Bagian 07


Kakek itu tinggi kurus. Rambut, kumis dan jenggotnya yang panjang sudah bercampur banyak uban, memandang kepada pemuda yang telah menyambutnya dengan berdiri membungkuk hormat itu dengan senyum.
"Eyang guru, silakan duduk!" kata pemuda itu mempersilakan kakek itu duduk di atas batu datar yang tadi dipakai duduk bersila.
Kakek itu mengangguk-angguk dan tersenyum melebar lalu matanya memandang ke arah pemandangan yang permai di bawah puncak sambil duduk di atas batu itu.
'Hemm, Nurseta, sejak kapan engkau berada di sini menikmati segala keindahan ini?" tanya kakek itu yang bukan lain adalah Empu Dewamurti. Pemuda itu adalah Nurseta. Seperti telah diceritakan dibagian depan kisah ini, lima tahun yang lalu, Nurseta diajak Empu Dewamurti ke pegunungan Arjuna dan di atas puncak ini sang empu mengajarkan aji-aji kanuragan kepada Nurseta. Selama lima tahun Nurseta belajar dan telah menjadi seorang pemuda dewasa berusia dua puluh satu tahun yang sakti mandraguna.
"Saya telah berada di sini sejak fajar tadi, eyang, sebelum matahari muncul di balik puncak di timur itu."
"Duduklah, Seta." Kata kakek itu melihat muridnya hanya berdiri saja dengan sikap hormat.
"Terima kasih eyang." Nurseta lalu duduk di atas akar pohon yang menonjol di permukaan tanah di bawan dan depan batu yang menjadi tempat duduk gurunya.
"Seta, selama lima tahun engkau berada di sini mempelajari ilmu dan kalaupun kadang turun, paling jauh hanya ke dusun di bawah itu. Dari puncak ini engkau dapat melihat daerah yang amat luas. Tentu engkau merasa rindu untuk menjelajahi tempat-tempat yang jauh itu, bergaul dengan manusia-manusia lain, menghadapi pengalaman-pengalaman baru, meningkatkan pengetahuanmu dan terutama sekali memanfaatkan ilmu yang telah kau pelajari selama lima tahun di sini."

Diam-diam Nurseta merasa kagum. Gurunya ini selain sakti mandraguna juga bijaksana sekali dan seolah dapat membaca apa yang terkandung dalam hatinya.
"Mengapa eyang berkata begitu?" pancingnya.
Empu Dewamurti tersenyum dan mengelus jenggotnya.
"Nurseta, selama ini aku memperhatikan dan melihat kenyataan bahwa sudah lima hari berturut-turut ditiap pagi sebelum fajar menyingsing engkau berada di sini dan melamun. Karena itu aku dapat mengetahui bahwa engkau rindu untuk menjelajahi tempat-tempat di luar daerah ini. Aku menyetujui keinginanmu itu, Seta. Kukira sudah cukup engkau menimba ilmu di sini, sudah cukup sebagai bekal perjalananmu menjelajahi dunia ramai."
Nurseta menyembah.
"Sesungguhnya benar sekali apa yang paduka katakan itu, eyang. Akan tetapi ada dua hal yang membuat saya merasa ragu dan berat hati untuk memenuhi keinginan hati merantau. Pertama, saya mendapat kasih sayang dan bimbingan dari paduka selama lima tahun di sini. Kedua, saya mendapatkan ketentraman batin di sini dan saya khawatir kehilangan ketentraman itu kalau saya berada di tempat ramai.”
"Heh-heh-heh-heh!" kakek itu tertawa.
“Kita masing-masing harus berani meninggalkan dan ditinggalkan, harus berani seorang diri. Bukankah ketika lahir kitapun sendirian dan nanti juga meninggalkan kehidupan dunia ini sendirian pula? Tidak ada pertemuan yang tidak diakhiri dengan perpisahan, kulup. Akupun akan segera pergi dari sini dan tidak akan kembali lagi. Karena itu jangan pikirkan tentang diriku. Adapun tentang ketenteraman batin, bukan tempat dan keadaan yang menentukan, melainkan keadaan batinmu sendiri. Kalau batinmu tenteram, dimanapun engkau akan merasa tenteram. Sebaliknya kalau batinmu kacau, biar tinggal dimanapun engkau akan merasa kacau."
"Eyang selalu mengatakan bahwa bahaya terbesar dalam kehidupan ini datang dari dalam, dari diri sendiri. Terkadang saya masih bingung memikirkan hal ini, eyang. Sudikah kiranya eyang memberi penjelasan?"
"Musuh terbesar adalah peserta atau pembantu kita sendiri yang berada dalam hati akal pikiran, yaitu nafsu-nafsu kita. Hidup kita menjadi berbahagia lahir dan batin kalau kalau kita dapat menjaga agar nafsu-nafsu kita tetap menjadi pelayan kita, untuk memenuhi kebutuhan hidup kita secara lahiriah. Akan tetapi sekali kita melangkah dan nafsu-nafsu itu menguasai kita, memperbudak kita maka kehidupan kita lahir batin akan hancur. Nafsu menimbulkan keinginan-keinginan. Keinginan adalah angan-angan, bukan kenyataan. Nafsu mendorong kita untuk menginginkan segala sesuatu yang tidak ada pada kita, menginginkan segala sesuatu yang kita anggap lebih menyenangkan dari pada apa yang ada pada kita. Dengan demikian keinginan justeru meniadakan hidup yang sudah ada. Mengejar keinginan berarti mengejar bayangan hampa, bagaikan orang mengejar bayangan bulan yang indah di dalam air. Salah-salah kita dapat tenggelam dan hanyut. Mengejar kesenangan berarti membuka pintu menuju duka. Kalau tidak tercapai kita kecewa dan berduka, kalau tercapai apa yang kita kejar kita akan kecewa pula karena disana sudah ada bayangan lain lagi yang kita kejar karena kita anggap lebih menyenangkan dari pada apa yang kita dapat."
"Akan tetapi eyang guru, kalau manusia hidup tanpa keinginan, bukankan itu berarti sama dengan mati?"
Empu Dewamurti tersenyum.
"Sudah kukatakan bahwa kita tidak dapat hidup tanpa nafsu. Kita mempergunakan nafsu sebagai pelayan, sebagai abdi yang membantu kita untuk mendapatkan segala sesuatu yang kita butuhkan dalam kehidupan di dunia ini. Kita bahkan wajib berusaha untuk hidup sejahtera, mencukupi semua kebutuhan. Akan tetapi kalau kesadaran jiwa yang mengendalikan nafsu, maka usaha untuk dapat hidup itu selalu berpijak di atas jalan kebenaran. Sebaliknya kalau nafsu yang menguasai kita, maka keinginan mendapatkan segala sesuatu yang dianggap lebih menyenangkan itu akan mendorong kita melakukan perbuatan yang menyimpang dari kebenaran, dapat membuat kita berbuat jahat demi memperoleh kesenangan yang kita kejar dan inginkan."
"Mohon ampun kalau saya bertanya terus, bukan hendak membantah, melainkan hendak menyampaikan uneg-uneg agar hati saya tidak merasa penasaran, eyang. Kalau segala keinginan datang dari nafsu, bagaimana dengan keinginan untuk berbuat kebaikan? Keinginan untuk menolong orang lain?"
Kakek itu mengelus jenggotnya.
"Maksudmu, keinginan orang untuk menjadi seorang yang baik?"
"Benar Eyang."
"Angger Nurseta, memang julig (cerdik) dan licik sekali nafsu daya rendah yang kadang kita menyebutnya sebagai setan itu. Terkadang dia bisa mengubah dirinya menjadi dewa atau dewi dengan suara lemah lembut dan bijaksana, namun semua itu merupakan umpan untuk memancing manusia sehingga dapat dikelabui dan dikuasainya. Sebetulnya tidak ada yang disebut keinginan baik itu, semua keinginan dating dari nafsu daya rendah dan nafsu selalu menginginkan sesuatu yang menyenangkan diri sendiri. Kalau seorang ingin melakukan kebaikan, pada hakekatnya tersembunyi keinginan untuk menguntungkan dan menyenangkan diri pribadi. Di situ tersembunyi pamrih untuk mendapatkan sesuatu."
"Maaf eyang. Bukankah pamrih itu ada pula yang baik? Misalnya orang berbuat kebaikan dengan pamrih agar mendapat berkah dari Sang Hyang Widhi, agar menanam karma baik, agar kelak mendapat tempat yang baik di sorgaloka setelah meninggalkan dunia ini."
"Nah, camkanlah itu. Buka mata hatimu dengan waspada dan lihatlah kenyataan yang terkandung dalam pertanyaanmu sendiri tadi. Perbuatan itu, betapapun baik sifatnya, kalau didorong keinginan sendiri, menimbulkan pamrih agar begini agar begitu, yang pada hakekatnya agar mendatangkan keuntungan bagi diri sendiri, perbuatan seperti itu bukanlah kebaikan yang sejati, melainkan kebaikan semu yang munafik. Selidiki pamrihnya seperti kau kemukakan tadi. Agar mendapat berkah dari Sang Hyang Widhi. Siapa yang mendapat berkah? Aku. Siapa yang untung dan senang akibat perbuatan baik tersebut? Aku. Tadi perbuatan yang katanya baik itu dilakukan dengan satu tujuan, yaitu menguntungkan dan menyenangkan si Aku. Agar menanam karma baik, juga Aku yang akhirnya senang dan untung. Lalu, agar masuk sorgaloka. Berarti juga agar Aku yang senang karena sorgaloka dianggap sebagai tempat yang menyenangkan, bukan? Perbuatan baik yang didorong keinginan itu bukan lain hanya merupakan penyogokan atau penyuapan saja, seperti modal dalam perdagangan agar kelak mendapat keuntungan bagi diri sendiri. Dapatkah engkau melihat kenyataan itu, Nurseta?"

Pemuda itu tertegun. Betapa anehnya,akan tetapi betapa jelasnya menelanjangi kenyataan yang terselubung. Semua Weda (Kitab Suci), semua guru agama dan kebatinan mengajarkan agar manusia berbuat baik. Ajaran-ajaran ini tentu saja menimbulkan keinginan manusia untuk berbuat baik, apalagi di samping ajaran untuk berbuat baik itu selalu disertai janji-janji muluk terutama janji akan "keadaan yang lebih baik" setelah manusia meninggalkan dunia ini. Apakah setan yang licik menyusup dan justeru menggunakan ajaran dan janji pahala ini untuk menyeret manusia ke dalam kemunafikan? Berbuat baik hanya karena menginginkan keuntungan dan kesenangan bagi diri sendiri?
"Aduh eyang! Kalau begitu, apakah manusia di dunia ini tidak dapat berbuat baik?"
Kakek itu merenung sejenak sambil memejamkan kedua matanya. Kemudian dia berbicara dengan lembut sekali, hampir tidak terdengar, seperti berbisik.
"Yang benar dan baik secara mutlak dan sejati hanyalah Sang Hyang Widhi. Yang dilakukan manusia barulah dikatakan benar dan baik kalau itu merupakan kehendak Sang Hyang Widhi. Manusia hanya menjadi pelaksana, menjadi alatnya. Kalau sinar Sang Hyang Maha Asih menerangi jiwa nurani maka hati, akal, pikiran akan terbimbing dan lahirlah perbuatan tanpa pamrih, tanpa dinilai baik atau buruk, melainkan dituntun sebagai alat Sang Hyang Widhi. Batin akan dipenuhi cinta kasih dan perbuatan apapun juga macamnya, kalau didasari cinta kasih yang merupakan sinar Sang Hyang Maha Asih, pasti benar dan bik, karena bukan timbul dari dorongan nafsu yang membonceng dari akal pikiran. Murni dan bersih dari keinginan nafsu. Berbahagialah manusia yang menjadi alatnya selama hidupnya."
Nurseta menyembah.
"Sebuah pertanyaan lagi, eyang guru. Bagaimana caranya agar seorang dapat disinari kasih murni dari Sang Hyang Maha Asih? Agar dapat dijadikan alatnya?"
"Heh-heh-heh, kembali pertanyaan itu timbul dari bujukan nafsu, angger Nurseta. Kembali timbul keinginan agar begini agar begitu! Cara itu menunjukkan adanya keinginan, bukan? Tidak ada caranya. Hanya berserah diri, membuka jiwa kita dari kungkungan nafsu, mendekatkan diri dari Sang Hyang Widhi dengan berdoa setiap saat tanpa henti. Kalau nafsu yang mengaku-aku sudah tidak bekerja, maka kekuasaan Sanghyang Widhi yang akan bekerja dalam diri kita. Ingat, hanya Dia yang jkuasa, hanya Dia yang memiliki . kita tidak berkuasa, kita hanya mempunyai secara lahiriah akan tetapi tidak memiliki. Kita hanya berupaya dengan dasar penyerahan diri terhadap keputusanNya. Nah cukuplah, angger. Tidak perlu bertanya lagi. Engkau akan mengerti sendiri kelak. Dengan kepasrahanmu, penyerahanmu, Dia akan membimbing, akan memberi petunjuk, karena dialah gurumu yang sejati, Dialah pemimpinmu yang sejati. Nah sekarang berkemaslah karena hari ini juga engkau harus turun gunung melaksanakan tugasmu sebagai seorang kesatria."
"Duh eyang ….."
"Heh-heh-heh-heh, jangan cengeng, Nurseta!" kata kakek itu sambil menatap wajah muridnya yang tampak bersedih.
"Eyang tidak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini, hidup sebatang kara, demikian pula saya. Apakah kita berdua yang hidup sebatang kara ini tidak dapat hidup bersama?"
"Siapa bilang kita hidup sebnatang kara? Tengoklah, seluruh manusia di dunia ini, bukanlah mereka semua itu juga senasib sependeritaan denganmu? Bukankah mereka-mereka itupun saudara-saudaramu? Hayo cepat berkemas, tidak pantas muridku cengeng seperti perempuan."
"Baik eyang." Nurseta lalu bangkit dan pergi ke pondok yang berada tidak jauh dari situ.

Setelah Nurseta pergi, Empu Dewamurti tersenyum seorang diri, lalu menggelengkan kepalanya perlahan-lahan dan menghela nafas panjang. Dia memejamkan kedua matanya, merangkap kedua tangan menjadi sembah di depan dadanya dan mulutnya berbisik.
"Duh gusti, Sang Hyang Widhi Wasa, segala kehendak paduka terjadilah. Apapun yang menimpa diri hamba akan hamba terima dengan rela karena hamba tahu bahwa semua itu paduka kehendaki dan kehendak paduka adalah benar dan baik bagi hamba."
Tak lama kemudian Nurseta telah datang lagi di tempat itu, membawa pakaiannya dalam buntalan kain hijau. Dia berlutut dan menyembah kepada gurunya.
"Eyang guru, saya sudah siap."
Empu Dewamurti membuka matanya dan memandang kepada Nurseta yang menggendong buntalan pakaian dan berlutut menyembah kepadanya itu.
"Engkau tidak lupa membawa Keris Pusaka Megatantra?" tanyanya lembut.
Nurseta meraba gagang keris itu yang terselip di pinggangnya.
"Tidak eyang."
"Sekarang dengarkan pesanku terakhir, Nurseta. Keris Pusaka Megatantra itu dahulu merupakan pusaka Kerajaan Ishana, kelanjutan Mataram yang didirikan oleh Empu Sindok dan keris pusaka itu berada di tangan keturunan raja-raja Mataram. Akan tetapi keris pusaka itu pada suatu hari lenyap dan sejak ratusan tahun lalu tidak pernah dapat ditemukan, juga tidak pernah diketahui siapa pencurinya. Akhirnya secara tidak terduga-duga, keris itu engkau temukan. Ditemukannya keris pusaka itu dekat pantai laut selatan menunjukkan bahwa dulu pencurinya tentu seorang diantara para siluman, yaitu tokoh-tokoh sesat yang dikenal dengan Siluman Laut Kidul. Nah, sekarang tugas pertamamu adalah mengembalikan keris pusaka itu kepada keturunan para raja Mataram yaitu Sang Prabu Erlangga."
"Baik eyang. Akan saya lakukan perintah eyang."
"Pesanku yang kedua. Aku masih ingat akan ceritamu dulu bahwa ayah ibumu pergi meninggalkanmu tanpa pamit. Hal itu pasti ada rahasianya. Sudah menjadi kewajibanmu untuk menyelidiki perginya kedua orang tuamu, mencari mereka dan menemukan mereka kalau masih hidup dan menemukan mereka kalau sudah mati."
"Baik eyang. Saya tidak akan melupakan perintah eyang ini dan akan saya cari mereka sampai dapat saya temukan."
"Pesanku ketiga. Melihat keadaanya sekarang, walaupun banyak raja muda yang menakluk kepada Sang Prabu Erlangga tanpa perang, namun masih banyak kerajaan yang memusuhi Kahuripan. Sang prabu Erlangga adalah seorang raja bijaksana, karena itu engkau sebagai kawulannya harus membelanya. Jadilah kesatria yang bukan saja membela kebenaran dan keadilan, namun juga menjadi pahlawan yang membela nusa dan bangsa."
"Saya mengerti Eyang. Saya akan selalu mentaati semua petunjuk dan nasehat eyang yang pernah saya terima."
"Bagus kalau begitu," kakek itu mengambil sebuah kantung kain kuning dari balik jubahnya.

<<<Bagian 06                                                                                        Bagian 08 >>>

No comments:

Post a Comment