Bagian 08


"Sudah lama aku menyimpan harta ini. Karena aku sendiri tidak membutuhkannya, maka kuberikan kepadamu untuk bekal dalam perantauanmu. Nah, sekarang berangkatlah."

Nurseta menerima kantung kain yang berisi potongan emas itu. Dia merasa terharu akan tetapi sekali ini dia menguatkan perasaannya dan tidak memperlihatkan keharuannya agar tidak disebut cengeng oleh eyang gurunya.
"Terimakasih eyang. Saya mohon pamit." Nurseta berlutut menyembah.
Kakek itu mengibaskan tangannya.
"Pergilah dan selalu waspadalah!"
"Selamat tinggal eyang. Harap eyang menjaga diri baik-baik. Saya … saya pergi eyang."
"Pergilah!" kata kakek itu dan dia sudah memejamkan matanya kembali, bersikap seolah tidak mengacuhkan pemuda itu lagi.

Nurseta menyembah lagi lalu dia bangkit dan berjalan pergi menuruni puncak gunung Arjuna itu. Setelah pemuda itu pergi barulah Empu Dewamurti membuka matanya dan memandang ke arah bayangan muridnya yang menuruni lereng bawah puncak. Dia menghela nafas panjang dan berbisik,
"Semoga Sang Hyang Widhi selalu membimbingmu, Nurseta!"
Setelah bayangan muridnya itu lenyap, Empu Dewamurti masih termenung duduk di atas batu besar itu. Dia sedang mengamati diri sendiri, mengamati perasaan hatinya, mengamati ulah pikirannya dan dengan waspada ia melihat bagaimana nafsu daya rendah bekerja. Mula-mula hati akal pikiran diusiknya, sehingga pikirannya membayangkan betapa dia ditinggal sendiri oleh murid yang dikasihinya, betapa dia kini seorang diri di tempat sunyi itu, betapa dia kehilangan, kesepian. Muncullah dari pemikiran ini rasa iba diri, meremas-remas hati merasakan betapa dia merupakan seorang tua yang terlantar, tiada yang memperhatikan, tiada yang melayani lagi, tiada yang menghibur. Dari rasa iba muncullah kesedihan. Kakek itu tersenyum. Yang merasa iba diri lalu menjadi sedih itu bukan aku, melainkan nafsu dalam hati akal pikiran yang mengaku-aku.

Tiba-tiba kakek yang sudah waspada selalu itu tubuhnya bergerak ke atas dalam keadaan duduk bersila dan nampak berkelebat menghantam batu yang didudukinya tadi.
"Darrr …!!" api pijar disusul asap mengepul dan batu besar yang tadi diduduki Empu Dewamurti pecah berkeping-keping!
Tubuh Empu Dewamurti kini melayang turun dan hinggap di atas tanah dalam keadaan berdiri. Lima bayangan orang berkelebat. Dan di depannya telah berdiri seorang wanita bertubuh tinggi besar dan gendut seperti seorang raksesi (raksasa wanita). Pakaiannya mewah sekali, serba gemerlapan. Dan ia memakai perhiasan terbuat dari emas dan batu permata. Usianya sekitar lima puluh tahun namun ia amat pesolek, bedaknya tebal seperti kapur, pipi, bibir dan kuku jari tangan serta kakinya memakai pacar (daun pemerah), rambutnya berkilau oleh minyak, disisir dan digelung rapi. Wajahnya serba bulat, matanya, hidungnya, mulutnya, pipinya, dagunya semuanya serba bulat dan bundar. Akan tetapi kalau ia tersenyum, tampak gigi taringnya panjang. Disampingnya, di kanan kiri, berdiri empat orang laki-laki yang berusia sekitar enam puluh tahun atau kurang sedikit. Seorang diantara mereka adalah laki-laki tinggi besar brewok berkulit hitam, berpakaian mewah dan sikapnya angkuh. Sekali pandang saja Empu Dewamurti mengenal dua orang ini. Si wanita raseksi adalah Mayang Gupita, seorang yang dianggap ratu oleh segolongan orang liar yang tinggal di pantai laut Kidul. Mayang Gupita ini adalah keturunan terakhir dari mereka yang disebut raja-raja siluman dari pantai laut Kidul. Wanita ini terkenal bukan saja karena kesaktiannya, melainkan juga karena kekejamannya dan kabarnya sebulan sekali dia makan daging bayi!. Adapun laki-laki tinggi besar itu bukan lain adalah Resi Bajrasakti, datuk kerajaan Wengker yang lima tahun lalu pernah bertanding dengan Empu Dewmurti di pantai pasir putih dekat Dusun Karang Tirta.

Tiga orang yang lain adalah laki-laki berusia lima puluh sampai enam puluh tahun. Mereka bertiga ini mengenakan pakaian yang lain potongannya, dengan kain ikat kepala yang meruncing ke atas. Melihat pakaian mereka, Empu Dewamurti mengenal mereka sebagai orang-orang Wurawari yang agaknya merupakan bangsawan-bangsawan karena pakaian mereka juga serba mewah. Seorang bertubuh tinggi kurus, orang kedua bertubuh pendek gendut, dan orang ketiga berkepala gundul seperti seorang Bhiksu (Pendeta Agama Budha). Diam-diam mengertilah Empu Dewamurti bahwa dia berhadapan dengan orang-orang yang sakti mandraguna, orang-orang yang berbahaya sekali. Mereka adalah orang-orang dari tiga kerajaan kecil yang selalu memusuhi keturunan Mataram sejak dulu.
"Jagat Dewa Bhatara! Kiranya Sang Ratu Mayang Gupita dari kerajaan siluman pantai Kidul dan Resi dari Kerajaan Wengker yang datang. Dan andika bertiga tentu dari Kerajaan Wurawari, siapakah gerangan andika?"
"Aku Kalamuka!" kata yang tinggi kurus bermuka tikus, berusia enampuluh tahun.
"Aku Kalamanik!" kata yang pendek gendut berusia sekitar lima puluh lima tahun.
"Dan aku Kalateja!" kata yang berkepala gundul berusia lima puluh tahun.
"kami bertiga adalah para senopati Kerajaan Wurawari.”

Empu Dewamurti tahu benar bahwa mereka inilah yang mendatangkan perasaan dalam hatinya bahwa saat akhir hidupnya telah tiba. Karena itu dia menyuruh muridnya turun gunung. Namun sikap sang empu ini masih tenang saja dan dia berkata dengan suara mengandung teguran.
"Andika berlima dari tiga kerajaan datang menyerang secara pengecut, sebetulnya apakah maksud kedatangan kalian ke sini?"
"Bojleng-bojleng iblis laknat! Empu Dewamurti, tidak perlu berpura-pura bertanya lagi. Diantara andika masih ada perhitungan yang belum lunas."
"Dan Andika Ratu Mayang Gupita, ada keperluan apakah andika dengan aku sehingga jauh-jauh andika meninggalkan kerajaanmu dan datang ke puncak Arjuna ini?"
"Babo-babo, Empu Dewamurti!" kata raseksi itu dengan suara yang besar dan parau seperti suara seorang pria.
"Andika akan kubiarkan hidup asalkan engkau suka menyerahkan Keris Pusaka Megatantra kepadaku, heh-hehheh-heh!"
"Ah, begitukah? Resi Bajrasakti datang untuk menebus kekalahannya lima tahun yang lalu dan Ratu Mayang Gupita datang untuk merampas Keris Pusaka Megatantra. Lalu andika bertiga dari Wurawari datang kesini dengan maksud apakah?"
"Kami bertiga mewakili Nyi Durgakumala untuk minta Keris Megatantra darimu, Empu Dewamurti!" kata Kalamuka yang agaknya sebagai saudara tertua memimpin tiga sekawan itu.
"Hemmm, begitukah? Jadi kalian berlima datang untuk mengeroyok aku seorang diri? Benar-benar kalian berlima adalah orang-orang gagah perkasa!" Empu Dewamurti mengejek sambil tersenyum tenang walaupun dia tahu bahwa dirinya terancam bahaya maut.
"Hik-hik-hik, Empu Dewamurti, manusia sombong! Apakah kau kira aku takut kepadamu? Lihat serangan mautku yang akan menghancurkan tubuhmu. Haaaahhhh!!" Raseksi wanita yang tubuhnya satu setengah tinggi dari besar tubuh Resi Bajrasakti itu mendorong kedua tangannya ke arah Empu Dewamurti. Sebongkah bola api meluncur keluar dari kedua telapak tangannya, menyambar ke arah Empu Dewamurti.

Melihat ini Sang Empu maklum bahwa penyerang pertama tadi yang menghancurkan batu yang didudukinya, tentu dilakukan oleh ratu kerajaan siluman ini. Dia maklum betapa dahsyatnya serangan itu, maka dia tidak berani menyambutnya. Dia menggunakan kecepatan gerakannya mengelak sehingga bola api itu luput dan menghantam sebatang pohon cemara.
"Darrr ... krakkk!" pohon itu tumbang lalu roboh dan asap mengepul tebal. Maklum bahwa lawannya amat sakti, Empu Dewamurti tentu saja tidak membiarkan dirinya diserang tanpa melawan. Dia lalu berseru nyaring dan tubuhnya melompat dan menerjang ke arah raksasa perempuan itu. Dia mengerahkan aji bayusakti yang membuat tubuhnya amat ringan dan dapat bergerak seperti angin dan kaki tangannya bergerak memainkan ilmu silat Baka Denta (Bangau Putih). Tubuh kakek itu berkelebat dan berubah menjadi bayang-bayang putih seperti seekor burung bangau menyambar-nyambar. Kedua tangannya dalam menyerang membentuk patuk burung dengan lengan menjadi leher burung bangau yang panjang. Gerakannya cepat dan aneh sehingga Ratu Mayang Gupita menjadi terkejut sekali. Akan tetapi Ratu Kerajaan Siluman Laut Kidul ini memang sakti mandraguna. Terutama ia memiliki kekuatan sihir yang kuat karena gurunya bukan manusia melainkan siluman atau sebangsa lelembut. Ia mengeluarkan pekik panjang melengking yang menggetarkan seluruh puncak itu dan tiba-tiba tubuh yang hampir dua kali besar tubuh Empu Dewamurti itu berpusing cepat seperti gasing!

Menghadapi ilmu aneh dari ratu kerajaan siluman ini Empu Dewamurti menjadi terkejut. Biarpun gerakannya amat cepat, namun dia tidak mampu menyerang tubuh yang berpusing seperti gasing itu. Setiap kali dia mengirim tamparan, pukulan atau tendangan, selalu tertangkis tubuh yang berpusing itu. Dan pusingan itu kadang mencuat tangan yang mencengkeram atau menampar, terkadang kaki yang panjang besar mencuat dengan tendangan kilat yang amat dahsyat. Setelah kedua orang sakti itu bertanding beberapa lamanya, di tonton oleh empat orang datuk yang lain, akhirnya perlahan-lahan Empu Dewamurti mulai terdesak. Tubuh raseksi yang berpusing itu gerakannya semakin cepat sehingga tubuhnya lenyap berubah menjadi gulungan bayang-bayang yang selain mengeluarkan suara menderu, juga diselingi suara tawa melengking yang menggetarkan jantung penuh dengan pengaruh dan tenaga sihir dahsyat. Empu Dewamurti maklum bahwa kalau dilanjutkan dia tentu akan roboh. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara gerengan dahsyat dan terdengar suaranya mengelegar seperti guntur sehingga bumi di mana mereka berpijak tergetar dan pohon-pohon terguncang seperti di landa angin ribut.
"Aji Triwikrama!" Kakinya dibanting ke tanah sambil melangkah tiga kali dan..... Ratu Mayang Gupita mengeluarkan seruan kaget melihat betapa kini tubuh Empu Dewamurti berubah menjadi besar sekali, jauh lebih besar daripada tubuhnya sendiri, seperti sebatang pohon beringin yang besar dan lebat! Akan tetapi raseksi itu adalah seorang yang selain sakti mandraguna juga sudah memiliki banyak sekali pengalaman bertanding, maka ia tidak menjadi gentar. Maka pada saat Empu Dewamurti yang telah menjadi raksasa sebesar pohon beringin itu mendorongkan telapak tangan ke arahnya, ia berani mengerahkan tenaga dan menyambut dengan dorongan tangannya yang mengeluarkan bola api.
"Blarrr .....!" Hebat sekali pertemuan dua tenaga sakti itu.
Bola api itu meleedak dan mengeluarkan asap, dan tubuh ratu kerajaan siluman itu terdorong mundur empat langkah. Pada saat itu, Empu Dewamurti kembali menyerangnya dengan dorongan kedua telapak tangannya yang bertenaga dahsyat. Ratu Mayang Gupita juga sudah siap menyambut, ia merasa girang sekali ketika melihat betapa Resi Bajrasakti dan tiga orang datuk dari kerajaan Wurawari itu serentak maju pula menyambut serangan Empu Dewamurti dengan dorongan tangan mereka yang disertai pengerahan tenaga sakti.
"Syuuuuttt ..... darrrrr .....!!"
Dapat dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga lima orang itu yang dipersatukan menyambut serangan Empu Dewamurti. Tubuh setinggi pohon beringin itu terlempar jauh ke belakang dan berubah menjadi seperti biasa kembali.

Ketika terbanting ke atas tanah, darah mengalir dari mata, telinga, hidung dan mulut Empu Dewamurti. Akan tetapi dalam keadaan separah itu, sang empu masih sanggup mengeluarkan Aji Sirnasarira dan tiba-tiba saja tubuhnya menghilang! Lima orang lawannya yang tadinya merasa girang melihat mereka dapat merobohkan sang empu yang amat sakti itu, menjadi terkejut dan bingung karena tiba-tiba tubuh lawan yang mereka robohkan itu lenyap. Mereka menjadi gentar, takut kalau-kalau dalam keadaan tidak tampak Empu Dewamurti menyerang mereka dengan pukulan mematikan. Maka, tanpa dikomando lagi lima orang itu lalu melompat pergi meninggalkan tempat itu. Karena tidak dapat melihat lawan, lima orang itu menjadi ketakutan seolah merasa diri mereka dikejar, maka mereka mengerahkan tenaga berlari secepat mungkin menuruni Gunung Arjuna. Ketika mereka tiba di lereng bawah dekat kaki gunung, mereka yang berlari cepat dengan ketakutan itu tidak melihat Nurseta yang bersembunyi di balik sebatang pohon jati yang besar. Pemuda itu secara kebetulan tadi menengok memandang ke belakang, ke arah puncak di mana dia meninggalkan gurunya. Pada saat itulah dia melihat lima bayangan orang yang berlari secepat terbang, menuruni puncak. Dari cara mereka berlari seperti terbang, tahulah Nurseta bahwa mereka tentu orang-orang yang memiliki aji kanuragan yang tinggi tingkatnya. Timbul keheranan dan kecurigaan dalam hatinya, maka dia lalu menyelinap di balik batang pohon agar mereka tidak dapat melihatnya. Ketika lima orang itu lewat dekat, dia mengenal seorang di antara mereka sebagai Resi Bajrasakti yang pada lima tahun yang lalu bersama Nyi Dewi Durgakumala pernah bertanding melawan gurunya. Hati Nurseta merasa tidak enak. Melihat adanya Resi Bajrasakti di antara lima orang itu, timbul kecurigaannya. Apa lagi empat orang yang lain itu juga memiliki kesaktian, hal ini tampak dari cara mereka berlari.

Walaupun Nyi Dewi Durgakumala tidak tampak di antara mereka, akan tetapi seorang di antara mereka adalah seorang wanita bertubuh tinggi besar seperti raksasa yang menyeramkan. Hampir dapat dipastikan bahwa tentu lima orang itu tidak bermaksud baik mendaki puncak itu. Jangan-jangan mereka menyerbu pondok gurunya. Membayangkan hal ini, Nurseta lalu cepat berlari mendaki gunung itu lagi menuju ke puncak di mana tadi dia meninggalkan gurunya. Dengan mempergunakan Aji Bayu Sakti, tubuhnya meluncur seperti angin cepatnya dan sebentar saja dia sudah tiba di depan pondok.
"Eyang guru .....!'•' serunya lirih dan cepat dia membuka pintu pondok dan masuk.
Akan tetapi, dia tidak dapat menemukan gurunya dalam pondok. Nurseta melompat keluar dan berlari cepat menuju ke tempat di mana tadi dia meninggalkan gurunya yang duduk di atas batu besar. Tak lama kemudian pemuda itu berdiri terbelalak dengan muka pucat memandang ke arah batu yang biasa menjadi tempat dia termenung dan bersamadhi itu sudah hancur berkeping-keping dan tidak tampak gurunya berada di situ. Tiba-tiba dia mendengar gerakan orang. Cepat dia memutar tubuhnya dan dia melihat Empu Dewamurti berdiri dan terhuyung-huyung agaknya hendak melangkah namun sukar kakek itu mempertahankan dirinya yang hendak roboh.
"Eyang guru .....!" Nurseta melompat dan cepat merangkul dan alangkah kagetnya melihat darah mengalir dari mata, hidung, mulut dan telinga gurunya. Ketika dia merangkul, Empu Dewamurti terkulai pingsan dalam pelukannya.
"Eyang .....!" Nurseta lalu memondong tubuh gurunya dan dibawanya tubuh yang kurus itu berlari cepat ke pondok.

<<<Bagian 07                                                                                        Bagian 09 >>>

No comments:

Post a Comment