Ia meninggalkan anak angkatnya yang
berusia lima tahun itu di bawah pohon dan lalu ia menyerang Ki Patih Narotama.
Kalau laki-laki yang digandrunginya itu tidak mau menerima cintanya, dia harus
mati di tangan. Namun Ki Patih Narotama bukan seorang yang lemah. Terjadilah
perkelahian yang hebat di puncak Gunung Anjasmara. Akhirnya Nyi Dewi
Durgakumala baru mengakui kedigjayaan Ki Patih. Ia lari kembali ke anak
angkatnya dan dapat dibayangkan betapa hancur hatinya melihat bahwa anak
angkatnya telah menjadi korban, dicabik-cabik dan dimakan harimau! Ia menjasi
sakit hati sekali kepada Ki Patih Narotama dan kepada harimau. Ia mengamuk dan
hampir seluruh harimau yang berada di hutan sekitar pegunungan Anjasmara
dibunuhnya. Akan tetapi tidak mudah baginya untuk melampiaskan dendamnya kepada
Ki Patih Narotama. Dan dendam kepada Ki Patih ini ia alihkan kepada kerajaan
Kahuripan. Ia lalu membantu kerajaan Wurawari untuk memusuhi Kahuripan,
keturunan Mataram itu. Bahkan ketika kerajaan Wurawari menyerang Kahuripan pada
tahun 1007 sehingga menyebabkan kerajaan Kahuripan jatuh dan rajanya yaitu Sri
Dharmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa tewas dalam perang itu, Nyi Dewi
Durgakumala juga ikut dalam perang itu membantu raja Wurawari.
Demikianlah ketika Nyi Dewi
Durgakumala sudah menggerakkan tangannya hendak membunuh Puspa Dewi dan bertemu
pandang dengan anak itu, ia seolah melihat sepasang mata anak angkatnya yang
dimakan harimau. Naik sedu sedan dari dadanya, menyesakkan kerongkongannya dan
ia menubruk dan merangkul, mendekapnya dan menciuminya.
"Anakku ....., anakku
.....!" Nyi Dewi Durgakumala mengeluh sambil menahan isaknya. Beberapa
butir air mata membasahi pipinya.
Menghadapi perlakuan ini, Puspa Dewi
yang pada dasarnya mempunyai perasaan yang halus dan peka menjadi terharu dan
balas merangkul. Anak ini merasa terkejut dan heran melihat Dewi Kahyangan itu
menangis!
"Pakulun, kenapa paduka
menangis?” Tanyanya lirih karena segan dan takut.
Nyi Dewi Durgakumala memeluk makin
erat.
"Anak yang baik, siapakah
namamu?"
"Pakulun …."
"Jangan menyebut pakulun. Aku
ini ibumu, nak. Sebut aku ibu …"
Berdebar jantung dalam dada Puspa
Dewi, ia merasa gembira dan bahagia sekali. Seorang Dewi Kahyangan menjadi
ibunya? Dengan suara bergetar saking terharu dan bahagia, ia berkata,
"Ibu, nama saya Puspa Dewi
...!"
"Dewi? Engkau bernama Dewi? Ah
cocok sekali! Anakku Dewi, mulai sekarang engkau menjadi anakku dan aku akan menurunkan
semua aji kesaktianku kepadamu. Maukah engkau ikut denganku dan menjadi
anakku?"
Tentu saja Puspa Dewi mau sekali
anak seorang Dewi Kahyangan!
"Saya mau, ibu ....."
"Bagus, dan sekarang
berjanjilah bahwa kelak engkau akam memusuhi Empu Dewamurti, memusuhi Kerajaan
keluarga Istana yaitu Kahuripan, dan yang terpenting sekali, engkau harus
mewakili aku merebut keris pusaka Megatantra yang berada di tangan anak
laki-laki yang dilindungi oleh Empu Dewamurti. Nah maukah engkau berjanji, cah ayu?"
"Saya berjanji, ibu. Saya akan
mentaati semua perintah ibu." Kata Puspa Dewi yang sama sekali tidak tahu
bahwa ia telah berada dibawah pengaruh aji pemeletan iblis betina itu sehingga
ia merasa amat tertarik dan suka kepada Nyi Dewi Durgakumala, dan menganggap
wanita itu teramat baik kepadanya. Ia seperti terbuai, bahkan tidak ada
keinginan untuk kembali kepada ibunya sendiri.
Nyi Dewi Durgakulama juga merasa
senang sekali. Ia menemukan lagi anaknya! Ia lalu memondong tubuh Puspa Dewi
dan mengajaknya lari lagi dengan cepat seperti terbang sehingga makin yakinlah
hati anak itu bahwa ibunya adalah seorang Dewi dari kahyangan yang sakti
mandraguna! Mulai saat itu, Puspa Dewi menjadi anak angkat dan juga murid
terkasih dari Nyi Dewi Durgakumala. Ia dibawa lari ke arah timur, mendaki
perbukitan dan melompati jurang-jurang.
Setelah Sri Dharmawangsa Teguh
Anantawikramatunggadewa tewas dalam perang melawan kerajaan Wurawari, Erlangga
yang menjadi mantunya yang merebut kembali Kerajaan Kahuripan dibantu sahabatnya
Narotama dan para Brahmana (pendeta) yang bertapa di wanagiri (hutan, gunung)
lalu dinobatkan menjadi Raja Kahuripan. Pada mulanya di jaman pemerintahan Raja
Sindok, ibukota kerajaan bernama Watu Galuh (letaknya di sekitar Jombang). Pada
jaman pemerintahan Raja Teguh Dharmawangsa ibukota kerajaan dipindahkan ke arah
timur di kaki gunung Penanggungan (sebelah selatan Sidoarjo). Setelah Erlangga
yang dibantu Narotama mengalahkan Raja Wurawari dan merebut kembali kerajaan,
ibukota Watan ditinggalkan dan oleh Raja Erlangga dibangun ibukota baru yang
diberi nama Watan Mas. Kemudian Watan Mas juga ditinggalkan dan ibu kota
kerajaan sekarang pindah lagi ke Kahuripan. Riwayat singkat Erlangga sampai
menjadi raja amat menarik. Diantara kerajaan Mataram yang menurunkan Raja
Sindok, kemudian Raja Dharmawangsa dan kerajaan Bali memang terdapat hubungan
yang erat. Erlangga sendiri adalah keturunan seorang pangeran dari wangsa
Ishana (keturunan Mataram). Karena itu, tidak mengherankan kalau Erlangga
kemudian dijodohkan dengan seorang puteri dari Raja Teguh Dharmawangsa. Pada
saaat pernikahan dilangsungkan, ketika itu Erlangga berusia enam belas tahun,
terjadilah penyerbuan pasukan kerajaan Wurawari sehingga Raja Dharmawangsa
gugur dan kerajaan direbut raja Wurawari. Erlangga sendiri, dibantu Narotama,
dapat menyelamatkan diri ke Wanagiri. Kemudian dia menyusun kekuatan dan
dibantu oleh Narotama yang setia dan sakti mandraguna, Erlangga berhasil
merebut kembali dari tangan Raja Wurawari. Kemudian dia diangkat menjadi raja.
Mula-mula kerajan yang dipimpin oleh
Raja Erlangga ini tidak begitu besar. Masih banyak raja-raja lain yang selalu
menentang dan memusuhinya, diantara mereka adalah Raja Adhamapanuda dari
kerajaan Wengker dan Raja Wijaya dari kerajaan Wurawari. Juga ada kerajaan
kecil dari pantai Laut Kidul yang dipimpin oleh seorang Ratu (Raja Wanita)
berjuluk Ratu Durgamala yang terkenal sakti selalu menentangnya. Tiga kerajaan
inilah yang selalu merupakan ancaman bagi Kerajaan Kahuripan yang dipimpin Sang
Prabu Erlangga. Sang Prabu Erlangga mempunyai dua orang permaisuri. Yang
pertama adalah puteri mendiang Sang Prabu Dharmawangsa yang kelak kemudian
terkenal dengan sebutan Sang Kili suci dan setelah berusia lanjut hidup sebagai
seorang pertapa. Adapun yang ke dua adalah puteri dari Kerajaan Sriwijaya yang
bernama Sri Sanggramawijaya Dharmaprastunggawarman. Tentu saja seperti umumnya
raja-raja di jaman itu, Prabu Erlangga juga mempunyai banyak selir yang tidak
tercatat dalam sejarah. Dalam pergolakan yang ditimbulkan karena permusuhan
Sang Prabu Erlangga dengan Kerajaan Wengker, Kerajaan Wurawari dan Kerajaan
Ratu Durgamala atau terkenal dengan sebutan Kerajaan Parang Siluman itulah
cerita ini terjadi. Biarpun permusuhan itu belum tercetus menjadi perang
terbuka, namun seringkali terjadi bentrokan diantara para tokoh pendukung
masing-masing kerajaan, seperti bentrokan yang terjadi antara Empu Dewamurti
dengan dua orang datuk dari Wengker dan Wurawari itu. Disamping persoalan yang
terjadi yang membuat mereka saling berlawanan, pada dasarnya memang terdapat
pertentangan diantara mereka, karena Empu Dewamurti adalah seorang Empu
terkenal di Kahuripan dan tentu saja dia membela Raja Erlangga. Sebaliknya dua
orang lawannya itu, yang seorang datuk Wengker dan seorang lagi tokoh pendukung
kerajaan Wurawari.
Raja Erlangga adalah seorang raja
yang sakti mandraguna, seorang panglima besar yang pandai mengatur bala
tentara. Sebagai seorang raja dia amat adil dan bijaksana, tidak
sewenang-wenang, tidak memikirkan kepentingan dan kesenangan sendiri.
Kebanyakan para raja di dunia ini setelah menduduki tingkat tertinggi dalam
kerajaan, menjadi orang nomor satu, lalu menguruk dirinya dan seluruh sanak
keluarganya dengan kemewahan yang berlebihan. Kebanyakan para raja itu lalu
menumpuk harta benda sebanyak-banyaknya, tidak peduli lagi darimana harta itu
datang, bahkan rela membiarkan rakyat hidup menderita, sengsara karena
kemiskinan. Raja Erlangga tidaklah demikian. Dia seorang raja bijaksana yang
memikirkan kepantingan dan kemakmuran rakyat jelata. Dia memperhatikan
kebutuhan para petani. Dibangunnya pematang dekat Wringin Sapta (sekarang
Wringin Pitu) untuk mengalirkan air Kali Berantas agar sungai itu tidak lagi
membanjiri sawah petani. Setelah pematang itu didirikan, pelabuhan Huyuh Galuh
di muara sungai itu menjadi semakin ramai. Bukan hanya kemakmuran rakyat yang
dia perhatikan. Juga Raja Erlangga memperhatikan kemajuan kebudayaan. Dia
mendukung majunya kesusastraan dan kesenian. Dalam jamannyalah karya sastra
yang indah, yaitu kekawin "Arjuna Wiwaha" ditulis Empu Kanwa. Karena
kebijaksanaannya, maka keadaan rakyat cukup makmur. Hal ini menarik perhatian
banyak raja muda di daerah-daerah pinggiran dan banyak diantara mereka yang
dengan sukarela menyatakan tunduk dan takluk, mengakui kebesaran dan kedaulatan
dari Raja Erlangga, ingin membonceng wibawa raja erlangga agar daerah kekuasaan
merekapun menjadi makmur dengan meniru apa yang telah dilakukan raja bijaksana
itu. Tentu saja tidak semua daerah mau tunduk, terutama sekali Kerajaan Wengker
yang letaknya paling dekat dengan Kahuripan. Demikianlah sedikit tentang
pemerintahaan Raja Erlangga yang selalu dibantu oleh patihnya yang setia, yaitu
Patih Narotama. Raja Erlangga seringkali cukup dengan mengutus Patih Narotama
untuk mewakilinya membereskan persoalan-persoalan berat dan selalu Narotama
dapat menyelesaikan persoalan-persoalan itu dengan baik.
Waktu berjalan dengan amat cepatnya.
Kalau tidak diperhatikan sang waktu berkelebat secepat kilat, sebaliknya kalau
kita memperhatikan, waktu merayap seperti siput. Karena tidak diikuti dan
diperhatikan, waktu meluncur cepat dan tahu-tahu lima tahun telah lewat sejak
terjadinya peristiwa di pantai pasir putih di tepi laut selatan itu. Pagi yang
tenang tenteram penuh damai, di sebuah tempat diantara puncak-puncak pegunungan
Arjuna. Kokok ayam hutan jantan terdengar bersahut-sahutan, suara mereka
nyaring pendek. Agaknya gaung suara mereka terdengar sampai ke dusun pegunungan
di lereng dekat puncak karena tak lama kemudian terdengar lapat-lapat, sayup
sampai, kokok ayam jantan peliharaan yang suaranya lebih panjang namun tidak
begitu menyentak nyaring seperti kokok ayam hutan. Kokok ayam hutan itu seakan
menggugah burung-burung yang tidur di pohon-pohon besar yang lebat daunnya.
Mulailah mereka berkicau bersahut-sahutan dalam bahasa mereka yang riang
gembira sambil berloncat-loncatan di atas ranting dan dahan, mengguncang
daun-daun, meruntuhkan embun yang bergelantungan di ujung daun. Ada yang
menggeliat menjulurkan sayap atau kaki, ada yang menyisiri bulu dengan paruh,
kemudian berciap-ciap lagi dengan riuhnya. Akan tetapi suara yang menyambut
pagi itu membungkam suara lain, yaitu suara kutu-kutu walang ataga, segala
serangga malam seperti jengkrik, belalang, orong-orong dan sebagainya yang sepanjang
malam telah mengeluarkan suara sambung menyambung tiada hentinya.
Siang malam alam ini dipenuhi
suara-suara, seolah semua ciptaan itu memanjatkan doa dan puji tan kendat
(tanpa henti) kepada Sang Hyang Widhi, Sang Maha Pencipta! Terdengar pula sayup
sampai suara bocah berteriak riang, diselingi suara wanita yang menegur
anak-anak itu, lalu suara kerbau menguak dan kambing mengembik. Semua suara itu
jelas menutupi suara lain yang tadi malan juga terdengar jelas, yaitu bunyi
percik air terjun yang berada di lereng dekat puncak. Ada pula selingan anjing
menggonggong. Suasana kehidupan warga dusun mulailah pada pagi itu. Sinar
matahari pagi mulai mengusik halimun yang bermalas-malasan meninggalkan bumi
yang mereka dekap semalam suntuk. Sinar matahari yang mulai mencipta
pemandangan yang indah menarik dengan adanya perpaduan sinar dan bayang-bayang.
Dari hutan itu tampak hutan-hutan menghijau, berkelompok-kelompok, disana-sini
diselingi adnya sawah ladang menguning. Atap-atap pondok dusun dari klaras, ada
juga beberapa buah dari genteng, tersembul diantara pedusunan. Sebatang anak
sungai nampak putih berkelak kelok, kadang lenyap tertutup tebing.
Dua orang anak dengan tubuh bagian
atas telanjang mengiring tujuh ekor kerbau yang gemuk-gemuk menyusuri sepanjang
anak sungai. Burung mulai beterbangan meninggalkan sarang untuk
mulai dengan pekerjaan mereka hari
itu, ialah mencari makan. Pemuda itu duduk bersila di atas batu, menghadap ke
timur. Sejak tadi dia menikmati kesemuanya itu. Menikmati pendengaran yang begitu
nyaman dan merdu di perasaan dan menikmati penglihatan yang begitu indah sejak
matahari mulai terbit dia menghirup nafas dalam-dalam. Udara yang sejuk, bersih
alami itu memasuki hidungnya, memenuhi paru-parunya sampai dada dan perutnya
mengembang. Dia bernafas sampai dada dan perutnya tidak tersisa ruangan yang
tidak terisi hawa udara yang menghidupkan dan menyegarkan. Lalu dikeluarkan
nafas perlahan-lahan. Terasa kehangatan yang makin memanas berputar disekitar
bawah pusarnya dan membumbung keatas dan keseluruh tubuhnya. Diulangi
pernafasan itu sampai beberapa kali dan terasa betapa nikmatnya bernafas
seperti itu. Akhirnya dia bernafas biasa dan mencurahkan pandangan dan
pendengarannya ke sekelilingnya.
"Segala puji bagi Sang Hyang
Widhi yang mencipta segala yang terlihat dan terdengar. Puji syukur kepada Sang
Maha Pencipta atas segala karunia yang diberikan kepad hamba, termasuk alat
jasmani seperti mata dan telinga." Bisiknya dengan tangan dirangkap dalam
bentuk sembah di depan dada, lalu diangkat kedepan dahi dan turun lagi di depan
dada. Dia menyadari sepenuhnya bahwa karunia yang perpenting baginya adalah
semua anggota jasmaninya, karena betapapun indah dan mersunya semua yang tampak
dan terdengar, semua itu tidak akan ada gunanya kalau mata dan telinganya tidak
dapat melihat atau mendengar. Pemuda itu berusia kurang lenih dua puluh satu
tahun, bertubuh sedang saja. Wajahnya juga sederhana, tidak buruk akan tetapi
juga tidak terlalu tampan, wajah pemuda biasa saja. Kulitnya agak gelap
kecoklatan. Akan tetapi dalam kesederhanaan wajahnya terdapat sesuatu yang
menarik yaitu matanya yang tajam lembut dan penuh pengertian dan mulutnya yang
selalu mengembang ke arah senyum penuh kesabaran. Pakaiannya juga amat
sederhana seperti pakaian seorang petani. Dia tadi sejak pagi sekali sebelum
matahari menyingsing, telah duduk di atas batu dan duduk bersila menghadap ke
timur seperti sebuah arca.
Tak lama kemudian pemuda itu turun
dari atas batu dan memutar tubuhnya. Walaupun tidak ada suara, langkah tak
terdengar, namun dia tahu bahwa ada orang berjalan menghampirinya. Benar saja
seorang kakek berusia enam puluh lima tahun, melangkah tenang, bertumpu pada
sebatang tongkat bambu kuning menghampirinya.
No comments:
Post a Comment