Bagian 09


Setelah merebahkan tubuh gurunya ke atas amben (dipan), Nurseta memeriksa keadaan Empu Dewamurti dan alangkah kagetnya mendapat kenyataan betapa kakek itu menderita luka dalam yang amat parah dan hebat. Dia hanya dapat mengurut jalan darah di tubuh gurunya untuk memperlancar jalan darahnya yang kacau. Akhirnya, kakek itu menghela napas dan membuka matanya. Dia tersenyum ketika melihat muridnya.
"Nurseta ....., kau ..... kau belum pergi .....?" katanya lemah.
"Saya sudah tiba di kaki gunung ketika saya melihat lima orang itu melarikan diri. Di antara mereka terdapat Rasi Bajrasakti. Mereka yang melukai paduka eyang?"
Kakek itu tersenyum.
"Syukur engkau..... sudah pergi ketika..... mereka datang..... mereka itu..... dari Kerajaan Wengker, Kerajaan Wurawiri..... Kerajaan Siluman Laut Kidul.... musuh-musuh Kahuripan..... maka mereka..... hendak merampas..... Megatantra..... berhati-hatilah..... men..... menjaganya....." Kakek itu memejamkan kedua matanya, terkulai dan menghembuskan napas terakhir dalam keadaan tersenyum penuh kepasrahan.
"Eyang .....!" Nurseta menyembah lalu berbisik sambil mendekatkan mulutnya di telinga kakek itu.
"Selamat jalan eyang, semoga Sang Hyang Widhi selalu membimbing paduka."

Nurseta duduk diam, bersila di atas lantai untuk berdoa, memujikan agar sang empu dapat memasuki kedamaian abadi. Beberapa kali nafsu daya rendah mengganggu hati dan pikirannya untuk membayangkan kematian eyang gurunya sehingga perasaan dendam sakit hati dapat membakar dan menguasai hatinya. Nurseta maklum akan bahayanya pengaruh nafsu daya rendah ini. Eyang gurunya selalu memperingatkan agar dia jangan sampai dikuasai nafsu-nafsunya sendiri. Terutama sekali nafsu amarah yang menimbulkan dendam akan mendorongnya kepada kekejaman dan pelampiasan nafsu dendam. Dia memang harus menentang orang-orang jahat, akan tetapi bukan didasari dendam kebencian. Menghadapi dorongan nafsu daya rendah ini, dia tidak melawan, tidak menekan, melainkan membiarkan dirinya lentur dan kuat sehingga serangan nafsu itu hanya lewat dan lalu begitu saja, hilang dengan sendirinya. Inilah Aji Sirnasarira (Lenyap Diri) yang ditujukan ke dalam. Aji ini membuat perasaan yang bersumber dari si aku menghilang. Kalau tidak ada lagi si-aku, dengan sendirinya tidak ada rasa benci, dendam dan sebagainya lagi. Semua itu hanya ulah nafsu. Aji Sirnasarira ini kalau ditujukan keluar, dapat berpengaruh seperti aji palimutan yang membuat dia dapat menghilang atau tidak tampak oleh mata orang lain.

Setelah matahari naik tinggi, Nurseta lalu menumpuk kayu-kayu kering di sekeliling tempat tidur gurunya, kemudian dia membakar kayu yang ditumpuk-tumpuk itu. Setelah kayu terbakar dan berkobar besar, dia keluar dari dalam pondok. Pondok mulai terbakar. Perbuatan ini dia lakukan sesuai dengan pesan eyang gurunya yang pernah mengatakan bahwa kalau dia mati, dia ingin agar jenazahnya diperabukan.
"Setelah badan ini menjadi abu, taburkan dari puncak agar tersebar di seluruh permukaan gunung dan menjadi pupuk bagi kesuburan sawah ladang." demikian pesan eyang gurunya.
Kini dia teringat akan sikap dan kata-kata gurunya pagi tadi. Gurunya secara mendadak menyuruhnya pergi meninggalkan puncak, membawa pergi Keris Megatantra, menyerahkan seluruh emas yang dimilikinya kepadanya! Seolah orang tua itu sudah tahu atau dapat merasakan bahwa saat akhir hidupnya akan tiba pada hari itu. Setelah pondok kayu sederhana itu terbakar habis, Nurseta lalu mencari di antara puing dan menemukan abu jenazah Empu Dewamurti di antara abu kayu pondok. Abu jenazah itu keputih-putihan, berbeda dengan abu dan arang kayu. Dia mengumpulkan abu jenazah itu, membungkusnya dalam sehelai kain ikat kepala yang lebar, kemudian membawanya ke puncak, ke tempat di mana dia dapat memandang seluruh permukaan lereng vang di bawah puncak itu. Sawah ladang terbentang luas. Ada rasa haru dalam hatinya. Gurunya adalah seorang manusia yang bijaksana dan budiman. Bahkan setelah mati pun dia ingin agar jasmaninya bermanfaat bagi manusia, agar abu jenazahnya dapat menjadi pupuk dan menyuburkan sawah ladang! Nurseta lalu mulai menaburkan abu itu sedikit demi sedikit keatas ketika angin bertiup. Abu itu terbawa angin melayang-layang ke bawah puncak, seolah menghujani sawah ladang yang berada di sana. Setelah abu jenazah itu disebarkan semua, Nurseta lalu menuruni puncak itu dan dia mempergunakan ilmunya Bayu Sakti sehingga tubuhnya seolah melayang layang turun dari puncak Arjuna dengan cepat sekali.

Pada suatu sore Nurseta berjalan melalui sebuah hutan cemara dan dia sedang mencari kalau-kalau terdapat sebuah dusun di sekitar daerah itu agar dia dapat melewatkan malam dengan menumpang di rumah sebuah keluarga petani, atau setidaknya dia dapat menemukan sebuah gubuk di tengah sawah ladang. Setelah keluar dari hutan cemara yang tidak berapa besar itu, dari jauh dia sudah mendengar suara gemercik air, tanda bahwa tak jauh dari situ terdapat sebatang anak sungai yang airnya bening mengalir di antara batu-batu atau sebuah grojogan (air terjun) yang airnya menimpa batu-batu mendatangkan suasana sejuk dan nyaman. Nurseta merasa gembira karena dia memang merasa gerah dan dapat membayangkan betapa akan sejuk dan segarnya mandi di air yang jernih. Dia mempercepat langkahnya menuju ke arah suara air gemercik. Tiba-tiba dia menahan langkahnya. Terdengar suara beberapa orang wanita bercakap-cakap, bersenda gurau dan tertawa cekikikan di antara gemercik suara air itu. Kalau ada wanita-wanita di situ, berarti tempat itu pasti dekat dengan sebuah dusun! Hatinya merasa lega dan girang. Dia akan menghampiri para wanita itu dan menyapa mereka. Akan tetapi ketika dia sudah berada dekat dengan dari mana datangnya suara itu, dia tertegun dan mengintai dari balik batu besar. Gemercik air itu memang berasal dari sebuah grojogan kecil dan di bawahnya terdapat sebatang anak sungai yang airnya jernih sekali, mengalir di antara batu-batu bersih. Yang membuat dia tersipu adalah ketika dia melihat tiga orang gadis bertapih pinjung (kain penutup tubuh dari dada ke bawah) yang basah kuyup sehingga mencetak bentuk tubuh mereka yang indah dan tampak kulit pundak, leher dan lengan yang putih kuning mulus. Usia mereka antara tujuh belas sampai dua puluh tahun. Wajah mereka tampak ayu dan manis, dengan rambut basah terurai dan wajah berseri seri penuh senyum dan tawa senda gurau. Kalau tertawa, mulut mereka agak terbuka dan tampak deretan gigi yang putih mengkilat di balik bibir merah segar. Bukan seperti gadis-gadis dusun pada umumnya, pikir Nurseta. Lebih pantas kalau mereka itu datang dari kota, gadis gadis bangsawan, seperti yang pernah dilihatnya beberapa kali dahulu ketika dia masih tinggal di Karang Tirta, yaitu kalau Ki Lurah Suramenggala kedatangan tamu Bangsawan. Akan tetapi kalau mereka itu puteri bangsawan, mengapa mereka berada di dusun dan mandi di kali?

Nurseta merasa tidak enak untuk mengintai terus, dapat menimbulkan prasangka buruk, pikirnya. Maka diapun keluar dari balik batu besar itu dan menghampiri mereka. Tiga orang gadis itu agaknya habis mencuci pakaian yang mereka taruh di dalam keranjang, dan kini mereka sedang mandi. Seorang dari mereka yang usianya sekitar dua puluh tahun, sedang berkeramas (mencuci rambut). Rambutnya yang hitam panjang itu digosok gosoknya dengan biji lerak dan daun kenanga dan ketika melakukan pekerjaan ini, kepalanya ditundukkan, rambutnya terurai ke bawah, kedua tangannya menggosok-gosok sehingga tubuh bagian atas itu bergerak gerak seperti sedang menari. Orang kedua, gadis manis berusia sekitar delapan belas tahun, sedang menggosok-gosok kulit dada bagian atas dekat leher dengan sebuah batu hitam yang halus. Adapun gadis ke tiga yang usianya sekitar tujuh belas tahun sedang menggosok-gosok betis kaki kanannya yang ia angkat ke atas sebuah batu. Betis berkulit kuning mulus itu juga digosok-gosok dengan batu hitam yang halus. Melihat tiga tubuh gadis muda yang padat, berkulit putih mulus, dengan lekuk lengkung yang sempurna, bagaikan tiga tangkai bunga yang sedang mekarnya, Nurseta terpesona. Belum pernah selamanya dia merasa sedang melihat suatu pemandangan yang luar biasa indahnya. Nurseta tiba di tepi anak sungai, hanya dalam jarak tiga meter dari mereka. Karena sedang asyik dengan pekerjaan masing-masing dan tersamar oleh suara gemercik air, mereka agaknya tidak melihat atau mendengar kedatangan pemuda itu.
"Maafkan aku, nimas bertiga1" kata Nurseta dengan suara agak nyaring untuk mengatasi suara gemercik air.

Tiga orang gadis itu menengok dan mereka terkejut sekali melihat ada seorang pemuda telah berdiri di tepi sungai. Bahkan gadis yang termuda, yang tadi mengangkat kakinya ke atas batu dan menggosok-gosok betisnya, kini berdiri tegak dan gerakannya yang tiba tiba ini membuat ikatan tapih pinjungnya terlepas dan kain itu merosot. Ia menjerit kecil dan kedua tangannya cepat menangkap kain itu dan menariknya kembali ke atas, namun kain itu tadi telah sempat membuka dan memperlihatkan sekilas sepasang payudara yang padat dan indah bentuknya. Pada jaman itu, payudara wanita bukan merupakan bagian tubuh yang teramat dirahasiakan. Namun gadis itu tersenyum malu-malu, tersipu dan menundukkan mukanya. Dua orang gadis lainnya juga memandang kepada Nurseta. Mereka bertiga terkejut karena tidak menyangka akan ada seorang laki-laki muda mendekati dan menyapa mereka. Gadis tertua, yang mempunyai titik tahi lalat hitam di pipi kirinya, membuatnya tampak manis sekali, mewakili teman-temannya.  Agaknya ia yang paling berani menghadapi pemuda asing itu dan suaranya terdengar merdu dan tutur sapanya halus, jelas menunjukkan bahwa ia bukan seorang gadis dusun yang lugu dan kasar.
"Ki sanak, andika ini seorang pria, apa maksud andika mendekati dan menyapa kami tiga orang wanita yang sedang mandi?" Pertanyaan ini merupakan teguran, namun dilakukan dengan halus menjadi sebuah pertanyaan.
Nurseta maklum akan hal ini dan semakin kuat dugaannya bahwa wanita-wanita muda ini jelas bukan gadis-gadis dusun biasa yang sederhana dan bodoh.
"Sekali lagi aku mohon maaf kalau mengganggu andika bertiga. Aku bernama Nurseta, seorang kelana yang ingin minta keterangan kepada andika di manakah kiranya aku dapat menemukan tempat untuk melewatkan malam ini." kata Nurseta dan diapun bersikap sopan.

Dia duduk di atas sebongkah batu di tepi anak sungai itu dan mengamati mereka bertiga dengan sikap sopan, tidak secara langsung mengamati wajah dan tubuh mereka, melainkan sambil lalu seolah di depannya itu tidak terdapat pemandangan yang amat menarik hatinya. Dia mendapat kenyataan betapa gadis tertua yang bicara dengannya bertubuh agak tinggi semampai lehernya panjang kepalanya tegak membuat ia tampak anggun. Wajahnya manis, pandang matanya penuh pengertian dan cerdik. Akan tetapi keseriusan yang membayang di wajahnya yang ayu itu mendatangkan kesan bahwa ia seorang wanita yang tidak mudah diajak bergurau, mungkin agak keras hatinya. Tahi lalat di pipi kirinya itu menambah kemanisan wajahnya. Gadis ke dua yang usianya sekitar delapan belas tahun berwajah bulat dan kulitnya putih sekali. Wajahnya cantik jelita, sepasang matanya bersinar-sinar penuh gairah hidup dan mulutnya yang tersenyum-senyum nakal itu membuat Nurseta menduga bahwa gadis ini tentu seorang yang berwatak riang jenaka. Mulutnya yang bentuknya indah dengan sepasang bibir tipis merah membasah yang agaknya selalu berjebi, selalu senyum dan kadang tampaklah kilatan gigi yang berderet rapi dan putih. Ada pun gadis ke tiga yang tadi merosot tapih pinjungnya, berusia sekitar tujuh belas tahun, bagaikan kuncup bunga mawar mulai mekar, wajahnya berbentuk bulat telur, dahinya agak nonong (menonjol) akan tetapi ia juga manis sekali, kalau tersenyum muncul lesung pipit kanan kiri mulutnya. Ia lebih banyak menundukkan pandang matanya, seperti malu-malu, namun sikap seperti ini bahkan menambah daya tariknya sebagai seorang dara yang baru tumbuh dewasa. Tiga orang gadis yang amat menarik hati, pikir Nurseta. Dia merasa heran bagaimana di luar sebuah hutan, di tempat yang sunyi ini, dia dapat bertemu dengan tiga orang gadis cantik seperti mereka.

Mendengar ucapan Nurseta yang penuh hormat itu dan melihat sikapnya yang sopan santun, tiga orang gadis itu menjadi agak berani. Bahkan gadis kedua tertawa dan menutupi mulut dengan tangan kirinya gerakannya begitu luwes dan indah, penuh kelembutan seorang wanita.
"Hi-hik, andika telah memperkenalkan nama kepada kami, tentu andika juga ingin sekali mengetahui nama kami Bukankah begitu, Kakangmas Nurseta?"
"Ih, malu, Mbakayu Kenangasari!" kata dara yang paling muda sambil menahan senyum dan mengerling sopan ke arah Nurseta.
"Mengapa mesti malu, Widarti? Orang saling memperkenalkan nama sewaktu bertemu, bukankah itu wajar-wajar saja? bukankah begitu, Mbakayu Sukarti?" kata gadis ke dua sambil tersenyum cerah. Gadis pertama mengerutkan alisnya.
"Diamlah kalian berdua dan jangan bergurau selalu. Kisanak ini tentu akan menganggap kita kurang sopan." tegur dara pertama yang tertua.

Nurseta tertawa. Sikap tiga dara ini membuat suasana menjadi semakin cerah dan indah, membuat gemercik air semakin nyaring menggembirakan.
"Ha-ha-ha, nimas bertiga yang baik. Tidak perlu bersusah payah memperkenalkan nama karena aku sudah tahu siapa nama andika bertiga."
"Andika sudah tahu, Kakangmas Nurseta?" Tanya Kenangasari sambil tersenyum.
"Tentu saja! Andika bernama Kenangasari, nimas ini bernama Sukarti dan yang itu bernama Widarti." kata Nurseta yang kini dihinggapi perasaan gembira menghadapi tiga orang gadis jelita itu.
"Hemrn, apa anehnya itu? Kenangasari, jangan bodoh. Tentu saja dia tau, karena tadi kita saling memanggil nama masing-masing!" kata Sukarti.
"Benar sekali. Tadi andika bertiga tanpa kuminta telah memperkenalkan nama masing-masing. Sekarang, setelah kita saling berkenalan, maukah andika bertiga suka menjawab pertanyaanku tadi?"
"Pertanyaan yang mana? Andika tadi bertanya apa sih?" Tanya Kenangasari dengan senyum manis.
"Tadi aku bertanya apakah andika bertiga dapat menunjukkan di mana aku bisa mendapatkan tempat untuk melewatkan malam ini."

Tiga orang gadis itu saling pandang, kemudian Kenangasari yang menjawab. Agaknya ia merupakan orang yang paling pandai dan berani bicara sehingga ia mewakili kedua orang temannya untuk menjawab.
"Kenapa andika tidak bermalam saja di rumah kami, Kangmas Nurseta?"
"Ih, Mbakayu Kenangasari, engkau lancang!" tegur Widarti.
"Kenapa lancang? Bukankah kita sudah berkenalan dengan Kangmas Nurseta dan agaknya dia bukan penjahat? Apa salahnya dia bermalam di rumah kita semalam? Kita mempunyai sebuah kamar kosong."
"Tapi ....." Kini Sukarti yang mencela. Ucapannya dipotong cepat oleh Kenangasari.

<<<Bagian 08                                                                                        Bagian 10 >>>

No comments:

Post a Comment