Bagian 02


Kebetulan sekali mereka menculik dua orang muda remaja dari dusun Karang Tirta pula dan ketika mereka membawa korban calon mangsa mereka ke pantai pasir putih untuk bersenang-senang melampiaskan nafsu disana, Empu Dewamurti memergoki mereka. Kebetulan pula Nurseta, pemuda petani dari Dusun Karang Tirta pula, datang untuk menyerahkan penemuannya kepada Empu Dewamurti yang dikenalnya sehingga kini yang menjadi persoalan bukan hanya orang-orang muda yang diculik, melainkan perebutan Keris Megatantra. Nyi Dewi Durgakumala sengaja diam saja dan membiarkan Resi Bajrasakti untuk lebih dulu bertanding melawan Empu Dewamurti agar ia memperoleh kesempatan yang dapat menguntungkannya.

Resi Bajrasakti juga ingin secepatnya merobohkan Empu Dewamurti yang merupakan penghalang pertama. Setelah empu ini roboh, baru dia akan menghadapi Nyi Dewi Durgakumala yang mungkin akan diajaknya berdamai demi keuntungan mereka berdua. Hal ini akan dipikirkan nanti saja setelah dia berhasil mengalahkan Empu Dewamurti. Kini dia berkemak-kemik membaca mantera, mengerahkan tenaga sihirnya, kemudian cepat dia membungkuk dan mengambil segenggam pasir lalu melontarkannya ke atas sambil berseru lantang,
“Bramara Sewu (Seribu Lebah)!!”

Pasir yang dilontarkan itu tiba-tiba menjadi asap dan asap itu berubah pula menjadi lebah banyak sekali. Lebah-lebah itu beterbangan menyerbu Empu Dewamurti sambil mengeluarkan bunyi mendengung. Akan tetapi Empu Dewamurti tadi meniru perbuatan lawan mengambil segenggam pasir putih dan melihat banyak lebah yang menyerangnya, dia lalu menyabitkan segenggam pasir putih itu sambil membentak,
“Asal pasir kembali menjadi pasir!!”
“Wuuuttt ..... blar .....!!”
Ketika rombongan lebah itu dihantam pasir yang disambitkan Empu Dewamurti, terdengar ledakan, asap mengepul dan pasir berhamburan ke bawah. Lebah-lebah itupun lenyap.

“Jahanam!” Resi Bajrasakti berteriak memaki, lalu dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya. Empu Dewamurti maklum bahwa lawan akan menyerangnya dengan ilmu lain. Dia sudah tahu bahwa Resi Bajrasakti terkenal sakti mandraguna, ahli sihir dan memiliki banyak aji yang berbahaya. Ketika Datuk dari Wengker itu merasa betapa tenaga saktinya telah terpusat di kedua tangannya, dia lalu melakukan pukulan mendorong ke arah Empu Dewamurti sambil membentak nyaring,
“Aji Sihung Naga .....!!!” pukalan sakti ini dahsyat bukan main. Terdengar suara bercuitan dan getaran amat kuat menerjang ke arah Empu Dewamurti. Kakek ini sudah siap. Kedua tangannya merangkap menjadi sembah sujud di atas dahinya, kemudian kedua tangan itu dari situ dikembangkan dan dengan telapak tangan terbuka menyambut dorongan lawan.
“Syuuuuttt ..... desss ...!!”

Tubuh Empu Dewamurt i bergoyang-goyang, akan tetapi Resi Bajrasakti terdorong ke belakang sampai terhuyung dan hampir roboh. Resi Bajrasakti menjadi semakin marah dan penasaran. Dia segera melompat ke depan dan mencabut cemeti (cambuk) yang tergulung dan terselip di pinggangnya. Inilah Pecut Tatit Geni (Halilintar Api) yang sudah amat terkenal dan ditakuti lawan karena Resi Bajrasakti sudah marah sekali dan bahwa dia menganggap lawannya terlalu tangguh sehingga terpaksa dia menggunakan senjata pamungkas itu.
“Tar-tar-tarrr .....!” Begitu cambuk itu digerakkan, ujungnya yang panjang meluncur ke atas dan mengeluarkan bunyi ledakan-ledakan nyaring dan mengeluarkan asap dari bunga api yang berpijar di ujung cambuk. Hebat bukan main cambuk ini!

Empu Dewamurti memutar tubuh menghadap tebing dimana terdapat guha yang untuk sementara waktu menjadi tempat tinggalnya. Dia lalu bertepuk tangan tiga kali dan tampak sinar meluncur dari dalam guha ke arah tangannya dan ketika Empu Dewamurti menggunakan tangan kanannya menangkap, ternyata sebatang tongkat Pring Gading (Bambu Kuning) telah berada di tangannya! Ini merupakan satu diantara kesaktian sang Empu, yaitu menguasai senjatanya yang hanya sebatang tongkat bambu kuning namun ampuhnya mengiriskan dia mampu “memanggil” dari jauh.
“Resi Bajrasakti, sekali lagi aku peringatkan andika. Bebaskan gadis remaja itu dan pulanglah ke tempat asalmu. Aku tidak ingin bermusuhan secara pribadi denganmu!”.

Melihat cara Empu Dewamutri menguasai senjatanya tadi, hati Resi Bajrasakti menjadi gentar juga, akan tetapi dasar orang yang terbiasa diagungkan dan disanjung sehingga dia merasa diri sendiri paling hebat, mana dia mau mengalah begitu saja!. Dia lalu mengerahkan kekuatan sihirnya dan seketika tempat itu diselimuti semacam halimun yang membuat malam terang bulan purnama menjadi berkabut. Diapun menerjang setelah aji panglimunan berhasil baik.
“Tar-tar-tarrr .....!” Pecut Tatit Geni meledak-ledak, mengeluarkan pijaran api dan menyambar-nyambar ke arah kepala Empu Dewamurti. Namun dengan tenang sang Empu menangkis dengan tongkat bambu kuningnya dan kedua orang sakti itu segera bertanding dengan serunya. Nyi Dewi Durgakumala juga menonton dengan penuh perhatian. Harus dia akui bahwa empu itu memang sakti mandraguna dan ia merasa sangsi apakah ia akan mampu mengalahkan Empu Dewamurti.

Karena tidak ada yang memperhatikan, dan menggunakan selagi cuaca diliputi kabut, diam-diam Nurseta menghampiri gadis remaja yang berada paling dekat dengan dirinya. Dia tentu saja mengenal anak perempuan itu yang memang tinggal sedusun dengannya, yaitu di Dusun Karang Tirta. Sambil memegangi Keris Pusaka Megatantra dengan tangan kanan, Nurseta mengguncang pundak anak perempuan itu yang bernama Puspa Dewi.
“Dewi ....., Dewi ....., bangunlah .....!” katanya sambil mengguncang pundak anak perempuan itu. Puspa Dewi membuka mata dan seolah baru terbangun dari tidurnya. Padahal ia tadi dalam keadaan tak berdaya oleh pengaruh sihir. Di luar pengetahuan dua orang anak itu Puspa Dewi dapat terbebas dari pengaruh sihir karena keampuhan Keris Pusaka Megatantra yang dibawa Nurseta!.
“Apa ..... apa yang terjadi? Ah, engkau Kakang Nurseta .....! Apa yang terjadi? Tadi ..... kakek yang jahat itu .....”
“Stttt, lihat dia sedang bertanding melawan Eyang Empu Dewamurti. Diam saja di sini, aku hendak melihat pemuda di sana itu.”

Nurseta meninggalkan Puspa Dewi dan berlari dalam kabut dan menghampiri pemuda remaja yang dipanggul Nyi Dewi Durgakumala. Setelah dekat dia berjongkok dan kini tahulah dia bahwa pemuda remaja itu adalah Linggajaya, putera kepala dusun Karang Tirta yang terkenal sombong karena merasa dia putera kepala dusun Karang Tirta yang berkuasa, kaya raya dan juga memiliki wajah tampan. Sebetulnya Nurseta tidak begitu suka kepada pemuda sombong ini, bahkan dia seringkali sebagai seorang pemuda yatim piatu mendapat ejekan dan olok-olok dari Linggajaya. Akan tetapi kini melihat keadaan pemuda itu, dia merasa iba dan seperti tadi ketika menggugah Puspa Dewi, kini diapun mengguncang pundak Linggajaya dengan tangan kirinya.
“Jaya ....., Linggajaya ..... bangunlah .....!” Kembali keampuhan keris pusaka Megatantra bekerja dan seketika pemuda putera lurah itu terbebas dari pengaruh sihir Nyi Dewi Durgakumala atas dirinya. Dia terbangun menggosok-gosok kedua mata dengan tangan karena keremangan kabut membuat penglihatannya tidak begitu terang. Akhirnya dia melihat wajah Nurseta dan dia bangkit duduk.
“Eh, engkau ini Nurseta? Mau apa engkau di sini? Ah ya, apa yang terjadi? Dimana wanita cantik yang membawa lari aku tadi?”
“Ssttt ….. jangan berisik Jaya. Mereka sedang bertempur. Sebaiknya mari cepat ajak Puspa Dewi lari dari sini.” Bisik Nurseta. Linggajaya bangkit berdiri.
“Puspa Dewi? Di mana dia? Mengapa pula ia ada di sini?”
“Iapun diculik orang. Mari kita ajak ia lari.” kata Nurseta dan mereka pergi menghampiri Puspa Dewi.

Puspa Dewi adalah Gadis remaja yang amat cantik dan hampir semua pemuda remaja di Karang Tirta gandrung kepadanya, termasuk Linggajaya. Setelah bertemu dengan Puspa Dewi, Linggajaya lalu memegang tangan anak perempuan itu dan ditariknya, diajak lari dari tempat itu.
“Puspa Dewi, hayo cepat kita lari pulang!” katanya sambil menarik tangan anak perempuan itu. Karena ketakutan terhadap kakek yang menculiknya tadi, Puspa Dewi menurut saja dan keduanya lari meninggalkan tempat itu tanpa mempedulikan Nurseta lagi. Pemuda ini hanya berdiri memandang. Dia tidak perlu berlari, bahkan dia harus berlindung kepada Empu Dewamurti yang sedang bertanding melawan kakek tinggi besar itu. Akan tetapi sekarang dia melihat Empu Dewamurti bahkan dikeroyok olek dua orang penculik itu. Teringat akan pesan Empu Dewamurti, Nurseta lalu menyelinap dan duduk lagi di dekat batu karang. Kini dengan penuh perhatian dia menonton pertarungan itu.

Anehnya, kabut yang tadi menyelimuti temmpat itu sudah menipis dan cahaya bulan purnama tampak berseri lagi. Tadi pertandingan antara Resi Bajrasakti dan Empu Dewamurti berlangsung tak seimbang. Betapapun saktinya Resi Bajrasakti namun ternyata tingkatannya masih berada dibawah tingkat Empu Dewamurti yang memiliki aji-aji yang kuat sekali karena semua ajinya selalu dipergunakan untuk membela kebenaran. Juga hidupnya selalu penuh dengan keprihatinan, berserah diri dan selalu dekat dengan Sang Hyang Widhi, tidak seperti Resi Bajrasakti yang selalu melakukan kejahatan terdorong oleh nafsu-nafsunya sendiri yang memperbudaknya. Beberapa kali cambuknya terpental membentur tongkat bambu kuning, bahkan sempat terdorong dan terhuyung sehingga dalam waktu singkat saja dia hampir kehabisan tenaga. Melihat ini, timbul kekhawatiran dalam hati Nyi Dewi Durgakumala. Tingkat kepandaiannya sendiri seimbang dengan tingkat yang dikuasai Resi Bajrasakti. Berarti dia sendiri juga tidak akan mampu menandingi ketangguhan Empu Dewamurti. Lebih baik kalau Empu Dewamurti disingkirkan terlebih dahulu, pikirnya. Ia lalu mencabut Candrasa Langking (Pedang Hitam) yang merupakan senjata pusakanya dan melompat ke depan mengeroyok sang empu.Pedangnya menjadi gulungan sinar hitam yang menerjang kearah Empu Dewamurti.

Setelah dikeroyok dua, Empu Dewamurti merasa kewalahan juga. Bertanding satu lawan satu, dia pasti dapat mengalahkan mereka, akan tetapi menghadapi pengeroyokan dua orang digjaya itu, dia harus mengeluarkan aji kesaktian yang lebih tinggi. Tiba-tiba Empu Dewamurti memutar tongkat bambu kuning dengan tangan kanannya. Tongkat itu membentuk gulungan sinar kuning yang melingkar-lingkar, bagai sebuah perisai yang kokoh kuat melindungi dirinya. Kemudian ia mengerahkan tenaga saktinya ke tangan kiri dan dua kali mendorongkan telapak tangan kirinya itu ke arah sua orang pengeroyoknya.
“Hyaaahhh ..... yaaaahhh ...!!” Angin dahsyat menggempur datuk Wengker dan datuk Wurawari itu. Biarpun mereka berdua mencoba bertahan, namun tetap saja mereka terdorong ke belakang dan terhuyung sampai jatuh! Mereka terkejut bukan main dan maklum bahwa lawannya benar-benar sakti mandraguna dan kalau lawannya mempergunakan tangan kejam mungkin mereka berdua takkan mampu bertahan. Apalagi melihat Nurseta yang menemukan keris pusaka Megatantra berlindung di belakang sang empu. Mereka menjadi putus harapan dan melihat betapa dua orang anak remaja yang mereka culik tadi lenyap, mereka semakin marah dan penasaran lalu mereka melakukan pengejaran, meninggalkan Empu Dewamurti yang berdiri sambil mengatur pernafasan untuk memulihkan tenaganya yang tadi banyak dihamburkan untuk melawan dua orang tangguh itu.

“Hei, ke mana dua orang bocah yang mereka culik tadi?” Empu Dewamurti baru melihat bahwa dua orang anak itu sudah tidak ada dan dia melihat betul bahwa dua orang datuk tadi melarikan diri tanpa membawa dua orang bocah yang tadi diculiknya.
“Maaf, eyang. Tadi saya menggugah dan menyuruh mereka melarikan diri karena saya merasa kasihan dan khawatir akan keselamatan mereka.”
“Engkau? Menggugah meraka?” Empu Dewamurti merasa heran. Dia dapat menduga bahwa dua orang bocah remaja tadi tentu tidak mampu bergerak atau berteriak karena pengaruh sihir! Bagaimana mungkin anak ini dapat menyadarkan mereka? Akan tetapi dia tiba-tiba teringat akan keris pusaka Megatantra yang berada dalam buntalan kain kuning yang dibawa nurseta dan dia mengangguk-angguk. Mengertilah empu ini bahwa tentu daya kekuatan keris ampuh itu yang memunahkan pengarus sihir atas diri dua orang bocah remaja itu.
“Kenalkah engkau kepada dua orang anak itu?”
Nurseta mengangguk,
“Saya mengenal mereka, eyang. Mereka asalah Puspa Dewi dan Linggajaya dari dusun Karang Tirta. Kami sedusun eyang.”
“Dari dusun Karang Tirta? Ah jangan-jangan dua orang sesat itu melakukan pengejaran ke sana. Hayo nurseta, kita menyusul mereka ke Karang Tirta! Pegang erat-erat tanganku!.”

Nurseta menurut. Tangan kirinya masih mendekap buntalan kuning dan tangan kanannya memegang tangan kiri kakek itu erat-erat. Tiba-tiba Nurseta merasa betapa tubuhnya meluncur seperti terbang dengan cepatnya! Kedua kaki agak terangkat sehingga tidak menginjak tanah lagi. Kiranya kakek itu mengangkat tangannya keatas sehingga tubuhnya agak terangkat dan kakek itu membawanya lari secepat terbang! Nurseta terbelalak, kagum dan heran. Sudah kurang lebih sebulan dia mengenal Empu Dewamurti, yaitu ketika secara kebetulan dia melewaati guha itu. Dia merasa kasihan kepada kakek yang bertapa itu dan melihat tubuh yang tinggi kurus itu, Nurseta mencari buah-buahan dan menghidangkan kepada Empu Dewamurti. Mereka berkenalan dan sang empu juga kagum melihat pemuda yang budiman itu.

Mereka tiba di dusun Karang Tirta dan Nurseta mengajak sang empu lebih dulu mengunjungi rumah Nyi Lasmi, seorang janda berusia tiga puluh satu tahun yang hanya hidup berdua dengan anaknya yaitu Puspa Dewi. Alangkah terkejut dan herannya hati Nurseta ketika dia dan sang empu mendapatkan janda muda itu menangis terisak-isak, dirubung beberapa orang wanita yang menjadi tetangganya. Ketika Nurseta dan Empu Dewamurti datang, semua orang menatapnya dengan heran. Akan tetapi Nurseta tidak mengacuhkan mereka, langsung dia menghampiri Nyi Randa (Janda) Lasmi dan bertanya.
“Bibi Lasmi, apakah Puspa Dewi sudah pulang?” Mendengar pertanyaan ini Nyi Lasmi menyusut air matanya yang sudah hampir habis dan ia memandang Nurseta dengan mata merah.
“Bagaimana engkau ini, Nurseta? Semua orang geger meributkan anakku yang diculik penjahat, engkau malah bertanya apakah dia sudah pulang!”
“Saya sudah tahu, Bibi Lasmi. Malah tadi saya yang menggugah dan menyuruhnya cepat melarikan diri ketika penculiknya sedang bertanding dengan eyang empu ini. Apakah ia belum tiba di sini?”

<<<Bagian 01                                                                                         Bagian 03 >>>

No comments:

Post a Comment