Setelah merebahkan tubuh gurunya ke atas amben (dipan), Nurseta memeriksa keadaan Empu Dewamurti dan alangkah kagetnya mendapat kenyataan betapa kakek itu menderita luka dalam yang amat parah dan hebat. Dia hanya dapat mengurut jalan darah di tubuh gurunya untuk memperlancar jalan darahnya yang kacau. Akhirnya, kakek itu menghela napas dan membuka matanya. Dia tersenyum ketika melihat muridnya.
"Nurseta ....., kau ..... kau
belum pergi .....?" katanya lemah.
"Saya sudah tiba di kaki gunung
ketika saya melihat lima orang itu melarikan diri. Di antara mereka terdapat
Rasi Bajrasakti. Mereka yang melukai paduka eyang?"
Kakek itu tersenyum.
"Syukur engkau..... sudah pergi
ketika..... mereka datang..... mereka itu..... dari Kerajaan Wengker, Kerajaan
Wurawiri..... Kerajaan Siluman Laut Kidul.... musuh-musuh Kahuripan..... maka
mereka..... hendak merampas..... Megatantra..... berhati-hatilah..... men.....
menjaganya....." Kakek itu memejamkan kedua matanya, terkulai dan
menghembuskan napas terakhir dalam keadaan tersenyum penuh kepasrahan.
"Eyang .....!" Nurseta
menyembah lalu berbisik sambil mendekatkan mulutnya di telinga kakek itu.
"Selamat jalan eyang, semoga
Sang Hyang Widhi selalu membimbing paduka."
Nurseta duduk diam, bersila di atas
lantai untuk berdoa, memujikan agar sang empu dapat memasuki kedamaian abadi.
Beberapa kali nafsu daya rendah mengganggu hati dan pikirannya untuk
membayangkan kematian eyang gurunya sehingga perasaan dendam sakit hati dapat
membakar dan menguasai hatinya. Nurseta maklum akan bahayanya pengaruh nafsu
daya rendah ini. Eyang gurunya selalu memperingatkan agar dia jangan sampai
dikuasai nafsu-nafsunya sendiri. Terutama sekali nafsu amarah yang menimbulkan
dendam akan mendorongnya kepada kekejaman dan pelampiasan nafsu dendam. Dia
memang harus menentang orang-orang jahat, akan tetapi bukan didasari dendam
kebencian. Menghadapi dorongan nafsu daya rendah ini, dia tidak melawan, tidak
menekan, melainkan membiarkan dirinya lentur dan kuat sehingga serangan nafsu
itu hanya lewat dan lalu begitu saja, hilang dengan sendirinya. Inilah Aji
Sirnasarira (Lenyap Diri) yang ditujukan ke dalam. Aji ini membuat perasaan
yang bersumber dari si aku menghilang. Kalau tidak ada lagi si-aku, dengan
sendirinya tidak ada rasa benci, dendam dan sebagainya lagi. Semua itu hanya
ulah nafsu. Aji Sirnasarira ini kalau ditujukan keluar, dapat berpengaruh
seperti aji palimutan yang membuat dia dapat menghilang atau tidak tampak oleh
mata orang lain.
Setelah matahari naik tinggi,
Nurseta lalu menumpuk kayu-kayu kering di sekeliling tempat tidur gurunya,
kemudian dia membakar kayu yang ditumpuk-tumpuk itu. Setelah kayu terbakar dan
berkobar besar, dia keluar dari dalam pondok. Pondok mulai terbakar. Perbuatan
ini dia lakukan sesuai dengan pesan eyang gurunya yang pernah mengatakan bahwa
kalau dia mati, dia ingin agar jenazahnya diperabukan.
"Setelah badan ini menjadi abu,
taburkan dari puncak agar tersebar di seluruh permukaan gunung dan menjadi
pupuk bagi kesuburan sawah ladang." demikian pesan eyang gurunya.
Kini dia teringat akan sikap dan
kata-kata gurunya pagi tadi. Gurunya secara mendadak menyuruhnya pergi
meninggalkan puncak, membawa pergi Keris Megatantra, menyerahkan seluruh emas
yang dimilikinya kepadanya! Seolah orang tua itu sudah tahu atau dapat
merasakan bahwa saat akhir hidupnya akan tiba pada hari itu. Setelah pondok
kayu sederhana itu terbakar habis, Nurseta lalu mencari di antara puing dan
menemukan abu jenazah Empu Dewamurti di antara abu kayu pondok. Abu jenazah itu
keputih-putihan, berbeda dengan abu dan arang kayu. Dia mengumpulkan abu
jenazah itu, membungkusnya dalam sehelai kain ikat kepala yang lebar, kemudian
membawanya ke puncak, ke tempat di mana dia dapat memandang seluruh permukaan
lereng vang di bawah puncak itu. Sawah ladang terbentang luas. Ada rasa haru
dalam hatinya. Gurunya adalah seorang manusia yang bijaksana dan budiman.
Bahkan setelah mati pun dia ingin agar jasmaninya bermanfaat bagi manusia, agar
abu jenazahnya dapat menjadi pupuk dan menyuburkan sawah ladang! Nurseta lalu
mulai menaburkan abu itu sedikit demi sedikit keatas ketika angin bertiup. Abu
itu terbawa angin melayang-layang ke bawah puncak, seolah menghujani sawah
ladang yang berada di sana. Setelah abu jenazah itu disebarkan semua, Nurseta
lalu menuruni puncak itu dan dia mempergunakan ilmunya Bayu Sakti sehingga
tubuhnya seolah melayang layang turun dari puncak Arjuna dengan cepat sekali.
Pada suatu sore Nurseta berjalan
melalui sebuah hutan cemara dan dia sedang mencari kalau-kalau terdapat sebuah
dusun di sekitar daerah itu agar dia dapat melewatkan malam dengan menumpang di
rumah sebuah keluarga petani, atau setidaknya dia dapat menemukan sebuah gubuk
di tengah sawah ladang. Setelah keluar dari hutan cemara yang tidak berapa
besar itu, dari jauh dia sudah mendengar suara gemercik air, tanda bahwa tak
jauh dari situ terdapat sebatang anak sungai yang airnya bening mengalir di
antara batu-batu atau sebuah grojogan (air terjun) yang airnya menimpa
batu-batu mendatangkan suasana sejuk dan nyaman. Nurseta merasa gembira karena
dia memang merasa gerah dan dapat membayangkan betapa akan sejuk dan segarnya
mandi di air yang jernih. Dia mempercepat langkahnya menuju ke arah suara air
gemercik. Tiba-tiba dia menahan langkahnya. Terdengar suara beberapa orang
wanita bercakap-cakap, bersenda gurau dan tertawa cekikikan di antara gemercik
suara air itu. Kalau ada wanita-wanita di situ, berarti tempat itu pasti dekat
dengan sebuah dusun! Hatinya merasa lega dan girang. Dia akan menghampiri para
wanita itu dan menyapa mereka. Akan tetapi ketika dia sudah berada dekat dengan
dari mana datangnya suara itu, dia tertegun dan mengintai dari balik batu
besar. Gemercik air itu memang berasal dari sebuah grojogan kecil dan di
bawahnya terdapat sebatang anak sungai yang airnya jernih sekali, mengalir di
antara batu-batu bersih. Yang membuat dia tersipu adalah ketika dia melihat
tiga orang gadis bertapih pinjung (kain penutup tubuh dari dada ke bawah) yang
basah kuyup sehingga mencetak bentuk tubuh mereka yang indah dan tampak kulit
pundak, leher dan lengan yang putih kuning mulus. Usia mereka antara tujuh
belas sampai dua puluh tahun. Wajah mereka tampak ayu dan manis, dengan rambut
basah terurai dan wajah berseri seri penuh senyum dan tawa senda gurau. Kalau
tertawa, mulut mereka agak terbuka dan tampak deretan gigi yang putih mengkilat
di balik bibir merah segar. Bukan seperti gadis-gadis dusun pada umumnya, pikir
Nurseta. Lebih pantas kalau mereka itu datang dari kota, gadis gadis bangsawan,
seperti yang pernah dilihatnya beberapa kali dahulu ketika dia masih tinggal di
Karang Tirta, yaitu kalau Ki Lurah Suramenggala kedatangan tamu Bangsawan. Akan
tetapi kalau mereka itu puteri bangsawan, mengapa mereka berada di dusun dan
mandi di kali?
Nurseta merasa tidak enak untuk
mengintai terus, dapat menimbulkan prasangka buruk, pikirnya. Maka diapun
keluar dari balik batu besar itu dan menghampiri mereka. Tiga orang gadis itu
agaknya habis mencuci pakaian yang mereka taruh di dalam keranjang, dan kini
mereka sedang mandi. Seorang dari mereka yang usianya sekitar dua puluh tahun,
sedang berkeramas (mencuci rambut). Rambutnya yang hitam panjang itu digosok
gosoknya dengan biji lerak dan daun kenanga dan ketika melakukan pekerjaan ini,
kepalanya ditundukkan, rambutnya terurai ke bawah, kedua tangannya
menggosok-gosok sehingga tubuh bagian atas itu bergerak gerak seperti sedang
menari. Orang kedua, gadis manis berusia sekitar delapan belas tahun, sedang
menggosok-gosok kulit dada bagian atas dekat leher dengan sebuah batu hitam
yang halus. Adapun gadis ke tiga yang usianya sekitar tujuh belas tahun sedang
menggosok-gosok betis kaki kanannya yang ia angkat ke atas sebuah batu. Betis
berkulit kuning mulus itu juga digosok-gosok dengan batu hitam yang halus.
Melihat tiga tubuh gadis muda yang padat, berkulit putih mulus, dengan lekuk
lengkung yang sempurna, bagaikan tiga tangkai bunga yang sedang mekarnya,
Nurseta terpesona. Belum pernah selamanya dia merasa sedang melihat suatu
pemandangan yang luar biasa indahnya. Nurseta tiba di tepi anak sungai, hanya
dalam jarak tiga meter dari mereka. Karena sedang asyik dengan pekerjaan
masing-masing dan tersamar oleh suara gemercik air, mereka agaknya tidak
melihat atau mendengar kedatangan pemuda itu.
"Maafkan aku, nimas
bertiga1" kata Nurseta dengan suara agak nyaring untuk mengatasi suara
gemercik air.
Tiga orang gadis itu menengok dan
mereka terkejut sekali melihat ada seorang pemuda telah berdiri di tepi sungai.
Bahkan gadis yang termuda, yang tadi mengangkat kakinya ke atas batu dan
menggosok-gosok betisnya, kini berdiri tegak dan gerakannya yang tiba tiba ini
membuat ikatan tapih pinjungnya terlepas dan kain itu merosot. Ia menjerit
kecil dan kedua tangannya cepat menangkap kain itu dan menariknya kembali ke atas,
namun kain itu tadi telah sempat membuka dan memperlihatkan sekilas sepasang
payudara yang padat dan indah bentuknya. Pada jaman itu, payudara wanita bukan
merupakan bagian tubuh yang teramat dirahasiakan. Namun gadis itu tersenyum
malu-malu, tersipu dan menundukkan mukanya. Dua orang gadis lainnya juga
memandang kepada Nurseta. Mereka bertiga terkejut karena tidak menyangka akan
ada seorang laki-laki muda mendekati dan menyapa mereka. Gadis tertua, yang
mempunyai titik tahi lalat hitam di pipi kirinya, membuatnya tampak manis
sekali, mewakili teman-temannya. Agaknya ia yang paling berani menghadapi
pemuda asing itu dan suaranya terdengar merdu dan tutur sapanya halus, jelas
menunjukkan bahwa ia bukan seorang gadis dusun yang lugu dan kasar.
"Ki sanak, andika ini seorang
pria, apa maksud andika mendekati dan menyapa kami tiga orang wanita yang
sedang mandi?" Pertanyaan ini merupakan teguran, namun dilakukan dengan
halus menjadi sebuah pertanyaan.
Nurseta maklum akan hal ini dan
semakin kuat dugaannya bahwa wanita-wanita muda ini jelas bukan gadis-gadis
dusun biasa yang sederhana dan bodoh.
"Sekali lagi aku mohon maaf
kalau mengganggu andika bertiga. Aku bernama Nurseta, seorang kelana yang ingin
minta keterangan kepada andika di manakah kiranya aku dapat menemukan tempat
untuk melewatkan malam ini." kata Nurseta dan diapun bersikap sopan.
Dia duduk di atas sebongkah batu di
tepi anak sungai itu dan mengamati mereka bertiga dengan sikap sopan, tidak
secara langsung mengamati wajah dan tubuh mereka, melainkan sambil lalu seolah
di depannya itu tidak terdapat pemandangan yang amat menarik hatinya. Dia
mendapat kenyataan betapa gadis tertua yang bicara dengannya bertubuh agak
tinggi semampai lehernya panjang kepalanya tegak membuat ia tampak anggun.
Wajahnya manis, pandang matanya penuh pengertian dan cerdik. Akan tetapi
keseriusan yang membayang di wajahnya yang ayu itu mendatangkan kesan bahwa ia
seorang wanita yang tidak mudah diajak bergurau, mungkin agak keras hatinya.
Tahi lalat di pipi kirinya itu menambah kemanisan wajahnya. Gadis ke dua yang
usianya sekitar delapan belas tahun berwajah bulat dan kulitnya putih sekali.
Wajahnya cantik jelita, sepasang matanya bersinar-sinar penuh gairah hidup dan
mulutnya yang tersenyum-senyum nakal itu membuat Nurseta menduga bahwa gadis
ini tentu seorang yang berwatak riang jenaka. Mulutnya yang bentuknya indah
dengan sepasang bibir tipis merah membasah yang agaknya selalu berjebi, selalu
senyum dan kadang tampaklah kilatan gigi yang berderet rapi dan putih. Ada pun
gadis ke tiga yang tadi merosot tapih pinjungnya, berusia sekitar tujuh belas
tahun, bagaikan kuncup bunga mawar mulai mekar, wajahnya berbentuk bulat telur,
dahinya agak nonong (menonjol) akan tetapi ia juga manis sekali, kalau
tersenyum muncul lesung pipit kanan kiri mulutnya. Ia lebih banyak menundukkan
pandang matanya, seperti malu-malu, namun sikap seperti ini bahkan menambah
daya tariknya sebagai seorang dara yang baru tumbuh dewasa. Tiga orang gadis
yang amat menarik hati, pikir Nurseta. Dia merasa heran bagaimana di luar
sebuah hutan, di tempat yang sunyi ini, dia dapat bertemu dengan tiga orang
gadis cantik seperti mereka.
Mendengar ucapan Nurseta yang penuh
hormat itu dan melihat sikapnya yang sopan santun, tiga orang gadis itu menjadi
agak berani. Bahkan gadis kedua tertawa dan menutupi mulut dengan tangan
kirinya gerakannya begitu luwes dan indah, penuh kelembutan seorang wanita.
"Hi-hik, andika telah
memperkenalkan nama kepada kami, tentu andika juga ingin sekali mengetahui nama
kami Bukankah begitu, Kakangmas Nurseta?"
"Ih, malu, Mbakayu
Kenangasari!" kata dara yang paling muda sambil menahan senyum dan
mengerling sopan ke arah Nurseta.
"Mengapa mesti malu, Widarti?
Orang saling memperkenalkan nama sewaktu bertemu, bukankah itu wajar-wajar
saja? bukankah begitu, Mbakayu Sukarti?" kata gadis ke dua sambil
tersenyum cerah. Gadis pertama mengerutkan alisnya.
"Diamlah kalian berdua dan
jangan bergurau selalu. Kisanak ini tentu akan menganggap kita kurang
sopan." tegur dara pertama yang tertua.
Nurseta tertawa. Sikap tiga dara ini
membuat suasana menjadi semakin cerah dan indah, membuat gemercik air semakin
nyaring menggembirakan.
"Ha-ha-ha, nimas bertiga yang
baik. Tidak perlu bersusah payah memperkenalkan nama karena aku sudah tahu
siapa nama andika bertiga."
"Andika sudah tahu, Kakangmas
Nurseta?" Tanya Kenangasari sambil tersenyum.
"Tentu saja! Andika bernama
Kenangasari, nimas ini bernama Sukarti dan yang itu bernama Widarti." kata
Nurseta yang kini dihinggapi perasaan gembira menghadapi tiga orang gadis
jelita itu.
"Hemrn, apa anehnya itu?
Kenangasari, jangan bodoh. Tentu saja dia tau, karena tadi kita saling
memanggil nama masing-masing!" kata Sukarti.
"Benar sekali. Tadi andika
bertiga tanpa kuminta telah memperkenalkan nama masing-masing. Sekarang,
setelah kita saling berkenalan, maukah andika bertiga suka menjawab
pertanyaanku tadi?"
"Pertanyaan yang mana? Andika
tadi bertanya apa sih?" Tanya Kenangasari dengan senyum manis.
"Tadi aku bertanya apakah
andika bertiga dapat menunjukkan di mana aku bisa mendapatkan tempat untuk
melewatkan malam ini."
Tiga orang gadis itu saling pandang,
kemudian Kenangasari yang menjawab. Agaknya ia merupakan orang yang paling
pandai dan berani bicara sehingga ia mewakili kedua orang temannya untuk
menjawab.
"Kenapa andika tidak bermalam
saja di rumah kami, Kangmas Nurseta?"
"Ih, Mbakayu Kenangasari,
engkau lancang!" tegur Widarti.
"Kenapa lancang? Bukankah kita
sudah berkenalan dengan Kangmas Nurseta dan agaknya dia bukan penjahat? Apa
salahnya dia bermalam di rumah kita semalam? Kita mempunyai sebuah kamar
kosong."
"Tapi ....." Kini Sukarti
yang mencela. Ucapannya dipotong cepat oleh Kenangasari.
No comments:
Post a Comment