Kebetulan sekali mereka menculik dua orang muda remaja dari dusun Karang Tirta pula dan ketika mereka membawa korban calon mangsa mereka ke pantai pasir putih untuk bersenang-senang melampiaskan nafsu disana, Empu Dewamurti memergoki mereka. Kebetulan pula Nurseta, pemuda petani dari Dusun Karang Tirta pula, datang untuk menyerahkan penemuannya kepada Empu Dewamurti yang dikenalnya sehingga kini yang menjadi persoalan bukan hanya orang-orang muda yang diculik, melainkan perebutan Keris Megatantra. Nyi Dewi Durgakumala sengaja diam saja dan membiarkan Resi Bajrasakti untuk lebih dulu bertanding melawan Empu Dewamurti agar ia memperoleh kesempatan yang dapat menguntungkannya.
Resi Bajrasakti juga ingin
secepatnya merobohkan Empu Dewamurti yang merupakan penghalang pertama. Setelah
empu ini roboh, baru dia akan menghadapi Nyi Dewi Durgakumala yang mungkin akan
diajaknya berdamai demi keuntungan mereka berdua. Hal ini akan dipikirkan nanti
saja setelah dia berhasil mengalahkan Empu Dewamurti. Kini dia berkemak-kemik
membaca mantera, mengerahkan tenaga sihirnya, kemudian cepat dia membungkuk dan
mengambil segenggam pasir lalu melontarkannya ke atas sambil berseru lantang,
“Bramara Sewu (Seribu Lebah)!!”
Pasir yang dilontarkan itu tiba-tiba
menjadi asap dan asap itu berubah pula menjadi lebah banyak sekali. Lebah-lebah
itu beterbangan menyerbu Empu Dewamurti sambil mengeluarkan bunyi mendengung.
Akan tetapi Empu Dewamurti tadi meniru perbuatan lawan mengambil segenggam
pasir putih dan melihat banyak lebah yang menyerangnya, dia lalu menyabitkan
segenggam pasir putih itu sambil membentak,
“Asal pasir kembali menjadi pasir!!”
“Wuuuttt ..... blar .....!!”
Ketika rombongan lebah itu dihantam
pasir yang disambitkan Empu Dewamurti, terdengar ledakan, asap mengepul dan
pasir berhamburan ke bawah. Lebah-lebah itupun lenyap.
“Jahanam!” Resi Bajrasakti berteriak
memaki, lalu dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Empu Dewamurti
maklum bahwa lawan akan menyerangnya dengan ilmu lain. Dia sudah tahu bahwa
Resi Bajrasakti terkenal sakti mandraguna, ahli sihir dan memiliki banyak aji
yang berbahaya. Ketika Datuk dari Wengker itu merasa betapa tenaga saktinya telah
terpusat di kedua tangannya, dia lalu melakukan pukulan mendorong ke arah Empu
Dewamurti sambil membentak nyaring,
“Aji Sihung Naga .....!!!” pukalan
sakti ini dahsyat bukan main. Terdengar suara bercuitan dan getaran amat kuat
menerjang ke arah Empu Dewamurti. Kakek ini sudah siap. Kedua tangannya
merangkap menjadi sembah sujud di atas dahinya, kemudian kedua tangan itu dari
situ dikembangkan dan dengan telapak tangan terbuka menyambut dorongan lawan.
“Syuuuuttt ..... desss ...!!”
Tubuh Empu Dewamurt i
bergoyang-goyang, akan tetapi Resi Bajrasakti terdorong ke belakang sampai
terhuyung dan hampir roboh. Resi Bajrasakti menjadi semakin marah dan
penasaran. Dia segera melompat ke depan dan mencabut cemeti (cambuk) yang
tergulung dan terselip di pinggangnya. Inilah Pecut Tatit Geni (Halilintar Api)
yang sudah amat terkenal dan ditakuti lawan karena Resi Bajrasakti sudah marah
sekali dan bahwa dia menganggap lawannya terlalu tangguh sehingga terpaksa dia
menggunakan senjata pamungkas itu.
“Tar-tar-tarrr .....!” Begitu cambuk
itu digerakkan, ujungnya yang panjang meluncur ke atas dan mengeluarkan bunyi
ledakan-ledakan nyaring dan mengeluarkan asap dari bunga api yang berpijar di
ujung cambuk. Hebat bukan main cambuk ini!
Empu Dewamurti memutar tubuh menghadap
tebing dimana terdapat guha yang untuk sementara waktu menjadi tempat
tinggalnya. Dia lalu bertepuk tangan tiga kali dan tampak sinar meluncur dari
dalam guha ke arah tangannya dan ketika Empu Dewamurti menggunakan tangan
kanannya menangkap, ternyata sebatang tongkat Pring Gading (Bambu Kuning) telah
berada di tangannya! Ini merupakan satu diantara kesaktian sang Empu, yaitu
menguasai senjatanya yang hanya sebatang tongkat bambu kuning namun ampuhnya
mengiriskan dia mampu “memanggil” dari jauh.
“Resi Bajrasakti, sekali lagi aku
peringatkan andika. Bebaskan gadis remaja itu dan pulanglah ke tempat asalmu.
Aku tidak ingin bermusuhan secara pribadi denganmu!”.
Melihat cara Empu Dewamutri
menguasai senjatanya tadi, hati Resi Bajrasakti menjadi gentar juga, akan
tetapi dasar orang yang terbiasa diagungkan dan disanjung sehingga dia merasa
diri sendiri paling hebat, mana dia mau mengalah begitu saja!. Dia lalu
mengerahkan kekuatan sihirnya dan seketika tempat itu diselimuti semacam
halimun yang membuat malam terang bulan purnama menjadi berkabut. Diapun
menerjang setelah aji panglimunan berhasil baik.
“Tar-tar-tarrr .....!” Pecut Tatit
Geni meledak-ledak, mengeluarkan pijaran api dan menyambar-nyambar ke arah
kepala Empu Dewamurti. Namun dengan tenang sang Empu menangkis dengan tongkat
bambu kuningnya dan kedua orang sakti itu segera bertanding dengan serunya. Nyi
Dewi Durgakumala juga menonton dengan penuh perhatian. Harus dia akui bahwa
empu itu memang sakti mandraguna dan ia merasa sangsi apakah ia akan mampu
mengalahkan Empu Dewamurti.
Karena tidak ada yang memperhatikan,
dan menggunakan selagi cuaca diliputi kabut, diam-diam Nurseta menghampiri
gadis remaja yang berada paling dekat dengan dirinya. Dia tentu saja mengenal
anak perempuan itu yang memang tinggal sedusun dengannya, yaitu di Dusun Karang
Tirta. Sambil memegangi Keris Pusaka Megatantra dengan tangan kanan, Nurseta
mengguncang pundak anak perempuan itu yang bernama Puspa Dewi.
“Dewi ....., Dewi ....., bangunlah
.....!” katanya sambil mengguncang pundak anak perempuan itu. Puspa Dewi
membuka mata dan seolah baru terbangun dari tidurnya. Padahal ia tadi dalam
keadaan tak berdaya oleh pengaruh sihir. Di luar pengetahuan dua orang anak itu
Puspa Dewi dapat terbebas dari pengaruh sihir karena keampuhan Keris Pusaka
Megatantra yang dibawa Nurseta!.
“Apa ..... apa yang terjadi? Ah,
engkau Kakang Nurseta .....! Apa yang terjadi? Tadi ..... kakek yang jahat itu
.....”
“Stttt, lihat dia sedang bertanding
melawan Eyang Empu Dewamurti. Diam saja di sini, aku hendak melihat pemuda di
sana itu.”
Nurseta meninggalkan Puspa Dewi dan
berlari dalam kabut dan menghampiri pemuda remaja yang dipanggul Nyi Dewi
Durgakumala. Setelah dekat dia berjongkok dan kini tahulah dia bahwa pemuda
remaja itu adalah Linggajaya, putera kepala dusun Karang Tirta yang terkenal
sombong karena merasa dia putera kepala dusun Karang Tirta yang berkuasa, kaya
raya dan juga memiliki wajah tampan. Sebetulnya Nurseta tidak begitu suka
kepada pemuda sombong ini, bahkan dia seringkali sebagai seorang pemuda yatim
piatu mendapat ejekan dan olok-olok dari Linggajaya. Akan tetapi kini melihat
keadaan pemuda itu, dia merasa iba dan seperti tadi ketika menggugah Puspa
Dewi, kini diapun mengguncang pundak Linggajaya dengan tangan kirinya.
“Jaya ....., Linggajaya .....
bangunlah .....!” Kembali keampuhan keris pusaka Megatantra bekerja dan
seketika pemuda putera lurah itu terbebas dari pengaruh sihir Nyi Dewi
Durgakumala atas dirinya. Dia terbangun menggosok-gosok kedua mata dengan
tangan karena keremangan kabut membuat penglihatannya tidak begitu terang.
Akhirnya dia melihat wajah Nurseta dan dia bangkit duduk.
“Eh, engkau ini Nurseta? Mau apa
engkau di sini? Ah ya, apa yang terjadi? Dimana wanita cantik yang membawa lari
aku tadi?”
“Ssttt ….. jangan berisik Jaya.
Mereka sedang bertempur. Sebaiknya mari cepat ajak Puspa Dewi lari dari sini.”
Bisik Nurseta. Linggajaya bangkit berdiri.
“Puspa Dewi? Di mana dia? Mengapa
pula ia ada di sini?”
“Iapun diculik orang. Mari kita ajak
ia lari.” kata Nurseta dan mereka pergi menghampiri Puspa Dewi.
Puspa Dewi adalah Gadis remaja yang
amat cantik dan hampir semua pemuda remaja di Karang Tirta gandrung kepadanya,
termasuk Linggajaya. Setelah bertemu dengan Puspa Dewi, Linggajaya lalu
memegang tangan anak perempuan itu dan ditariknya, diajak lari dari tempat itu.
“Puspa Dewi, hayo cepat kita lari
pulang!” katanya sambil menarik tangan anak perempuan itu. Karena ketakutan
terhadap kakek yang menculiknya tadi, Puspa Dewi menurut saja dan keduanya lari
meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan Nurseta lagi. Pemuda ini hanya
berdiri memandang. Dia tidak perlu berlari, bahkan dia harus berlindung kepada
Empu Dewamurti yang sedang bertanding melawan kakek tinggi besar itu. Akan
tetapi sekarang dia melihat Empu Dewamurti bahkan dikeroyok olek dua orang
penculik itu. Teringat akan pesan Empu Dewamurti, Nurseta lalu menyelinap dan
duduk lagi di dekat batu karang. Kini dengan penuh perhatian dia menonton
pertarungan itu.
Anehnya, kabut yang tadi menyelimuti
temmpat itu sudah menipis dan cahaya bulan purnama tampak berseri lagi. Tadi
pertandingan antara Resi Bajrasakti dan Empu Dewamurti berlangsung tak
seimbang. Betapapun saktinya Resi Bajrasakti namun ternyata tingkatannya masih
berada dibawah tingkat Empu Dewamurti yang memiliki aji-aji yang kuat sekali
karena semua ajinya selalu dipergunakan untuk membela kebenaran. Juga hidupnya
selalu penuh dengan keprihatinan, berserah diri dan selalu dekat dengan Sang
Hyang Widhi, tidak seperti Resi Bajrasakti yang selalu melakukan kejahatan
terdorong oleh nafsu-nafsunya sendiri yang memperbudaknya. Beberapa kali
cambuknya terpental membentur tongkat bambu kuning, bahkan sempat terdorong dan
terhuyung sehingga dalam waktu singkat saja dia hampir kehabisan tenaga.
Melihat ini, timbul kekhawatiran dalam hati Nyi Dewi Durgakumala. Tingkat
kepandaiannya sendiri seimbang dengan tingkat yang dikuasai Resi Bajrasakti.
Berarti dia sendiri juga tidak akan mampu menandingi ketangguhan Empu
Dewamurti. Lebih baik kalau Empu Dewamurti disingkirkan terlebih dahulu,
pikirnya. Ia lalu mencabut Candrasa Langking (Pedang Hitam) yang merupakan
senjata pusakanya dan melompat ke depan mengeroyok sang empu.Pedangnya menjadi
gulungan sinar hitam yang menerjang kearah Empu Dewamurti.
Setelah dikeroyok dua, Empu Dewamurti
merasa kewalahan juga. Bertanding satu lawan satu, dia pasti dapat mengalahkan
mereka, akan tetapi menghadapi pengeroyokan dua orang digjaya itu, dia harus
mengeluarkan aji kesaktian yang lebih tinggi. Tiba-tiba Empu Dewamurti memutar
tongkat bambu kuning dengan tangan kanannya. Tongkat itu membentuk gulungan
sinar kuning yang melingkar-lingkar, bagai sebuah perisai yang kokoh kuat
melindungi dirinya. Kemudian ia mengerahkan tenaga saktinya ke tangan kiri dan
dua kali mendorongkan telapak tangan kirinya itu ke arah sua orang
pengeroyoknya.
“Hyaaahhh ..... yaaaahhh ...!!”
Angin dahsyat menggempur datuk Wengker dan datuk Wurawari itu. Biarpun mereka
berdua mencoba bertahan, namun tetap saja mereka terdorong ke belakang dan
terhuyung sampai jatuh! Mereka terkejut bukan main dan maklum bahwa lawannya
benar-benar sakti mandraguna dan kalau lawannya mempergunakan tangan kejam
mungkin mereka berdua takkan mampu bertahan. Apalagi melihat Nurseta yang
menemukan keris pusaka Megatantra berlindung di belakang sang empu. Mereka
menjadi putus harapan dan melihat betapa dua orang anak remaja yang mereka
culik tadi lenyap, mereka semakin marah dan penasaran lalu mereka melakukan
pengejaran, meninggalkan Empu Dewamurti yang berdiri sambil mengatur pernafasan
untuk memulihkan tenaganya yang tadi banyak dihamburkan untuk melawan dua orang
tangguh itu.
“Hei, ke mana dua orang bocah yang
mereka culik tadi?” Empu Dewamurti baru melihat bahwa dua orang anak itu sudah
tidak ada dan dia melihat betul bahwa dua orang datuk tadi melarikan diri tanpa
membawa dua orang bocah yang tadi diculiknya.
“Maaf, eyang. Tadi saya menggugah
dan menyuruh mereka melarikan diri karena saya merasa kasihan dan khawatir akan
keselamatan mereka.”
“Engkau? Menggugah meraka?” Empu
Dewamurti merasa heran. Dia dapat menduga bahwa dua orang bocah remaja tadi
tentu tidak mampu bergerak atau berteriak karena pengaruh sihir! Bagaimana
mungkin anak ini dapat menyadarkan mereka? Akan tetapi dia tiba-tiba teringat
akan keris pusaka Megatantra yang berada dalam buntalan kain kuning yang dibawa
nurseta dan dia mengangguk-angguk. Mengertilah empu ini bahwa tentu daya
kekuatan keris ampuh itu yang memunahkan pengarus sihir atas diri dua orang
bocah remaja itu.
“Kenalkah engkau kepada dua orang
anak itu?”
Nurseta mengangguk,
“Saya mengenal mereka, eyang. Mereka
asalah Puspa Dewi dan Linggajaya dari dusun Karang Tirta. Kami sedusun eyang.”
“Dari dusun Karang Tirta? Ah
jangan-jangan dua orang sesat itu melakukan pengejaran ke sana. Hayo nurseta,
kita menyusul mereka ke Karang Tirta! Pegang erat-erat tanganku!.”
Nurseta menurut. Tangan kirinya
masih mendekap buntalan kuning dan tangan kanannya memegang tangan kiri kakek
itu erat-erat. Tiba-tiba Nurseta merasa betapa tubuhnya meluncur seperti
terbang dengan cepatnya! Kedua kaki agak terangkat sehingga tidak menginjak
tanah lagi. Kiranya kakek itu mengangkat tangannya keatas sehingga tubuhnya
agak terangkat dan kakek itu membawanya lari secepat terbang! Nurseta
terbelalak, kagum dan heran. Sudah kurang lebih sebulan dia mengenal Empu
Dewamurti, yaitu ketika secara kebetulan dia melewaati guha itu. Dia merasa
kasihan kepada kakek yang bertapa itu dan melihat tubuh yang tinggi kurus itu,
Nurseta mencari buah-buahan dan menghidangkan kepada Empu Dewamurti. Mereka
berkenalan dan sang empu juga kagum melihat pemuda yang budiman itu.
Mereka tiba di dusun Karang Tirta
dan Nurseta mengajak sang empu lebih dulu mengunjungi rumah Nyi Lasmi, seorang
janda berusia tiga puluh satu tahun yang hanya hidup berdua dengan anaknya
yaitu Puspa Dewi. Alangkah terkejut dan herannya hati Nurseta ketika dia dan
sang empu mendapatkan janda muda itu menangis terisak-isak, dirubung beberapa
orang wanita yang menjadi tetangganya. Ketika Nurseta dan Empu Dewamurti
datang, semua orang menatapnya dengan heran. Akan tetapi Nurseta tidak
mengacuhkan mereka, langsung dia menghampiri Nyi Randa (Janda) Lasmi dan
bertanya.
“Bibi Lasmi, apakah Puspa Dewi sudah
pulang?” Mendengar pertanyaan ini Nyi Lasmi menyusut air matanya yang sudah
hampir habis dan ia memandang Nurseta dengan mata merah.
“Bagaimana engkau ini, Nurseta?
Semua orang geger meributkan anakku yang diculik penjahat, engkau malah
bertanya apakah dia sudah pulang!”
“Saya sudah tahu, Bibi Lasmi. Malah
tadi saya yang menggugah dan menyuruhnya cepat melarikan diri ketika
penculiknya sedang bertanding dengan eyang empu ini. Apakah ia belum tiba di
sini?”
No comments:
Post a Comment