“Saya tidak tahu eyang. Mereka tidak
meninggalkan pesan dan pakaian merekapun tidak ada. Sampai sekarang mereka
tidak pernah pulang dan tidak pernah memberi kabar.”
“Hemm, lalu engkau yang dulu berusia
sepuluh tahun hidup seorang diri? Apakah engkau tidak memiliki sanak keluarga?”
“Tidak eyang, ayah dan ibu merupakan
pendatang baru dan orang asing di Karang Tirta. Saya hidup seorang diri. Ki Lurah
Suramenggala mengurus semua peninggalan orang tuaku. Tidak banyak hanya pondok
kecil dan sedikit ladang. Ki Lurah membelinya sendiri dan memberikan uangnya
sedikit demi sedikit kepada saya. Saya diperbolehkan tinggal membantu
pengembala mengurus hewan ternaknya. Kurang lebih tiga tahun kemudian, uang
hasil penjualan rumah dan ladang itu kata Ki Lurah sudah habis untuk biaya
hidup saya. Mulailah dalam usia tiga belas tahun saya hidup sebagai buruh tani.
Sampai sekarang, selalu berpindah-pindah ke rumah pemilik sawah yang saya
bantu.”
Empu Dewamurti mengangguk-angguk.
Anak ini memiliki latar belakang yang penuh rahasia. Entah darimana datangnya
orang tuanya dan rahasia apa yang tersembunyi di balik kehilangan mereka yang
aneh.
“Jadi kalau begitu engkau hidup
sebatang kara, tiada sanak keluarga dan tiada rumah atau tempat tinggal sama
sekali”.
“Benar eyang, akan tetapi mulai
sekarang saya tidak sebatang kara lagi. Saya hidup bersama eyang guru, saya
mempunyai eyang dan saya dapat melayani eyang!” kata Nurseta dan dalam suaranya
terkandung kegembiraan.
“Baik Nurseta, engkau akan hidup
bersamaku sampai engkau dapat menguasai ilmu-ilmu yang akan kuajarkan kepadamu.
Kulihat engkau masih membawa arit di ikat pinggangmu. Nah, sekarang carilah
sebatang kayu batang pohon nangka untuk membuat sarung untuk Keris Pusaka
Megatantra itu.”
“Baik eyang.”
Nurseta lalu mencari kayu untuk
membuat warangka (sarung keris). Setelah mendapat kayu yang cukup baik dia
kembali dan duduk di atas batu di depan gurunya, lalu mulai membentuk sebuah
sarung keris. Sambil membuat sarung keris, Nurseta bertanya kepada gurunya.
“Eyang, mengapa dua orang penculik
itu begitu ngotot untuk merebut keris Megatantra ini?”
“Keris pusaka ini adalah sebuah
keris yang ampuh dan bertuah, Seta. Engkau telah membuktikannya sendiri. Ketika
engkau menggugah dua orang bocah yang terculik itu, karena engkau memegang
keris ini, maka engkau membebaskan mereka dari pengaruh sihir. Mereka ingin
memiliki keris pusaka ini yang akam membuat mereka menjadi semakin kuat dan
sakti.”
“Dan kalau boleh saya bertanya,
eyang. Mengapa pula eyang mempertahankan keris ini mati-matian?”
Empu Dewamurti tersenyum lebar.
"Memang aku melawan mereka,
akan tetapi bukan semata-mata untuk mempertahankan keris, melainkan terutama
sekali agar mereka membebaskan dua bocah yang mereka culik itu."
"Eyang, apakah gunanya sebatang
keris diperebutkan sampai mengadu nyawa? Saya masih ingat akan satu diantara
nasehat ayah dahulu. Ketika saya membaca sebuah kitab Weda, ayah menerangkan
bahwa setiap alat apapun juga tidak mempunyai sifat baik maupun buruk. Kata
ayah, baik dan buruknya suatu alat tergantung sepenuhnya kepada cara kita yang
mempergunakan alat itu. Contohnya arit ini, eyang. Kalau dipergunakan untuk
bekerja, menyabit rumput, menebang pohon, termasuk membuat warangka keris ini,
maka ini menjadi alat yang baik. Sebaliknya kalau dipakai untuk membacok,
melukai atau membunuh orang, maka jelas arit ini menjadi alat yang tidak baik.
Lalu untuk apa keris diperebutkan mati-matian?"
"Bagus kalau engkau masih ingat
akan wejangan ayahmu itu, Nurseta. Ayahmu benar. Memang baik atau buruk itu
tidak ada, baik atau buruk baru muncul setelah ada pandangan dan perbuatan.
Agar mudah kau ingat, segala yang sifatnya membangun, menjaga keindahan,
mendatangkan manfaat bagi orang-orang lain adalah baik dan segala sesuatu yang
sifatnya merusak, menyebabkan keburukan, mendatangkan manfaat hanya kepada diri
sendiri, adalah buruk dan jahat. Mengapa aku mencegah keris ini jatuh ke tangan
mereka?, karena aku mengenal siapa mereka dan aku yakin bahwa kalau keris ini
jatuh ke tangan mereka, maka keris ini akan menjadi alat yang jahat dan
mendatangkan malapetaka kepada orang banyak."
"Siapakah sebenarnya orang
sakti itu eyang?"
"Yang laki-laki adalah Resi
Bajrasakti, dia itu seorang penasehat kerajaan Wengker. Karena kerajaan itu
memusuhi Sang Prabu Erlangga, maka tentu kedatangannya di wilayah Kahuripan ini
hanya akan melakukan perbuatan yang mendatangkan kekacauan. Mungkin dia
melakukan penyelidikan di wilayah Kahuripan ini. Adapun yang perempuan itu
bernama Nyi Dewi Durgakumala. Ia seorang tokoh kerajaan Wurawari yang juga
memusuhi Sang Prabu Erlangga. Tentu kedatangannya juga tidak bermaksud baik,
tiada bedanya dengan Rsi Bajrasakti. Mereka berdua itu sakti mandraguna, selain
dahsyat ilmu silatnya, juga mereka itu ahli-ahli sihir dan segala macam ilmu
hitam. Lihat saja Nyi Dewi Durgakumala itu. Usianya seingatku sudah mendekati
lima puluh tahun, akan tetapi ia masih nampak muda belia dan cantik. Ah
orang-orang sesat itu hanya mementingkan keindahan dan kesenangan jasmani saja,
sama sekali melupakan keadaan rohani."
"Akan tetapi apa perlunya
mereka itu menculik linggajaya dan Puspadewi, eyang?"
Kakek itu menarik nafas panjang.
"Hal itu ada hubungannya dengan
syarat ilmu sesat mereka. Ilmu sesat itu selalu ada hubungannya dengan nafsu.
Nafsu apa saja. Akan tetapi dalam hal mereka berdua, yang menjadi syarat adalah
pemuasan nafsu daya rendah birahi. Resi Bajrasakti suka menculik dan memperkosa
perawan-perawan cantik demi memperkuat ilmu sesatnya, Nyi Dewi Durgakumala
sebaliknya menculik para perjaka yang tampan."
"Aduh, kasihan sekali kalau
begitu Lingggajaya dan Puspa Dewi" seru Nurseta.
Empu Dewamurti menghela nafas
panjang.
"Kita sudah berusaha menolong
mereka, akan tetapi gagal. Segala upaya itu dapat berhasil atau gagal sesuai
dengan kehendak Sang Hyang Widhi. Yang penting, upaya kita itu berlandaskan
kebenaran. Berhasil atau gagal berada dalam kekuasaan Sang Hyang Widhi. Kita
semua masing-masing terikat oleh karmanya sendiri-sendiri. Tidak ada yang perlu
disesalkan!"
Setelah Nurseta selesai membuat
warangka keris, Empu Dewamurti lalu memasukkan keris pusaka itu ke dalam sarung
keris yang sederhana itu lalu menyuruh Nurseta menyelipkan keris dan
warangkanya itu di pinggangnya. Kemudian dia mengajak muridnya melanjutkan
perjalanan.
"Kita akan tinggal di sebuah
guha diantara puncak-puncak pegunungan Arjuna." Kata kakek itu. Dan
pergilah mereka ke gunung Arjuna yang terkenal wingit (angker/menakutkan) itu.
Kemanakah perginya Linggajaya dan
Puspa Dewi? Mereka sudah dapat melarikan diri, kenapa tidak tiba di rumah
masing-masing di dusun Karang Tirta dan ketika dicari oleh para penduduk dusun
itu tidak dapat ditemukan?
Tidak salah apa yang dikatakan Empu
Dewamutri kepada Nurseta tadi bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan
seorang manusia sudah diatur dan ditentukan oleh kekuasaan Sang Hyang Widhi
sesuai dengan karma masing-masing. Manusia memang wajib berusaha, wajib berdaya
upaya sekuat tenaga, namun semua itu tidak akan mengubah apa yang telah
ditentukan oleh Sang Hyang Widhi. Adapun baik buruknya karma itu tergantung
sepenuhnya kepada keadaan hati dan perbuatan manusia itu sendiri. Sang Hyang
Widhi Maha Adil, manusia bijak pasti menerima kebaikan dan manusia jahat pasti
menerima keburukan. Siapa menanam benihnya, dia akan memetik buahnya.
Ketika Linggajaya dan Puspa Dewi
melarikan diri di malam bulan purnama itu, memang mereka bermaksud untuk pulang
ke Karang Tirta. Akan tetapi, sebelum tiba di dusun yang sudah dekat itu,
mereka mendengar teriakan lembut namun jelas terdengar oleh telinga mereka.
"Bocah bagus, kemana engkau
hendak lari?" Jelas itu adalah suara Nyi Dewi Durgakumala. Suara itu
memang tidak nyaring karena wanita itu takut kalau-kalau terdengar oleh Empu
Dewamurti, akan tetapi suara itu didorong oleh tenaga sakti dan melengking ke
arah depan sehingga terdengar oleh Linggajaya dan Puspa Dewi.
"Cah Ayu manis, denok
moblong-moblong, berhentilah!" terdengar pula suara Resi Bajrasakti.
Mendengar dua suara ini, tentu saja
dua orang itu menjadi takut dan panik. Tadinya memang mereka lari berbareng,
akan tetapi ketika mendengar suara itu, saking bingungnya mereka berpencar.
Linggajaya berlari ke arah kanan meninggalkan Puspa Dewi dan bocah perempuan
itu dengan ketakutan berlari ke kiri. Sementara itu Resi Bajrasakti dan Nyi
Dewi Durgakumala yang kecewa sekali karena tidak berhasil merampas keris
Megatantra dan dikalahkan oleh Empu Dewamurti kini mencurahkan perhatian mereka
kepada dua orang anak yang mereka culik dan kini entah bagaimana telah
melarikan diri. Mereka melakukan pengejaran, akan tetapi mereka mengejar dengan
hati gentar pula kalau-kalau Empu Dewamurti juga mengejar mereka. Dalam
kegugupan mereka itu, kini merekapun berpencar dan melakukan pengejaran. Dan
terjadilah hal yang sama sekali diluar kehendak dan perhitungan dua orang datuk
itu. Resi Bajrasakti lari mengejar ke kanan dan Nyi Dewi Durgakumala lari
mengejar ke kiri. Dengan sendirinya Resi Bajrasakti dapat menyusul Linggajaya
dan sebaliknya Nyi Dewi Durgakumala dapat menyusul Puspa Dewi.
Dalam keremangan malam karena bulan
purnama sudah condong ke barat dan tertutup awan tipis, Resi Bajrasakti hanya
melihat bayangan Linggajaya yang berlari di depannya. Dia mengira bahwa itu
adalah Puspa Dewi. Setelah dia menyambar tubuh anak itu, dibuatnya tidak mampu
bergerak dan bersuara lalu dipanggulnya, barulah dia menyadari bahwa telah
salah tangkap. Akan tetapi sudah kepalang, dia tidak peduli dan mempercepat
larinya meninggalkan tempat itu karena merasa takut terhadap Empu Dewamurti,
apalagi setelah kini ia berpisah dengan Nyi Dewi Durgakumala. Resi Bajrasakti
berlari mempergunakan ilmu lari cepat, melarikan diri seperti terbang saja
sambil memanggul tubuh Linggajaya. Pemuda remaja berusia lima belas tahun ini
kembali merasa tidak berdaya, tidak mampu menggerakkan tubuh dan tidak mampu
mengeluarkan suara. Akan tetapi diapun tahu bahwa kini yang melarikan bukanlah
wanita cantik tadi, melainkan kakek tinggi besar yang menyeramkan. Diam-diam
dia merasa menyesal. Bagaimanapun juga dia lebih senang kalau diculik wanita
cantik itu. Baru baunya saja, ketika dia dipanggul wanita itu, harum semerbak.
Tidak seperti kakek ini yang baunya apek!. Linggajaya adalah putera Ki Lurah
Suramenggala yang dimanja. Ibunya adalah istri ketiga lurah itu. Wajahnya
tampan, kulitnya halus seperti ibunya, akan tetapi wataknya bengis dan angkuh
seperti ayahnya. Setelah lari sepanjang malam dengan cepat sekali menuju ke
arah barat, pada keesokan harinya setelah matahari mulai terbit, Resi
Bajrasakti tiba di sebuah hutan dan dia berhenti, lalu menurunkan tubuh
Linggajaya ke atas tanah. Dilemparkannya begitu saja sehingga tubuh pemuda
remaja itu terjatuh dan rebah terlentang di atas tanah.
Linggajaya yang rebah di atas tanah
itu tetap tak mampu bergerak atau bersuara. Akan tetapi dia memandang kepada
kakek itu dengan mata melotot penuh kemarahan. Melihat ini Resi Bajrasakti
menjadi heran dan mengerutkan alisnya. Betapa berani dan tabahnya bocah ini,
pikirnya penasaran akan tetapi juga kagum. Dia sama sekali tidak tahu bahwa
kemarahan pemuda remaja yang diperlihatkan dari pandang matanya itu sama sekali
bukan karena Linggajaya seorang yang tabah dan pemberani. Kemarahannya itu
terbawa oleh wataknya yang angkuh dan sombong. Biasanya orang sedusun bersikap
hormat dan mengalah kepadanya, takut akan kedudukan ayahnya sebagai kepala
dusun. Sekarang melihat ada orang berani bersikap sewenang-wenang kepadanya,
tidak takut sama sekali, dia menjadi marah!
"Heh-heh, bocah keparat! Berani
engkau melotot kepadaku?. Huh, untuk apa anak iblis seperti engkau ini bagiku?
Tunggu, aku akan menyiksamu sampai mati, engkau akan mati perlahan-lahan dan
aku ingin dulu mendengar engkau bernyanyi-nyanyi kesakitan dalam
sekarat!".
Setelah berkata demikian, Resi
Bajrasakti lalu mengebutkan tangannya tiga kali ke arah muka, perut dan kaki
pemuda itu dan seketika Linggajaya dapat bergerak dan bersuara kembali. Begitu
dapat bergerak dan mengeluarkan suara, Linggajaya yang merasa tersinggung
kehormatannya dan sudah marah sekali itu lalu melompat dan bangkit berdiri. Dia
bertolak pinggang dengan tangan kanannya, lalu telunjuk kirinya menunjuk ke
arah muka datuk itu dan dia memaki.
"Jahanam tua bangka kurang
ajar! Apa engkau sudah bosan hidup? Engkau tidak tahu siapa aku!"
Resi Bajrasakti terbelalak, heran
dan kagum. Sikap pemuda remaja itu dianggapnya luar biasa berani dan kurang
ajarnya, satu diantara sikap-sikap yang disukai dan dikagumi.
"Ha-ha-ha, memangnya engkau
siapa?" tanyanya.
“Aku adalah putera tunggal Ki
Suramenggala yang menjadi orang nomor satu di Karang Tirta, paling kaya, paling
kuat dan paling berkuasa! Engkau mencari mati kalau berani mengganggu
aku!"
Mendengar kesombongan ini, Resi
Bajrasakti menjadi semakin kagum dan dia mulai tertawa bergelak. Watak anak ini
cocok sekali dengan wataknya sendiri!
"Ha-ha-ha-ha! Kalau aku tidak
takut mati dan sekarang aku mengganggumu, engkau mau apa cah bagus?"
"Akan kupukuli engkau! Akan
kubunuh engkau!" teriak Linggajaya.
"Heh-heh, engkau berani?"
kakek itu mengejek.
Linggajaya semakin marah.
"Kenapa tidak berani? Apamu
yang kutakuti? Nah, mampuslah kau" anak itu lalu menerjang maju dan
memukul ke arah dada dan perut kakek itu.
Sambil tertawa kakek itu menangkis
dan begitu tangannya bertemu dengan kedua tangan Linggajaya, anak itu terlempar
dan terbanting tiga meter jauhnya! Akan tetapi Linggajaya menjadi semakin
marah. Dia bangkit berdiri dan lari menyerang lagi, mengerahkan seluruh
tenaganya. Kembali Resi Bajrasakti menyambutnya dengan tendangan sehingga tubuh
linggajaya terpental. Sambil tertawa-tawa kakek itu menghadapi serangan
Linggajaya yang tidak juga jera. Anak itu sudah babak belur dan benjol-benjol,
akan tetapi dia selalu bangkit lagi dengan nekat, seakan merasa yakin bahwa
ayah dan para jagabaya tentu akan datang dan membelanya seperti selalu terjadi
jika dia berkelahi. Memang Linggajaya termasuk anak yang bandel dan bengal,
suka berkelahi dan ditakuti semua pemuda di Karang Tirta.
No comments:
Post a Comment