Bagian 03



Semua orang terheran mendengar ini dan Nyi Lasmi menjadi semakin gelisah.
“Tidak, ia belum pulang sejak diculik. Ah, anakku Puspa Dewi .....!” Lalu janda muda itu menjatuhkan diri berlutut dan menyembah-nyembah Empu Dewamurti yang tidak dikenalnya. Mendengar bahwa kakek itu bertanding melawan penculik anaknya, maka timbul harapan di hatinya bahwa kakek itu akan dapat menyelamatkan puterinya.
“Aduh paman ..... saya mohon, tolonglah anak saya Puspa Dewi .....!”
“Tadi Dewi melarikan diri bersama Linggajaya, mungkin mereka lari ke rumah Bapak Lurah Suramenggala. Mari eyang, kita mencari kesana!” kata Nurseta.

Empu Dewamurti mengangguk dan mereka berdua segera keluar dari rumah itu dan mereka menuju ke rumah ki lurah. Akan tetapi sekali ini semua orang termasuk Nyi Lasmi juga mengikuti mereka karena Nyi Lasmi dan para tetangganya ingin sekali melihat apakah benar Puspa Dewi selamat dan kini berada di rumah Ki Lurah Suramenggala!. Akan tetapi ketika mereka tiba di sana, keluarga Ki Lurah Suramengggala juga sedang kebingungan dan kesedihan. Banyak penduduk berkumpul di situ. Ketika Ki Lurah Suramenggala mendengar bahwa Nurseta mengetahui tentang puteranya yang diculik wanita cantik, dia segera melangkah ke luar menemui Nurseta.

Empu Dewamurti memandang penuh perhatian. Ki Lurah Suramenggala adalah seorang laki-laki tinggi besar berwajah bengis, berusia kurang lebih empat puluh lima tahun. Dibelakangnya berjalan seorang wanita berusia sekitar tiga puluh lima tahun yang berwajah cantik dan matanya merah karena kebanyakan menangis.
“Nurseta, benarkah engkau melihat Linggajaya? Di mana dia? Bagaimana keadaannya?” Tanya wanita yang menjadi isteri ketiga dan ibu Linggajaya itu dengan suara serak.
“Nurseta, hayo ceritakan semuanya dan jangan bohong engkau!” Ki Lurah Suramenggala membentak galak.

Nyi Lasmi, janda ibu Puspa Dewi juga mendekat dan mendengarkan. Semua orang tidak ada yang bersuara, ingin mendengarkan cerita Nurseta. Nurseta menelan ludah, tampak gugup, siapa diantara para penduduk Karang Tirta yang tidak akan gugup menghadapi Ki Lurah yang bengis galak itu? Apalagi Nurseta adalah seorang pemuda remaja yatim piatu yang pekerjaannya hanya menjadi buruh tani. Karena tidak memiliki apa-apa, tidak memiliki secuilpun tanah maka dia hanya membantu bertani di sawah ladang mereka yang memiliki tanah dan menerima upah sekadarnya untuk dapat makan setiap harinya.
“Malam tadi saya pergi ke pantai pasir putih untuk menemui eyang ini ... “
“Siapa dia?” Ki Lurah Suramenggala bertanya sambil memandang ke arah Empu Dewamurti, seolah seorang jaksa sedang memeriksa seorang terdakwa.
“Eyang ini adalah Empu Dewamurti yang sedang bertapa di dalam gua di bawah tebing dekat pantai pasir putih.” Nurseta menjelaskan.
“Hemm, lanjutkan ceritamu!”
“Ketika saya tiba si pantai pasir putih, saya melihat eyang empu sedang berhadapan dengan dua orang. Seorang kakek tinggi besar yang memanggul tubuh Puspa Dewi dan seorang wanita cantik yang memanggul tubuh Linggajaya.”
“Anakku Dewi ....!” Nyi Lasmi menangis.
“Diam kau, Nyi Lasmi!” Ki Lurah membentak.
“Hayo lanjutkan, Nurseta, akan tetapi awas, jangan bohong kau!”
“Kemudian eyang minta agar mereka melepaskan Puspa Dewi dan Linggajaya yang mereka tawan, akan tetapi mereka menolak dan setelah menurunkan tubuh kedua orang anak itu, mereka lalu bertanding melawan Eyang Dewamurti. Saya menggunakan kesempatan itu untuk menggugah Puspa Dewi dan Linggajaya yang kelihatannya seperti tertidur, lalu menganjurkan mereka untuk cepat melarikan diri dan pulang. Setelah eyang empu berhasil mengalahkan dua orang penculik itu dan mereka melarikan diri dan kuceritakan kepada eyang empu tentang Puspa Dewi dan Linggajaya, kami berdua datang ke sini untuk melihat apakah kedua orang anak itu sudah pulang. Akan tetapi ternyata belum …..”
“Nurseta, jangan bohong kau! Kalau memang benar engkau membujuk kedua orang anak itu untuk lari dan pulang, kenapa engkau sendiri tidak mengantar mereka? Lalu engkau Pergi kemana?” Hardik Ki Lurah dengan suara galak dan matanya melotot menatap wajah Nurseta.
“Saya kembali berlindung di belakang eyang empu seperti yang diperintahkannya.”
“Semua itu bohong! siapa percaya omongan seorang yatim piatu terlantar seperti engkau? Ceritamu itu bohong! Engkau tentu menjadi antek penculik anakku! Hayo katakan, berapa engkau dibayar untuk membantunya?”

Nurseta memandang lurah itu dengan mata terbelalak.
”Saya tidak membantu para penculik iru. Saya malah mencoba untuk menolong Linggajaya dan Puspa Dewi!”
“Bohong! mana mungkin kakek kurus kering ini mampu menandingi dua orang penculik itu? Baru penculik wanita itu saja memiliki kesaktian luar biasa. Lima orang jagabaya ia robohkan seketika dan ia memondong tubuh Linggajaya dan berlari seperti terbang. Engkau pasti berbohong dan kakek ini tentu temanmu yang bersekongkol dengan penculik itu!”
“Tidak, sungguh saya tidak membohongi siapa-siapa …!” kata Nurseta.
“Diam! Engkau pasti bersekongkol dengan para penculik. Engkau dan kakek ini. Kalian akan kami tahan sampai anakku kembali dengan selamat. Tangkap bocah dan kakek ini!” Ki lurah Suramenggala dengan mata melotot menudingkan telunjuknya kepada Nurseta, memerintah kepada para jagabaya (penjaga keamanan) untuk menangkap Nurseta dan Empu Dewamurti.

Akan tetapi terjadi hal yang amat aneh sehingga mengherankan semua orang yang berada di situ. Baik Ki Lurah Suramenggala, lima orang jagabaya belasan orang anak buahnya dan siapa saja yang berniat menangkap Nurseta dan Empu Dewamurti sama sekali tidak mampu menggerakkan kaki tangannya. Bahkan Ki Lurah Suramenggala masih berdiri melotot dan menudingkan telunjuknya ke arah Nurseta, tidak mampu bergerak lagi, seolah berubah menjadi arca. Tentu saja dia merasa kaget dan heran sekali. Dia berusaha meronta dan mengggerakkan tubuhnya namun tetap saja tidak berhasil, bahkan bibirnya tak mampu bergerak untuk mengeluarkan suara! Mereka yang tidak berniat buruk terhadap Empu Dewamurti dan Nurseta dapat bergerak seperti biasa dan melihat betapa kakek itu berkata kepada Nurseta dengan suara tenang.
“Mari Nurseta, mari kita tinggalkan lurah yang bodoh dan suka mengandalkan kedudukan bersikap sewenang-wenang ini”. Lalu kakek itu melangkah pergi meninggalkan pekarangan rumah besar itu,diikuti Nurseta.

Lama setelah dua orang itu pergi, barulah KiLurah Suramenggala mampu bergerak kembali. Demikian pula mereka yang tadi berniat menangkap Nurseta dan kakek itu. Begitu sapat bergerak, Ki Lurah Suramenggala berseru,
“Tangkap bocah dan kakek itu! Tangkap mereka!”
Seorang carik yang sudah tua segera berkata,
“Ki Lurah, saya harap andika menyadari bahwa kakek tadi bukan orang sembarangan. Tentu dia membuat kami tidak mampu bergerak maupun bersuara. Kalau dia berniat jahat, mungkin selamanya kami tidak dapat bergerak lagi.”
Mendengar ini, belasan orang yang tadi berniat menangkap dan tidak mampu bergerak atau bersuara menjadi ketakutan. Juga Ki Lurah menjadi takut membayangkan betapa dia tidak mampu bergerak atau bersuara lagi dengan tubuh kaku seperti berubah menjadi arca batu!
“Tapi..... tapi ..... bagaimana dengan anakku si Linggajaya?” katanya dengan cemas.
“Ki lurah, kalau apa yang diceritakan Nurseta tadi benar-benar terjadi, tentu kedua orang anak yang diculik itu terjatuh kembali ke tangan penculiknya atau mungkin juga masih berkeliaran karena takut, bersembunyi di sekitar pantai. Lebih baik kita berpencar dan mencari.” Kata carik tua itu. Semua orang setuju dan berhamburanlah mereka keluar dari dusun karang tirta untuk mencari kedua anak yang hilang itu. Akan tetapi sampai keesokan harinya, usaha para penduduk Karang Tirta itu tidak berhasil. Akhirnya, terpaksa mereka kembali ke dusun dan dua keluarga yang kehilangan anak itu hanya dapat menangis.

Nurseta mengikuti Empu Dewamurti meninggalkan daerah pantai laut kidul menuju utara. Mereka berjalan terus melalui bukit-bukit kapur. Pada keesokan harinya, pagi-pagi mereka berhenti mengaso di puncak sebuah bukit kecil. Empu Dewamurti yang minta anak itu berhenti mengaso, melihat Nurseta tampak kelelahan. Diam-diam dia mengagumi pemuda remaja yang tahan uji itu, berjalan sepanjang malam tanpa henti dan sama sekali tidak mengeluh walaupun kelelahan. Mereka duduk di atas batu. Nurseta masih tetap memegang buntalan kain kuning berisi keris pusaka itu.
“Nurseta, berikan keris itu padaku.” Kata Empu Dewamurti sambil menyodorkan tangannya.
Pemuda itu menyerahkannya dan Empu Dewamurti membuka buntalan kain kuning. Tampak sinar kilat ketika sinar matahari pagi menimpa keris itu. Empu Dewamurti memegang gagang keris, mengangkat dan mengamatinya. Lalu dia mengangguk-angguk.
“Tidak salah lagi. Inilah Sang Megatantra, buatan empu Bramakendali yang hidup ratusan tahun yang lalu di jaman Medang Kamulan. Pusaka ini dikabarkan hilang tanpa bekas puluhan tahun yang lalu setelah dijadikan rebutan para raja muda yang mengirim orang-orang sakti. Sungguh luar biasa sekali bahwa akhirnya pusaka ini ditemukan olehmu, Nurseta. Ini hanya berarti bahwa engkau berjodoh dengan pusaka ini, dan mulai saat ini, Keris Pusaka Megatantra menjadi milikmu.”

Kakek itu mengembalikan keris. Nurseta menerimanya dan membungkusnya kembali dengan kain kuning.
“Akan tetapi eyang, saya justeru hendak menyerahkan keris ini kepada eyang.”
“Tidak, Nurseta. Engkau yang menemukan. Hal itu sudah merupakan kehendak Sang Hyang Widhi dan engkau pula yang berhak memilikinya.”
“Eyang, saya tidak tahu apakah yang harus saya lakukan dengan keris ini. Bagi saya keris ini tidak ada gunanya. Sebatang arit atau pacul jauh lebih berguna karena dengan alat-alat itu saya dapat bekerja di sawah ladang. Akan tetapi sebatang keris? Untuk apa? Saya tidak dapat mempergunakannya.”

Kakek itu tersenyum, mengelus jenggotnya dan mengamati wajah pemuda itu, lalu mengangguk-angguk.
“Bagus!, kewajaran dan kejujuranmu itu merupakan modal utama bagimu untuk melangkah sepanjang jalan kebenaran dan mencegahmu agar tidak tersesat jalan. Jangan khawatir, Nurseta. Aku merasa bertanggung jawab untuk mengajarkan ilmu kanuragan dan aji kesaktian agar engkau dapat memanfaatkan kegunaan keris pusaka ini demi membela kebenaran dan keadilan, juga agar engkau dapat berbakti kepada Nusa dan Bangsa.”
Mendengar ini, Nurseta tertegun. Teringat dia bahwa kakek ini adalah seorang yang sakti mandraguna seperti Dewa saja. Teringat ketika kakek ini bertanding melawan dua orang penculik yang sakti itu dan ketika kakek ini membawanya “terbang” dalam berlari. Dia menjadi muridnya?
“Maksud paduka ..... hendak mengambil saya menjadi murid? Mengajari saya aji kesaktian, juga cara berlari seperti terbang?”

Melihat kegembiraan membayang pada wajah pemuda yang tegang itu Empu dewamurti tersenyum dan mengangguk-angguk. Diam-diam dia merasa kagum. Bocah ini biarpun menjadi anak desa dan yatim piatu, pekerjaannya hanya sebagai seorang buruh tani namun memiliki wajah yang cerah, bersih, sepasang mata yang sinarnya tajam cerdik namun penuh kejujuran dan kebaikan budinya tercermin pada pandang matanya. Wajah seorang pemuda remaja yang mempunyai daya tarik amat kuat, walaupun tak dapat disebut tampan sekali. Wajah biasa saja namun menyembunyikan sesuatu yang pasti menarik hati orang untuk mengenalnya lebih dekat. Dia teringat betapa bocah ini mula-mula lewat di depan guha dan melihatnya. Tak lama kemudian bocah ini membawa sesisir pisang raja yang kuning masak dan memberikan pisang itu kepadanya!. Dan sejak hari itu Nurseta sering datang membawa bermacam makanan seperti : buah-buahan, jagung bakar, ketela bakar, bahkan kelapa muda untuk dihidangkan kepadanya. Mereka seperti menjadi sahabat. Namun hanya sebatas begitu saja. Belum pernah dia mendengar tentang keadaan pemuda itu. Dan tadi dia mendengar kemarahan Ki Lurah yang mengatakan bahwa Nurseta adalah seorang anak yatim piatu.

Setelah teringat bahwa dia kini menjadi murid kakek itu, Nurseta segera meletakkan buntalan keris di atas batu dan dia sendiri lalu turun dari atas batu.
“Eyang guru .....!” katanya sambil berlutut dan menyembah, sungkem dengan penuh hormat didepan kaki kakek itu.
“Bagus, Nurseta muridku. Sekarang duduk dan bersila di atas batu itu agar lebih leluasa kita bicara.”
Biarpun Nurseta ingin menghormati gurunya dengan duduk bersila di atas tanah, di sebelah bawah, namun mendengar ucapan itu, dia menyembah lagi lalu kembali duduk bersila di atas batu.
“Nah, sekarang aku ingin mendengar riwayatmu. Ceritakan keadaanmu sejak kecil dan tentang orang tuamu!. Aku harus mengenal benar siapa sesungguhnya anak yang menjadi muridku.”

Nurseta menarik nafas panjang, menenangkan hatinya lalu mulai bercerita tentang dirinya.
“Seingat saya, ayah bernama Darmaguna dan ibu bernama Sawitri. Menurut ibu, mereka mulai tinggal di Karang Tirta ketika saya berusia tiga tahun, akan tetapi ayah dan ibu tidak pernah bercerita dari mana mereka berasal. Di Dusun ini ayah terkenal sebagai seorang sastrawan. Banyak orang yang datang kepada ayah untuk mempelajari sastra, tembang maupun untuk minta pengobatan karena ayah seorang ahli pengobatan. Sejak saya berusia lima tahun, ayah mengajarkan sastra kepada saya.”
“Jagat Dewa Bhatara! Kalau begitu engkau pandai membaca dan menulis” tanya Empu Dewamurti heran bukan main.

Pada masa itu, jangankan seorang bocah desa, bahkan para remaja kota rajapun banyak yang tidak bisa baca tulis. Nurseta mengangguk dan mukanya kemerahan. Dia merasa malu karena merasa tidak pantas dikagumi orang seperti gurunya.
“Ketika saya berusia sepuluh tahun pada suatu pagi sehabis bangun tidur, saya tidak menemukan ayah dan ibu di rumah. Juga mereka tidak berada di ladang, tidak dapat saya temukan di luar rumah. Mereka telah pergi ... mereka pergi meninggalkan saya tanpa pamit.” Nurseta menekan perasaan yang tiba-tiba bersedih agar tidak terdengar dalam suaranya.
“Pergi begitu saja? Pergi kemana dan kenapa?”
Nurseta menggeleng kepalanya.

<<<Bagian 02                                                                                        Bagian 04 >>>

No comments:

Post a Comment