Resi Bajrasakti menjadi semakin suka
dan kagum. Apalagi ketika beberapa kali menangkis, dia mendapat kenyataan
betapa anak itu memiliki tulang yang kuat, semangat baja, keberanian yang nekat
dan memiliki bakat untuk menjadi seorang yang sakti mandraguna yang
mengandalkan kekuatannya untuk bertindak menuruti keinginan sendiri. Anak
seperti inilah yang cocok menjadi muridnya! Ketika untuk kesekian kalinya
Linggajaya menyerang lagi, Resi Bajrasakti mengebutkan tangannya dan anak itu
terpelanting roboh dan diam saja karena dia kembali tidak mampu bergerak atau
bersuara. Resi Bajrasakti lalu mencengkram baju anak itu dan merenggutnya.
"Brettt …..!" baju itu
robek dan terlepas dari tubuh Linggajaya sehingga anak itu kini telanjang dari
pinggang ke atas. Jari-jari tangan Resi Bajrasakti lalu menggerayangi tubuh
anak itu, memeriksa bagian leher, punggung, tengkuk dan pinggang. Berkali-kali
dia mengeluarkan pujian dan akhirnya dia tertawa begelak.
“Ha-ha-ha-ha-ha, cocok! cocok!"
Dia lalu mengebutkan tangannya lagi dan anak itu dapat bergerak dan bersuara
kembali.
"Linggajaya, mulai sekarang
engkau menjadi muridku!"
"Menjadi muridmu? Huh, siapa
sudi menjadi muridmu? Kalau ingin menjadi guruku, harus minta ijin kepada
ayahku dulu agar ayah dapat mengujimu apakah engkau pantas menjadi guruku. Aku
tidak mau menjadi muridmu!" teriak Linggajaya sambil bangkit berdiri.
Mukanya benjol-benjol, tubuhnya babak belur, bahkan ujung bibirnya berdarah,
akan tetapi sorot matanya masih bersinar penuh keberanian dan kemarahan, kedua
tangannya dikepal.
Melihat sikap ini Resi Bajrasakti
tertawa senang. Anak ini bebar-benar cocok menjadi muridnya. Dia sudah lupa
kepada gadis remaja yang diculiknya tadi, dan sekarang dia malah merasa senang
dan beruntung bahwa dia memperoleh ganti seorang pemuda remaja yang kiranya
tepat untuk menjadi muridnya, cocok untuk dapat meneruskan ketenarannya dan
yang akan mengangkat tinggi nama besarnya.
"Linggajaya, engkau ingin
melihat dulu kesaktian gurumu? Nah, lihatlah baik-baik!" Resi Bajrasakti
lalu menghampiri sebongkah batu sebesar perut kerbau. Dia lau menampar ke arah
batu itu sambil berteriak,
"Hiaatttttt!"
"Pyarrr .....!" batu besar
itu hancur berhamburan.
Biarpun Linggajaya merasa terkejut
dan kagum sekali, dia tetap tersenyum, bahkan dengan cerdiknya untuk melihat
lebih banyak lagi kehebatan kakek itu sengaja ia tersenyum mengejek.
"Hanya sebegitu sajakah?"
suaranya seolah menyatakan bahwa yang dipertontonkan kakek itu belum apa-apa
baginya! Padahal tentu saja dia merasa terkejut dan kagum bukan main. Belum
pernah dia melihat orang sedemikian saktinya sehingga batu sebesar itu dipukul
hancur dengan tangan kosong.
"Hmm, memang aku hanya main-main
tadi. Akan tetapi lihatlah ini!" Resi Bajrasakti mengusap dahinya,
menggosok kedua telapak tangannya, lalu mendorongkan kedua tangan itu ke arah
sebatang pohon yang berdiri dalam jarak empat meter darinya.
"Wuuutttt .....
kraakkkk!!" pohon itu tumbang dan roboh mengeluarkan suara gaduh.
Linggajaya tak dapat menyembunyikan
kekagumannya. Dia terbelalak memandang dan wajahnya tampak gembira bukan main.
"Linggajaya, sekarang lihat
dimana aku!?”
Pemuda remaja itu memandang dan dia
melihat tubuh kakek itu berkelebat lenyap! Dia celingukan mencari-cari dengan
pandang matanya, namun tak dapat menemukan kakek itu yang agaknya telah
menghilang begitu saja! Tiba-tiba terdengar suara dari atas, arah belakangnya.
"Linggajaya, lihatlah ke
sini!" Linggajaya memutar tubuh dan memandang ke atas dan ternyata kakek
itu telah berada di puncak sebuah pohon yang tinggi. Resi Bajrasakti tertawa
bergerak dan tubuhnya melayang turun, seperti seekor burung raksasa dia hinggap
di depan Linggajaya.
"Nah, engkau tentu mau menjadi muridku
mempelajari semua aji kesaktian itu, bukan?"
Hati Linggajaya kagum bukan main,
akan tetapi keangkuhannya sudah menjadi wataknya dan dia bersikap "jual
mahal". Dia tahu bahwa kakek itu ingin sekali mengambil dia sebagai murid,
maka dia sengaja bersikap tak acuh dan menggeleng kepalanya. Resi Bajrasakti
adalah seorang yang aneh. Wataknya kadang berlawanan dengan orang-orang lumrah
pada umumnya. Melihat sikap Linggajaya ini dia tidak marah, bahkan senang
karena sikap yang angkuh itu cocok dengannya. Akan tetapi diapun amat cerdik
dan ingin memaksa anak itu agar mau menjadi muridnya, kalau perlu dengan
kekerasan.
"Kalau begitu engkau harus
dihajar!" bentaknya dan dia menangkap pinggang Linggajaya lalu melontarkan
tubuh anak itu ke atas. Tubuh anak itu melayang naik, tinggi sekali. Linggajaya
terkejut dan ketakutan ketika tubuhnya meluncur turun. Tentu dia akan hancur
terbanting di atas tanah yang berbatu-batu. Dia tak berdaya untuk menghindarkan
ancaman maut. Namun dia menggigit bibirnya, tidak berteriak, hanya memejamkan
kedua matanya. Akan tetapi sebelum tubuhnya terbanting, tangan Resi Bajrasakti
menangkapnya lalu melontarkannya kembali ke atas! Setelah hal itu terjadi
beberapa kali, Linggajaya tertawa ketika dilontarkan ke atas. Dia maklum bahwa
kakek itu hanya menggertak saja dan tidak menghendaki dia terbanting mati!.
Mendengar suara tawa anak itu, Resi
Bajrasakti menjadi semakin senang. Disangka anak itu mempunyai keberanian
menentang maut yang luar biasa, dalam keadaan terancam maut masih bisa
tertawa-tawa. Dia tidak tahu bahwa anak itu lebih cerdik daripada yang ia duga.
Tawa Linggajaya itu timbul karena anak itu sama sekali tidak terancam maut.
"Nah, sekarang hancur
kepalamu!" tiba-tiba Resi Bajrasakti melontarkan tubuh anak itu tinggi
sekali dan meluncur turun, anak itu terbelalak karena kepalanya berada di bawah
dan kakek itu tidak lagi ada di sana untuk menyambutnya! Betapapun tabahnya,
melihat bahaya maut tak terhindarkan lagi, Linggajaya berteriak.
"Toloooonggg .....!" akan
tetapi kepalanya sudah meluncur dekat sekali dengan batu yang menonjol di atas
tanah.
Linggajaya menjerit, akan tetapi
pada detik terakhir, tangan Resi Bajrasakti sudah menyambut kepada anak itu
sehingga tidak terbanting pada batu. Kakek itu lalu mengangkat tubuh Linggajaya
dan membalikkannya. Setelah berdiri, Linggajaya masih merasa pening dan
wajahnya pucat sekali.
"Ha-ha-haha... katakan
sekarang, apakah engkau masih menolak menjadi muridku?"
Linggajaya yang cerdik maklum bahwa
dia tidak boleh mengggoda kakek ini terlalu lama. Kakek ini memiliki watak aneh
dan bukan mustahil kalau kakek ini akan membunuhnya kalau dia terus menolak. Maka
dia lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.
"Bapaa guru .....!"
mulutnya menyebut demikian, akan tetapi hati Linggajaya berkata,
"Awas kau! Kelak aku akan
membunuhmu!"
Resi Bajrasakti tertawa bergelak
saking senangnya.
"Ha-haha-ha, muridku yang baik,
engkau akan kuberi semua ilmuku agar kelak engkau menjadi wakil Kerajaan
Wengker yang akan menghancurkan Sang Prabu Erlangga keturunan kerajaan Mataram!
Ha-ha-ha-ha!" setelah berkata demikian, kembali dia tertawa dan tiba-tiba
dia menangkap pergelangan tangan Linggajaya dan membawa anak itu berlari
secepat terbang menuju ke barat, pulang ke wilayah kerajaan Wengker (sekarang
sekitar Ponorogo). Di dalam hatinya, dia merasa menyesal mengapa dia harus
jatuh ke tangan kakek raksasa yang kasar ini. Dia akan merasa lebih senang
kalau menjadi tawanan Nyi Dewi Durgakumala yang cantik pesolek itu. Sama sekali
dia tidak pernah membayangkan bahwa dia beruntung sekali terjatuh ke tangan
kakek itu. Kalau dia tetap menjadi tawanan wanita cantik yang seperti iblis betina
itu, tentu dia akan dibuat permainan, dihisap sampai habis sari manisnya
seperti sebatang tebu untuk kemudian ampasnya dibuang begitu saja atau disiksa
lalu dibunuh.
Bagaimana pula dengan nasib Puspa
Dewi? Keadaan bocah berusia tigabelas tahun ini mirip Linggajaya. Kalau saja ia
jatuh ke tangan penculiknya, Resi Bajrasakti, iapun akan mengalami nasib
mengerikan, ia akan dipermainkan sampai mati. Akan tetapi ia jatuh ke tangan
Nyi Dewi Durgakumala yang membawa lari ke timur dengan cepat karena iblis betina
inipun jerih kepada Empu Dewamurti yang disangka akan mengejarnya. Pada
keesokan harinya, pagi-pagi sekali Nyi Dewi Durgakumala yang memanggul tubuh
Puspa Dewi tiba di sebuah bukit yang berada di Pegunungan Tengger. Di puncak
bukit itu ia berhenti menurunkan anak perempuan itu dan membebaskannya sehingga
Puspa Dewi dapat bergerak dan bersuara lagi. Anak ini adalah seorang yang
cerdik. Melihat betapa ia ditangkap dan dibawa lari secepat angin oleh seorang
wanita yang cantik jelita, ia tidak begitu takut seperti ketika ia ditangkap
Resi Bajrasakti. Bahkan dianggapnya wanita ini tentu seorang dewi yang baik
hati, yang telah menolongnya dari kakek jahat itu. Ia sudah banyak mendengar
tentang para dewi yang didongengkan ibunya. Dewi yang cantik jelita akan tetapi
juga sakti mandraguna. Malam tadi ia membuktikan sendiri. Ia dipanggul dan
dibawa terbang. Ia hendak menghaturkan terima kasih., akan tetapi dilihatnya
wanita cantik itu sedang duduk bersila di atas sebuah batu sambil memejamkan
kedua matanya. Ia tahu bahwa dewi itu sedang bersamadhi, maka ia tidak berani
mengganggu dan menanti sambil duduk pula di atas batu yang rendah. Dilihatnya
pemandangan di bawah puncak. Puspa Dewi terkagum-kagum. Baru kali ini dia
melihat matahari pagi seindah itu. Kebetulan ia menghadap ke timur dan ia
melihat sebuah bola merah tersembul dari balik gunung yang tinggi. Ia tidak
tahu bahwa gunung itu adalah Gunung Bromo.
Matahari pagi mulai menyinarkan
cahayanya yang lembut dan hangat, menggugah segala sesuatu di permukaan bumi yang
tadinya tidur diselimuti kegelapan malam. Malam terang bulan berubah menjadi
gelap setelah larut tadi, setelah bulan purnama menghilang di ufuk barat. Dan
kini kegelapan malam terusir perlahan-lahan oleh sinar matahari pagi,
meninggalkan kabut yang bermalas-malasan meninggalkan bumi. Hutan-hutan
diselingi sawah ladang dan pondok-pondok pedusunan terhampar di bawah puncak,
tampak makin jelas setelah embun terusir sinar matahari. Burung-burung berkicau
menyambut datangnya sang surya. Kehidupan mulai tampak dan terdengar.
Suara-suara segala macam mahluk hidup itu seakan-akan merupakan doa dan
puja-puji kepada Sang Hyang Widhi yang melimpahkan berkah kehidupan melalui
sinar matahari, melalui desir angin, melalui awan yang berarak melayang-layang.
"Heh-heh, gila betul! Untuk apa
aku membawa lari?" suara itu menyadarkan Puspa Dewi dari lamunannya dan
cepat ia memutar tubuh memandang kepada Nyi Dewi Durgakumala. Melihat wanita
itu kini telah membuka matanya, Puspa Dewi cepat menghampiri dan bersembah sujud
di depan kaki wanita itu. Ia sudah diajari ibunya sejak kecil bagaimana harus
menghaturkan sembah sujud dan sesaji kepada para dewa dewi.
"Hamba menghaturkan banyak
terima kasih atas pertolongan paduka kepada hamba, pakulun." Ia menyembah.
Nyi Dewi Durgakumala tadi memang
bersamadhi untuk memulihkan tenaganya yang banyak terbuang membuat ia
kelelahan. Kini setelah tenaganya pulih dan ia melihat Puspa Dewi duduk tak
jauh darinya, baru ia teringat bahwa semalam, dalam keadaan panik dan gugup,
pengejarannya tidak membawa ia kepada calon korbannya, pemuda remaja yang
tampan itu, melainkan bertemu dengan anak perempuan yang tadinya ia tahu
merupakan tawanan Resi Bajrasakti itu. Maka ia tertawa dan mencela diri
sendiri. Sekarang anak perempuan itu bersembah sujud kepadanya menghaturkan
terima kasih, bahkan menyebutnya pakulun seolah-olah ia seorang dewi yang turun
dari Kahyangan.
"Hik-hik-hik! Kau kira siapa
aku ini" tanyanya sambil tertawa cekikikan seperti seorang perawan genit.
Puspa Dewi kembali menyembah.
”Ampun pakulun, paduka tentu seorang
dewi dari kahyangan yang sakti dan baik budi."
"Hemm, bagaimana engkau dapat
mengetahui bahwa aku seorang dewi kahyangan?" hatinya mulai merasa senang.
Wanita mana yang tidak merasa bangga
dan senang disebut Dewi Kahyangan? Walaupun yang menyebutnya itu hanya seorang
gadis remaja.
"Hamba mengetahui karena paduka
sangat cantik jelita, sangat sakti mandraguna dan berbudi baik, suka menolong
pula." Jawab Puspa Dewi penuh keyakinan, bukan untuk menyenangkan hati
melainkan karena ia memang yakin bahwa penolongnya itu adalah seorang dewi
kahyangan.
"Heh-heh-heh-hik-hik! Aku
memang seorang dewi. Namaku Dewi Durgakumala."
"Hamba menghaturkan sembah dan
hormat, pakulun." Kembali Puspa Dewi menyembah.
Akan tetapi tiba-tiba wanita cantik
yang tadinya tersenyum dan tertawa-tawa senang itu, menghentikan tawanya dan
mukanya berubah dingin. Watak iblis betina ini memang aneh atau juga tidak
normal. Begitu ia teringat bahwa ia telah kehilangan pemuda remaja tampan dan
sebagai gantinya mendapatkan seorang anak perempuan, kecewanya timbul,
membuatnya menjadi marah dan ia memandang kepada Puspa Dewi dengan penuh
kebencian. Tangan kirinya sudah terasa gatal untuk melayangkan pukulan maut
membunuh anak perampuan itu. Untuk apa ia membawa anak perempuan? Ia menjadi
gemas kepada Resi Bajrasakti dan lebih benci lagi kepada Empu Dewamurti yang
telah menggagalkan segalanya. Akan tetapi ketika tangannya hendak melayang
membunuh Puspa Dewi, tiba-tiba akan itu yang merasa heran betapa wanita yang
disangkanya dewi kahyangan itu mendadak diam saja, lalu mendongak dan memandang
wajah Nyi Dewi Durgakumala. Dua pasang mata bertemu pandang dan hati iblis
betina itu tertegun. Sepasang mata itu mengingatkan ia akan mata seorang anak
perempuan lain yang kini telah tiada. Mata anaknya, mata puterinya yang kini
telah tewas menjadi mangsa harimau. Beberapa tahun yang lalu wanita ini
menculik seorang anak yang ketika itu berusia empat tahun. Seperti biasa, ia
menculik anak-anak untuk menyempurnakan ilmu sesatnya. Darah anak kecil
dihisapnya sampai habis dan darah ini memperkuat tenaga ilmu hitamnya. Akan
tetapi entah mengapa sepasang mata anak yang diculiknya itu mendatangkan rasa
suka di hatinya dan ia tidak membunuh anak itu, bahkan memelihara anak itu dan
dianggapnya sebagai anak sendiri. Setelah anak itu berusia lima tahun, pada
suatu hari di puncak Gunung Anjasmara, ia bertemu dengan Rekryan Kanuruhan Empu
Dharmamurti Narotama Danasura yang lebih dikenal dengan sebutan Ki Patih
Narotama, yaitu mahapatih dan sahabat setia dari Sang Prabu Erlangga!
Bertemu dengan Ki Patih Narotama,
ksatria sakti mandraguna, orang kepercayaan utama dari Sang Prabu Erlangga,
berwajah tampan dan gagah, Nyi Dewi Durgakumala tergila-gila dan ia berusaha
keras menggunakan segala ajinya, mengerahkan aji guna-guna dan pemeletan, namun
semua pernyataan cintanya ditolak mentah-mentah oleh Ki Patih Narotama. Nyi
Dewi Durgakumala menjadi marah.
No comments:
Post a Comment