"Kau maksudkan..... ayah kita, Mbak yu Sukarti? Kalau kita yang minta agar Kangmas Nurseta dibolehkan menginap di rumah kita malam ini, pasti dia akan menyetujui."
Nurseta merasa girang, akan tetapi
juga rikuh (sungkan).
"Ah, nimas, terima kasih atas
kebaikan hati andika bertiga, akan tetapi aku sama sekali tidak ingin
merepotkan andika!"
"Kalau kita sudah saling
berkenalan dan menjadi sahabat, mengapa masih bersikap sungkan?" Sukarti
yang kini menyetujui usul Kenangasari.
"Kakangmas, boleh aku
bertanya?" kata Widarti. Gadis manis yang tadi tampak pemalu itu kini
berani menatap wajah Nurseta dan sepasang lesung pipitnya muncul di kedua
pipinya.
"Tentu saja boleh, nimas.
Bertanyalah." jawab Nurseta. Bercakap-cakap dengan tiga orang gadis yang
ayu manis dan ramah ini sungguh menyenangkan hatinya.
"Begini, Kangmas Nurseta.
Andaikan andika berada dalam rumah andika dan kami bertiga datang berkunjung,
apakah kiranya andika akan menolak kedatangan kami karena merasa repot?"
Nurseta tertegun. Dia tadi salah
sangka! Gadis yang tampak pemalu ini sesungguhnya pandai bicara dan cerdas
sekali. Kalau dua orang gadis yang lain membujuknya untuk bermalam dengan
kata-kata biasa yang dapat ditolaknya, gadis termuda ini mengajukan pertanyaan
yang sekaligus membuat dia tidak mungkin lagi menolak!
"Tentu saja tidak, nimas."
jawabnya dan dia sudah merasa kalah.
"Nah, kalau andika akan mau
menerima kami dan tidak merasa repot, kamipun demikian pula. Kami tidak akan
repot, bahkan merasa gembira sekali kalau andika mau bermalam di gubuk kami,
tentu saja kalau andika tidak merasa jijik tinggal semalam di gubuk kami yang
reyot dan kotor!"
Nurseta taluk. Ucapan gadis itu menambah
kuatnya desakan itu dan dia sama sekali tidak berdaya untuk menolaknya. Tidak
ada alasan lagi baginya untuk menolak karena tadi dia sudah menyatakan bahwa
dia membutuhkan tempat untuk menginap malam ini. Dia mengembangkan kedua lengan
dan menggerakkan kedua pundak tanda tak berdaya sambil tersenyum.
"Baiklah, aku terima undangan
andika dan sebelumnya aku mengucapkan banyak terima kasih "
"Horeee .....!"
Kenangasari bersorak seperti anak kecil.
"Kalau begitu mari kita pulang!
Mari, Kakangmas Nurseta!" Tiga orang gadis itu mengambil keranjang pakaian
dan keluar dari anak sungai itu.
"Di mana rumah andika
bertiga?" tanya Nurseta.
"Di depan sana, tidak jauh dari
sini!" jawab Sukarti sambil menunjuk ke arah utara.
"Silakan andika berangkat lebih
dulu, Nanti aku menyusul ke sana." kata Nurseta
"Eh, kenapa, kakangmas?
Bukankah andika sudah setuju untuk bermalam dirumah kami?" tanya
Kenangasari.
"Benar, nimas. Akan tetapi aku
ingin mandi dulu di sini. Airnya begitu jernih dan segar."
"Andika tidak akan melanggar
janji dan berbohong kepada kami, Kang Nurseta?" tanya Widarti.
"Kalau begitu, biar kami
menanti disini sampai andika selesai mandi!" kata Sukarti.
"Wah, jangan andika bertiga
menunggu di sini. Aku akan merasa malu! Percayalah, seorang laki-laki tidak
akan sudi melanggar janjinya! Pulanglah kalian lebih dulu. Setelah selesai
mandi aku akan segera datang berkunjung. Tentu kalian ingin bersiap-siap
sebelum aku datang, bukan? Jangan repot-repot, hidangkan saja seadanya,
semuanya!" Nurseta berkelakar. Tiga orang gadis itu tertawa renyah, gigi
mereka yang putih tampak sebentar.
"Jangan terlalu lama, kami
tunggu!" kata Sukarti dan mereka bertiga lalu pergi dari situ sambil
tertawa-tawa.
Dari belakang mereka, Nurseta
melihat betis-betis yang memadi bunting dan putih mulus bergerak-gerak,
pinggul-pinggul yang indah di balik kain basah itu menari-nari. Setelah tiga
orang gadis itu menghilang di balik pohon-pohon, Nurseta tersenyum dan menghela
napas panjang. baik sekali nasibnya, bertemu dengan bidadari-bidadari yang
selain ayu merak ati (cantik menggiurkan) juga baik hati dan ramah sekali. Dia
lalu menanggalkan seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam air yang sejuk segar.
Dia meniru apa yang dilakukan para gadis tadi. Diambilnya sepotong batu hitam
yang licin dan dia menggosok-gosok seluruh kulitnya dengan batu hitam itu
sehingga bersih. Kemudian dia mencuci pakaian yang tadi dipakainya dan setelah
selesai memeras pakaian itu dan menaruhnya di atas batu, dia lalu mengenakan
pakaian bersih. Setelah naik ke tepi anak sungai. Nurseta mengembangkan dan
mengebut ngebutkan pakaian yang tadi dicucinya. Karena dia mengerahkan
tenaganya, maka pakaian itu berkibar kuat dan sebentar saja sudah menjadi
kering kembali! Setelah menyimpan pakaian itu ke dalam buntalan pakaiannya dan
menggendong buntalan itu, berangkatlah Nurseta menuju ke arah yang ditunjuk
Sukarti tadi.
Hari telah menjelang senja ketika
akhirnya Nurseta tiba di pekarangan depan sebuah rumah pondok besar yang tidak
berapa jauh letaknya dari anak sungai tadi. Begitu dia memasuki pekarangan,
muncul empat orang dari pintu depan pondok itu. Lampu gantung sudah di pasang
di beranda itu dan Nurseta lihat tiga orang gadis tadi yang kini sudah
mengenakan pakaian baru, rambut gelung dengan rapi dan dihias bunga melati. Mereka
tersenyum-senyum, manis sekali. Akan tetapi pandang mata Nurseta ditujukan
kepada laki-laki yang berada di antara mereka. Laki-laki itu berusia kurang
lebih lima puluh tahun. Pakaiannya mewah seperti priyayi. Rambutnya digelung ke
atas dan diikat rantai kecil dari emas! Sebatang keris dengan sarungnya yang
indah terselip di depan pinggangnya. Laki-laki ini bertubuh tegap dengan dada
bidang dan wajahnya masih tampak muda, tampan dan gagah. Melihat empat orang
itu agaknya sedang menanti untuk menyambutnya, Nurseta segera menghampiri
mereka dan memberi hormat dengan sembah di depan dada.
"Kakangmas Nurseta, inilah ayah
kami, Raden Hendratama." Sukarti memperkenalkan laki-laki gagah itu.
Nurseta memberi hormat. Diam-diam ia
terkejut mendengar laki-laki itu seorang priyayi, seorang bangsawan. Kalau
begitu tiga orang gadis itu adalah puteri puteri bangsawan seperti yang tadi
pernah diduganya. Akan tetapi yang amat aneh, mengapa keluarga ini tinggal di
pondok yang terpencil? Tidak tampak rumah lain di situ.
"Raden, maafkanlah kalau
kelancangan saya berkunjung ini mengganggu ketenangan keluarga paduka."
kata Nurseta hormat.
Agaknya sikap sopan pemuda itu
menyenangkan hati laki-laki yang bernama raden Hendratama itu. Dia tersenyum.
'Wah, anakmas Nurseta, anak-anakku
telah menceritakan tentang dirimu, anggaplah kami sebagai keluargamu atau
sahabat baik, karena itu jangan sebut aku raden. Sebut saja paman. Biarpun aku
seorang pangeran, namun sudah lama aku meninggalkan keluarga istana dan hidup
sebagai rakyat biasa."
Nurseta merasa gembira sekali.
Kiranya ayah dari tiga orang dara Inipun rendah hati dan ramah sekali. Diapun
tidak merasa ragu lagi dan menganggap mereka itu sebuah keluarga bekas ningrat
yang baik hati sekali.
"Terima kasih, Paman
Hendratama."
"Mari, mari masuk, Kangmas
Nurseta. Kita duduk dan bicara di ruangan dalam." kata Kenangasari ramah.
"Benar, anakmas. Silakan masuk
dan kita bercakap-cakap di dalam." kata pula Hendratama. Nurseta tidak
merasa sungkan lagi dan dia ikut memasuki ruangan yang luas. Ternyata ruangan
itu cukup indah, dengan meja kursi terukir dan terutama sekali di dinding
ruangan itu tergantung banyak sekali senjata yang tampak serba indah. Tentu
pusaka-pusaka ampuh, pikir Nurseta. Terdapat banyak tombak, klewang (golok),
pedang, dan bermacam-macam keris, dari yang kecil sampai yang besar.
Dia merasa heran sekali, akan tetapi
diam saja takut kalau disebut lancang kalau banyak bertanya. Setelah
dipersilakan duduk, Nurseta duduk berhadapan dengan Hendratama dan tiga orang
gadis yang masih berdiri memandang kepadanya. Kenangasari yang centil lalu
berkata kepada Nurseta sambil tersenyum.
"Kakangmas, sekarang kami
bertiga pamit dulu untuk mempersiapkan hidangan makan malam."
"Ah, harap andika jangan
repot-repot, nimas ....." kata Nurseta sambil menggerakkan tangan seolah
mencegah.
"Tidak usah repot, keluarkan
saja seadanya, semuanya! Begitu katamu tadi, bukan?" kata Widarti sambil
tersenyum dan mengerling nakal. Tentu saja wajah Nurseta menjadi merah. Tadi
dia hanya bergurau akan tetapi gadis-gadis itu malah mengulanginya di depan
ayah mereka! Tiga orang dara jelita itu tertawa-tawa sambil meninggalkan
ruangan itu menuju ke belakang.
"Ah, anakmas Nurseta. Jangan
sungkan, anak-anak itu memang nakal dan suka menggoda orang."
"Hemm, tidak sama sekali,
paman. Mereka..... mereka adalah gadis-gadis yang baik budi, berhati mulia dan
manis sekali."
"Ha-ha-ha!" Laki-laki
gagah itu tertawa.
"Andika suka kepada
mereka?"
Nurseta tertegun, akan tetapi dia
menyadari bahwa yang dimaksudkan tuan rumah ini tentulah rasa suka akan sesuatu
yang indah dan baik, bukan rasa cinta seorang pria terhadap wanita. Setelah
berpikir demikian, diapun menjawab dengan sikap biasa.
"Tentu saja, paman saya suka
sekali kepada mereka."
"Bagus! Kalau begitu, andika
mau menjadi suami mereka, atau seorang di antara mereka?"
Mau tidak mau Nurseta terbelalak
saking herannya. Ini sudah gila! Mana ada seorang ayah menawarkan tiga orang
anak gadisnya untuk menjadi isteri seorang pemuda asing yang sama sekali tidak
dikenalnya? Ditawarkan ketiga tiganya lagi! Kekhawatirannya sesaat terjadi.
Rasa suka itu diartikan rasa cinta oleh Raden Hendratama!
"Ahh! Ini...... ini..... saya
maksudkan. saya suka sekali kepada mereka karena mereka baik budi, saya suka
menjadi sahabat mereka........"
"Hemm, andika tidak suka
memperisteri mereka atau seorang di antara mereka?"
"Maafkan saya, paman. Bukan
saya tidak suka, akan tetapi saya sama sekali belum mempunyai niat untuk
mengikatkan diri dengan perjodohan."
"Kenapa, anakmas?"
Hendratama mendesak sambil mengamati wajah pemuda itu.
Merasa terdesak, dan juga karena dia
percaya kepada keluarga bangsawan yang rendah hati dan baik budi bahasanya ini,
Nurseta berterus terang.
"Saya tidak mau mengikatkan
diri dengan perjodohan dulu, paman, karena saya masih mempunyai banyak tugas
dari mendiang eyang guru saya yang harus saya selesaikan."
Raden Hendratama mengangguk angguk.
"Itu bagus sekali, anakmas.
Seorang murid haruslah berbakti dan taat kepada gurunya, dan sikapmu itu
menunjukkan bahwa andika seorang murid yang baik sekali. Siapakah mendiang guru
andika itu?"
"Mendiang eyang guru adalah
Empu Dewamurti, paman."
Raden Hendratama terkejut.
"Jagat Dewa Bathara. Kiranya
guru andika adalah Sang Empu Dewamurti yang sakti mandraguna! Dan katamu tadi
dia sudah meninggal dunia?"
"Benar, paman. Beberapa bulan
yang lalu eyang guru telah wafat."
"Wah, kalau begitu andika tentu
seorang ksatria yang sakti mandraguna, Anakmas Nurseta!"
"Apakah paman mengenal mendiang
eyang guru?" Nurseta bertanya untuk mengalihkan perhatian karena dia tidak
ingin bicara tentang kesaktian.
"Siapa tidak mengenal Empu
Dewamurti? Ada beberapa batang keris buatannya kusimpan! Semua keturunan Wangsa
ishana mengenalnya dengan baik!"
Diam-diam Nurseta terkejut. Dia
menatap wajah laki-laki itu dan bertanya,
"Maafkan saya, paman. Kalau
begitu... paman adalah seorang keturunan keluarga istana kerajaan
Mataram?"
Raden Hendratama menghela napas
panjang, lalu berkata dengan nada suara letih.
"Sebenarnyalah, anakmas Nurseta
aku dahulu adalah Pangeran Hendratama, putera mendiang Rama Teguh Dharmawangsa.
Akan tetapi karena ibuku hanya seorang selir dari kasta rendahan, maka aku
tidak masuk hitungan dan ketika Erlangga menduduki tahta, aku lalu menyingkir
dan lebih baik hidup tentram sebagai rakyat biasa."
Mendengar ini, Nurseta yang sejak
kecil sudah belajar tata krama (tata susila) oleh ayahnya kemudian oleh eyang
gurunya, cepat bangkit berdiri dan berjongkok menyembah.
"Gusti Pangeran, ampunkan hamba
yang tidak mengenal paduka ....."
Raden Hendratama tertawa, lalu
bangkit dan memegang pundak pemuda itu, menariknya bangkit dan berdiri kembali.
“Ha-ha-ha, jangan bersikap seperti
itu, anakmas. Andika membuat aku menjadi rikuh dan malu saja. Aku sendiri sudah
melupakan bahwa aku adalah seorang bekas pangeran. Bekas kataku, sekarang bukan
lagi pangeran. Nah, duduklah dan jangan mengubah sikapmu yang baik tadi. Tetap
sebut aku paman atau aku malah menjadi tidak senang menerimamu sebagai seorang
sahabat."
Nurseta terpaksa duduk kembali
"Aduh, paman. Paman sungguh
bijaksana dan rendah hati. Bagaimana seorang pangeran dapat hidup menjadi
seorang anggota rakyat biasa?"
"Ha-ha-ha, apa bedanya? Apakah
kehebatan atau kebesaran seorang raja melebihi rakyat? Raja juga manusia biasa
seperti rakyat jelata! Dapatkah andika membayangkan seorang raja tanpa rakyat
seorangpun? Dia hanya seperti seorang badut yang tidak lucu, atau bahkan
menjadi seorang gila. Sebaliknya, kalau rakyat kehilangan raja, hal itu masih
dapat berlangsung. Menjadi rakyat biasa bukan berarti hina atau rendah, juga
bukan berarti tidak dapat hidup tentram dan bahagia."
"Paman sungguh bijaksana!"
Nurseta memuji.
"Oya, eyang gurumu itu, Empu
Dewamurti, bagaimana dia wafat? Seingatku dia belum begitu tua."
Tentu saja kini Nurseta merasa lebih
percaya kepada pangeran ini. Orang ini adalah putera mendiang Sang Prabu Teguh
Dharmawangsa, berarti kakak ipar sang Prabu Erlangga! Kiranya tidak perlu ia
merahasiakan segala mengenai dirinya dan eyang gurunya yang juga merupakan
kawula Mataram yang selalu akan membela Mataram atau keturunan Mataram yang
sekarang menjadi Kerajaan Kahuripan.
"Eyang guru tewas dikeroyok
lima orang yang datang dari Kerajaan Wengger, Wirawari, dan Kerajaan Siluman
pantai Laut Kidul. Ketika itu saya tidak ada di sana dan ketika saya datang, sang
guru sudah berada dalam keadaan gawat dan beliau meninggal karena luka
lukanya."
No comments:
Post a Comment