Semua orang terheran mendengar ini
dan Nyi Lasmi menjadi semakin gelisah.
“Tidak, ia belum pulang sejak
diculik. Ah, anakku Puspa Dewi .....!” Lalu janda muda itu menjatuhkan diri
berlutut dan menyembah-nyembah Empu Dewamurti yang tidak dikenalnya. Mendengar
bahwa kakek itu bertanding melawan penculik anaknya, maka timbul harapan di
hatinya bahwa kakek itu akan dapat menyelamatkan puterinya.
“Aduh paman ..... saya mohon,
tolonglah anak saya Puspa Dewi .....!”
“Tadi Dewi melarikan diri bersama
Linggajaya, mungkin mereka lari ke rumah Bapak Lurah Suramenggala. Mari eyang,
kita mencari kesana!” kata Nurseta.
Empu Dewamurti mengangguk dan mereka
berdua segera keluar dari rumah itu dan mereka menuju ke rumah ki lurah. Akan
tetapi sekali ini semua orang termasuk Nyi Lasmi juga mengikuti mereka karena
Nyi Lasmi dan para tetangganya ingin sekali melihat apakah benar Puspa Dewi
selamat dan kini berada di rumah Ki Lurah Suramenggala!. Akan tetapi ketika
mereka tiba di sana, keluarga Ki Lurah Suramengggala juga sedang kebingungan
dan kesedihan. Banyak penduduk berkumpul di situ. Ketika Ki Lurah Suramenggala
mendengar bahwa Nurseta mengetahui tentang puteranya yang diculik wanita
cantik, dia segera melangkah ke luar menemui Nurseta.
Empu Dewamurti memandang penuh
perhatian. Ki Lurah Suramenggala adalah seorang laki-laki tinggi besar berwajah
bengis, berusia kurang lebih empat puluh lima tahun. Dibelakangnya berjalan
seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang berwajah cantik dan
matanya merah karena kebanyakan menangis.
“Nurseta, benarkah engkau melihat
Linggajaya? Di mana dia? Bagaimana keadaannya?” Tanya wanita yang menjadi
isteri ketiga dan ibu Linggajaya itu dengan suara serak.
“Nurseta, hayo ceritakan semuanya
dan jangan bohong engkau!” Ki Lurah Suramenggala membentak galak.
Nyi Lasmi, janda ibu Puspa Dewi juga
mendekat dan mendengarkan. Semua orang tidak ada yang bersuara, ingin
mendengarkan cerita Nurseta. Nurseta menelan ludah, tampak gugup, siapa
diantara para penduduk Karang Tirta yang tidak akan gugup menghadapi Ki Lurah
yang bengis galak itu? Apalagi Nurseta adalah seorang pemuda remaja yatim piatu
yang pekerjaannya hanya menjadi buruh tani. Karena tidak memiliki apa-apa,
tidak memiliki secuilpun tanah maka dia hanya membantu bertani di sawah ladang
mereka yang memiliki tanah dan menerima upah sekadarnya untuk dapat makan
setiap harinya.
“Malam tadi saya pergi ke pantai
pasir putih untuk menemui eyang ini ... “
“Siapa dia?” Ki Lurah Suramenggala
bertanya sambil memandang ke arah Empu Dewamurti, seolah seorang jaksa sedang
memeriksa seorang terdakwa.
“Eyang ini adalah Empu Dewamurti
yang sedang bertapa di dalam gua di bawah tebing dekat pantai pasir putih.”
Nurseta menjelaskan.
“Hemm, lanjutkan ceritamu!”
“Ketika saya tiba si pantai pasir
putih, saya melihat eyang empu sedang berhadapan dengan dua orang. Seorang
kakek tinggi besar yang memanggul tubuh Puspa Dewi dan seorang wanita cantik yang
memanggul tubuh Linggajaya.”
“Anakku Dewi ....!” Nyi Lasmi
menangis.
“Diam kau, Nyi Lasmi!” Ki Lurah
membentak.
“Hayo lanjutkan, Nurseta, akan
tetapi awas, jangan bohong kau!”
“Kemudian eyang minta agar mereka
melepaskan Puspa Dewi dan Linggajaya yang mereka tawan, akan tetapi mereka
menolak dan setelah menurunkan tubuh kedua orang anak itu, mereka lalu
bertanding melawan Eyang Dewamurti. Saya menggunakan kesempatan itu untuk
menggugah Puspa Dewi dan Linggajaya yang kelihatannya seperti tertidur, lalu menganjurkan
mereka untuk cepat melarikan diri dan pulang. Setelah eyang empu berhasil
mengalahkan dua orang penculik itu dan mereka melarikan diri dan kuceritakan
kepada eyang empu tentang Puspa Dewi dan Linggajaya, kami berdua datang ke sini
untuk melihat apakah kedua orang anak itu sudah pulang. Akan tetapi ternyata
belum …..”
“Nurseta, jangan bohong kau! Kalau
memang benar engkau membujuk kedua orang anak itu untuk lari dan pulang, kenapa
engkau sendiri tidak mengantar mereka? Lalu engkau Pergi kemana?” Hardik Ki
Lurah dengan suara galak dan matanya melotot menatap wajah Nurseta.
“Saya kembali berlindung di belakang
eyang empu seperti yang diperintahkannya.”
“Semua itu bohong! siapa percaya
omongan seorang yatim piatu terlantar seperti engkau? Ceritamu itu bohong!
Engkau tentu menjadi antek penculik anakku! Hayo katakan, berapa engkau dibayar
untuk membantunya?”
Nurseta memandang lurah itu dengan
mata terbelalak.
”Saya tidak membantu para penculik
iru. Saya malah mencoba untuk menolong Linggajaya dan Puspa Dewi!”
“Bohong! mana mungkin kakek kurus
kering ini mampu menandingi dua orang penculik itu? Baru penculik wanita itu
saja memiliki kesaktian luar biasa. Lima orang jagabaya ia robohkan seketika
dan ia memondong tubuh Linggajaya dan berlari seperti terbang. Engkau pasti
berbohong dan kakek ini tentu temanmu yang bersekongkol dengan penculik itu!”
“Tidak, sungguh saya tidak
membohongi siapa-siapa …!” kata Nurseta.
“Diam! Engkau pasti bersekongkol
dengan para penculik. Engkau dan kakek ini. Kalian akan kami tahan sampai
anakku kembali dengan selamat. Tangkap bocah dan kakek ini!” Ki lurah
Suramenggala dengan mata melotot menudingkan telunjuknya kepada Nurseta,
memerintah kepada para jagabaya (penjaga keamanan) untuk menangkap Nurseta dan
Empu Dewamurti.
Akan tetapi terjadi hal yang amat
aneh sehingga mengherankan semua orang yang berada di situ. Baik Ki Lurah
Suramenggala, lima orang jagabaya belasan orang anak buahnya dan siapa saja
yang berniat menangkap Nurseta dan Empu Dewamurti sama sekali tidak mampu
menggerakkan kaki tangannya. Bahkan Ki Lurah Suramenggala masih berdiri melotot
dan menudingkan telunjuknya ke arah Nurseta, tidak mampu bergerak lagi, seolah
berubah menjadi arca. Tentu saja dia merasa kaget dan heran sekali. Dia
berusaha meronta dan mengggerakkan tubuhnya namun tetap saja tidak berhasil,
bahkan bibirnya tak mampu bergerak untuk mengeluarkan suara! Mereka yang tidak
berniat buruk terhadap Empu Dewamurti dan Nurseta dapat bergerak seperti biasa
dan melihat betapa kakek itu berkata kepada Nurseta dengan suara tenang.
“Mari Nurseta, mari kita tinggalkan
lurah yang bodoh dan suka mengandalkan kedudukan bersikap sewenang-wenang ini”.
Lalu kakek itu melangkah pergi meninggalkan pekarangan rumah besar itu,diikuti
Nurseta.
Lama setelah dua orang itu pergi,
barulah KiLurah Suramenggala mampu bergerak kembali. Demikian pula mereka yang
tadi berniat menangkap Nurseta dan kakek itu. Begitu sapat bergerak, Ki Lurah
Suramenggala berseru,
“Tangkap bocah dan kakek itu!
Tangkap mereka!”
Seorang carik yang sudah tua segera
berkata,
“Ki Lurah, saya harap andika
menyadari bahwa kakek tadi bukan orang sembarangan. Tentu dia membuat kami
tidak mampu bergerak maupun bersuara. Kalau dia berniat jahat, mungkin
selamanya kami tidak dapat bergerak lagi.”
Mendengar ini, belasan orang yang
tadi berniat menangkap dan tidak mampu bergerak atau bersuara menjadi
ketakutan. Juga Ki Lurah menjadi takut membayangkan betapa dia tidak mampu
bergerak atau bersuara lagi dengan tubuh kaku seperti berubah menjadi arca
batu!
“Tapi..... tapi ..... bagaimana
dengan anakku si Linggajaya?” katanya dengan cemas.
“Ki lurah, kalau apa yang
diceritakan Nurseta tadi benar-benar terjadi, tentu kedua orang anak yang
diculik itu terjatuh kembali ke tangan penculiknya atau mungkin juga masih
berkeliaran karena takut, bersembunyi di sekitar pantai. Lebih baik kita
berpencar dan mencari.” Kata carik tua itu. Semua orang setuju dan
berhamburanlah mereka keluar dari dusun karang tirta untuk mencari kedua anak
yang hilang itu. Akan tetapi sampai keesokan harinya, usaha para penduduk
Karang Tirta itu tidak berhasil. Akhirnya, terpaksa mereka kembali ke dusun dan
dua keluarga yang kehilangan anak itu hanya dapat menangis.
Nurseta mengikuti Empu Dewamurti
meninggalkan daerah pantai laut kidul menuju utara. Mereka berjalan terus
melalui bukit-bukit kapur. Pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka berhenti
mengaso di puncak sebuah bukit kecil. Empu Dewamurti yang minta anak itu
berhenti mengaso, melihat Nurseta tampak kelelahan. Diam-diam dia mengagumi
pemuda remaja yang tahan uji itu, berjalan sepanjang malam tanpa henti dan sama
sekali tidak mengeluh walaupun kelelahan. Mereka duduk di atas batu. Nurseta
masih tetap memegang buntalan kain kuning berisi keris pusaka itu.
“Nurseta, berikan keris itu padaku.”
Kata Empu Dewamurti sambil menyodorkan tangannya.
Pemuda itu menyerahkannya dan Empu
Dewamurti membuka buntalan kain kuning. Tampak sinar kilat ketika sinar
matahari pagi menimpa keris itu. Empu Dewamurti memegang gagang keris,
mengangkat dan mengamatinya. Lalu dia mengangguk-angguk.
“Tidak salah lagi. Inilah Sang
Megatantra, buatan empu Bramakendali yang hidup ratusan tahun yang lalu di
jaman Medang Kamulan. Pusaka ini dikabarkan hilang tanpa bekas puluhan tahun
yang lalu setelah dijadikan rebutan para raja muda yang mengirim orang-orang
sakti. Sungguh luar biasa sekali bahwa akhirnya pusaka ini ditemukan olehmu,
Nurseta. Ini hanya berarti bahwa engkau berjodoh dengan pusaka ini, dan mulai
saat ini, Keris Pusaka Megatantra menjadi milikmu.”
Kakek itu mengembalikan keris.
Nurseta menerimanya dan membungkusnya kembali dengan kain kuning.
“Akan tetapi eyang, saya justeru
hendak menyerahkan keris ini kepada eyang.”
“Tidak, Nurseta. Engkau yang
menemukan. Hal itu sudah merupakan kehendak Sang Hyang Widhi dan engkau pula
yang berhak memilikinya.”
“Eyang, saya tidak tahu apakah yang
harus saya lakukan dengan keris ini. Bagi saya keris ini tidak ada gunanya.
Sebatang arit atau pacul jauh lebih berguna karena dengan alat-alat itu saya
dapat bekerja di sawah ladang. Akan tetapi sebatang keris? Untuk apa? Saya
tidak dapat mempergunakannya.”
Kakek itu tersenyum, mengelus
jenggotnya dan mengamati wajah pemuda itu, lalu mengangguk-angguk.
“Bagus!, kewajaran dan kejujuranmu
itu merupakan modal utama bagimu untuk melangkah sepanjang jalan kebenaran dan
mencegahmu agar tidak tersesat jalan. Jangan khawatir, Nurseta. Aku merasa
bertanggung jawab untuk mengajarkan ilmu kanuragan dan aji kesaktian agar
engkau dapat memanfaatkan kegunaan keris pusaka ini demi membela kebenaran dan
keadilan, juga agar engkau dapat berbakti kepada Nusa dan Bangsa.”
Mendengar ini, Nurseta tertegun.
Teringat dia bahwa kakek ini adalah seorang yang sakti mandraguna seperti Dewa
saja. Teringat ketika kakek ini bertanding melawan dua orang penculik yang sakti
itu dan ketika kakek ini membawanya “terbang” dalam berlari. Dia menjadi
muridnya?
“Maksud paduka ..... hendak
mengambil saya menjadi murid? Mengajari saya aji kesaktian, juga cara berlari
seperti terbang?”
Melihat kegembiraan membayang pada
wajah pemuda yang tegang itu Empu dewamurti tersenyum dan mengangguk-angguk.
Diam-diam dia merasa kagum. Bocah ini biarpun menjadi anak desa dan yatim
piatu, pekerjaannya hanya sebagai seorang buruh tani namun memiliki wajah yang
cerah, bersih, sepasang mata yang sinarnya tajam cerdik namun penuh kejujuran
dan kebaikan budinya tercermin pada pandang matanya. Wajah seorang pemuda
remaja yang mempunyai daya tarik amat kuat, walaupun tak dapat disebut tampan
sekali. Wajah biasa saja namun menyembunyikan sesuatu yang pasti menarik hati
orang untuk mengenalnya lebih dekat. Dia teringat betapa bocah ini mula-mula
lewat di depan guha dan melihatnya. Tak lama kemudian bocah ini membawa sesisir
pisang raja yang kuning masak dan memberikan pisang itu kepadanya!. Dan sejak hari
itu Nurseta sering datang membawa bermacam makanan seperti : buah-buahan,
jagung bakar, ketela bakar, bahkan kelapa muda untuk dihidangkan kepadanya.
Mereka seperti menjadi sahabat. Namun hanya sebatas begitu saja. Belum pernah
dia mendengar tentang keadaan pemuda itu. Dan tadi dia mendengar kemarahan Ki
Lurah yang mengatakan bahwa Nurseta adalah seorang anak yatim piatu.
Setelah teringat bahwa dia kini
menjadi murid kakek itu, Nurseta segera meletakkan buntalan keris di atas batu
dan dia sendiri lalu turun dari atas batu.
“Eyang guru .....!” katanya sambil
berlutut dan menyembah, sungkem dengan penuh hormat didepan kaki kakek itu.
“Bagus, Nurseta muridku. Sekarang
duduk dan bersila di atas batu itu agar lebih leluasa kita bicara.”
Biarpun Nurseta ingin menghormati
gurunya dengan duduk bersila di atas tanah, di sebelah bawah, namun mendengar
ucapan itu, dia menyembah lagi lalu kembali duduk bersila di atas batu.
“Nah, sekarang aku ingin mendengar
riwayatmu. Ceritakan keadaanmu sejak kecil dan tentang orang tuamu!. Aku harus
mengenal benar siapa sesungguhnya anak yang menjadi muridku.”
Nurseta menarik nafas panjang,
menenangkan hatinya lalu mulai bercerita tentang dirinya.
“Seingat saya, ayah bernama
Darmaguna dan ibu bernama Sawitri. Menurut ibu, mereka mulai tinggal di Karang
Tirta ketika saya berusia tiga tahun, akan tetapi ayah dan ibu tidak pernah
bercerita dari mana mereka berasal. Di Dusun ini ayah terkenal sebagai seorang
sastrawan. Banyak orang yang datang kepada ayah untuk mempelajari sastra, tembang
maupun untuk minta pengobatan karena ayah seorang ahli pengobatan. Sejak saya
berusia lima tahun, ayah mengajarkan sastra kepada saya.”
“Jagat Dewa Bhatara! Kalau begitu
engkau pandai membaca dan menulis” tanya Empu Dewamurti heran bukan main.
Pada masa itu, jangankan seorang
bocah desa, bahkan para remaja kota rajapun banyak yang tidak bisa baca tulis.
Nurseta mengangguk dan mukanya kemerahan. Dia merasa malu karena merasa tidak
pantas dikagumi orang seperti gurunya.
“Ketika saya berusia sepuluh tahun pada
suatu pagi sehabis bangun tidur, saya tidak menemukan ayah dan ibu di rumah.
Juga mereka tidak berada di ladang, tidak dapat saya temukan di luar rumah.
Mereka telah pergi ... mereka pergi meninggalkan saya tanpa pamit.” Nurseta
menekan perasaan yang tiba-tiba bersedih agar tidak terdengar dalam suaranya.
“Pergi begitu saja? Pergi kemana dan
kenapa?”
Nurseta menggeleng kepalanya.
No comments:
Post a Comment