Kakek itu tinggi kurus. Rambut, kumis dan jenggotnya yang panjang sudah bercampur banyak uban, memandang kepada pemuda yang telah menyambutnya dengan berdiri membungkuk hormat itu dengan senyum.
"Eyang guru, silakan
duduk!" kata pemuda itu mempersilakan kakek itu duduk di atas batu datar
yang tadi dipakai duduk bersila.
Kakek itu mengangguk-angguk dan
tersenyum melebar lalu matanya memandang ke arah pemandangan yang permai di
bawah puncak sambil duduk di atas batu itu.
'Hemm, Nurseta, sejak kapan engkau
berada di sini menikmati segala keindahan ini?" tanya kakek itu yang bukan
lain adalah Empu Dewamurti. Pemuda itu adalah Nurseta. Seperti telah diceritakan
dibagian depan kisah ini, lima tahun yang lalu, Nurseta diajak Empu Dewamurti
ke pegunungan Arjuna dan di atas puncak ini sang empu mengajarkan aji-aji
kanuragan kepada Nurseta. Selama lima tahun Nurseta belajar dan telah menjadi
seorang pemuda dewasa berusia dua puluh satu tahun yang sakti mandraguna.
"Saya telah berada di sini
sejak fajar tadi, eyang, sebelum matahari muncul di balik puncak di timur
itu."
"Duduklah, Seta." Kata
kakek itu melihat muridnya hanya berdiri saja dengan sikap hormat.
"Terima kasih eyang."
Nurseta lalu duduk di atas akar pohon yang menonjol di permukaan tanah di bawan
dan depan batu yang menjadi tempat duduk gurunya.
"Seta, selama lima tahun engkau
berada di sini mempelajari ilmu dan kalaupun kadang turun, paling jauh hanya ke
dusun di bawah itu. Dari puncak ini engkau dapat melihat daerah yang amat luas.
Tentu engkau merasa rindu untuk menjelajahi tempat-tempat yang jauh itu,
bergaul dengan manusia-manusia lain, menghadapi pengalaman-pengalaman baru,
meningkatkan pengetahuanmu dan terutama sekali memanfaatkan ilmu yang telah kau
pelajari selama lima tahun di sini."
Diam-diam Nurseta merasa kagum.
Gurunya ini selain sakti mandraguna juga bijaksana sekali dan seolah dapat
membaca apa yang terkandung dalam hatinya.
"Mengapa eyang berkata
begitu?" pancingnya.
Empu Dewamurti tersenyum dan
mengelus jenggotnya.
"Nurseta, selama ini aku
memperhatikan dan melihat kenyataan bahwa sudah lima hari berturut-turut ditiap
pagi sebelum fajar menyingsing engkau berada di sini dan melamun. Karena itu
aku dapat mengetahui bahwa engkau rindu untuk menjelajahi tempat-tempat di luar
daerah ini. Aku menyetujui keinginanmu itu, Seta. Kukira sudah cukup engkau
menimba ilmu di sini, sudah cukup sebagai bekal perjalananmu menjelajahi dunia
ramai."
Nurseta menyembah.
"Sesungguhnya benar sekali apa
yang paduka katakan itu, eyang. Akan tetapi ada dua hal yang membuat saya
merasa ragu dan berat hati untuk memenuhi keinginan hati merantau. Pertama,
saya mendapat kasih sayang dan bimbingan dari paduka selama lima tahun di sini.
Kedua, saya mendapatkan ketentraman batin di sini dan saya khawatir kehilangan
ketentraman itu kalau saya berada di tempat ramai.”
"Heh-heh-heh-heh!" kakek
itu tertawa.
“Kita masing-masing harus berani
meninggalkan dan ditinggalkan, harus berani seorang diri. Bukankah ketika lahir
kitapun sendirian dan nanti juga meninggalkan kehidupan dunia ini sendirian
pula? Tidak ada pertemuan yang tidak diakhiri dengan perpisahan, kulup. Akupun
akan segera pergi dari sini dan tidak akan kembali lagi. Karena itu jangan
pikirkan tentang diriku. Adapun tentang ketenteraman batin, bukan tempat dan
keadaan yang menentukan, melainkan keadaan batinmu sendiri. Kalau batinmu
tenteram, dimanapun engkau akan merasa tenteram. Sebaliknya kalau batinmu
kacau, biar tinggal dimanapun engkau akan merasa kacau."
"Eyang selalu mengatakan bahwa
bahaya terbesar dalam kehidupan ini datang dari dalam, dari diri sendiri.
Terkadang saya masih bingung memikirkan hal ini, eyang. Sudikah kiranya eyang
memberi penjelasan?"
"Musuh terbesar adalah peserta
atau pembantu kita sendiri yang berada dalam hati akal pikiran, yaitu
nafsu-nafsu kita. Hidup kita menjadi berbahagia lahir dan batin kalau kalau
kita dapat menjaga agar nafsu-nafsu kita tetap menjadi pelayan kita, untuk
memenuhi kebutuhan hidup kita secara lahiriah. Akan tetapi sekali kita
melangkah dan nafsu-nafsu itu menguasai kita, memperbudak kita maka kehidupan
kita lahir batin akan hancur. Nafsu menimbulkan keinginan-keinginan. Keinginan
adalah angan-angan, bukan kenyataan. Nafsu mendorong kita untuk menginginkan
segala sesuatu yang tidak ada pada kita, menginginkan segala sesuatu yang kita
anggap lebih menyenangkan dari pada apa yang ada pada kita. Dengan demikian
keinginan justeru meniadakan hidup yang sudah ada. Mengejar keinginan berarti
mengejar bayangan hampa, bagaikan orang mengejar bayangan bulan yang indah di
dalam air. Salah-salah kita dapat tenggelam dan hanyut. Mengejar kesenangan
berarti membuka pintu menuju duka. Kalau tidak tercapai kita kecewa dan
berduka, kalau tercapai apa yang kita kejar kita akan kecewa pula karena disana
sudah ada bayangan lain lagi yang kita kejar karena kita anggap lebih
menyenangkan dari pada apa yang kita dapat."
"Akan tetapi eyang guru, kalau
manusia hidup tanpa keinginan, bukankan itu berarti sama dengan mati?"
Empu Dewamurti tersenyum.
"Sudah kukatakan bahwa kita
tidak dapat hidup tanpa nafsu. Kita mempergunakan nafsu sebagai pelayan,
sebagai abdi yang membantu kita untuk mendapatkan segala sesuatu yang kita
butuhkan dalam kehidupan di dunia ini. Kita bahkan wajib berusaha untuk hidup
sejahtera, mencukupi semua kebutuhan. Akan tetapi kalau kesadaran jiwa yang
mengendalikan nafsu, maka usaha untuk dapat hidup itu selalu berpijak di atas
jalan kebenaran. Sebaliknya kalau nafsu yang menguasai kita, maka keinginan
mendapatkan segala sesuatu yang dianggap lebih menyenangkan itu akan mendorong
kita melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran, dapat membuat kita
berbuat jahat demi memperoleh kesenangan yang kita kejar dan inginkan."
"Mohon ampun kalau saya
bertanya terus, bukan hendak membantah, melainkan hendak menyampaikan uneg-uneg
agar hati saya tidak merasa penasaran, eyang. Kalau segala keinginan datang
dari nafsu, bagaimana dengan keinginan untuk berbuat kebaikan? Keinginan untuk
menolong orang lain?"
Kakek itu mengelus jenggotnya.
"Maksudmu, keinginan orang
untuk menjadi seorang yang baik?"
"Benar Eyang."
"Angger Nurseta, memang julig
(cerdik) dan licik sekali nafsu daya rendah yang kadang kita menyebutnya
sebagai setan itu. Terkadang dia bisa mengubah dirinya menjadi dewa atau dewi
dengan suara lemah lembut dan bijaksana, namun semua itu merupakan umpan untuk
memancing manusia sehingga dapat dikelabui dan dikuasainya. Sebetulnya tidak
ada yang disebut keinginan baik itu, semua keinginan dating dari nafsu daya
rendah dan nafsu selalu menginginkan sesuatu yang menyenangkan diri sendiri.
Kalau seorang ingin melakukan kebaikan, pada hakekatnya tersembunyi keinginan
untuk menguntungkan dan menyenangkan diri pribadi. Di situ tersembunyi pamrih
untuk mendapatkan sesuatu."
"Maaf eyang. Bukankah pamrih
itu ada pula yang baik? Misalnya orang berbuat kebaikan dengan pamrih agar
mendapat berkah dari Sang Hyang Widhi, agar menanam karma baik, agar kelak
mendapat tempat yang baik di sorgaloka setelah meninggalkan dunia ini."
"Nah, camkanlah itu. Buka mata
hatimu dengan waspada dan lihatlah kenyataan yang terkandung dalam pertanyaanmu
sendiri tadi. Perbuatan itu, betapapun baik sifatnya, kalau didorong keinginan
sendiri, menimbulkan pamrih agar begini agar begitu, yang pada hakekatnya agar
mendatangkan keuntungan bagi diri sendiri, perbuatan seperti itu bukanlah
kebaikan yang sejati, melainkan kebaikan semu yang munafik. Selidiki pamrihnya
seperti kau kemukakan tadi. Agar mendapat berkah dari Sang Hyang Widhi. Siapa
yang mendapat berkah? Aku. Siapa yang untung dan senang akibat perbuatan baik
tersebut? Aku. Tadi perbuatan yang katanya baik itu dilakukan dengan satu
tujuan, yaitu menguntungkan dan menyenangkan si Aku. Agar menanam karma baik,
juga Aku yang akhirnya senang dan untung. Lalu, agar masuk sorgaloka. Berarti
juga agar Aku yang senang karena sorgaloka dianggap sebagai tempat yang
menyenangkan, bukan? Perbuatan baik yang didorong keinginan itu bukan lain
hanya merupakan penyogokan atau penyuapan saja, seperti modal dalam perdagangan
agar kelak mendapat keuntungan bagi diri sendiri. Dapatkah engkau melihat
kenyataan itu, Nurseta?"
Pemuda itu tertegun. Betapa
anehnya,akan tetapi betapa jelasnya menelanjangi kenyataan yang terselubung.
Semua Weda (Kitab Suci), semua guru agama dan kebatinan mengajarkan agar
manusia berbuat baik. Ajaran-ajaran ini tentu saja menimbulkan keinginan
manusia untuk berbuat baik, apalagi di samping ajaran untuk berbuat baik itu
selalu disertai janji-janji muluk terutama janji akan "keadaan yang lebih
baik" setelah manusia meninggalkan dunia ini. Apakah setan yang licik
menyusup dan justeru menggunakan ajaran dan janji pahala ini untuk menyeret
manusia ke dalam kemunafikan? Berbuat baik hanya karena menginginkan keuntungan
dan kesenangan bagi diri sendiri?
"Aduh eyang! Kalau begitu,
apakah manusia di dunia ini tidak dapat berbuat baik?"
Kakek itu merenung sejenak sambil
memejamkan kedua matanya. Kemudian dia berbicara dengan lembut sekali, hampir
tidak terdengar, seperti berbisik.
"Yang benar dan baik secara
mutlak dan sejati hanyalah Sang Hyang Widhi. Yang dilakukan manusia barulah
dikatakan benar dan baik kalau itu merupakan kehendak Sang Hyang Widhi. Manusia
hanya menjadi pelaksana, menjadi alatnya. Kalau sinar Sang Hyang Maha Asih
menerangi jiwa nurani maka hati, akal, pikiran akan terbimbing dan lahirlah
perbuatan tanpa pamrih, tanpa dinilai baik atau buruk, melainkan dituntun
sebagai alat Sang Hyang Widhi. Batin akan dipenuhi cinta kasih dan perbuatan
apapun juga macamnya, kalau didasari cinta kasih yang merupakan sinar Sang
Hyang Maha Asih, pasti benar dan bik, karena bukan timbul dari dorongan nafsu
yang membonceng dari akal pikiran. Murni dan bersih dari keinginan nafsu.
Berbahagialah manusia yang menjadi alatnya selama hidupnya."
Nurseta menyembah.
"Sebuah pertanyaan lagi, eyang
guru. Bagaimana caranya agar seorang dapat disinari kasih murni dari Sang Hyang
Maha Asih? Agar dapat dijadikan alatnya?"
"Heh-heh-heh, kembali
pertanyaan itu timbul dari bujukan nafsu, angger Nurseta. Kembali timbul
keinginan agar begini agar begitu! Cara itu menunjukkan adanya keinginan,
bukan? Tidak ada caranya. Hanya berserah diri, membuka jiwa kita dari
kungkungan nafsu, mendekatkan diri dari Sang Hyang Widhi dengan berdoa setiap
saat tanpa henti. Kalau nafsu yang mengaku-aku sudah tidak bekerja, maka
kekuasaan Sanghyang Widhi yang akan bekerja dalam diri kita. Ingat, hanya Dia
yang jkuasa, hanya Dia yang memiliki . kita tidak berkuasa, kita hanya
mempunyai secara lahiriah akan tetapi tidak memiliki. Kita hanya berupaya
dengan dasar penyerahan diri terhadap keputusanNya. Nah cukuplah, angger. Tidak
perlu bertanya lagi. Engkau akan mengerti sendiri kelak. Dengan kepasrahanmu,
penyerahanmu, Dia akan membimbing, akan memberi petunjuk, karena dialah gurumu
yang sejati, Dialah pemimpinmu yang sejati. Nah sekarang berkemaslah karena
hari ini juga engkau harus turun gunung melaksanakan tugasmu sebagai seorang
kesatria."
"Duh eyang ….."
"Heh-heh-heh-heh, jangan
cengeng, Nurseta!" kata kakek itu sambil menatap wajah muridnya yang
tampak bersedih.
"Eyang tidak mempunyai
siapa-siapa lagi di dunia ini, hidup sebatang kara, demikian pula saya. Apakah
kita berdua yang hidup sebatang kara ini tidak dapat hidup bersama?"
"Siapa bilang kita hidup
sebnatang kara? Tengoklah, seluruh manusia di dunia ini, bukanlah mereka semua
itu juga senasib sependeritaan denganmu? Bukankah mereka-mereka itupun
saudara-saudaramu? Hayo cepat berkemas, tidak pantas muridku cengeng seperti
perempuan."
"Baik eyang." Nurseta lalu
bangkit dan pergi ke pondok yang berada tidak jauh dari situ.
Setelah Nurseta pergi, Empu
Dewamurti tersenyum seorang diri, lalu menggelengkan kepalanya perlahan-lahan
dan menghela nafas panjang. Dia memejamkan kedua matanya, merangkap kedua
tangan menjadi sembah di depan dadanya dan mulutnya berbisik.
"Duh gusti, Sang Hyang Widhi
Wasa, segala kehendak paduka terjadilah. Apapun yang menimpa diri hamba akan
hamba terima dengan rela karena hamba tahu bahwa semua itu paduka kehendaki dan
kehendak paduka adalah benar dan baik bagi hamba."
Tak lama kemudian Nurseta telah
datang lagi di tempat itu, membawa pakaiannya dalam buntalan kain hijau. Dia
berlutut dan menyembah kepada gurunya.
"Eyang guru, saya sudah
siap."
Empu Dewamurti membuka matanya dan
memandang kepada Nurseta yang menggendong buntalan pakaian dan berlutut
menyembah kepadanya itu.
"Engkau tidak lupa membawa
Keris Pusaka Megatantra?" tanyanya lembut.
Nurseta meraba gagang keris itu yang
terselip di pinggangnya.
"Tidak eyang."
"Sekarang dengarkan pesanku
terakhir, Nurseta. Keris Pusaka Megatantra itu dahulu merupakan pusaka Kerajaan
Ishana, kelanjutan Mataram yang didirikan oleh Empu Sindok dan keris pusaka itu
berada di tangan keturunan raja-raja Mataram. Akan tetapi keris pusaka itu pada
suatu hari lenyap dan sejak ratusan tahun lalu tidak pernah dapat ditemukan,
juga tidak pernah diketahui siapa pencurinya. Akhirnya secara tidak
terduga-duga, keris itu engkau temukan. Ditemukannya keris pusaka itu dekat
pantai laut selatan menunjukkan bahwa dulu pencurinya tentu seorang diantara
para siluman, yaitu tokoh-tokoh sesat yang dikenal dengan Siluman Laut Kidul.
Nah, sekarang tugas pertamamu adalah mengembalikan keris pusaka itu kepada
keturunan para raja Mataram yaitu Sang Prabu Erlangga."
"Baik eyang. Akan saya lakukan
perintah eyang."
"Pesanku yang kedua. Aku masih
ingat akan ceritamu dulu bahwa ayah ibumu pergi meninggalkanmu tanpa pamit. Hal
itu pasti ada rahasianya. Sudah menjadi kewajibanmu untuk menyelidiki perginya
kedua orang tuamu, mencari mereka dan menemukan mereka kalau masih hidup dan
menemukan mereka kalau sudah mati."
"Baik eyang. Saya tidak akan
melupakan perintah eyang ini dan akan saya cari mereka sampai dapat saya
temukan."
"Pesanku ketiga. Melihat
keadaanya sekarang, walaupun banyak raja muda yang menakluk kepada Sang Prabu
Erlangga tanpa perang, namun masih banyak kerajaan yang memusuhi Kahuripan.
Sang prabu Erlangga adalah seorang raja bijaksana, karena itu engkau sebagai
kawulannya harus membelanya. Jadilah kesatria yang bukan saja membela kebenaran
dan keadilan, namun juga menjadi pahlawan yang membela nusa dan bangsa."
"Saya mengerti Eyang. Saya akan
selalu mentaati semua petunjuk dan nasehat eyang yang pernah saya terima."
"Bagus kalau begitu,"
kakek itu mengambil sebuah kantung kain kuning dari balik jubahnya.
No comments:
Post a Comment