Bagian 06



Ia meninggalkan anak angkatnya yang berusia lima tahun itu di bawah pohon dan lalu ia menyerang Ki Patih Narotama. Kalau laki-laki yang digandrunginya itu tidak mau menerima cintanya, dia harus mati di tangan. Namun Ki Patih Narotama bukan seorang yang lemah. Terjadilah perkelahian yang hebat di puncak Gunung Anjasmara. Akhirnya Nyi Dewi Durgakumala baru mengakui kedigjayaan Ki Patih. Ia lari kembali ke anak angkatnya dan dapat dibayangkan betapa hancur hatinya melihat bahwa anak angkatnya telah menjadi korban, dicabik-cabik dan dimakan harimau! Ia menjasi sakit hati sekali kepada Ki Patih Narotama dan kepada harimau. Ia mengamuk dan hampir seluruh harimau yang berada di hutan sekitar pegunungan Anjasmara dibunuhnya. Akan tetapi tidak mudah baginya untuk melampiaskan dendamnya kepada Ki Patih Narotama. Dan dendam kepada Ki Patih ini ia alihkan kepada kerajaan Kahuripan. Ia lalu membantu kerajaan Wurawari untuk memusuhi Kahuripan, keturunan Mataram itu. Bahkan ketika kerajaan Wurawari menyerang Kahuripan pada tahun 1007 sehingga menyebabkan kerajaan Kahuripan jatuh dan rajanya yaitu Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa tewas dalam perang itu, Nyi Dewi Durgakumala juga ikut dalam perang itu membantu raja Wurawari.

Demikianlah ketika Nyi Dewi Durgakumala sudah menggerakkan tangannya hendak membunuh Puspa Dewi dan bertemu pandang dengan anak itu, ia seolah melihat sepasang mata anak angkatnya yang dimakan harimau. Naik sedu sedan dari dadanya, menyesakkan kerongkongannya dan ia menubruk dan merangkul, mendekapnya dan menciuminya.
"Anakku ....., anakku .....!" Nyi Dewi Durgakumala mengeluh sambil menahan isaknya. Beberapa butir air mata membasahi pipinya.
Menghadapi perlakuan ini, Puspa Dewi yang pada dasarnya mempunyai perasaan yang halus dan peka menjadi terharu dan balas merangkul. Anak ini merasa terkejut dan heran melihat Dewi Kahyangan itu menangis!
"Pakulun, kenapa paduka menangis?” Tanyanya lirih karena segan dan takut.
Nyi Dewi Durgakumala memeluk makin erat.
"Anak yang baik, siapakah namamu?"
"Pakulun …."
"Jangan menyebut pakulun. Aku ini ibumu, nak. Sebut aku ibu …"
Berdebar jantung dalam dada Puspa Dewi, ia merasa gembira dan bahagia sekali. Seorang Dewi Kahyangan menjadi ibunya? Dengan suara bergetar saking terharu dan bahagia, ia berkata,
"Ibu, nama saya Puspa Dewi ...!"
"Dewi? Engkau bernama Dewi? Ah cocok sekali! Anakku Dewi, mulai sekarang engkau menjadi anakku dan aku akan menurunkan semua aji kesaktianku kepadamu. Maukah engkau ikut denganku dan menjadi anakku?"

Tentu saja Puspa Dewi mau sekali anak seorang Dewi Kahyangan!
"Saya mau, ibu ....."
"Bagus, dan sekarang berjanjilah bahwa kelak engkau akam memusuhi Empu Dewamurti, memusuhi Kerajaan keluarga Istana yaitu Kahuripan, dan yang terpenting sekali, engkau harus mewakili aku merebut keris pusaka Megatantra yang berada di tangan anak laki-laki yang dilindungi oleh Empu Dewamurti. Nah maukah engkau berjanji, cah ayu?"
"Saya berjanji, ibu. Saya akan mentaati semua perintah ibu." Kata Puspa Dewi yang sama sekali tidak tahu bahwa ia telah berada dibawah pengaruh aji pemeletan iblis betina itu sehingga ia merasa amat tertarik dan suka kepada Nyi Dewi Durgakumala, dan menganggap wanita itu teramat baik kepadanya. Ia seperti terbuai, bahkan tidak ada keinginan untuk kembali kepada ibunya sendiri.

Nyi Dewi Durgakulama juga merasa senang sekali. Ia menemukan lagi anaknya! Ia lalu memondong tubuh Puspa Dewi dan mengajaknya lari lagi dengan cepat seperti terbang sehingga makin yakinlah hati anak itu bahwa ibunya adalah seorang Dewi dari kahyangan yang sakti mandraguna! Mulai saat itu, Puspa Dewi menjadi anak angkat dan juga murid terkasih dari Nyi Dewi Durgakumala. Ia dibawa lari ke arah timur, mendaki perbukitan dan melompati jurang-jurang.

Setelah Sri Dharmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa tewas dalam perang melawan kerajaan Wurawari, Erlangga yang menjadi mantunya yang merebut kembali Kerajaan Kahuripan dibantu sahabatnya Narotama dan para Brahmana (pendeta) yang bertapa di wanagiri (hutan, gunung) lalu dinobatkan menjadi Raja Kahuripan. Pada mulanya di jaman pemerintahan Raja Sindok, ibukota kerajaan bernama Watu Galuh (letaknya di sekitar Jombang). Pada jaman pemerintahan Raja Teguh Dharmawangsa ibukota kerajaan dipindahkan ke arah timur di kaki gunung Penanggungan (sebelah selatan Sidoarjo). Setelah Erlangga yang dibantu Narotama mengalahkan Raja Wurawari dan merebut kembali kerajaan, ibukota Watan ditinggalkan dan oleh Raja Erlangga dibangun ibukota baru yang diberi nama Watan Mas. Kemudian Watan Mas juga ditinggalkan dan ibu kota kerajaan sekarang pindah lagi ke Kahuripan. Riwayat singkat Erlangga sampai menjadi raja amat menarik. Diantara kerajaan Mataram yang menurunkan Raja Sindok, kemudian Raja Dharmawangsa dan kerajaan Bali memang terdapat hubungan yang erat. Erlangga sendiri adalah keturunan seorang pangeran dari wangsa Ishana (keturunan Mataram). Karena itu, tidak mengherankan kalau Erlangga kemudian dijodohkan dengan seorang puteri dari Raja Teguh Dharmawangsa. Pada saaat pernikahan dilangsungkan, ketika itu Erlangga berusia enam belas tahun, terjadilah penyerbuan pasukan kerajaan Wurawari sehingga Raja Dharmawangsa gugur dan kerajaan direbut raja Wurawari. Erlangga sendiri, dibantu Narotama, dapat menyelamatkan diri ke Wanagiri. Kemudian dia menyusun kekuatan dan dibantu oleh Narotama yang setia dan sakti mandraguna, Erlangga berhasil merebut kembali dari tangan Raja Wurawari. Kemudian dia diangkat menjadi raja.

Mula-mula kerajan yang dipimpin oleh Raja Erlangga ini tidak begitu besar. Masih banyak raja-raja lain yang selalu menentang dan memusuhinya, diantara mereka adalah Raja Adhamapanuda dari kerajaan Wengker dan Raja Wijaya dari kerajaan Wurawari. Juga ada kerajaan kecil dari pantai Laut Kidul yang dipimpin oleh seorang Ratu (Raja Wanita) berjuluk Ratu Durgamala yang terkenal sakti selalu menentangnya. Tiga kerajaan inilah yang selalu merupakan ancaman bagi Kerajaan Kahuripan yang dipimpin Sang Prabu Erlangga. Sang Prabu Erlangga mempunyai dua orang permaisuri. Yang pertama adalah puteri mendiang Sang Prabu Dharmawangsa yang kelak kemudian terkenal dengan sebutan Sang Kili suci dan setelah berusia lanjut hidup sebagai seorang pertapa. Adapun yang ke dua adalah puteri dari Kerajaan Sriwijaya yang bernama Sri Sanggramawijaya Dharmaprastunggawarman. Tentu saja seperti umumnya raja-raja di jaman itu, Prabu Erlangga juga mempunyai banyak selir yang tidak tercatat dalam sejarah. Dalam pergolakan yang ditimbulkan karena permusuhan Sang Prabu Erlangga dengan Kerajaan Wengker, Kerajaan Wurawari dan Kerajaan Ratu Durgamala atau terkenal dengan sebutan Kerajaan Parang Siluman itulah cerita ini terjadi. Biarpun permusuhan itu belum tercetus menjadi perang terbuka, namun seringkali terjadi bentrokan diantara para tokoh pendukung masing-masing kerajaan, seperti bentrokan yang terjadi antara Empu Dewamurti dengan dua orang datuk dari Wengker dan Wurawari itu. Disamping persoalan yang terjadi yang membuat mereka saling berlawanan, pada dasarnya memang terdapat pertentangan diantara mereka, karena Empu Dewamurti adalah seorang Empu terkenal di Kahuripan dan tentu saja dia membela Raja Erlangga. Sebaliknya dua orang lawannya itu, yang seorang datuk Wengker dan seorang lagi tokoh pendukung kerajaan Wurawari.

Raja Erlangga adalah seorang raja yang sakti mandraguna, seorang panglima besar yang pandai mengatur bala tentara. Sebagai seorang raja dia amat adil dan bijaksana, tidak sewenang-wenang, tidak memikirkan kepentingan dan kesenangan sendiri. Kebanyakan para raja di dunia ini setelah menduduki tingkat tertinggi dalam kerajaan, menjadi orang nomor satu, lalu menguruk dirinya dan seluruh sanak keluarganya dengan kemewahan yang berlebihan. Kebanyakan para raja itu lalu menumpuk harta benda sebanyak-banyaknya, tidak peduli lagi darimana harta itu datang, bahkan rela membiarkan rakyat hidup menderita, sengsara karena kemiskinan. Raja Erlangga tidaklah demikian. Dia seorang raja bijaksana yang memikirkan kepantingan dan kemakmuran rakyat jelata. Dia memperhatikan kebutuhan para petani. Dibangunnya pematang dekat Wringin Sapta (sekarang Wringin Pitu) untuk mengalirkan air Kali Berantas agar sungai itu tidak lagi membanjiri sawah petani. Setelah pematang itu didirikan, pelabuhan Huyuh Galuh di muara sungai itu menjadi semakin ramai. Bukan hanya kemakmuran rakyat yang dia perhatikan. Juga Raja Erlangga memperhatikan kemajuan kebudayaan. Dia mendukung majunya kesusastraan dan kesenian. Dalam jamannyalah karya sastra yang indah, yaitu kekawin "Arjuna Wiwaha" ditulis Empu Kanwa. Karena kebijaksanaannya, maka keadaan rakyat cukup makmur. Hal ini menarik perhatian banyak raja muda di daerah-daerah pinggiran dan banyak diantara mereka yang dengan sukarela menyatakan tunduk dan takluk, mengakui kebesaran dan kedaulatan dari Raja Erlangga, ingin membonceng wibawa raja erlangga agar daerah kekuasaan merekapun menjadi makmur dengan meniru apa yang telah dilakukan raja bijaksana itu. Tentu saja tidak semua daerah mau tunduk, terutama sekali Kerajaan Wengker yang letaknya paling dekat dengan Kahuripan. Demikianlah sedikit tentang pemerintahaan Raja Erlangga yang selalu dibantu oleh patihnya yang setia, yaitu Patih Narotama. Raja Erlangga seringkali cukup dengan mengutus Patih Narotama untuk mewakilinya membereskan persoalan-persoalan berat dan selalu Narotama dapat menyelesaikan persoalan-persoalan itu dengan baik.

Waktu berjalan dengan amat cepatnya. Kalau tidak diperhatikan sang waktu berkelebat secepat kilat, sebaliknya kalau kita memperhatikan, waktu merayap seperti siput. Karena tidak diikuti dan diperhatikan, waktu meluncur cepat dan tahu-tahu lima tahun telah lewat sejak terjadinya peristiwa di pantai pasir putih di tepi laut selatan itu. Pagi yang tenang tenteram penuh damai, di sebuah tempat diantara puncak-puncak pegunungan Arjuna. Kokok ayam hutan jantan terdengar bersahut-sahutan, suara mereka nyaring pendek. Agaknya gaung suara mereka terdengar sampai ke dusun pegunungan di lereng dekat puncak karena tak lama kemudian terdengar lapat-lapat, sayup sampai, kokok ayam jantan peliharaan yang suaranya lebih panjang namun tidak begitu menyentak nyaring seperti kokok ayam hutan. Kokok ayam hutan itu seakan menggugah burung-burung yang tidur di pohon-pohon besar yang lebat daunnya. Mulailah mereka berkicau bersahut-sahutan dalam bahasa mereka yang riang gembira sambil berloncat-loncatan di atas ranting dan dahan, mengguncang daun-daun, meruntuhkan embun yang bergelantungan di ujung daun. Ada yang menggeliat menjulurkan sayap atau kaki, ada yang menyisiri bulu dengan paruh, kemudian berciap-ciap lagi dengan riuhnya. Akan tetapi suara yang menyambut pagi itu membungkam suara lain, yaitu suara kutu-kutu walang ataga, segala serangga malam seperti jengkrik, belalang, orong-orong dan sebagainya yang sepanjang malam telah mengeluarkan suara sambung menyambung tiada hentinya.

Siang malam alam ini dipenuhi suara-suara, seolah semua ciptaan itu memanjatkan doa dan puji tan kendat (tanpa henti) kepada Sang Hyang Widhi, Sang Maha Pencipta! Terdengar pula sayup sampai suara bocah berteriak riang, diselingi suara wanita yang menegur anak-anak itu, lalu suara kerbau menguak dan kambing mengembik. Semua suara itu jelas menutupi suara lain yang tadi malan juga terdengar jelas, yaitu bunyi percik air terjun yang berada di lereng dekat puncak. Ada pula selingan anjing menggonggong. Suasana kehidupan warga dusun mulailah pada pagi itu. Sinar matahari pagi mulai mengusik halimun yang bermalas-malasan meninggalkan bumi yang mereka dekap semalam suntuk. Sinar matahari yang mulai mencipta pemandangan yang indah menarik dengan adanya perpaduan sinar dan bayang-bayang. Dari hutan itu tampak hutan-hutan menghijau, berkelompok-kelompok, disana-sini diselingi adnya sawah ladang menguning. Atap-atap pondok dusun dari klaras, ada juga beberapa buah dari genteng, tersembul diantara pedusunan. Sebatang anak sungai nampak putih berkelak kelok, kadang lenyap tertutup tebing.

Dua orang anak dengan tubuh bagian atas telanjang mengiring tujuh ekor kerbau yang gemuk-gemuk menyusuri sepanjang anak sungai. Burung mulai beterbangan meninggalkan sarang untuk
mulai dengan pekerjaan mereka hari itu, ialah mencari makan. Pemuda itu duduk bersila di atas batu, menghadap ke timur. Sejak tadi dia menikmati kesemuanya itu. Menikmati pendengaran yang begitu nyaman dan merdu di perasaan dan menikmati penglihatan yang begitu indah sejak matahari mulai terbit dia menghirup nafas dalam-dalam. Udara yang sejuk, bersih alami itu memasuki hidungnya, memenuhi paru-parunya sampai dada dan perutnya mengembang. Dia bernafas sampai dada dan perutnya tidak tersisa ruangan yang tidak terisi hawa udara yang menghidupkan dan menyegarkan. Lalu dikeluarkan nafas perlahan-lahan. Terasa kehangatan yang makin memanas berputar disekitar bawah pusarnya dan membumbung keatas dan keseluruh tubuhnya. Diulangi pernafasan itu sampai beberapa kali dan terasa betapa nikmatnya bernafas seperti itu. Akhirnya dia bernafas biasa dan mencurahkan pandangan dan pendengarannya ke sekelilingnya.

"Segala puji bagi Sang Hyang Widhi yang mencipta segala yang terlihat dan terdengar. Puji syukur kepada Sang Maha Pencipta atas segala karunia yang diberikan kepad hamba, termasuk alat jasmani seperti mata dan telinga." Bisiknya dengan tangan dirangkap dalam bentuk sembah di depan dada, lalu diangkat kedepan dahi dan turun lagi di depan dada. Dia menyadari sepenuhnya bahwa karunia yang perpenting baginya adalah semua anggota jasmaninya, karena betapapun indah dan mersunya semua yang tampak dan terdengar, semua itu tidak akan ada gunanya kalau mata dan telinganya tidak dapat melihat atau mendengar. Pemuda itu berusia kurang lenih dua puluh satu tahun, bertubuh sedang saja. Wajahnya juga sederhana, tidak buruk akan tetapi juga tidak terlalu tampan, wajah pemuda biasa saja. Kulitnya agak gelap kecoklatan. Akan tetapi dalam kesederhanaan wajahnya terdapat sesuatu yang menarik yaitu matanya yang tajam lembut dan penuh pengertian dan mulutnya yang selalu mengembang ke arah senyum penuh kesabaran. Pakaiannya juga amat sederhana seperti pakaian seorang petani. Dia tadi sejak pagi sekali sebelum matahari menyingsing, telah duduk di atas batu dan duduk bersila menghadap ke timur seperti sebuah arca.

Tak lama kemudian pemuda itu turun dari atas batu dan memutar tubuhnya. Walaupun tidak ada suara, langkah tak terdengar, namun dia tahu bahwa ada orang berjalan menghampirinya. Benar saja seorang kakek berusia enam puluh lima tahun, melangkah tenang, bertumpu pada sebatang tongkat bambu kuning menghampirinya.

<<<Bagian 05                                                                                         Bagian 07 >>>

No comments:

Post a Comment