Bagian 04



“Saya tidak tahu eyang. Mereka tidak meninggalkan pesan dan pakaian merekapun tidak ada. Sampai sekarang mereka tidak pernah pulang dan tidak pernah memberi kabar.”
“Hemm, lalu engkau yang dulu berusia sepuluh tahun hidup seorang diri? Apakah engkau tidak memiliki sanak keluarga?”
“Tidak eyang, ayah dan ibu merupakan pendatang baru dan orang asing di Karang Tirta. Saya hidup seorang diri. Ki Lurah Suramenggala mengurus semua peninggalan orang tuaku. Tidak banyak hanya pondok kecil dan sedikit ladang. Ki Lurah membelinya sendiri dan memberikan uangnya sedikit demi sedikit kepada saya. Saya diperbolehkan tinggal membantu pengembala mengurus hewan ternaknya. Kurang lebih tiga tahun kemudian, uang hasil penjualan rumah dan ladang itu kata Ki Lurah sudah habis untuk biaya hidup saya. Mulailah dalam usia tiga belas tahun saya hidup sebagai buruh tani. Sampai sekarang, selalu berpindah-pindah ke rumah pemilik sawah yang saya bantu.”

Empu Dewamurti mengangguk-angguk. Anak ini memiliki latar belakang yang penuh rahasia. Entah darimana datangnya orang tuanya dan rahasia apa yang tersembunyi di balik kehilangan mereka yang aneh.
“Jadi kalau begitu engkau hidup sebatang kara, tiada sanak keluarga dan tiada rumah atau tempat tinggal sama sekali”.
“Benar eyang, akan tetapi mulai sekarang saya tidak sebatang kara lagi. Saya hidup bersama eyang guru, saya mempunyai eyang dan saya dapat melayani eyang!” kata Nurseta dan dalam suaranya terkandung kegembiraan.
“Baik Nurseta, engkau akan hidup bersamaku sampai engkau dapat menguasai ilmu-ilmu yang akan kuajarkan kepadamu. Kulihat engkau masih membawa arit di ikat pinggangmu. Nah, sekarang carilah sebatang kayu batang pohon nangka untuk membuat sarung untuk Keris Pusaka Megatantra itu.”
“Baik eyang.”

Nurseta lalu mencari kayu untuk membuat warangka (sarung keris). Setelah mendapat kayu yang cukup baik dia kembali dan duduk di atas batu di depan gurunya, lalu mulai membentuk sebuah sarung keris. Sambil membuat sarung keris, Nurseta bertanya kepada gurunya.
“Eyang, mengapa dua orang penculik itu begitu ngotot untuk merebut keris Megatantra ini?”
“Keris pusaka ini adalah sebuah keris yang ampuh dan bertuah, Seta. Engkau telah membuktikannya sendiri. Ketika engkau menggugah dua orang bocah yang terculik itu, karena engkau memegang keris ini, maka engkau membebaskan mereka dari pengaruh sihir. Mereka ingin memiliki keris pusaka ini yang akam membuat mereka menjadi semakin kuat dan sakti.”
“Dan kalau boleh saya bertanya, eyang. Mengapa pula eyang mempertahankan keris ini mati-matian?”
Empu Dewamurti tersenyum lebar.
"Memang aku melawan mereka, akan tetapi bukan semata-mata untuk mempertahankan keris, melainkan terutama sekali agar mereka membebaskan dua bocah yang mereka culik itu."
"Eyang, apakah gunanya sebatang keris diperebutkan sampai mengadu nyawa? Saya masih ingat akan satu diantara nasehat ayah dahulu. Ketika saya membaca sebuah kitab Weda, ayah menerangkan bahwa setiap alat apapun juga tidak mempunyai sifat baik maupun buruk. Kata ayah, baik dan buruknya suatu alat tergantung sepenuhnya kepada cara kita yang mempergunakan alat itu. Contohnya arit ini, eyang. Kalau dipergunakan untuk bekerja, menyabit rumput, menebang pohon, termasuk membuat warangka keris ini, maka ini menjadi alat yang baik. Sebaliknya kalau dipakai untuk membacok, melukai atau membunuh orang, maka jelas arit ini menjadi alat yang tidak baik. Lalu untuk apa keris diperebutkan mati-matian?"
"Bagus kalau engkau masih ingat akan wejangan ayahmu itu, Nurseta. Ayahmu benar. Memang baik atau buruk itu tidak ada, baik atau buruk baru muncul setelah ada pandangan dan perbuatan. Agar mudah kau ingat, segala yang sifatnya membangun, menjaga keindahan, mendatangkan manfaat bagi orang-orang lain adalah baik dan segala sesuatu yang sifatnya merusak, menyebabkan keburukan, mendatangkan manfaat hanya kepada diri sendiri, adalah buruk dan jahat. Mengapa aku mencegah keris ini jatuh ke tangan mereka?, karena aku mengenal siapa mereka dan aku yakin bahwa kalau keris ini jatuh ke tangan mereka, maka keris ini akan menjadi alat yang jahat dan mendatangkan malapetaka kepada orang banyak."
"Siapakah sebenarnya orang sakti itu eyang?"
"Yang laki-laki adalah Resi Bajrasakti, dia itu seorang penasehat kerajaan Wengker. Karena kerajaan itu memusuhi Sang Prabu Erlangga, maka tentu kedatangannya di wilayah Kahuripan ini hanya akan melakukan perbuatan yang mendatangkan kekacauan. Mungkin dia melakukan penyelidikan di wilayah Kahuripan ini. Adapun yang perempuan itu bernama Nyi Dewi Durgakumala. Ia seorang tokoh kerajaan Wurawari yang juga memusuhi Sang Prabu Erlangga. Tentu kedatangannya juga tidak bermaksud baik, tiada bedanya dengan Rsi Bajrasakti. Mereka berdua itu sakti mandraguna, selain dahsyat ilmu silatnya, juga mereka itu ahli-ahli sihir dan segala macam ilmu hitam. Lihat saja Nyi Dewi Durgakumala itu. Usianya seingatku sudah mendekati lima puluh tahun, akan tetapi ia masih nampak muda belia dan cantik. Ah orang-orang sesat itu hanya mementingkan keindahan dan kesenangan jasmani saja, sama sekali melupakan keadaan rohani."
"Akan tetapi apa perlunya mereka itu menculik linggajaya dan Puspadewi, eyang?"

Kakek itu menarik nafas panjang.
"Hal itu ada hubungannya dengan syarat ilmu sesat mereka. Ilmu sesat itu selalu ada hubungannya dengan nafsu. Nafsu apa saja. Akan tetapi dalam hal mereka berdua, yang menjadi syarat adalah pemuasan nafsu daya rendah birahi. Resi Bajrasakti suka menculik dan memperkosa perawan-perawan cantik demi memperkuat ilmu sesatnya, Nyi Dewi Durgakumala sebaliknya menculik para perjaka yang tampan."
"Aduh, kasihan sekali kalau begitu Lingggajaya dan Puspa Dewi" seru Nurseta.

Empu Dewamurti menghela nafas panjang.
"Kita sudah berusaha menolong mereka, akan tetapi gagal. Segala upaya itu dapat berhasil atau gagal sesuai dengan kehendak Sang Hyang Widhi. Yang penting, upaya kita itu berlandaskan kebenaran. Berhasil atau gagal berada dalam kekuasaan Sang Hyang Widhi. Kita semua masing-masing terikat oleh karmanya sendiri-sendiri. Tidak ada yang perlu disesalkan!"

Setelah Nurseta selesai membuat warangka keris, Empu Dewamurti lalu memasukkan keris pusaka itu ke dalam sarung keris yang sederhana itu lalu menyuruh Nurseta menyelipkan keris dan warangkanya itu di pinggangnya. Kemudian dia mengajak muridnya melanjutkan perjalanan.
"Kita akan tinggal di sebuah guha diantara puncak-puncak pegunungan Arjuna." Kata kakek itu. Dan pergilah mereka ke gunung Arjuna yang terkenal wingit (angker/menakutkan) itu.

Kemanakah perginya Linggajaya dan Puspa Dewi? Mereka sudah dapat melarikan diri, kenapa tidak tiba di rumah masing-masing di dusun Karang Tirta dan ketika dicari oleh para penduduk dusun itu tidak dapat ditemukan?
Tidak salah apa yang dikatakan Empu Dewamutri kepada Nurseta tadi bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan seorang manusia sudah diatur dan ditentukan oleh kekuasaan Sang Hyang Widhi sesuai dengan karma masing-masing. Manusia memang wajib berusaha, wajib berdaya upaya sekuat tenaga, namun semua itu tidak akan mengubah apa yang telah ditentukan oleh Sang Hyang Widhi. Adapun baik buruknya karma itu tergantung sepenuhnya kepada keadaan hati dan perbuatan manusia itu sendiri. Sang Hyang Widhi Maha Adil, manusia bijak pasti menerima kebaikan dan manusia jahat pasti menerima keburukan. Siapa menanam benihnya, dia akan memetik buahnya.

Ketika Linggajaya dan Puspa Dewi melarikan diri di malam bulan purnama itu, memang mereka bermaksud untuk pulang ke Karang Tirta. Akan tetapi, sebelum tiba di dusun yang sudah dekat itu, mereka mendengar teriakan lembut namun jelas terdengar oleh telinga mereka.
"Bocah bagus, kemana engkau hendak lari?" Jelas itu adalah suara Nyi Dewi Durgakumala. Suara itu memang tidak nyaring karena wanita itu takut kalau-kalau terdengar oleh Empu Dewamurti, akan tetapi suara itu didorong oleh tenaga sakti dan melengking ke arah depan sehingga terdengar oleh Linggajaya dan Puspa Dewi.
"Cah Ayu manis, denok moblong-moblong, berhentilah!" terdengar pula suara Resi Bajrasakti.

Mendengar dua suara ini, tentu saja dua orang itu menjadi takut dan panik. Tadinya memang mereka lari berbareng, akan tetapi ketika mendengar suara itu, saking bingungnya mereka berpencar. Linggajaya berlari ke arah kanan meninggalkan Puspa Dewi dan bocah perempuan itu dengan ketakutan berlari ke kiri. Sementara itu Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala yang kecewa sekali karena tidak berhasil merampas keris Megatantra dan dikalahkan oleh Empu Dewamurti kini mencurahkan perhatian mereka kepada dua orang anak yang mereka culik dan kini entah bagaimana telah melarikan diri. Mereka melakukan pengejaran, akan tetapi mereka mengejar dengan hati gentar pula kalau-kalau Empu Dewamurti juga mengejar mereka. Dalam kegugupan mereka itu, kini merekapun berpencar dan melakukan pengejaran. Dan terjadilah hal yang sama sekali diluar kehendak dan perhitungan dua orang datuk itu. Resi Bajrasakti lari mengejar ke kanan dan Nyi Dewi Durgakumala lari mengejar ke kiri. Dengan sendirinya Resi Bajrasakti dapat menyusul Linggajaya dan sebaliknya Nyi Dewi Durgakumala dapat menyusul Puspa Dewi.

Dalam keremangan malam karena bulan purnama sudah condong ke barat dan tertutup awan tipis, Resi Bajrasakti hanya melihat bayangan Linggajaya yang berlari di depannya. Dia mengira bahwa itu adalah Puspa Dewi. Setelah dia menyambar tubuh anak itu, dibuatnya tidak mampu bergerak dan bersuara lalu dipanggulnya, barulah dia menyadari bahwa telah salah tangkap. Akan tetapi sudah kepalang, dia tidak peduli dan mempercepat larinya meninggalkan tempat itu karena merasa takut terhadap Empu Dewamurti, apalagi setelah kini ia berpisah dengan Nyi Dewi Durgakumala. Resi Bajrasakti berlari mempergunakan ilmu lari cepat, melarikan diri seperti terbang saja sambil memanggul tubuh Linggajaya. Pemuda remaja berusia lima belas tahun ini kembali merasa tidak berdaya, tidak mampu menggerakkan tubuh dan tidak mampu mengeluarkan suara. Akan tetapi diapun tahu bahwa kini yang melarikan bukanlah wanita cantik tadi, melainkan kakek tinggi besar yang menyeramkan. Diam-diam dia merasa menyesal. Bagaimanapun juga dia lebih senang kalau diculik wanita cantik itu. Baru baunya saja, ketika dia dipanggul wanita itu, harum semerbak. Tidak seperti kakek ini yang baunya apek!. Linggajaya adalah putera Ki Lurah Suramenggala yang dimanja. Ibunya adalah istri ketiga lurah itu. Wajahnya tampan, kulitnya halus seperti ibunya, akan tetapi wataknya bengis dan angkuh seperti ayahnya. Setelah lari sepanjang malam dengan cepat sekali menuju ke arah barat, pada keesokan harinya setelah matahari mulai terbit, Resi Bajrasakti tiba di sebuah hutan dan dia berhenti, lalu menurunkan tubuh Linggajaya ke atas tanah. Dilemparkannya begitu saja sehingga tubuh pemuda remaja itu terjatuh dan rebah terlentang di atas tanah.

Linggajaya yang rebah di atas tanah itu tetap tak mampu bergerak atau bersuara. Akan tetapi dia memandang kepada kakek itu dengan mata melotot penuh kemarahan. Melihat ini Resi Bajrasakti menjadi heran dan mengerutkan alisnya. Betapa berani dan tabahnya bocah ini, pikirnya penasaran akan tetapi juga kagum. Dia sama sekali tidak tahu bahwa kemarahan pemuda remaja yang diperlihatkan dari pandang matanya itu sama sekali bukan karena Linggajaya seorang yang tabah dan pemberani. Kemarahannya itu terbawa oleh wataknya yang angkuh dan sombong. Biasanya orang sedusun bersikap hormat dan mengalah kepadanya, takut akan kedudukan ayahnya sebagai kepala dusun. Sekarang melihat ada orang berani bersikap sewenang-wenang kepadanya, tidak takut sama sekali, dia menjadi marah!
"Heh-heh, bocah keparat! Berani engkau melotot kepadaku?. Huh, untuk apa anak iblis seperti engkau ini bagiku? Tunggu, aku akan menyiksamu sampai mati, engkau akan mati perlahan-lahan dan aku ingin dulu mendengar engkau bernyanyi-nyanyi kesakitan dalam sekarat!".

Setelah berkata demikian, Resi Bajrasakti lalu mengebutkan tangannya tiga kali ke arah muka, perut dan kaki pemuda itu dan seketika Linggajaya dapat bergerak dan bersuara kembali. Begitu dapat bergerak dan mengeluarkan suara, Linggajaya yang merasa tersinggung kehormatannya dan sudah marah sekali itu lalu melompat dan bangkit berdiri. Dia bertolak pinggang dengan tangan kanannya, lalu telunjuk kirinya menunjuk ke arah muka datuk itu dan dia memaki.
"Jahanam tua bangka kurang ajar! Apa engkau sudah bosan hidup? Engkau tidak tahu siapa aku!"
Resi Bajrasakti terbelalak, heran dan kagum. Sikap pemuda remaja itu dianggapnya luar biasa berani dan kurang ajarnya, satu diantara sikap-sikap yang disukai dan dikagumi.
"Ha-ha-ha, memangnya engkau siapa?" tanyanya.
“Aku adalah putera tunggal Ki Suramenggala yang menjadi orang nomor satu di Karang Tirta, paling kaya, paling kuat dan paling berkuasa! Engkau mencari mati kalau berani mengganggu aku!"

Mendengar kesombongan ini, Resi Bajrasakti menjadi semakin kagum dan dia mulai tertawa bergelak. Watak anak ini cocok sekali dengan wataknya sendiri!
"Ha-ha-ha-ha! Kalau aku tidak takut mati dan sekarang aku mengganggumu, engkau mau apa cah bagus?"
"Akan kupukuli engkau! Akan kubunuh engkau!" teriak Linggajaya.
"Heh-heh, engkau berani?" kakek itu mengejek.
Linggajaya semakin marah.
"Kenapa tidak berani? Apamu yang kutakuti? Nah, mampuslah kau" anak itu lalu menerjang maju dan memukul ke arah dada dan perut kakek itu.

Sambil tertawa kakek itu menangkis dan begitu tangannya bertemu dengan kedua tangan Linggajaya, anak itu terlempar dan terbanting tiga meter jauhnya! Akan tetapi Linggajaya menjadi semakin marah. Dia bangkit berdiri dan lari menyerang lagi, mengerahkan seluruh tenaganya. Kembali Resi Bajrasakti menyambutnya dengan tendangan sehingga tubuh linggajaya terpental. Sambil tertawa-tawa kakek itu menghadapi serangan Linggajaya yang tidak juga jera. Anak itu sudah babak belur dan benjol-benjol, akan tetapi dia selalu bangkit lagi dengan nekat, seakan merasa yakin bahwa ayah dan para jagabaya tentu akan datang dan membelanya seperti selalu terjadi jika dia berkelahi. Memang Linggajaya termasuk anak yang bandel dan bengal, suka berkelahi dan ditakuti semua pemuda di Karang Tirta.

<<<Bagian 03                                                                                        Bagian 05 >>>

No comments:

Post a Comment