terlalu baik dan kami tidak pantas untuk menemaninya." kata Kenangasari
dan mereka bertiga melangkah keluar dari kamar itu.
"Maafkan aku ..... maafkan
.....!" kata Nurseta dan merasa menyesal bahwa dia telah membuat hati para
gadis Itu menjadi tidak senang. Dia lalu menutupkan daun pintu, kemudian
merebahkan diri terlentang di atas pembaringan. Akan tetapi dia tidak dapat
tidur. Pikirannya masih dipenuhi tiga orang gadis itu dan mempertimbangkan
sikap mereka yang dianggapnya aneh dan tidak lajim. Mereka itu terlalu baik,
terlalu ramah, ataukah memang memiliki watak yang genit? Mereka itu
puteri-puteri bangsawan yang bersusila tinggi, ataukah wanita-wanita yang tidak
tahu malu?
Tiba-tiba pendengarannya yang tajam
mendengar suara gerakan orang di luar kamarnya. Nurseta cepat turun dengan
mengerahkan kepandaiannya sehingga gerakannya tidak menimbulkan suara
sedikitpun. Dia menghampiri pintu dan mengintai dari renggangan di dekat daun
pintu. Dia melihat Sukarti duduk di atas sebuah bangku, di sudut kiri luar
kamar itu.
No comments:
Post a Comment