Bagian 10


"Kau maksudkan..... ayah kita, Mbak yu Sukarti? Kalau kita yang minta agar Kangmas Nurseta dibolehkan menginap di rumah kita malam ini, pasti dia akan menyetujui."

Nurseta merasa girang, akan tetapi juga rikuh (sungkan).
"Ah, nimas, terima kasih atas kebaikan hati andika bertiga, akan tetapi aku sama sekali tidak ingin merepotkan andika!"
"Kalau kita sudah saling berkenalan dan menjadi sahabat, mengapa masih bersikap sungkan?" Sukarti yang kini menyetujui usul Kenangasari.
"Kakangmas, boleh aku bertanya?" kata Widarti. Gadis manis yang tadi tampak pemalu itu kini berani menatap wajah Nurseta dan sepasang lesung pipitnya muncul di kedua pipinya.
"Tentu saja boleh, nimas. Bertanyalah." jawab Nurseta. Bercakap-cakap dengan tiga orang gadis yang ayu manis dan ramah ini sungguh menyenangkan hatinya.
"Begini, Kangmas Nurseta. Andaikan andika berada dalam rumah andika dan kami bertiga datang berkunjung, apakah kiranya andika akan menolak kedatangan kami karena merasa repot?"

Nurseta tertegun. Dia tadi salah sangka! Gadis yang tampak pemalu ini sesungguhnya pandai bicara dan cerdas sekali. Kalau dua orang gadis yang lain membujuknya untuk bermalam dengan kata-kata biasa yang dapat ditolaknya, gadis termuda ini mengajukan pertanyaan yang sekaligus membuat dia tidak mungkin lagi menolak!
"Tentu saja tidak, nimas." jawabnya dan dia sudah merasa kalah.
"Nah, kalau andika akan mau menerima kami dan tidak merasa repot, kamipun demikian pula. Kami tidak akan repot, bahkan merasa gembira sekali kalau andika mau bermalam di gubuk kami, tentu saja kalau andika tidak merasa jijik tinggal semalam di gubuk kami yang reyot dan kotor!"

Nurseta taluk. Ucapan gadis itu menambah kuatnya desakan itu dan dia sama sekali tidak berdaya untuk menolaknya. Tidak ada alasan lagi baginya untuk menolak karena tadi dia sudah menyatakan bahwa dia membutuhkan tempat untuk menginap malam ini. Dia mengembangkan kedua lengan dan menggerakkan kedua pundak tanda tak berdaya sambil tersenyum.
"Baiklah, aku terima undangan andika dan sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih "
"Horeee .....!" Kenangasari bersorak seperti anak kecil.
"Kalau begitu mari kita pulang! Mari, Kakangmas Nurseta!" Tiga orang gadis itu mengambil keranjang pakaian dan keluar dari anak sungai itu.
"Di mana rumah andika bertiga?" tanya Nurseta.
"Di depan sana, tidak jauh dari sini!" jawab Sukarti sambil menunjuk ke arah utara.
"Silakan andika berangkat lebih dulu, Nanti aku menyusul ke sana." kata Nurseta
"Eh, kenapa, kakangmas? Bukankah andika sudah setuju untuk bermalam dirumah kami?" tanya Kenangasari.
"Benar, nimas. Akan tetapi aku ingin mandi dulu di sini. Airnya begitu jernih dan segar."
"Andika tidak akan melanggar janji dan berbohong kepada kami, Kang Nurseta?" tanya Widarti.
"Kalau begitu, biar kami menanti disini sampai andika selesai mandi!" kata Sukarti.
"Wah, jangan andika bertiga menunggu di sini. Aku akan merasa malu! Percayalah, seorang laki-laki tidak akan sudi melanggar janjinya! Pulanglah kalian lebih dulu. Setelah selesai mandi aku akan segera datang berkunjung. Tentu kalian ingin bersiap-siap sebelum aku datang, bukan? Jangan repot-repot, hidangkan saja seadanya, semuanya!" Nurseta berkelakar. Tiga orang gadis itu tertawa renyah, gigi mereka yang putih tampak sebentar.
"Jangan terlalu lama, kami tunggu!" kata Sukarti dan mereka bertiga lalu pergi dari situ sambil tertawa-tawa.

Dari belakang mereka, Nurseta melihat betis-betis yang memadi bunting dan putih mulus bergerak-gerak, pinggul-pinggul yang indah di balik kain basah itu menari-nari. Setelah tiga orang gadis itu menghilang di balik pohon-pohon, Nurseta tersenyum dan menghela napas panjang. baik sekali nasibnya, bertemu dengan bidadari-bidadari yang selain ayu merak ati (cantik menggiurkan) juga baik hati dan ramah sekali. Dia lalu menanggalkan seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam air yang sejuk segar. Dia meniru apa yang dilakukan para gadis tadi. Diambilnya sepotong batu hitam yang licin dan dia menggosok-gosok seluruh kulitnya dengan batu hitam itu sehingga bersih. Kemudian dia mencuci pakaian yang tadi dipakainya dan setelah selesai memeras pakaian itu dan menaruhnya di atas batu, dia lalu mengenakan pakaian bersih. Setelah naik ke tepi anak sungai. Nurseta mengembangkan dan mengebut ngebutkan pakaian yang tadi dicucinya. Karena dia mengerahkan tenaganya, maka pakaian itu berkibar kuat dan sebentar saja sudah menjadi kering kembali! Setelah menyimpan pakaian itu ke dalam buntalan pakaiannya dan menggendong buntalan itu, berangkatlah Nurseta menuju ke arah yang ditunjuk Sukarti tadi.

Hari telah menjelang senja ketika akhirnya Nurseta tiba di pekarangan depan sebuah rumah pondok besar yang tidak berapa jauh letaknya dari anak sungai tadi. Begitu dia memasuki pekarangan, muncul empat orang dari pintu depan pondok itu. Lampu gantung sudah di pasang di beranda itu dan Nurseta lihat tiga orang gadis tadi yang kini sudah mengenakan pakaian baru, rambut gelung dengan rapi dan dihias bunga melati. Mereka tersenyum-senyum, manis sekali. Akan tetapi pandang mata Nurseta ditujukan kepada laki-laki yang berada di antara mereka. Laki-laki itu berusia kurang lebih lima puluh tahun. Pakaiannya mewah seperti priyayi. Rambutnya digelung ke atas dan diikat rantai kecil dari emas! Sebatang keris dengan sarungnya yang indah terselip di depan pinggangnya. Laki-laki ini bertubuh tegap dengan dada bidang dan wajahnya masih tampak muda, tampan dan gagah. Melihat empat orang itu agaknya sedang menanti untuk menyambutnya, Nurseta segera menghampiri mereka dan memberi hormat dengan sembah di depan dada.
"Kakangmas Nurseta, inilah ayah kami, Raden Hendratama." Sukarti memperkenalkan laki-laki gagah itu.
Nurseta memberi hormat. Diam-diam ia terkejut mendengar laki-laki itu seorang priyayi, seorang bangsawan. Kalau begitu tiga orang gadis itu adalah puteri puteri bangsawan seperti yang tadi pernah diduganya. Akan tetapi yang amat aneh, mengapa keluarga ini tinggal di pondok yang terpencil? Tidak tampak rumah lain di situ.
"Raden, maafkanlah kalau kelancangan saya berkunjung ini mengganggu ketenangan keluarga paduka." kata Nurseta hormat.
Agaknya sikap sopan pemuda itu menyenangkan hati laki-laki yang bernama raden Hendratama itu. Dia tersenyum.
'Wah, anakmas Nurseta, anak-anakku telah menceritakan tentang dirimu, anggaplah kami sebagai keluargamu atau sahabat baik, karena itu jangan sebut aku raden. Sebut saja paman. Biarpun aku seorang pangeran, namun sudah lama aku meninggalkan keluarga istana dan hidup sebagai rakyat biasa."

Nurseta merasa gembira sekali. Kiranya ayah dari tiga orang dara Inipun rendah hati dan ramah sekali. Diapun tidak merasa ragu lagi dan menganggap mereka itu sebuah keluarga bekas ningrat yang baik hati sekali.
"Terima kasih, Paman Hendratama."
"Mari, mari masuk, Kangmas Nurseta. Kita duduk dan bicara di ruangan dalam." kata Kenangasari ramah.
"Benar, anakmas. Silakan masuk dan kita bercakap-cakap di dalam." kata pula Hendratama. Nurseta tidak merasa sungkan lagi dan dia ikut memasuki ruangan yang luas. Ternyata ruangan itu cukup indah, dengan meja kursi terukir dan terutama sekali di dinding ruangan itu tergantung banyak sekali senjata yang tampak serba indah. Tentu pusaka-pusaka ampuh, pikir Nurseta. Terdapat banyak tombak, klewang (golok), pedang, dan bermacam-macam keris, dari yang kecil sampai yang besar.

Dia merasa heran sekali, akan tetapi diam saja takut kalau disebut lancang kalau banyak bertanya. Setelah dipersilakan duduk, Nurseta duduk berhadapan dengan Hendratama dan tiga orang gadis yang masih berdiri memandang kepadanya. Kenangasari yang centil lalu berkata kepada Nurseta sambil tersenyum.
"Kakangmas, sekarang kami bertiga pamit dulu untuk mempersiapkan hidangan makan malam."
"Ah, harap andika jangan repot-repot, nimas ....." kata Nurseta sambil menggerakkan tangan seolah mencegah.
"Tidak usah repot, keluarkan saja seadanya, semuanya! Begitu katamu tadi, bukan?" kata Widarti sambil tersenyum dan mengerling nakal. Tentu saja wajah Nurseta menjadi merah. Tadi dia hanya bergurau akan tetapi gadis-gadis itu malah mengulanginya di depan ayah mereka! Tiga orang dara jelita itu tertawa-tawa sambil meninggalkan ruangan itu menuju ke belakang.
"Ah, anakmas Nurseta. Jangan sungkan, anak-anak itu memang nakal dan suka menggoda orang."
"Hemm, tidak sama sekali, paman. Mereka..... mereka adalah gadis-gadis yang baik budi, berhati mulia dan manis sekali."
"Ha-ha-ha!" Laki-laki gagah itu tertawa.
"Andika suka kepada mereka?"
Nurseta tertegun, akan tetapi dia menyadari bahwa yang dimaksudkan tuan rumah ini tentulah rasa suka akan sesuatu yang indah dan baik, bukan rasa cinta seorang pria terhadap wanita. Setelah berpikir demikian, diapun menjawab dengan sikap biasa.
"Tentu saja, paman saya suka sekali kepada mereka."
"Bagus! Kalau begitu, andika mau menjadi suami mereka, atau seorang di antara mereka?"

Mau tidak mau Nurseta terbelalak saking herannya. Ini sudah gila! Mana ada seorang ayah menawarkan tiga orang anak gadisnya untuk menjadi isteri seorang pemuda asing yang sama sekali tidak dikenalnya? Ditawarkan ketiga tiganya lagi! Kekhawatirannya sesaat terjadi. Rasa suka itu diartikan rasa cinta oleh Raden Hendratama!
"Ahh! Ini...... ini..... saya maksudkan. saya suka sekali kepada mereka karena mereka baik budi, saya suka menjadi sahabat mereka........"
"Hemm, andika tidak suka memperisteri mereka atau seorang di antara mereka?"
"Maafkan saya, paman. Bukan saya tidak suka, akan tetapi saya sama sekali belum mempunyai niat untuk mengikatkan diri dengan perjodohan."
"Kenapa, anakmas?" Hendratama mendesak sambil mengamati wajah pemuda itu.

Merasa terdesak, dan juga karena dia percaya kepada keluarga bangsawan yang rendah hati dan baik budi bahasanya ini, Nurseta berterus terang.
"Saya tidak mau mengikatkan diri dengan perjodohan dulu, paman, karena saya masih mempunyai banyak tugas dari mendiang eyang guru saya yang harus saya selesaikan."
Raden Hendratama mengangguk angguk.
"Itu bagus sekali, anakmas. Seorang murid haruslah berbakti dan taat kepada gurunya, dan sikapmu itu menunjukkan bahwa andika seorang murid yang baik sekali. Siapakah mendiang guru andika itu?"
"Mendiang eyang guru adalah Empu Dewamurti, paman."
Raden Hendratama terkejut.
"Jagat Dewa Bathara. Kiranya guru andika adalah Sang Empu Dewamurti yang sakti mandraguna! Dan katamu tadi dia sudah meninggal dunia?"
"Benar, paman. Beberapa bulan yang lalu eyang guru telah wafat."
"Wah, kalau begitu andika tentu seorang ksatria yang sakti mandraguna, Anakmas Nurseta!"
"Apakah paman mengenal mendiang eyang guru?" Nurseta bertanya untuk mengalihkan perhatian karena dia tidak ingin bicara tentang kesaktian.
"Siapa tidak mengenal Empu Dewamurti? Ada beberapa batang keris buatannya kusimpan! Semua keturunan Wangsa ishana mengenalnya dengan baik!"

Diam-diam Nurseta terkejut. Dia menatap wajah laki-laki itu dan bertanya,
"Maafkan saya, paman. Kalau begitu... paman adalah seorang keturunan keluarga istana kerajaan Mataram?"
Raden Hendratama menghela napas panjang, lalu berkata dengan nada suara letih.
"Sebenarnyalah, anakmas Nurseta aku dahulu adalah Pangeran Hendratama, putera mendiang Rama Teguh Dharmawangsa. Akan tetapi karena ibuku hanya seorang selir dari kasta rendahan, maka aku tidak masuk hitungan dan ketika Erlangga menduduki tahta, aku lalu menyingkir dan lebih baik hidup tentram sebagai rakyat biasa."
Mendengar ini, Nurseta yang sejak kecil sudah belajar tata krama (tata susila) oleh ayahnya kemudian oleh eyang gurunya, cepat bangkit berdiri dan berjongkok menyembah.
"Gusti Pangeran, ampunkan hamba yang tidak mengenal paduka ....."
Raden Hendratama tertawa, lalu bangkit dan memegang pundak pemuda itu, menariknya bangkit dan berdiri kembali.
“Ha-ha-ha, jangan bersikap seperti itu, anakmas. Andika membuat aku menjadi rikuh dan malu saja. Aku sendiri sudah melupakan bahwa aku adalah seorang bekas pangeran. Bekas kataku, sekarang bukan lagi pangeran. Nah, duduklah dan jangan mengubah sikapmu yang baik tadi. Tetap sebut aku paman atau aku malah menjadi tidak senang menerimamu sebagai seorang sahabat."

Nurseta terpaksa duduk kembali
"Aduh, paman. Paman sungguh bijaksana dan rendah hati. Bagaimana seorang pangeran dapat hidup menjadi seorang anggota rakyat biasa?"
"Ha-ha-ha, apa bedanya? Apakah kehebatan atau kebesaran seorang raja melebihi rakyat? Raja juga manusia biasa seperti rakyat jelata! Dapatkah andika membayangkan seorang raja tanpa rakyat seorangpun? Dia hanya seperti seorang badut yang tidak lucu, atau bahkan menjadi seorang gila. Sebaliknya, kalau rakyat kehilangan raja, hal itu masih dapat berlangsung. Menjadi rakyat biasa bukan berarti hina atau rendah, juga bukan berarti tidak dapat hidup tentram dan bahagia."
"Paman sungguh bijaksana!" Nurseta memuji.
"Oya, eyang gurumu itu, Empu Dewamurti, bagaimana dia wafat? Seingatku dia belum begitu tua."

Tentu saja kini Nurseta merasa lebih percaya kepada pangeran ini. Orang ini adalah putera mendiang Sang Prabu Teguh Dharmawangsa, berarti kakak ipar sang Prabu Erlangga! Kiranya tidak perlu ia merahasiakan segala mengenai dirinya dan eyang gurunya yang juga merupakan kawula Mataram yang selalu akan membela Mataram atau keturunan Mataram yang sekarang menjadi Kerajaan Kahuripan.
"Eyang guru tewas dikeroyok lima orang yang datang dari Kerajaan Wengger, Wirawari, dan Kerajaan Siluman pantai Laut Kidul. Ketika itu saya tidak ada di sana dan ketika saya datang, sang guru sudah berada dalam keadaan gawat dan beliau meninggal karena luka lukanya."

<<<Bagian 09                                                                                         Bagian 11 >>>

No comments:

Post a Comment