Bagian 01




Bulan Purnama memancarkan cahayanya yang gilang-gemilang. Bulan purnama kalangan (ada garis bundar mengelilinginya). Kata para pinisepuh, bulan purnama kalangan seperti itu merupakan pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang amat penting.

Pantai segara laut Kidul itu putih berkilauan tertimpa sinar bulan. Pasir putih yang bersih halus terhampar luas. Laut tampak tenang. Ombak kecil yang menipis hanya sempat menjilat tepi pantai. Suara air laut yang biasanya menggelora itu kini hanya terdengar berbisik-bisik lembut. Tebing-tebing terjal disebelah barat itu seolah merupakan bendungan untuk mencegah lautan membanjir ke darat. Perbukitan batu karang dan kapur itu tampak bagaikan raksasa-raksasa yang berdiri dengan kokoh kuat melakukan penjagaan. Sunyi senyap, yang terdengar hanya desah air laut dan yang tampak hanya buih-buih air diatas ombak-ombak kecil yang beriringan menuju ke pantai. Akan tetapi semua itu menjadi bagian tak terpisahkan dari keheningan yang khidmat itu. Tiada awan di langit. Kenyataan itu suci dan agung. Tidak ada indah atau buruk. Yang ada hanya kenyataan. Indah atau buruk baru muncul setelah ada penilaian dan penilaian inilah yang mendatangkan pertentangan.

Bau keharuman dupa dan kemenyan yang datang dari dusun Karang Tirta yang berada tidak jauh dari pantai Pasir Putih itu mengingatkan bahwa malam itu adalah malam Jumat Kliwon, malam yang bagi para penduduk dusun itu dianggap sebagai malam keramat yang menakutkan karena menurut kepercayaan mereka pada malam itu semua lelembut, siluman, setan dan segala macam iblis keluar dan keluyuran, gentayangan di permukaan bumi mencari korban!. Segala macam wewe gombel, brekasakan, kuntilanak, banaspati, tetakan dan tuyul keluar untuk mencari mangsa. Karena itu orang-orang membakar dupa dan kemenyan untuk dihidangkan kepada mereka agar setelah menghirup keharuman itu mereka menjadi puas dan tidak mengganggu si penyuguh asap yang harum itu.

Di jajaran tebing terjal yang berada di sebelah barat pantai pasir putih itu terdapat sebuah guha yang luasnya sekitar tiga meter persegi dan luarnya sekitar dua meter lebih. Di tengah guha itu nampak seorang pria duduk bagaikan sebuah arca. Dia duduk dengan kedua kaki bersilang diatas paha, kedua lengan juga bersilang dan kedua matanya terpejam. Duduknya tegak lurus. Agaknya pria ini sedang bersamadhi. Usianya sekitar enam puluh tahun. Rambutnya sudah berwarna dua disanggul keatas dan tusuk sanggulnya sederhana sekali terbuat dari bambu. Tubuhnya yang tinggi kurus itu hanya dilindungi sehelai kain hitam yang dilibat-libatkan dari leher ke lutut.

Kakinya telanjang. Seorang kakek yang sederhana sekali. Dari keadaan pakaiannya dan cara dia duduk bersamadhi dapat diduga dia tentu seorang pendeta atau pertapa. Wajahnya yang kurus itu seolah bercahaya. Alis, kumis dan janggutnya yang menutupi lehernya juga sudah penuh uban. Wajahnya masih membayangkan bekas ketampanan dan mulutnya mengembangkan senyum pengertian. Kakek itu adalah Empu Dewamurti. Dia terkenal sebagai empu ahli pembuat keris pusaka. Juga dia terkenal sebagai seorang sakti mandraguna dan ahli tapabrata yang tekun dan sering kali dia menghabiskan waktu untuk bertapa mendekatkan diri dengan Sang Hyang Widhi untuk memohon petunjuk dan bimbingannya. Malam itu adalah malam ketiga dia bertapa dalam guha di tepi segara Kidul. Empu Dewamurti adalah empu yang terkenal dijaman Kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh Sri Maharaja Rakai Halu Sri Lokeswara Dharmawangsa Erlangga Anantawikrama Utunggadewa atau yang lebih mudah diingat dengan sebutan Raja Erlangga.

Tiba-tiba Empu Dewamurti seperti tergugah dari samadhinya. Pendengarannya menangkap jerit suara wanita dan teriakan pria yang datangnya dari hamparan pasir putih. Kalau saja suara lain yang mengganggunya, dia tentu tidak mau mengacuhkan. Akan tetapi dalam jeritan dan teriakan tadi dia menanggkap suara yang ketakutan dan mengharapkan pertolongan. Empu Dewamurti adalah seorang yang sejak muda berwatak kesatria, tidak pernah menolak untuk mengulurkan tangan kepada siapa saja yang membutuhkan pertolongannya. Maka dia jadi sadar sepenuhnya dan dia segera bangkit dan keluar dari dalam guha. Dibawah sinar bulan purnama dia dapat melihat adanya dua bayangan orang, masing-masing memanggul tubuh seorang yang meronta-ronta muncul di pantai pasir putih itu. Empu Dewamurti lalu melompat dan berlari cepat menuju ke sana. Larinya cepat sekali walaupun kedua kaki yang telanjang itu nampaknya seperti melangkah seenaknya. Kecepatannya terbukti dari berkibarnya kain yang melibat-libat tubuhnya dari leher sampai ke lutut. Sebentar saja dia sudah berhadapan dengan dua orang itu.

Ternyata mereka adalah seorang wanita dan seorang laki-laki. Laki-laki itu berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi kekar, berkulit hitam dan mukanya penuh brewok, rambutnya hitam panjang dibiarkan berjuntai di belakang kepalanya, hanya diikat kain merah. Pakaiannya serba mewah, seperti pakaian seorang bangsawan. Di pinggangnya terselip sebatang pecut (cambuk) bergagang gading dan ujung pecut yang panjang itu digulung dan digantung di pinggang. Wajahnya kasar dan bengis. Adapun orang kedua adalah seorang seorang wanita yang sukar ditaksir usianya karena ia masih nampak cantik jelita dan genit seperti seorang gadis berusia dua puluh lima tahun saja. Mukanya yang sudah cantik itu dirias dengan bedak dan pemerah pipi dan bibir seperti riasan muka waranggana yang hendak bertembang dan berjoged. Pakaiannya mewah sekali, dengan gelang emas pada pegelangan tangan dan kaki. Di pinggang yang ramping itu tergantung sebatang pedang dengan sarungnya yang terukir indah. Wanita itu sungguh cantik menarik, terutama sekali matanya yang bersinar tajam dan senyumnya yang semanis madu.

Melihat dua orang ini, Empu Dewamurti diam-diam terkejut dan dia memperhatikan orang-orang yang berada dalam pondongan mereka itu. Laki-laki tinggi besar itu memanggul tubuh seorang gadis remaja yang usianya tiga belas tahun. Sanggul rambut gadis itu terlepas dan rambutnya yang panjang itu terurai ke bawah. Ia kini tidak mampu bergerak atau menjerit lagi, agaknya sudah dibuat pingsan oleh laki-laki yang memanggulnya. Wanita cantik itu juga memanggul seseorang dan ketika Empu Dewamurti mengamati, ternyata yang dipanggulnya itu seorang pemuda remaja berusia sekitar lima belas tahun. Pemuda remaja ini sama eloknya dengan gadis remaja itu, dan dia juga kini diam saja dan lemas seperti orang pingsan atau tidur.

“Jagat Dewa Bhatara!, kiranya andika Resi Bajrasakti dari Kerajaan Wengker dan Nyi Dewi Durgakumala dari kerjaan Wurawari!, Apa kehendak andika berdua muncul di pantai Segara Kidul wilayah Kahuripan ini dan siapa pula anak-anak remaja yang andika tawan itu?” tegur Empu Dewamurti sambil mengamati mereka berdua dengan sinar mata tajam menyelidik.
“Ha-ha-ha-ha!” Laki-laki tinggi besar yang bernama Resi Bajrasakti itu tertawa bergelak-gelak sehingga seluruh tubuhnya berguncang.
“Tak kusangka di sini aku bertemu dengan Empu Dewamurti, pandai besi tukang membuat pacul, arit dan pisau dapur!” Dia tertawa lagi, merasa geli dengan gurauannya sendiri yang memperolok-olok Empu Dewamurti sebagai ahli pembuat keris pusaka.
“Hik-hik, Empu Dewamurti. Senang hatiku bertemu denganmu. Aku hendak memesan sepasang gelang kaki perak, dapatkah engkau membuatkan untukku?” Wanita cantik pesolek yang bernama Nyi Durgakumala itupun tertawa dan ucapannya tadipun bermaksud menghina Empu Dewamurti.
Kalau Resi Bajrasakti merupakan Datuk Kerajaan Wengker yang sakti mandraguna, Nyi Dewi Durgakumala yang sesungguhnya telah berusia empat puluh lima tahun itu adalah seorang tokoh besar Kerajaan Wurawari dan menjadi kepercayaan raja.

Pada saat itu, tiba-tiba nampak sesosok bayangan orang berlari menuju ke pantai itu. Dari jauh dia melihat Empu Dewamurti dan dia berteriak.
“Eyang Empu Dewamurti ......!”

Tiga orang sakti itu memandang dan Empu Dewamurti segera mengenal pemuda remaja berusia sekitar enam belas tahun yang berpakaian sederhana seperti seorang petani biasa. Dia memandang wajah yang cerah itu dengan alis berkerut. Pemuda itupun kini baru tahu bahwa di situ terdapat dua orang asing yang masing-masing memanggul seorang gadis remaja dan seorang pemuda. Maka dia lalu berkata gugup.
“Maafkan saya, eyang, saya tidak tahu bahwa eyang sedang sibuk. Saya hanya menyerahkan ini. Saya temukan keris ini ketika sore tadi saya menggali kebun......” Pemuda itu membuka sebuah buntalan kuning dan terkejutlah tiga orang sakti itu ketika melihat sebatang keris yang mengeluarkan sinar kilat ketika tertimpa sinar bulan.

Tiba-tiba Nyi Dewi Durgakumala berseru dengan melengking nyaring,
“Serahkan keris itu kepadaku!” Dalam suaranya terkandung pengaruh yang demikian kuat sehingga mau tidak mau pemuda petani itu mengulurkan kedua tangan yang membawa keris itu kepada wanita itu.
“Tidak! Berikan kepadaku!” terdengar bentakan lantang yang keluar dari mulut Resi Bajrasakti.
Teriakan inipun mengandung pengaruh yang kuat bukan main, sehingga pemuda itu membalikkan tubuhnya hendak menyerahkan kerisnya kepada Resi Bajrasakti. Akan tetapi ketika datuk dari kerjaan wengker yang tinggi besar itu menjulurkan tangannya hendak mengambil keris, tiba-tiba sesosok bayangan berkelebat dan tangan Nyi Dewi Durgakumala sudah menangkisnya. Ketika kedua orang ini sedang bersitegang, tubuh Empu Dewamurti melayang ke arah pemuda itu. Dia berdiri membelakangi pemuda itu dan berkata.
“Nurseta, cepat engkau duduk bersandar batu dibelakangku!”

Pemuda yang bernama Nurseta itu terbebas dari pengaruh suara dua orang yang hendak memaksa dia menyerahkan keris. Dia lalu duduk bersila di dekat batukarang yang berada di belakang Empu Dewamurti dengan hati yang berdebar tegang karena dia dapat merasakan bahwa dua orang asing itu tentu bukan orang baik-baik. Buktinya mereka agaknya menguasai gadis dan pemuda yang mereka panggul.

“Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala! Kalian berdua adalah orang-orang asing yang menjadi tamu di sini. Harap kalian tidak membuat gara-gara!”
“Empu Dewamurti, keris itu harus menjadi milikku!” teriak Nyi Dewi Durgakumala sambil menuding telunjuk kanannya ke arah Nurseta.
“Tidak, harus diberikan kepadaku!” bentak Resi Bajrasakti,
“kalau tidak, akan kurampas dengan kekerasan!”
“Babo-babo, Resi Bajrasakti, Apa kau kira aku ini patung hidup? Engkau tidak akan dapat merampasnya selama aku masih berada di sini!” teriak Nyi Dewi Durgakumala.

Melihat dua orang itu agaknya saling berebut sendiri, Empu Dewamurti tersenyum.
“Sadhu...Sadhu...Sadhu...! Resi Bajrasakti dan Nyi Dewi Durgakumala, ketahuilah bahwa keris itu ditemukan di tanah yang menjadi wilayah kahuripan, oleh karena itu menjadi hak milik Kerajaan Kahuripan. Selain daripada itu, agaknya andika berdua tidak mengenal pusaka itu. Sekali pandang saja aku mengenalnya. Keris pusaka itu adalah Sang Megatantra dan pusaka dibuat oleh mendiang Empu Bramakendali di jaman Kerajaan Medang Kamulan yang menjadi nenek moyang Kerajaan Kahuripan. Oleh karena itu, kalian berdua dari Kerajaan Wengker dan Wurawari sama sekali tidak berhak memilikinya. Selain itu, muda-mudi yang kalian culik itu tentu kawula Kahuripan, maka bebaskan mereka dan pulanglah kalian ke tempat kalian masing-masing dengan damai”.
“Babo-babo, empu keparat! Mari kita bertanding untuk menentukan siapa yang lebih kuat, dia yang berhak memiliki Keris Pusaka Sang Megatantra!” bentak Resi Bajrasakti.
“Sang Resi, keris pusaka merupakan hak milik Kerajaan Kahuripan, tidak mungkin diperebutkan. Kalau andika memperebutkannya, berarti andika hendak merampok.”
“Heh, Empu konyol! Apakah engkau tidak tahu akan hokum alam bahwa siapa yang menang, dia berkuasa? Engkau hendak menentang hukum alam?”
“Resi Bajrasakti, wawasanmu itu salah sama sekali. Hukum alam adalah hukum sebab akibat yang seadil-adilnya. Hukummu tadi bukan hukum alam, melainkan hukum yang dibuat manusia sesat yang diperbudak nafsu. Nafsu selalu ingin menang dan kalau menang dia harus berkuasa dan yang berkuasa selalu harus benar! Yang berkuasa menindas yang lemahpun dibenarkan oleh nafsu angkara murka.” kata Empu Dewamurti dengan sikap tenang.
“Jangan banyak cerewet, Empu Dewamurti! Serahkan Keris Megatantra itu kepadaku atau aku akan menggunakan kekerasan!” bentak Nyi Dewi Durgakumala.
“Jagat Dewa Bhatara! Manusia diciptakan hidup di permukaan ini memang diberi wewenang untuk memilih, apakah dia ingin menjadi alat iblis ataukah ingin menjadi alat Sang Hyang Widhi, membela kebenaran dan menentang kejahatan. Terserah kepada kalian berdua.”

Resi Bajrasakti lalu melangkah belasan tindak dan menurunkan gadis remaja yang dipanggulnya,
“Bocah ayu, engkau berdiamlah di sini dulu sebentar ya? Nanti setelah kubereskan Empu konyol itu, kupondong lagi dan kita bersenang-senang.” Gadis remaja itu ketika diturunkan rebah terlentang, agaknya untuk bangkit dudukpun ia tidak kuat. Nyi Dewi Durgakumala tidak mau kalah. Iapun menurunkan pemuda remaja yang tadi dipanggulnya itu agak jauh dari situ. Pemuda itupun rebah terlentang dan tanpa malu-malu Nyi Dewi Durgakumala menciumnya,
“Cah bagus, engkau kutinggalkan sebentar!”

Kini Empu Dewamurti berhadapan dengan dua orang datuk itu. Nyi Dewi Durgakumala bersikap cerdik. Ia maklum untuk memperebutkan Keris Pusaka Megatantra, ia harus dapat mengalahkan dua orang lawan yang tangguh. Sebetulnya kedatangan ke wilayah Kahuripan itu, seperti juga Resi Bajrasakti adalah untuk melaksanakan tugas masing-masing yang diperintahkan raja mereka, yaitu untuk melakukan penyelidikan terhadap kerajaan Kahuripan dan kalau ada kesempatan menimbulkan kekacauan di kerajaan musuh itu. Karena keduanya memang saling mengenal sejak dahulu, maka ketika saling berjumpa, segera terjalin hubungan akrab dan mesra antara mereka. Akan tetapi dua orang manusia cabul yang menjadi hamba nafsu mereka sendiri itu sebentar saja sudah merasa bosan dan malam itu mereka masing-masing menculik seorang gadis dan pemuda remaja untuk menyalurkan gairah nafsu mereka yang kotor.

<<< Keris Pusaka Sang Megatantra                                               Bagian 02 >>>

No comments:

Post a Comment