Bulan Purnama memancarkan cahayanya
yang gilang-gemilang. Bulan purnama kalangan (ada garis bundar
mengelilinginya). Kata para pinisepuh, bulan purnama kalangan seperti itu
merupakan pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang amat penting.
Pantai segara laut Kidul itu putih
berkilauan tertimpa sinar bulan. Pasir putih yang bersih halus terhampar luas.
Laut tampak tenang. Ombak kecil yang menipis hanya sempat menjilat tepi pantai.
Suara air laut yang biasanya menggelora itu kini hanya terdengar berbisik-bisik
lembut. Tebing-tebing terjal disebelah barat itu seolah merupakan bendungan
untuk mencegah lautan membanjir ke darat. Perbukitan batu karang dan kapur itu
tampak bagaikan raksasa-raksasa yang berdiri dengan kokoh kuat melakukan
penjagaan. Sunyi senyap, yang terdengar hanya desah air laut dan yang tampak
hanya buih-buih air diatas ombak-ombak kecil yang beriringan menuju ke pantai.
Akan tetapi semua itu menjadi bagian tak terpisahkan dari keheningan yang
khidmat itu. Tiada awan di langit. Kenyataan itu suci dan agung. Tidak ada
indah atau buruk. Yang ada hanya kenyataan. Indah atau buruk baru muncul
setelah ada penilaian dan penilaian inilah yang mendatangkan pertentangan.
Bau keharuman dupa dan kemenyan yang
datang dari dusun Karang Tirta yang berada tidak jauh dari pantai Pasir Putih
itu mengingatkan bahwa malam itu adalah malam Jumat Kliwon, malam yang bagi
para penduduk dusun itu dianggap sebagai malam keramat yang menakutkan karena
menurut kepercayaan mereka pada malam itu semua lelembut, siluman, setan dan
segala macam iblis keluar dan keluyuran, gentayangan di permukaan bumi mencari
korban!. Segala macam wewe gombel, brekasakan, kuntilanak, banaspati, tetakan
dan tuyul keluar untuk mencari mangsa. Karena itu orang-orang membakar dupa dan
kemenyan untuk dihidangkan kepada mereka agar setelah menghirup keharuman itu
mereka menjadi puas dan tidak mengganggu si penyuguh asap yang harum itu.
Di jajaran tebing terjal yang berada
di sebelah barat pantai pasir putih itu terdapat sebuah guha yang luasnya
sekitar tiga meter persegi dan luarnya sekitar dua meter lebih. Di tengah guha
itu nampak seorang pria duduk bagaikan sebuah arca. Dia duduk dengan kedua kaki
bersilang diatas paha, kedua lengan juga bersilang dan kedua matanya terpejam.
Duduknya tegak lurus. Agaknya pria ini sedang bersamadhi. Usianya sekitar enam
puluh tahun. Rambutnya sudah berwarna dua disanggul keatas dan tusuk sanggulnya
sederhana sekali terbuat dari bambu. Tubuhnya yang tinggi kurus itu hanya
dilindungi sehelai kain hitam yang dilibat-libatkan dari leher ke lutut.
Kakinya telanjang. Seorang kakek
yang sederhana sekali. Dari keadaan pakaiannya dan cara dia duduk bersamadhi
dapat diduga dia tentu seorang pendeta atau pertapa. Wajahnya yang kurus itu
seolah bercahaya. Alis, kumis dan janggutnya yang menutupi lehernya juga sudah
penuh uban. Wajahnya masih membayangkan bekas ketampanan dan mulutnya
mengembangkan senyum pengertian. Kakek itu adalah Empu Dewamurti. Dia terkenal
sebagai empu ahli pembuat keris pusaka. Juga dia terkenal sebagai seorang sakti
mandraguna dan ahli tapabrata yang tekun dan sering kali dia menghabiskan waktu
untuk bertapa mendekatkan diri dengan Sang Hyang Widhi untuk memohon petunjuk
dan bimbingannya. Malam itu adalah malam ketiga dia bertapa dalam guha di tepi
segara Kidul. Empu Dewamurti adalah empu yang terkenal dijaman Kerajaan
Kahuripan yang diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa
Erlangga Anantawikrama Utunggadewa atau yang lebih mudah diingat dengan sebutan
Raja Erlangga.
Tiba-tiba Empu Dewamurti seperti
tergugah dari samadhinya. Pendengarannya menangkap jerit suara wanita dan
teriakan pria yang datangnya dari hamparan pasir putih. Kalau saja suara lain
yang mengganggunya, dia tentu tidak mau mengacuhkan. Akan tetapi dalam jeritan
dan teriakan tadi dia menanggkap suara yang ketakutan dan mengharapkan
pertolongan. Empu Dewamurti adalah seorang yang sejak muda berwatak kesatria, tidak
pernah menolak untuk mengulurkan tangan kepada siapa saja yang membutuhkan
pertolongannya. Maka dia jadi sadar sepenuhnya dan dia segera bangkit dan
keluar dari dalam guha. Dibawah sinar bulan purnama dia dapat melihat adanya
dua bayangan orang, masing-masing memanggul tubuh seorang yang meronta-ronta
muncul di pantai pasir putih itu. Empu Dewamurti lalu melompat dan berlari
cepat menuju ke sana. Larinya cepat sekali walaupun kedua kaki yang telanjang
itu nampaknya seperti melangkah seenaknya. Kecepatannya terbukti dari
berkibarnya kain yang melibat-libat tubuhnya dari leher sampai ke lutut.
Sebentar saja dia sudah berhadapan dengan dua orang itu.
Ternyata mereka adalah seorang
wanita dan seorang laki-laki. Laki-laki itu berusia kurang lebih lima puluh
tahun, bertubuh tinggi kekar, berkulit hitam dan mukanya penuh brewok,
rambutnya hitam panjang dibiarkan berjuntai di belakang kepalanya, hanya diikat
kain merah. Pakaiannya serba mewah, seperti pakaian seorang bangsawan. Di
pinggangnya terselip sebatang pecut (cambuk) bergagang gading dan ujung pecut
yang panjang itu digulung dan digantung di pinggang. Wajahnya kasar dan bengis.
Adapun orang kedua adalah seorang seorang wanita yang sukar ditaksir usianya
karena ia masih nampak cantik jelita dan genit seperti seorang gadis berusia
dua puluh lima tahun saja. Mukanya yang sudah cantik itu dirias dengan bedak
dan pemerah pipi dan bibir seperti riasan muka waranggana yang hendak
bertembang dan berjoged. Pakaiannya mewah sekali, dengan gelang emas pada
pegelangan tangan dan kaki. Di pinggang yang ramping itu tergantung sebatang
pedang dengan sarungnya yang terukir indah. Wanita itu sungguh cantik menarik,
terutama sekali matanya yang bersinar tajam dan senyumnya yang semanis madu.
Melihat dua orang ini, Empu Dewamurti
diam-diam terkejut dan dia memperhatikan orang-orang yang berada dalam
pondongan mereka itu. Laki-laki tinggi besar itu memanggul tubuh seorang gadis
remaja yang usianya tiga belas tahun. Sanggul rambut gadis itu terlepas dan
rambutnya yang panjang itu terurai ke bawah. Ia kini tidak mampu bergerak atau
menjerit lagi, agaknya sudah dibuat pingsan oleh laki-laki yang memanggulnya.
Wanita cantik itu juga memanggul seseorang dan ketika Empu Dewamurti mengamati,
ternyata yang dipanggulnya itu seorang pemuda remaja berusia sekitar lima belas
tahun. Pemuda remaja ini sama eloknya dengan gadis remaja itu, dan dia juga
kini diam saja dan lemas seperti orang pingsan atau tidur.
“Jagat Dewa Bhatara!, kiranya andika
Resi Bajrasakti dari Kerajaan Wengker dan Nyi Dewi Durgakumala dari kerjaan
Wurawari!, Apa kehendak andika berdua muncul di pantai Segara Kidul wilayah
Kahuripan ini dan siapa pula anak-anak remaja yang andika tawan itu?” tegur
Empu Dewamurti sambil mengamati mereka berdua dengan sinar mata tajam menyelidik.
“Ha-ha-ha-ha!” Laki-laki tinggi
besar yang bernama Resi Bajrasakti itu tertawa bergelak-gelak sehingga seluruh
tubuhnya berguncang.
“Tak kusangka di sini aku bertemu
dengan Empu Dewamurti, pandai besi tukang membuat pacul, arit dan pisau dapur!”
Dia tertawa lagi, merasa geli dengan gurauannya sendiri yang memperolok-olok
Empu Dewamurti sebagai ahli pembuat keris pusaka.
“Hik-hik, Empu Dewamurti. Senang
hatiku bertemu denganmu. Aku hendak memesan sepasang gelang kaki perak,
dapatkah engkau membuatkan untukku?” Wanita cantik pesolek yang bernama Nyi
Durgakumala itupun tertawa dan ucapannya tadipun bermaksud menghina Empu
Dewamurti.
Kalau Resi Bajrasakti merupakan
Datuk Kerajaan Wengker yang sakti mandraguna, Nyi Dewi Durgakumala yang
sesungguhnya telah berusia empat puluh lima tahun itu adalah seorang tokoh
besar Kerajaan Wurawari dan menjadi kepercayaan raja.
Pada saat itu, tiba-tiba nampak
sesosok bayangan orang berlari menuju ke pantai itu. Dari jauh dia melihat Empu
Dewamurti dan dia berteriak.
“Eyang Empu Dewamurti ......!”
Tiga orang sakti itu memandang dan
Empu Dewamurti segera mengenal pemuda remaja berusia sekitar enam belas tahun
yang berpakaian sederhana seperti seorang petani biasa. Dia memandang wajah
yang cerah itu dengan alis berkerut. Pemuda itupun kini baru tahu bahwa di situ
terdapat dua orang asing yang masing-masing memanggul seorang gadis remaja dan
seorang pemuda. Maka dia lalu berkata gugup.
“Maafkan saya, eyang, saya tidak
tahu bahwa eyang sedang sibuk. Saya hanya menyerahkan ini. Saya temukan keris
ini ketika sore tadi saya menggali kebun......” Pemuda itu membuka sebuah
buntalan kuning dan terkejutlah tiga orang sakti itu ketika melihat sebatang
keris yang mengeluarkan sinar kilat ketika tertimpa sinar bulan.
Tiba-tiba Nyi Dewi Durgakumala
berseru dengan melengking nyaring,
“Serahkan keris itu kepadaku!” Dalam
suaranya terkandung pengaruh yang demikian kuat sehingga mau tidak mau pemuda
petani itu mengulurkan kedua tangan yang membawa keris itu kepada wanita itu.
“Tidak! Berikan kepadaku!” terdengar
bentakan lantang yang keluar dari mulut Resi Bajrasakti.
Teriakan inipun mengandung pengaruh
yang kuat bukan main, sehingga pemuda itu membalikkan tubuhnya hendak
menyerahkan kerisnya kepada Resi Bajrasakti. Akan tetapi ketika datuk dari
kerjaan wengker yang tinggi besar itu menjulurkan tangannya hendak mengambil
keris, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan tangan Nyi Dewi Durgakumala
sudah menangkisnya. Ketika kedua orang ini sedang bersitegang, tubuh Empu
Dewamurti melayang ke arah pemuda itu. Dia berdiri membelakangi pemuda itu dan
berkata.
“Nurseta, cepat engkau duduk
bersandar batu dibelakangku!”
Pemuda yang bernama Nurseta itu
terbebas dari pengaruh suara dua orang yang hendak memaksa dia menyerahkan
keris. Dia lalu duduk bersila di dekat batukarang yang berada di belakang Empu
Dewamurti dengan hati yang berdebar tegang karena dia dapat merasakan bahwa dua
orang asing itu tentu bukan orang baik-baik. Buktinya mereka agaknya menguasai
gadis dan pemuda yang mereka panggul.
“Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi
Durgakumala! Kalian berdua adalah orang-orang asing yang menjadi tamu di sini.
Harap kalian tidak membuat gara-gara!”
“Empu Dewamurti, keris itu harus
menjadi milikku!” teriak Nyi Dewi Durgakumala sambil menuding telunjuk kanannya
ke arah Nurseta.
“Tidak, harus diberikan kepadaku!”
bentak Resi Bajrasakti,
“kalau tidak, akan kurampas dengan
kekerasan!”
“Babo-babo, Resi Bajrasakti, Apa kau
kira aku ini patung hidup? Engkau tidak akan dapat merampasnya selama aku masih
berada di sini!” teriak Nyi Dewi Durgakumala.
Melihat dua orang itu agaknya saling
berebut sendiri, Empu Dewamurti tersenyum.
“Sadhu...Sadhu...Sadhu...! Resi
Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala, ketahuilah bahwa keris itu ditemukan di
tanah yang menjadi wilayah kahuripan, oleh karena itu menjadi hak milik
Kerajaan Kahuripan. Selain daripada itu, agaknya andika berdua tidak mengenal
pusaka itu. Sekali pandang saja aku mengenalnya. Keris pusaka itu adalah Sang
Megatantra dan pusaka dibuat oleh mendiang Empu Bramakendali di jaman Kerajaan
Medang Kamulan yang menjadi nenek moyang Kerajaan Kahuripan. Oleh karena itu,
kalian berdua dari Kerajaan Wengker dan Wurawari sama sekali tidak berhak
memilikinya. Selain itu, muda-mudi yang kalian culik itu tentu kawula Kahuripan,
maka bebaskan mereka dan pulanglah kalian ke tempat kalian masing-masing dengan
damai”.
“Babo-babo, empu keparat! Mari kita
bertanding untuk menentukan siapa yang lebih kuat, dia yang berhak memiliki
Keris Pusaka Sang Megatantra!” bentak Resi Bajrasakti.
“Sang Resi, keris pusaka merupakan
hak milik Kerajaan Kahuripan, tidak mungkin diperebutkan. Kalau andika
memperebutkannya, berarti andika hendak merampok.”
“Heh, Empu konyol! Apakah engkau
tidak tahu akan hokum alam bahwa siapa yang menang, dia berkuasa? Engkau hendak
menentang hukum alam?”
“Resi Bajrasakti, wawasanmu itu
salah sama sekali. Hukum alam adalah hukum sebab akibat yang seadil-adilnya.
Hukummu tadi bukan hukum alam, melainkan hukum yang dibuat manusia sesat yang
diperbudak nafsu. Nafsu selalu ingin menang dan kalau menang dia harus berkuasa
dan yang berkuasa selalu harus benar! Yang berkuasa menindas yang lemahpun
dibenarkan oleh nafsu angkara murka.” kata Empu Dewamurti dengan sikap tenang.
“Jangan banyak cerewet, Empu
Dewamurti! Serahkan Keris Megatantra itu kepadaku atau aku akan menggunakan
kekerasan!” bentak Nyi Dewi Durgakumala.
“Jagat Dewa Bhatara! Manusia
diciptakan hidup di permukaan ini memang diberi wewenang untuk memilih, apakah
dia ingin menjadi alat iblis ataukah ingin menjadi alat Sang Hyang Widhi,
membela kebenaran dan menentang kejahatan. Terserah kepada kalian berdua.”
Resi Bajrasakti lalu melangkah
belasan tindak dan menurunkan gadis remaja yang dipanggulnya,
“Bocah ayu, engkau berdiamlah di
sini dulu sebentar ya? Nanti setelah kubereskan Empu konyol itu, kupondong lagi
dan kita bersenang-senang.” Gadis remaja itu ketika diturunkan rebah
terlentang, agaknya untuk bangkit dudukpun ia tidak kuat. Nyi Dewi Durgakumala
tidak mau kalah. Iapun menurunkan pemuda remaja yang tadi dipanggulnya itu agak
jauh dari situ. Pemuda itupun rebah terlentang dan tanpa malu-malu Nyi Dewi
Durgakumala menciumnya,
“Cah bagus, engkau kutinggalkan
sebentar!”
Kini Empu Dewamurti berhadapan
dengan dua orang datuk itu. Nyi Dewi Durgakumala bersikap cerdik. Ia maklum
untuk memperebutkan Keris Pusaka Megatantra, ia harus dapat mengalahkan dua
orang lawan yang tangguh. Sebetulnya kedatangan ke wilayah Kahuripan itu,
seperti juga Resi Bajrasakti adalah untuk melaksanakan tugas masing-masing yang
diperintahkan raja mereka, yaitu untuk melakukan penyelidikan terhadap kerajaan
Kahuripan dan kalau ada kesempatan menimbulkan kekacauan di kerajaan musuh itu.
Karena keduanya memang saling mengenal sejak dahulu, maka ketika saling
berjumpa, segera terjalin hubungan akrab dan mesra antara mereka. Akan tetapi
dua orang manusia cabul yang menjadi hamba nafsu mereka sendiri itu sebentar
saja sudah merasa bosan dan malam itu mereka masing-masing menculik seorang
gadis dan pemuda remaja untuk menyalurkan gairah nafsu mereka yang kotor.
No comments:
Post a Comment