Bagian 05



Resi Bajrasakti menjadi semakin suka dan kagum. Apalagi ketika beberapa kali menangkis, dia mendapat kenyataan betapa anak itu memiliki tulang yang kuat, semangat baja, keberanian yang nekat dan memiliki bakat untuk menjadi seorang yang sakti mandraguna yang mengandalkan kekuatannya untuk bertindak menuruti keinginan sendiri. Anak seperti inilah yang cocok menjadi muridnya! Ketika untuk kesekian kalinya Linggajaya menyerang lagi, Resi Bajrasakti mengebutkan tangannya dan anak itu terpelanting roboh dan diam saja karena dia kembali tidak mampu bergerak atau bersuara. Resi Bajrasakti lalu mencengkram baju anak itu dan merenggutnya.
"Brettt …..!" baju itu robek dan terlepas dari tubuh Linggajaya sehingga anak itu kini telanjang dari pinggang ke atas. Jari-jari tangan Resi Bajrasakti lalu menggerayangi tubuh anak itu, memeriksa bagian leher, punggung, tengkuk dan pinggang. Berkali-kali dia mengeluarkan pujian dan akhirnya dia tertawa begelak.
“Ha-ha-ha-ha-ha, cocok! cocok!" Dia lalu mengebutkan tangannya lagi dan anak itu dapat bergerak dan bersuara kembali.
"Linggajaya, mulai sekarang engkau menjadi muridku!"
"Menjadi muridmu? Huh, siapa sudi menjadi muridmu? Kalau ingin menjadi guruku, harus minta ijin kepada ayahku dulu agar ayah dapat mengujimu apakah engkau pantas menjadi guruku. Aku tidak mau menjadi muridmu!" teriak Linggajaya sambil bangkit berdiri. Mukanya benjol-benjol, tubuhnya babak belur, bahkan ujung bibirnya berdarah, akan tetapi sorot matanya masih bersinar penuh keberanian dan kemarahan, kedua tangannya dikepal.

Melihat sikap ini Resi Bajrasakti tertawa senang. Anak ini bebar-benar cocok menjadi muridnya. Dia sudah lupa kepada gadis remaja yang diculiknya tadi, dan sekarang dia malah merasa senang dan beruntung bahwa dia memperoleh ganti seorang pemuda remaja yang kiranya tepat untuk menjadi muridnya, cocok untuk dapat meneruskan ketenarannya dan yang akan mengangkat tinggi nama besarnya.
"Linggajaya, engkau ingin melihat dulu kesaktian gurumu? Nah, lihatlah baik-baik!" Resi Bajrasakti lalu menghampiri sebongkah batu sebesar perut kerbau. Dia lau menampar ke arah batu itu sambil berteriak,
"Hiaatttttt!"
"Pyarrr .....!" batu besar itu hancur berhamburan.
Biarpun Linggajaya merasa terkejut dan kagum sekali, dia tetap tersenyum, bahkan dengan cerdiknya untuk melihat lebih banyak lagi kehebatan kakek itu sengaja ia tersenyum mengejek.
"Hanya sebegitu sajakah?" suaranya seolah menyatakan bahwa yang dipertontonkan kakek itu belum apa-apa baginya! Padahal tentu saja dia merasa terkejut dan kagum bukan main. Belum pernah dia melihat orang sedemikian saktinya sehingga batu sebesar itu dipukul hancur dengan tangan kosong.
"Hmm, memang aku hanya main-main tadi. Akan tetapi lihatlah ini!" Resi Bajrasakti mengusap dahinya, menggosok kedua telapak tangannya, lalu mendorongkan kedua tangan itu ke arah sebatang pohon yang berdiri dalam jarak empat meter darinya.
"Wuuutttt ..... kraakkkk!!" pohon itu tumbang dan roboh mengeluarkan suara gaduh.
Linggajaya tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Dia terbelalak memandang dan wajahnya tampak gembira bukan main.
"Linggajaya, sekarang lihat dimana aku!?”
Pemuda remaja itu memandang dan dia melihat tubuh kakek itu berkelebat lenyap! Dia celingukan mencari-cari dengan pandang matanya, namun tak dapat menemukan kakek itu yang agaknya telah menghilang begitu saja! Tiba-tiba terdengar suara dari atas, arah belakangnya.
"Linggajaya, lihatlah ke sini!" Linggajaya memutar tubuh dan memandang ke atas dan ternyata kakek itu telah berada di puncak sebuah pohon yang tinggi. Resi Bajrasakti tertawa bergerak dan tubuhnya melayang turun, seperti seekor burung raksasa dia hinggap di depan Linggajaya.
"Nah, engkau tentu mau menjadi muridku mempelajari semua aji kesaktian itu, bukan?"

Hati Linggajaya kagum bukan main, akan tetapi keangkuhannya sudah menjadi wataknya dan dia bersikap "jual mahal". Dia tahu bahwa kakek itu ingin sekali mengambil dia sebagai murid, maka dia sengaja bersikap tak acuh dan menggeleng kepalanya. Resi Bajrasakti adalah seorang yang aneh. Wataknya kadang berlawanan dengan orang-orang lumrah pada umumnya. Melihat sikap Linggajaya ini dia tidak marah, bahkan senang karena sikap yang angkuh itu cocok dengannya. Akan tetapi diapun amat cerdik dan ingin memaksa anak itu agar mau menjadi muridnya, kalau perlu dengan kekerasan.
"Kalau begitu engkau harus dihajar!" bentaknya dan dia menangkap pinggang Linggajaya lalu melontarkan tubuh anak itu ke atas. Tubuh anak itu melayang naik, tinggi sekali. Linggajaya terkejut dan ketakutan ketika tubuhnya meluncur turun. Tentu dia akan hancur terbanting di atas tanah yang berbatu-batu. Dia tak berdaya untuk menghindarkan ancaman maut. Namun dia menggigit bibirnya, tidak berteriak, hanya memejamkan kedua matanya. Akan tetapi sebelum tubuhnya terbanting, tangan Resi Bajrasakti menangkapnya lalu melontarkannya kembali ke atas! Setelah hal itu terjadi beberapa kali, Linggajaya tertawa ketika dilontarkan ke atas. Dia maklum bahwa kakek itu hanya menggertak saja dan tidak menghendaki dia terbanting mati!.

Mendengar suara tawa anak itu, Resi Bajrasakti menjadi semakin senang. Disangka anak itu mempunyai keberanian menentang maut yang luar biasa, dalam keadaan terancam maut masih bisa tertawa-tawa. Dia tidak tahu bahwa anak itu lebih cerdik daripada yang ia duga. Tawa Linggajaya itu timbul karena anak itu sama sekali tidak terancam maut.
"Nah, sekarang hancur kepalamu!" tiba-tiba Resi Bajrasakti melontarkan tubuh anak itu tinggi sekali dan meluncur turun, anak itu terbelalak karena kepalanya berada di bawah dan kakek itu tidak lagi ada di sana untuk menyambutnya! Betapapun tabahnya, melihat bahaya maut tak terhindarkan lagi, Linggajaya berteriak.
"Toloooonggg .....!" akan tetapi kepalanya sudah meluncur dekat sekali dengan batu yang menonjol di atas tanah.
Linggajaya menjerit, akan tetapi pada detik terakhir, tangan Resi Bajrasakti sudah menyambut kepada anak itu sehingga tidak terbanting pada batu. Kakek itu lalu mengangkat tubuh Linggajaya dan membalikkannya. Setelah berdiri, Linggajaya masih merasa pening dan wajahnya pucat sekali.
"Ha-ha-haha... katakan sekarang, apakah engkau masih menolak menjadi muridku?"

Linggajaya yang cerdik maklum bahwa dia tidak boleh mengggoda kakek ini terlalu lama. Kakek ini memiliki watak aneh dan bukan mustahil kalau kakek ini akan membunuhnya kalau dia terus menolak. Maka dia lalu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah.
"Bapaa guru .....!" mulutnya menyebut demikian, akan tetapi hati Linggajaya berkata,
"Awas kau! Kelak aku akan membunuhmu!"
Resi Bajrasakti tertawa bergelak saking senangnya.
"Ha-haha-ha, muridku yang baik, engkau akan kuberi semua ilmuku agar kelak engkau menjadi wakil Kerajaan Wengker yang akan menghancurkan Sang Prabu Erlangga keturunan kerajaan Mataram! Ha-ha-ha-ha!" setelah berkata demikian, kembali dia tertawa dan tiba-tiba dia menangkap pergelangan tangan Linggajaya dan membawa anak itu berlari secepat terbang menuju ke barat, pulang ke wilayah kerajaan Wengker (sekarang sekitar Ponorogo). Di dalam hatinya, dia merasa menyesal mengapa dia harus jatuh ke tangan kakek raksasa yang kasar ini. Dia akan merasa lebih senang kalau menjadi tawanan Nyi Dewi Durgakumala yang cantik pesolek itu. Sama sekali dia tidak pernah membayangkan bahwa dia beruntung sekali terjatuh ke tangan kakek itu. Kalau dia tetap menjadi tawanan wanita cantik yang seperti iblis betina itu, tentu dia akan dibuat permainan, dihisap sampai habis sari manisnya seperti sebatang tebu untuk kemudian ampasnya dibuang begitu saja atau disiksa lalu dibunuh.

Bagaimana pula dengan nasib Puspa Dewi? Keadaan bocah berusia tigabelas tahun ini mirip Linggajaya. Kalau saja ia jatuh ke tangan penculiknya, Resi Bajrasakti, iapun akan mengalami nasib mengerikan, ia akan dipermainkan sampai mati. Akan tetapi ia jatuh ke tangan Nyi Dewi Durgakumala yang membawa lari ke timur dengan cepat karena iblis betina inipun jerih kepada Empu Dewamurti yang disangka akan mengejarnya. Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali Nyi Dewi Durgakumala yang memanggul tubuh Puspa Dewi tiba di sebuah bukit yang berada di Pegunungan Tengger. Di puncak bukit itu ia berhenti menurunkan anak perempuan itu dan membebaskannya sehingga Puspa Dewi dapat bergerak dan bersuara lagi. Anak ini adalah seorang yang cerdik. Melihat betapa ia ditangkap dan dibawa lari secepat angin oleh seorang wanita yang cantik jelita, ia tidak begitu takut seperti ketika ia ditangkap Resi Bajrasakti. Bahkan dianggapnya wanita ini tentu seorang dewi yang baik hati, yang telah menolongnya dari kakek jahat itu. Ia sudah banyak mendengar tentang para dewi yang didongengkan ibunya. Dewi yang cantik jelita akan tetapi juga sakti mandraguna. Malam tadi ia membuktikan sendiri. Ia dipanggul dan dibawa terbang. Ia hendak menghaturkan terima kasih., akan tetapi dilihatnya wanita cantik itu sedang duduk bersila di atas sebuah batu sambil memejamkan kedua matanya. Ia tahu bahwa dewi itu sedang bersamadhi, maka ia tidak berani mengganggu dan menanti sambil duduk pula di atas batu yang rendah. Dilihatnya pemandangan di bawah puncak. Puspa Dewi terkagum-kagum. Baru kali ini dia melihat matahari pagi seindah itu. Kebetulan ia menghadap ke timur dan ia melihat sebuah bola merah tersembul dari balik gunung yang tinggi. Ia tidak tahu bahwa gunung itu adalah Gunung Bromo.

Matahari pagi mulai menyinarkan cahayanya yang lembut dan hangat, menggugah segala sesuatu di permukaan bumi yang tadinya tidur diselimuti kegelapan malam. Malam terang bulan berubah menjadi gelap setelah larut tadi, setelah bulan purnama menghilang di ufuk barat. Dan kini kegelapan malam terusir perlahan-lahan oleh sinar matahari pagi, meninggalkan kabut yang bermalas-malasan meninggalkan bumi. Hutan-hutan diselingi sawah ladang dan pondok-pondok pedusunan terhampar di bawah puncak, tampak makin jelas setelah embun terusir sinar matahari. Burung-burung berkicau menyambut datangnya sang surya. Kehidupan mulai tampak dan terdengar. Suara-suara segala macam mahluk hidup itu seakan-akan merupakan doa dan puja-puji kepada Sang Hyang Widhi yang melimpahkan berkah kehidupan melalui sinar matahari, melalui desir angin, melalui awan yang berarak melayang-layang.
"Heh-heh, gila betul! Untuk apa aku membawa lari?" suara itu menyadarkan Puspa Dewi dari lamunannya dan cepat ia memutar tubuh memandang kepada Nyi Dewi Durgakumala. Melihat wanita itu kini telah membuka matanya, Puspa Dewi cepat menghampiri dan bersembah sujud di depan kaki wanita itu. Ia sudah diajari ibunya sejak kecil bagaimana harus menghaturkan sembah sujud dan sesaji kepada para dewa dewi.
"Hamba menghaturkan banyak terima kasih atas pertolongan paduka kepada hamba, pakulun." Ia menyembah.
Nyi Dewi Durgakumala tadi memang bersamadhi untuk memulihkan tenaganya yang banyak terbuang membuat ia kelelahan. Kini setelah tenaganya pulih dan ia melihat Puspa Dewi duduk tak jauh darinya, baru ia teringat bahwa semalam, dalam keadaan panik dan gugup, pengejarannya tidak membawa ia kepada calon korbannya, pemuda remaja yang tampan itu, melainkan bertemu dengan anak perempuan yang tadinya ia tahu merupakan tawanan Resi Bajrasakti itu. Maka ia tertawa dan mencela diri sendiri. Sekarang anak perempuan itu bersembah sujud kepadanya menghaturkan terima kasih, bahkan menyebutnya pakulun seolah-olah ia seorang dewi yang turun dari Kahyangan.
"Hik-hik-hik! Kau kira siapa aku ini" tanyanya sambil tertawa cekikikan seperti seorang perawan genit.
Puspa Dewi kembali menyembah.
”Ampun pakulun, paduka tentu seorang dewi dari kahyangan yang sakti dan baik budi."
"Hemm, bagaimana engkau dapat mengetahui bahwa aku seorang dewi kahyangan?" hatinya mulai merasa senang.
Wanita mana yang tidak merasa bangga dan senang disebut Dewi Kahyangan? Walaupun yang menyebutnya itu hanya seorang gadis remaja.
"Hamba mengetahui karena paduka sangat cantik jelita, sangat sakti mandraguna dan berbudi baik, suka menolong pula." Jawab Puspa Dewi penuh keyakinan, bukan untuk menyenangkan hati melainkan karena ia memang yakin bahwa penolongnya itu adalah seorang dewi kahyangan.
"Heh-heh-heh-hik-hik! Aku memang seorang dewi. Namaku Dewi Durgakumala."
"Hamba menghaturkan sembah dan hormat, pakulun." Kembali Puspa Dewi menyembah.

Akan tetapi tiba-tiba wanita cantik yang tadinya tersenyum dan tertawa-tawa senang itu, menghentikan tawanya dan mukanya berubah dingin. Watak iblis betina ini memang aneh atau juga tidak normal. Begitu ia teringat bahwa ia telah kehilangan pemuda remaja tampan dan sebagai gantinya mendapatkan seorang anak perempuan, kecewanya timbul, membuatnya menjadi marah dan ia memandang kepada Puspa Dewi dengan penuh kebencian. Tangan kirinya sudah terasa gatal untuk melayangkan pukulan maut membunuh anak perampuan itu. Untuk apa ia membawa anak perempuan? Ia menjadi gemas kepada Resi Bajrasakti dan lebih benci lagi kepada Empu Dewamurti yang telah menggagalkan segalanya. Akan tetapi ketika tangannya hendak melayang membunuh Puspa Dewi, tiba-tiba akan itu yang merasa heran betapa wanita yang disangkanya dewi kahyangan itu mendadak diam saja, lalu mendongak dan memandang wajah Nyi Dewi Durgakumala. Dua pasang mata bertemu pandang dan hati iblis betina itu tertegun. Sepasang mata itu mengingatkan ia akan mata seorang anak perempuan lain yang kini telah tiada. Mata anaknya, mata puterinya yang kini telah tewas menjadi mangsa harimau. Beberapa tahun yang lalu wanita ini menculik seorang anak yang ketika itu berusia empat tahun. Seperti biasa, ia menculik anak-anak untuk menyempurnakan ilmu sesatnya. Darah anak kecil dihisapnya sampai habis dan darah ini memperkuat tenaga ilmu hitamnya. Akan tetapi entah mengapa sepasang mata anak yang diculiknya itu mendatangkan rasa suka di hatinya dan ia tidak membunuh anak itu, bahkan memelihara anak itu dan dianggapnya sebagai anak sendiri. Setelah anak itu berusia lima tahun, pada suatu hari di puncak Gunung Anjasmara, ia bertemu dengan Rekryan Kanuruhan Empu Dharmamurti Narotama Danasura yang lebih dikenal dengan sebutan Ki Patih Narotama, yaitu mahapatih dan sahabat setia dari Sang Prabu Erlangga!

Bertemu dengan Ki Patih Narotama, ksatria sakti mandraguna, orang kepercayaan utama dari Sang Prabu Erlangga, berwajah tampan dan gagah, Nyi Dewi Durgakumala tergila-gila dan ia berusaha keras menggunakan segala ajinya, mengerahkan aji guna-guna dan pemeletan, namun semua pernyataan cintanya ditolak mentah-mentah oleh Ki Patih Narotama. Nyi Dewi Durgakumala menjadi marah.

<<<Bagian 04                                                                                         Bagian 06 >>>

No comments:

Post a Comment